Anda di halaman 1dari 4

Fitoterapi Diabetes Melitus

1. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)

a. Kandungan kimia
Daun sambiloto mengandung saponin, flavonoid, dan tannin. Kandungan kimia daun dan
cabang sambiloto mengandung diterpen lakton yang terdiri dari deoksi andrografolid,
andrographolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11, 12-didehydroandrografolid,
dan homoandrografolide. Komponen utamanya adalah andrografolid.
b. Efek farmakologi
Sambiloto memiliki aktivitas antidiabetes dengan merangsang pelepasan insulin dan
menghambat absorbsi glukosa melalui penghambatan enzim alfaglukosidase dan alfa-
amilase. Sambiloto mengandung andrographolide 4 – 6% dimana kandungan tersebut
dapat mengurangi kadar glukosa darah (Sukmawati, dkk., 2016).
c. Uji klinis
Uji klinik dilakukan menggunakan desain cross over dengan metode double blind. Subjek
dibedakan menjadi kelompok sambiloto (mendapat terapi metformin dan sambiloto) dan
kelompok placebo (mendapat terapi metformin dan plasebo) berdasarkan alokasi random.
Kelompok pertama sambiloto mendapat 2 kali 2 kapsul sehari selama 14 hari, dan
kelompok kedua mendapat placebo selama 14 hari. Kemudian kadar glukosa darah pasca
terapi 14 hari dievaluasi. Didapatkan hasil pada pemberian sambiloto selama 14 hari
tampak penurunan kadar glukosa darah puasa lebih besar dibandingkan dengan placebo,
tetapi tidak bermakna. Sambiloto bermakna menurunkan kadar glukosa darah 2 jam
setelah makan (Yaman, 2012).
d. Dosis
150 mg/kg BB dengan cara merebus daun sambiloto sampai mendidih dan diminum air
rebusannya (Alaydrus, dkk., 2018)
e. Efek samping
Ulkus, hipotensi, mual, muntah, gangguan pencernaan, dan adanya rasa terbakar
(Widyawati, 2007)
2. Brotowali (Tinospora crispa L.)

a. Kandungan kimia
Brotowali mengandung damar lunak, pati, glikosida, pikroretosid, zat pahit
pikroretin, harsa, alkaloid, berberin, kolumbin, jatrorhize dan palmatin. Bagian akarnya
mengandung alkaloid berberin dan kolumbin. Daun dan batang brotowali mengandung
alkaloid, saponin, dan tannin. Sedangkan batangnya mengandung zat pahit yaitu
pikroretin dan senyawa lainnya seperti berberin, tinokrisposid, saponin, tannin, kolumbin,
palmatin, kaempferol, dan pati. Selain itu kandungan kimia yang terdapat dalam
brotowali yaitu lakton, diterpenoid, fenol, lignin, terpenoid dan terpenoid glikosida
(Masyithah dan Florentina, 2018; Rosidah, dkk., 2015; Triyono dan Saryanto, 2012)
b. Efek farmakologi
Daun brotowali digunakan untuk mengobati rematik, batang digunakan untuk
menstimulasi sekresi empedu, diuretik, penyakit kulit, antidiabetes, antipiretik,
antimalarial, diare, memperbaiki sistem pencernaan. Senyawa terpenoid glikosida yang
berperan menurunkan serum gula darah pada diabetes tipe 2 adalah borapetoside C dan
borapentol B (Rosidah, dkkk., 2015). Flavonoid juga dilaporkan memiliki aktivitas
antidiabetes dengan cara meregenerasi sel. Tannin diketahui dapat memacu metabolisme
glukosa sehingga timbunan glukosa dalam darah dapat dihindari. Alkaloid terbukti
mempunyai kemampuan meregenerasi sel beta pancreas yang rusak. Perbaikan pada
jaringan pankreas menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah insulin di dalam tubuh
sehingga terjadi penurunan kadar glukosa dalam darah (Prameswari dan Wijdanarko,
2014)
c. Uji klinis
Dilakukan desain penelitian quasi eksperimental pre dan post test design. Dengan jumlah
subjek peneltian sebanyak 45 orang sukarelawan sehat yang dibagi menjadi tiga
kelompok, kelompok 1 perlakuan selama 5 hari, kelompok 2 perlakuan selama 10 hari,
dan kelompok 3 perlakuan selama 15 hari. Hasil yang didapatkan yaitu tidak terdapat
perbedaan signifikan yang diperoleh pada kadar SGOT dan SGPT sukarelawan sehat
sebelum dan sesudah mengonsumsi brotowali pada hari ke 5, 10, dan 15. Kesimpulannya
yaitu brotowalis tidak menyebabkan tanda toksisitas dalam fungsi hati (Novianto dan
Triyono, 2015).
d. Dosis
10 – 15 gram batang brotowali, direbus, dan airnya diminum
e. Efek samping
Pada dosis tinggi, menyebabkan gangguan gastrointestinal, mual, muntah, gelisah, sesak
nafas, bradikardi, kerusakan jantung, hipotensi, kejang, paralisis, mimisan, lesu, dyspnea,
dan iritasi ginjal (Badan POM, 2015).

3. Kayu Manis

a. Kandungan kimia
Alkohol sinamat, kumarin, asam sinamat, sinamaldehid, antosinin, minyak atsiri dengan
kandungan gula, protein, lemak sederhana, pectin (Emilda, 2018).
b. Efek farmakologi
Kayu manis berpengaruh terhadap beberapa jalur sinyal insulin yaitu pada reseptor
insulin, glucose transporter 4 (GLUT 4), glucose transporter – 1 (GLUT-1), glucagon-
like peptide-1 (GLP-1), Peroxisomeproliferator activator receptor (PPAR), aktivitas alfa
glukosidase, pengaruh pada gluconeogenesis, dan pengosongan lambung. Kayu manis
dapat menurunkan kadar gula dan meningkatkan insulin dalam waktu 30 menit
(Medagama, 2015).
c. Uji klinis
Dilakukan dengan desain eksperimen pre post test control design. Subjek dibagi menjadi
3 kelompok dengan 2 kelompok merupakan perlakuan dan 1 kelompok merupakan
kelompok kontrol. Pengujian dilakukan selama 14 hari kemudian dilakukan tes darah
untuk melihat kadar GD2PP. Hasil yang didapatkan yaitu kayu manis dapat menurunkan
kadar GD2PP pada penderita diabetes mellitus yang terdapat perubahan signifikan pada
ketiga kelompok pengujian (Arini dan Ardiaria, 2016).
d. Dosis
6 gram bubuk kayu manis/hari dengan cara dihaluskan kemudian dilarutkan air dan
diminum akan menurunkan kadar gula darah 18 – 20% (Qamariah, dkk., 2018)
e. Efek samping
Pada dosis tinggi, menyebabkan gula darah terlalu rendah, risiko kerusakan hati, reaksi
alergi seperti gatal, terdapat sensasi terbakar, masalah pernapasan

Masyithah, C., Florentina, N. 2018. Uji Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Batang Brotowali
(Tinospora crispa (L.)), Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia (L.)) dan Kombinasi
Keduanya Pada Mencit Putih Jantan.
Rasan, M.S. 1998. Pengaruh Brotowali [Tinospora Crispa (L.) Miers] Terhadap Metabolisme
Glukosa Pada Kelinci. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4(2): 17 – 19
Emilda. 2018. Efek Senyawa Bioaktif Kayu Manis (Cinnamomum burmanii Nees EX. BL.)
Terhadap Diabetes Melitus : Kajian Pustaka. JFFI. 5(1): 246 - 252
Rosidah, I., H.Bahua., R.Mufidah., O.B.Pongtuluran. 2015. Pengaruh Kondisi Proses Ekstraksi
Batang Brotowali (Tinospora crispa (L.) Hook.f& Thomson) Terhadap Aktivitas Hambatan
Enzim Alfa Glukosidase. Media Litbangkes. 25(4): 203-210
Triyono, A., Saryanto. 2012. Uji Toksisitas Akut dan Subkronik Ekstrak Brotowali (Tinospora
crispa (L.) Miers). Jawa Tengah : Kementrian Kesehatan RI
Prameswari, O.M., Wijdanarko. 2014. Uji Efek Air Daun Pandan Wangi terhadap Penurunan
Kadar Glukosa Darah dan Histopatologi Tikus Diabetes Melitus. Jurnal Pangan dan Agrobisnis.
2(2): 16 – 27
Yaman, Nizmawardini. 2012. Efek Hipoglikemik Kapsul Sambiloto Sebagai Terapi Tambahan
Pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2. Depok: Universitas Indonesia
Qamariah, Nurul., Mulyani, Evi., Dewi, Nurmila. 2018. Inventarisasi Tumbuhan Obat di Desa
Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Kabupaten Kotawaringin Timur. Borneo Journal
of Pharmacy. 1(1): 1 – 10
Alaydrus, S., Alifia., Anam, S. 2018. Efek Ekstrak Etanol Kombinasi Daun Sambiloto dan Daun
Mimba Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus. Farmakologika Jurnal Farmasi. 15(1): 9 – 17
Sukmawati, Harsita, M.A., Kosman, R. 2016. Uji Efek Hipoglikemik Kombinasi Ekstrak Etanol
Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) Dengan Akarbose Pada Tikus Putih (Rattus
norvegicus) Terinduksi Aloksan. As-Syifaa. 8(2): 75 – 82
Widyawati, Tri. 2007. Aspek Farmakologi Sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Majalah
Kedokteran Nusantara. 40(3): 216 – 222
Arini, P.J., Ardiaria, M. 2016. Pengaruh Pemberian Seduhan Bubuk Kayu Manis (Cinnammomum
zeylanicum) Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa 2 Jam Post Prandial Pada Penderita DM Tipe
2. Journal of Nutrition College. 5(2): 198 – 206
Novianto, F., Triyono, A. 2015. Studi Klinis Formula Jamu Antihiperglikemia Terhadap Fungsi
Hati. Prosiding Seminar Nasional: 35 – 41
Badan POM. 2015. Bratawali, Brotowali, atau Akar aliali (Tinospora crispa). Tersedia online di
http://mesotsmkos.pom.go.id/news/bratawali-brotowali-atau-akar-aliali-tinospora-crispa [Diakses
pada 15 November 2018]