Anda di halaman 1dari 18

BAB II

Pembahasan
1. Bagaimana prinsip penerapan standar pelayanan minimum rumah sakit?
Prinsip Penyusupanan dan Penetapan SPM
Di dalam menyusun SPM telah memperhatikan hal-hal sebagai berikut
1) Konsensus, berdasarkan kesepakatan bersama berbagai komponen atau sektor
terkait dari unsur-unsur kesehatan dan departemen terkait yang secara rinci
terlampir dalam daftar tim penyusun;
2) Sederhana, SPM disusun dengan kalimat yang mudah dimengerti dan dipahami;
3) Nyata, SPM disusun dengan memperhatikan dimensi ruang, waktu dan
persyaratan atau prosedur teknis;
4) Terukur, seluruh indikator dan standar di dalam SPM dapat diukur baik secara
kualitatif maupun kuantitatif;
5) Terbuka, SPM dapat diakses oleh seluruh warga atau lapisan masyarakat;
6) Terjangkau, SPM dapat dicapai dengan menegunakan sumber daya dan dana yang
tersedia;
7) Akuntabel, SPM dapat dipertanggunggugatkan kepada publik;
8) Bertahap, SPM mengikuti perkernbangan kebutuhan dan kemampuan keuangan,
kelembagaan dan personil dalam pencapaian SPM1
2. Bagaimana cara kerja dari sistem rujukan?
Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang
melaksanakan pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau
masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik vertical dalam arti dari
satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya,
maupun horizontal dalam arti antara strata sarana pelayanan kesehatan yang sama.
A. Macam-macam rujukan
Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas,
ada dua macam rujukan yang dikenal yakni :
 Rujukan upaya kesehatan perorangan

3
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus
penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus
penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke sarana
pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik hotizontal maupun
vertical).Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya memerlukan rawat
jalan sederhana, bias dirujuk kembali ke puskesmas.
 Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :
o Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan
medik (missal operasi) dan lain lain.
o Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan
laboratorium yang lebih lengkap.
o Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih
kompeten atau melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan atau
menyelenggarakan pelayanan medik spesialis di puskesmas.
 Rujukan upaya kesehatan masyarakat
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan
masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan dan
bencana.Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu
puskesmas tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat
wajib dan pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah
menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas tidak mampu
menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak mampu
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib
merujuknya ke dinas kesehatan kabupaten atau kota.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :
1. Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging,
peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio
visual, bantuan obat, vaksin, dan bahan bahan habis pakai dan bahan
makanan.

4
2. Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenanga ahli untuk penyidikan
kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hokum kesehatan,
penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam.
3. Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan
tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat (antara
lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha kesehatan
jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas kesehatan kabupaten
/ kota. Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak
mampu.2

3. Bagaimana sistem organisasi dari rumah sakit?


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1204/MENKES/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit
dinyatakan bahwa rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, tempat berkumpulnya
orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta
memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan.3

5
Berdasarkan Permenkes RI Nomor 986/Menkes/Per/11/1992 pelayanan rumah sakit
umum pemerintah Departemen Kesehatan dan Pemerintah Daerah diklasifikasikan
menjadi kelas/tipe A,B,C,D dan E (Azwar,1996):
1) Rumah Sakit Kelas A
Rumah Sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan
kedokteran spesialis dan subspesialis luas oleh pemerintah, rumah sakit ini
telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan rujukan tertinggi (top referral
hospital) atau disebut juga rumah sakit pusat.
2) Rumah Sakit Kelas B
Rumah Sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan
kedokteran medik spesialis luas dan subspesialis terbatas. Direncanakan
rumah sakit tipe B didirikan di setiap ibukota propinsi (provincial hospital)
yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten. Rumah sakit
pendidikan yang tidak termasuk tipe A juga diklasifikasikan sebagai rumah
sakit tipe B.
3) Rumah Sakit Kelas C
Rumah Sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan
kedokteran subspesialis terbatas. Terdapat empat macam pelayanan spesialis
disediakan yakni pelayanan penyakit dalam, pelayanan bedah, pelayanan
kesehatan anak, serta pelayanan kebidanan dan kandungan. Direncanakan
rumah sakit tipe C ini akan didirikan di setiap kabupaten/kota (regency
hospital) yang menampung pelayanan rujukan dari puskesmas.
4) Rumah Sakit Kelas D
Rumah Sakit ini bersifat transisi karena pada suatu saat akan ditingkatkan
menjadi rumah sakit kelas C. Pada saat ini kemampuan rumah sakit tipe D
hanyalah memberikan pelayanan kedokteran umum dan kedokteran gigi. Sama
halnya dengan rumah sakit tipe C, rumah sakit tipe D juga menampung
pelayanan yang berasal dari puskesmas.
5) Rumah Sakit Kelas E
Rumah sakit ini merupakan rumah sakit khusus (special hospital) yang
menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja. Pada saat ini

6
banyak tipe E yang didirikan pemerintah, misalnya rumah sakit jiwa, rumah
sakit kusta, rumah sakit paru, rumah sakit jantung, dan rumah sakit ibu dan
anak.
Rumah sakit merupakan suatu kegiatan yang mempunyai potensi besar
menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama yang
berasal dari aktivitas medis. Sampah rumah sakit dapat dibedakan menjadi dua
jenis yaitu sampah medis dan sampah non medis. Untuk menghindari dampak
negatif terhadap lingkungan perlu adanya langkah-langkah penanganan dan
pemantauan lingkungan.4
4. Apa saja hak kewajiban pasien, dokter dan rumah sakit?

Hak pasien :

a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana


dimaksud dalam pasal 45 ayat (3), yaitu :
˗ Diagnosis dan tata cara tindakan medis;
˗ Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
˗ Alternatif tindakan lain dan resikonya;
˗ Risiko dan komplikasi yang mukin terjadi; dan
˗ Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. Menolak tindakan medis; dan
e. Mendapat isi rekam medis.

Kewajiban pasien :

a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;


b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan;
d. Memberikan imbalan atas pelayanan yang diterima.

Hak dokter :
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar
profesi dan standar operasional prosedur
7
b. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar operasional
prosedur
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya
d. Menerima imbalan jasa

Kewajiban dokter :
a. Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar operasional
prosedur serta kebutuhan medis
b. Apabila tidak tersedia alat kesehatan atau tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan/pengobatan, bisa merujuk pasien ke dokter/sarana kesehatan lain
yang mempunyai kemampuan lebih baik.
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan setelah
pasien itu meninggal dunia
d. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin
ada orang lain yang mampu melakukannya
e. Mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
Hak Rumah Sakit :

a. Menentukan jumlah , jenis dan kualifikasi sumber daya manusia sesuai dengan
kualifikasi rumah sakit
b. Menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan renumerasi,insentif dan
penghargaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka mengembangkan
pelayanan
d. Menerima bantuan dari pihak lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
e. Menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian
f. Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
g. Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di rumah sakit sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan
h. Mendapatkan insentif pajak bagi rumah sakit publik dan rumah sakit yang
ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan.

Kewajiban Rumah Sakit :


8
a. Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan rumah sakit kepada
masyarakat.
b. Memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar
pelayanan rumah sakit
c. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan
pelayanannya
d. Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana sesuai
dengan kemampuan pelayanannya
e. Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat tidak mampu atau miskin
f. Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan
pasien tidak mampu/miskin,pelayanan gawat darurat tanpa uang muka,ambulance
gratis,pelayanan korban bencana dan kejadian luar biasa,atau bakti sosial bagi
misi kemanusiaan
g. Membuat, melaksanakan dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah
sakit sebagai acuan dalam melayani pasien
h. Menyelenggarakan rekam medik
i. Menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak antara lain sarana ibadah,
parker, ruang tunggu,sarana untuk orang cacat, wanita menyusui,anak-anak, usai
lanjut
j. Melaksanakan sistem rujukan
k. Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika
serta peraturan perundang-undangan
l. Memberikan informasi yang benar,jelas dan jujur mengenai hak dan kewajiban
pasien.
m. Menghormati dan melindungi hak-hak pasien
n. Melaksanakan etika rumah sakit
o. Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana
p. Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan baik secara regional
maupun nasional

9
q. Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktek kedokteran atau
kedokteran gigi dan tenaga kesehatan lainnya.
r. Menyusun dan melaksanakan peraturan internal rumah sakit (hospital by laws)
s. Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas rumah sakit
dalam melaksanakan tugas
t. Memberlakukan seluruh lingkungan rumah sakit sebagai kawasan tanpa rokok5
5. Bagaimana sistem organisasi dari rumah sakit?
Pasal 1. Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:
1. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil
Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah otonom.
4. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.
Pasal 2
Pengaturan pedoman organisasi Rumah Sakit bertujuan untuk mewujudkan organisasi
Rumah Sakit yang efektif, efisien, dan akuntabel dalam rangka mencapai visi dan misi
Rumah Sakit sesuai tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dan
tata kelola klinis yang baik (Good Clinical Governance).

UU 44 tahun 2009

Bagian Kesatu Pengorganisasian

Pasal 33

1) Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel.
2) Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau
Direktur Rumah Sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur
10
penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan.

Pasal 34

1) Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai


kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.
2) Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus
berkewarganegaraan Indonesia.
3) Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit.

Pasal 35

Pedoman organisasi Rumah Sakit ditetapkan dengan Peraturan Presiden.

Perpres

Pasal 4

1) Organisasi Rumah Sakit disesuaikan dengan besarnya kegiatan dan beban


kerja Rumah Sakit.
2) Struktur organisasi Rumah Sakit harus membagi habis seluruh tugas dan
fungsi Rumah Sakit.

Pasal 5

Setiap pimpinan organisasi di lingkungan Rumah Sakit wajib menerapkan prinsip


koordinasi, integrasi, simplifikasi, sinkronisasi dan mekanisasi di dalam lingkungannya
masing-masing serta dengan unit-unit lainnya.

Pasal 6

1) Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas:


a. kepala Rumah Sakit atau direktur Rumah Sakit;
b. unsur pelayanan medis;
c. unsur keperawatan;
d. unsur penunjang medis;
e. unsur administrasi umum dan keuangan;
f. komite medis; dan
g. satuan pemeriksaan internal.
11
2) Unsur organisasi Rumah Sakit selain kepala Rumah Sakit atau direktur
Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat berupa
direktorat, departemen, divisi, instalasi, unit kerja, komite dan/atau satuan
sesuai dengan kebutuhan dan beban kerja Rumah Sakit.
3) Unsur organisasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
sampai dengan huruf e dapat digabungkan sesuai kebutuhan, beban kerja,
dan/atau klasifikasi Rumah Sakit.6

6. Bagaimana pelayanan kefarmasian di rumah sakit serta pengaturan pemberian


obat yang sebenarnya?
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1) Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2) Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai
pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian.
3) Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
4) Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada apoteker,
baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan
menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.
5) Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.
6) Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk
manusia.
7) Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,

12
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan
kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki
fungsi tubuh.
8) Bahan Medis Habis Pakai adalah alat kesehatan yang ditujukan untuk
penggunaan sekali pakai (single use) yang daftar produknya diatur dalam
peraturan perundang-undangan.
9) Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang menyelenggarakan
seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.
10) Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
11) Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten
Apoteker.
12) Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.
13) Direktur Jenderal adalah direktur jenderal pada Kementerian Kesehatan yang
bertanggung jawab di bidang kefarmasian dan alat kesehatan.

Pasal 2 : Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit bertujuan untuk:

a) meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian;


b) menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan
c) melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional
dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).7
7. Jelaskan tentang BLUD seperti yang terkandung dalam skenario tersebut!
PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM
Pasal 68
1) Badan Layanan Umum dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa.

13
2) Kekayaan Badan Layanan Umum merupakan kekayaan negara/daerah yang tidak
dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan
kegiatan Badan Layanan Umum yang bersangkutan.
3) Pembinaan keuangan Badan Layanan Umum pemerintah pusat dilakukan oleh
Menteri Keuangan dan pembinaan teknis dilakukan oleh menteri yang
bertanggung jawab atas bidang pemerintahan yang bersangkutan.
4) Pembinaan keuangan Badan Layanan Umum pemerintah daerah dilakukan oleh
pejabat pengelola keuangan daerah dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala
satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab atas bidang pemerintahan
yang bersangkutan.
Pasal 69
1) Setiap Badan Layanan Umum wajib menyusun rencana kerja dan anggaran
tahunan.
2) Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Badan Layanan
Umum disusun dan disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana
kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja Kementerian
Negara/Lembaga/pemerintah daerah.
3) Pendapatan dan belanja Badan Layanan Umum dalam rencana kerja dan anggaran
tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikonsolidasikan dalam
rencana kerja dan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/pemerintah daerah
yang bersangkutan.
4) Pendapatan yang diperoleh Badan Layanan Umum sehubungan dengan jasa
layanan yang diberikan merupakan Pendapatan Negara/Daerah.
5) Badan Layanan Umum dapat memperoleh hibah atau sumbangan dari masyarakat
atau badan lain.
6) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat digunakan
langsung untuk membiayai belanja Badan Layanan Umum yang bersangkutan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum
diatur dalam peraturan pemerintah.

Dalam peraturan mentri ini yang dimaksud dengan :

14
1) Badan Layanan Umum yang selanjutnya disingkat BLU adalah instansi di
lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktifitas
2) Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum yang selanjutnya
disingkat PPK–BLU adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan
fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik bisnis yang
sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa,
sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan sebagai pengecualian dari
ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya.
3) Pegawai Non Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Pegawai Non
PNS adalah Pegawai BLU yang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan,
diangkat oleh pejabat yang berwenang dan digaji berdasarkan ketentuan yang
berlaku guna memenuhi kebutuhan ketenagaan UPT PPK-BLU yang tidak
terpenuhi oleh Pegawai Negeri Sipil
4) Satuan Kerja Kementerian Kesehatan yang selanjutnya disebut Satker adalah
setiap kantor atau satuan kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
berkedudukan sebagai pengguna anggaran/barang atau kuasa pengguna
anggaran/barang.
5) Rencana Kerja Tahunan adalah rencana yang memuat kegiatan tahunan dan
target yang akan dicapai sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang
telah ditetapkan oleh instansi pemerintah.
6) Rencana Bisnis dan Anggaran BLU yang selanjutnya disingkat RBA adalah
dokumen perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi program, kegiatan,
target kinerja, dan anggaran suatu BLU.
7) Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan8

15
8. Bagaimana indikator mutu pelayanan rumah sakit dan kepuasan pasien?
Berbagai definisi mutu banyak dikemukakan para pakar, agak berbeda beda namun
saling melengkapi yang menambah pengertian dan wawasan tentang mutu. Menurut
Gaspersz (2003) definisi mutu atau kualitas bervariasi dari definisi konvensional sampai
definisi strategik. Definisi konvensional menggambarkan karakteristik langsung dari
suatu produk seperti performans (performance), keandalan (reability), mudah dalam
penggunaannya (easy of use), estetika (esthetics), dan sebagainya. Definisi strategik
menyatakan mutu atau kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan
atau kebutuhan pelanggan. Berdasarkan konsep definisi mutu baik konvensional maupun
strategik, pada dasarnya mengacu pada pengertian pokok. Berdasarkan pengertian dasar
mutu di atas, terlihat bahwa mutu atau kualitas selalu berfokus pada pelanggan (customer
focused quality).
Menurut Philip B. Crosby, ada empat hal yang mutlak (absolut) menjadi bagian
integral dari menajemen mutu, yaitu bahwa :
1) Definisi mutu adalah kesesuaian terhadap persyaratan (The Definition of
Quality is conformance to requirements).
2) Sistem mutu adalah pencegahan (The system of quality is prevention).
3) Standar penampilan adalah tanpa cacat (The performance standard is Zero
Defect).
4) Ukuran mutu adalah harga ketidak sesuaian (The measurement of quality is
the price of nonconformance).
Menurut Nasution (2004), mutu dalam jasa kuncinya adalah pihak penyelenggara jasa
memenuhi harapan atau bahkan melebihi harapan pelanggan akan mutu pelayanan jasa
yang diberikan. Keberhasilan mempertahankan pelanggan mungkin adalah ukuran terbaik
untuk mutu dan kemampuan perusahaan jasa. Sasaran mutu suatu perusahaan manufaktur
mungkin berbunyi tanpa cacat (zero defect), sedangkan untuk penyedia jasa adalah tidak
ada pelanggan yang lari (zero customer defections). Seperti yang dikatakan oleh Chief
Executive American Express yang dikutip Nasution "Janjikan hanya apa yang dapat anda
berikan dan berikan lebih dari yang anda janjikan".
Oleh karena itu menurut Kotler (1990) pihak penyelenggara sebaiknya tidak hanya
menyediakan pelayanan jasa yang lebih baik setiap kali, tetapi juga perbaikan terhadap

16
pelayanan yang tidak sesuai harapan pelanggan. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
bisa diartikan kesempurnaan pelayanan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat/konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar pelayanan
profesi, standar menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit secara
wajar, efisien, efektif serta aman dan memuaskan sesuai norma, etika, hukum dan sosio
budaya.
Salah satu kesulitan dalam merumuskan pengertian mutu pelayanan kesehatan karena
mutu itu sangat melekat dengan faktor-faktor subyektivitas yang berkepentingan, yaitu:
pasien, pemberi pelayanan kesehatan, penyandang dana, masyarakat ataupun pemilik
sarana kesehatan. Penyedia jasa perlu mengenali dan menggali harapan pelanggan yang
menyangkut mutu jasa, karena mutu jasa selalu bervariasi tergantung interaksi antara
karyawan dan pelanggan (Pohan, 2003).
Upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit adalah kegiatan yang menyeluruh,
komprehensif, integratif, sistematik, berkelanjutan dalam bentuk struktur, proses dan
output serta outcome dengan memanfaatkan peluang yang ada.
Menurut Gaspersz (2005), upaya peningkatan mutu produk (barang dan jasa
pelayanan) yang memberikan kepuasan kepada pelanggan dapat dilakukan dengan
pendekatan Total Quality Management (TQM) atau Continuous Quality Improvement
(CQI) yang prinsip pokoknya secara ringkas adalah:
1) Berorientasi dan berfokus pada mutu dan kepuasan pelanggan.
2) Komitmen pimpinan dan partisipasi menyeluruh (total) semua karyawan serta
kerja sama tim.
3) Pendekatan ilmiah, pendidikan dan latihan, menyelesaikan masalah serta
mengambil keputusan.
4) Peningkatan terus menerus dengan Siklus Deming (Siklus PDCA).
5) Perbaikan sistem manajemen.

Menurut Depkes (2005), aspek mutu pelayanan rumah sakit berkaitan dengan
medikolegal, sehingga perlu adanya evaluasi dari struktur input, struktur proses dan
struktur luaran. Luaran dari sistem pelayanan rumah sakit adalah hasil dari struktur input
dan proses berupa unsur-unsur manajemen pelayanan di rumah sakit. Mutu pelayanan

17
rumah sakit dengan luaran yang memenuhi standar diawali adanya sumberdaya (input)
yang memenuhi standar diikuti proses yang memenuhi standar.

Masalah terhadap mutu pelayanan bisa dilihat dan diperbaiki dengan menggunakan
pendekatan sistem seperti diatas. Mutu pelayanan kesehatan yang diterima oleh pasien
sebagai konsumen ditentukan oleh mutu pelayanan yang diberikan oleh berbagai profesi
pelayanan kesehatan dan mutu pelayanan yang diberikan manajemen yang terdapat di
dalam organisasi. Dengan demikian akan terjadi hubungan timbal balik antara profesi
pelayanan kesehatan dengan pasien, antara profesi pelayanan kesehatan dengan
manajemen pelayanan kesehatan dan antara manajemen pelayanan kesehatan dengan
pasien.

Menurut Pohan (2003), mutu pelayanan dalam organisasi seperti rumah sakit bisa
digambarkan dalam bentuk segitiga sama sisi, pasien dan profesi kesehatan pada sisi alas
segitiga, sedangkan manajemen pada sisi alas segitiga. Segitiga tersebut menggambarkan
hubungan interaktif antara berbagai pihak yang terkait, yaitu pasien, profesi pelayanan
kesehatan, penentu kebijakan dan pengambil keputusan. Organisasi pelayanan kesehatan
sedikit berbeda dengan organisasi yang lain karena yang dihasilkan adalah berbagai jenis
jasa pelayanan kesehatan serta di dalamnya bekerja berbagai macam kelompok profesi
pelayanan kesehatan.

Mutu pelayanan tenaga medis menjadi bagian penting dalam pelayanan rawat inap di
rumah sakit, karena tenaga medis merupakan unsur yang memberikan pengaruh paling
besar dalam menentukan kualitas dari pelayanan yang diberikan kepada pasien di rumah
sakit. Fungsi utama dari pelayanan tenaga medis adalah memberikan pelayanan medis
yang berkualitas (berdasarkan ilmu, tehnik, etika kedokteran yang berlaku dan dapat
dipertanggung jawabkan).

Menurut Pohan, I (2003), pelayanan kesehatan yang bermutu harus mempunyai paling
sedikit tiga dimensi atau unsur, yaitu :

1) Pertama, Dimensi Konsumen, yaitu apakah pelayanan kesehatan itu memenuhi


seperti apa yang dibutuhkan dan diharapkan oleh pasien/konsumen, yang akan
diukur dengan kepuasan pasien atau keluhan pasien/konsumen.

18
2) Kedua, Dimensi Profesi, yaitu apakah pelayanan kesehatan itu telah
memenuhi kebutuhan pasien/konsumen, seperti apa yang telah ditentukan oleh
profesi pelayan kesehatan, dan akan diukur dengan menggunakan prosedur
atau standar profesi, yang diyakini akan memberi hasil dan kemudian hasil itu
dapat pula diamati.
3) Ketiga, Dimensi Manajemen, atau Dimensi Proses, yaitu bagaimana proses
pelayanan kesehatan itu menggunakan sumberdaya yang paling efisien dalam
memenuhi kebutuhan dan harapan/keinginan pasien/konsumen tersebut.

Menurut Donabedian (1980), perilaku dokter kepada pasien dalam tehnis manajemen,
manajemen lingkungan sosial, psikologi, manajemen terpadu, kontinyuitas dan koordinasi
kesehatan dan penyakit harus mencakup benerapa hal, yaitu:

1) Ketepatan diagnosis
2) Ketepatan dan kecukupan terapi
3) Catatan dan dokumen pasien yang lengkap
4) Koordinasi perawatan secara kontinuitas bagi semua anggota keluarga

Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit (Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu


Pelayanan Rumah Sakit, DepKes RI, 2001) antara lain :

a) Angka Kematian Netto / Net Death Rate (NDR)


Adalah angka kematian > 48 jam setelah dirawat terhadap total pasien keluar
(hidup dan meninggal) Nilai NDR yang dianggap masih dapat ditolelir adalah
kurang dari 2,5%
b) Gross Death Rate (GDR)
Adalah angka kematian umum/total terhadap total pasien (hidup dan
meninggal) Nilai GDR yang dianggap masih dapat ditolelir adalah kurang dari
4,5%
c) Angka infeksi Nosokomial, standar kurang dari sama dengan 1,5%

19
Daftar Pustaka

1. Direktorat Jedral Bina Pelayanan Medik. 2008. Standar Pelayanan Minimum Rumah
Sakit. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.
2. BPJS Kesehatan. 2014. Sistem Rujukan Berjenjang dan Pola Pembayaran BPJS
Kesehatan ke Faskes. Jakarta. BPJS Kesehatan.
3. Mentri Kesehatan Republik indonesia. 2004. Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta. Mentri Kesehatan Republik Indonesia.
4. Mentri Kesehatan Republik indonesia. 1992. Pelayanan Rumah Sakit Umum. Jakarta.
Mentri Kesehatan Republik Indonesia.
5. Undang Undang Republik Indonesia. 2004. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Jakarta. Undang Undang
Republik Indonesia
6. Peraturan Presiden. 2015. Peraturan Presiden no 77 tentang pedoman organisasi
rumah sakit. Jakarta. Peraturan Presiden
7. Permenkes. 2014. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 58 tentang organisasi rumah
sakit. Jakarta. Permenkes
8. Permenkes. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2014. Jakarta. Permenkes.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Penyelenggara
Pelayanan di Rumah Sakit. Jakarta. Departemen Kesehatan. Jakarta. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.

20