Anda di halaman 1dari 14

Nama : Arianto

NIM/Kelas : 1840005 / Akselerasi C

Kelompok : III

Tanggal : 07 April 2019

Penetapan Kadae Caffein dalam Sampel Obal Secara HPTLC

( High Performance Thin Layer Chromatoghraphy)

I. TUJUAN
➢ Mampu mengidentifikasi Caffeine dalam sampel obat Secara HPTLC
➢ Mampu Menetapatkan Kadar Caffeine dalam Sampel Obat Secara HPTLC
➢ Mampu mengoperasikan Alat HPTLC dengan baik dan benar
➢ Mampu menghitung estimasi ketidakpastian pengukuran kadar Caffeine dalam sampel
obat secara HPTLC

II. PINSIP
Caffeine dalam sampel obat dapat ditetapkan secara HPTLC. Fasa diam yang digunakan berupa
padatan Silica Gel dalam bentuk plat/ lembaran, sedangkan Fase Gerak berupa campuran
Kloroform,Aseton dan Amnonia dengan perbandingan 8:2:0,1. Komponen Caffeine dapat
terpisah berdasarkan perbedaan laju migrasi komponen antara 2 fasa. Kadar Caffeine dalam
sampel dan standar dibandingkan dari luas area sampel dan standar, dengan cara dilakukan
spotting lalu dielusikan kemudian diletakkan dibawah sinar UV yang selanjutnya diukur dengan
menggunakan HPTLC.

III. DASAR TEORI


HPTLC

High perferpomance thin layer chromatography (HPTLC) adalah suatu metode


kromatografi yang merupakan pegembangan dari TLC, hal yang dikembangkan adalah fase
diam atau stationary phase dari dari instrumen, yang diharapkan menghasilkan daya pisah yang
lebih baik dari TLC baik dilihat dari hasil, efisiensi waktu dan biaya.
Prinsip pemisahan pada kromatografi sendiri bisa terjadi secara adsorbsi atau partisi. Fase
gerak pada planar kromatografi pada dasarnya merupakan suatu sistem pelarut atau cair yang
tidak mengaup dan stabil di udara terbuka, sementara fase diam (solid phase) bisa berupa suatu
padatan atau suatu larutan yang ditempelkan pada suatu penunjang.

Keuntungan dan kerugian HPTLC :

➢ Tebal, keseragaman manghasilkan garis dasar stabil dalam densitometry


➢ Jarak pengembangan dan waktu lebih singkat
➢ Pita difusi rendah manghasilkan keterpaduan pita sampel
➢ Mikrosample (nanograms dan picogram)dapat dianalisis
➢ Sifat reproduksibilitas dalam hasil kromatografi.

Cara penggunaan HPTLC :

1. Masukkan smua angka tersebut pada perogram


2. Menentukan panjang glombang analisisyang akan di gunakan serta sesuaikan dengan
sumber cahayanya ( UV : 190 – 380 nm; visibel : 360 – 900 nm )
3. Jika seluruh data sudah masuk ke progran mulailah melakukan analisis / scanning pada
lempeng planar
4. Untuk memperoleh data kromatografi yang baik lakukan integrasi secara manual
5. Mengulangi percobaan dengan cara merubah panjang gelombang dan atau merubah letak
analisis pada noda
6. Letakkan lempengan HPTLC yang akan di analisa pada lempen yang telah di letakkan .
7. Menentukan letak sumbu x, catat angka yang terlihat
8. Menentukan letak sumbu y, catat angka yang terlihat
9. Menentukan angka awal analisis / bercak dan akhir analisis / bercak. Catat kedua angka
yang terlihat

CAFFEINE

Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60 jenis
tanaman terutama teh (1- 4,8 %), kopi (1-1,5 %), dan biji kola(2,7-3,6 %). Kafein diproduksi secara
komersial dengan cara ekstraksi dari tanaman tertentu serta diproduksi secara sintetis. Kebanyakan
produksi kafein bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman. Kafein juga digunakan
sebagai penguat rasa atau bumbu pada berbagai industri makanan (Misra et al, 2008). Kafein
ditemukan oleh seorang kimiawan Jerman, Friedrich Ferdinand Runge, pada tahun 1820. Dia
menciptakan istilah “kaffein”, suatu senyawa kimia dalam kopi, yang dalam bahasa inggeris
menjadi “caffeine”(Hays, 2011).

Kafein merupakan sejenis alkaloid heterosiklik dalam golongan methylxanthine, yang menurut
definisi berarti senyawa organik yang mengandung nirogen dengan struktur dua-cincin atau dual-
siklik. Molekul ini secara alami terjadi dalam banyak jenis tanaman sebagi metabolik sekunder.
Fungsinya dalam tumbuhan adalah sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan membunuh
serangga yang memakan tumbuhan tersebut. Zat ini dihasilkan secara eksklusif dalam daun,
kacang-kacangan dan buah-buahan lebih dari 60 tanaman, termasuk daun teh biasa (Camellia
sinensis), kopi (Coffea arabica), kacang koko (Theobroma cacao), kacang kola (Cola acuminata)
dan berbagai macam berry (Reinhardt, 2009). Kafein dalam bentuk murni muncul sebagai bedak
kristal putih yang pahit dan tidak berbau (Brain, 2000). Rumus kimianya adalah C₈H₁₀N₄O₂ dan
memiliki nama kimia 1,3,7-trimethylxanthine. Nama IUPAC untuk kafein adalah 1,3,7- trimethyl-
1H-purine-2,6(3H,7H)-dione, 3,7-dihydro-1,3,7-trimethyl-1H-purine2,6-dione (Erowid, 2011).

Beberapa sifat fisik kafein:

➢ Berat molekul : 194.19 g/mol ➢ Kelarutan dalam air : 2.17 g/100


➢ Densitas : 1.23 g/cm3, solid ml (25 °C) 18.0 g/100 ml (80 °C)
➢ Titik leleh : 227–228 °C 67.0 g/100 ml (100 °C)
(anhydrous) ➢ Keasaman : -0,13 – 1,22 pKa
➢ 234–235 °C (monohydrate) ➢ Momen dipole : 3.64
➢ Titik didih : 178 °C subl.
IV. BAGAN KERJA
a). Pembuatan Larutan Induk 10000 mg/L

Ditimbang 1 gram Masukkan labu takar 100,


padatan Caffeine tambahkan kloroform, ditera
dan dihomogenkan

b). Pembuatan Fase Gerak

Disiapkan tabung ulir Dicampurkan 8 mL


Kloroform; 2 mL aseton ;
dan 0.1 mL amoniak

c). Pembuatan Deret Standar Caffeine

Caffeine 10000 mg/l

0.5 mL 1.0 mL 1.5 mL

500 mg/l 1000 mg/l 1500 mg/l

Masing masing dimasukkan labu takar 10 mL kemuadian diencerkan dengal Kloroform ditera
kemudian homogenkan

d). Preparasi Sampel

Ditimbang 60 mg dimasukkan
Ditimbang 10 tablet obat, dicari kedalam labu Takar 10 mL
bobot rata-rata nya. Kemudian doencerkan tera
digerus. homogenkan,kemudian disaring.
Pengulangan 3x dari penimbangan
V. PERHITUNGAN
a). Pembuatan Larutan Induk 10000 mg/L

𝑚𝑔 𝑚𝑔 𝑥
𝑝𝑝𝑚 = = 1000 = 0.1 𝐿 = = 1000 mg
𝐿 𝑙

b) Pengenceran dan Deret Standar

➢ Untuk 500 mg/L


V1.C1 = V2.C2
𝑉2. 𝐶2 10 𝑚𝐿 . 500 𝑚𝑔/𝐿
𝑉1 = = = 0.5 𝑚𝐿
𝐶1 10000 𝑚𝑔/𝐿
➢ Untuk Standar 1000 mg/L
𝑉2. 𝐶2
𝑉1 =
𝐶1
10 𝑚𝐿 .1000 𝑚𝑔/𝐿
= = 1.0 𝑚𝐿
10000 𝑚𝑔/𝐿
➢ Untuk Standar 1500 mg/L
𝑉2. 𝐶2
𝑉1 =
𝐶1
10 𝑚𝐿 . 1500 𝑚𝑔/𝐿
= = 1.5 𝑚𝐿
10000 𝑚𝑔/𝐿

c). Konsentrasi Terukur ( Kadar Caffeine)

𝒚 = 𝟖𝟓𝟗𝟖. 𝟓𝟖 + 𝟏. 𝟏𝟕𝟐𝟖𝟐𝒙

➢ Sampel Caffeine 1
y1 − a 9190.23 − (8598.58)
X1 = x Fp = = 504.47 mg/L
b 1.17282
➢ Sampel Caffeine 2

y2 − a 9136.83 − (8598.58)
X2 = x Fp = = 458.94mg/L
b 1.17282
➢ Sampel Caffeine 3
y3 − a 9179.49 − (8598.58)
X3 = x Fp = = 495.31 mg/L
b 1.17282

d). Konsentrasi Cafeeine ( mg/Kg)

𝑿 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒌𝒖𝒓 𝒙 𝑽𝒍𝒂𝒃𝒖
Kadar ( mg/Kg) =
𝑲𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒆𝒍
➢ Kadar 1
mg
504.47 L x 0.01L
= = 84077.98 𝑚𝑔/𝐾𝑔
0.000006 Kg

➢ Kadar 2
mg
458.94 x 0.01L
L
= = 76617.13 𝑚𝑔/𝐾𝑔
0.00000599 Kg

➢ Kadar 3
mg
495.31 x 0.01L 𝑚𝑔
L
= = 82277.48
0.00000602 Kg 𝐾𝑔

e). Kadar Caffeine ( mg/Tablet )

Kadar ( mg/Tablet) = kadar (mg/Kg) x Bobot Rerata

➢ Kadar 1
= 84077.98 𝑚𝑔/𝐾𝑔 x 0.0006865 Kg
= 57.72 mg/tablet
➢ Kadar 2
= 76617.13 𝑚𝑔/𝐾𝑔 x 0.0006865 Kg
= 52.60 mg/tablet
➢ Kadar 3
= 82277.48 𝑚𝑔/𝐾𝑔 x 0.0006865 Kg
= 56.48 mg/tablet
f). Akurasi Caffeine

𝑲𝒂𝒅𝒂𝒓 𝒕𝒂𝒃𝒍𝒆𝒕
Akurasi = x 100%
𝑲𝒂𝒅𝒂𝒓 𝒆𝒕𝒊𝒌𝒆𝒕

➢ Akurasi 1
𝟓𝟕.𝟕𝟐 𝒎𝒈
= 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 𝟗𝟔. 𝟐𝟎 %
𝟔𝟎 𝒎𝒈

➢ Akurasi 2
𝟓𝟐.𝟔𝟎 𝒎𝒈
= 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 𝟖𝟕. 𝟔𝟕 %
𝟔𝟎 𝒎𝒈
➢ Akurasi 3
𝟓𝟔.𝟒𝟖 𝒎𝒈
= 𝒙 𝟏𝟎𝟎 % = 𝟗𝟒. 𝟏𝟑 %
𝟔𝟎 𝒎𝒈

VI. PENGAMATAN

a). Tabel Data pengamatan Fisik Sampel dan Reagen

Nama Bahan atau Pengamatan Fisik


No
reagen Warna Bau Wujud

1 Larutan Induk kafein Tidak Berwarna Tak Berbau Cairan

2 Kloroform Tidak Berwarna Khas Klorofom Cairan

3 Aseton Tidak Berwarna Khas Aseton Cairan

4 Amoniak Tidak Berwarna Khas Amoniak Cairan

5 Tablet sampel obat Putih Khas Obat Padatan

6 Aquadest Tidak Berwarna Tidak Berbau Cairan


b). Data Pengamatan

1. Pengkondisian
➢ Detektor : UV
➢ Lamp : D2
➢ Fase Diam : Alumunium Sheet Silica Gel 60F254
➢ Fase Gerak : Larutan Kloroform:Aseton: Ammonia (8:2:0,1)
2. Pengukuran
➢ Bobor Rerata Tablet : 0.6885 g
➢ Bobot Sampel 1 : 60 mg
➢ Bobot Sampel 2 : 59.9 mg
➢ Bobot Sampel 3 : 60.2 mg
➢ Position of Track (X) : 10.5 mm
➢ Scan start position (Y) : 28.4 mm
➢ Scan end Position (Y) : 35.6
➢ Distance beetween track : 14 mm

c). Data Deret Standar

Volume
Konsentrasi Volume Labu
Standar Induk Takar yang Kosentrasi
NO Retention Factor Luas Area
yang Dipergunakan deret standar
dipindahkan (mL) yang dibuat
(mL) (mg/L)
1 0.5 0.34 500 9181.24
2 1.0 0.33 10 1000 9778.90
3 1.5 0.33 1500 10354.06
Slope (b) 1.1728
Intersept (a) 8598.58
Koefisien Korelasi (r) 0.9999
Kurva Kalibrasi :

KURVA KALIBRASI DERET STANDAR CAFFEINE


KONSENTRASI vs LUAS AREA
10600.00
10400.00 y = 1.1728x + 8598.6
R² = 0.9999
10200.00
LUAS AREA

10000.00
9800.00
Series1
9600.00
Linear (Series1)
9400.00
9200.00
9000.00
0 500 1000 1500 2000
KONSENTRASI (mg/L)

d). Data Perhitungan Respon Sampel

Bobot
Bobot Volume
Rerata C terukur Luas Area C sampel C sampel
Sampel Retention Factor Sampel
Tablet (mg/L) Sampel (mg/Kg) (mg/Tablet)
(mg) (L)
(mg)
60 0.33 504.47 9190.23 84077.98 57.72
686.5 60.2 0.34 458.94 9136.83 76617.13 52.60
0.01
59.9 0.35 495.31 9179.49 82277.48 56.48
Rata-rata 60.033333 0.34 486.24 9168.85 80990.86 55.60

ESTIMASI PENGUKURAN KADAR CAFFEINE DALAM SAMPEL OBAT SECARA


HPTLC

Gambar Fish Bone Estimasi Ketidakpastian Kadar Caffeine

µ Reg µ PM

Kadar Caffeine
µT
µK µK

al al

µ Labu Takar µ Kal


e). Data Ketidakpastian Asal Kurva Kalibrasi

Deret
Xi ( mg/L) Yi (abs) Yc (abs) (Yi-Yc)^2 (Xi-Xr) (Xi-Xr)^2
Standar
1 500 9181.24 9184.9900 14.0625 -500 250000
2 1000 9778.90 9771.4000 56.25 0 0
3 1500 10354.06 10357.8100 14.0625 500 250000
Rata-Rata 1000 9771.4 9771.4000 28.1250 0.0000 166666.6667
Jumlah 3000 29314.2 29314.2000 84.3750 0.0000 500000.0000
Yo (Rata-Rata abs Sampel) 9168.85
Slope (b) 1.1728
Intersept (a) 8598.5800
n (banyaknya deret) 3
n-2 1
S y/x 9.1856
S y/x : slope (b) 7.8321
1+1/n 1.3
(Yo-Yr)^2 363066.50
b^2 * ∑(Xi-Xr)^2 687753.3762
(Yo-Yr)^2 : b^2 * ∑(Xi-Xr)^2 0.527902174
Ketidakpastian asal Kurva Kalibrasi 10.6850

f). Data Ketidakpastian Asal Faktor Presisi Metode

Kadar Kadar
C Kafein
Kafein Kafein
terukur
Ulangan Luas Area Dalam Dalam Keterangan
larutan uji
Sampel Sampel
(mg/L)
(mg/Kg) (mg/Tablet)
1 9190.23 504.47 84077.98 57.72 presisi metode
2 9136.83 458.94 76617.13 52.60 memenuhi syarat
keberterimaan
3 9179.49 495.31 82277.48 56.48 dengan %RSD 4.80
Rerata 9168.85 486.24 80990.86 55.60 % < 5%
Ketidakpastian Asal Faktor Presiis 3893.2793344383
RSD 0.0480706
%RSD 4.80%
g). Data Ketidakpastian Asal Labu Takar ( Truangan : 270 ,T Alat gelas : 200)

µ Volume
LABU TAKAR
Labu Takar (
mL )
Variasi
Koefisien Muai Vol µ (Efek T)
Ketidakpastian suhu k
Air (C-1) (mL) (mL)
Asal Temperatur (0C)

0.00021 10 7 1.73205081 0.00848705


0.016744054
Ketidakpastian Data Kal.Spek Pabrik µ Kal
Asal Spesifikasi k
( mL ) (mL)
(Kalibrasi)
pabrik
0.025 1.732050808 0.01443376

h). Data Ketidakpastian Penimbangan

PENIMBANGAN
µ
Penimbangan
Data Kal. Spek Alat (mg) k µ Kal
Ketidakpastian asal
spesifikasi
penimbangan (Neraca 0.4 2 0.2 0.282842712
Analitik )

h). Kuantifikasi Ketidakpastian Gabungan Penetapan Kadar Caffeine dalam sampel Obat

PARAMETER SIMBOL NILAI (x) SATUAN KETIDAKPASTIAN HASIL HASIL^2

KURVA KALIBRASI REG 486.2383 mg/L 10.6850 0.021974906 0.000482897


PRESIS METODE PM 80990.86188 mg/Kg 3893.2793 0.0480706 0.002310783
LABU TAKAR LT 10.0000 mL 0.0167 0.001674405 2.80363E-06
PENIMBANGAN P 60.0333 mg 0.2828 0.004711428 2.21976E-05
KADAR Caffeine/Kg Csx 80990.8619 mg/Kg JUMLAH 0.00281868
µ Csx/Csx 0.053091245
µ Csx 4299.905685
µ 95 8599.811369
(80990.86 ± 8599.81)
mg/Kg
PELAPORAN

(8.10 ± 0.86) %b/b

KESIMPULAN :

Dari Praktikum Penetapan Kadar Caffeine dalam sampel obat , dapat disimpulkan bahwa :

Nilai Koefisien Korelasi (r) adalah 0.9999 dan Persamaan Regresi Liniear adalah y = 1.1728x + 8598.6

Sampel obat merek panadol mengandung Caffeine dengan Retention Factor sama dengan standar yaitu pada
rentang 0.33-0.35

Kadar Caffeine dalam sampel obat adalah 80990.86 mg/Kg

%RSD adalah 4.80 %

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2019. Caffein .Chapter II.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/40525/


diakses pada tanggal 7 april 2019.

Zakinah ,yuni. 2017. High Performance Thin Layer Chromatoghraphy. Transcript

PERTANYAAN

1. Mengapa perlu dihitung nilai ketidakpastian pengukuran ?


= Ketidakpastian merupakan parameter yang menetapkan rentang nilai yang didalamnya
diperkirakan nilai benar yang diukur berada. Nilai ketidakpastian memungkinkan
pengguna data hasil uji untuk mengevaluasi kehandalan data, mengevaluasi kesesuaian
dengan data hasil uji terhadap tujuan penggunaannya. Setiap nilai yang diperoleh dari suatu
pengukuran kuantitatif hanya merupakan suatu perkiraan terhadap nilai benar dari sifat
yang terukur. Tanpa pernyataan kuantitatif kesalahan suatu pengukuran maka data hasil
pengukuran kurang mempunyai arti. Ketidakpastian pengukuran metode pengujian sangat
perlu diketahui oleh laboratorium karena kewajiban laboratorium mencantumkan estimasi
ketidakpastian pengukuran pada hasil analisa yang diperoleh apabila diminta oleh
pengguna jasa laboratorium. Nilai ketidakpastian juga menyatakan mutu hasil pengukuran
atau pengujian, semakin kecil nilai ketidakpastian maka semakin baik hasil pengujian.
2. Mengapa pengukuran kafein dapat dilakukan menggunakan panjang gelombang
elektromagentik ultra violet ?
=Karena daerah serapan sampel kafein berada sekitar panjang gelombang 200 – 350 nm.
Panjang gelombang pada absorbansi maksimum berada pada panjang gelombang 276 nm.
3. Apa saja aspek kritis yang dapat mempengaruhi kelineran kurva kalibrasi ?
=Pembuatan kurva kalibrasi atau kurva standar bertujuan untuk mengetahui linieritas
hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi. Titik kritisnya yaitu, Labu takar yang
digunakan harus dalam keadaan bersih dan kering; penurunan larutan standar induk ke
dalam labu takar deret standar dan ketika menera labu takar harus secara teliti; larutan deret
standar harus homogen; menggunakan kuvet yang bersih dan berbahan kuarsa. Hal-hal
seperti itulah yang dapat mempengaruhi perubahan konsentrasi terhadap absorbansi yang
nantinya akan muncul.
4. Apakah ketidakpastian kurva kalibrasi merupakan sumber ketidakpastian terbesar
dalam pengukuran estimasi ketidakpastian kadar kafein ?? jelaskan
=Iya, kurva kalibrasi merupakan sumber ketidakpastian terbesar yang dihasilkan. Hal
tersebut dikarenakan kurangnya kelinearan hubungan antara konsentrasi dengan luas area
yang didapatkan. Hal tersebut dapat dikarenakan kurang baiknya dalam membuat deret
standar dan menentukan track X dan Y pada alat HPTLC.