Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam melakukan praktikum di laboratorium tak terlepas dari bahan-bahan dan alat-alat
yang ada di laboratorium. Salah satunya adalah alat-alat optik dan alat-alat elektrik. Dimana alat-
alat tersebut dapat menunjang proses praktikum serta penelitian. Alat-alat optik dan elektrik
mempunyai fungsi khusus tersendiri. Dengan adanya alat-alat optik dan alat-alat elektrik dapat
memudahkan seorang peneliti untuk memperoleh gambaran yang diinginkan. Maka dari itu, perlu
diketahui apa itu sebenarnya alat-alat optik dan alat-alat elektrik. Dan apa saja kegunaan serta cara
memelihara alat-alat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja jenis alat – alat optik?
2. Bagaimana kegunaan dan pemeliharaan alat – alat optik?
3. Apa saja jenis alat – alat elektrik?
4. Bagaimana kegunaan dan pemeliharaan alat – alat optik?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Dapat memahami dan mengetahui alat – alat optik
2. Mengetahui kegunaan dan cara pemeliharaan alat - alat optik
3. Dapat memahami dan mengetahui alat – alat elektrik
4. Mengetahui kegunaan dan cara pemeliharaan alat – alat elektrik

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Alat – alat Optik

A. Mikroskop

1. Bagian – bagian Mikroskop


Mikroskop terdiri atas bagian – bagian optik dan non-optik. Bagian optik meliputi
lensa-lensa. Lensa-lensa mikroskop merupakan lensa gabungan (compound
lenses) yang disatukan menjadi suatu unit kesatuan. Bagian non-optik meliputi
antara lain kaki, pemutar/pengatur, dan meja preparat.
1) Kaki
Berfungsi menopang dan memperkokoh kedudukan mikroskop.
2) Lengan
Berfungsi untuk memegang mikroskop pada saat memindah mikroskop.
3) Cermin
Berfungsi memantulkan sinar dari sumber sinar. Cermin datar digunakan
apabila sinar cukup terang, dan cermin cekung digunakan apabila sumber
sinar kurang.
4) Kondensor
Tersusun dari lensa lensa gabungan yang berfungsi mengumpulkan sinar.
5) Diafragma
Berfungsi mengatur banyaknya sinar yang masuk dengan mengatur bukaan
iris.
6) Meja preparat
Merupakan tempat meletakkan obyek (preparat) yang akan dilihat. Obyek
diletakkan di meja dengan dijepit oleh penjepit. Di bagian tengah meja
terdapat lubang untuk dilewati sinar.
7) Tabung
Di bagian atas tabung melekat lensa okuler, dengan perbesaran tertentu(5X,
10X dan 15X). di bagian bawah tabung terdapat alat yang disebut revolver.
Pada revolver tersebut terdapat lensa obyektif, dengan perbesaran berbagai
macam sesuai dengan model atau pabrik pembuatnya, misalnya 10X, 40X
dan 100X.
8) Pengatur kasar dan halus

2
Komponen ini letaknya pada bagian

lengan dan berfungsi untuk mengatur


kedudukan lensa obyektif terhadap obyek yang akan dilihat.

2. Macam Mikroskop

a. b.

3
c. d.

Gambar 2.1 a Mikroskop monokuler: b. Mikroskop stereo


c. Mikroskop binokuler: d. Mikroskop trinokuler

Ciri utama keragaman mikroskop antara lain dari mikroskop satu okuler
(monokuler) dengan tabung tegak dan miring, penggunaan dua okuler (binokuler) atau tiga
(trinokuler), kekuatan lensa yang dipakai, sumber sinar (menggunakan lampu yang
terpasang), bahkan dapat dipasang kamera (kamera-diam atau video) pada mikroskop
trinokuler dan dapat disambung ke monitor TV.

Mikroskop yang digunakan untuk melihat benda secara tiga dimensi mempunyai
okuler 2 buah. Disebut juga mikroskop pembedahan (dissecting microscope). Pada
mikroskop ini sumber sinar alami dipantulkan oleh cermin ke obyek. Pada model baru
sumber sinar berasal dari lampu yang sudah terpasang pada badan mikroskop. Kuat
pembesaran mikroskop stereo berkisar antara 20X sampai 40X.

3. Kegunaan Mikroskop
1) Dapat memudahkan kita melihat objek terkecil yang tidak bisa dilihat
langsung oleh mata kita. seperti bakteri, sel, molekul, dan lain-lain.
2) Dapat memudahkan pekerjaan ilmuwan dalam meneliti sesuatu.
3) Semakin canggih mikroskop, dapat membuat penelitian menjadi lebih cepat
dan lebih efisien.

4. Penggunaan Mikroskop
1) Selalu membawa mikroskop dengan dua tangan, satu di bawah kaki
mikroskop dan yang satu lagi memegang lengan mikroskop. Bila
menggunakan preparat basah, tabung mikroskop selalu dalam keadaan tegak,
berarti pula meja dalam keadaan datar. Berlaku pada mikroskop dengan
tabung lurus atau tegak.

4
2) Preparat basah harus selalu ditutup dengan gelas penutup pada saat dilihat di
bawah mikroskop.
3) Selalu menjaga kebersihan lensa-lensa mikroskop termasuk cermin.
4) Setelah selesai menggunakan mikroskop, pasang lensa obyektif pembesaran
paling rendah pada kedudukan lurus ke bawah.

5. Pemeliharaan Mikroskop

Pemeliharaan alat laboratorium sangat diperlukan dalam rangka kesinambungan


kegiatan laboratorium, termasuk dalam hal ini pemeliharaan mikroskop. Beberapa
ketentuan dalam hal pemeliharaan mikroskop adalah sebagai berikut :

1) Mikroskop harus disimpan di tempat sejuk, kering, bebas debu dan bebas dari
uap asam dan basa. Tempat penyimpanan yang sesuai ialah kotak mikroskop
yang dilengkapi dengan silica gel, yang bersifat higroskopis, sehingga
lingkungan sekitar mikroskop tidak lembab. Selain itu dapat pula diletakkan
dalam lemari yang diberi lampu untuk mencegah tumbuhnya jamur.
2) Bagian mikroskop non-optik, terbuat dari logam atau plastik, dapat
dibersihkan dengan menggunakan kain flanel. Untuk membersihkan debu
yang terselip di bagian mikroskop tersebut dapat digunakan kuas kecil atau
kuas lensa kamera.
3) Lensa – lensa mikroskop, okuler, obyektif, dan kondensor dibersihkan
dengan menggunakan tisu lensa yang diberikan alkohol 70%. Jangan sekali-
kali membersihkan lensa menggunakan sapu tangan atau lap kain,
4) Sisa minyak imersi pada sisa lensa obyejtif dapat dibersihkan dengan xilol
(xylene). Pada penggunaan xilol haruslah hati-hati, jangan sampai cairan xilol
menempel pada bagian mikroskop non-optik, karena akan merusak cat atau
merusak bahan plastik.

B. Lup

Lup atau kaca pembesar merupakan sebuah alat optik yang terdiri dari sebuah
lensa
cembung rangkap (bikonveks).

5
Gambar 2.2
Lup
1. Kegunaan Lup

Lup berfungsi untuk melihat benda-benda kecil agar tampak lebih besar.
Bayangan yang dibentuk oleh lup bersifat maya, tegak, dan diperbesar.

2. Penggunaan Lup
1) Mata Berakomodasi Maksimum

Mata berakomodasi maksimum yaitu cara memandang obyek pada titik


dekatnya (otot siliar bekerja maksimum untuk menekan lensa agar berbentuk
secembung-cembungnya).

Pada penggunaan lup dengan mata berakomodasi maksimum, maka yang


perlu diperhatikan adalah:

a. bayangan yang dibentuk lup harus berada di titik dekat mata / Punctum
Proksimum (PP)
b. benda yang diamati harus diletakkan di antara titik fokus dan lensa
c. kelemahan : mata cepat lelah
d. keuntungan : perbesaran bertambah (maksimum)
2) Mata Tak Berakomodasi
Mata tak berakomodasi yaitu cara memandang obyek pada titik jauhnya
(yaitu otot siliar tidak bekerja/rileks dan lensa mata berbentuk sepipih-
pipihnya).
Pada penggunaan lup dengan mata tak berakomodasi, maka yang perlu
diperhatikan adalah:
a. maka lup harus membentuk bayangan di jauh tak hingga
b. benda yang dilihat harus diletakkan di titik fokus (So = f)
c. keuntungan : mata tak cepat lelah
d. Kerugian : perbesaran berkurang (minimum)

6
3. Pemeliharaan Lup
Lup disimpan di tempat sejuk, kering, bebas debu dan bebas dari uap asam dan
basa.

2.2 Alat – alat Elektrik

A. Inkubator

Bentuk alat inkubator merupakan suatu kabinet yang memiliki dua lapis dinding
yang terbuat dari aluminium atau stainless stel. Lapisan dinding bagian dalam membentuk
ruang untuk menyimpan bahan. Di antara dinding terdapat lapisan serat dari bahan
fiberglass yang berfungsi menahan panas supaya suhu dalam ruang inkubator tidak mudah
berubah.

Pada awalnya suhu yang diperlukan oleh alat ini berada pada kisaran suhu efektif
aktivitas organisme, yaitu berkisar 37°C-41°C. namun karena ada berbagai kegiatan
penelitian di bidang biologi maka
inkubator saat ini merupakan alat
berbentuk cabinet yang suhu ruang bagian
dalamnya dapat diatur dan dipertahankan
konstan pada aktivitas efektif organisme.
Dengan demikian inkubator berfungsi
untuk ruang media tumbuh berbagai
organisme misalnya; pembiakan serangga,
fermentasi, dan lain-lain. Oleh karena itu
rentang suhu yang mampu diatur dan
dipertahankan dapat berkisar 0°C hingga 80°C.

Gambar 2.3 Inkubator

7
Ruang bagian dalam inkubator dipanaskan oleh sejumlah kawat nikelin yang
dialiri arus listrik bolak-balik (AC). Prinsip kerja alat ini adalah mengubah energi listrik menjadi
energi panas. Kawat nikelin akan menghambat aliran electron yang mengalir disekeliling ruang
cabinet. Terjadinya penghambatan aliran elektron mengakibatkan peningkatan suhu kawat. Suhu
yang meningkat merupakan energi panas dan kemudian diinduksikan ke dinding inkubator bagian
dalam sehingga suhu ruangan inkubator meningkat.

Agar suhu ruangan konstan maka inkubator dilengkapi dengan thermostat atau
thermoregulator yang berfungsi menghubungkan atau memutuskan aliran listrik. Thermostat yang
digunakan ada yang berupa cairan (hydraulic thermostat) atau logam (biometal thermostat).
Thermostat akan menghubungkan arus listrik secara terus menerus bila suhu yang ditargetkan
tercapai (waktu konstan). Apabila suhu yang ditaergetkan tercapai maka thermostat segera
memutuskan aliran listrik, dengan demikian tidak terjadi peningkatan suhu ruangan lebih lanjut.
Setelah beberapa lama suhu ruang inkubator akan menurun, apabila hal ini terjadi maka segera
thermostat berfungsi sebagai penghubung. Dengan adanya arus yang terhubung dan terputus oleh
thermostat mengakibatkan suhu inkubator mengalami fluktuasi. Fluktuasi suhu yang terjadi berada
di sekitar dekat dengan suhu yang dikehendaki. Besarnya fluktuasi suhu tergantung pada kepekaan
thermostat dan ketelitian pengatur suhu. Makin peka thermostat dan makin teliti pengatur suhu akan
makin kecil rentang fluktuasi suhu ruang sehingga dapat diabaikan.

1. Kegunaan Inkubator
Berfungsi sebagai alat inkubasi (pengeraman, penetasan telur)

2. Kelengkapan dan Fungsi

Untuk mengeporasikan inkubator terlebih harus mengetahui dahulu kelengkapan


umum dan fungsi dari kelengkapan yang terdapat pada inkubator. Kelengkapan dasar
inkubator diantaranya :

1) Tombol power
Tombol ini merupakan saklar ON-OFF yang berfungsi untuk
menghubungkan atau memutuskan arus listrik dari luar ke sistem yang
terdapat dalam incubator.
2) Tombol pengatur suhu

8
Tombol ini meruapakan tombol yang dapat diputar searah jarum jam atau
sebaliknya. Berfungsi untuk mengatur besarnya suhu di dalam ruangan
inkubator yang diinginkan untuk suatu perlakuan objek tertentu.
3) Indikator
Indikator yang terdapat pada inkubator adalah berupa lampu indikator
yang menunjukkan inkubator sedang dalam ON atau sedang berfungsi.
Selain itu juga terdapat indikator suhu yang menunjukkan tingkat panas
di dalam ruangan inkubator. Indikator suhu berupa skala termometer
yang dipasang pada bagian permukaan atas atau bagian depan. Bagian
sensor suhu menembus ruang bagian dalam melalui suatu lubang. Pada
inkubator yang lebih maju indikator suhu dinyatakan dalam angka
(digital).

4) Timer
Pada inkubator tertentu biasanya dilengkapi timer (pengatur waktu).
Fungsi tombol ini adalah menentukan lamanya suatu proses yang terjadi.
Apabila waktu yang ditetapkan untuk suatu proses inkubasi tercapai
maka secara otomatis saklar akan memutuskan arus listrik yang masuk
ke dalam sistem alat.

3. Menggunakan inkubator

Menggunakan inkubator tidak memerlukan latihan khusus karena perangkat ini


sangat mudah dioperasikan dengan urutan sebagai berikut :

1) Periksa tegangan yang diperlukan untuk beroperasinya inkubator 110 atau


220 Volt. Apabila sudah cocok dengan jaringan listrik di laboratorium
masukkan kabel penghubung inkubator pada terminal listrik yang tersedia.
2) Tekan saklar power sehingga indikator lamp menyala.
3) Atur suhu dalam ruangan inkubator yang diinginkan dengan cara memutar
pengatur suhu.
4) Objek yang akan diinkubasi dapat dimasukkan ke dalam inkubator sebelum
suhu yang ditetapkan tercapai atau pada saat suhu yang ditetapkan tercapai,
tergantung pada keperluan dan pertimbangan tertentu. Objek sebaiknya
ditempatkan pada wadah yang terbuat dari gelas atau porselen, jangan
menggunakan wadah dari bahan plastik.
5) Perhatikan indikator suhu. Secara perlhan skala indikator akan meningkat
sampai suhu yang diinginkan. Apabila indikator suhu merupakan angka
(digital) maka akan terjadi perubahan angka secara bertahap.

9
6) Bila inkubator dilengkapi tombol timer dan proses inkubasi memerlukan
masa waktu trertentu dapat diatur dengan memutar tombol timer tersebut.
7) Apabila selama proses inkubasi disertai dengan pengamatan maka proses
pengamatan harus dilakukan secara hati – hati dengan membuka sedikit celah
pintu. Jangan membuka pintu secara lebar dan tiba-tiba karena hal ini akan
mengakibatkan perubahan suhu secara tiba-tiba pula, sehingga
mengakibatkan terganggunya objekyang sedang diinkubasi. Pada beberapa
inkubator selain pintu utama terdapat jendela kaca atau pintu tambahan yang
terbuat dari kaca tahan panas, sehingga proses pengamatan tidak mengganggu
objek yang diinkubasi.
8) Apabila dalam proses inkubasidiperlukan ruang dengan lkelmbapan tertentu,
maka pada bagian dasar ruang inkubator dapat disimpan wadah yang berisi
air. Pada inkubator biasanya juga dilengkapi dengan tombol pengatur saluran
keluar dan masuknya udara. Dengan cara memutar atau menggeser maka
besarnya slauran udara dapat di atur, dengan demikian kelembapan udara
dalam ruang dapat di atur.
9) Bila telah selesai keluarkan objek dari ruang inkubator dan bersihkan sisa-
sisaobjek yang tercecer. Pintu inkubator ditutup kembali dan kabel
penghubung dilepas dari terminal listrik.

4. Pemeliharaan Inkubator

Inkubator merupakan alat yang besar dan berat. Oleh karena itu semestinya
ditempatkan pada tempat yang permanen, kering dan dekat dengan sumber arus listrik
sehingga mudah dijangkau dan digunakan. Bersihkan ruang inkubator dari kotoran atau
noda yang tercecer setelah selesai digunakan. Hal ini penting karena noda selain
mengakibatkan gangguan estetika juga dapat mengakibatkan timbul karat dan
mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bersihkan bagian dalam ruangan dan dinding kabinet
dengan menggunakan kain lunak.

B. Oven

10
Oven secara fisik mirip dengan inkubator, bahkan prinsip kerja oven sama dengan
inkubator. Bedanya suhu ruang oven dapat diatur dan dipertahankan lebih tinggi dari pada
aktivitas efektif organisme, yaitu sekitar 30°C-220°C.

Dalam prakteknya proses pemanasan yang terjadi pada oven berlangsung secara
perlahan dan suhunya tidak merata ke seluruh ruangan karena udara tidak disirkulasikan.
Agar proses pemanasan berlangsung efektif maka saluran keluar masuknya udara pada
oven harus terbuka, sehingga uap air yang ada di pindahkan ke luar. Agar suhu dalam ruang
menjadi merata oven ada yang dilengkapi kipas untuk melakukan sirkulasi terhadap udara
di dalamnya.

Gambar 2.4 Oven

1. Kegunaan Oven
Untuk melakukan
pemanasan, pengembangan,
pengeringan, atau sterilisasi
bahan organik maupun anorganik, misalnya: mengeringkan bahan-bahan biologis
untuk mendapatkan berat kering yang konstan, mengeringkan dan melakukan
sterilisasi alat-alat yang baru dicuci dan lain-lain.

2. Pemeliharaan Oven

Oven merupakan alat yang besar dan berat. Oleh karena itu semestinya
ditempatkan pada tempat yang permanen, kering dan dekat dengan sumber arus listrik
sehingga mudah dijangkau dan digunakan. Bersihkan ruang oven dari kotoran atau noda
yang tercecer setelah selesai digunakan. Hal ini penting karena noda selain mengakibatkan

11
gangguan estetika juga dapat mengakibatkan timbul karat dan mengeluarkan bau yang
tidak sedap. Bersihkan bagian dalam ruangan dan dinding kabinet dengan menggunakan
kain lunak.

C. Waterbath

Waterbath merupakan suatu wadah untuk penampung air yang memiliki pemanas
sehingga air dalam wadah dapat diatur konstan dalam waktu beberapa jam hingga beberapa
hari. Waterbath sangat berguna untuk berbagai keperluan eksperimen yang memerlukan
suhu konstan. Berbagai eksperimen metabolisme, proses reaksi kimia dan pelarutan bahan
yang mudah terbakar dengan berbagai variasi suhu konstan dapat dilakukan dengan
bantuan waterbath. Suhu air yang dapat diatur pada waterbath berkisar dari suhu kamar
hingga 100°C.

Prinsip kerja waterbath pada dasarnya sama dengan prinsip kerja inkubator dan
oven yaitu mengubah energi listrik menjadi energi panas. Arus listrik dari jala-jala dialirkan
melalui kawat nikelin yang dilapisi isolator asbes atau keramik, kemudian ditutup hingga
kedap air dan selanjutnya dilapisi metal agar dapat berkerja ketika direndam dalam air dan
berfungsi sebagai pemanas (heater). Agar suhu air dalam bak konstan maka pada rangkaian
system pemanas dilengkapi juga dengan thermostat. Seperti halnya pada inkubator
thermostat berfungsi menyambung atau memutuskan arus yang mengalir pada pemanas.
Dengan demikian suhu air dalam bak dapat dipertahankan konstan.

Gambar 2.5
Waterbath

12
1. Kegunaan Waterbath

Wadah untuk penampung air yang memiliki pemanas sehingga air dalam wadah
dapat diatur konstan dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Waterbath sangat
berguna untuk berbagai keperluan eksperimen yang memerlukan suhu konstan. Berbagai
eksperimen metabolisme, proses reaksi kimia dan pelarutan bahan yang mudah terbakar
dengan berbagai variasi suhu konstan dapat dilakukan dengan bantuan waterbath.

2. Penggunaan Waterbath

Tata cara penggunaan waterbath sangat sederhana namun demikian apabila terjadi
kesalahan dapat mengakibatkan kerusakan alat. Cara penggunaan waterbath :

1) Paling penting adalah mengisi wadah dengan air sampai batas yang
ditentukan sebelum mengerjakan yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk
menghindari pemanasan yang berlebihan (over heated) yang mengakibatkan
kerusakan alat.
2) Masukkan kabel penghubung pada terminal listrik laboratorium. Bila sudah
terhubung maka saklar dapat ditempatkan pada posisi ON. Apabila alat
berkerja maka lampu indikator akan bercahaya.
3) Putar pengatur temperatur pada skala suhu yang diinginkan. Untuk mencapai
suhu yang diinginkan memerlukan waktu yang lamanya tergantung pada suhu
yang diset dan volume air dalam wadah.
4) Agar keadaan suhu air dalam wadah diketahui maka dapat ditempatkan
termometer secara vertikal dan diupayakan tidak menyentuh bagian dasar
wadah. Pada waterbath model digital pengaturan suhu yang dibutuhkan dapat
dengan cara memutar tombol sampai angka nilai suhu terbaca pada cahaya
lampu LED.
5) Apabila suhu yang diinginkan tercapai maka objek yang akan diperlakukan
dengan suhu tersebut dapat dimasukkan sesuai dengan tata caranya. Apabila
proses pengujian memerlukan aklimasi, objek dapat ditempatkan sebelum
suhu yang diinginkan tercapai.
6) Apabila melakukan kesalahan yang mengakibatkan over heating, pada alat
terdapat pengaman yang secara otomatis memutus arus dan tidak akan
terhubung bila bagian tombol reset tidak ditekan. Tombol reset biasanya
terdapat pada bagian belakang alat pada tempat yang terlindung.

3. Pemeliharaan Waterbath

Waterbath merupakan alat yang besar dan berat. Oleh karena itu semestinya
ditempatkan pada tempat yang permanen, kering dan dekat dengan sumber arus listrik

13
sehingga mudah dijangkau dan digunakan. Pemeliharaan Waterbath tidak memerlukan
penanganan secara khusus. Agar alat ini dapat bertahan lama maka setelahi selesai
digunakan sebaiknya air yang berada di dalam wadah dikeluarkan dan alat dikeringkan.
Hal ini penting dilakukan untuk mencegah karat pada alat.

D. Pengaduk (Stirrer/Mixer)

Berdasarkan proses kerja pengadukan terdapat dua jenis mesin pengaduk, yaitu
secara mekanik dan magnetik. Pada dasarnya kedua alat ini bekerja dengan cara mengubah
energi listrik menjadi medan magnet yang mampu menggerakan suatu rotor dari motor
listrik.

a. Mechanical Stirrer
1) Penggunaan Mechanical Stirrer

Pengaduk demikian menggunakan energi listrik untuk memutar rotor. Pada ujung
rotor dipasangkan sebuah batang terbuat dari logam anti karat yang pada ujungnya
berbentuk kipas.

Proses pengadukan dengan cara ini dilakukan dari atas bejana atau wadah tempat
bahan yang akan di aduk. Agar proses pengadukan berlangsung dengan lancar dan aman,
maka mixer ditempatkan pada sebuah statip
dengan menggunakan klem penjepit. Cairan
yang akan diaduk ditempatkan dalam sebuah
wadah yang ditempatkan di atas penyangga
statip. Kemudian secara perlahan membuka
klem penjepit, mixer diturunkan
sehingga kipas pengaduk masuk ke dalam
cairan yang akan di aduk, jangan sampai
menyentuh bagian dasar wadah, kemudian
klem dikencangkan kembali. Untuk cairan yang
relatif pekat, disarankan mengikat wadah cairan pada batang statip dengan sebuah klem
khusus sehingga wadah tidak bergerak atau turut bergerak. Kecepatan propeller dapat
diatur dari 0-1000 rpm, bahkan ada yang dari 1000 – 12000 rpm. Pengaturan kecepatan
dilakukan dengan sebuah tombol pengatur yang diterapkan pada suatu busur skala 1 – 10.

14
Gambar 2.6 Mechanical Stirrer

b. Magnetic Stirrer
1) Penggunaan Magnetic Stirrer

Pada magnetic stirrer prinsip kerjanya hampir sama dengan mechanical


stirrer, perbedaannya hanya pada propeler (pengaduk). Pada mechanical stirrer
untuk pengaduk digunakan propeler yang dihubungkan dengan rotor, sedangkan
pada magnetic stirrer bagian rotor yang ditempelkan sebuah magnet yang
mempunyai ukuran besar.

Untuk pengadukannya digunakan sebuah stir bars (batang pengaduk)


yang terbuat dari besi atau magnet yang dibungkus dengan plastic atau telfon. Stir
bar ini dimasukkan ke dalam wadah cairan yang akan di aduk. Wadah tempat
cairan biasanya terbuat dari gelas tahan panas (bekerglass, Erlemeyer), diletakkan
diatas plate (lempengan). Stir bars yang terdapat dalam wadah akan berputar
mengikuti perputaran magnet yang terdapat pada rotor. Pemilihan stir bars
disesuaikan dengan ukuran wadah.

2) Pemeliharaan Mechanical Strirrer


Pada waktu menggunakan magnetic stirrer jangan sampai cairan tercecer
pada bagian hot plate, terutama bahan kimia yang sifatnya korosif. Sapulah
bagian hot plate dengan menggunakan kain dilembabkan dengan air. Untuk
mechanical stirrer pada saat disimpan alat dalam keadaan tidak terakit,
lepaskan propeller dari bagian rotor dan disimpan secara berdekatan.

15
Gambar 2.7 Magnetic Stirrer

E. Spectrophotometer

1. Kegunaan Spectrophotometer
Untuk melakukan analisis
kadar (kuantitatif) dari
suatu larutan.

2. Penggunaan Spectrophotometer
1) Penempatan alat
Mengingat bahwa
spectrophotometer menggunakan interaksi gelombang elektromagnetik
dalam proses pengukuran, maka sebaiknya alat ini ditempatkan jauh dari
sumber medan magnit atau medan listrik yang kuat. Alat sebaiknya
ditempatkan pada daerah yang bebas debu, gas yang korosif, dan getaran.
2) Penempatan sampel
Karena bahan yang akan dianalisis berupa cairan maka diperlukan cuvette,
yaitu wadah berupa tabung yang tidak menyerap cahaya. Bahan yang
digunakan untuk tabung es adalah gelas atau Kristal. Tabung gas biasanya

16
diterapkan untuk analisis pada rentang cahaya tampak. Sedangkan tabung
yang terbuat dari Kristal diterapkan untuk pengukuran pada rentang cahaya
tampak (visible) maupun UV.

Gambar 2.8 Spectrophotometer

3. Pemeliharaan Spectrophotometer

Untuk Spectrophotometer sebaiknya alat ditempatkan pada tempat yanf permanen


pemindahan dapat mengakibatkan
bergetarnya filament pada lampu
sumber cahaya. Hal ini
mengakibatkan lampu lebih
cepat putus dibandingkan
usia semstinya. Bila terjadi tetesan
cairan segfera bersihkan
dengan kain yang dibasahi dengan
air.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

17
Di dalam laboratorium terdapat berbagai macam alat. Salah satunya alat optik dan
alat elektrik. Alat optik adalah alat yang berfungsi melihat suatu objek sangat kecil
yang tidak bisa dilihat oleh mata secara langsung. Contoh alat optik yaitu mikroskop
dan lup.

Alat – alat elektrik adalah alat yang menggunakan listrik dalam prosesnya seperti
inkubator, oven, magnetic stirrer, waterbath, dan lain-lain. Alat tersebut memiliki
fungsi khusus untuk membantu pekerjaan penelitian di dalam laboratorium.

DAFTAR RUJUKAN

18
Wirjosoemarto, Koesmadji. Adisendjaja, Yusuf Hilmi. Supriatno, Bambang.
Riandi. JICA Common Textbook (Edisi Revisi) Teknik Laboratorium. Bandung:
Pendidikan Biologi UPI.

Muslim. Yunansah, Hana. Hendri Mulyana, Edi. BBM8 (Cahaya dan Alat Optik).
Bandung: UPI Press.

19