Anda di halaman 1dari 7

Nama : Enda Yuliana

NIM : 15034059
Mata Kuliah : Fisika Radiasi

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGUKURAN RADIASI DALAM FISIKA


KESEHATAN

Kesimpulan

1. Terdapat dua cara pengukuran radiasi yaitu cara pulsa (pulse mode) dan
cara arus (current mode). Sistem pengukur yang digunakan dalam kegiatan
proteksi radiasi, seperti survaimeter dan monitor radiasi biasanya
menerapkan cara arus (current mode) sedangkan dalam kegiatan aplikasi
dan penelitian menerapkan cara pulsa (pulse mode)
2. Besaran Dan Satuan Radiasi disebut Dosis Ekivalen dan memiliki satuan
sievert, dengan simbol Sv. Untuk nilai yang lebih kecil, biasa digunakan
milisievert, mSv, yang sama dengan seperseribu sievert. Istilah sievert
diambil dari nama fisikawan Swedia, Rolf Sievert.
3. Standard Dosis Yang Dapat Diterima Oleh Manusia dapat berasal dari
alam (secara alamiah) maupun dari radiasi buatan manusia (misalnya
pemakaian sinar-X dalam bidang kedokteran). Dalam laporan yang
dipublikasikan pada tahun 2000, UNSCEAR (United Nations Scientific
Committee on the Effects of Atomic Radiation) menyatakan bahwa secara
rata-rata seseorang akan menerima dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun.
Sekitar 85% dari total dosis yang diterima seseorang berasal dari alam.
Sekitar 43% dari total dosis yang diterima seseorang berasal dari
radionuklida radon yang terdapat di dalam rumah.
4. Bahaya-Bahaya Radiasi Eksternal dan internal. Bahaya-Bahaya Radiasi
Eksternal yaitu dosis radiasi tinggi, antara 3 Sv (300 rem) hingga 16 Sv
(1600 rem), yang berasal dari bahan radioaktif yang mengendap di tanah
bisa menyebabkan kematian, Selain itu, mereka juga mengalami
kontaminasi pada kulit yang mengakibatkan eritema akut, serta pada
penyinaran radiasi sinar x pada radioterapi dalam membunuh sel kanker
dalam dunia kesehatan juga memiliki efek samping bagi kesehatan kerena
Radioterapi tidak hanya merusak DNA sel kanker namun juga pada sel
normal. Ketika sel normal juga ikut rusak, maka berbagai efek samping
pun akan bermunculan misalnya Jika yang diradioterapi adalah bagian
perut, maka kandung kemih tidak lagi elastis dan membuat pasien buang
air kecil lebih sering, gangguan fungsi paru-paru akibat mendapatkan
radiasi di bagian dada. Untuk radioterapi yang dilakukan di sekitar
panggul, akan menimbulkan efek seperti peradangan pada kandung kemih,
serta nyeri pada perut akibat infeksi saluran kencing. Radiasi internal
memiliki bahaya bahaya bagi manusia, contohnya pada tanggal 26 April
1986 terjadi kecelakaan di PLTN Chernobyl, Ukraina. Kecelakaan itu
mengakibatkan tersebarnya sejumlah bahan radioaktif ke lingkungan
selama 10 hari. Radionuklida utama yang menjadi bahaya pada kecelakaan
ini adalah I-131, Cs-134 dan Cs-137. Dosis yang diterima berasal dari
radiasi eksterna radionuklida yang terdapat di permukaan tanah, dari
terhirupnya I-131 sehingga meningkatkan dosis radiasi pada thyroid, dan
dari radiasi internal radionuklida yang terdapat pada bahan makanan.
Ketika UNSCEAR menerbitkan laporan pada tahun 2000, pada laporan itu
masih disebutkan bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl ini mengakibatkan
dosis efektif rata-rata sekitar 0,002 mSv (0,2 mrem) per tahun.

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGUKURAN RADIASI DALAM FISIKA


KESEHATAN

A. Besaran Dan Satuan Radiasi


kita dapat mendeteksi radiasi dengan menggunakan peralatan khusus, yang
disebut Detektor Radiasi, misalnya film fotografi, tabung Geiger-Müller,
pencacah sintilasi, bahan termoluminesensi maupun dioda silikon. Hasil
pengukuran detektor radiasi tersebut dapat kita interpretasikan sebagai energi
radiasi yang terserap di seluruh tubuh manusia atau di organ tertentu, misalnya
hati. Banyaknya energi radiasi pengion yang terserap per satuan massa bahan,
misalnya jaringan tubuh manusia, disebut Dosis Terserap yang dinyatakan
dalam satuan gray, dengan simbol Gy. Untuk nilai yang lebih kecil, biasa
digunakan miligray, mGy, yang sama dengan seperseribu gray. Istilah gray
diambil dari nama fisikawan Inggris, Harold Gray. Besar dosis terserap yang
sama untuk jenis radiasi yang berbeda belum tentu mengakibatkan efek
biologis yang sama, karena setiap jenis radiasi pengion memiliki keunikan
masing-masing dalam berinteraksi dengan jaringan tubuh manusia. Sebagai
contoh, dosis terserap 1 Gy yang berasal dari radiasi alfa lebih berbahaya
dibandingkan dengan dosis terserap 1 Gy yang berasal dari radiasi beta.
Karena adanya perbedaan tersebut, kita memerlukan besaran dosis lain yang
tidak bergantung pada jenis radiasi. Besaran itu disebut Dosis Ekivalen dan
memiliki satuan sievert, dengan simbol Sv. Untuk nilai yang lebih kecil, biasa
digunakan milisievert, mSv, yang sama dengan seperseribu sievert. Istilah
sievert diambil dari nama fisikawan Swedia, Rolf Sievert.
Dosis ekivalen adalah dosis terserap dikalikan dengan Faktor Bobot-
Radiasi. Nilai faktor bobot-radiasi ini berlainan untuk setiap jenis radiasi,
bergantung pada kemampuan radiasi tersebut untuk merusak jaringan tubuh
manusia. Faktor bobot-radiasi untuk elektron (radiasi beta), foton (gamma dan
sinar-X) bernilai 1 (satu), sedang untuk radiasi alfa bernilai 20. Ini berarti
radiasi alfa bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh 20 kali lebih
parah dibandingkan dengan radiasi beta, gamma atau sinar-X. Dengan adanya
dosis ekivalen ini, maka kita dapat menyatakan bahwa dosis ekivalen 1 Sv
yang berasal dari radiasi alfa akan mengakibatkan kerusakan yang sama
dengan dosis ekivalen 1 Sv yang berasal dari radiasi beta.

B. Standard Dosis Yang Dapat Diterima Oleh Manusia


Standard Dosis Yang Dapat Diterima Oleh Manusia dapat berasal dari
alam (secara alamiah) maupun dari radiasi buatan manusia (misalnya
pemakaian sinar-X dalam bidang kedokteran). Dalam laporan yang
dipublikasikan pada tahun 2000, UNSCEAR (United Nations Scientific
Committee on the Effects of Atomic Radiation) menyatakan bahwa secara
rata-rata seseorang akan menerima dosis 2,8 mSv (280 mrem) per tahun.
Sekitar 85% dari total dosis yang diterima seseorang berasal dari alam. Sekitar
43% dari total dosis yang diterima seseorang berasal dari radionuklida radon
yang terdapat di dalam rumah.
B. Bahaya-Bahaya Radiasi Eksternal dan Internal
1. Bahaya-Bahaya Radiasi Eksternal
Dalam bidang kedokteran, radiasi pengion digunakan untuk diagnosis
dan pengobatan (terapi). Pemakaian sinar-X untuk memeriksa pasien
disebut radiologi diagnostik, jika radiasi digunakan untuk mengobati
pasien, prosedurnya disebut radioterapi, sedang pemakaian obat-obatan
yang mengandung bahan radioaktif, baik untuk keperluan diagnosis
maupun terapi, disebut kedokteran nuklir. Dosis efektif rata-rata yang
berasal dari bidang kedokteran ini sekitar 0,4 mSv (40 mrem) per tahun.
Radiasi eksternal memiliki bahaya bahaya bagi manusia, contohnya
pada tanggal 26 April 1986 terjadi kecelakaan di PLTN Chernobyl,
Ukraina. Kecelakaan itu mengakibatkan tersebarnya sejumlah bahan
radioaktif ke lingkungan selama 10 hari. Sekitar 31 orang meninggal
dunia, termasuk 28 orang petugas pemadam kebakaran. Para petugas
pemadam kebakaran tersebut mendapat dosis radiasi tinggi, antara 3 Sv
(300 rem) hingga 16 Sv (1600 rem), yang berasal dari bahan radioaktif
yang mengendap di tanah. Selain itu, mereka juga mengalami kontaminasi
pada kulit yang mengakibatkan eritema akut. Sebanyak 209 orang juga
mendapat perawatan di rumah sakit, 106 orang di antaranya didiagnosa
menderita sakit akibat radiasi yang cukup parah. Kendati demikian,
semuanya dapat disembuhkan dan diizinkan pulang setelah menjalani
perawatan beberapa minggu atau bulan di rumah sakit. Pada penyinaran
radiasi sinar x pada radioterapi dalam membunuh sel kanker dalam dunia
kesehatan juga memiliki efek samping bagi kesehatan kerena Radioterapi
tidak hanya merusak DNA sel kanker namun juga pada sel normal. Ketika
sel normal juga ikut rusak, maka berbagai efek samping pun akan
bermunculan misalnya Jika yang diradioterapi adalah bagian perut, maka
kandung kemih tidak lagi elastis dan membuat pasien buang air kecil lebih
sering, gangguan fungsi paru-paru akibat mendapatkan radiasi di bagian
dada. Untuk radioterapi yang dilakukan di sekitar panggul, akan
menimbulkan efek seperti peradangan pada kandung kemih, serta nyeri
pada perut akibat infeksi saluran kencing
2. Radiasi Internal
Beberapa radionuklida yang berasal dari deret uranium dan thorium,
misalnya Pb-210 dan Po-210, terdapat di udara, makanan dan air. Karena
itu, kita juga mendapat radiasi secara internal (dari dalam tubuh). Selain
itu, di dalam tubuh juga terdapat radionuklida K-40 dan produk peluruhan
radon. Interaksi radiasi kosmik dengan atmosfir juga akan menghasilkan
beberapa radionuklida, misalnya C-14, yang akan menambah radiasi
internal. Dosis efektif rata-rata dari radiasi internal ini sekitar 0,3 mSv (30
mrem) per tahun. Sekitar separuh dari dosis ini berasal dari K-40. Radiasi
yang berasal dari gas radon (Rn-222) merupakan sumber utama radiasi
yang kita terima sehari-hari. Hal ini terjadi karena Rn-222 dapat
bergabung dengan udara yang kita hirup. Kemudian, gas radon yang
memancarkan radiasi alfa ini dapat mengiradiasi paru-paru sehingga akan
meningkatkan risiko terkena kanker. Dosis efektif rata-rata dari gas radon
ini sekitar 1,2 mSv (120 mrem) per tahun. Karena dosis total rata-rata
(baik berasal dari radiasi alamiah maupun buatan) sekitar 2,8 mSv (280
mrem) per tahun, maka kontribusi dari radon ini sekitar 43% dari dosis
total yang kita terima. Karena itu, kita harus mewaspadai dosis radiasi
yang berasal dari gas radon ini. Untuk mengurangi radiasi yang berasal
dari gas radon, ruangan gedung harus memiliki ventilasi yang cukup agar
gas radon dapat didispersikan oleh udara.
Radionuklida utama yang menjadi bahaya pada kecelakaan ini adalah
I-131, Cs-134 dan Cs-137. Dosis yang diterima berasal dari radiasi
eksterna radionuklida yang terdapat di permukaan tanah, dari terhirupnya
I-131 sehingga meningkatkan dosis radiasi pada thyroid, dan dari radiasi
internal radionuklida yang terdapat pada bahan makanan. Ketika
UNSCEAR menerbitkan laporan pada tahun 2000, pada laporan itu masih
disebutkan bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl ini mengakibatkan dosis
efektif rata-rata sekitar 0,002 mSv (0,2 mrem) per tahun.
Radiasi internal memiliki bahaya bahaya bagi manusia, contohnya
pada tanggal 26 April 1986 terjadi kecelakaan di PLTN Chernobyl,
Ukraina. Kecelakaan itu mengakibatkan tersebarnya sejumlah bahan
radioaktif ke lingkungan selama 10 hari. Radionuklida utama yang
menjadi bahaya pada kecelakaan ini adalah I-131, Cs-134 dan Cs-137.
Dosis yang diterima berasal dari radiasi eksterna radionuklida yang
terdapat di permukaan tanah, dari terhirupnya I-131 sehingga
meningkatkan dosis radiasi pada thyroid, dan dari radiasi internal
radionuklida yang terdapat pada bahan makanan.

Ketika UNSCEAR menerbitkan laporan pada tahun 2000, pada laporan


itu masih disebutkan bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl ini
mengakibatkan dosis efektif rata-rata sekitar 0,002 mSv (0,2 mrem) per
tahun.