Anda di halaman 1dari 20

Analisa Medan Listrik Pada Kabel Tanah 150kV

Pengetanahan Langsung Dengan Konfigurasi


Flat dan 3-Foil
STUDI KASUS SEMESTER-1 TAHUN 2017/2018

Oleh:
ISRAJUDDIN ( 8410543-Z )
Pegawai Tugas Belajar pada Divisi Pengembangan Talenta
Direktorat Human Capital Management
PT PLN (Persero) Kantor Pusat
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 3

1.1. Latar Belakang ............................................................................................................................................. 3

1.2. Permasalahan .............................................................................................................................................. 3

BAB 2 DASAR TEORI ............................................................................................................................................ 4

2.1. Medan Listrik .......................................................................................................................................... 4

2.2. FEM (Finite Element Method / Metode Elemen Berhingga) ................................................................. 4

2.3. Kabel Tegangan Tinggi ............................................................................................................................ 5

BAB 3 FLOWCHART, PEMODELAN DAN SIMULASI ............................................................................................ 6

3.1. Flowchart................................................................................................................................................. 6

3.2. Pemodelan .............................................................................................................................................. 6

3.3. Simulasi ................................................................................................................................................... 8

BAB 4 HASIL SIMULASI DAN ANALISA .............................................................................................................. 10

4.1. Konfigurasi flat dalam kondisi normal ................................................................................................. 10

4.2. Konfigurasi flat dengan pentanahan tidak sempurna pada salah satu fasa....................................... 12

4.3. Konfigurasi 3-foil pada kondisi normal ................................................................................................ 14

4.4. Konfigurasi 3-foil dengan pentanahan tidak sempurna pada salah satu fasa.................................... 16

4.5. Analisa ................................................................................................................................................... 18

4.5.1 Analisa Distribusi Tegangan .................................................................................................................. 18

4.5.2 Analisa Medan Listrik ........................................................................................................................... 18

BAB 5 KESIMPULAN .......................................................................................................................................... 19

2|Page
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Proses penyaluran listrik dari pusat pembangkit hingga ke konsumen melalui saluran
transmisi Tegangan Tinggi (TT), kemudian didistribusikan ke saluran transmisi Tegangan
Menengah (TM) dan saluran transmisi Tegangan Rendah (TR).
Saluran transmisi tegangan tinggi selain menggunakan saluran udara tegangan tinggi (SUTT),
pada beberapa kondisi juga dapat berupa saluran kabel tegangan tinggi (SKTT). Pada saluran
kabel tegangan tinggi, ada beberapa permasalahan yang bisa muncul, diantaranya kabel rusak
akibat peralatan berat yang kebetulan melakukan penggalian di jalur kabel tanah, atau dapat
juga akibat gangguan pada joint box pengetanahan kabel.

1.2. Permasalahan
Pada bahasan ini, akan disimulasikan dan dianalisa distribusi tegangan dan medan listrik pada kabel
tegangan tinggi berpenghantar tunggal berisolasi XLPE pada kondisi normal dan pada kondisi terjadi
gangguan pentanahan yang tidak sempurna pada salah satu fasa.
Dalam melakukan simulasi distribusi tegangan dan medan listrik 2 dimensi, digunakan software
FEMM 4.2 (Finite Element Method Magnetics versi 4.2) yang dirancang dan dikembangkan pada tahun
2010 oleh David Meeker.

3|Page
BAB 2 DASAR TEORI

2.1. Medan Listrik


Medan listrik adalah efek yang ditimbulkan oleh keberadaan muatan listrik (charge) seperti
elektron, ion atau proton terhadap sekitarnya. Salah satu pemanfaatan medan listrik ini adalah pada
kawat konduktor atau kabel.
Suatu medan merupakan sebuah vektor yang bergantung vektor lainnya. Medan listrik dapat
dianggap sebagai gradien dari potensial listrik (tegangan). Jika beberapa muatan yang disebarkan
menghasilkan medan listrik, gradien potensial listrik dapat ditentukan dan medan listrik dapat dihitung.
Pada permasalahan Medan Elektrostatik, Medan Listrik dapat dituliskan :

(1)
Persamaan Maxwell :

(2)

Dimana, adalah Kerapatan Muatan per unit volume (C/m, C/m2, C/m3)

adalah Konstanta Dielektrik Material ( )


adalah Konstanta Dielektrik ruang terbuka (8,854 x 10-12 F/m)
adalah Konstanta Dielektrik Relatif material
Substitusi persamaan (1) dan (2) didapatkan persamaan Poisson :

(3)
Jika ρ = 0, persamaan Poisson dapat dinyatakan dalam persamaan Laplace :

(4)

2.2. FEM (Finite Element Method / Metode Elemen Berhingga)


FEM adalah salah satu metode numerik paling populer yang digunakan untuk mendapatkan
perkiraan solusi/pemecahan dari permasalahan nilai batas (boundary value) pada persamaan
differensial, salah satunya untuk menyelesaikan persamaan Poisson. FEM membagi domain yang akan
dipecahkan menjadi bentuk-bentuk geometris yang lebih sederhana (seperti segitiga) yang disebut
sebagai finite element, dari tiap elemen diperoleh pendekatan pemecahan melalui interpolasi linear
potensial pada ketiga sudut dari segitiga. Hasil terbaik diperoleh dari error terkecil antara solusi hasil
pendekatan terhadap persamaan differential yang sebenarnya.
Analogi sederhana dari gagasan yang diangkat FEM dapat dilihat bahwa sebuah lingkaran besar,
terdiri dari banyak sekali garis-garis pendek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa FEM menghubungkan

4|Page
persamaan-persamaan yang diperoleh dari finite element untuk digunakan sebagai pendekatan pada
persamaan yang jauh lebih kompleks pada domain yang lebih besar.
Pembagian finite element fleksibel mengikuti bentuk domain yang akan diselesaikan. Pembagian
ini disebut diskritisasi. Jumlah dan ukuran finite element yang dibentuk tergantung dari kompleksitas
permasalahan yang akan diselesaikan.

2.3. Kabel Tegangan Tinggi


Pada sistem saluran kabel bawah tanah, XLPE merupakan jenis isolasi yang paling sering
digunakan karena merupakan jenis kabel listrik dengan daya tahan yang sangat kuat dan kualitas yang
baik.
Berikut adalah konstruksi kabel tegangan tinggi berpenghantar tunggal berisolasi XLPE

(a) (b)
Gambar 2.1 Kontruksi kabel tegangan tinggi berpenghantar tunggal berisolasi XLPE
(a) Lead Sheath, (b) Copper laminated cable

5|Page
BAB 3 FLOWCHART, PEMODELAN DAN SIMULASI

3.1. Flowchart
Alur proses analisa medan listrik dan distribusi tegangan yang digunakan pada bahasan ini adalah sebagai
berikut:

Penentuan peralatan yang akan dijadikan model untuk analisa

Pengumpulan data dan spesifikasi material yang digunakan


pada model

Pemodelan peralatan pada FEMM atau menggunakan CAD

Pengisian data properti yang digunakan pada FEMM 4.2

Pengaturan problem yang digunakan pada FEMM 4.2

Run simulasi di FEMM 4.2 yang terdiri atas Pembentukan


Mesh, Analisa dan menampilkan Hasil

Analisa hasil simulasi medan listrik dan distribusi tegangan

Pembuatan kesimpulan hasil simulasi dan analisa

Gambar 3.1. Alur proses analisa medan listrik dan distribusi tegangan

3.2. Pemodelan

Gambar 3.2. Model kabel dengan konfigurasi flat

6|Page
Model kabel yang digunakan untuk simulasi menggunakan FEMM 4.2 terdiri atas 4 kondisi, yakni
kabel tegangan tinggi ditanahkan langsung dengan konfigurasi flat kondisi normal dan kondisi
pentanahan salah satu fasa tidak sempurna , serta kabel tegangan tinggi ditanahkan langsung dengan
konfigurasi 3-foil kondisi normal dan kondisi pentanahan salah satu fasa tidak sempurna. Gambar model
yang telah diimport dari CAD ke FEMM 4.2 ditunjukkan oada gambar 3.2

Gambar 3.3. Model kabel dengan konfigurasi 3-foil

7|Page
Dengan data properti/parameter model yang digunakan sebagai berikut:

Gambar 3.4. Penambahan data properti/parameter model di FEMM 4.2


Tegangan efektif yang diterapkan sebesar 150 kV. Di mana tegangan pada masing-masing fasa berbeda
120°, dengan sudut fasa R sebesar 45°.

3.3. Simulasi
Berikut tahapan pelaksanaan simulasi yang dilakukan di FEMM 4.2.
a. Pembentukan mesh

Gambar 3.5. Hasil pembentukan mesh untuk kabel konfigurasi flat

8|Page
Gambar 3.6. Hasil pembentukan mesh untuk kabel konfigurasi 3-foil
b. Menampilkan hasil simulasi

Gambar 3.7. Tampilan hasil simulasi

9|Page
BAB 4 HASIL SIMULASI DAN ANALISA

4.1. Konfigurasi flat dalam kondisi normal

Gambar 4.1.a Distribusi Tegangan pada Kondisi Normal

Gambar 4.1.b Kuat Medan Listrik pada Kondisi Normal

10 | P a g e
Gambar 4.1.c Grafik potensial Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada Kondisi Normal

Gambar 4.1.d Grafik kuat medan Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada Kondisi Normal

11 | P a g e
4.2. Konfigurasi flat dengan pentanahan tidak sempurna pada salah satu fasa

Gambar 4.2.a Distribusi Tegangan pada Kondisi pentanahan tidak sempurna

Gambar 4.2.b Kuat Medan Listrik pada Kondisi pentanahan tidak sempurna

12 | P a g e
Gambar 4.2.c Grafik potensial Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada pentanahan tidak sempurna

Gambar 4.2.d Grafik kuat medan Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada pentanahan tidak
sempurna

13 | P a g e
4.3. Konfigurasi 3-foil pada kondisi normal

Gambar 4.3.a Distribusi Tegangan pada Kondisi Normal

Gambar 4.3.b Kuat Medan Listrik pada Kondisi Normal

14 | P a g e
Gambar 4.3.c Grafik potensial Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada Kondisi Normal

Gambar 4.3.d Grafik kuat medan Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada Kondisi Normal

15 | P a g e
4.4. Konfigurasi 3-foil dengan pentanahan tidak sempurna pada salah satu fasa

Gambar 4.4.a Distribusi Tegangan pada Kondisi pentanahan tidak sempurna

Gambar 4.4.b Kuat Medan Listrik pada Kondisi pentanahan tidak sempurna

16 | P a g e
Gambar 4.4.c Grafik potensial Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada pentanahan tidak sempurna

Gambar 4.4.d Grafik kuat medan Listrik terhadap jarak dari permukaan konduktor pada pentanahan tidak
sempurna

17 | P a g e
4.5. Analisa
4.5.1 Analisa Distribusi Tegangan

Berdasarkan hasil simulasi dapat dilihat bahwa distribusi tegangan pada kabel kondisi normal,
baik dengan konfigurasi flat maupun 3-foil, terjadi perbedaan warna (contour) dengan degradasi
tegangan dari bagian konduktor ke ground yang terletak pada bagian lead sheath yang diakibatkan oleh
sifat dielektrik bahan dan jarak dari konduktor (Gambar 4.1.a, Gambar 4.1.c, Gambar 4.3.a dan Gambar
4.3.c). Akan tetapi pada saat salah satu fasa tidak tertanahkan dengan baik, maka akan terjadi perubahan
distribusi tegangan pada fasa yang mengalami gangguan, karena selubung pengaman tidak lagi
terhubung dengan tanah.
Dari hasil simulasi juga dapat dilihat bahwa perbedaan konfigurasi saat penanaman kabel tanah
(flat ataupun 3-foil) tidak terlalu berpengaruh terhadap distribusi tegangan, dikarenakan setiap kabel
dari masing-masing fasa sudah memiliki selubung pengaman yang terhubung ke pentanahan system.

4.5.2 Analisa Medan Listrik

Pada kondisi normal dapat dilihat distribusi medan listrik memiliki degradasi serupa dengan
tegangan namun berbeda warna, di mana degradasi ini dipengaruhi oleh konstanta dielektrik material
pada tiap lapisan.
Pada kondisi pentanahan tidak sempurna pada salah satu fasa, perubahan medan listrik pun
terjadi mengikuti perubahan gradient tegangan. Perubahan ini diakibatkan karena tanah memiliki
konstanta dielektrik tertentu (dalam hal ini diambil kondisi tanah dengan soil water content (SWC) 0.1)
Ɛr=5.343 mengakibatkan perubahan distribusi tegangan. Hal ini tentunya berakibat pada perubahan
gradient tegangan yang cukup besar terhadap jarak dari konduktor, yang berarti perubahan besar terjadi
pada medan listrik di sekitar kabel yang mengalami gangguan.
Pada hasil simulasi dapat dilihat titik ektrim terdapat pada lokasi pertemuan antara dua material
yang konstanta dielektriknya jauh berbeda. Hal ini diakibatkan berlakunya syarat batas di mana Dn1=Dn2,
yang berarti dengan kerapatan fluks yang sama pada kedua sisi batas antar material, kuat medan listrik
akan berbeda di mana besarnya berbanding terbalik dengan konstanta dielektrik (Ɛr).

18 | P a g e
BAB 5 KESIMPULAN
Dari hasil simulasi dapat disimpulkan bahwa :
1. Konstanta dielektrik (Ɛr) bahan dan jarak dari konduktor bertegangan mempengaruhi distribusi tegangan
pada kabel.
2. Kuat medan listrik sebanding dengan perubahan gradient tegangan dan berbanding terbalik dengan
konstanta dielektrik (Ɛr) material yang menjadi mediumnya.
3. Titik atau area ekstrim terjadi pada daerah perbatasan antar material dengan perbedaan konstanta
dielektrik (Ɛr) yang besar.

19 | P a g e
Referensi
[1] Pei-bai Zhou, Numerical Analysis of Electromagnetic Fields. Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 1993.

[2] David Meeker, Finite Element Method Magnetics Version 4.2 User’s Manual, dmeeker@ieee.org, 2015.

[3] P. P. Silvester, Finite elements for electrical engineers, Cambridge University Press, 1990.

[4] P. E. Allaire, Basics of the finite element method, 1985.

20 | P a g e