Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN

KEGIATAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

PELATIHAN BAHASA INGGRIS BEREKUIVALENSI TOEFL BAGI GURU SD

Oleh:

Yunita Mutiara Harahap, M.Hum

PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


FKIP UNIVA MEDAN
2017
HALAMAN PENGESAHAN PENGABDIAN DOSEN
UNIVERSITAS AL WASHLIYAH MEDAN

Judul Pengabdian : Pelatihan Bahasa Inggris Berekuivalensi TOEFL


bagi Guru SD

Kode/Nama Rumpun Ilmu : Pendidikan Bahasa Inggris

Ketua Pengabdian
a. Nama Lengkap : YUNITA MUTIARA HARAHAP, M.Hum
b. Perguruan Tinggi : Universitas Alwashliyah
c. NIDN : 0116068403
d. Jabatan Fungsional : Tenaga Pengajar
e. Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris
f. Nomor HP : 08117345665
g. Alamat Surel (e-mail) : yuyunmutiaraharahap@gmail.com
Anggota Pengabdian (1)
a. Nama Lengkap : -
b. NPM : -
c. Perguruan Tinggi : -
Anggota Pengabdian (2)
a. Nama Lengkap : -
b. NPM : -
c. Perguruan Tinggi : -
Biaya Pengabdian : dana internal PT Rp. 500.000,-

Medan, 28 Februari 2017

Mengetahui,
Dekan FKIP Ketua Pengabdian

Dr. H. Zulkifli Amin, M.Si Yunita Mutiara Harahap, M.Hum


NIDN. 0128046702 NIDN. 0116068403

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
UNIVA Medan

NIDN. 0128046001
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk melaksanakan pengabdian pda masyarakat sebagai salah
satu pelaksanaan dari Tridharma Perguruan Tinggi. Kegiatan pengabdian masyarakat
yang dilaksanakan berjudul Pelatihan Bahasa Inggris Berekuivalensi TOEFL Bagi Guru
SD .
Kegiatan PKM tersebut dapat terlaksana berkat dukungan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini perkenankanlah kami menyampaikan
terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Al-Washliyah Medan
2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIVA MedanPimpinan
3 . Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) UNIVA Medan
4. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNIVA Medan
5. Berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah membantu
terlaksananya kegiatan ini.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini masih belum mencapai target ideal
karena keterbatasan waktu dan dana yang tersedia. Untuk mencapai tujuan yang
diinginkan, menurut kami perlu kiranya dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat di
lain waktu sebagai kelanjutan kegiatan tersebut. Namun demikian, besar harapan
kami semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat. Amien.

Medan, 2017
Ketua Pengabdian,

Yunita Mutiara Harahap, M.Hum


PELATIHAN BAHASA INGGRIS BEREKUIVALENSI TOEFL BAGI GURU SD
Oleh: Yunita Mutiara Harahap

ABSTRAK
Pelatihan ini bertujuan untuk membantu pihak SD Swasta Al-Hira Medan dalam
upayanya untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa Inggris bagi guru .
Disamping itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para guru –
guru SD Swasta Al-Hira Medan untuk mengikuti pelatihan bahasa Inggris terpadu yang
dirancang dan diorientasikan pada penguasaan bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL.
Kegiatan ini berlangsung selam satu minggu. lama waktu yang dibutuhkan ini terkait
dengan alokasi waktu yang disediakan oleh pihak sekolah mengingat kegiatan pelatihan ini
diharapkan tidak mengganggu kegiatan PBM di sekolah tersebut. Peserta ujian berjumlah
15 (lima belas orang) yang terdiri dari guru mata pelajaran.Secara keseluruhan kegiatan
berlangsung dengan lancar berkat kerja sama yang baik dengan pihak sekolah . Pihak
sekolah berperan aktif dalam memberikan dukungan dalam beragam bentuk. Demikian
pula para peserta yang dengan antusias mengikuti proses pelatihan dari awal hingga akhir.
Keberhasilan program ini juga terlihat dari tercapainya indikator keberhasilan yang telah
ditetapkan.
Kata Kunci:
1. Pelatihan 2. Bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL
BAB I
PENDAHULUAN

A. ANALISIS SITUASI
Persaingan global dalam berbagai bidang menuntut penguasaan kompetensi skill
dan akademik yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam dunia pendidikan
nasional Indonesia berbagai bentuk upaya telah dilakukan sebagai persiapan untuk
menghadapi persaingan global ini, terutama untuk menghasilkan lulusan yang mampu
bersaing, baik untuk melanjuktkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun dalam
dunia kerja. Selain upaya-upaya yang dilakukan pemerintah melalui Departemen
Pendidikan Nasional, berbagai upaya juga dilakukan secara mandiri oleh berbagai sekolah,
baik dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, antara lain dengan mencanangkan mutu
pendidikan dan pengelolaan bertaraf internasional. Komitmen ini sebenarnya memiliki
implikasi dan konsekuensi yang tidak kecil bagi sekolah/lembaga pendidikan yang yang
bersangkutan. Banyak hal yang harus dilakukan, mulai dari pembenahan fasilitas,
perbaikan kurikulum, pengembangan materi ajar, perbaikan sistem pengelolaan
administrasi maupun akademik, dan yang paling mendasar, peningkatan kemampuan
sumber daya manusia yang akan menjalankan dan mendukung komitmen tersebut.
Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan,
penguasaan bahasa asing, tertama bahasa Inggris, merupakan suatu hal yang sangat
penting. Hal ini didasari atas berbagai pertimbangan. Dengan memberlakukan standar mutu
internasional, sebuah sekolah telah berkomitmen untuk memasuki sebuah ranah
pengelolaan yang tidak lagi berpatokan pada standar dan tuntutan mutu lokal sehingga
memerlukan sumber daya manusia yang mampu memahami seluk beluk informasi yang
yang dibutuhkan dalam ranah sehingga dapat mendukung kinerja mereka dalam
mewujudkan komitmen lembaga. Penyampaian materi secara dwi-bahasa merupakan
tuntutan wajib bagi sekolah-sekolah bertaraf internasional. Hal ini tentu saja mustahil
dilaksanakan jika para guru/pengajar tidak memiliki kompetensi berbahasa Inggris. Oleh
karena itu, upaya untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris bagi guru dan karyawan
merupakan bukti keseriusan sebuah sekolah untuk mewujudkan komitmen menuju sekolah
bertaraf internasional.
Seperti halnya sekolah-sekolah Dasar lain lain di kota Medan dan kota-kota besar di
Indonesia, SD Swasta Al-Hira Medan juga berbenah diri secara terus-menerus dalam
rangka meningkatkan mutu pengajaran dan pengelolaan sebagai upaya untuk menuju
sekolah bertaraf internasional. Sudah menjadi komitmen sekolah tersebut untuk membekali
siswanya kemampuan berbahasa Inggris sehingga mereka diharapkan memiliki daya saing
yang tinggi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Untuk mndukung dan
mencapai tujuan di atas, SD Swasta Al-Hira berupaya untuk juga meningkatkan
kemampuan penguasaan bahasa Inggris, terutama bagi guru-guru nonbahasa Inggris.
Pelatihan Bahasa Inggris berekualensi TOEFL merupakan salah satu upaya yang
dapt dilakukan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa Inggris bagi guru.
Materi pelatihan yang diberikan mencakup skil-skil dasar yang sangat berguna untuk
menunjang kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tertulis. Materi tersebut adalah
Structure, Reading, dan Listening. Structure merupakan dasar bagi penguasaan skil dasar
yang lain karena dengan penguasaan struktur bahasa yang baik, kemampuan dalam bidang
bahasa yang lain secara signifikan dapat ditingkatkan. Materi-materi structure yang
diberikan antara lain Tenses, Verb Pattern, Nouns dan Noun Phrase, Adjective dan Adverb,
Passive,Conjuction dan Preposition. Reading diberikan dengan tujuan agar peserta dapat
memiliki kemampuan untuk memahami teks-teks bahasa Inggris yang beragam, baik dari
segi tema maupun tingkat kesulitan teks.materi-materi yang terkait dengan reading antara
lain Vocabulary, Main Ideas, Reference, dan Message. Dengan cakupan materi seperti itu
peserta diharapkan dapat memiliki kemampuan memahami teks dari segi isi maupun kosa
kata yang digunakan. Kemampuan Listening merupakan hal yang sangat penting dalam
pembelajaran bahasa Inggris sehingga peserta diharapkan dapat memiliki kemampuan
memahami teks-teks yang bersifat audio (suara) yang merupakan bagian komunikasi
sehari-hari yang sangat dominan.
Ketiga skil dasar tersebut merupakan elemen dasar dalam pembelajaran bahasa
Inggris, baik untuk tujuan akademik maupun untuk tujuan praktis. Berkaitan dengan
komitmen SD Swasta Al-Hira Medan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris
guru, bantuan penananganan yang terencana dan terprogram kiranyan sangat dibutuhkan.
Untuk itulah program ini dirancang sebagai upaya untuk memberikan sumbangan yang
bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi dunia pendidikan. Pelatihan Bahasa Inggris
berekuivalensi TOEFL ini diharapkan dapat membantu para guru dan karyawan untuk
memotivasi diri dan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dalam bahasa Inggris
sehinga mereka dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi sekolah, dan terlebih lagi
bagi pengembangan karir mereka sendiri.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL merupakan salah satu aspek dalam pelatihan
bahasa Inggris yang menekankan pada peningkatan penguasaan skil dasar seperti
Structure, Reading, dan Listening. Masing-masing bidang memiliki metode pembelajaran
dan oprientasi yang berbeda. Structure menekankan pada pemahaman hal-hal yang
berhubungan dengan tata bahasa seperti jenis-jenis kata, tipe-tipe kalimat, frasa, hubungan
antar elemen kalimat, tenses dan sebagainya. Pengetahuan tentang struktur bahasa sangat
dibutuhkan tidak hanya bagi pembelajar bahasa Inggris untuk tujuan akademik, namun
juga bagi mereka yang mempelajari bahasa Inggris untuk tujuan yang lebih praktis. Hal ini
antara lain karena struktur/gramar bersifat spesifik dan sering berbeda antara satu bahasa
dengan bahasa lain. Bahasa Inggris memiliki struktur/grammar yang sangat berbeda
dengan bahasa Indonesia. Perbedaan tata bahasa ini juga tentu saja berpengaruh pada
bentuk-bentuk ujaran, baik lisan maupun tertulis. Oleh karena itu, pengetahuan struktur ini
akan berpengaruh pada kemampuan lain seperti listening, reading, dan speaking.
Dalam reading (terutama eading comphrehensian) orientasi utamanya adalah
pemahaman teks (bacaan). Hal yang paling mendasar dalam memahami sebuah teks
berbahasa asing adalah penguasaan kosa kata. Dengan penguasaan kosa kata yang kaya,
seorang pembaca akan lebih mudah memahami isi atau pesan yang terkandung dalam
sebuah teks. Dalam reading kosa kata dapat dibedakan menjadi dua, kosa kata umum dan
kosa kata khusus atau teknis. Kosa kata umum adalah kata-kata yang secara umum
digunakan dalam berbagai tingkat komunikas dan tidak secara khusus terkait dengan topik
tertentu. Sedangkan kosa kata khusus atau teknis adalah kata-kata atau istilah-istilah yang
secara eksklusif terkait dengan topik-topik atau bidang tertentu. Hal lain yang sangat dalam
reading adalah pemahaman tentang topik bacaan dan pesan yang ingin disampaikan oleh
penulis. Kedua hal ini membutuhkan telaah bacaan yang lebih mendalam dan latihan yang
cukup memadai dan beragam karena tiap-tipa teks biasanya memiliki topik dan pesan yang
berbeda dan spesifik.
Kemampuan Listening lebih bersifat praktis sehingga praktek metrupakan metode
yang paling tepat untuk menguasai kedua skill ini. Listening bertujuan untuk memahami
ujaran lisan, baik dalam komunikasi langsung maupun termediasi (sarana audio). Listening
memiliki kesulitan tersendiri, terutama menyangkut perbedaan pola pelafalan
(pronounciation) antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Sebuah kalimat yang
dituliskan sangat mungkin terdengar berbeda ketika diucapkan, apalagi jika diucapkan oleh
native speaker. Banyak kata dalam bahasa Inggris yang memiliki pelafalan yang sama atau
hampir sama walaupun ejaannya berbeda, atau kata yang ejaannya sama atau hampir sama
namun dilafalkan berbeda. Kesulitan yang lain dalam listening adalah menyangkut idiom
dan ungkapan. Sebuah idiom biasanya memiliki bentuk khusus yang sering kali sangat
berbeda dengan kata pembentuknya.

1. Peran Bahan Ajar bagi Guru


Dengan adanya bahan ajar dalam berbagai jenis dan bentuknya, waktu
mengajar guru dapat dipersingkat. Artinya, guru dapat menugaskan siswa untuk
mempelajari terlebih dahulu materi yang akan diajarkan serta meminta mereka untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di bagian terakhir setiap pokok bahasan.
Sehingga, setibanya di kelas, guru tidak perlu lagi menjelaskan semua materi pelajaran
yang akan dibahas, tetapi hanya membahas materi- materi yang belum diketahui siswa
saja. Dengan demikian, waktu untuk mengajar bisa lebih dihemat dan waktu yang
tersisa dapat dimanfaatkan untuk diskusi, tanya jawab atau kegiatan pembelajaran
lainnya.
Mengubah peran guru dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator. Dengan
adanya bahan ajar, proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif karena guru tidak
hanya berfungsi sebagai pengajar tetapi lebih berfungsi sebagai fasilitator yang mampu
membimbing siswanya dalam memahami suatu materi pembelajaran. Misalnya, dengan
waktu yang dimilikinya guru tidak hanya mengajar, tetapi dapat pula melakukan kegiatan-
kegiatan lain, misalnya melaksanakan tanya jawab dengan siswa atau antarsiswa
tentang hal-hal pokok yang masih belum dikuasai siswa, meminta siswa-siswanya untuk
melakukan diskusi kelompok dalam memecahkan masalah-masalah yang berkaitan
dengan topik yang dibahas, meminta siswa untuk melaporkan hasil pengamatannya
terhadap sesuatu yang sedang dibahas, dan lain-lain. Dengan cara demikian, akan terjadi
interaksi yang aktif antara guru dan siswa, dan guru dalam hal ini lebih berfungsi
sebagai fasilitator di dalam mengelola semua kegiatan tersebut.
Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif. Dengan
adanya bahan ajar, guru akan mempunyai waktu yang lebih leluasa untuk mengelola
proses pembelajarannya sehingga dapat berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Di
samping itu, metode pembelajaran yang dipilih tidak hanya metode ceramah satu arah,
di mana guru dianggap sebagai satu- satunya sumber informasi, tetapi lebih bersifat
interaktif dengan berbagai metode yang dapat dipilih oleh guru, seperti metode
diskusi, simulasi, dan role playing. Dengan cara demikian, materi pelajaran dapat
diselesaikan tepat pada waktunya karena guru tidak lagi harus menghabiskan waktunya
untuk berceramah, tetapi ia hanya perlu membahas hal-hal tertentu yang belum
dikuasai siswa.

2. Peran Bahan Ajar bagi Siswa


Siswa dapat belajar tanpa harus ada guru atau teman siswa yang lain. Artinya,
dengan adanya bahan ajar yang dirancang dan ditulis dengan urutan yang baik dan logis
serta sejalan dengan jadwal pelajaran yang ada dalam satu semester, misalnya maka
siswa dapat mempelajari bahan ajar tersebut secara mandiri di mana pun ia suka.
Dengan demikian, siswa lebih siap mengikuti pelajaran karena telah mengetahui
terlebih dahulu materi yang akan dibahas. Di samping itu, dengan mempelajari bahan
ajar terlebih dahulu paling tidak siswa telah mengetahui konsep-konsep inti dari
materi yang dibahas dalam pertemuan tersebut dan ia dapat mengidentifikasi
materi- materi yang masih belum jelas, untuk nanti ditanyakan kepada guru di kelas.
Selain itu, dengan bahan ajar yang telah dipelajari, siswa akan mampu mengantisipasi
tugas apa yang akan diberikan gurunya, setelah pelajaran selesai. Dengan demikian,
siswa lebih siap lagi untuk mengerjakan tugas- tugas tersebut.
Siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki. Artinya, dengan
adanya siswa diberi kesempatan untuk menentukan sendiri kapan dan di mana ia mau
belajar, tidak hanya belajar di dalam kelas saja. Coba Anda bayangkan jika siswa tidak
diberi bahan ajar, apa yang dapat mereka baca dan pelajari di rumah atau di tempat
lainnya? Tanpa bahan ajar yang dibagikan kepada siswa, siswa akan sangat
tergantung pada Anda dalam hal menimba ilmu pengetahuan dan keterampilan. Waktu
luang siswa di luar kegiatan sekolah akan jadi sia-sia jika tidak diisi oleh kegiatan-
kegiatan yang positif. Dalam hal ini, bahan ajar merupakan alternatif untuk
dijadikan sebagai bahan bacaan, bahan belajar maupun bahan diskusi di luar kegiatan
formal sekolah.
Siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri. Artinya, siswa dapat
menentukan cara dan kecepatannya sendiri dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui
kecepatan seseorang dalam mempelajari sesuatu sangat beragam, ada siswa yang
belajarnya cepat ada yang sedang dan ada juga siswa yang belajarnya lambat, bahkan
sangat lambat. Melalui bahan ajar keberagaman kecepatan belajar siswa dapat
diakomodasi, dan diatasi.
Siswa dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri. Pada umumnya bahan ajar
berisi keseluruhan materi pelajaran yang akan diajarkan dalam satu semester dan guru
pada umumnya telah menyusun bahan ajar tersebut sedemikian rupa sehingga
memungkinkan siswa untuk belajar secara berurutan dan bertahap. Apabila bahan ajar
tersebut dimiliki siswa maka siswa dapat menentukan sendiri pola belajarnya, apakah
belajar sesuai dengan urutan yang ada ataukah memilih materi pelajaran sesuai
dengan minatnya. Misalkan, siswa telah mengetahui materi pelajaran di Bab I maka ia
dapat meloncat ke materi pelajaran di Bab II tanpa harus menunggu guru menjelaskan
Bab I terlebih dahulu. Demikian pun sebaliknya jika guru telah menjelaskan materi di Bab
II, misalnya, sementara siswa masih belum paham sepenuhnya materi di bab sebelumnya
maka ia dapat mengulang kembali pelajaran tersebut karena ada dalam bahan ajar.
Membantu potensi siswa untuk menjadi pelajar mandiri. Artinya, dengan bahan ajar
yang dapat dipelajarinya sendiri, kapan dan di mana pun siswa berada maka sedikit demi
sedikit siswa akan terbiasa untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam belajar. Hal ini
memotivasi dirinya untuk sadar akan kewajibannya sebagai siswa, yaitu pandai mengelola
waktu sehingga semua materi pelajaran dapat dikuasai sepenuhnya dalam waktu yang telah
ditentukan. Tentunya Anda menyadari, tanpa dibantu kegiatan belajar mandiri di
rumah, seperti mengerjakan pekerjaan rumah, merangkum materi yang akan dipelajari
dalam suatu pertemuan, membaca materi yang akan dipelajari terlebih dahulu dan
membuat beberapa pertanyaan yang sesuai akan sulit bagi guru untuk menyelesaikan
materi pelajaran sesuai dengan jadwal. Terlebih lagi bila guru berhalangan hadir sehingga
tidak dapat memenuhi tugas mengajar sesuai jadwal, apa yang terjadi? Oleh sebab itu,
keberadaan bahan ajar untuk Anda maupun untuk siswa akan sangat bermanfaat dalam
meningkatkan efektivitas pembelajaran.

C. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH

1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan analisis situasi di atas dapat diidentifikasi permasalahan sebagai
berikut:
1. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di SD Swasta Al-Hira Medan, dalam
hal ini guru dan karyawan, terutama dalam hal kemampuan penguasaan bahasa Inggris
belum dilaksanakan secara terencana dan terpadu.
2. Upaya peningkatan kemampuan penguasaan bahasa Inggris bagi guru belum
diorientasikan dan difokuskan pada skil tertentu.
3. Di SD Swasta Al-Hira belum pernah dilaksanakan pelatihan Bahasa Inggris
berekuivalensi TOEFL sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan
penguasaan bahasa Inggris bagi guru.
2. Rumusan Masalah
Dari identifikasi masalah tersebut, dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelatihan pelatihan Bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL dapat memotivasi
guru SD Swasta Al-Hira Medan untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris mereka.?
2. Bagaimana pelatihan Bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL dapat meningkatkan
kemampuan pemahaman bahasa Inggris guru SD Swasta Al-Hira Medan?
D. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan PPM ini adalah sebagai berikut:
1. Menerapkan pelatihan Bahasa Inggris berekuivalensi TOEFL terpadu yang efektif untuk
meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa Inggris guru SD Swasta Al-hira Medan.
2. Memberikan pengalaman pembelajaran Bahasa Inggris kepada guru SD Swasta Al-Hira
Medan

E. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah:
1. Peningkatan kemampuan penguasaan bahasa Inggris guru dan karyawan SD Swasta Al-
Hira Medan.
2. Memotivasi guru untuk belajar Bahasa Inggris sehingga dapat meningkatkan
kemampuan mereka dalam bidang Bahasa Inggris.
3. Hasil pelatihan ini juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambil
kebijakan yang terkait dengan peningkatan kualitas guru di sekolah masing-masing.
BAB II
METODE KEGIATAN
A. SASARAN
Sasaran kegiatan pengabdian ini adalah guru – guru SD Swasta Al Hira
Medan. dengan jumlah 15 orang. Adapun yang menjadi instruktur dan narasumber
dalam kegiatan ini adalah dosen prodi pendidikan bahasa inggris FKIP UNIVA
Medan.

B. METODE KEGIATAN
Untuk memecahkan masalah yang sudah diidentifikasi dan dirumuskan
tersebut di atas ,agar pendampingan dapat berjalan dengan lancar maka sebagai
alternatif pemecahan masalah adalah sebagai berikut: pendampingan dilakukan dengan
pendekatan individual dan klasikal. Pendekatan klasikal dilakukan pada saat
pemberian teori tentang pengembangan media pembelajaran yang benar dan
pendekatan individual dilakukan pada saat latihan bahasa inggris dengan
berekuivalensi toefl. Adapun metode yang digunakan adalah:
1. Ceramah bervariasi.
Metode ini dipilih untuk menyampaikan konsep-konsep yang penting untuk
dimengerti dan dikuasai oleh peserta pelatihan. Penggunaan metode ini dengan
pertimbangan bahwa metode ceramah yang dikombinasikan dengan gambar-
gambar, animasi dan display dapat memberikan materi yang relatif banyak secara
padat, cepat dan mudah.
2. Demonstrasi
Metode ini dipilih untuk menunjukkan suatu proses kerja yaitu tahap-tahap
pelatihan bahasa inggris berekuivalensi Toefl.
3. Latihan
Metode ini digunakan untuk memberikan tugas kepada peserta pendampingan
untuk mempraktikkan bahasa inggris dengan mengerjakan soal – soal Toefl.
C. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan adalah pendampingan
secara intensif dengan tahapan sebagai berikut:
1. Ceramah tentang pelati ha n baha sa inggri s bere kui val ensi Toe fl
2. Ceramah tentang langkah – langkah pelathan bahasa inggris berekuivalensi Toefl
3. Demonstrasi tentang langkah – langkah pelathan bahasa inggris berekuivalensi
Toefl
5. Latihan menjawab soal – soal bahasa inggris berekuivalensi Toefl
6. Evaluasi hasil pelathan bahasa inggris berekuivalensi Toefl.

D. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT


Berdasarkan evaluasi pelaksanaan dan hasil kegiatan dapat diidentifikasi faktor
pendukung dan penghambat dalam melaksanakan program pengabdian pada
masyarakat ini. Secara garis besar faktor pendukung dan penghambat tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Faktor Pendukung
a. Tersedia tenaga ahli yang memadai dalam pelatihan bahasa inggris
berekuivalensi Toefl.
b. Antusiasme para guru yang cukup tinggi terhadap kegiatan pengabdian ini
c. Dukungan kepala sekolah SD Swasta Al Hira Medan yang menyambut baik
pelaksanaan kegiatan pelatihan bahasa inggris berekuivalensi Toefl dan
membantu tim pengabdi mengorganisasikan waktu dan tempat pelaksanaan
kegiatan.
d. Ketersediaan dana pendukung dari fakultas guna penyelenggaraan kegiatan
pengabdian pada masyarakat ini.

2. Faktor Penghambat
a. Guru peserta pelatihan masih banyak yang belum memiliki pengetahuan awal
tentang bahasa inggris berekuivalensi Toefl
b. Daya tangkap para peserta yang bervariasi, ada yang cepat namun juga ada
yang lambat sehingga waktu yang digunakan kurang maksimal
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN PKM

A. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN


Hasil kegiatan pengabdian pada masyarakat ini mendapatkan sambutan positif dari
pihak sekolah, terutama karena program ini sesuai dengan kebutuhan mereka. Bentuk
sambutan positif tersebut antara lain terlihat dari partisipasi aktif, baik dari pihak sekolah
maupun dari peserta pelatihan. Motivasi peserta pelatihan untuk mengikuti proses pelatihan
cukup antusias. Hal ini menandakan adanya keinginan untuk meningkatkan kemampuan
mereka dalam penguasaan Bahasa Inggris dan pemahaman akan pentingnya Bahasa
Inggris, terutama dalam bidang pendidikan dewasa ini. Antusiasme ini juga tercermin dari
peningkatan skor yang didapat oleh peserta pelatihan setelah mengikuti pelatihan selama
satu minggu.

B. PEMBAHASAN HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN


Hasil kegiatan pengabdian secara garis besar mencakup beberapa
komponen sebagai berikut:
1. Keberhasilan target jumlah peserta pelatihan
2. Ketercapaian tujuan pelatihan
3. Ketercapaian target materi yang telah direncanakan
4. Kemampuan peserta dalam penguasaan materi
Target peserta pelatihan seperti direncanakan sebelumnya adalah paling tidak 15 guru
di SD Swasta Al Hira Medan, kegiatan ini diikuti oleh 15 orang peserta. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa target peserta tercapai 100%. Angka tersebut
menunjukkan bahwa kegiatan PKM dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti
dapat dikatakan berhasil/ sukses.
Ketercapaian tujuan pelatihan bahasa inggris berekuivalensi Toefl secara umum
sudah baik, dilihat dari hasil latihan para peserta yaitu kualitas n i l a i s k o r
b a h a s a i n g g r i s b e r e k u i v a l e n s i T o e f l y a n g telah dihasilkan, maka dapat
disimpulkan bahwa tujuan kegiatan ini dapat tercapai.
Ketercapaian target materi pada kegiatan pengabdian ini cukup baik, karena
materi pelatihan telah dapat disampaikan secara keseluruhan. Materi pendampingan
yang telah disampaikan adalah:
1. Strategi dan tips lulus tes toefl dengan skor tinggi
2.soal – soal toefl
3.cara menghitung score toefl

Secara keseluruhan kegiatan pelatihan bahasa inggris berekuivalensi Toefl ini


dapat dikatakan berhasil. Keberhasilan ini selain diukur dari komponen-komponen
di atas, juga dapat dilihat dari kepuasan peserta setelah mengikuti kegiatan.
Manfaat yang diperoleh guru adalah dapat meningkatkan kemampuan berbahasa
inggris dan memiliki skor Toefl dengan kualitas yang lebih baik dan diharapkan
kualitas tersebut sudah mengikuti standar untuk dapat ditentukan oleh pemerintah.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di dunia pendidikan,
penguasaan bahasa asing, tertama bahasa Inggris, merupakan suatu hal yang sangat
penting. Hal ini didasari atas berbagai pertimbangan. Dengan memberlakukan standar mutu
internasional, sebuah sekolah telah berkomitmen untuk memasuki sebuah ranah
pengelolaan yang tidak lagi berpatokan pada standar dan tuntutan mutu lokal sehingga
memerlukan sumber daya manusia yang mampu memahami seluk beluk informasi yang
yang dibutuhkan dalam ranah sehingga dapat mendukung kinerja mereka dalam
mewujudkan komitmen lembaga. Penyampaian materi secara dwi-bahasa merupakan
tuntutan wajib bagi sekolah-sekolah bertaraf internasional. Hal ini tentu saja mustahil
dilaksanakan jika para guru/pengajar tidak memiliki kompetensi berbahasa Inggris. Oleh
karena itu, upaya untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris bagi guru merupakan
bukti keseriusan sebuah sekolah untuk mewujudkan komitmen menuju sekolah bertaraf
internasional.
Pelatihan Bahasa Inggris berekualensi TOEFL merupakan salah satu upaya yang
dapt dilakukan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa Inggris bagi guru.
Materi pelatihan yang diberikan mencakup skil-skil dasar yang sangat berguna untuk
menunjang kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tertulis.
B. SARAN
Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan dapat diajukan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Waktu pelaksanaan kegiatan pengabdian perlu ditambah agar tujuan kegiatan
dapat tercapai sepenuhnya, tetapi dengan konsekuensi penambahan biaya
pelaksanaan. Oleh karena itu biaya pengabdian sebaiknya tidak sama antara
beberapa tim pengusul proposal, mengingat khalayak sasaran yang berbeda pula.
2. Adanya kegiatan lanjutan yang berupa pelatihan sejenis selalu diselenggarakan
secara periodik sehinga dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA

Sharpe J. Pamela, 1980. Barron’s Practice Exercise for the Toefl Test Third Edition.
United Stated of America
Sharpe J. Pamela, .2004. Barron’s How to Prepare for the TOEFL Test of English as a Foreign
Languange 11th Edition.United Stated of America
Sharpe J. Pamela, .2004. Barron’s TOEFL Strategies.United Stated of America
SD s,\ ..!\.STA AL-HIRA'
JI. Tuba Il Perjuan�•n , o. 61 Telp. (061) 77845124 - 7344049
Te-;::al Sari '.\Iandala Ill - Medan

Sl"RAT KETERANGAN MELAKSANAKAN PENGABDlAN


Nomor :255/007/SD/APN/ll/2017
b:::t:mda tangan dibawah ioi
: HJ. YUSRA HANUM, SPdJ
S.� Pendidikan : SD Swasta Al-Hira'
: Kepala Sekolah
: n. Tuba II No. 61 Medan Deoai
oahwa nama tersebtn dibawah ioi:
: YUNlTA MUTIARA HARA HAP, M.HUM
: Doseo FKJP UNI VA Medan
: 0116068403
: JL. Swadaya No. 8 Medan

melaksanakao Kegiatan Peogabdian tentaog "Pelatihan Bahasa lnggris


•linaasi-Teofl bagi Guru SD Swasta Al-Hira'" di SD Swasta Al-Hira' pada bari Selasa _
-februari 2017.

surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.