Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

SINDROM BROWN SEQUARD

Disusun Oleh:

Puti Marisya Eive Rulinaty

1765050154

Dokter Pembimbing :

dr. Agus Yudawijaya, Sp.S. Msi. Med

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

PERIODE 25 FEBUARI 2019 – 30 MARET 2019

JAKARTA
BAB I

PENDAHULUAN

Sindrom brown sequard pertama kali ditemukan oleh Charles Edouard Brown-Séquard
pada pasien dengan hemiseksi korda spinalis pada tahun 1849. Brown-Séquard adalah seorang
yang dikenang berkat kontribusinya di bidang neurologi. Ia adalah seorang peneliti dan penulis.
Sindrom brown sequard adalah penemuan pertamanya .

Sindrom brown sequard adalah suatu kondisi neurologis yang ditandai dengan
kehilangan fungsi motorik, proprioseptif dan rasa getar ipsilateral akibat disfungsi traktus
kortikospinal dan kolumna dorsalis, disertai dengan kehilangan sensasi nyeri dan suhu
kontralateral sebagai akibat dari disfungsi traktus spinothalamikus.

Penyebab paling sering dari Sindrom brown sequard adalah cedera akibat trauma korda
spinalis. Sindrom brown sequard dapat juga disebabkan tumor pada korda spinalis, trauma
(misalnya pada pungsi di leher dan tulang belakang), iskemia (pada obstruksi pembuluh darah)
serta infeksi atau inflamasi seperti tuberculosis atau multiple sclerosis . Herniasi discus cervicalis
yang disebabkan Sindrom brown sequard merupakan kasus yang jarang.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Medulla spinalis adalah saraf yang tipis yang merupakan perpanjangan dari sistem
saraf pusat dari otak dan melengkungi serta dilindungi oleh tulang belakang. Fungsi utama
medulla spinalis adalah transmisi pemasukan rangsangan antara perifer dan otak.

Medulla Spinalis merupakan bagian dari Susunan Saraf Pusat. Terbentang dari foramen
magnum sampai dengan L1, di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis
atau conus medullaris. Terbentang dibawah cornu terminalis serabut-serabut bukan saraf yang
disebut filum terminale yang merupakan jaringan ikat. Terdapat 31 pasang saraf spinal; 8
pasang saraf servikal; 12 pasang saraf thorakal; 5 pasang saraf lumbal; 5 pasang saraf sacral
dan 1 pasang saraf coxigeal. Akar saraf lumbal dan sacral terkumpul yang disebut dengan
Cauda Equina. Setiap pasangan saraf keluar melalui intervertebral foramina. Saraf spinal
dilindungi oleh tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan CSF.

Gambar 1. Anatomi medulla spinalis.


Struktur internal terdapat substansi abu-abu dan substansi putih. Substansi abu-abu
membentuk seperti kupu-kupu dikelilingi bagian luarnya oleh substansi putih. Terbagi
menjadi bagian kiri dan kanan oleh anterior median fissure dan median septum yang disebut
dengan posterior median septum. Keluar dari medulla spinalis merupakan akral ventral dan
dorsal dari saraf spinal. Substansi abu-abu mengandung badan sel dan dendrit dan neuron
efferent, akson tak bermyelin, saraf sensoris dan motorik dan akson terminal dari neuron.
Substansi abu-abu membentuk seperti huruf H dan terdiri dari 3 bagian yaitu: anterior,
posterior dan commisura abu-abu. Bagian posterior sebagai input/afferent, anterior sebagai
output/efferent, commisura abu-abu untuk refles silang dan substansi putih merupakan
kumpulan serat saraf bermyelin.

Anatomi servikal bagian atas (oksiput C1-C2) berbeda dengan daerah servikal bawah
(C3-T1). Selain itu, servikal atas lebih mobil dibandingkan dengan servikal bawah. Servikal 1
atau atlas tidak memiliki corpus dan processus spinosus.Servikal 1 hanya berupa cincin tulang
yang terdiri atas arcus anterior yang tebal dan arcus posterior yang tipis, dan massa lateralis
pada masing-masing sisinya. Tiap massa lateralis memiliki permukaan sendi pada aspek atas
dan bawahnya. Tulang ini berartikulasi di atas dengan condylus occipitalis, membentuk
articulatio atlanto-occipitalis, tempat berlangsungnya gerakan mengangguk. Di bawah, tulang
ini berartikulasi dengan C2, membentuk artikulatio atlanto-axialis, tempat berlangsungnya
gerakan memutar kepala.

Servikal 2 atau axis mengandung processus odontoid yang menggambarkan


penggabungan sisa dari badan atlas. Processus odontoid ini melekat erat pada aspek posterior
dari arcus anterior C1 oleh ligamentum transversum, yang mengstabilkan sendi atlantoaxial.
Stabilitas dari spinal ditentukan oleh ligamentum antara struktur tulang. Pada bagian frontal,
penonjolan condilus occiput disokong oleh massa lateralis C2. Pada bagian frontal ini, massa
lateralis terlihat berbentuk baji, runcing di tengah dan pinggirnya lebar. Jika struktur tulang
terganggu dan terutama jika terjadi pergeseran baji ke lateral menyebabkan instabilitas spinal.

Penonjolan condilus occiput distabilisasi oleh kapsul occipitoatlantal dan membrana


atlantooccipital anterior dan posterior. Ligamentum nuchae merupakan struktur yang stabil
yang berhubungan dengan kompleks atlantooccipital axial. Membrana tectorium, ligamentum
alar dan apical menghubungkan occiput ke C2. Ligamentum dentate terdiri dari ligamentum
alar dan apical mengikat permukaan dorsal lateral dari dens dan berjalan oblik ke permukaan
medial dari condilus occipitalis. Ligamentum transversum berjalan dari permukaan medial
dari salah satu sisi C1 menuju ke sisi lain. Ligamentum ini pada dasarnya membatasi C2
untuk berotasi disekitar odontoid dalam cincin tertutup tulang. Jika ligamentum ini ruptur atau
jika ada fraktur yang berhubungan dengan odontoid, C1 dapat bergeser dan menyulitkan
batang otak dan medulla spinalis. 1

2.2 Brown Sequard syndrome

2.2.1 Definisi

Sindrom brown sequard merupakan lesi inkomplit pada spinal cord yang dikarakteristik
dengan gejala cedera hemiseksi dari spinal cord, dan sering terkena pada tulang servikal. Pasien
dengan sindrom brown sequard menunjukkan manifestasi klinis berupa paralisis ipsilateral
motoric atas dan kehilangan propriosepsi, dan juga adanya hilang sensasi nyeri dan suhu secara
kontralateral. Kehilangan fungsi otonom ipsilateral dapat menyebabkan sindrom horner. 3

2.2.2 Epidemiologi

Beberapa penelitian terakhir menjelaskan bahwa dari populasi Amerika Serikat dengan
kisaran 328 juta manusia, insidensi spinal cord injury (SCI) adalah 54 kasus per satu juta orang
di Amerika Serikat atau sebanyak 17.730 kasus baru setiap tahunnya. Hal ini tidak dihitung dari
jumlah kematian akibat SCI di waktu kejadian. Perkirsaan jumlah pasien dengan SCI di Amerika
Serikat saat ini berkisar antara 249.000 sampai dengan 363.000. Usia rata rata dari SCI adalah 43
tahun, dimana pada tahun 1970 usia rata ratanya adalah 29 tahun. Laki laki memiliki prevalensi
lebih tinggi sebanyak 78%.

Penelitian terakhir menjelaskan bahwa 23% kecelakaan terjadi pada ras non Hispanic
white, diikuti dengan ras non Hispanic black dan dapat dilihat pada grafik 1.
Grafik 1. Grafik epidemiologi ras

Beberapa penyebab diantaranya adalah kecelakaan berkendara diikuti dengan trauma


jatuh, trauma akibat tindakan kekerasan seperti luka tembak atau luka tumpul, dan olahraga.
Dapat dilihat pada grafik 2. 2

Grafik 2. Grafik epidemiologi penyebab SCI

2.2.3 Etiologi

Sindrom brown sequard dapat disebabkan oleh mekanisme yang mengakibatkan


kerusakan pada 1 sisi spinal cord. Beberapa penyebab dari sindrom brown sequard telah
dijelaskan pada penelitian dimana yang paling sering adalah karena trauma mekanik terutama
mekanisme penetrasi seperti luka tusuk ataupun luka tembak atau fraktur unilateral dan dislokasi
yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Beberapa penyebab yang tidak umum pernah
dilaporkan terjadi seperti tusukan pen, kateter cairan serebrospinal, dan cedera akibat panah.
Cedera juga dapat disebabkan oleh luka tumpul atau tekanan berlebih yang menakibatkan
kontusion.

Penyebab lain seperti nontrauma juga dapat mengakibatkan penyakit ini diantaranya
adalah tumor primer ataupun metastasis, multiple sclerosis, herniasi diskus, spondylosis servikal,
epidural hematom, diseksi arteri vertebra, radiasi, transverse myelitis, tuberkulosis tulang,
meningitis, empyema, herpes zoster, sifilis, iskemia, dan perdarahan. Terdapat penelitian yang
mengatakan dari 37 pasien dengan herniasi diskus pada tulang servikal, 43.2% diantaranya
berkembang menjadi sindrom brown sequard dimana 10.8% diantaranya terkena sindrom horner.
Penelitian lainnya menjelaskan bahwa trauma akut SCI berkaitan dengan stenosis kanalis
spinalis dan 78.6% diantaranya menunjukkan manifestasi klinis sindrom brown sequard. 3 4
2.2.4 Patofisiologi

Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat menyebabkan kerusakan pada
medulla spinalis, tetapi lesi traumatik pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur
dan dislokasi. Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada
medulla spinalis disebut whiplash/trauma indirek, ini adalah gerakan dorsopleksi dan
anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak. Trauma whiplash
terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal, pada waktu
duduk dikendaraan yang sedang berjalan cepat kemudian berhenti secara mendadak. Atau pada
waktu terjun dari jarak tinggi menyelam dan masuk air yang dapat mengakibatkan paraplegia.
Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan vertical
(terutama pada T.12 ampai L.2), rotasi.

Kerusakan yang dialami medulla spinalis dapat bersifat sementara atau menetap. Akibat
trauma terhadap tulang belakang, medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara
(komosio medulla spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang
ditimbulkan adalah berupa oedema, perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh
darah. Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap, secara makroskopis kelainannya dapat
terlihat dan terjadi lesi, contusio, laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla
spinalis. Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara
langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan /menggeserkan ruas tulang
belakang (fraktur dan dislokasi). lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang
terkena (segmen transversa, hemitransversa, kuadrantransversa). Hematomielia adalah
perdarahan dalam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat di substansia grisea.
Trauma ini bersifat whiplash yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri, jatuh
terduduk, terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio.

Kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi, medulla spinalis dapat terjepit oleh
penyempitan kanalis vertebralis. Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma
ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip
diantara duramater dan kolumna vertebralis. Gejala yang didapat sama dengan sindroma
kompresi medulla spinalis akibat tumor, kista dan abses didalam kanalis vertebralis. Akibat
hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami
jejas/reksis. Pada trauma whislap, radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian, dan gejala
yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, gambaran tersbut disebut
hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible. Jika radiks terputus akibat
trauma tulang belakang, maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler
dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9 yang akan menimbulkan defisit
sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema
anastomosis anterial anterior spinal.

Sindrom brown sequard terjadi karena adanya lesi pada traktus ascenden dan atau
descendens medula spinalis yang mengenai salah satu sisi medulla spinalis. Perdarahan berupa
bintik-bintik peteki di grey matter akan meluas dan menyatu dalam 1 jam setelah trauma terjadi.
Perkembangan selanjutnya berupa nekrosis hemoragik terjadi dalam waktu 24-36 jam setelah
trauma. Peteki pada white matter terjadi pada 3-4 jam setelah trauma. Serat myelin akan
mengalami kerusakan yang ekstensif. 5 6

2.2.5 Diagnosis

Pada anamnesis biasanya dapat ditemukan manifestasi klinis sesuai dengan etiologi
sindrom brown sequard. Onset dari gejala dapat bersifat akut ataupun progresif. Keluhan yang
timbul berkaitan dengan hemiparesis ataupun hemiparalisis dan perubahan sensorik, parestesi,
atau disestesi pada sisi kontralateral. Hemiseksi komplit yang disebabkan oleh sindrom brown
sequard jarang terjadi sedangkan hemiseksi inkomplit ditambah gejala lainnya lebih sering
terjadi. Keluhan yang muncul dapat melibatkan gejala kolumna posterior seperti ada rasa
bergetar.

Pada pemeriksaan fisik diagnosis dan identifikasi dapat dilakukan, Sindrom brown
sequard inkomplit dapat dikarakteristik dengan paresis asimetris dengan hipoalgesia pada sisi
kontralateral. Sindrom brown sequard murni memiliki beberapa ciri khas. Ciri khas yang pertama
yaitu adanya gangguan pada traktus kortikospinalis lateral dan paralisis spastik pada sisi
ipsilateral dibawah lese dan terdapat tanda Babinski pada lesi ipsilateral. Ciri khas yang kedua
yaitu gangguan pada kolumna posterior berupa hilangnya diskriminasi taktil ipsilateral berupa
sensasi getaran. Ciri khas yang ketiga yaitu gangguan pada spinotalamikus lateral berupa
hilangnya sensasi nyeri dan suhu kontralateral, biasanya terjadi 2 sampai 3 segmen dibawah lesi.
Pemeriksaan motorik pada pasien dengan sindrom brown sequard menunjukkan adanya
kelemahan atau paralisis dengan gejala lesi UMN seperti hipertonus, hiperrefleks, klonus, dan
Hoffman sign positif pada 1 sisi tubuh. Kekuatan motorik dari otot dinilai dengan skala 0 – 5.
Selain itu pemeriksaan sensorik juga diperlukan untuk mengetahui penurunan sensasi
kontralateral dengan sentuhan ringan, dingin dan panas. Fungsi sensorik harus diperiksa sesuai
dengan arah dermatom seperti pada gambar 2.

Gambar 2. Area dermatom

Pengujian otot bisep, trisep, supinator (radial-periosteal), patela, Achilles, dan refleks
perut dan kulit plantar adalah contoh aktivitas refleks sumsum tulang belakang. Memunculkan
refleks tendon mensyaratkan bahwa otot-otot yang terlibat haruslah dalam keadaan rileks.
Refleks kurang aktif dapat difasilitasi oleh kontraksi otot-otot lain (Jendrassik manuver). Respon
plantar menimbulkan kesulitan khusus karena beberapa perbedaan respon refleks dapat
ditimbulkan dengan merangsang telapak kaki sepanjang perbatasan luarnya dari tumit ke jari
kaki. Tidak adanya refleks kulit superfisial perut, otot kremaster, dan lainnya adalah tes
tambahan berguna untuk mendeteksi lesi kortikospinalis.

Untuk dapat menentukan klasifikasi penemuan motorik dan sensorik dapat digunakan
klasifikasi ASIA (American Spinal Injury Association) untuk menentukan derajat dari SCI.
Level neurologis didefinisikan sebagai segmen kaudal dengan funsi normal. Lesi komplit
ataupun inkomplit dibuat berdasarkan fungsi sensorik dan motoric pada S5-S5. Dapat dilihat
pada gambar 3 dan gambar 4. 3 4 6

Gambar 3. Grading ASIA


Gambar 4. Interpretasi ASIA Impairment Scale

2.2.6 Pemeriksaan penunjang

Radiologi

Studi radiografik membantu untuk memastikan diagnosis dan menentukan etiologi


Sindrom brown sequard. Foto polos selalu diperlukan dalam trauma akut pada tulang belakang,
tapi informasi lebih lanjut biasanya diperoleh dengan teknik-teknik baru. Radiografi polos tulang
belakang dapat menggambarkan cedera tulang trauma tembus atau tumpul. Fraktur massa lateral
dapat menyebabkan Sindrom brown sequard setelah cedera tumpul.

Pada orang yang tidak mampu memiliki MRI scan dilakukan sebuah myelogram CT
sebagai pemeriksaan lain. Pencitraan ini diharapkan untuk mengungkapkan kerusakan jaringan
saraf terlokalisasi pada satu sisi dari sumsum tulang belakang.

Magnetic resonance imaging (MRI) sangat berguna dalam menentukan struktur yang
tepat yang telah rusak di Sindrom brown sequard serta dalam mengidentifikasi etiologi
nontraumatik dari gangguan. 4 5
2.2.7 Diagnosis banding

Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit berupa inflamasi yang dimediasi sistem imun,
yang menyerangsistem sarafpusat (SSP). Penyakit inimerusakselubungmyelin, serta
materialyang mengelilingi dan melindungisel-sel saraf. MS lebih banyak ditemui pada
perempuan daripada laki-laki, dan kebanyakan mengenai orang pada usia 20 sampai 40 tahun.

Penyebab MS masih belum diketahui sampai sekarang. Ini merupakan suatu penyakit
autoimun, dimana dicurigai MS melibatkan kombinasi dari kerentanan genetik dan faktor pemicu
non genetik, seperti infeksi, yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya autoimun. Biasanya,
penyakit yang timbul cukup ringan, tetapi pada beberapa orang yang menderita MS, akan
kehilangan kemampuan untuk menulis, berbicara atau berjalan. Sampai saat ini, belum ada obat
untuk MS. Tetapi, penggunaan obat-obatan seperti imunomodulator terapi (IMT). Dalam hal ini,
IMT diarahkan dalam hal mengurangi frekuensi kambuh dan memperlambat perkembangan
penyakit.

Selain itu diagnosis banding lainnya adalah poliomyelitis. Poliomielitis akut adalah suatu
penyakit pada bagian anterior neuron motorik sumsum tulang belakang dan batang otak yang
disebabkan oleh virus polio. Tanda khas dari penyakit ini adalah timbulnya kelemahan tipe
flaccid yang asimetris disertai atrofi otot.

Gambar 5. Poliomielitis akut


Seorang carrier infeksi virus polio merupakan salah satu sumber utama penyebaran virus
dari orang ke orang. Cara penularan virus ini adalah melalui feco-oral. Penyebaran virus terbesar
terjadi dalam keluarga dengan sanitasi yang buruk dan keadaan yang ramai atau padat.

Tidak ada pengobatan khusus untuk poliomyelitis akut, kecuali perawatan suportif, untuk
membantu menjamin kelangsungan hidup, serta rehabilitasi baik terapi fisik, terapi okupasi,
terapi bicara, sampai intervensi bedah jika diperlukan.

Diagnosis banding lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah GBS. Guillain Barre
Syndrome adalah suatu kelainan yang bersifat autoimun yang menyebabkan sistem imun
seseorang menyerang sistem saraf perifernya, yang mengakibatkan timbulnya kelemahan otot,
kesemutan, refleks yang berkurang, sampai dengan kelumpuhan. Penyakit ini menyebabkan
kerusakan pada selubung mielin. Kerusakan ini disebut demielinisasi, dan hal ini menyebabkan
sinyal sarafuntuk bergerak lebih lambat. Penyakit ini sering mengikuti infeksi ringan, seperti
infeksi paru-paru atau infeksi gastrointestinal. Kebanyakan, tanda-tanda infeksi sebelumnya telah
menghilang, sebelum gejala dari Guillain Barre Syndrome timbul. Tidak ada obat untuksindrom
Guillain Barre Syndrome. Namun, banyak perawatan yang tersedia untuk membantu mengurangi
gejala, mengobati komplikasi, dan mempercepat pemulihan. Salah satu metode ini disebut
plasma pheresis, yang digunakan untuk menghilangkan antibodi dari darah. Proses ini
melibatkan mengambil darah dari tubuh, biasanya dari lengan, memompa ke dalam mesin yang
menghilangkan antibodi, dan kemudian memasukkannya kembali ke dalam tubuh. Metode kedua
adalah dengan memblokir antibodi menggunakan terapi imunoglobulin dosis tinggi. Dalam hal
ini,imunoglobulin ditambahkan kedarah dalam jumlah besar, untuk memblokir antibodi yang
menyebabkan peradangan. 4 5

2.2.8 Tatalaksana

Penggunaan obat untuk Brown-Séquard Syndrome tergantung pada etiologi dan onset
akut. Pengobatan akut SCI traumatis melibatkan dosis langsung metil prednisolon. Imobilitas
akut yang tidak berhubungan dengan pendarahan memerlukan terapi antikoagulasi, jika tidak
kontraindikasi. Perlindungan gastrointestinal sangat dianjurkan.

Obat lain yang digunakan untuk mengelola gejala dan komplikasi yang diperlukan,
termasuk antibiotik, antispasmodik, obat nyeri, dan obat pencahar.
Beberapa studi telah menunjukkan hasil yang lebih baik untuk pasien dengan SCI
traumatis yang diberi steroid dosis tinggi di awal perjalanan klinis. Obat-obat ini memiliki sifat
anti-inflamasi dan menyebabkan efek metabolik yang mendalam dan bervariasi. Kortiko steroid
memodifikasi respon kekebalan tubuh terhadap rangsangan yang beragam.

Nama Obat Methylprednisolon (Solu-Medrol, Depo-Medrol)

Meningkatkan inflamasi dengan menekan leukosit polimorfonuklear dengan


meningkatkan permeabilitas kapiler

Dosis Dewasa 30 mg/ KgBB IV bolus dalam 15 menit

Dilanjutkan 5,4 mg/KgBB/jam dalam infus 23 jam

(harus dilakukan kurang dari 8 jam post trauma)

Kontraindikasi Riwayat alergi; infeksi virus, bakteri atau tuberculosis kulit

Interaksi Obat Penggunaan dengan digoxin dapat meningkatkan kadar toksisitas digitalis;
peningkatan kadar estrogen; dapat meningkatkan fenobarbital, fenitoin dan
rifampin jika digunakan bersama.

Perhatian Secara perlahan dapat meningkatkan kejadian infeksi dan perdarahan saluran
cerna, komplikasi lain : hiperglikemia, edema, osteonecrosis, ulkus peptikum,
hipokalemia, osteoporosis, euphoria, psikosis, gangguan tumbuh kembang,
miopati dan infeksi.

Selain yang disebutkan diatas, berbagai rehabilitasi juga diperlukan, antara lain terapi
fisik, terapi okupasi, dan terapi rekreasi. Intervensi bedah di SCI traumatis telah menjadi
kontroversi, dengan fokus utama pada stabilitas tulang belakang. Kebutuhan untuk pengurangan
cepat dari setiap deformitas tulang belakang diterima dengan baik. Pengurangan dapat dicapai
baik secara postural maupun bedah. Stabilisasi tulang belakang lebih kontroversial. Stabilitas
dapat berasal dari perbaikan bedah langsung dengan cangkok tulang dan (sering) instrumentasi
atau dari penyembuhan alami. Cedera tulang belakang stabil diperlakukan secara nonoperatif,
sementara cedera tidak stabil diperlakukan pembedahan. Dekompresi bedah dari tulang belakang
diindikasikan untuk incomplete syndrome di mana tampak kompresi sisa. Etiologi nontraumatik
dari Brown-Séquard Syndrome biasanya melibatkan kompresI mekanis atau herniasi dari
sumsum tulang belakang dan memerlukan dekompresi bedah. 7

2.2.9 Prognosis

Prognosis untuk Brown-Séquard Syndrome kurang baik dan tergantung dari


penyebabnya. Penatalaksanaan yang dini dengan steroid dosis tinggi telah menunjukkan
keuntungan. 7
BAB III

KESIMPULAN

Sindrom brown sequard merupakan lesi inkomplit pada sumsum tulang belakang yang
ditandai dengan paralisis upper motor neuron ipsilateral dan kehilangan sensasi proprioseptif
dengan kehilangan sensasi rasa sakit dan suhukontralateral. Penyebab dari sindrom ini biasanya
terjadi akibat trauma pada satu sisi sumsum tulang belakang dan nontrauma. Penatalaksanaan
dari sindrom ini adalah bedah dan pemberian kortikosteroid serta rehabilitasi. Adapun
komplikasi yang ditimbulkan tergantung pada umur, tingkat kerusakan pada sumsum tulang
belakang, dan perawatan setelah operasi dilakukan. Bila penanganan dilakukan dengan baik
maka prognosis pun akan baik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Cramer GD. Darby SA. Clinical Anatomy of the Spine, Spinal Cord, and ANS 3 rd ed.
Mosby ; 2013
2. National Spinal Cord Injury Statistical Center. Facts and Figures at a Glance. University
of Alabama; 2019
3. Fehling MG. Vaccaro AR. Essentials of Spinal Cord Injury. Thieme ; 2013
4. Bican O. Minagar A. Pruitt AA. The Spinal Cord : A Review of Functional
Neuroanatomy. Neurology Clinic ; 2013:1-18
5. Silva NA. Sousa N. Reis RL. Salgado AJ. From basics to clinical : A Comprehensive
review on spinal cord injury. Progress in Neurology ; 2013
6. Ahuja CS. Wilson JR. Nori S. Kotter MRN. Traumatic spinal cord injury. Nature
Reviews Disease Primers; 2017;17018
7. Abouhashem S. Ammar M. Barakat M. Management of Brown-Sequard Syndrome in
Cervical Disc Diseases. Turkish Neurosurgery;2013:23.4:470-475