Anda di halaman 1dari 65

HUBUNGAN BANK ASI TERHADAP PEMBERIAN ASI

EKSKLUSIF PADA IBU BEKERJA DI DESA PUNDENREJO


KECAMATAN TAYU

PROPOSAL SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar sarjana keperawatan


pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

Oleh:
LAILY RAHMAWATI

NIM : 1503052

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019

1
2
3
4

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga

penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini yang berjudul “Hubungan Bank

ASI terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di Desa Pundenrejo

Kecamatan Tayu”.

Terselesaikannya Proposal Skripsi ini tidak lepas dari peran banyak pihak

yang banyak membantu. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak antara lain :

1. Dr. Ns. Fery Agusman,MM, S.KM, M.Kep, Sp.Kom selaku Ketua Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

2. Dr. Tri Ismu Pujiyanto, SKM, M.kes, M.Kep selaku Wakil Ketua Bidang

Umum dan Keuangan.

3. Dr. Ns. Fery Agusman,MM, S.KM, M.Kep, Sp.Kom, selaku pembimbing

Proposal Skripsi

4. Rose Nurhudhariani, S.Si.T, M.Kes selaku Wakil Ketua Bidang Akademik

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

5. Ns. Dwi Indah Iswanti, M.Kep selaku Ketua Program Studi S 1 Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang.

6. Ns. Dwi Indah Iswanti, M.Kep selaku penguji I dalam penyusunan Proposal

Skripsi.

7. Ns. M. Jamaluddin,S.Kep,M.Kep, selaku penguji II dalam penyusunan

Proposal Skripsi.

iv
5

8. Seluruh Staf dan pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada

Semarang yang telah memberi ilmu, bantuan dan memberikan masukan

kepada penulis.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas semua

bantuan yang diberikan.

Selanjutnya penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan maupun

kesalahan dalam penyusunan Proposal Skripsi. Untuk itu penulis bersedia

menerima kritik dan saran yang membangun demi kebaikan dalam penyusunan

Proposal Skripsi. Penulis juga meminta maaf atas segala kekurangan dalam

penulisan Proposal Skripsi.

Harapan penulis semoga Proposal Skripsi ini bisa bermanfaat bagi penulis

khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, Januari 2019

Peneliti

v
6

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii

KATA PENGANTAR ................................................................................ iv

DAFTAR ISI ............................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. ix

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................... 1

B. Fokus Penelitian ................................................................. 4

C. Rumusan Masalah .............................................................. 5

D. Tujuan Penelitian ................................................................. 5

E. Manfaat Penelitian .............................................................. 6

F. Originalitas Penelitian ......................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Efektivitas ........................................................................... 109

1. ASI Eksklusif ................................................................. 9

2. Bekerja ........................................................................... 29

3. Bank ASI ....................................................................... 33

vi
7

B. Kerangka Teori .................................................................... 38

C. Kerangka Konsep ............................................................... 39

D. Variabel Penelitian ............................................................. 39

E. Hipotesis ............................................................................. 39

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian ................................................ 40

B. Waktu dan Tempat Penelitian ....................................... 41

C. Definisi Operasional ........................................................... 41

D. Populasi dan Sampel ........................................................... 42

E. Instrumen Penelitian ............................................................ 44

F. Teknik Pengumpulan Data ................................................. 45

G. Cara Pengolahan Data ......................................................... 47

H. Analisa Data ........................................................................ 48

I. Etika Penelitian .................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vii
8

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Originalitas penElitian ............................................................. 7

Tabel 3.1. Definisi Operasional ............................................................. 41

viii
9

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Teori.................................................................... 38

bagan 2.2. Kerangka Konsep ............................................................... 39

ix
10

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Permohonan menjadi Responden

Lampiran 2 Persetujuan menjadi Responden

Lampiran 3 Surat Ijin Studi Pendahuluan

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Air Susu Ibu (ASI) adalah nutrisi alamiah yang terbaik bagi bayi.

ASI mengandung energi dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan

pertama kehidupan bayi.1 Pemberian ASI sangat penting karena dapat

bermanfaat bagi bayi dan ibunya. ASI adalah makanan dengan kandungan

gizi yang paling sesuai untuk kebutuhan bayi, melindungi dari berbagai

infeksi dan memberikan hubungan kasih sayang yang mendukung semua

aspek perkembangan bayi termasuk kesehatan dan kecerdasan bayi.

pemberian ASI secara dapat mengurangi perdarahan pada saat persalinan,

menunda kesuburan dan dapat meringankan beban ekonomi khususnya untuk

ibu.2

Kualitas pemberian ASI dapat diHubungan i oleh beberapa faktor.

Salah satunya yaitu karena faktor ibu bekerja. Globalisasi telah membentuk

suatu paradigma berpikir para kaum perempuan untuk menuntut persamaan

hak antara perempuan dan laki-laki. Banyak ibu yang bekerja sebagai

wanita karier. Indonesia adalah negara yang banyak menyerap tenaga kerja

dari para kaum ibu sekaligus negara yang sangat rendahnya jumlah

ibu yang memberikan ASI.3

Persoalan hak ibu bekerja untuk menyusui anaknya menjadi sangat

penting jika dilihat dari jumlah ibu pekerja di Indonesia. Hak ibu sebagai

1
2

tenaga kerja telah diatur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang

ketenagakerjaan, yaitu : memperoleh cuti istirahat selama 1,5 bulan sebelum

dan 1,5 bulan sesudah melahirkan (Pasal 82) dan pekerja/buruh perempuan

yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan untuk menyusui

anaknya jika harus dilakukan selama waktu kerja (pasal 83). Kebijakan yang

berlaku di perusahaan sering tidak mendukung hak perempuan, dengan cuti

melahirkan yang diperpendek dan tidak adanya kesempatan bagi pekerja

perempuan untuk menyusui anaknya pada jam kerja. Ibu yang bekerja hanya

dapat mendampingi bayinya secara intensif selama 2 (dua) bulan, setelah itu

ibu harus kembali bekerja dan sering ibu terpaksa berhenti menyusui.4

Berdasarkan SDKI menunjukkan bahwa 57% tenaga kerja Indonesia

adalah wanita. Faktor-faktor yang menghambat keberhasilan menyusui pada

ibu bekerja adalah pendeknya waktu cuti kerja, kurangnya dukungan tempat

kerja, pendeknya waktu istirahat saat bekerja sehingga waktu untuk

memerah ASI tidak cukup, tidak adanya ruangan untuk memerah ASI,

pertentangan keinginan ibu antara mempertahankan prestasi kerja dan

produksi ASI.5

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh World Health

Organization (WHO) pada tahun 2017 menyatakan bahwa baru sekitar 35%

bayi usia 0-6 bulan di dunia yang diberikan ASI eksklusif. Data lain

juga didapatkan bahwa persentase ibu di Asia pada tahun 2016 yang

memberikan ASI eksklusif sebesar 42%. Dari kedua data hasil survey

tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ASI secara eksklusif masih


3

tergolong rendah.6 Pemberian ASI eksklusif di Indonesia baru

mencapai 30,2%. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target cakupan

pemberian ASI eksklusif pada tahun 2017 pada bayi yang berusia 0-6 bulan

sebesar 80%.7

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada

tahun 2015 cakupan ASI eksklusif sebesar 47,86%, tahun 2016 sebesar

25,06%, dan tahun 2017 sebesar 57,67%.8 Cakupan ASI eksklusif di

Puskesmas Tayu pada tahun 2018 sebesar 54,73% dan di Puskesmas Tayu

pemberian ASI ekslusif sebesar 39,05%. Berdasarkan laporan cakupan ASI

eksklusif Puskesmas Tayu tahun 2018, desa Pundenrejo memiliki cakupan

ASI eksklusif sebesar 26,92%. Kesimpulan dari data tersebut yaitu bahwa

pemberian ASI eksklusif masih tergolong rendah, karena masih belum

memenuhi target yang telah ditetapkan oleh dinas kesehatan Kabupaten Pati

yaitu sebesar 65%.9

Rendahnya pemberian ASI eksklusif tidak hanya diHubungan i

oleh faktor pekerjaan tetapi banyak faktor, di antaranya faktor sosial

budaya, Hubungan promosi susu formula, dukungan petugas kesehatan,

kesehatan ibu, kesehatan bayi, tingkat pendapatan keluarga, tingkat

pendidikan ibu dan pengetahuan serta sikap ibu.10

Keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat diHubungan i oleh

faktor ibu, bayi dan keluarga. Karakteristik ibu yang dapat memHubungan i

keberhasilan pemberian ASI eksklusif tersebut berupa usia, jumlah jam

bekerja, tingkat pendidikan, pendapatan dan paritas.11 Bank ASI, yaitu suatu
4

sarana yang dibuat untuk menolong bayi-bayi yang tak terpenuhi

kebutuhannya akan ASI. Di tempat ini, para ibu dapat menyumbangkan air

susunya untuk diberikan pada bayi-bayi yang membutuhkan.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 5 ibu pekerja

swasta yang mempunyai anak dengan umur 6 bulan - 8 bulan di Desa

Pundenrejo Kecamatan Tayu yang tercakup dalam wilayah kerja Puskesmas

Tayu. Diperoleh data bahwa dari 5 ibu pekerja swasta yang memberikan ASI

secara eksklusif sebanyak 1 orang dengan memanfaatkan bank ASI dan 4

orang sisanya memberikan ASI ketika pulang kerja dan susu formula saat

ditinggal bekerja, karena disaat bekerja ibu tidak dapat meninggakan

pekerjaannya untuk memberikan ASI kepada bayinya. Data dari bidan desa

menunjukkan bahwa jumlah ibu yang mempunyai anak usia 6 bulan - 8 bulan

di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu yaitu sebanyak 55 orang dan 30 orang

ibu mempunyai pekerjaan sebagai pekerja swasta. Mayoritas ibu

berpendidikan SMP dan memiliki anak pertama.

Berdasarkan latar belakang tersebut menimbulkan minat peneliti dalam

melakukan penelitian tentang “Hubungan Bank ASI Terhadap Pemberian

ASI Eksklusif pada Ibu bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah

sebagai berikut : “Apakah ada Hubungan Bank ASI Terhadap Pemberian ASI

Eksklusif pada Ibu bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu”?


5

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui Hubungan bank ASI terhadap pemberian ASI Eksklusif

pada Ibu bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui distribusi frekuensi bank ASI pada ibu bekerja di

desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

b. Untuk mengetahui pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja di desa

Pundenrejo Kecamatan Tayu

c. Menganalisis Hubungan Bank ASI terhadap pemberian ASI eksklusif

pada ibu bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana kepustakaan dan

informasi ilmiah tentang Bank ASI dalam pemberian ASI pada ibu bekerja

di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

2. Bagi ibu menyusui

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang

Bank ASI dalam pemberian ASI pada ibu bekerja di Desa Pundenrejo

Kecamatan Tayu. Sehingga para wanita pekerja yang sedang menyusui

dapat termotivasi untuk memberikan ASI pada anaknya dan para suami

dapat lebih memberikan dukungan dalam kepatuhan pemberian ASI

tersebut.
6

3. Bagi Petugas Kesehatan

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam

memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI

Eksklusif terutama pada wanita pekerja.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Peneliti menjadikan penelitian ini sebagai acuan dan literatur dalam

pembuatan penelitian yang lebih baik di masa yang akan datang.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Originalitas Penelitian


Peneliti, Judul Metode Hasil perbedaan
Tahun penelitian
Tutuk S Perilaku ibu Penelitian ini Hasil penelitian Penelitian sebelumnya
2014 bekerja dalam merupakan berdasarkan tentang perilaku ibu
memberikan ASI penelitian analisis chi- bekerj dalam
eksklusif di observasional square dengan memberikan ASI
kelurahan Japanan analitik taraf kesalahan α eksklusif sedangkan
Wilayah Kerja dengan = 0,05 antara penelitian sekarang
Puskesmas pendekatan sikap, norma metode pompa ASI
Kemlagi – kuantitatif. subyektif, dan dengan pemberian ASI
Mojokerto. pengendalian Eksklusif
perilaku
diperoleh hasil
sikap (ρ = 0,000
< 0,05), norma
subyektif (ρ =
0,017 < 0,05),
dan pengendalian
perilaku (ρ =
0,000 < 0,05).
Jayanti, Hubungan status Metode Hasil : (1) Penelitian sebelumnya
2015 ibu bekerja dengan penelitian Responden yang tentang status ibu
pemberian ASI deskripsif bekerja baik di bekerja dalam
Eksklusif di koleratif rumah maupun memberikan ASI
Puskesmas responden diluar rumah yaitu eksklusif sedangkan
Umbulharjo I penelitian sebanyak 35 penelitian sekarang
Yogyakarta. terdiri dari 53 responden (66%). metode pompa ASI
ibu menyusui (2) Responden dengan pemberian ASI
dengan yang tidak Eksklusif
menggunakan memberikan ASI
teknik Eksklusif yaitu
accidental sebanyak 33
7

sampling. responden (62%).


(3) Terdapat
hubungan antara
status ibu bekerja
dengan pemberian
ASI Eksklusif
setelah dilakukan
analisa data
dengan uji Chi
Square dengan
nilai p sebesar
0,012 (p < 0,05).
Natasya Pemberian ASI Penelitian ini Hasil analisis chi- Penelitian sebelumnya
2015 eksklusif pada menggunakan square tentang pemberian
wanita pekerja metode menunjukkan ASI Eksklusif wanita
pabrik Dewhirst analitik bahwa terdapat pabrik dalam
Menswear observasional hubungan antara memberikan ASI
Rancaekek dengan pekerjaan dengan eksklusif sedangkan
dibandingkan pendekatan pemberian ASI penelitian sekarang
dengan ibu rumah potong ekslusif secara metode pompa ASI
tangga di lintang. bermakna dengan dengan pemberian ASI
Kelurahan p-value (0,000) Eksklusif
Tamansari Kota < 0,05),
Bandung
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. ASI Eksklusif

a. Pengertian ASI Eksklusif

ASI adalah makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi

yang bersifat alamiah,dan mengandung berbagai zat gizi yang

dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi.12 ASI

Eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan cairan lain,

seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan

makanan padat, misalnya pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur

nasi, tim atau makanan lain selain ASI.13

Pemberian ASI Eksklusif dianjurkan untuk jangka setidaknya

selama 4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan. Setelah bayi

berumur 6 bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat,

sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih

bahkan lebih dari 2 tahun.14

b. Manfaat Pemberian ASI

1) Manfaat ASI Bagi Bayi

Berikut manfaat ASI yang diperoleh bayi menurut Nisman 15

a) ASI mudah dicerna dan diserap oleh pencernaan bayi yang

belum sempurna.
9

b) ASI termasuk kolostrum yang mengandung zat kekebalan

tubuh, meliputi immunoglobulin, lactoferin, enzyme, macrofag,

lymphosit, dan bifidus factor. Semua faktor ini berperan

sebagai antivirus, antiprotozoa, antibakteri, dan antiinflamasi

bagi tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah terserang penyakit.

Jika mengkonsunsi ASI, bayi juga tidak mudah mengalami

alergi.

c) ASI juga menghindarkan bayi dari diare karena saluran

pencernaan bayi yang mendapatkan ASI mengandung

lactobacilli dan bifidobabateria (bakteri baik) yang membantu

membentuk feses bayi yang pH-nya rendah sehingga dapat

menghambat pertumbuhan bakteri jahat penyebab diare dan

masalah pencernaan lainnya.

d) ASI yang didapat bayi selama proses menyusui akan

memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sehingga dapat menunjang

perkembangan otak bayi. Berdasarkan suatu penelitian, anak

yang mendapatkan ASI pada masa bayi mempunyai IQ yang

lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI.

e) Mengisap ASI membuat bayi mudah mengoordinasi saraf

menelan, mengisap, dan bernapas menjadi lebih sempurna dan

bayi menjadi lebih aktif dan ceria.


10

f) Mendapatkan ASI dengan mengisap dari payudara

membuat kualitas hubungan psikologis ibu dan bayi menjadi

semakin dekat.

g) Mengisap ASI dari payudara membuat pembentukan rahang

dan gigi menjadi lebih baik dibandingkan dengan mengisap

susu formula dengan menggunakan dot.

h) Bayi yang diberi ASI akan lebih sehat dibandingkan bayi

yang diberi susu formula. Pemberian susu formula pada

bayi dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, saluran

napas, dan telinga. Bayi juga bisa mengalami diare, sakit perut

(kolik), alergi makanan, asma, diabetes, dan penyakit saluran

pencernaan kronis. sebaliknya, ASI membantu

mengoptimalkan perkembangan sistem saraf serta

perkembangan otak bayi.15

2) Manfaat Menyusui bagi ibu

Sementara itu, menyusui juga memberikan manfaat bagi ibu :15

a) Menghentikan perdarahan pasca persalinan

Ketika bayi menyusu, isapan bayi akan merangsng otak

untuk memproduksi hormon prolaktin dan oksitosin. Hormone

oksitosin, selain mengerutkan otot-otot untuk pengeluaran ASI,

juga membuat otot-otot rahim dan juga pembuluh darah di

rahim sebagai bekas proses persalinan, cepat terhenti. Efek ini


11

akan berlangsung secara lebih maksimal jika setelah

melahirkan ibu langsung menyusui bayinya

b) Psikologi ibu

Rasa banggga dan bahagia karena dapat meberikan

sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya (menyusui bayinya)

akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayi).

c) Mencegah kanker

Wanita yang menyusui memiliki angka insidensi terkena

kanker payudara, indung telur, dan rahim lebih rendah

d) Menyusui dengan frekuensi yang sering dan lama dapat

digunakan sebagai metode kontrasepsi alami yang dapat

mencegah terjadinya ovulasi pada ibu. Jika akan memanfaatkan

metode kontrasepsi ini sebaiknya konsultasi dengan dokter.

e) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil.

Dengan menyusui,cadangan lemak dari tubuh ibu yang

memang disiapkan sebagai sumber energi pembentukan ASI.

Akibatnya, cadangan lemak tersebut akan menyusut sehingga

penurunan berat badan ibu pun akan berlangsung lebih cepat.

f) ASI lebih murah sehingga ibu tidak perlu membeli.

g) ASI tersedia setiap saat tanpa haus menunggu waktu

menyiapkan dengan temperatur atau suhu yang sesuai dengan

kebutuhan bayi.
12

h) ASI mudah disajikan dan tanpa kontaminasi bahan berbahaya

dari luar serta steril dari bakteri.

3) Komposisi ASI

Berikut dijabarkan komposisi ASI.

a) Kolostrum

Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah

kolostrum, yang mengandung campuran kaya akan protein,

mineral, dan antibodi daripada ASI yang telah matang. ASI

mulai ada kira-kira pada hari ke-3 atau hari ke-4. Kolostrum

berubah menjadi ASI yang matang kira-kira 15 hari sesudah

bayi lahir. Bila ibu menyusui sesudah bayi lahir dan bayi

sering menyusui , maka proses adanya ASI akan meningkat.16

b) ASI Transisi / Peralihan

ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum

sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai

hari ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah

banyak dan berubah warna, serta komposisinya. Kadar

imunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan

laktosa meningkat.16

c) ASI matur

ASI Matur disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya. ASI

matur tampak berwarna putih. Kandungan ASI Matur relatif

konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang


13

mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut

foremilk. Formilk lebih encer, serta mempunyai kandungan

rendah lemak, tinggi laktosa, gula, protein, mineral, dan air.

d) Kandungan Zat Gizi dalam ASI

Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna, serta

sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi.

(1) Protein

Keistimewaan protein dalam ASI dapat dilihat dari

rasio protein whey : kasein = 60 : 40, dibandingkan

dengan air susu sapi yang rasionya = 20:80. ASI

mengandung alfa-laktabumin, sedangkan air susu sapi

mengandung beta-laktoglobulin dan bovine serum

albumin. ASI mengandung asam amino esensial taurin

yang tinggi. Kadar methiolin dalam ASI lebih rendah dari

pada susu sapi, sedangkan sisitin lebih tinggi. Kadar

tirosin dan fenilalanin pada ASI rendah. Kadar poliamin

dan nukleotid yang penting untuk sintesis protein pada

ASI lebih tinggi dibandingkan air susu sapi.16

(2) Karbohidrat

ASI mengandung karbohidrat lebih tinggi dari air susu sapi

(6,5-7 gram). Karbohidrat yang utama adalah laktosa.16


14

(3) Lemak

Bentuk emulsi lebih sempurna. Kadar lemak tak jenuh

dalam ASI 7-8 kali lebih besar dari air susu sapi. Asam

lemak rantai panjang berperan dalam perkembangan otak.

Kolesterol yang diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf

pusat dan diperkirakan juga berfungsi juga berfungsi dalam

perkembangan pembentukan enzim.16

(4) Mineral

ASI mengandung mineral lengkap. Total mineral

selama laktasi adalah konstan. Fa dan Ca paling stabil,

tidak terpengauh diet ibu. Garam organik yang terdapat

dalam ASI terutama kalsium, kalium, dan natrium dari

asam klorida dan fosfat. ASI memiliki kalsium, fosfor,

sodium potasium, dalam tingkat yang lebih rendah

dibandingkan dengan susu sapi. Bayi yang diberi ASI tidak

akan menerima pemasukan suatu muatan garam yang

berlebihan sehingga tidak memerlukan air tambahan di

bawah kondisi-kondisi umum.16

(5) Air

Kira-kira 88% ASI terdiri atas air yang berguna

melarutkan zat-zat yang terdapat di dalamnya sekaligus

juga dapat meredakan rangsangan haus dari bayi.16


15

(6) Vitamin

Kandungan vitamin dalam ASI adalah lengkap,

vitamin A, D, dan C cukup. Sementara itu, golongan

vitamin B kecuali ribiflafin dan asam penthothenik lebih

kurang.16

(a) Vitamin A : air susu manusia yang sudah masak

(dewasa mengandung 280 IU) vitamin A dan

kolostrum mengandung sejumlah dua kali itu. Susu sapi

hanya mengandung 18 IU.

(b) Vitamin D : vitamin D larut dalam air dan lemak,

terdalam air susu manusia.

(c) Vitamin E : Kolostrum manusia kaya akan vitamin E,

fungsinya adalah untuk mencegah hemolitik

anemia, akan tetapi juga membantu melindungi

paru-paru dan retina dari cedera akibat oxide.

(d) Vitamin K : Diperlukan untuk sintesis faktor-faktor

pembekuan darah, bayi yang mendapatkan ASI

mendapatkan vitamin K lebih banyak.

(e) Vitamin B Kompleks : semua vitamin B ada pada

tingkat yang diyakini memberikan kebutuhan harian

yang diperlukan.
16

(f) Vitamin C : vitamin C sangat penting dalam sintesis

kolagen, ASI mengandung 43 mg/100 ml vitamin C

dibandingkan dengan susu sapi.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI Ekslusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif,

dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.17

1) Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang terdapat di dalam diri

individu itu sendiri, meliputi:

a) Faktor Pendidikan

Makin tinggi pendidikan seseorang, maka makin

mudah untuk menerima informasi sehingga semakin banyak

pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang

kurang akan menghambat sikap terhadap nilai-nilai yang baru

diperkenalkan, termasuk mengenai ASI Ekslusif.17

b) Faktor Pengetahuan

Pengetahuan yang rendah tentang manfaat dan tujuan

pemberian ASI Eksklusif bisa menjadi penyebab gagalnya

pemberian ASI Eksklusif pada bayi. Kemungkinan pada saat

pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care), mereka tidak

memperoleh penyuluhan intensif tentang ASI Eksklusif,

kandungan dan manfaat ASI, teknik menyusui, dan kerugian

jika tidak memberikan ASI Eksklusif.17


17

c) Faktor Sikap/Perilaku

Menurut Rusli, dengan menciptakan sikap yang positif

mengenai ASI dan menyusui dapat meningkatkan keberhasilan

pemberian ASI secara esklusif.18

d) Faktor psikologis

(1) Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita

(estetika).

(2) Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak

penampilan dan khawatir akan tampak menjadi tua.

(3) Tekanan batin. Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan

batin di saat menyusui bayi sehingga dapat mendesak

ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui

bayinya, bahkan mengurangi menyusui.18

e) Faktor Fisik ibu

Alasan Ibu yang sering muncul untuk tidak menyusui

adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama.

Sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan Ibu

untuk berhenti menyusui. Lebih jauh berbahaya untuk mulai

memberi bayi berupa makanan buatan daripada membiarkan

bayi menyusu dari ibunya yang sakit.18


18

e) Faktor Emosional

Faktor emosi mampu mempengaruhi produksi air susu

ibu. Aktifitas sekresi kelenjar-kelenjar susu itu senantiasa

berubah-ubah oleh pengaruh psikis/kejiwaan yang dialami

oleh ibu. Perasaan ibu dapat menghambat /meningkatkan

pengeluaran oksitosin. Perasaan takut, gelisah, marah, sedih,

cemas, kesal, malu atau nyeri hebat akan mempengaruhi

refleks oksitosin, yang akhirnya menekan pengeluaran ASI.

Sebaliknya, perasaan ibu yang berbahagia, senang, perasaan

menyayangi bayi; memeluk, mencium, dan mendengar

bayinya yang menangis, perasaan bangga menyusui bayinya

akan meningkatkan pengeluaran ASI.18

2) Faktor ekternal, yaitu faktor-faktor yang dipengaruhi oleh

lingkungan, maupun dari luar individu itu sendiri, meliputi:

a) Dukungan Suami

Menurut Roesli dalam Wahyuningsih, dari semua

dukungan bagi ibu menyusui dukungan suami adalah

dukungan yang paling berati bagi ibu. Suami dapat berperan

aktif dalam keberhasilan pemberian ASI khususnya ASI

eksklusif dengan cara memberikan dukungan secara

emosional dan bantuan-bantuan yang praktis. Untuk

membesarkan seorang bayi, masih banyak yang dibutuhkan

selain menyusui seperti menyendawakan bayi, menggendong


19

dan menenangkan bayi yang gelisah, mengganti popok,

memandikan bayi, membawa bayi jalan-jalan di taman,

memberikan ASI perah, dan memijat bayi. Kecuali menyusui

semua tugas tadi dapat dikerjakan oleh ayah.18

Dukungan suami sangat penting dalam suksesnya

menyusui, terutama untuk ASI eksklusif. Dukungan

emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan

luar yang meragukan perlunya ASI. Ayahlah yang menjadi

benteng pertama saat ibu mendapat godaan yang datang dari

keluarga terdekat, orangtua atau mertua. Suami juga harus

berperan dalam pemeriksaan kehamilan, menyediakan

makanan bergizi untuk ibu dan membantu meringankan

pekerjaan istri. Kondisi ibu yang sehat dan suasana yang

menyenangkan akan meningkatkan kestabilan fisik ibu

sehingga produksi ASI lebih baik. Lebih lanjut ayah juga

ingin berdekatan dengan bayinya dan berpartisipasi dalam

perawatan bayinya, walau waktu yang dimilikinya

terbatas. 1 7 , 1 8

Suami yang berperan mendukung ibu agar menyusui

sering disebut breastfeeding father. Pada dasarnya seribu ibu

menyusui mungkin tidak lebih dari sepuluh orang diantaranya

tidak dapat menyusui bayinya karena alasan fisiologis. Jadi,

sebagian besar ibu dapat menyusui dengan baik. Hanya saja


20

ketaatan mereka untuk menyusui ekslusif 4-6 bulan dan

dilanjutkan hingga dua tahun yang mungkin tidak dapat

dipenuhi secara menyeluruh. Itulah sebabnya dorongan ayah

dan kerabat lain diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan

diri ibu akan kemampuan menyusui secara sempurna.19

b) Perubahan sosial budaya

(1) Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.

Pekerjaan terkadang mempengaruhi keterlambatan

ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Secara teknis

hal itu dikarenakan kesibukan ibu sehingga tidak cukup

untuk memperhatikan kebutuhan ASI. Pada hakekatnya

pekerjaan tidak boleh menjadi alasan ibu untuk berhenti

memberikan ASI secara eksklusif. Untuk menyiasati

pekerjaan maka selama ibu tidak dirumah, bayi

mendapatkan ASI perah yang telah diperoleh satu hari

sebelumnya.

Secara ideal tempat kerja yang mempekerjakan

perempuan hendaknya memiliki “tempat penitipan

bayi/anak”. Dengan demikian ibu dapat membawa bayinya

ke tempat kerja dan menyusui setiap beberapa jam. Namun

bila kondisi tidak memungkinkan maka ASI perah/pompa

adalah pilihan yang paling tepat. Tempat kerja yang


21

memungkinkan karyawatinya berhasil menyusui bayinya

secara eksklusif dinamakan Tempat Kerja Sayang Ibu.17,18

(2) Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang

memberikan susu botol.

Persepsi masyarakat akan gaya hidup mewah,

membawa dampak terhadap kesediaan ibu untuk menyusui.

Bahkan adanya pandangan bagi kalangan tertentu, bahwa

susu botol sangat cocok buat bayi dan merupakan makanan

yang terbaik. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang

selalu berkeinginan untuk meniru orang lain, atau

prestise.17,18

(3) Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.

Budaya modern dan perilaku masyarakat yang

meniru negara barat, mendesak para ibu untuk segera

menyapih anaknya dan memilih air susu buatan sebagai

jalan keluarnya.17,18

c) Faktor kurangnya petugas kesehatan

Kurangnya petugas kesehatan didalam memberikan

informasi kesehatan, menyebabkan masyarakat kurang

mendapatkan informasi atau dorongan tentang manfaat

pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai

manfaat dan cara pemanfaatannya.17,18


22

d) Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.

Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang

memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan

pergeseran perilaku dari pemberian ASI ke pemberian Susu

formula baik di desa maupun perkotaan. Distibusi, iklan dan

promosi susu buatan berlangsung terus, dan bahkan meningkat

tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga

ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan

masyarakat di Indonesia.

Iklan menyesatkan yang mempromosikan bahwa susu

suatu pabrik sama baiknya dengan ASI, sering dapat

menggoyahkan keyakinan ibu, sehingga tertarik untuk coba

menggunakan susu instan itu sebagai makanan bayi. Semakin

cepat memberi tambahan susu pada bayi, menyebabkan daya

hisap berkurang, karena bayi mudah merasa kenyang, maka

bayi akan malas menghisap putting susu, dan akibatnya

produksi prolaktin dan oksitosin akan berkurang.17,18

e) Pemberian informasi yang salah

Pemberian informasi yang salah, justru datangnya dari

petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian

ASI dengan susu kaleng. Penyediaan susu bubuk di

Puskesmas disertai pandangan untuk meningkatkan gizi bayi,

seringkali menyebabkan salah arah dan meningkatkan


23

pemberian susu botol. Promosi ASI yang efektif haruslah

dimulai pada profesi kedokteran, meliputi pendidikan di

sekolah-sekolah kedokteran yang menekankan pentingnya ASI

dan nilai ASI pada umur 2 tahun atau lebih.17

d) Faktor pengelolaan laktasi di ruang bersalin (praktik IMD)

Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi

hendaknya disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir.

Namun tidak semua persalinan berjalan normal dan tidak

semua dapat dilaksanakan menyusui dini. IMD disebut early

initation atau permulaan menyusu dini, yaitu bayi mulai

menyusui sendiri segera setelah lahir. Keberhasilan praktik

IMD, dapat membantu agar proses pemberian ASI eksklusif

berhasil, sebaliknya jika IMD gagal dilakukan, akan menjadi

penyebab pula terhadap gagalnya pemberian ASI Eksklusif.17

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif

oleh ibu bekerja

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemberian ASI

eksklusif oleh ibu bekerja adalah faktor ibu, faktor bayi, faktor

keluarga dan masyarakat (lingkungan), faktor pelayanan kesehatan,

faktor industry susu formula


24

1) Faktor Ibu

a) Psikologis

(1) ASI tidak cukup

Alasan ini merupakan dukungan utama para ibu untuk

tidak memberikan ASI eksklusif walaupun banyak ibu-ibu

yang merasa ASInya kurang, tetapi hanya sedikit

sekali (2-5%) yang secara biologis memang kurang

produksi ASInya, selebihnya 95-98% lebih dapat

menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya.17

(2) Takut ditinggal suami

Dari survey Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia,

terhadap ibu SEJABOTABEK, diperoleh data bahwa

alasan pertam berhenti memberikan SI adalah takut

ditinggal suami. Hal ini dikarenakan adanya mitos yang

mengatakan bahwa “menyusui akan mengubah bentuk

payudara menjadi jelek”, padahal sebenarnya yang

menyebabkan perubahan pada payudara bukan karena

menyusui melainkan karena kehamilan.17

(3) Takut bertambah gemuk

Pendapat bahwa ibu menyusui akan sukar menurunkan

berat badannya adalah tidak benar. Didapat bukti bahwa

menyusui akan membantu ibu-ibu menurunkan berat


25

badannya lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui

secara Eksklusif.17

b) Fisik

(1) Ibu sakit

Ibu yang dalam keadaan sakit seperti puting susu lecet,

mastitis, payudara bengkak akan membuat ibu enggan dan

takut menyusui sehingga ASI eksklusif tidak diberikan.17

(2) Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan ibu sebenarnya bukan satu-satunya

faktor yang menurunkan kemampuan ibu dalam menyusui

dan menyiapkan hidangan yang bergizi. faktor pendidikan

dapat mempengaruhi kemampuan ibu menyerap

pengetahuan gizi yang diperoleh secara biologi ibu adalah

sumber hidup anak. Anak-anak dari ibu yang mempunyai

latar belakang pendidikan lebih tinggi akan mendapat

kesempatan hidup serta tumbuh lebih baik. Keterbukaan

mereka untuk menerima perubahan atau hal yang baru

lebih banyak mempergunakan rasio pada emosi seperti

halnya ibu yang berpendidikan rendah atu mereka yang

tidak berpendidikan. 21

(3) Pengetahuan tentang ASI

Perilaku ibu terhadap pemberian ASI dipengaruhi oleh

beberapa faktor antara lain : pengetahuan, keyakinan, nilai


26

yang dianut ibu tentang pemberian ASI yang benar akan

menunjang keberhasilan menyusui. Pengetahun ibu akan

meningkat berkat pendidikan yang akhirnya akan

berampak pada peningkatan gizi dan kesehatan

masyarakat. Meningkatnya pendidikan, pengetahuan dan

kesehatan masyarakat akan meningkatkan produktifitas

dan kualitas kerja dan kesejahteraan penduduk.20

c) Faktor pekerjaan

(1) Ibu yang bekerja

Tekanan ekonomi menyebabkan banyak ibu-ibu yang

bekerja di luar rumah, sehingga pemberian ASI eksklusif

sering diabaikan, meskipun sebenarnya bekerja bukanlah

alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif karena

waktu ibu bekerja bayi dapat diberi ASI perah yang

diperoleh sebelumnya dari ASI itu sendir.22

(2) Jam kerja ibu

Beberapa orang ibu ragu-ragu untuk mulai menyusukan

anaknya oleh karena mereka harus kembali bekerja.

Sebenarnya hal ini tergantung pada jam kerja ibu jika ibu

bekerja selama 3-4 jam sehari, ibu masih dapat menyusui

bayinya dengan 1 kali menyusui. Ibu yang bekerja

lebih dari 5 jam sehari, bayi akan kehilangan 2-3 kali

waktu menyusui akibatnya bayi akan menolak untuk


27

menetek karena merasa upaya menghisap tidak

memberikan hasil sesuai yang diharapkan.22

2) Faktor bayi

Bayi dengan isapan lemah dan kurang sering akan membuat ibu

beranggapan bahwa si bayi tidak suka dengan ASInya,

sehingga ibu memberi susu selain ASI.18

3) Faktor keluarga dan masyarakat (lingkungan)

Dengan kemajuan teknologi, dukungan keluarga pengaruh

modernisasi, mengakibatkan menyusui di pandang kuno dan

mengaggap susu formula sebagai symbol kedudukan. Faktor lain

yang berpengaruh terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif

adalah :

a) Lingkungan fisik

Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan

organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetic

(keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan

bahwa faktor genetik. Dan lingkungan ini merupakan perilaku

makhluk hidup termasuk perilaku menurun. Lingkungan fisik

adalah lahan fisik untuk perkembangan perilaku yang meliputi

iklim, cuaca, manusia, dan lain-lain.


28

b) Lingkungan non fisik

Lingkungan non fisik adalah kondisi selain fisik atau

merupakan lahan non fisik untuk perkembangan perilaku,

yang meliputi sosial, ekonomi, kebudayaan, dan lain-lain.

4) Faktor pelayanan kesehatan

Kurangnya bimbingan dan persiapan saat awal menyusui,

kurangnya informasi serta penyuluhan tentang pentingnya ASI,

pemberian informasi yang kurang baik petugas kesehatan, serta

keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan

terjadinya penurunan cakupan pemberian ASI

5) Faktor industri susu formula

Makin gencarnya iklan promosi produsen susu formula dengan

disertai hadiah-hadiah dan pendapat bahwa bahwa susu formula

lebih praktis dapat menyesatkan dan menyebabkan orang salah

mengerti sehingga mereka beranggapan susu formula lebih baik.

2. Bekerja

a. Definisi bekerja

Bekerja adalah kegiatan yang direncanakan, pekerjaan

memerlukan pemikiran khusus, yang dilaksanakan tidak hanya

karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan,

melainkan karena kita mau dengan sungguh-sungguh mencapai

suatu hasil yang kemudian berdiri sendiri atau sebagai benda,


29

karya, tenaga dan sebagainya, sebagai pelayanan terhadap

masyarakat.23

Dalam kondisi pembangunan kearah industrialisasi dimana

persaingan pasar semakin ketat, sangat diperlukan tenaga kerja

yang sehat dan produktif. Searah dengan hal tersebut kebijakan

pembangunan di bidang kesehatan ditujukan untuk mewujudkan

derajat kesehatan yang optimal bagi seluruh masyarakat, termasuk

masyarakat pekerja. Masyarakat pekerja mempunyai peranan

& kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan

pembangunan, dimana dengan berkembangnya IPTEK dituntut

adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan

mempunyai produktivitas yang tinggi hingga mampu

meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era globalisasi.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003, pekerja di

Indonesia mencapai 100.316.007 dimana 64,63% pekerja laki-

laki dan 35,37% pekerja wanita.21

b. Faktor pekerjaan

1) Ibu yang bekerja

Tekanan ekonomi menyebabkan banyak ibu-ibu yang

bekerja di luar rumah, sehingga pemberian ASI eksklusif

sering diabaikan, meskipun sebenarnya bekerja bukanlah

alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif karena waktu


30

ibu bekerja bayi dapat diberi ASI perah yang diperoleh

sebelumnya dari ASI itu sendiri.22

Wanita yang bekerja sesungguhnya merupakan arus

utama di banyak industri. Mereka diperlakukan sama dari

beberapa segi, hanya dari segi riwayat kesehatan mereka

seharusnya diperlakukan berbeda dengan laki-laki dalam hal

pelayanan kesehatan. Pekerja wanita dituntut untuk

meningkatkan kemampuan dan kapasitas kerja secara

maksimal, tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita.22

Banyak perempuan mendapat kesempatan yang

semakin besar untuk memperoleh pendidikan tinggi

sebagaimana halnya kaum laki-laki. Kesempatan untuk

bekerja semakin terbuka untuk perempuan. Alasan yang

mendasar bagi seorang perempuan untuk bekerja tidak

selalu sama antara yang satu dengan yang lainnya. Alasan

yang umum dijumpai ialah karena kebutuhan keuangan, untuk

memperkaya pengalaman dan pengetahuan pribadi,

menghindari tugas rumah tangga, ketidakpuasan hidup dan

hasrat untuk berprestasi.24

Walaupun banyak ibu yang tidak mau memberikan

ASI pada bayinya karena alasan pekerjaan tetapi bekerja

bukan alasan tidak memberikan ASI eksklusif, karena waktu

cuti pada ibu bekerja hanya


31

3 bulan saja. Bayi tetap dapat diberikan ASI walaupun

ketika ibu bekerja yaitu dengan menggunakan ASI perah

yang diperah sehari sebelumnya.18

2) Jam kerja ibu

Beberapa orang ibu ragu-ragu untuk mulai menyusukan

anaknya oleh karena mereka harus kembali bekerja.

Sebenarnya hal ini tergantung pada jam kerja ibu jika ibu

bekerja selama 3-4 jam sehari, ibu masih dapat menyusui

bayinya dengan 1 kali menyusui. Ibu yang bekerja lebih

dari 5 jam sehari, bayi akan kehilangan 2-3 kali waktu

menyusui akibatnya bayi akan menolak untuk menetek karena

merasa upaya menghisap idak memberikan hasil sesuai yang

diharapkan.22

c. Jenis-jenis Pekerjaan

Jenis-jenis pekerjaan antara lain :25

1) Service occupation

Termasuk di dalamnya adalah semua jenis pekerjaan yang

mengutamakan pelayanan. Contoh pelayan toko, pelayan

dirumah makan, kurir, pramugari, dan bagian keamanan

2) Professional

Dalam kelompok ini, pendidikan tertentu setelah SMA

sangatlah diperlukan. Pendidikan yang dimaksud disini

sangatlah mendukung pekerjaan seseorang pada masa yang


32

akan datang. Misalnya jika ingin menjadi guru, harus kuliah

di IKIP atau mengambil FKIP atau yang setara dengannya.

Contoh pekerjaan lain adalah dokter, perawat dan arsitek

3) Management position

Termasuk kelompok ini adalah mereka yang bergerak dalam

bidang pengelolaan. Misalnya manager, direktur, dan

supervisor

4) Office work

Pekerjaan-pekerjaan dalam kelompok ini umumnya

tidak memerlukan sekolah khusus, tetapi hanya jenis kursus

singkat. Contohnya receptionis, customer service officer,

namun ada juga perusahaan yang meminta karyawannya agar

semua karyawannya didalam kelompok ini minimal memiliki

ijazah D III.

Dengan berbagai macam pekerjaan dan waktu

bekerja dari pagi sampai petang membuat para ibu tidak

memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.25

3. Bank ASI

a. ASI Segar

ASI yang baru saja diperah atau ASI segar, bisa bertahan rata-rata 4

jam dalam suhu ruangan. Kolostrum berbentuk cairan kekuningan

yang lengket dan kental, keluar pada beberapa hari setelah kelahiran

hingga hari ke lima setelah persalinan, kolostrum masih aman


33

disimpan selama 4 jam setiap kali perah dalam suhu ruang kurang

dari 25o C. Level suhu dan durasi waktu penyimpanan yang aman

untuk ASI perah yaitu:26

1) ASI yang disimpan dalam suhu ruang 16-29oC aman

dikonsumsi dalam 3-6 jam.

2) ASI yang disimpan dalam kulkas dengan suhu 0-4oC bisa

bertahan hingga 3-8 bulan dan masih aman dikonsumsi.

3) ASI yang disimpan dalam freezer lemari es satu pintu dengan

suhu kurang dari 15oC aman dikonsumsi hingga 2 minggu. Jika

ASI disimpan dalam freezer lemari es dua pintu dengan suhu

kurang dari 18oC waktu penyimpanan bisa lebih lama, yaitu

hingga 3-6 bulan.

4) ASI yang disimpan dalam freezer tunggal/khusus dengan suhu

kurang dari 18 oC, ASI aman disimpan hingga 6-12 bulan.26

b. ASI Beku

ASI yang sudah disimpan dalam jangka waktu tertentu dalam

freezer dan menjadi beku. ASI yang menjadi beku sebelum diberikan

pada bayi, sebaiknya dihangatkan ke dalam mangkuk yang diisi air

hangat dan segera diberikan kepada bayi. Batas maksimal

penyimpanan ASI beku dalam suhu ruangan rata-rata selama 4 jam,

meskipun 5-6 jam masih ditoleransi jika kondisinya sangat bersih.

ASI yang masih tersisa jangan disimpan dalam freezer kembali tapi

harus segera dibuang. 26


34

Berikut cara-cara menyimpan ASI dalam lemari es atau freezer yaitu:

1) ASI perah disimpan dalam botol kaca dan pengisian maksimal


3
/4 dari daya tampung botol.

2) Pastikan botol yang akan digunakan telah dibersihkan dan

disterilkan.

3) Menempelkan label jam dan tanggal pada botol kaca atau tempat

yang akan digunakan untuk menyimpan ASI perah.

4) Pisahkan ASI dengan bahan makanan lain yang tersimpan

dalam lemari es, lebih baik lagi jika mempunyai lemari es khusus

untuk menyimpan ASI.

5) Bila ASI keluar dalam jumlah banyak, simpan sebagian di

freezer untuk jangka panjang dan sebagian dilemari es bagian

bawah untuk pemakaian jangka pendek.

6) Menyimpan ASI di bagian dalam freezer atau lemari es,

bukan dibagian pintu. Karena bagian pintu berpeluang

mengalami perubahan dan variasi suhu udara.

7) ASI beku yang tersimpan di freezer dan akan diberikan kepada

bayi, sehari sebelumnya diturunkan ke lemari es bagian

bawah agar pelelehan ASI perah yang sudah beku berjalan

perlahan.

8) Jika ASI perah belum benar-benar meleleh sempurna, masukkan

botol yang berisi ASI ke dalam mangkuk yang berisi air

hangat.
35

c. ASI yang Sudah Dihangatkan dengan Air Hangat

ASI perah yang sudah dicairkan dengan air hangat sebaiknya

langsung diberikan kepada bayi atau sampai jadwal minum ASI

berikutnya. Menyimpan dalam botol di lemari es selama 4 jam.26

Cara menghangatkan ASI perah,

yaitu :

1) Berikan ASI dengan hari dan tanggal yang paling lama

disimpan dalam freezer.

2) Amati bau dan rasanya, jika tercium basi jangan gunakan ASI

tersebut untuk dikonsumsi.

3) Cairkan ASI yang sudah beku dengan memindahkannya dari

freezer ke dalam lemari pendingin, simpan selama 12 jam sebelum

diberikan kepada bayi.

4) Hangatkan ASI dengan cara meletakkan botol atau wadah

ASI kedalam mangkuk berisi air hangat.

5) Tidak memanaskan atau merebus ASI diatas kompor, atau

memanaskan ASI dalam wicrowave.

6) Periksa suhu ASI yang sudah dihangatkan dan mencicipi ASI

tersebut sebelum diberika kepada bayi.


36

d. ASI yang Sudah Diminum

Pentingnya menyimpan ASI sesuai takaran pemakaian. Jika

menyimpan ASI dalam botol atau wadah yang melebihi takaran

penggunaan (tersisa), sebaiknya ASI harus dibuang. Jangan

menyimpan sisa ASI yang sudah diminum bayi dari botol yang

sama ke dalam lemari es dan freezer.26


37

B. Kerangka Teori

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Pemberian ASI Ekslusif
Faktor internal
1. Faktor Pendidikan
2. Faktor Pengetahuan
3. Faktor Sikap/Perilaku
4. Faktor psikologis
5. Faktor Fisik ibu
6. Faktor Emosional
Faktor ekternal
1. Dukungan Suami
2. Perubahan sosial budaya
3. Faktor kurangnya petugas kesehatan
4. Meningkatnya promosi susu kaleng
sebagai pengganti ASI.
5. Pemberian informasi yang salah
6. Faktor pengelolaan laktasi di ruang
bersalin (praktik IMD) Pemberian ASI
Eksklusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi


perilaku pemberian ASI eksklusif oleh
ibu bekerja
a) Psikologis
(1) ASI tidak cukup
(2) Takut ditinggal suami
(3) Takut bertambah gemuk
b) Fisik
(1) Ibu sakit
(2) Tingkat Pendidikan
(3) Pengetahuan tentang ASI
c) Faktor pekerjaan
(1) Ibu yang bekerja
(2) Jam kerja ibu

Bagan 2.1. Kerangka konsep 17,18


38

C. Kerangka konsep

Variavel independent Variabel dependen

Bank ASI Pemberian ASI Eksklusif

Bagan 2.2. Kerangka Konsep

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

(Independen): Adalah variabel yang dapat mempengaruhi atau menjadi

penyebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (dependen).26

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Bank ASI.

2. Variabel terikat (Dependen): Adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.26 Variabel Terikat dalam

penelitian ini adalah pemberian ASI Eksklusif.


39

E. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadaprumusan masalah yang

diajukan.24 Berdasarkan penelitian dan landasan teori diatas maka hipotesis

yang akan diuji dalam penelitianinisesuai dengan rumusan masalah dan tujuan

penalitian adalah sebagai berikut:

Ho : tidak ada Hubungan Bank ASI Terhadap Pemberian ASI Eksklusif

pada Ibu bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

Ha : ada Hubungan Bank ASI Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu

bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu


40

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif yaitu penelitian

dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu

keadaan secara obyektif mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.26

Desain Penelitian adalah rencana dan struktur penyelidikan yang

disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan dapat memperoleh jawaban

untuk pertanyaan-pertanyaan penelitinya. Jenis desain penelitian ini

menggunakan pendekatan cross sectional. Dalam Cross Sectional penelitian

mempelajari tentang hubungan variabel bebas dan terikat dengan melakukan

pengukuran sesaat yang diukur sekali saja.27 Fakta dalam penelitian ini

diungkapkan apa adanya dari data yang terkumpul. Dengan demikian

penelitian ini mengungkapkan hubungan dari variabel-variabel yang ada.

Berdasarkan keterangan diatas peneliti akan melakukan analisa tentang

Hubungan Bank ASI Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu bekerja di

Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

.
41

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – Juni 2019

C. Definisi Operasional

Definisi operasional yaitu mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhdap suatu objek atau

fenomena.26 Definisi opersional ditentukan bersadarkan parameter yang

dijadikan ukuran dalam penelitian. Sedangkan cara pengukurannya

merupakan cara diaman variabel dapat diukur dan ditentukan

karakteristiknya.

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Bank ASI Kegiatan yang dilakukan Checklist a. Menyimpan (jika Ordinal
oleh ibu menyusui dalam ibu memerah ASI
memerah ASI dan setiap hari dan
menyimpannya pada menyimpan di
lemari pendingin untuk dalam lemari ES)
penyediaan ASI bagi b. Tidak menyimpan
bayinya pada kurun waktu (jika ibu tidak
tertentu memerah ASI
Pemberian ASI Pemberian ASI eksklusif Checklist a. Memberikan (jika Ordinal
Ekslusif oleh ibu pada bayinya ibu memberikan ASI
selama 6 bulan tanpa saja pada bayiya di
makanan pendamping usia 0-6 bulan)
ASI b. Tidak memberikan
(jika ibu memberikan
ASI ditambahkan
MPASI pada anak
usia 0-6 bulan
42

D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi penelitian

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.27 Dalam penelitan ini

populasi yang diteliti adalah ibu menyusui Desa Pundenrejo Kecamatan

Tayu sebanyak 84 responden

2. Sampel penelitian

Sampel adalah Sebagian dari populasi yang merupakan wakil dari

populasi itu. Penentuan jumlah sampel menggunakan Rumus Slovin,

sebagai berikut :

N
n : 1+(N.e2)

Keterangan :

n : Ukuran Sampel

N : Ukuran Populasi sampel

e : Tingkat kepercayaan atau ketepatan yang diinginkan (0,05)


84
n = 1+84(0,05.0,05)

84
n = 1+84(0,0025)

84
n = 1,21

n = 69,4

n = 69 orang

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, sampel didapatkan

berjumlah 69 responden di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu.


43

Tabel 3.2. Sampel Penelitian

No Sampel Rumus Jumlah


11
1. RW. I 11 𝑥 69 9
84
13
2. RW. II 13 𝑥 69 11
84
12
3. RW. III 12 𝑥 69 10
84
17
4. RW. IV 17 𝑥 69 14
84
15
5. RW. V 15 𝑥 69 12
84
Jumlah 84 69

3. Teknik sampling

Pada penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel

yang digunakan adalah Proposional Stratified Random Sampling,karena

sampel yang diambil berdasarkan strata RT dan populasinya adalah ibu

bekerja di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu terdiri dari beberapa RT.

Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap

subjek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel.27

Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya,

maka sebelum pengambilan sampel perlu ditentuka kriteria inklusi dan

eksklusi. Kriteria inklusi adalah: ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap

anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria

eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil

sampel.27
44

Dalam pengambilan sampel ada kriteria yang harus di penuhi yaitu :

a. Kriteria Inklusi

Adalah penentuan sampelyang didasarkan atas karakteristik umum

subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan

diteliti.28 Adapun kriteria inklusi ini adalah :

Kriteria inklusi:

1) Ibu menyusui yang tinggal di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu

2) Bersedia menjadi responden

3) ibu bekerja menyusui dengan usia bayi > 6 bulan

b. Kriteria Eksklusi

Adalah menghilangkan atau mengeluarkan subyek yang tidak

memenuhi kriteria sebagai responden karena berbagai sebab.

. Adapun kriteria eksklusi penelitian ini adalah :

1) Ibu menyusui yang tidak hadir saat penelitian

2) Ibu menyusui yang mengundurkan diri saat dilakukan penelitian

E. Instrumen Penelitian

1. Instrumen

Instrumen penelitian atau alat ukur penelitian, merupakan cara

peneliti untuk mengumpulkan data yang akan dilakukan dalam

penelitian.28 Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk

pengumpulan data. Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan


45

kuesioner. Instrumen dalam penelitian ini adalah penyimpanan ASI dan

pemberian ASI eksklusif.

2. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-

benar mengukur apa yangdiukur(24). Dalam penelitian ini tidak dialkukan

uji validitas, karena menggunakan instrumen atau lembar checklist.

F. Tehnik Pengumpulan Data

1. Jenis dan Sumber data dalam penelitian yaitu

a. Data primer

Merupakan data tangan pertama. Data primer diperoleh langsung

dari subyek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat

pengambilan data, langsung pada subyek sebagai informasi yang

dicari. Data primer pada penelitian ini diperoleh secara langsung

dengan mengisi kuisioner yang diberikan kepada ibu menyusui di

Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu yang mana isi kuisioner tentang

penyimpanan ASI (Bank ASI) dan pemberian ASI Eksklusif.

b. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti dari orang

lain dalam penelitian ini berasal dari data Desa Pundenrejo

Kecamatan Tayu.
46

2. Cara pengumpulan data

a. Mengajukan surat permohonan ijin pengambilan data dan penelitian

dari STIKES Karya Husada Semarang kepada Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten Pati

b. Peneliti menentukan responden yang akan dijadikan sampel

penelitian, kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan

penelitian kepada responden dengan memberikan Surat Pengantar

Penelitian.

c. Setelah responden setuju untuk dijadikan responden dalam

penelitian, maka responden disarankan untuk mengisi lembar

informed consent.

d. Peneliti menjelaskan tentang pengisian checklist

e. Peneliti memberikan kuesioner kepada responden sesuai dengan

kuesioner penelitian untuk diisi.

f. Peneliti memeriksa kelengkapan data dan pengisian kuisioner setelah

selesai pengambilan data.

g. Peneliti melibatkan enumertor yang bisa berperan sebagai

enumerator pelaksana maupun observer untuk persamaan persepsi

sampai diyakini memiliki satu pemahaman.


47

G. Cara Pengolahan

1. Editing

Hasil jawaban kuesioner harus dilakukan penyuntingan (editing)

terlebih dahulu. Secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk

pengecekan dan perbaikan pengisian formulir atau kuesioner.

2. Scoring

Scoring adalah memberikan penilaian terhadap item-item yang

perlu diberi penilaian atau skor.

3. Codding

Setelah semua kuesioner di edit atau di sunting, selanjutnya dilakukan

pengkodean atau koding dengan memberikan nilai pada setiap jawaban.

Pemberian kode dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. penyimpanan ASI (Bank ASI)

Kode 1 : Menyimpan

Kode 2 : tidak Menyimpan

b. pemberian ASI Eksklusif

Kode 1 : Memberikan

Kode 2 : tidak membeirkan

4. Tabulating

Tabulasi adalah penyajian data dalam bentul tabel sehingga

memudahkan para pembaca memahami laporan penelitian tersebut.

Tabulasi merupakan tahap akhir dari proses pengolahan data.


48

5. Entry data

Memasukkan jawaban dari masing-masing responden yang dalam

bentuk kode (angka) dimasukkan dalam program computer (SPSS) untuk

dianalisis. Entri data dilakukan dengan memasukkan kode pada tingkat

pengetahuan responden yang sudah diberikan ke dalam bentuk tabel,

untuk kemudian di analisis dengan program komputer.

6. Pembersihan data (Cleaning)

Apabila semua data dari semua sumber sudah dimasukkan perlu

dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan kode,

ketidaklengkapan dan sebagainya kemudian dilakukan pembetulan atau

koreksi, proses ini disebut pembersihan data (data cleaning).26

H. Analisis Data

1. Analisa Univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil

penelitian. Analisis univariat menghasilkan distribusi dan prosentase

setiap variabel.28

f
X   100%
N

Keterangan:

X = hasil prosentase

f = frekuensi hasil pencapaian

N = Jumlah seluruh observasi


49

Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

tujuan khusus pada penelitian ini. Terdapat variabel terikat dan variabel

bebas yaitu penyimpanan ASI (Bank ASI) dan pemberian ASI

Eksklusif.28

2. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat atau analisis tabel silang (cross tabulation). Analisa

bivariat dilakukan dengan membuat tabel untuk mengetahui ada tidaknya

Pengaruh Bank ASI Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu bekerja

di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu dengan menggunakan rumus uji

Chi- Kuadrat (chi-square).

Rumus chi-square :

( fo  fe) 2
x 
2

fe

Keterangan :

X2 = chi-square

f0 = frekuensi berdasarkan data

fh = frekuensi yang diharapkan

Syarat Chi square :

a. Tabel kontingensi 2 x 2 dengan e tidak boleh < 1

b. Tabel yang lebih besar 3 x 2 asal e tidak boleh ada nilai < 5 dan tidak

boleh > 20% pada seluruh sel

c. Jika e < 5

d. Jika ada variabel independen pada tabel 2 x 2, e tidak dihitung,


50

e. Jika syarat chi square tidak terpenuhi, maka menggunakan uji fisher

exact dengan tabel dilakukan merger menjadi tabel 2 x 2.

I. Etika Penelitian

1. Informed Concent

Adalah cara persetujuan antara peneliti dengan subjek penelitian,

dengan memberikan lembar persetujuan menjadi reponden. Tujuannya

adalah supaya responden mengerti maksud dan tujuan penelitian dan

mengetahui dampaknya.

2. Perlindungan responden

Adalah etika penelitian yang mengatur dalam melakukan penelitian tidak

merugikan responden.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Adalah masalah etika dengan menjamin kerahasiaan hasil

penelitian tidak memberikan nama responden pada alat bantu penelitian.

Cukup dengan kode yang hanya dimengerti oleh peneliti dan akan

melaporkan data tertentu.


51

DAFTAR PUSTAKA

1. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba


Medika (hlm:71-76).

2. Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif .Jakarta : Pustaka
Bunda

3. Prasetyo, D.P. 2009. ASI Eksklusif Bagian Pertama. Yogyakarta: Diva press

4. Nurjanah. (2008). Implementasi Pasal Undang-undang NO 13 Tahun


2003 Tentang Hak Menyusui Pekerja Perempuan Selama Bekerja. Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia, 3, 1.

5. IDAI. (2010). Buku Ajar Hematologi- Onkologi Anak. Jakarta : EGC

6. Cai, Y. et al., 2009. Synergistic effects of aminoglycosides and


fosfomycin on Pseudomonas aeruginosa in vitro and biofilm infections in
a rat model. Journal of Antimicrobial Chemotherapy, 64, pp.563–566.

7. Kemenkes Ri. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang


Kemenkes RI

8. Dinkes Prov Jawa Tengah, 2013

9. Dinkes Kabupaten Pati, 2014

10. Sarbini D (2008) Hubungan antara Tingkat Pendapatan Keluarga dan


Pendidikan Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Kecamatan Jebres
Kotamadya Surakarta Jurnal Kesehatan, ISSN 1979-7621, VOL. I, NO.
2, DESEMBER 2008

11. Jones, 2011. Adololescent body image dissatisfaction”. Journal of Child


Psychology and Psychiatry. Vol.39, no.8 252- 262.
http;//web.ebscohost.com/ehost/res. Accesed 17 September 2010

12. Prasetyono, 2008. Buku Pintar ASI eksklusif. Jogjakarta : Diva Pres

13. Nurkhasanah, 2011. ASI Atau Susu Formula, Jakarta : Flash Book

14. Roesli, Utami. 2008. Mengenal ASI ekslusif. Jakarta : PT Alex Komputindo.

15. Nisman, W. A. 2011. Panduan Pintar Ibu Menyusui. Yogyakarta: ANDI


52

16. Dewi, Sunarsih. 2011. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika.

17. Wahyuningsih. 2012. Hubungan Pengetahuan Ibu Bersalin tentang Inisiasi


menyusu Dini dengan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Bidan Praktek
Swasta Benis Jayanto Ceper Klaten. Jurnal Klinis Kesehatan Vol 3.No 01

18. Rusli, Risa Ariane. (2011). Perbedaan Depresi Pasca Melahirkan oada Ibu
Primipara Ditinjau dari Usia Ibu Hamil. Jurnal INSAN vol 3. Diakses pada
tanggal 27 Juni 2015

19. Khomsan, Ali. 2009. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Diktat


Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya. Institut Pertanian Bogor

20. Kristiyansari,Weni. 2009.ASI, Menyusui dan Sadari.Yogjakarta: NUHA


MEDIKA

21. BKKBN, Kemenkes, dan ICF International. 2013. Survei Demografi


Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: BPS, BKKBN, Kemenkes, dan ICF
International

22. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan


Indonesia 2011. Jakarta: Depkes RI.

23. Anoraga, Panji (2009). Psikologi Kerja. Jakarta : Rineka Cipta

24. Hogg & Vaughan. 2011. Social Psychology 6th ed. London: Prentice Hall.

25. Rahmawati,MD. 2010. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI


Eksklusif Pada Ibu Menyusui Di Kelurahan Pedalangan Kecamatan
Banyumanik Kota Semarang. Jurnal KesMasDaska. vol.1 No.1 (hal 8-17).

26. Riksani, R. 2012. Keajaiban ASI (Air Susu Ibu). Jakarta: Dunia Sehat.

27. Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


keperawatan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

28. Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi


Revisi). Jakarta : Rineka Cipta

29. Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan. edisi 3. Jakarta : Salemba


Medika
53

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Semarang, 2018
Kepada Yth.
Responden
Di tempat

Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini adalah mahasiswi STIKES
Karya Husada Semarang :
Nama : Dian Nita Oktaviana Dewi
NIM : 1503026
Prodi : S1 Keperawatan

Adalah mahasiswa program studi S1 Keperawatan STIKES Karya


Husada Semarang, saat ini saya sedang melakukan penelitian dalam rangka
penyusunan proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Efektifitas
pelaksanaan toilet training pada anak usia toodler di KB Muslimat
Mutiara Hati Desa Raci Kecamatan Batangan Kabupaten Pati” peneliti
bermaksud mengumpulkan data yang dipergunakan untuk penelitian ini.
Untuk itu saya memohon kesediaan ibu-ibu menjadi responden
guna penelitian ini. Saya akan melakukan wawancara secara langsung
tentang pelaksanaan toilet training pada anak usia toodler. Hasil lembar
penelitian ini bersifat rahasia dan tidak akan berpengaruh terhadap ibu-ibu.
Atas kebijaksanaan dan kesediaannya saya mengucapkan terima
kasih.
Hormat saya,

Dian Nita Oktaviana Dewi


54

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :
Umur :
Alamat :

Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh


mahasiswi Program studi S1 Keperawatan STIKES Karya Husada Semarang :

Nama : Dian Nita Oktaviana Dewi


NIM : 1503026
Judul : Efektifitas pelaksanaan toilet training pada anak usia toodler
di KB Muslimat Mutiara Hati Desa Raci Kecamatan
Batangan Kabupaten Pati

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan kesadaran tanpa paksaan
untuk dapatdigunakan sebagai mana mestinya.

Semarang, 2018
Responden

( )
55

KUESIONER
PENGARUH BANK ASI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
PADA IBU BEKERJA DI DESA PUNDENREJO KECAMATAN TAYU

Nama :
No Responden :

A. Karakteristik responden
1. Umur :
2. Pendidikan :
3. Pekerjaan :

B. Bank ASI
Apakah ibu memerah ASI dan menyimpannya di lemari ES
a. Ya
b. Tidak

C. Pemberian ASI Eksklusif


Apakah ibu memberikan ASI eksklusif aja tanpa makanan pendamping ASI
seperti susu formula, air putih pada bayi anda usia 0-6 bulan?
a. Ya
b. Tidak