Anda di halaman 1dari 4

Choe Yeong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Makam Choe Yeong

Choe Yeong (Hanzi: 崔荣, Hangul: 최영, 1316-1388) adalah seorang jenderal Korea
pada zaman Dinasti Goryeo yang berjasa mempertahankan negaranya dari serbuan
bajak laut Jepang dan mengusir pasukan Mongol.

Daftar isi

 1 Kehidupan awal
 2 Karier militer
 3 Pengkhianatan dan penyelamatan
 4 Tahun-tahun terakhir

Kehidupan awal

Choe dilahirkan di Choerwon, Provinsi Gangwon dari keluarga yang cukup mampu
yang awalnya miskin sehingga membentuk karakternya yang militan. Dia tidak terlalu
memperhatikan mengenai pakaian dan makanannya, dia menghindari kesenangan-
kesenangan duniawi bahkan setelah menjadi pejabat dan mampu menikmatinya. Ia
tidak senang pada orang yang menyukai barang mewah dan memandang
kesederhanaan sebagai suatu kebajikan. Moto hidupnya yang diwarisi dari ayahnya
adalah, “janganlah engkau tamak akan emas”
Karier militer

Dengan karakter demikian, Choe sangat cocok masuk militer, ia dengan cepat
mendapat kepercayaan dari bawahan dan rajanya dalam sejumlah pertempuran
melawan bajak laut Jepang yang menghantui semenanjung Korea pada tahun 1350an.

Pada usia 36 tahun, ia telah menjadi pahlawan nasional berkat jasanya memadamkan
pemberontakan Cho Il-shin yang sebelumnya mengepung dan menerobos istana
kerajaan, membunuh beberapa pejabat dan mengangkat diri sebagai raja Cho. Pada
tahun 1335, di Tiongkok meletus Pemberontakan Sorban Merah melawan Dinasti
Yuan, Mongol yang saat itu menguasai Tiongkok. Karena menjadi negara vassal Yuan
sejak abad 13, maka Goryeo berkewajiban mengirim bala bantuan untuk membantu
Mongol memadamkan pemberontakan tersebut. Kesuksesannya dalam lebih dari
tigapuluh pertempuran membuat popularitasnya menanjak. Sekembalinya ke Korea,
ia melaporkan pada Raja Gongmin mengenai situasi dalam negeri Tiongkok dimana
Dinasti Yuan mulai goyah, sehingga Raja Gongmin berpikir itulah saat yang tepat
untuk merebut kembali beberapa wilayah di utara yang dulu diduduki Mongol. Choe
pun diperintahkan memimpin pasukannya dan berhasil merebut banyak kota di
bagian barat Sungai Yalu.

Choe sempat menjabat sebagai walikota Pyongyang untuk waktu singkat. Selama
masa itu ia meningkatkan produksi panen dan meringankan penderitaan korban
kelaparan sehingga makin disanjung sebagai pahlawan nasional. Tahun 1363, ia sekali
lagi unjuk gigi ketika seorang menteri yang berkuasa bernama Kim Yon-an
bermaksud menggulingkan pemerintah. Choe menghimpun pasukannya dan
mengalahkan 10.000 pasukan Mongol yang masuk ke wilayah Goryeo dan
mendukung pemberontakan itu.

Pengkhianatan dan penyelamatan

Setelah bermimpi seorang biksu akan menyelamatkan hidupnya, Raja Gongmin


mempromosikan seorang biksu bernama Shin Ton dengan jabatan tinggi dalam
pemerintahannya dan memberikan kepercayaan besar padanya. Pada mulanya, Shin
memang bekerja keras meningkatkan taraf hidup petani dan mendapat tentangan
dari banyak pejabat. Namun dengan dukungan raja, dia menjadi semakin sewenang-
wenang dan korup. Choe yang anti korupsi akhirnya menjadi musuh dengannya.
Belakangan Shin memfitnah Choe sehingga dibuang ke pengasingan selama enam
tahun bahkan hampir dihukum mati. Setelah kematian Shin Ton, Choe dipulihkan ke
jabatannya semula dan mendapat perintah untuk mempersiapkan pasukan guna
melawan bajak laut Jepang dan sisa-sisa pasukan Mongol di Pulau Jeju. Mula-mula ia
berhadapan Mongol, setelah bertempur dengan sengit akhirnya ia berhasil
membebaskan pulau itu. Tahun 1376, bajak laut Jepang memasuki wilayah Goryeo
dan mencaplok kota Gongju. Chong Mong-Chu mendapat bantuan dari pihak
keshogunan Jepang untuk memberantas bajak laut, namun bantuan itu tidak terlalu
berarti. Dengan ditemukannya bubuk mesiu oleh ilmuwan Choi Mu-Seon, Choe dan
bawahannya, Yi Seonggye berhasil mengalahkan para bajak laut dan merebut
kembali Gongju.

Tahun-tahun terakhir

Pada pertengahan abad-14, Dinasti Ming menguasai Tiongkok setelah meruntuhkan


Dinasti Yuan. Pasukan Ming menduduki Manchuria dan bagian timur laut Goryeo.
Tahun 1388, Jenderal Yi Songgye diperintahkan untuk mengusir pasukan Ming dari
semenanjung Korea dan menginvasi Liaodong. Namun, Yi yang telah mendapat
dukungan dari pejabat-pejabat tinggi dan rakyat malah mundur ke ibukota, Kaesong,
dan mengadakan kudeta. Insiden ini dikenal dengan nama Pengunduran Wihwado
(위화도 회군) dan menjadi tanda-tanda awal pergantian dinasti.

Ketika Yi kembali ke ibukota, Choe melawannya dengan gagah berani, namun


kekuatannya kalah jumlah oleh Yi. Ada beberapa versi mengenai apa yang terjadi
selanjutnya. Yang paling diyakini kebenaranya adalah setelah kekalahannya Choe
diasingkan ke Goyang dimana tak lama kemudian dihukum mati oleh Yi yang telah
menjadi raja. Sebelum dipancung, ia mengatakan bahwa di makamnya tidak akan
pernah tumbuh rumput karena kematiannya yang tidak adil. Uniknya, memang
rumput benar-benar tidak pernah tumbuh di makamnya. Makam itu dikenal dengan
nama joekbun (적분), yang berarti kuburan merah, karena tanahnya yang berwarna
merah. Baru pada tahun 1979, pucuk rumput pertama tumbuh di makam itu.
Ada beberapa penilaian mengenai Choe Yeong, ada yang menganggapnya jenderal
besar yang telah mendedikasikan segenap hidupnya untuk mempertahankan negara,
ada juga yang mengangapnya sebagai tiran konservatif yang menyabot
pemerintahan. Namun bagaimanapun ia adalah seorang yang telah membaktikan
hidupnya bagi Goryeo dengan kesetiaan penuh yang bahkan harus dibayar dengan
nyawanya.