Anda di halaman 1dari 7

ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN PASANGAN ½ BATU BATA

PADA KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG

Antoinette L Grace Katuuk1 dan Sonny D J Mailangkay2


Manado State University, Faculty of Engineering, Minoring Architecture
Email : gracekatuuk@gmail.com, davimailangkay@gmail.com

ABSTRAK

Untuk mendirikan satu bangunan gedung permanen sebagai tempat tinggal atau tempat
beraktifitas sesuai kebutuhan, selalu diawali dengan perencanaan yang matang. Rencana
Anggaran Biaya (RAB) merupakan salah satu bagian dari perencanaan bangunan. Rencana
Anggaran Biaya bangunan terdiri dari Daftar harga upah, bahan dan peralatan, Daftar analisa
harga satuan pekerjaan dan Daftar kuantitas dan harga, selanjutnya rekapitulasi kuantitas dan
harga. Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) bangunan adalah untuk memperkirakan
secermat mungkin seberapa besar biaya yang diperlukan dalam menyelesaikan satu bangunan
lengkap. Proses penyusunan RAB diawali dengan membuat daftar harga upah, bahan dan
peralatan yang akan digunakan. Langkah selanjutnya adalah menyusun daftar analisa harga
satuan pekerjaan. Salah satu dari banyak jenis item pekerjaan dalam daftar analisa harga
satuan adalah menyusun analisa harga satuan pekerjaan pasangan ½ batu bata unuk
pekerjaan penembokan. Berdasarkan pengalaman di lapangan, untuk pekerjaan penembokan
dengan menggunakan material batu bata merah terjadi perbedaan waktu penyelesaian untuk
menghasilkan volume pekerjaan yang sama dengan ketinggian permukaan lantai yang
berbeda. Untuk itu penelitian ini perlu dilakukan sebagai pembanding antara kenyataan di
lapangan dengan standar yang ada.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh perbedaan yang sangat besar antara kenyataan di
lapangan dengan koefisien rata-rata penawaran oleh koktraktor / pelaksana. Rata-rata
perbedaan sejumlah 75 - 90 = -15 buah batu bata, atau sebesar -20%. Perbandingan koefisien
material semen portland antara rata-rata penawaran kontraktor dan pelaksanaan di lapangan
sebesar 15,18 – 5,466 = +9,714 kg/M2. Sedangkan perbedaan koefisien material pasir pasang
antara rata-rata penwaran kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar 0,0430 – 0.1047 =
-0,061 M3. Selisi harga satuan untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata, antara penawaran
kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar Rp. 99.950 – Rp. 85.889 = Rp. 14.061,- atau
sekitar + 16,37% dari harga satuan di lapangan.

Kata kunci: Analisa harga satuan, pasangan batu bata, bangunan gedung.

PENDAHULUAN

Bangunan hunian ada dan dapat dihuni setelah melewati beberapa tahapan pelaksanaan.
Secara umum tahapan ini terbagi dua bagian besar, yang pertama disebut tahapan
perencanaan dan selanjutnya disebut tahapan pelaksanaan. Tahapan perencanaan
menghasilkan gambar rencana dan estimasi biaya. Estimasi awal menjadi hal yang kritis
dalam proses pengambilan keputusan untuk proyek-proyek konstruksi (Trost dan
1
staf pengajar
2
staf pengajar

1
Oberlender,2002). Estimasi awal bertujuan untuk mengetahui seberapa besar biaya yang
dibutuhkan dalam menyelesaikan satu bangunan. Dengan membuat estimasi awal kita dapat
mengetahui seberapa besar anggaran yang harus disediakan.
Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan bentuk estimasi awal sebelum
melaksanakan proses pembangunan secara fisik. Rencana Anggaran Biaya bangunan paling
tidak terdiri dari Daftar harga upah, bahan dan peralatan, Daftar analisa harga satuan
pekerjaan, Daftar kuantitas dan harga, selanjutnya rekapitulasi kuantitas dan harga. Sebagai
acuan dasar untuk pekerjaan konstruksi proyek Pemerintah Indonesia umumnya
menggunakan dua jenis standar analisa yaitu analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken)
dan analisa SNI (Standar Nasional Indonesia). Satuan output yang biasa digunakan adalah m,
m2, m3, Kg, unit, tergantung pada jenis pekerjaannya. Untuk input upah, satuan yang kerap
dipakai adalah OJ (orang-jam) atau OH (orang-hari) sementara untuk material biasanya
disesuaikan dengan satuan outputnya. Untuk peralatan, khususnya peralatan tangan
(handtools) harus dibedakan dengan plant yang sifatnya fixed biasa dinyatakan dalam unit
lumpsum. (SNI tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan oleh Dr. –Ing. Andreas
Wibowo. Dalam penyusunan harga satuan setiap jenis pekerjaan diperlukan suatu analisa
yang biasa disebut analisa harga satuan. Di dalamnya tercantum informasi indeks-indeks
upah, material dan peralatan yang dibutuhkan sebagai input untuk menyelesaikan satu paket
pekerjaan per satuan volume pekerjaan. Jadi salah satu faktor penentu dalam penyusunan
analisa harga satuan pekerjaan adalah material. Khususnya batu bata, yang lazim digunakan
untuk pekerjaan penembokan, memiliki ukuran standar ketebalan 5 cm, lebar 11 cm dan
panjang 23 cm.
Kenyataan di lapangan terdapat berbagai ukuran batu bata dengan harga yang berbeda-beda
pula sehingga kebutuhan material untuk 1 M2 pekerjaan susunan batu bata dengan ketebalan
½ bata sudah lebih dari 75 buah batu bata sebagai koefisien standar acuan untuk pekerjaan
ini. Demikian pula terdapat perbedaan volume hasil kerja dan lamanya waktu penyelesaian
tergantung dari ketinggian dinding yang sedang dikerjakan. Baik ketinggian dari permukaan
lantai maupun ketinggian berdasarkan perbedaan lantai. Namun didalam penawaran harga,
pelaksana / kontraktor masih menggunakan koefisien standar (75 bh) untuk memperoleh
harga satuan pekerjaan susunan ½ batu bata. Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara
tahun 2002, menetapkan Koefisien / Faktor Pengali untuk menghitung anggaran Bangunan
Gedung Bertingkat. Untuk itu penelitian ini perlu dilakukan sebagai pembanding antara
kenyataan di lapangan dengan standar yang ada.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini sudah dilakukan di beberapa lokasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang
sedang mengerjakan pekerjaan penembokan dengan bahan batu bata. Sejalan dengan itu,
dilakukan studi literatur yang berhubungan dengan analisa harga satuan pekerjaan pasangan
½ batu bata yang digunakan oleh beberapa pelaksana/kontraktor untuk dapat dibandingkan
satu sama lain.
Langkah awal dimulai dengan pengecekan dimensi batu bata yang digunakan untuk
pekerjaan pasangan. Selanjutnya mengevaluasi volume kerja yang dihasilkan dan banyaknya
bahan yang digunakan dalam pekerjaan pasangan ini serta jumlah tenaga kerja yang terlibat
dalam pekerjaan ini. Proses ini dilakukan berulang dan di beberapa lokasi pembangunan yang
berbeda untuk memperoleh sampel akurat.
Proses analisis data dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama menganalisa perbandingan
penggunaan koefisien pengali dalam daftar analisa yang digunakan oleh beberapa pelaksana /

2
kontraktor. Bagian kedua menganalisa jumlah bahan, tenaga dan volume kerja yang ada di
lapangan pada beberapa lokasi pembangunan.
Langkah terakhir penelitian ini membandingkan hasil analisa perbandingan koefisien dengan
kenyataan yang terjadi di lapangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Khususnya batu bata, yang lazim digunakan untuk pekerjaan penembokan, memiliki ukuran
standar ketebalan 5 cm, lebar 11 cm dan panjang 23 cm ( Gambar I ). Hasil pengaamatan di
lapangan (Daerah kabupaten Minahasa dan sekitarnya) menunjukkan bahwa dimensi batu
bata yang digunakan untuk penembokan tidak memiliki keseragaman ukuran. Salah satu
contoh batu bata seperti pada gambar II di bawah ini, ketebalan 4,5 cm, lebar 9,5 cm dan
panjang 19,5 cm.

( Gambar I ) ( Gambar II )

( Gambar III ) ( Gambar IV )

3
Gambar III menunjukkan jumlah batu bata yang tersusun dalam ukuran seluas 1m2 sejumlah
93 buah batu bata posisi ketinggian 1,2 m – 2,2 m dari permukaan lantai dasar. Tenaga 1
Tukang dan 1 Pekerja, dalam 1hari mampu menghasilkan susunan ½ batu bata seluas 7,2 m2,
dengan 0,7 zak semen (35 kg) dengan komposisi campuran 1SP : 4 Psr.
Gambar IV menunjukkan banyaknya batu bata yang tersusun dalam ukuran seluas 1m2
sejumlah 95 buah batu bata posisi ketinggian 0 - 1,0 m dari permukaan lantai dasar. Tenaga 1
Tukang dan 1 Pekerja, dalam 1hari mampu menghasilkan susunan ½ batu bata seluas 10,1
m2, dengan 1 zak semen (50 kg) dengan komposisi campuran 1SP : 4 Psr.
Gambar V menunjukkan banyaknya batu bata yang tersusun dalam ukuran seluas 1m2
sejumlah 82 buah batu bata posisi ketinggian 2,2 m – 3,2 m dari permukaan lantai dua.
Tenaga 1 Tukang dan 1 Pekerja, dalam 1 hari mampu menghasilkan susunan ½ batu bata
seluas 6,3 m2, dengan 0.82 zak semen (41.1 kg) dengan komposisi campuran 1SP : 4 Psr.

( Gambar V )

Tabel I menunjukkan Perbandingan penggunaan koefisien untuk analisa harga satuan


pekerjaan 1 M2 Susunan ½ batu bata yang digunakan dalam penawaran, oleh Pelaksana /
Kontraktor A,B,C dan D di Kabupaten Minahasa dan sekitarnya. Disini tergambar koefisien
rata-rata untuk batu bata sebesar 75 buah batu bata.

Koefisien
Upah dan Bahan Satuan Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana
Rata-rata
A B C D
Upah :
Pekerja O/H 0.5250 0.3200 0.3200 0.4000 0.3912
Tukang batu O/H 0.1750 0.1000 0.1000 0.2000 0.1437
Kepala Tukang O/H 0.0175 0.0100 0.0100 0.0200 0.0143
Mandor O/H 0.0263 0.0150 0.0150 0.0200 0.0153
Bahan :
Buah /
Batu Bata 85.0000 70.0000 70.0000 75.0000 75.0000
Biji
Semen Portland Kg 23.5000 8.3200 11.5000 17.4000 15.1800
Pasir Pasang M3 0.0750 0.0490 0.0040 0.0440 0.0430
Tabel I : Perbandingan penggunaan koefisien untuk analisa harga satuan pekerjaan 1 M 2
Susunan ½ batu bata yang digunakan dalam penawaran,
oleh Pelaksana / Kontraktor A,B,C dan D di Kabupaten Minahasa dan sekitarnya.

4
Tabel II menunjukkan Perbandingan penggunaan koefisien untuk analisa harga satuan
pekerjaan 1 M2 Susunan ½ batu bata berdasarkan hasil penelitian, pada beberapa Lokasi /
lapangan di Kabupaten Minahasa dan sekitarnya. Di sini tergambar koefisien rata-rata untuk
batu bata sebesar 90 buah batu bata. Jumlah ini menunjukkan perbedaan yang sangat besar
dengan koefisien rata-rata penawaran. Rata-rata perbedaan sejumlah 75 - 90 = -15 buah batu
bata, atau sebesar -20%. Perbandingan koefisien material semen portland antara rata-rata
penawaran kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar 15,18 – 5,466 = +9,714 kg/M2.
Sedangkan perbedaan koefisien material pasir pasang antara rata-rata penwaran kontraktor
dan pelaksanaan di lapangan sebesar 0,0430 – 0.1047 = -0,061 M3.

Koefisien berdasarkan hasil penelitian


Lokasi Lokasi Lokasi
Upah dan Bahan Satuan
E F G Rata-rata
(Gambar III) (Gambar IV) (Gambar V)
Upah :
Pekerja O/H 0.1700 0.1000 0.1587 0.1429
Tukang batu O/H 0.1700 0.1000 0.1587 0.1429
Kepala Tukang O/H 0.0170 0.0100 0.0158 0.0142
Mandor O/H - - - -
Bahan :
Buah /
Batu Bata 93.000 95.0000 82.000 90.0000
Biji
Semen Portland Kg 4.8700 5.0000 6.5300 5.4666
Pasir Pasang M3 0.0952 0.0830 0.1360 0.1047

Tabel II : Perbandingan penggunaan koefisien untuk analisa harga satuan pekerjaan 1 M 2


Susunan ½ batu bata berdasarkan hasil penelitian,
Pada beberapa lokasi / lapangan di Kabupaten Minahasa dan sekitarnya.

Chart I . Perbandingan Penggunaan Koefisien Upah dari Pekerja, Tukang


batu dan Kepala tukang
Antara Penawaran Kontraktor dan Kenyataan di Lapangan

0,4

0,2
Koef. Penawaran
0
Koef. Lapangan
Pekerja
Tukang batu
Kepala tukang

Pekerja Tukang batu Kepala tukang


Koef. Lapangan 0,1429 0,1429 0,0142
Koef. Penawaran 0,3911 0,1437 0,0143

Untuk mengetahui besarnya perbedaan harga satuan berdasarkan analisa yang dihasilkan
antara rata-rata penawaran kontraktor dengan rata-rata pelaksanaan di lapangan dapat dilihat
pada perhitungan di bawah ini :

5
a. Analisa harga satuan untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata
( Berdasarkan koefisien rata-rata penawaran kontraktor )
Upah :
0,3911 Pekerja O/H @ Rp. 65.000,- = Rp. 25.421
0,1437 Tukang Batu O/H @ Rp. 100.000,- = Rp. 14.370
0,0143 Kepala tukang O/H @ Rp. 125.000,- = Rp. 1.787
Bahan :
75,000 Batu bata buah @ Rp. 500,- = Rp. 37.500
15,1800 Semen Portland Kg @ Rp. 1.120,- = Rp. 17.002
0,0430 Pasir pasang M3 @ Rp. 90.000,- = Rp. 3.870
2
Jumlah total harga untuk 1 M pekerjaan pasangan ½ batu bata = Rp. 99.950

b. Analisa harga satuan untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata


( Berdasarkan koefisien rata-rata pelaksanaan di lapangan )
Upah :
0,1429 Pekerja O/H @ Rp. 65.000,- = Rp. 9.289
0,1429 Tukang Batu O/H @ Rp. 100.000,- = Rp. 14.290
0,0142 Kepala tukang O/H @ Rp. 125.000,- = Rp. 1.775
Bahan :
90,000 Batu bata buah @ Rp. 500,- = Rp. 45.000
5,4660 Semen Portland Kg @ Rp. 1.120,- = Rp. 6.122
0,1047 Pasir pasang M3 @ Rp. 90.000,- = Rp. 9.423
Jumlah total harga untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata = Rp. 85.889

Selisih harga satuan untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata, antara penawaran
kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar Rp. 99.950 – Rp. 85.889 = Rp. 14.061,- atau
sekitar + 16,37% dari harga satuan di lapangan.

KESIMPULAN DAN SARAN

1 Kesimpulan
- Rata-rata koefisien untuk analisa harga satuan pekerjaan 1 M2 Susunan ½ batu
bata yang digunakan dalam penawaran, oleh Pelaksana / Kontraktor di Kabupaten
Minahasa dan sekitarnya sebesar 75 buah batu bata.
- Rata-rata koefisien untuk analisa harga satuan pekerjaan 1 M2 Susunan ½ batu
bata berdasarkan hasil penelitian, pada beberapa Lokasi / lapangan di Kabupaten
Minahasa dan sekitarnya sebesar 90 buah batu bata
- Perbandingan koefisien material semen portland antara rata-rata penawaran
kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar 15,18 – 5,466 = +9,714 kg/M2.
Sedangkan perbedaan koefisien material pasir pasang antara rata-rata penwaran
kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar 0,0430 – 0.1047 = -0,061 M3.
- Selisi harga satuan untuk 1 M2 pekerjaan pasangan ½ batu bata, antara penawaran
kontraktor dan pelaksanaan di lapangan sebesar Rp. 14.061,- atau sekitar +
16,37% dari harga satuan di lapangan.

6
2. Saran :
Hasil penelitian ini memungkinkan untuk dapat dijadikan bahan acuan dari
pelaksana/kontraktor dalam menentukan penawaran dengan harga satuan terendah
dalam memenangkan tender pada Proyek Pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
- Bachtiar H Ibrahim, 2003 , Rencana dan Estimate Real of Cost, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2003
- Mukomoko Y A, 1994, Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan. Cetakan keduabelas Penerbit
Gaya Media Pratama,
- Niron John W, 1992, Pedoman Praktis Anggaran dan Borongan Rencana Anggaran Biaya
Bangunan, cetakan kesembilan, CV. Asona, Jakarta.
- Wibowo Andreas Dr. –Ing, September 2009, SNI Tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan
- Zainal A Z, 2005, Analisis Bangunan, Menghitung Anggaran Biaya Bangunan, cetakan
kelimabelas, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.