Anda di halaman 1dari 21

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
pada bab IV ini akan dijelaskan tentang hasil yang diperoleh peneliti dari
pengumpulan data yang telah dilaksanakan pada tanggal 10 februari 2019
sampai 17 februari 2019 dengan pasien yang bernama Ny.G.

4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data


A. Letak
Puskesmas Sukorejo merupakan salah satu Puskesmas yang
ada di wilayah Kabupaten Ponorogo. Puskesmas ini terletak di Jalan
Hayam Wuruk No. 1 Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten
Ponorogo.
B. Sarana dan Prasarana
Puskesmas Sukorejo dilengkapi oleh beberapa ruangan
maupun peralatan yang menunjang pelayanan. Dari segi ruangan,
Puskemas Sukorejo terbagi menjadi beberapa ruangan yaitu :
1) Ruang Perawatan
Puskemas Sukorejo merupakan Puskesmas non rawat
inap, jadi Puskemas ini tidak memliki ruang untuk nginap pasien.
Puskemas ini hanya menyediakan fasilitas Instalasi Gawat
Darurat sebagi uapaya penangangan pertama yang ada di
masyarakat. Instalasi Gawat Darurat di Puskesmas Sukorejo di
upayakan sebagai ruangan tindakan dan pemerikasaan, jika ada
keluhan atau hasil yang kurang baik biasanya pasien akan di rujuk
ke rumah sakit untuk rawat inap.
2) Ruang Pelayanan
Meskipun tidak menyediakan ruangan rawat inap,
Puskesmas Sukorejo memiliki beberapa ruangan yang digunakan
untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Ruangan tersebut antara lain sebagai berikut:
3) Poli Umum
Merupakan bagian Puskemas Sukorejo yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat dengan keluhan penyakit menahun
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus,
gouth, ataupun penyakit akut seperti demam. Ruangan ini
dilengkapi dengan 1 buah timbangan, 3 spigmomanometer, 3
buah stetoskop, 1 unit komputer, 1 set pengeras suara, I unit
printer, 1 buah bed periksa, 1 buah almari tempat meyimpan
berkas, 2 buah meja, dan 6 kursi.
4) Poli gigi dan mulut
Ruangan ini menyediakan pelayanan yang di khususkan
pada kesehatan gigi dan mulut.
5) Poli KIA/KB
Merupakan ruangan yang menyediakan pelayanan yang
berfokus pada ibu hamil, bayi, balita dan anak-anak serta wanita
usia subur.
6) Poli jiwa/TB
Ruangan ini merupakan bagian dari pelayanan yang
berfokus pada kesehatan jiwa dan penyakit TB yang ada di
masyarakat.
7) Labolatorium
Merupakan sebuah unit penunjang yang disediakan dan
digunakan untuk melakukan pemeriksaan penunjang seperti,
pemeriksaan darah lengkap, sputum dll.
8) Kefarmasian
9) Pelayanan transportasi pasien ( ambulance)
Pelayanan ini disedikan untuk mempermudah tranportasi
pasien yang di rujuk dari Puskemas Sukorejo ke Puskesmas lain
atau rumah sakit yang bersifat urgent atau mendesak.

10) Upaya Kesehatan Masyarakat ( UKM)


Puskesmas Sukorejo memiliki beberapa Upaya Kesehatan
Masyarakat atau UKM yang terbagi menjadi 2 bagian yaitu
UKM Essensial dan UKM Pengembangan. Masing-masing
UKM memiliki beberapa program yang berbeda. Berikut adalah
program-program yang ada di masing-masing UKM:
a. UKM Essensial, program yang ada didalamnya antara lain:
Program Promosi Kesehatan termasuk UKS, Program
Kesehatan Lingkungan, Program KIA dan KB, Program Gizi,
Progam Pencegahan dan Pengendalian penyakit seperti DBD,
TB paru, Diare, Kusta, ISPA, dst.
Kepala Puskesmas
b. UKM pengembangan, program yang ada didalamnya antara
Dr. Hari Prasetyo Prijo
lain: PERKESMAS
Oetomo (Keperawatan Kesehatan Masyarakat),
PJ Manajemen Program
Mutu Lansia, dan Program Kesehatan Jiwa.
C. Jumlah Perawat Kepala Subag TU
Aris Suhadi Menurut Kepala Puskesmas Sukorejo, jumlah tenaga perawat
PROMKES Winarni, Amd.Keb.
adalah orang dengan klasifikasi pendidikan Diploma III dan Profesi
Galuh Kurniawati
Ners dan Tenaga administrasi. Adapun struktur organisasi
Kepegawaian
KESLING Keuangan
Puskesmas Sukorejo adalah sebagai berikut:
Wahyu W.A
Bilik Hartini
Yatimin Moh Jordan
GIZI KIA KB
PJEni,
UKM ESSENSIAL Eni E, A.MG
A.MG
& PERKESMAS Rumah tangga Sistem Informasi
PUSTU GEGERAN
Muryati, S.ST.Keb Nitta W, A.Md.Keb
Muryati, S.ST.Keb.
PTM Istijab Erlina D, A.MKg
PUSTU
KEDUNGBANTENG
Nunik, A.Md.Keb
Carolina, A.Md.Keb
P2 DBD
PJ UKM PJ UKM PJPUSTU
JEJARING &
BANGUNREJO
Sunarti, A.Md.Kep PENGEMBANGAN FARMASI & JARINGAN
Widiastuti, A.Md.Keb
LAB Dr. Hari
P2 KUSTA PUSTU GELANG LOR
Bilik Hartini Dr. Hari Prasetyo Prijo
Struktur Organisasi Puskesmas Sukorejo Ponorogo
Sunarti, A.Md.Kep Oetomo A.Md.Keb
Winarsih,
Prasetyo Prijo
P2 HIV/AIDS Oetomo PON. GANDU KEPUH

UKS PEL. UMUM


Santi I, A. Md.Keb
Sunarti, A.Md.Kep Wahyu Witria A
PON. KALIMALANG
LANSIA Sunarti,
P2 TB
Sumiati, A.Md.Kep A.Md.Kep Septi P, A.Md.Keb
Aris Suhadi KES. JIWA
Aris Suhadi PEL.GIGI PON.KARANGLO LOR

P2 DIARE HATRA Rini S, A.Md.Keb


Rohman, A.Md.Kep Erlina, A.MKg
Ririn, A.Md.Keb KES. KERJA PON. KRANGGAN
PEL. KIA KB
Siti Y, A.Md.Keb Nerisa R, A.Md.Keb
P2 ISPA KES.OLAHRAGA Muryati,
Siti Y, A.Md.Keb S.ST.Keb PON.LENGKONG
Setyowati, A.Md.Keb KES. INDERA
Suis H, A.Md.Keb
Bambang, A.Md.Kep PEL. JIWA
IMUNISASI KES. GIGI MAS. PON. NAMBANGREJO
Erlyna, A.MKg Aris Suhadi
Endang, A.Md.Keb Yustiari R, A.Md.Keb
PEL. FARMASI
PERKESMAS PON.NAMPAN
Dwi S,
Musrifah, A.Md.Keb
Sunarti, A.Md.Kep A.Md.Farm
PON. SERANGAN
PEL. LAB
Nunuk A, A.Md.Keb
Aris Suhadi
PON. SIDOREJO
PEL
Setyowati, A.Md.Keb
AMBULANCE
PON. SRAGI
Assep Noor
PON. GOLAN

Mamik H, A.Md.Keb

PON. MOROSARI

Boron P, A.Md.Keb

PON. PRAJEGAN

Eko P, A.Md.Keb

4.1.2 Karakteristik Partisipan


Berdasarkan tinjauan khusus yang telah dilakukan pada Ny.G,
bahwasanya Ny.G sebagai ibu rumah tangga.
4.1.3 Data Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Ny. G berusia 70 tahun dengan diaknosa Medis Kusta tipe MB.
b. Keluhan Utama
Pasien mengatakan bagian lutut kebawah sampai telapak kaki
pada kedua kakinya kadang terasa panas, seperti terbakar dan
terdapat luka dikedua tangannya seperti melepuh. Dibagian kaki
tepatnya jempol bagian kiri terdapat luka seperti ulkus. Pasien
juga mengatakan bagian tangannya sedikit matirasa dan rasanya
seperti menebal.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada saat pengkajian pasien mengatakan kaki terasa panas dan
kadang mati rasa. Tangan juga susah untuk memegang sesuatu
dan harus berhati-hati.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya keluarga tidak mengetahui penyakit Ny.G. Awalnya
pasien mengatakan sering mengalami gringgingan/kesemutan
yang menjalar dibagian tangan dan kakinya. Kelihatan kemerahan
dibagian tangan dan kaki, kemudian keluarga membawa Ny.G ke
alternatif namun tidak ada perubahan. Laku keluarga pasien
membawa pasien ke puskesmas sukorejo dan dilakukan tes
hasilnya positif menderita penyakit kusta.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga mengatakan didalam anggota keluarganya tidak ada
yang memiliki penyakit yang menurun seperti HT, DM, PJK.
Tetapi pasien memiliki penyakit kusta, penyakit ini apabila tidak
diobati akan bersifat menular.

f. Pola Hidup ( kemampuan mengontrol kesehatan )


Kemampuan pasien dalam mengontrol kesehatan sangat kurang
sekali mulai dari nutrisi: nutrisi ini juga sangat berpengaruh
dalam kesehatan. Pasien mengatakan makananya hanya lauk dan
sayur pasien tidak mau mengonsumsi makanan seperti ikan, telur
dan daging dikarenakan pasien tidak suka. Pengelolaan stress
pasien sangat kurang. Pasien mengatakan sering merasa stress dan
tertekan jika penyakitnya ini kambuh. Pasien mendapatkan
program terapi obat kusta selama 12 bulan. Kebersihan/ personal
haigine pasien juga sangat kurang. Pasien jarang menggunakan
sandal jepit dan pakean yang digunakan sedikit agak lusuh.
g. Pemeriksaan Fisik
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik Ny. G mengalami cacat kusta
yang berupa munculnya kerusakan integritas kulit yang ditandai
dengan munculnya bercak putih dan sedikit luka ulkus pada
jempol kiri. Setelah terdiaknosa Kusta tipe MB pasien rutin
mengambil atau memeriksakan penyakitnya. Tetapi pasien sangat
kurang dalam memenegemen setresnya akibatnya bisa berdampak
buruk bagi kesehatannya dan penyakitnya yaitu penyakitnya
kadang masih muncul dan rasa panas pada kedua kakinya dari
lutut sampai telapak kaki belum juga kunjung sembuh.hal ini
dipicu karena adanya kerusakan saraf tepi, sehingga otak tidak
mampu menerima implusyang dilepaskan oleh bagian tubuh,
akibatnya dapat terjadi kelelahan hebat dan kerusakan jaringan
yaitu dilepaskannya mediator radang yang menimbulkan edema,
bengkak, kemerahan, dan rasa panas pada kakinya.
h. Terapi
Pasien dulu rutin mengonsumsi obat yang diberikan puskesmas
berupa MDT (multi drug thrapy)yang berisi ripamfisin 600mg,
lampren 300mg, dan dapson 100mg yang dikonsumsi selama 12
bulan untuk mematikan kuman kusta.

2. Analisa Data
NO DATA FOKUS ETIOLOGI MASALAH
1 Data subjektif: Gangguan sensori Kerusakan
- Pasien mengatakan akibat kerusakan integritas kulit
kulit mati rasa saraf tepi
sedikit
- Pasien mengatakan
kadang kulit terasa
menebal
- Pasien mengatakan
dulu sering berjualan
getuk
- Pasien mengatakan
kakinya kadang
terasa panas seperti
terbakar
- Ada luka sedikit
dibagian kaki
sebelah kiri tepatnya
dibagian jempol

Data pbjektif:
- Adanya gangguan
sensasi berupa mati
rasa pada kulit yang
berbercak
- Pertumbuhan rambut
pada kulit tidak
merata tepatnya pada
kulit yang berbercak
- Mati rasa dibagian
jari tangan
- Terdapat pigmentasi
abnormal pada tubuh
tepatnya pada kaki

3. Diaknosa Keperawatan
No Tanggal Masalah Keperawatan Tanggal Paraf
Ditemukan Teratasi
1 10 februari Kerusakan integritas kulit b/d
2019 gangguan sensoris akibat
kerusakan saraf tepi
4. Rencana keperawatan
HARI/T DIAKNOSA NOC (Nursing Outcome Classification) NIC ( Nursing Intervention Classification) PARAF
GL KEPERAWATAN
Senin Kerusakan integritas Setelah dilakukan kunjungan dan tindakan Menegemen Pressur (menegemen sensasi
10-02- kulit b/d gangguan keperawatan selama 1x60 menit selama 7 perifer)
2019 sensoris akibat hari diharapkan kerusakan integritas kulit 1.Anjurkan pasien untuk menggunakan
kerusakan saraf tepi pasien dapat teratasi. pakean yang longgar
Noc : integritas jaringan, kulit dan membran 2.Inspeksi adanya luka pecah-pecah pada
mukosa. Dengan kriteria hasil tangan maupun kaki
sebagaimberikut: 3.Inspeksi apakah ada tanda-tanda
a. Suhu kulit hanggat kerusakan integritas kulit
b. Sensasi sentuhan normal 4.Tentukan status mobilisasi misalnya
c. Elastisitas kulit baik mampu berjalan tanpa bantuan orang lain
d. Ketebalan kulit normal tidak ada 5.Kaji apakah ada rasa kesemutan atau rasa
penebalan kulit yang berlebihan panas
e. Perfusi jaringan normal 6.Lakukan tindakan RGO (rendam, gosok,
f.Pertumbuhan pada kulit merata oles) untuk melatih respon sensori pasien
g. Integritas kulit baik 7.Anjurkan kepada pasien setelah
h. Pigmentasi normal melakukan tindakan RGO tidak langsung
i. Lesi kulit normal terkena debu atau paparan sinar
j. Pengelupasan kulit berlebihan 8. Anjurkan pasien untuk istirahat yang
berkurang cukup dan tidak boleh terlalu capek.
9.Jelaskan kepada pasien dan keluarga
tujuan dan rencana dilakukannya tindakan
RGO
10. Ajarkan pasien cara melakukan
tindakan RGO secara mandiri
11. Anjurkan kepada pasien untuk
memposisikan tubuh secara nyaman
12. Bantu pasien bila belum bisa melakukan
tindakan RGO secara mandiri
13. Motivasi pasien untuk melakukan
tindakan RGO secara mandiri dan
teratur
14. Dokumentasikan derajat kerusakan
integritas kulit
15. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
dan lembab
16. Monitor kulit akan adanya kemerahan
17. Oleskan lotion atau minyak kelapa
pada daerah yang tertekan dan yang
terkelupas atau pecah-pecah

5. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


No. Hr/Tgl Jam Implementasi Hr/Tgl Jam Evaluasi Paraf
Dx
1 Hari 09.00 1.menganjurkan pasien untuk S:
menggunakan pakean yang longgar - Ny. G mengatakan kulit terasa
ke-1
2.memeriksa adanya luka pecah-pecah panas seperti terbakar
senin pada tangan maupun kaki - Ny.G mengatakan kulit kaki
3.memeriksa apakah ada tanda-tanda bersisik dan sedikit mati rasa
10-02-
kerusakan integritas kulit - Ny.G mengatakan ada bercak
2019 4.menentukan status mobilisasi pada putih yang matirasa
pasien. Misalnya mampu berjalan atau - Ny.G mengatakan sangat
melakukan tindakan tanpa bantuan merasa tidak nyaman jika rasa
orang lain panas pada kedua kakinya
5.memeriksa apakah ada rasa kesemutan kambuh kembali.
atau rasa panas pada kulit pasien O:
6.melakukan tindakan RGO (rendam, - masih adanya sedikit
gosok, oles) untuk melatih respon gangguan sensasi berupa
sensori pasien matirasa pada bagian kulit
7.mengajarkan kepada pasien setelah yang berbercak
dilakukan tindakan RGO tidak boleh - Masih adanya pertumbuhan
langsung terkena debu atau paparan rambut pada kulit yang tidak
sinar merata
8.menganjurkan pasien untuk istirahat - Terdapat luka kecil seperti
yang cukup dan tidak boleh terlalu ulkus pada jempol kiri
capek A : Masalah kerusakan integritas kulit
9.memberikan penjelasan kepada pasien belum teratasi
dan keluarga tujuan dan rencana P : Lanjutkan interveni 1-17
dilakukannya tindakan RGO
10.mengajarkan kepada pasien untuk
melakukan tindakn RGO secara
mandiri
11.menganjurkan kepada pasien untuk
memposisikan tubuh secara nyaman
12.membantu pasien bila belum bisa
melakukan tindakan RGO secara
mandiri
13.memotivasi pasien untuk melakukan
tindakan RGO secara mandiri
14.mendokumentasikan derajat
kerusakan integritas kulit
15.menjaga kebersihan kulit pasien agar
tetap bersih dan lembab
16.memonitor kulit akan adanya
kemerahan
17.mengoleskan minyak pada daerah
yang tertekan dan bagian kulit yang
pecah-pecah
Senin 1.melakukan tindakan RGO (rendam, S:
17- gosok, oles) untuk melatih respon
- Ny.G mengatakan setelah
02- sensori pasien
2019 2.menganjurkan kepada pasien untuk dilakukan tindakan RGO kakinya
tidak boleh terkena debu atau paparan
merasa lebih enak dan dingin
sinar setelah dilakukanya tindakan
RGO - Ny.G mengatakan kadang
3.menganjurkan pasien untuk istirahat
penyakitnya kambuh kalau waktu
yang cukup dan tidak boleh terlalu
capek malam hari
4.memberikan penjelasan kepada pasien
- Bercak putih masih nampak
dan keluarga tujuan dan rencana
dilakukannya tindakan RGO - Jika penyakitnya kambuh pasien
5.mengajarkan kepada pasien untuk
sering meronta
melakukan tindakn RGO secara
mandiri O:
6.menganjurkan kepada pasien untuk
- masih adanya sedikit gangguan
memposisikan tubuh secara nyaman
7.membantu pasien bila belum bisa matirasa pada bagian kulit yang
melakukan tindakan RGO secara
berbercak
mandiri
8.memotivasi pasien untuk melakukan - Masih adanya pertumbuhan
tindakan RGO secara mandiri
rambut yang belum merata
9.menjaga kebersihan kulit pasien agar
tetap bersih dan lembab - Elastisitas kulit sedikit mengering
10. memonitor kulit akan adanya
- Terdapat sedikit luka pada
kemerahan
11. mengoleskan minyak pada daerah kakinya tepatnya jempol bagian
yang tertekan dan bagian kulit yang
pecah-pecah kiri
12. mendokumentasikan derajat
A : - masalah kerusakan kulit masih
kerusakan integritas kulit
belum bisa teratasi
P : hentikan intervensi
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengkajian
a. Identitas
berdasarkan hasil pengkajian didapatkan pada Ny.G seorang
perempuan yang berumur 70 tahun terdiaknosa kusta.
Penyakit kusta dapat menyerang semua umur, namun
kebanyakan presentasi tertinggi terjadi pada rentang umur
15-45 tahun, penyakit kusta dapat menyerang siapa saja
laki-laki maupun perempuan. (Manyullei & Utama, 2012).
Kusta dapat menyerang semua umur kebanyakan pada usia
produktif pada umur 15-65 tahun (depkes). Dalam
pengkajian ini peneliti menemukan persamaan antara teori
dan fakta. Dimana usia tidak menjamin penularan karena
karena penyakit kusta dapat ditularkan pada semua umur
tetapi lebih rentan atau lebih banyak diserang pada umur
15-65 tahun. Karena usia yang produktif usia 15-65 tahun
adalah sering beraktivitas diluar dan bahkan sering bertemu
dengan banyak orang yang dikenal maupun yang tidak
dikenal. Secara tidak sengaja kuman kusta dapat ditularkan
melalui kulit dan saluran pernapasan. Penyakit kusta tidak
menjamin pada jenis kelamin Karena perempuan maupun
laki-laki jika daya tahan tubuhnya lemah maka dengan
mudah kuman kusta dapat tertularkan.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama Ny.G pada saat didiaknosa penyakit kusta
Pasien mengatakan bagian lutut kebawah sampai telapak
kaki pada kedua kakinya kadang terasa panas, seperti
terbakar dan terdapat luka dikedua tangannya seperti
melepuh. Dibagian kaki tepatnya jempol bagian kiri
terdapat luka seperti ulkus. Pasien juga mengatakan bagian
tangannya sedikit matirasa dan rasanya seperti menebal.
Berdasarkan teori yang ada pada penderita penyakit kusta
yaitu Tahap awal kusta, gejala yang timbul dapat hanya
berupa kelainan warna kulit. Kelainan kulit yang dijumpai
dapat berupa perubahan warna seperti hipopigmentasi
( warna kulit menjadi lebih terang) hiperpigmentasi ( warna
kulit menjadi lebih gelap ), dan eritematosa ( kemerahan
pada kulit ). Gejala- gejala umum pada kusta / lepra, reaksi
panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil,
noreksia, nausea, disertai vomitus, cephalgia, kadang-
kadang disertai iritasi , orchitis dan pleuritis, kontraktur
pada jari-jari, dan kemerahan pada telapak tangan atau
penebalan pada kulit disertai mati rasa pada saraf tepi
(Kemenkes, 2015). Pada pengkajian keluhan utama ada
dipersamaan antara reori dan fakta, Ny.G berobat dilayanan
kesehatan setelah muncul kemerahan dan bercak-bercak
putih yang mati rasa. Pada awalnya Ny.G merasakan
keluhan seperti sering kesemutan, nyeri pada kedua kakinya
sampai ketelapak kaki, dan disertai adanya jari tangan yang
membengkok. Dan kemudian juga adanya luka kecil
dibagian jempol kiri.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada saat pengkajian Ny.G mengatakan kaki terasa panas
dan kadang mati rasa. Tangan juga susah untuk memegang
sesuatu dan harus berhati-hati. Berdasarkan teori yang ada
Kulit mengalami bercak putih seperti panu pada awalnya
hanya sedikit tetapi lama-kelamaan semakin lebar dan
banyak, adanya bintil-bintil kemerahan yang tersebar pada
kulit, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan
pada anggota badan atau bagian raut muka, muka berbenjol-
benjol dan tegang yang disebut facies leomina ( muka
singa), dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi.
Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya
waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak
kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka
ditekan dengan ari tidak terasa sakit klien yang mengalami
kusta (Kementerian Kesehatan RI, 2012).

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Ny.G tinggal satu rumah dengan anaknya . keluarga tidak
ada yang menderita penyakit kusta . saat imi Ny.G sudah
selesai menjalagi pengobatan kusta. Berdasarkan teori yang
ditemukan oleh (Rahariyani,2008) pengkajian riwayat
penyakit keluarga dilakukan untuk mengetahui apakah ada
faktor penularan kusta yang lain yang tinggal serumah.
Penyakit kusta ini juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri
Mycobacterium Leprae dan proses penularannya melalui
kontak langsung yang terus menerus. Pada studi kasus ini
ditemukan tidak adanya kesesuaian antara teori dan fakta,
karena klien yang terdiagnosa kusta ini didalam anggota
keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit kusta dan
didalam lingkungan tempat tinggal nya memang ada yang
menderita menyakit kusta. Hal ini juga bisa disebabkan oleh
kependudukan yang kumuh, dan geografis yang lembab
serta kurangnya kebersihan
dirinya kurang.

4.2.2 Diaknosa Keperawatan


Faktor yang mempengaruhi kerusakan integritas kulit
adalah gangguan sensorik, atrofi dan fibrosis serat otot kaki,
gangguan system saraf otonom sehingga kulit menjadi kering,
anhidrosis, dan hyperkeratosis Pada kulit akan timbul eritema
dan nodus, jika nodus pecah akan menimbulkan ulkus
sehingga menyebabkan kerusakan pada kulit (Lestari,2015).
Sehingga diaknosa yang sering muncul pada penyakit
kusta atau pada pasien kusta yaitu kerusakan integritas kulit.
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan
sensoris akibat kerusakan saraf tepi.
Penderita kusta biasanya jika terjadi reaksi kusta maka
akan terjadi gangguan mati rasa pada tangan dan kaki, maka
biasanya jika bagian saraf tepi sudah mengalami mati rasa kulit
akan terjadi penebalan dan kering. Penderita kusta jika tidak
rutin dalam merawat kulit akan menimbulkan luka ulkus
terbuka.
Hasil pengkajian yang yang dialami Ny.G diagnosis
keperawatan yang muncul adalah kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan gangguan sensoris akibat kerusakan saraf
tepi masalah keperawatan yang muncul sesuai dengan teori
dan fakta yang ada dilapangan yang mengalami kerusakan
integritas kulit yaitu dengan adanya luka di bagian kaki
tepatnya jempol kiri dan luka merah kehitaman di bagian lutut
sampai bawah yang terasa panas dan adanya sensasi mati rasa.
4.2.3 Intervensi Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian pada Ny.G yang
mengalami kusta muncul masalah kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan gangguan sensoris akibat kerusakan saraf
tepi. Dari kerusakan integritas kulit peneliti memberikan
rencana keperawatan untuk mengatasi masalah kerusakan
integritas kulit dengan cara RGO (Rendam, Gosok, Oles ) dan
mandiri. Sesuai standard intervensi diharapakan ada
perkembangan semakin membaik dengan kerusakan integritas
kulit normal.
Tindakan mandiri dalam keperawatan adalah dengan
cara membangun hubungan saling percaya kepada keluarga.
Yang bertujuan agar mendapatkan kepercayaan dari keluarga
untuk melakukan tindakan keperawatan, memberikan
perawatan kepada Ny.G dengan merendam ,menggosok dan
memngoles. Selain itu juga harus ada menjelaskan kepada
keluarga tentang pengertian dan sekaligus cara penularan
bahkan memberikan cara merawat penyakit kusta agar
anggota keluarga mampu merawat yang mengalami penyakit
kusta dengan baik.

4.2.4 Implementasi Keperawatan


Pada Ny.G ditemukan data yang menyatakan bahwa
Ny.G mengalami kerusakan integritas kulit seperti timbulnya
luka ulkus pada jempol kaki kiridan luka pada jari-jari tangan
maupun bercak merah kehitaman pada kaki. Peneliti
memberikan implementasi untuk mengatasi kerusakan
integritas kulit yaitu dengan cara merawat luka dengan
merendam dengan air dan menggosok atau membersihkan
dengan sabun, lalu mengoleskan dengan menggunakan minyak
Zaitun.
Implementasikan yang dilakukan dalam penelitian ini
semua tersusun dalam intervensi kerusakan integritas kulit
yang bertujuan untuk menyembuhkan luka dan mengurangi
rasa panas pada kaki Ny G.Tetapi tidak semua intervensi
dilakukan karena masalah yang ada tidak semua akan muncul.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan terjadi
atau persamaan antara teori dan fakta karena Tn.M mengalami
kerusakan integritas kulit akibat kerusakan pada sistem saraf
tepinya.
4.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses
keperawatan yang meliputi pengumpulan data objektif dan
subjektif yang akan menunjukkan pencapaian dari criteria hasil
dan indicator sudah tercapai secara efektif arau belum, masalah
mana yang sydah tercepahkan, lalu apa saja yang perlu dikaji,
direncankan, dilakukan, dan dinilai kembali.

Selama hari-1 sampai hari ke-2 peneliti melakukan


tindakan keperawatan cara rendam gosok oles dengan
menggunakan minyak Zaitun. Dari hasil pengamatan peneliti
menggunakan grafik indicator dan didapatkan hasil pada hari
pertama dan kedua dalam tingkat kerusakan integritas kulit
berat. Hal ini didapatkan karena ada luka ulkus pada jempol
kaki bagian kiri dan luka merah kehitaman pada lutut maupun
tangan yang disebabkan karena kerusakan jaringan atau
penebalan pada kulit sehingga kulit akan menjadi tebal dan
bersisik. Dan pada hari ketiga sampai hari ke tujuh kerusakan
integritas kulit sedang.Di dalam teori dijelaskan bahwa kuman
kusta kebanyakan masuk melalui kulit(terutama bila ada luka),
maka lesi atau tanda pertama kusta kebanyakan terdapat pada
suatu tempat dikulit. Tanda awal berupa bercak
putih ( makula hipopigmentasi) dengan batas yang kadang
kurang jelas dan sensasi yang mulai sudah hilang (hipo atau
anestesi) (Rahariyani,2008). Leprae indeterminate adalah
manifestasi paling awal, tampak lesi kecil pucat pada bagian
tubuh manapun, tanpa gangguan sensorik, dan penyembuhan
secara spontan. Pasien yang mengalami leprae lepromatosa
makula berbentuk plak atau nodular. Biasanya terdapat
diwajah, telinga pergelangan tangan, siku, bokong, dan lutut.
Kulit akan mengalami penebalan difus dan pebengkakan di
hidung dan bibir (Menaldi,2015).
Terdapat kesenjangan antara fakta dan teori. Hal ini
dikarenakanmpada hari pertama dan kedua luka klien tidak
menunjukkan peningkatan yang spesifik. Hal ini dipengaruhi
oleh kurangnya nutrisi dan personal hygiene. Sehingga
mengakibatkan kulit masih adanya ruam merah kehitaman
,penebalan pada kulit dan sehingga akan menimbulkan
lukaakan keluar kembali. Sedangkan pada hari ketiga sampai
hari ke tujuh melakukan perawatan luka dengan rutin dengan
menggunaka minyak Zaitun untuk melembabkan kulit agar
kulit tidak mudah kering dan menebal. Hasil dari
perkembangan luka yang sangat pesat pasien masuk dalam
kategori kerusakan integritas sedang dengan kondisi yang
menunjang anatara lain sudah tidak keringan dan lembab,
bentuk luka teratur, perubahan warna lesi kemerahan tetapi
rasa panas pada kulit kakinya masih sering hilang timbul
utamanya pada malam hari.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Keseluruhan data yang diperoleh peneliti baik wawancara, observasi
studi, dokumentasi, dan studi pustaka tindakan keperawatan yang telah
diberikan pada Ny.G dengan kasus Kusta dengan Kerusakan Integritas kulit
diperoleh kesimpulan meliputi dari pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, dan evaluasi sebagai berikut :
5.1 Kesimpulan
a. Pengkajian keperawatan pada klien kusta dengan menggunakan
metode asuhan keperawatan indifidu di dapatkan data pada Ny.G
adalah terdapat luka pada jempol kaki kiri dan luka merah kehitaman
pada kaki dari lutut sampai telapak kaki.
b. Masalah yang muncul pada Ny.G adalah kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan gangguan sensoris akibat kerusakan saraf tepi.
c. Perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah kerusakan
integritas kulit adalah dengan memberikan perawatan dengan
merendam, menggosok dan mengoleskan dengan menggunakan
minyak Zaitun.
d. Pemberian tindakan asuhan keperawatan pada klien yang sudah
direncanakan dilakukan semuanya. Dari tindakan yang sudah
diakukan selama 7 hari dimulai tanggal 10 februari 2019 – 17 februari
2019.
e. Melakukan evaluasi kepada pasien mengenai kerusakan integritas
kulit, dari hasil evaluasi hari pertama dengan score 8 kategori berat
dan hari akhir didapatan hasil kerusakan kulit score 14 kategori
ringan.
f. Melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan indifidupada Ny.G
yang didiaknosa mengalami penyakit kusta

5.2 Saran
a. Bagi Pasien
Pasien mampu merawat luka secara mandiri, pasien mampu
memotivasi dirinya untuk sembuh, menghindari faktor pencetus, lebih
kooperatif serta memiliki kemauan menjaga kebersihan. Merawat luka
dengan cara merendam, menggosok dan mengoles dengan
menggunakan minyak Zaitun. Agar luka tetap bersih.
b. Bagi provesi keperawatan
Dengan adanya kasus ini diharapkan kita sebagai tenaga kesehatan
harus mampu dan mau terjun kedalam masyarakat untuk
memperdayakan kesehatan agar drajat kesehatan dalam masyarakat
dapat meningkat.
c. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapakan institusi pendidikan memberikan kemudahan dan
memberikan fasilitas bagi mahasiswa dalam menyusun tugas akhir
dengan cara memberikan litelature yang lengkap diperpustakaan agar
mahasiswa terbantu dengan adanya litelature yang lengkap dan
terbaru.
d. Bagi Puskesmas Sukorejo
Untuk puskesmas supaya lebih bisa membantu dan memfasilitasi bagi
bagi peneliti untuk penelitian. Terutama saat melakukan pengkajian
dan prosedur tindakan (dilengkapi dengan SOP) serta memberikan
sarana prasarana agar intervensi ini bisa diterapkan pada klien dengan
kusta sebagai upaya dalam mengatasi kerusakan integritas kulit.
e. Bagi Peneliti Selanjutnya
Supaya untuk lebih bisa memanfaatkan atau menggunakan waktu
yang lebih efektif, menggunakan sumbe-sumber bacaan yang terbaru
dan lebih lengkap lagi sehingga dapat memberikan dan menyusun
asuhan keperawatan keluarga pada keluarga secara optimal, khususnya
untuk klien kusta dengan kerusakan integritas kulit dengan merawat
luka secara mandiri.