Anda di halaman 1dari 2

Pasangan Sempurna

Waktu menunjukan pukul 10.00 siang. Ini merupakan waktu ku untuk


mengistirahatkan sejenak pikiran yang sedari tadi sudah mengirimkan sinyal lapar
dari perut,namun sebelum beranjak ke kantin aku hendak pergi ke toilet terlebih
dahulu. Tanpa menunggu waktu lama aku pun bergegas ke toilet untuk segera
menghindari percakapan-percakapan ricuh di kelas pada saat jam istirahat.
“indira !” teriak seorang perempuan di belakang ku, aku pun melirik kearah suara
tersebut dan ternyata itu adalah Dian sahabatku, kami berada di kelas yang
berbeda. Dian mengajakku untuk pergi membeli buku sore ini, aku pun
mengiyakan ajakan nya barusan.lalu kembali berjalan menuju toilet.
Ketika aku melewati koridor menuju toilet mataku tertuju pada sepasang
sejoli yang hendak berjalan bersama. Aku cukup mengenal pasangan tersebut
bagaimana tidak, yang satu tampan dan yang satu nya lagi cantik, membuat
para siswa yang melihat iri seketika. Namanya Revan dan Sofie, mereka dijuluki
pasangan sempurna di sekolah. Saat mereka berjalan kulihat Sofie yang tak
sengaja menyenggol Bu Mirna, sehingga sampah-sampah yang diakut Bu Mirna
pun berserakan, tanpa mengucapkan kata maaf buru-buru Sofie mengajak
Revan untuk pergi meninggalkan Bu Mirna yang sedang kesusahan. Akupun cepat
membantu Bu Mirna. “Bu Mirna gak papa?” tanyaku sambil membereskan
sampah yang berserakan, “enggak nak, makasih sudah membantu” jawabnya.
Jujur aku marah dengan sikap Sofie barusan, tak kusangka dia akan bertindak
seenaknya.
Keesokan harinya Aku memulai aktivitas ku kembali di sekolah, tapi aku
ingin pergi ke kantin terleih dahulu untuk sekedar membeli sarapan. Saat di
kantin aku pun memesan roti bakar, namun pada saat itu dengan mendadak
sofie membalikan badannya sehingga minuman yang ia pegang jatuh mengotori
baju seragamku. Sofie yang menyadari keberadaanku langsung kaget. “ngapain
sih disitu? Jadi tumpahkan minumanku !!” bentak Sofie. “loh harusnya kamu dong
yang hati-hati !” jawabku dengan nada yang tegas. Kami cekcok di kantin, sampai
akhirnya Revan datang untuk menghentikan percekcokan kami berdua dengan
cara mengajak Sofie untuk bergegas pergi, disitu Aku kecewa kepada Revan
karena seharusnya ia memihak padaku yang menjadi korban. Namun apalah
dayaku yang hanya sebatas orang lain di hadapannya.
Jam pulang pun tiba, hari ini Dian mengajakku untuk pulang bersama “oh
yaa, tadi Revan Tanya tetang kamu dan katanya sih pengen ngobrol.” Ucap Dian
yang sontak membuatku sedikit kaget. Aku pun mengiyakannya. Dian langsung
mengantarku menuju revan. Melihat kedatanganku Revan langsung menyapa
namaku. Tanpa basa-basi ia meminta maaf atas perlakuan Sofie padaku di
kantin tadi. Dan betapa kagetnya aku ketika Revan menyatakan bahwa ia telah
memutuskan hubungannya dengan Sofie. Aku tak menyangka ternyata kisah
pasangan sempurna se Sekolah itu pun berakhir. Revan mengungkapkan bahwa
Sofie itu memiliki karakter yang kurang baik dibalik kecantikan fisiknya. Dan
perihal kejadian di kantin tadi bukan ia tidak mau membelaku tetapi karena ia
tidak ingin menambah keributan diantara kami berdua karena sudah jelas Sofie
yang salah pun malah memarahiku bukan meminta maaf apalagi jika Revan
memarahinya dan membelaku saat itu, mungkin Sofie akan mengamuk ?
Setelah percakapan itu Revan tersenyum padaku dan mengulurkan
tagannya untuk menjadikanku sebagai teman baru nya, sebagai bentuk
persetujuan Aku pun menjabat tangannya. Tanpa kusadari ketika kedua mataku
melirik ke arah belakang Revan Aku melihat Sofie dengan raut muka yang
menunjukan kemarahan, seperti ingin mengatakan bahwa aku harus menjauh
dari Revan, namun aku mengacuhkannya karena diantara mereka sudah tidak
ada lagi ikatan pasangan. Aku tidak peduli jika Sofie akan mengancam atau
memarahiku, karena bukan hanya aku saja tapi perempuan lain juga bisa
mendekati atau menyukai Revan karena Sofie sudah tidak berhak untuk
melarang atau mengatur Revan lagi.
Seketika aku tahu bahwa pasangan yang sempurna bukanlah pasangan
yang hanya sama-sama memiliki kesempurnaan secara fisik saja. Tapi pasangan
yang sederhana namun saling memacarkan kebahagiaan dari hatinya.
Sebenarnya akupun mensyukuri diriku yang masih belum membagi hatiku pada
pria lain,karena aku lebih nyaman untuk sendiri dan fokus memikirkan masa
depanku.