Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PAPER KEPERAWATAN JIWA

TERAPI SOMATIK

Kelompok 2:

1. Annisa Triwijaya Tumuyu (P3.73.20.2.17.002)


2. Arya Cupal Gustiayo (P3.73.20.2.17.004)
3. Deby Fitriayuningsih (P3.73.20.2.17.010)
4. Desy Nurohma Aviyanti (P3.73.20.2.17.011)
5. Gita Savitri (P3.73.20.2.17.017)
6. Salsabila Rizqi Narendra (P3.73.20.2.17.031)
7. Tammy Melliani (P3.73.20.2.17.035)
8. Yasinta Fadilasari (P3.73.20.2.17.040)

PRODI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III
2019
TERAPI SOMATIK

A. Pengertian Terapi Somatik

Terapi somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa
dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptif menjadi perilaku adaptif dengan
melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien.

Penerapan terapi biologis atau terapi somatic didasarkan pada model medicaldi mana
gangguan jiwa dipandang sebagai penyakit. Ini berbeda denganmodel konsep yang lain yang
memandang bahwa gangguan jiwa murni adalahgangguan pada jiwa semata, tidak
mempertimbangkan adanya kelainan patofisiologis.

Tekanan model medical adalah pengkajian spesifik dan pengelompokkasn gejala dalam
sindroma spesifik. Perilaku abnormaldipercaya akibat adanya perubahan biokimiawi tertentu.
Terapi inimemfokuskan penyembuhan klien dengan bantuan obat-obatan yang berfungsi
sebagai anti depresi.

B. Jenis-Jenis Terapi Somatik Pada Klien Gangguan Jiwa


1. Pengikatan (Restrain)
Merupakan tindakan yang paling lama dalam sejarah perawatan jiwa. Pengikatan
dilakukan dengan rantai, diikat di pohon atau dipasung.
a. Tujuan pengikatan

Untuk mengamankan lingkungan dari perilaku pasien yang tidak terkontrol.


Saat ini tindakan yang sama masih tetap dilakukan, hanya peralatannya sudah lebih
aman dan perlakuan juga manusiawi.

b. Alat pengikat

Alatnya berupa kamisol, jaket, ikatan pada pergelangan kaki atau tangan dan
berupa selimut yang dililitkan. Pada saat akan diikat, perawat mengatakan alasan
pengikatan walaupun pasien belum tentu dalam keadaan siap mendengar. Perhatikan
ikatan agar tidak melukai pasien dan harus dibuka secara periodik agar tidak terjadi
kontraktur dan dapat digerakan. Setelah pasien sadar, alasan pengikatan disampaikan
lagi, kemudian didiskusikan penyebab pasien marah agar bisa diatasi. Pengikatan
janganlah menjadi senjata untuk menakuti pasien atau menjadi hukuman bagi pasien.
Perlakuan terhadap pasien harus manusiawi karena pasien dilindungi oleh hukum dan
peraturan tentang hak-hak azazi manusia.

c. Alasan pengikatan
1) Menghindari risiko menciderai diri sendiri atau orang lain.
2) Pengobatan yang untuk menurunkan perilaku agresif sudah tidak mempan lagi.
3) Mencegah jatuh pada pasien yang sedang bingung.
4) Agar pasien bisa istirahat.
5) Pasien minta sendiri agar perilakunya bisa terkontrol.
d. Indikasi pengikatan yaitu:
1) Perilaku amuk.
2) Perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan.
3) Ancaman terhadap infegritas fisik.
4) Permintaan pasien untuk pengendalian perilaku eksternal.

2. Seklusi

Seklusi adalah bentuk terapi yang mengurung klien dalam ruangan khusus. Klien
tidak dapat meninggalkan ruangan tersebut secara bebas. Bentuk siklus dapat berupa
pengurungan diruangan tidak terkunci sampai pengurungan dalam ruangan yang terkunci
dengan kasur tanpa seprei, tergantung dari tingkat kegawatan klien. Indikasi yaitu dengan
perilaku kekerasa yang membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Kontraindikasi
a. Resiko tinggi bunuh diri
b. Klien dengan gangguan social
c. Kebutuhan untuk observasi masalah medis
d. Hukuman
3. Fototerapi
Fototerapi atau sinar adalah terapi somatic pilihan. Terapi ini diberikan dengan
memaparkan pada klien terang. Terapi ini dapat menurunkan 75% gejala depresi yang
dialami klien depresi musim dingin atau gangguanefektif musiman.Efek samping yang
terjadi setelah dilakukan dapat berupa nyeri kepala,insomnia, kelelahan, mual, mata
kuning, keluar sekresi dari hidung atausinus.
Fototerapi atau terapi sinar adalah terapi somatic pilihan.Terapi ini diberikan
dengan memaparkan klien pada sinar terang (5 – 20 kali lebih terang dari sinar ruangan).
Klien diminta duduk dengan mata terbuka 1,5 meter, di depan klien diletakkan lampu
flouresen spectrum luas setinggi mata. Waktu dan dosis terapi ini bervariasi pada tiap
individu. Beberapa klien berespon jika terapi diberikan pagi hari, sementara klien lain
bereaksi kalau dilakukan terapi pada sore hari. Semakin sinar terang, semakin efektif
terapi per unit waktu. Foto terapi berlangsung dalam waktu yang tidak lama namun cepat
menimbulkan efek terapi.Kebanyakan klien merasa sembuh setelah 3-5 hari tetapi klien
dapat kambuh jika terapi dihentikan.Terapi ini menimbulkan 75% gejala depresi yang
dialami klien depresi musim dingin atau gangguan afektif musiman. Efek samping yang
terjadi setelah dilakukan terapi dapat berupa yeri kepala, insomnia, kelelahan, mual, mata
kering, keluar sekresi dari hidung atau sinus dan rasa lelah dari mata.
Pada klien depresi memerlikan waktu 6-12xuntuk mencapai perbaikan, sedangkan
pada mania dan kakatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu antara 10-20x
terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 kari sekali. Jika efektif,
perubahan perilaku mulai terlihan setelah 2-6 kali terapi.Terapi ETC merupakan prosedur
yang hanya digunakan pada keadaan direkomendasikan.
a. Indikasi penggunaan fototerapi :
Fototerapi dpt menurunkan 75% gejala depresi yg dialami klien akibat perubahan
cuaca (seasonal affective disorder(SAD)), misalnya pada musim hujan atau musim
dingin(winter) di mana terjadi hujan, mendung terus menerus yg bisa mencetuskan
depresi pd beberapa org.
b. Mekanisme Kerja :
Fototerapi bekerja berdasarkan ritme biologis sesuai pengaruh cahaya gelap terang
pada kondisi biologis. Dengan adanya cahaya terang terpapar pada mata akan
merangsang sistem neurotransmiter serotonin & dopamin yang berperanan pada
depresi.
c. Efek Samping
Kebanyakan efek samping yang terjadi meliputi ketegangan pada mata, sakit kepala,
cepat terangsang, insomnia, kelelahan, mual, mata menjadi kering, keluar sekresi dari
hidung dan sinus

4. ECT (Electro Convulsif Therapy)


ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. Tindakanini adalah bentuk
terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkan pada
pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall.Indikasi ECT merupakan prosedur
yang hanya digunakan pada keadaan yang dirokemendasikan.
a. ECT bisa dilakukan pada:
1) Pasien yang kekurangan gizi karena dikhawatirkan akan ada komplikasi medis
2) Pasien dengan penyakit jantung yang tidak bisa mentoleransi obat-obat anti
depresan
3) Pasien psikotik yang depresi dan tidak mempan lagi dengan obat
4) Pasien yang pda fase depresi tidak mempan lagi dengan obat
5) Pasien dengan katatonia, karena depresi, atau lesi pada otak
b. Risiko yang mungkin terjadi sudah sangat diminimalkan dengan peralatan yang baik,
seperti:
1) Risiko patah tulang bisa dihindari dengan pemakaian obat relaksan otot dan
anestesi.
2) Risiko apneu bisa dihindari dengan pemakaian bantuan oksigen dan staf yang
sudah terlatih untuk mengatasinya.
3) Dampak pada kardiovaskuler adalah akut miokard, aritmia, henti jantung, gagal
jantung atau hipertensi.
Walaupun sebagai terapi ECT cukup aman, akan tetapi ada beberapa kondisi
merupakan kontra indikasi diberikan terapi ECT. Kondisi kondisi klien yang
kontra indikasi tersebut adalah:
1) Tumor intra kranial, karena ECT dapat meningkatkan tekanan intra kranial.
2) Kehamilan, karena dapat mengakibatkan keguguran.
3) Osteoporosis, karena dengan timbulnya grandmall dapat berakibat terjadinya
fraktur tulang.
4) Infark miokardium, dapat terjadi henti jantung.
5) Asthma bronkial, karena ECT dapat memperberat penyakit ini.
c. Indikasi penggunaan adalah:
1) Penyakit depresi berat yang tidak berespons terhadap obat antidepresan atau pada
pasien yang tidak dapat menggunakan obat
2) Gangguan bipolar dimana pasien sudah tidak berespons lagi terhadap obat
3) Pasien dengan buttuh diri akut yang sudah lama tidak menerima pengobatan untuk
dapat mencapai efek terapeutik
4) Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada efek terapi
pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung, dan selama
kehamilan
d. Peran Perawat dalam pemberian ECT
Perawat harus mengkaji pengetahuan dan pendapat pasien dan keluarganya tentang
ECT, memberikan penjelasan dan dukungan agar mereka tidak cemas. Langkah-
langkah yang harus diberikan adalah:
1) Memberikan dukungan emosi dn penjelasan kepada pasien dan keluarganya.
2) Mengkaji kondisi fisik pasien
3) Menyiapkan pasien
4) Mengamati respon pasien setelah ECT
5) Pastikan pasien atau keluarganya sudah memberikan inform consent.
e. Kontraindikasi
1) Peningkatan tekanan intra kranial
2) Keguguran pada kehamilan.
3) Gangguan system muskuloskaletal, osteoartisis berat, osteoporosis,fraktur Karena
kejang grandmall.
4) Gangguan kardiovaskuler, infrak miokardium, agina, hipertensi,aritmia dan aneu
risma
5) Gangguan system pernafasan, asma bronkial
6) Keadaan lemah
Pada klien depresi memerlikan waktu 6-12xuntuk mencapai perbaikan, sedangkan
pada mania dan kakatonik membutuhkan waktu lebih lama yaitu antara 10-20x
terapi secara rutin. Terapi ini dilakukan dengan frekuensi 2-3 kari sekali. Jika efektif,
perubahan perilaku mulai terlihan setelah 2-6 kali terapi.Terapi ETC merupakan prosedur
yang hanya digunakan pada keadaan direkomendasikan.

5. Terapi Derivate Tidur


Terapi derivasi tidur adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan cara
mengurangi jumlah jam tidur klien. Hasil penelitian ditemukan bahwa 60% klien depresi
mengalami perbaikan yang bermakna setelah jam tidurnya dikurangi selama 1 malam.
Umumnya lama pengurangan jam tidur efektif sebanyak 3,5 jam.
Indikasi Terapi deprivasi tidur dianjurkan untuk klien depresi. Mekanisme kerja
terapi deprivasi tidur ini adalah mengubah neuroendokrin yang berdampak anti depresan.
Dampaknya adalah menurunnya gejala-gejala depresi. Efek sampingnya klien yang
didiagnosa mengalami gangguan efektif tipe bipolar bila diberikan terapi ini dapat
mengalami gejala mania.
a. Indikasi:
Terapi deprivasi tidur dianjurkan untuk klien depresi.
b. Mekanisme Kerja:
Mekanisme kerja terapi deprivasi tidur ini adalah mengubah neuroendokrin yang
berdampak anti depresan. Dampaknya adalah menurunnya gejala-gejala depresi.
c. Efek Samping:
Klien yang didiagnosa mengalami gangguan efektif tipe bipolar bila diberikan terapi
ini dpt mengalami gejala mania.