Anda di halaman 1dari 3

Landasan ekonomi Islam berdasarkan:

1. Al Qur’an

Ada beberpa ayat dari al-Qur’an mengenai prinsip-prinsip dasar ekonomi, tidak hanya prinsip
dasar ekonomi Islam aspek ekonomi lain seperti menciptakan kesejahteraan agama dan sosialis,
kewajiban manusia bekerja dan mengakui kepemilikan individual. Ayat-ayat mengenai aspek tersebut
akan di bahas selanjutnya.1
Pada QS. Al-Hadid /57:5 Allah swt., berfirman:
)5 ( ُ ‫َّللاِ ت ُ ْر َج ُع ْاْل ُ ُم‬
‫ور‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
َّ ‫ض َوإِلَى‬ َّ ‫لَهُ ُم ْلكُ ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬
Terjemahnya:
Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.
Kata (‫ )أمور‬umu>r/urusan adalah bentuik jamak dari kata amr. Menurut thahir ibnu ‘Asyur,
kata ini popular dalam arti nama dari apa yang menunjuk kepada peristiwa tau kejadian sehingga ia
mencakup perbuatan dan ucapan. Jika demikian, makna firmannya: ‫مور‬ ُُ‫اْل‬
‫ُ أ‬ ‫أج‬
‫َع‬ ‫تر‬ َ‫هَلى ا‬
ُ ‫ّلله‬ ‫ إ‬adalah
kepada Allah kembalinya perbuatan-perbuatan (dan ucapan-ucapan) manusia, yakni pada saat
kebangkitan nanti. Yang denganny adalah kembali pelaku-pelaku perbuatan itu untuk diberi balasan
dan ganjaran.2
Terkait dengan ayat tersebut Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah /2:29:
‫س َم َاوات‬ َ ‫س َّوا ُه ََّّن‬
َ ‫س ْْب َع‬ َ َ‫اِء ف‬
ِ ‫س َم‬ ِ ‫ُه َو الَّذِي َخلَقَ لَ ُك ْم َما ِفي ْاْل َ ْر‬
َّ ‫ض َج ِميعًا ث ُ َّم ا ْست َ َوى ِإلَى ال‬
)29( ‫ع ِليم‬َ ‫َيِء‬ ْ ‫َو ُه َو بِ ُك ِل ش‬
Terjemahnya:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Firrnan-Nya: Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dipahami oleh
banyak ulama sebagai menunjukkan bahwa pada dasarnya segala apa yang terbentang di bumi ini dapat
digunakan oleh manusia, kecuali jika ada dalil lain yang melarangnya. Sebagian kecil ulama’memahami
demikian. Mereka mengharuskan adanya dalil yang jelas untuk memahami boleh atau tidaknya sesuatu,
bahkan ada juga yang berpendapat bahwa pada dasarnya segala sesuatu terlarang kecuali kalau ada dalil
yang izin menggunakannya.
Dari kedua ayat di atas dapat di pahami bahwa kehidupan yang dijalani oleh manusia adalah
perjalanan sementara. Karena itu, kaitannya dengan muamalah terutama persoalan prinsip-prinsip
ekonomi perlu berhati-hati agar tidak keluar dari jalur atau tuntunan Islam (al-Qur’an dan Sunnah
Nabi).
Sebagai ekonomi yang berbasis syariat Islam tentunya memiliki beberapa prinsip yang nantinya
akan menjadi rujukan bagi setiap muslim. Adapun prinsip ekonomi antara lain dijelaskan pada firman
Allah swt., dalam Surah al-Maidah ayat 2 yang terjemahnya sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan
melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya,
dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi
Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram,

1http://imaesjambi.blogspot.com/2012/12/prinsip-prinsip-dasar-ekonomi-islam.html.

2M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid XIII, h. 406.


mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.3
Sabab al-nuzul ayat ini antara lain; Ibnnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis dari Ikrimah yang
telah bercerita: “Bahwa Hatman bin Hindun al-Bakri datang ke Maadinah berserta kafilahnya yang
membawa bahan makanan. Kemudian ia menjual, lalu masuk ke Madinah menemui Nabi saw. Setelah
itu ia membaiatnya dan masuk Islam. Tatkala ia pamit untuk pulang, Nabi memandangnya dari
belakang kemudian beliau bersabda kepada orang-orang yang berada di sektiarnya, “ Sesungguhnya ia
telah mengahadap kepadaku dengan muka yang terpampang durhaka, dan ia pamit dengan muka yang
khianat.” Tatkala al-Bakri sampai di Yamamah, ia kembali murtad dari agama Islam . Kemudian pada
bulan zulkaidah ia keluar bersama khalifahnya dengan tujuan Mekah. Tatkala para sahabat Nabi saw.,
mendengar beritanya maka golongan sabah dari kaum muhajirin dan kaum ansor bersiap-siap keluar
Madinah untuk mencegat yang berada dalam kalifahnya itu. Kamudian Allah swt., menurunkan ayat,
hai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah. Kemudian para sahabat
mengurungkan niatnya (demi menghormati bulan haji). Hadis serupa ini telah ditemukan pula oleh
Asadiy.” Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Zaid bin Adlam yang mengatakan, “Bahwa Rasulullah
saw. besama para sahabat tatkala berada di Hudaibiyah, yatu seawaktu orang-orang musyrik dari
penduduk sebelah timu jazirah arab lewat untuk tujuan melakukan umrah. Para sahabt Nabi Saw
barkata, ‘Marilah kita mengahalangi mereka sebagaimana (teman-teman mereka) mereka pun
menghalanngi kita.’4 Kemudian Allah menurunkan ayat tersebut.
Allah juga mengharamkan mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah untuk
mencari karunia dan keridhaanNya. Mereka adalah orang-orang yang mengunjungi Baitul Haram
untuk melakukan perdagangan yang halal dan mencari keridhaan Allah dengan melakukan haji atau
lainnya. Allah memberikan keamanan kepada mereka di Baitul Haram-Nya. Kemudian dihalalkanlah
berburu setelah habis masa ihram, di luar Baitul Haram, sedangkan berburu di Baitul Haram tetap
tidak diperbolehkan. Ini adalah kawasan keamanan yang ditetapkan Allah di Baitul Haram-Nya.5
Pada ayat tersebut di atas, menerangkan bahwa prinsip ekonomi yaitu: menciptakan
kesejahteraan agama dan sosial. Agama Islam adalah agama yang damai, untuk itu dalam aspek
ekonomi, jika ada orang yang berniaga dan ia beraniaya, maka Allah melarang hal aniaya tersebut.
Semua ini membuktikan bahwa Islam sangat mengedepankan aspek kesejahteraan dalam agama dan
juga sosial.
Ekonomi Islam berfungsi sosial. Islam jika dilihat dari pribahasa adalah muamalah,
perhubungan hidup yang dipertalikan oleh materi dan inilah yang dinamakan ekonomi. Muamalah
Adabiyyah ialah pergaulan hidup yang dipertalikan oleh kepentingan moral, rasa kamanusiaan, dan
ini yang dinamakan sosial.6
Berdasarkan pengertian yang luas ini, Ali Fikri mengarang beberapa jilid buku yang berjudul
al-Muamalat. Ia memandang bahwa soal ekonomi atau muamalah maddiyah sangat sukar, tetapi
memegang peranan penting sekali, karena berhubungan dengan benda dan uang yang sangat dicintai

3QS. Al-Maidah /5:2.


4Jalaluddin aS-Suyuthi. Asbabun Nuzul: sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an. Diterjemahkan oleh Tim Abdul Haayi,
(Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2008). h. 212.
5Shihab, M. Quraish,. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. (Volume 5. Jakarta: Lentera Hati.

2002). h. 202.
6Muhammad Zakky Al-Kaff, Ekonomi Dalam Prespektif Islam. h. 16.
dan berkuasa di hati manusia. Ekonomi itulah sumber segala pekerjaan, pusat dari susunan alam, dan
dengan ekonomi pula, manusia mencapai tingkat yang paling tinggi dari kemajuan dan kebahagian.
Pengakuan akan kepemilikan dalam Islam memiliki beberap konsep yaitu:7 kepemilikan adalah
suatu ikatan seseorang dengan hak miliknya yang disyahkan syariah. Menurut hukum dasar yang
namanya harta, sah dimiliki kecuali harta-harta yang telah disiapkan untuk kepentingan umum. Sebab-
sebab kepemilikan dalam fiqh Islam terjadi karena:
1. Menjaga Hukum
2. Transaksi Pemindahan Hak
3. Pergantian Posisi Pemilikan
Diantra hal yang ugen, kaitannya dengan Prinsip Ekonomi yaitu Prinsip Produksi Ekonomi
yang berbasis Islam.
Dalam literatur ekonomi Islam berbahasa arab produksi adalah “Intaj” dari kata Nataja\. Dr.
Muhammad Rawwas Qalahji juga memberikan padangan kata “produksi” dalam bahasa Arab
dengan kata “Al-Intaj” yang secara harfiyah dimaknai dengan Ijadu Sil’atin “mewujudkan atau
mengadakan sesuatu” atau Khidmatu Mu’ayyanatin bi Istikhdami Muzayyajin min ‘Anashir al-Intaj Dhamina
Itharu Zamanin Muhaddadin “pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan
unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas”.
“Taqiyuddin Al-Nabhani”, dalam mengantarkan pemahaman tentang “produksi”, ia lebih suka
memakai kata istishna’ untuk mengartikan “produksi” dalam bahasa Arab.8
a.

7Sayyid Syekh, Teori Ekonomi Islam Prespektif Mikro dan Makro. Jurnal dan Diktat amata kuliyah Jurusan

Ekonomi Islam Pasca Sarjana IAIN STS Jambi 2012. h. 29.


8http://makalah-perkuliah.blogspot.com/2012/06/prinsip-produksi-ekonomi-islam.html.