Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KEBIJAKAN PUBLIK

NAMA : INDAH LESTARI

NIM : 1765342015

MATA KULIAH: KEBIJAKAN PUBLIK

PRODI : ILMU ADMINISTRASI NEGARA KELAS PARE-PARE

BAB III MODEL DAN PENDEKATAN TEORITIK

KEBIJAKAN PUBLIK

 Beberapa Model dalam Analis Kebijakan Publik

Model itu sendiri sebenarnya merupakan representasi teori yang disederhanakan


tentang dunia nyata. Ia lebih merujuk pada sebuah konsep atau bagan untuk
menyederhanakan realitas. Berbeda dengan teori yang kesahihannya telah dibuktikan
melalui pengujian empiris. Jadi dapat dikatakan model adalah isomorfisme antara dua
atau lebih teori empiris, sehingga model sering kali sulit untuk diuji kebenarannya
dilapangan. Namun demikian, meskipun model belum menjadi teori empiris, model
tetap dapat digunakan sebagai pedoman yang sangat bermanfaat dalam penelitian,
terutama penelitian yang bertujuan untuk mengadakan penggalian ataupun penemuan-
penemuan baru. Jika dilihat dari fungsinya, perbedaan antara teori empiris dengan
model adalah teori empiris difungsikan untuk menjelaskan gejala sosial, sedangkan
model menjadi pedoman untuk menemukan dan mengusulkan hubungan antara konsep-
konsep yang digunakan untuk mengamati gejala sosial.

 Model Elitis

Thomas Dye dan Harmon Ziegler dalam The Irony of Democracy memberikan suatu
ringkasan pemikiran menyangkut model ini, sebagai berikut:

1 Masyarakat terbagi dalam suatu kelompok kecil yang mempunyai kekuasaan


(power) dan massa yang tidak mempunyai kekuasaan. Hanya sekelompok kecil
saja orang yang mengalokasikan nilai-nilai untuk masyarakat sementara massa
tidak memutuskan kebijakan.
2 Kelompok kecil yang memerintah itu bukan tipe massa yang dipengaruhi. Para
elite ini (the ruling class) biasanya berasal dari lapisan masyarakat yang
ekonominya tinggi.
3 Perpindahan dari kedudukan non-elite ke elite sangat pelan dan
berkeseimbangan untuk memelihara stabilitas dan menghindari revolusi. Hanya
kalangan non-elite yang telah menerima konsesus elite yang mendasar yang
dapat diterima ke dalam lingkaran yang memerintah.
4 Elite memberikan konsensus pada nilai-nilai dasar sistem sosial dan
pemeliharaan sistem.
5 Kebijakan publik tidak merefleksikan tumtutan-tuntutan massa, tetapi nilai-nilai
elite yang berlaku.
6 Para elite secara relatif memperoleh pengaruh langsung yang kecil dari massa
yang apatis. Sebaliknya, para elite memengaruhi massa yang lebih besar.

Model kebijakan elitis menuai banyak kritik. Salah satu di antaranya adalah
yang dilontarkan oleh Park. Menurutnya, jika dikatakan benar bahwa kebijak publik
tidak merefleksikan tuntutan-tuntutan dari masyarakat luas, namun justru mereflisikan
nilai-nilai elite yang berlaku, pertanyaan kritis lain adalah siapa yang memainkan peran
penting? Teori-teori elitisme berdampak pada perumusan kebijakan mempunyai
validitas dalam proposisi mereka, tetapi proposisi bahwa masyarakat luas mempunyai
pengaruh kecil atau bahkan tidak ada dalam perumusan kebijakan sangat sulit diterima.

Sementara itu Anderson berpendapat kurang lebih sama dengan apa yang
dikatakan Park. Anderson mengatakan walaupun model ini dapat berguna untuk
menjelaskan kebijakan yang berlangsung di negara-negara otoriter, tetapi model ini
bersifat agak provokatif. Dalam pandangan model ini, kebijakan merupakan produk
elite, mereflesikan nilai-nilai mereka dan membantu tujuan-tujuan mereka. Walaupun
salah satu dari tujuan-tujuan itu mungkin merupakan keinginkan untuk memberikan
kesejahteraan massa.

Singkatnya, model elite lebih memusatkan perhatian pada peran kepemimpinan


dalam pembentukan kebijakan-kebijakan publik.

 Model Pluralis dan Neo-Pluralis


Berkebalikan dengan model elite yang titik perhatiannya lebih bertumpu pada
elite politik, maka model pluralis lebih percaya pada peran subsistem-subsistem yang
berada dalam sistem demokrasi. Dalam pandangan kaum pluralis, kebijakan publik pada
dasarnya adalah hasil dari persaingan bebas antara ide dan kepentingan.

Dalam Who Governs, yang ditulis oleh Dahl (1961), dia melakukan modifikasi
terhadap pandangannya terkait dengan pluralisme. Modifikasi ini kemudian
membedakan pandangan pluralisme awal, dengan pluralisme baru atau neopluralisme.
Menurut Dahl, nilai dan prinsip yang dianut oleh kaum pluralis terbukti lebih kokoh
(kerangka normatif), namun kerangka analisisnya memasukkan sejumlah kritik dari
kaum Marxis maupun kaum elitis pada era tahun 1960-an. Selain Dahl, sebagai
pendukung utama “neo-pluralisme” adalah Charles Lindblom. Menurut Lindblom,
pembuatan kebijakan publik harus dikaitkan dengan konsep “pemecahan” atau
“muddling through”.

 Beberapa Pendekatan Teoritik Kebijakan Publik


1. Pendekatan Kelompok

Beberapa kontributor utama dari pendekatan teoritik kelompok terhadap sistem


politik dan kebijakan publik adalah: Arthur Bently (1908), The Process of Government,
David Truman (1951), The Governmental Process, Earl Latham (1952), The Group
Basic of Politic. Di kalangan para teoritis kelompok terdapat pandangan yang sama
tentang konsep kelompok. Menurut mereka, kelompok-kelompok adalah the ultimate
“real” of politics.

Pendekatan ini mempunyai kelemahan, yakni terlalu merehmekan peranan bebas


dan kreatif yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah dalam proses pembuatan
kebijakan publik. Ini disebabkan oleh perhatiannya yang terlalu berlebihan terhadap
peran kelompok-kelompok dalam sistem politik. Oleh karena itu, menganalisis
kebijakan publik hanya mendasarkan pada pendekatan kelompok menjadi agak kurang
memadai tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang memengaruhi proses pembuatan
kebijakan publik.
Besar kecilnya pengaruh kelompok-kelompok tersebut ditentukan oleh jumlah,
kekayaan, kekuatan organisasi, kepemimpinan, akses terhadap para pembuat keputusan
dan kohesi dalam kelompok.

2. Pendekatan Proses Fungsional

Harold Lasswell mengemukakan 7 kategori analisis fungsional yang dapat


digunakan Sebagai dasar bagi pembahasan teori fungsional.

a. Intelegensi
b. Rekomendasi
c. Preskripsi
d. Permohonan
e. Aplikasi
f. Penilaian
g. Terminasi

Dengan analisis ini mempunyai beberapa keuntungan. Pertama, desain ini tidak
terikat pada lembaga-lembaga atau peraturan-peraturan politik khusus. Kedua, desain
analisis ini memberi keuntungan untuk analisis komparasi pembentukan kebijakan.

Namun demikian, desain ini juga mempunyai kelemahan. Penekanannya pada


kategori-kategori fungsional mungkin akan menyebabkan pengabaian terhadap politik
pembentukan kebijakan dan pengaruh variabel-variabel lingkungan dalam proses
pembuatan kebijakan publik. Dalam bahasa yang lebih ringkas, kita dapat mengatakan
bahwa pembentukan kebijakan lebih dari sekedar proses intelektual.

3. Pendekatan Kelembagaan (Institusionalisme)

Dalam pandangan Anderson, pendekatan lembaga tidak merupakan pendekatan


yang sempit atau bersifat deskriptif karena seorang ilmuan dapat saja menanyakan
hubungan-hubungan yang terjadi antara aturan-aturan lembaga dan substansi kebijakan
publik.

Pendekatan ini juga mempunyai kelemahan sebagaimana pendekatan-


pendekatan yang lain. Kelemahan yang paling mencolok adalah bahwa pendekatan
lembaga dalam ilmu politik tidak mencurahkan perhatian yang banyak pada hubungan
antar struktur lembaga-lembaga pemerintah dan substansi kebijakan publik. Kebijakan-
kebijakan publik kadang-kadang dijelaskan, tetapi jarang dianalisis dan hubungan antara
struktur dan kebijakan publik secara luas tidak diseidiki.

4. Pendekatan Peran serta Warga Negara

Teori peran serta warga negara didasarkan pada harapan-harapan yang tinggi
tentang kualitas warga negara dan keinginan mereka untuk terlibat dalam kehidupan
publik.

5. Pendekatan Psikologis

Pokok perhatian pendekatan ini diberikan pada hubungan antarpribadi dan


faktor-faktor kejiwaan yang memengaruhi tingkah laku orang-orang yang terlibat dalam
proses pelaksanaan kebijakan. Individu-individu selama dalam proses pelaksanaan
kebijakan tidak kehilangan diri, tetapi sebaliknya mereka dianggap sebagai peserta yang
sangat penting yang memainkan peran penting dalam pembentukan kebijakan.

 Serta 11 Pendekatan yang dikemukakan oleh Lester dan Stewart yaitu:


1. Pendekatan Proses
Dalam pendekatan ini, masalah-masalah masyarakat pertama-tama diakui
sebagai suatu isu untuk dilakukan tindakan, dan kemudian kebijakan ditetapkan,
diimplementasikan oleh para pejabat agensi, dievaluasi, dan akhirnya
diterminasi atau diubah atas dasar keberhasilan atau kekurangannya.
2. pendekatan Substansif
Dalam pandangan Lester dan Stewart, substansi adalah penting, karena bisa
memberikan seseorang suatu wawasan tentang persoalan-persoalan yang
ditanyakan dalam melakukan suatu analisis kebijakan.
3. Pendekatan Logical-Positivist
pendekatan ini seringkali disebut sebagai pendekatan perilaku atau pendekatan
keilmuan. Pendekatan ini telah berlangsung selama lebih dari 50 tahun, dan telah
menjadi pendekatan epistemologi yang dominan dalam ilmu politik. Pendekatan
ini menuai kritik, pendekatan ini tidak memberi kemungkinan untuknya sebagai
suatu teknik analisis yang sangat canggih.
4. Pendekatan Ekonomerik
Pendekatan ini kadangkala dinamakan pendekatan pilihan publik atau
pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ini beranggapan bahwa orang mengejar
preferensi-preferensi mereka yang berbobot tetap, terlepas hasil-hasil kolektif.
5. Pendekatan Fenomologik (postpositivist)
Pendekatan ini lebih menekankan pada kepeduliannya pada ketaatan keilmuan
dengan intuisi dan pembenaman secara menyeluruh dalam informasi yang
relavan.
6. Pendekatan Partisipatori
Pendekatan ini mencakup dengar pendapat terbuka secara ekstensif dengan
sejumlah besar warga negara yang mempunyai kepedulian .
7. Pendekatan Normatif atau Preskriptif
Dalam pendekatan ini, analisis perlu mendefinisikan tugasnya sebagai analis
kebijakan sama seperti orang yang mendefinisikan “end state”, dalam arti bahwa
preskripsi ini bisa diinginkan dan bisa dicapai.
8. Pendekatan Ideologik
Thomas Sowell menamakan pendekatan ideologi ini “visi” dan mengidentifikasi
dua perspektif yang bersaing. Pertama, “visi yang dibatasi” merupakan suatu
gambaran manusia egosentrik dengan keterbatasan moral. Kedua, “visi yang
tidak dibatasi” memberikan suatu pandangan tentang sifat manusia di mana
pemahaman dan disposisi manusia adalah mampu untuk memperoleh
keuntungan-keuntungan sosial.
9. Pendekatan Historis/Sejarah
Peneliti bisa melakukan penelitian tentang kebijakan-kebijakan publik dari
perspektif lima puluh tahun atau lebih. Hanya dengan meneliti kebijakan-
kebijakan publik dari titik pandang kurun waktu yang panjang analis bisa
memeroleh perspektif yang jauh lebih baik tentang pola-pola yang ada dalam
pembuatan kebijakan publik, baik misalnya di negara-negara maju, seperti di
AS,maupun di negara-negara berkembang, seperti di Indonesia.
10. Pendekatan Kebijakan Global
Wallerstein menyebut pendekatan ini sebagai sistem dunia. Dalam sistem global,
struktur dan proses saling berkaitan. Sistem global adalah sistem yang hierarkis,
di mana para aktor secara akut menyadari kedudukan dan status mereka, dan ini
menentukan apa yang bisa mereka lakukan.

Secara singkat bisa dikatakan globalisasi menjelaskan bahwa proses pembentukan


agenda dan kebijakan publik yang terjadi di tingkat global menjadikan semakin banyak
pula isu macam apa yang didektekan dan disusun oleh kekuatan-kekuatan neoliberal
dan lembaga-lembaga governance global dalam mengejar kepentingan mereka, di luar
kerangka pembuatan kebijakan publik nasional, khususnya di negara-negara
berkembang.

Semakin banyak negara yang terdesak untuk menerima kekuatan global untuk
membentuk opsi kebijakan, semakin besar pula kemungkinan negara-negara
mempertahankan atau memperoleh kemampuan mereka untuk menjadi berbeda.
Akibatnya, globalisasi mungkin menghasilkan lebih banyak pembuat keputusan.

11. Pendekatan Neo-Institusionalism


Menurut Akida Lida, munculnya perspektif baru neo-institusionalism ini
disebabkan banyak pakar mengatakan tindakan memanfaatkan global capitalism
diartikan sebagai menguatnya peran negara vis-a-vis pasar bebas yang
dikendalikan oleh ideologi mainstream kapitalisme.

Sementara itu, Vedi R Hadiz (2004) mengkritik kebijakan desentralisasi di


Indonesia, yang cenderung terjebak dalam pola pemikiran neo-institusionalism. Dalam
pandangannya, neo-institusionalism merupakan sebuah pemikiran di mana negara
seharusnya mengembangkan kebijakan-kebijakan publik, yang pro atau memfasilitasi
kekuatan pasar. Pemikiran neo-institusionalism berkembang dari pemikiran neo-klasik
bahwa pasar dan pilihan rasional individu di pasar menjadi penentu perkembangan
sosial-ekonomi pemerintah. Neo-institusionalism pro-negara “tertentu”, yaitu yang
membangun institusi-institusi yang memfasilitasi pasar.

Adopsi neo-institusionalism di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia


semestinya dibarengi oleh adopsi pengalaman keberhasilan bberapa negara lain.