Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

EMBRIOLOGI HEWAN

ANALISI SPERMATOZOA

Disusun oleh :

SHINTA MAHARANI

K4313065

KELOMPOK 7

KELAS A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2016
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

EMBRIOLOGI HEWAN

I. Judul
Analisis Spermatozoa
II. Tujuan
1. Untuk mengetahui struktir mikroskopis sel sperma melalui apus suspensi sperma
2. Untuk mengetahui pola pergerakan (motilitas) dari spermatozoa.

III. Alat dan Bahan


Alat:
1. Mikroskop
2. Alat tulis
3. Gelas beker
4. Hand cutter
5. Cawan petri
6. Gelas obyek
Bahan:
1. Marmut, katak, burung dara
2. NaCl fisiologis
3. Chloroform
4. Giemsa
IV. Prinsip Kerja

Pengamatan dan analisis spermatozoa pada praktikum kali ini adalah dengan mematikan
hewan uji terlebih dahulu dengan menggunakan chloroform. Hewan uji yang digunakan
antara lain adala Cavia cobaya (marmut), Columba livia (Burung dara), dan Buffo sp (Katak).
Bagian ventral hewan uji kemudian dipotong untuk diambil bagian cauda epididimis. Hal ini
dilakukan karena pada epididimus kauda sperma yang ada telah matang dan mengalami
pengaktifan gerak. Kemampuan pergerakan sperma disebut motilitas. Epididimis kauda
melekat ke satu sisi testis dari anterior ke posterior.dari luar tampak seperti pembuluh besar
berbentuk seperti satu pembuluh besar berbentuk seperti huruf S terbalik, sebetulnya ia terdiri
dari pembuluh (vas) yang melilit – lilit yang dibungkus oleh jaringan pengikat sehingga
menjadi satu bangunan. Terdiri atas tiga bagian caput, corpus, dan cauda. Caput ada di depan
tempat bermuara vasa efferensia. Corpus adalah bagian tengah dan memanjang ramping
disepanjang sisi testis. Cauda adalah bagian ujung atau ekor, berbentuk huruf U, ujungnya
bertemu vas deferens (Yatim, 1996).
Epididimis adalah tuba terlilit yang panjangnya mencapai 20 kaki (4 m sampai 6 m).
Epididimis terletak pada bagian dorsolateral testis, merupakan suatu struktur memanjang dari
bagian atas sampai bagian bawah testis. Organ ini terdiri dari bagian kaput, korpus dan kauda
epididimis. Bagian ini menerima sperma dari duktus eferen (Rugh, 1968). Epididimis
dimasukkan ke dalam larutan fisiologis yaitu NaCl (2 ml) dan dipotong-potong halus
sehingga terbentuk suspensi. NaCl digunakan karena merupakan larutan isotonik yang
menjaga sel histologi agar tidak rusak. Pencacahan atau memotong-motong halus epididimis
dilakukan agar sperma keluar dari epididimis kauda dan menghidari kerusakan spermatozoa
yang terlalu tinggi. Langkah selanjutnya yaitu dengan menentukan tujuan pengamatan,
apabila yang diamati adalah motilitas atau pergerakan maka cairan epididimis yang telah
menjadi suspensi diteteskan pada gelas objek cekung sebanyak 1-2 tetes kemudian diamati
dibawah mikroskop. Hal-hal yang dimati dibawah mikroskop antara lain adalah jarak gerakan
spermatozoa setiap detik dan arah atau keadaan spermatozoa. Pada pengamatan morfologi,
cairan yang berasal dari testis, epididimis, atau vas deferens hewan uji diambil kemudian
dilarutkan ke dalam NaCl fisiologis dan meneteskannya pada gelas objek yang bersih
menggunakan gelas objek yang lain dengan cara mengoleskan setipis mungkin (Apus).
Selanjutnya gelas objek berisi spesimen dikeringkan kemudian ditambah metanol dan
dikeringkan lagi. Menurut WHO laboratory manual for the examination and processing
human semen, methanol digunakan untuk mendehidrasi spermatozoa dan memudahkan untuk
pewarnaan. Pewarnaan dilakukan dengan menggunakan giemsa atau eosin selama 3-5 menit,
cuci dengan air mengalir, keringkan dan amati di bawah mikroskop. Eosin Y digunakan
untuk mewarnai sitoplasma manjadi merah muda. Air kran digunakan untuk merehidrasi
spesimen dan memudahkan pewarnaan yang membutuhkan air.

V. Data Pengamatan
Gambar Pengamatan Keterangan
Spermatozoa Columba livia 20x – Giemsa 1. Sperma
2. Kepala sperma
3. Ekor sperma

Spermatozoa Rana sp 40x 1. Kepala sperma


2. Badan Sperma
3. Ekor sperma

Spermatozoa Cavia cobaya 20x 1. Spermatozoa


2. Bagian kepala sperma
3. Ekor sperma
VI. Pembahasan

Reproduksi merupakan salah satu mekanisme yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk
mempertahankan kelestarian spesiesnya dari kepunahan. Reproduksi ada yang bersifat
aseksual dan ada yang bersifat seksual. Reproduksi seksual membutuhkan individu jantan dan
individu betina untuk melakukan reproduksi. Individu jantan akan mengeluarkan benih atau
spermatozoa yang akan memfertilisasi sel telur atau ovum dari individu betina.
Spermatozoa yang baik merupakan salah satu faktor dari fertilitas jantan. Spermatozoa
merupakan sisitem sito struktural yang motil dimana pembentukannya memerlukan kondisi
yang sangat baik secara internal dan eksternal agar terbentuk spermatozoa yang mampu
menetrasi sel telur secara sempurna.
Analisis spermatozoa merupakan suatu cara untuk mengevaluasi spermatozoa apakah
cukup fertile untuk memfertilisasi sel telur. Analisis spermatozoa dilakukan melalui beberapa
macam cara misalnya konsentrasi, morfologi, motilitas dan biokimia ejakulat.
Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat duktus eferen menuju kepala
epididimis. Epididimis merupakan pipa dan berkelok-kelok yang menghubungkan vas
eferensia pada testis dengan duktus eferen (vas deferen). Kepala epididimis melekat pada
bagian ujung dari testis dimana pembuluh-pembuluh darah dan saraf masuk. Badan
epididimis sejajar dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididimis selanjutnya
menjadi duktus deferen yang rangkap dan kembali ke daerah kepala. Epididimis berperan
sebagai tempat untuk pematangan spermatozoa sampai pada saat spermatozoa dikeluarkan
dengan cara ejakulasi. Spermatozoa belum matang ketika meninggalkan testikel dan harus
mengalami periode pematangan di dalam epididimis sebelum mampu membuahi ovum
(Frandson, 1992).
Jika spermatozoa terlalu banyak ditimbun, seperti oleh abstinensi (tak ejakulasi) yang
lama atau karena sumbatan pada saluran keluar, sel epididimis dapat bertindak phagocytosis
terhadap spermatozoa. Spermatozoa itu kemudian berdegenerasi dalam dinding epididimis.
Pada orang vasektomi, epididimis juga berperan untuk memphagocytosis spermatozoa yang
tertimbun terus-menerus (di samping makrofag). Terbukti spermatozoa yang diambil dari
daerah kaput dan korpus tak fertil, sedang yang diambil dari daerah kauda fertil; sama halnya
dengan spermatozoa yang terdapat dalam ejakulat (Yatim, 1994).
Spermatozoa adalah sel kelamin (gamet) yang diproduksi di dalam tubulus
seminiferus melalui proses spermatogenesis, dan bersama-sama dengan plasma semen akan
dikeluarkan melalui sel kelamin jantan. Menurut Rugh (1968), spermatozoa yang normal
terbagi atas bagian kepala yang bentuknya bengkok seperti kait, bagian tengah yang pendek
(middle piece), dan bagian ekor yang sangat panjang. Panjang bagian kepala kurang lebih
0,0080 mm, sedangkan panjang spermatozoa seluruhnya sekitar 0,1226 mm (122,6 mikron).
Kemampuan bereproduksi dari hewan jantan dapat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas
semen yang dihasilkan. Produksi semen yang tinggi dinyatakan dengan volume semen yang
tinggi dan konsentrasi spermatozoa yang tinggi pula. Sedangkan kualitas semen yang baik
dapat dilihat dari persentase spermatozoa yang normal dan motilitasnya (Hardjopranoto,
1995).
Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya beberapa ratus yang dapat
mencapai tuba falopii. Spermatozoa yang masuk kedalam alat genitalia wanita dapat hidup
selama tiga hari, sehinnga cukup waktu untukmengadakan konspsei, yaiut pertemuan inti
ovum dengan inti spermatozoa atau disebut juga fertilisasi dan membentuk zigot
(Manuba,1998).
 Macam-macam spermatozoa menurut struktur:
Ada 2 kelompok I. Tak berflagellum
II. Berflagellum
Sperma yang tak berflagellum terdapat pada beberapa jenis Evertebrata, yakni
Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Yang berflagellumlah yang umum terdapat pada hewan.
Flagellum itu ada yang satu (umum), ada yang dua (jarang) (Prasetyo, 2008).
Sperma yang berflagellum lazim memiliki bagian-bagian: kepala dan ekor. Kepala
sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum, dan membawa bahan genetis
yang akan diwariskan kepada anak cucu. Ekor untuk pergerakan menuju tempat pembuahan
dan untuk mendorong kepala menerobos selaput ovum. Dalam kepala ada inti dan akrosom.
Inti mengandung bahan genetis, akrosom mengandung berbagai enzim lysis. Akrosom ialah
lisosom spermatozoon, untuk melysis lendir penghalang saluran kelamin betina dan selaput
ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh alat golgi (Toelihere,
1981).
Ekor berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar, disebut axonema,
dibina atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor mengandung sentriol (sepasang),
mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007).
 Macam spermatozoa menurut kromosom kelamin
Sesuai dengan adanya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang bersistem XY
(umum pada Vertebrata), maka dalam spermatozoa jadi haplon pada proses meiosis,
terbentuklah spermatid yang di sepihak hanya mengandung salah satu kedua macam
kromosom itu: X atau Y. Terbentuklah sperma yang hanya mengandung kromosom kelamin
X, disingkat sperma-X; lalu ada sperma yang hanya mengandung kromosom kelamin Y,
disingkat sperma-Y (Yatim, 1996).
Banyak dihasilkan
Spermatozoa dihasilkan terus-menerus tiap hari. Tapi bagi hewan yang memiliki
musim kawin penghasilan itu lebih kentara giat jika tiba musim itu. Ada pula penghasilan
berlangsung terus sebelum musim kawin, lalu dicadangkan. Jika tiba musim kawin
dikeluarkan sekaligus semua, sesuai dengan betina yang waktu itu mengeluarkan pula semua
telurnya sekaligus (Soeminto, 1993)
Gerakan
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit (Yatim,
1996).Sifat gerakan spermatozoa menentukan juga kemandulan seseorang pria. Kalau
gerakan terlalu lambat, lamban atau gerakan itu tak menentu arahnya, maka pembuahan sulit
berlangsun. Ada batas waktu menunggu bagi ovum untuk dapat dibuahi. Kalau terlambat
spermatozoa datang tak susur lagi (Campbell, 2004).
Ketahanan di luar tubuh
Spermatozoa mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Kekurangan vitamin E menyebabkan ia tak bertenaga melakukan pembuahan. Terlalu rendah
atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan membuahi. Pada
mammalia scrotum memilikisuhu lebih rendah dari suhu tubuh. Perubahan Ph pun merusak
sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan
kemandulan pula, karena mematikan spermatozoa yang masuk (Adnan, 2006).
 Bagian-bagian Spermatozoa
Kepala Spermatozoa
Satu spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor. Kepala lonjong dilihat dari atas dan
pyriform dilihat dari samping, lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung. Panjang
kepala 4-5 um, dan lebar 2,5-3,5 um. Sebagian terbesar kepala berisi inti, yang kromatinnya
sangat terkondensasi untuk menghemat ruangan yang kecil, dan untuk melindungi diri dari
kerusakan ketika spermatozoon mencari ovum. Dua pertiga bagian depan inti diselaputi tutup
akrosom berisi enzim untuk menembus dan memasuki ovum (Yatim, 1994).
Kepala sperma terisi sepenuhnya dengan materi inti, chromosom, terdiri dari DNA
yang bersenyawa dengaan protein. Informasi genetic yang dibawa oleh spermatozoa di
simpan dalam molekul DNA yang tersusun oleh banyak nukleoitida. Pada mamalia sifat-sifat
herediter di dalam inti sperma termasuk penentuan kelamin embrio (Toelihere, 1981).
Ekor Spermatozoa
Menurut Yatim (1994), ekor sperma dibagi atas :
 Leher, bagian penghubung ekor dengan kepala. Tempat melekat ekor ke kepala
disebut implantation fossa, dan bagian ekor yang menonjol disebut capitulum,
semacam sendi peluru pada kepala. Dekat capitulum terletak sentriol depan
(proximal), sentriol ujung (distal) hanya berupa sisa pada spermatozoa matang.
 Bagian tengah, memiliki teras yang disebut axonem, terdiri dari 9 duplet mikrotubul
radial dan 2 singlet mikrotubul sentral. Susunan axonem sama dari pangkal ke ujung
ekor. Pada bagian ujung selubung mitokondria ada annulus (cincin), tempat melekat
membran flagellum, dan juga sebagai batas dengan bagian utama.
 Bagian utama, depan panjang 45 um, tebal 0,5 um, yang secara berangsur kian gepeng
ke ujung. Sebelah luar ada seludang fibrosa, terdiri dari batang longitudinal atas-
bawah, diselaputi rusuk-rusuk fibrosa setengah lingkaran.
 Bagian ujung, panjang 5-7 um, tidak mengandung selaput fibrosa yang berusuk-rusuk,
sehingga ia berstruktur sama dengan flagellum atau cilium. Di daerah ini axonem
berubah komposisinya jadi singlet.
Motilitas Spermatozoa
Ciri utama spermatozoa adalah motilitas atau daya geraknya yang dijadikan patokan
atau cara yang paling sederhana dalam penilaian semen untuk inseminasi buatan. Motilitas
sperma memegang peranan penting sewaktu pertemuannya dengan ovum. Ekor sperma
mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan ekor yang telah terpisah dari
kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-gelombang sperma yang
berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas semen sapi dan domba yang
belum diencerkan bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan pergerakan sperma bervariasi
sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981).
Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati.
Dianggap normal jika motil maju > 40 %. Ada orang yang spermatozoanya lemah sekali
gerak majunya, disebut asthenozoospermia. Jika hamper semua sperma yang diperiksa
nampak mati, tak bergerak, disebut necrozoospermia. Berarti orang ini infertile. Tapi ada
laporan mutakhir, spermatozoa yang tak bergerak belum menunjukkan mati. Mungkin ada
suatu zat sytotoxic atau antibodi yang membuatnya tak bergerak (Yatim, 1994)
Berikut adalah hasil pengamatan spermatozoa pada praktikum:
1. Spermatozoa Columba livia
Gambar Hasil pengamatan Gambar Searching
Sperma Columba livia perbesaran 20x
dengan pewarnaan giemsa

(Ternak & Box, 2011)


Perbesaran 40x – teramati bagian eritrosit Keterangan :
1. Kepala sperma
2. Badan sperma
3. Ekor sperma’
4. ujung ekor sperma

Keterangan:
1. Spermatozoa
2. Kepala sperma
3. Badan sperma
4. Ekor sperma
Lingkungan dengan suhu tinggi dan asam membuat sperma mati. Bagian yang tampak
di bawah mikroskop hanya berupa eritrosit. Eritrosit burung dara mempunyai inti sel karena
membantu dalam pemenuhan energi. Sel sperma Columba livia memiliki bentuk kepala
silinder memanjang. spermatozoa mati disebut necrozoospermia (Cheng, 2002).
Sperma pada burung dara memiliki bentuk bulat dengan bagian tepi yang sedikit
memipih. Memiliki bagian tengah atau badan dan bagian ekor. Berikut penjelasannya:
 Kepala sperma, berfungsi sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum
serta membawa bahan genetis yang akan diwariskan kepada keturunannya (Yatim,
Wildan. 1990). Kepala sperma bagian dalam terdapat inti dan akrosom. Inti
mengandung bahan genetis, akrosom mengandung berbagai enzim lysis. Akrosom
merupakan lisosom dari spermatozon yang berfungsi untuk melysiskan lendir
penghalang pada saluran kelamin betina dan selaput ovum. Akrosom ini diproduksi
oleh badan golgi (Yatim, Wildan. 1990).
 Bagian leher, tampak tebal dan cukup panjang dikarenakan pada bagian ini
mengandung mitokondria yang letaknya berderet atau berbaris yang berfungsi untuk
menyediakan energi pergerakan sperma.
 Ekor, berfungsi untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong
kepala menerobos selaput ovum. Ekor berporoskan flagellum. Flagellum memiliki
rangka dasar disebut aksonema. Ekor mengandung sentriol (sepasang), mitokondria
dan serat fibrosa.
Pada pengamatan yang telah dilakukan tidak diamati adanya pergerakan pada sperma
burung dara. Sperma yang mati menandakan bahwa kondisi yang berada disekitar sperma
tidak mendukung daya hidup sperma. Lingkungan dengan suhu tinggi dan asam membuat
sperma mati. Setelah dilakukan pewarnaan, viabilitas sperma berwarna merah muda yang
menandakan bahwa pewarna giemsa telah diserap oleh kromosom yang berada dibagian
sperma.

2. Sperma Rana sp
Gambar Hasil pengamatan Gambar Searching
Sperma Rana sp perbesaran 40x

(Boyle, Chen, & Bamburg, 2001)


Keterangan :
Perbesaran 20x – teramati bagian eritrosit 1. Kepala sperma
2. Badan sperma
3. Ekor sperma
Keterangan:
1. Kepala sperma
2. Ekor sperma

Sperma katak memiliki panjang 0.03 mm. Kepala panjang dengan bentuk batang,
akrosom berbentuk manik, dan ekor sukar dibedakan dengan badan (Yatim, 1994). Dari hasil
pengamatan preparat hasil praktikum dengan menggunakan mikroskop, secara morfologi
sperma katak terdiri atas:
 Kepala
Mengandung lapisan tipis sitoplasma dan sebuah inti yang lonjong yang hampir
mengisi seluruh bagian kepala. Inti diselubungi oleh selubung perisai yang terletak di
depan dan di belakang. Selubung yang terdapat di depan disebut sebagai indung
depan (akrosom) dan dibelakang disebut tulang belakang. Akrosom merupakan
lisosom dari spermatooon yang berfungsi untuk melisiskan lendir penghalang pada
saluran kelamin betina dan selaput ovum. Akrosom ini diproduksi oleh badan golgi
(Yatim, 1990)
 Bagian leher, menghubungkan bagian kepala dan leher, di daerah genting sperma, di
dalamnya terdapat sentriol dan bagian depan filamen polos.
 Badan sperma mengandung filamen polos, mitokondria dan sentriol belakang
berbentuk cincin.
 Ekor merupakan alat gerak bagi sperma dan berfungsi mendorong spermatozoa masuk
ke dalam vas deferens dan duktus ejakulasi
Berdasarkan pengamatan, motalitas spermatozoa Rana sp termasuk kurang baik yang
ditandai dengan gerakan sperma bergetar atau berputar, tanpa arah, lemah, aglutinasi,
immature, dan motilitas spermatozoa karena kepala dan ekor asimetris (Soehadi dan Arsyad,
1983).
Gerakan maju mundur ekor (gerakan flagela) memberikan motilitas pada sperma.
Gerakan ini disebabkan oleh gerakan meluncur longitudinal secara ritmis di antara tubulus
posterior dan anterior yang membentuk aksonema. Energi untuk proses ini disuplai dalam
bentuk adenosin trifosfat (ATP) yang disintesis oleh mitokondria di badan ekor (Guyton,
1997).
Menurut Hafez (2000) perbedaan afinitas zat warna antara sel-sel sperma yang mati dan
hidup digunakan untuk menghitung jumlah sperma hidup secara objektif, yang dilakukan
pada saat semen segar dicampurkan dengan zat warna (larutan eosin 2%). Sel-sel sperma
yang hidup tidak atau sedikit sekali menghisap warna, sedangkan sel yang mati akan
mengambil warna karena permeabilitas dindingnya meningkat. Dijelaskan lebih lanjut bahwa
tujuan pewarnaan diferensial adalah untuk mengetahui persentase sel-sel sperma yang mati
dan hidup. Lemahnya pergerakan sperma ini disebut asthenozoospermia.
Gerakan spermatozoa dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
a. Bergerak cepat dan maju lurus
b. Bergerak lambat dan sulit maju lurus
c. Tak bergerak maju (bergerak di tempat)
d. Tak bergerak.
Aglutinasi dapat terjadi karena terjadi kelainan imunologis di mana sel telur menolak sel
sperma. Aglutinasi merupakan keadaan tertentu spermatozoa abnormal yang bergerombol,
berikatan satu sama lain, dan tak bergerak. Menurut Bambang (2007) menyatakan bahwa,
ciri-ciri sperma abnormal Rana sp antara lain sperma dengan kepala raksasa atau kepala
kerdil, kepala rangkap, sel sperma tanpa kepala atau tanpa ekor (seringkali disebabkan
perlakuan kasar waktu membuat persediaan untuk diwarnai atau untuk pengawetan, tetapi
sering juga terlihat pada pembuatan persediaan yang dikejakan dengan hati-hati), kepala
dengan banyak ekor, ekor bengkok atau melingkar, dan kepala-kepala protoplasmik di bagian
tengah.

3. Sperma Cavia cobaya


Gambar Hasil pengamatan Gambar Searching
Sperma Cavia cobaya perbesaran 20x

Perbesaran 40x – non warna


www.studyblue.com
Keterangan:
1. Kepala sperma yang berbentuk bulat
memipih kesamping
2. Badan sperma
3. Ekor sperma

Keterangan:
1. Spermatozoa
2. Kepala sperma
3. Badan sperma
4. Ekor sperma
Berdasarkan hasil pengamatan pada mikroskop, sperma marmut berbentuk garis-garis
panjang bergerombol dan terletak di dalam lumen. Sperma pada marmut yang normal
memiliki kepala berbentuk bulat telur pipih dengan flagellum umumnya berjumlah
satu.Secara morfologi bagian-bagian sperma marmut meliputi kepala, leher dan ekor.
 Kepala sperma marmut berbentuk bulat telur pipih berfungsi sebagai penerobos jalan
menuju dan masuk ke dalam ovum serta membawa bahan genetis yang akan
diwariskan kepada keturunannya (Yatim, 1994). Dalam kepala sperma terdapat inti
dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis, akrosom mengandung berbagai enzim
lysis. Akrosom merupakan lisosom dari spermatooon yang berfungsi untuk melisiskan
lendir penghalang pada saluran kelamin betina dan selaput ovum. Akrosom ini
diproduksi oleh badan golgi (Yatim, 1994).
 Bagian leher tampak tebal dan cukup panjang dikarenakan pada bagian ini
mengandung mitokondria yang letaknya berderet atau berbaris yang berfungsi untuk
menyediakan energi pergerakan sperma.
 Sedangkan ekor berfungsi untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk
mendorong kepala menerobos selaput ovum. Ekor berporoskan flagellum. Flagellum
memiliki rangka dasar disebut aksonema. Ekor mengandung sentriol (sepasang),
mitokondria dan serat fibrosa.
 Sperma pada marmut memiliki dua sentriol, yaitu:
 Sentriol proksimal yang tertanam pada connecting piece
 Sentriol distal. Selama perkembangan, ekor sentriol distal dapat dijumpai,
namun berdegenerasi selama perkembangan connecting piece
 Bagian middle piece ditandai dengan adanya seludang mitokondria yang mengelilingi
aksonema dan berfungsi untuk menghasilkan energi yang penting bagi pergerakan
sperma. Middle piece diakhiri dengan satu struktur yang disebut annulus.
 Dibelakang annulus, aksonema dikelilingi oleh seludang serabut. Daerah ini disebut
principal piece. Pada bagian belakang principal piece disebut end piece.
Berdasarkan pengamatan, motalitas atau pergerakan spermatozoa marmut tergolong baik,
ditandai dengan gerakan sperma yang bergerak lurus ke depan, lancar, cepat dengan gerak
ekor yang berirama. Gerakan maju mundur ekor (gerakan flagela) memberikan motilitas pada
sperma. Gerakan ini disebabkan oleh gerakan meluncur longitudinal secara ritmis di antara
tubulus posterior dan anterior yang membentuk aksonema. Energi untuk proses ini disuplai
dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP) yang disintesis oleh mitokondria di badan ekor
(Guyton, 1997). Perbedaan afinitas zat warna antara sel-sel sperma yang mati dan hidup
digunakan untuk menghitung jumlah sperma hidup secara objektif, yang dilakukan pada saat
semen segar dicampurkan dengan zat warna (larutan eosin 2%). Sel-sel sperma yang hidup
tidak atau sedikit sekali menghisap warna, sedangkan sel yang mati akan mengambil warna
karena permeabilitas dindingnya meningkat. Dijelaskan lebih lanjut bahwa tujuan pewarnaan
diferensial adalah untuk mengetahui persentase sel-sel sperma yang mati dan hidup (WHO,
1992). Lindsay (1989) juga menambahkan bahwa viabilitas spermatozoa berhubungan
dengan spermatozoa yang hidup dan yang mati. Pada spermatozoa hidup, lapisan
pembungkusnya tidak dapat ditembus oleh sejumlah zat warna tetapi pada spermatozoa mati
zat warna tersebut akan masuk sampai ke bagian tengah kepala spermatozoa.
VII. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Sperma merupakan hasil dari sistem reproduksi jantan/ sel gamet dari laki-laki. Sperma
dihasilkan melalui proses spermatogenesis. Proses spermatogenesis terjadi di tubulus
seminiferus di bagian testis. Pematangan sperma di bagian epididimis, dan melalui
tubulus seminiferus mampu menuju organ ejakulasi.
2. Morfologi sperma atau bagian-bagian sperma meliputi:
a. Kepala: kepala sperma terdiri dari inti dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis,
akrosom mengandung berbagai enzim lisis. Akrosom merupakan lisosom dari
spermatooon yang berfungsi untuk melisiskan lendir penghalang pada saluran
kelamin betina dan selaput ovum. Akrosom ini diproduksi oleh badan golgi.
b. Badan: mengandung banyak organel mitokondria yang berfungsi untuk
memproduksi energi.
c. Ekor: berfungsi untuk pergerakkan sperma untuk mencapai sel telur, tenaga yang
diperoleh dari bagian badan atau bagian tengah sperma.
3. Pola pergerakan atau motilitas sperma adalah pergerakan sperma atau bergerak maju atau
meluncur dengan menggunakan flagellum. Gerakan spermatozoa dibagi dalam 4 kategori,
yaitu:
e. Bergerak cepat dan maju lurus
f. Bergerak lambat dan sulit maju lurus
g. Tak bergerak maju (bergerak di tempat)
h. Tak bergerak.
4. Viabilitas adalah kemampuan sperma jika sperma dibiarkan didalam larutan garam 0.9%
maka sperma berwarna bening dan motilitas sperma dapat diamati melalui mikroskop.
Pewarnaan dengan giemsa menyebabkan sperma menjadi terwarnai dan mati, sebagai
akibat dari kromosom pada kepala sperma menyerap warna dari giemsa. Pewarnaa
giemsa merupakan pewarnaa yang bersifat asam, sehingga sperma tidak mempu hidup
dalam kondisi yang terlalu asam.

Pembeda Cavia cobaya Rana sp Columba livia


Berbentuk bulat dengan Kepala lonjong dan Kepala lonjong
bagian tepi bulatan memanjang dengan ekor seperti mengerucut,
sedikit mempipih yang pendek dengan jumlah ekor satu.
Bentuk
flagellum umumnya ujung ekor menebal.
berjumlah satu, namun
ada yang 2 dan 3.
Kepala, leher dan ekor Kepala panjang dengan Kepala, leher dan
dapat dibedakan dengan bentuk batang, ekor ekor dapat
Bagian
jelas. sukar dibedakan dengan dibedakan dengan
badan jelas.
VIII. Daftar Pustaka

Anonim. 2010. WHO laboratory manual for the examination and processing human
semen 5th Edition. WHO press: Switzerland
Dindyal, Shiva. 2004. The sperm count has been decreasing steadily for many years in
Western industrialised countries: Is there an endocrine basis for this decrease. Journal
of Urology. 2004 Volume 2 Number 1. (Hons) Imperial College School of Medicine:
London
Fitriani, Kartini Eriani, Widya Sari. 2010. The effect cigarettes smoke exposured causes
fertility of male mice (Mus musculus). Jurnal natural. Vol. 10, No. 2, 2010
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada
Unuversity Press. Yogyakarta.
Guyton, (2006). Textbook of Medical Physiology. USA: Elsevier
Hardjianto, dkk. 2009. Motility and Viability Ram’s Spermatozoa. Departemen Kedokteran
Dasar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga: Surabaya
Hutapea, Dr. Albert M. 2002. Keajaiban-keajaiban dalam Tubuh Manusia. Gramedia:
Jakarta
Manuba, Ida Bagus. 1998. Penyakti Kandungan & Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
Rugh, R. 1968. The Mouse: Its Reproduction and Development. (Oxford University
Press, New York).
Ternak, B. P., & Box, P. O. (2011). UNTUK PENYIMPANAN SEMEN UNGGAS.
Balai Penelitian Ternak, 16002(April), 145–152.
World Health Organization. 1992. Penuntun Laboratorium WHO untuk Pemeriksaan
Semen. Edisi ke-3. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito. Bandung
Yatim, Wildan. 1996. Histologi. Tarsito: Bandung
Yuwanta,Tri S.U. 2004. Dasar ternak. Kanisius : Jakarta

IX. Lampiran

1 lembar dokumentasi
1 lembar laporan sementara
LEMBAR DOKUMENTASI PRAKTIKUM

Gambar Pengamatan
Spermatozoa Columba livia 20x – Giemsa

Spermatozoa Buffo sp 40x

Spermatozoa Cavia cobaya 20x