Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Rasionalisasi pentingnya CBR


Keterampilan membuat CBR pada penulis dapat menguji kemampuan dalam
meringkas dan menganalisis sebuah buku serta membandingkan buku yang dianalisis
dengan buku yang lain, mengenal dan memberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis
yang dianalisis.
Seringkali kita bingung memilih buku referensi untuk kita baca dan pahami,
terkadang kita hanya memilih satu buku untuk dibaca tetapi hasilnya masih belum
memuaskan misalnya dari segi analisis bahasa dan pembahasan, oleh karena itu penulis
membuat CBR dari buku mekanika. Dalam hal ini penulis hanya mengkritik bagian gaya
sentral. Untuk mempermudah pembaca dalam memilih buku referensi terkhusus pada
pokok bahasan tentang model pembelajaran.

1.2.Tujuan penulisan CBR


Critical Book Report ini bertujuan :
1. Mengulas isi buku.
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku.
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh
setiap bab dari buku.
4. Membedakan keunggulan dan kelemahan isi buku pada pembahasan.

1.3.Manfaat CBR
Critical Book Report ini bermanfaat untuk :
1. Untuk memenuhi tugas critical book report mata kuliah metodoligi pembelajran.
2. Untuk menambah pengetahuan tentang psikologi perkembangan.

1.4. Identitas Buku Utama


Judul Buku : Introduction to Classical Mechanics 2nd Edition
Penulis : Arya P. Atam

1
Penerbit : Prentice Hall, New Jersey
Cetakan ke :2
Tahun Terbit : 1990
Halaman : 712 halaman
Pembahasan Gaya Sentral :

1.5. Identitas Buku Pembanding


Judul buku : Mechanics Third Edition
Nama Penulis : Keith R. Symon
Tahun Terbit : 1980
Cetakan ke :3
Penerbit : Addison Wesley Publishing Company, Amsterdam
Halaman : 637 halaman

2
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

RINGKASAN ISI BUKU UTAMA

2.1. Gaya Central dan Energi Potensial


Sebuah gaya sentral yang bekerja pada sebuah partikel adalah salah satu yang selalu di
arahkan menuju titik tetap yang disebut pusat (atau asal) dari gaya. Selain itu, jika interaksi
antara dua benda diwakili oleh gaya pusat, maka gaya diarahkan di sepanjang garis yang
menghubungkan pusat dari dua benda. Jadi gaya pusat yang bekerja pada sebuah partikel pada
jarak r dari pusat gaya dapa diwakili oleh:
𝐹(𝑟) = 𝐹(𝑟)𝑟̂
Dimana F adalah vektor satuan radial. Ini bentuk hukum gaya menunjukkan bahwa momentum
sudut partikel yang konservasi atau tidak berubah. Disisi lain, jika gaya sentral isotropik, yaitu:
𝐹(𝑟) = 𝐹(𝑟)𝑟̂
Gaya sentral akan menjadi konservatif, maka energi mekanik dari sebuah partikel adalah
konstan. Dalam diskusi kita dalam bab ini, kita akan membatasi diri pad bentuk terakhir dari
gaya sentral, maka baik momentum sudut dan energi akan dikonservasi. Dalam hal ini, hukum –
hukum konservasi adalah hasil dari simetri radial. Karena vektor satuan dapat ditulis sebagai r =
r / r, kita dapat menulis persamaan sebagai:
𝐹(𝑟)𝑟
𝐹=
𝑟
Pentingnya gaya isotropik menjadi jelas bila kita menganggap gaya berbagai jenis yang ada di
alam, untuk contoh: (1) gaya gravitasi yang menggambarkan gerakan planet, (2) gaya coulomb
atau gaya elektrostatik (tolak dan menarik) yang, disamping aplikasi lainnya, mengarah pada
perumusan model Rutherford dan Bohr dari atom, (3) gaya antar molekul yang disebut van der
Walls gaya, dijelaskan oleh:
𝐾1 𝐾2
𝐹(𝑟) =−
𝑟 13 𝑟 5
Dimana k1 dan k2 adalah konstanta (funugsi potensial yang menghasilkan fungsi gaya yang
diberikan oleh persamaan disebut Lennard-Jones, (4) atom, yang dalam kristal kubik berperilaku

3
seperti tiga dimensi pada osilator Harmonik, diatur oleh gaya sentral, dan (5) gaya nuklir jenis
Yukawa ditunjukkan oleh:
𝐾1 𝐾2 −𝑘 𝑟
𝐹(𝑟) = ( − 2) 𝑒 3
𝑟 𝑟
Dimana k1, k2 dan k3 sebagai konstanta. Yang kita menyatakan bahwa gaya sentral adalah tidak
tergantung posisi dan konservatif. Oleh karena itu kita harus mampu memperkenalkan fungsi
energi potensial V(r) untuk gaya sentral tersebut. Tapi ini hanya mungkin jika curl dari gaya
sama dengan nol, yaitu:
𝑐𝑢𝑟𝑙𝐹 = ∇𝑥𝐹 = 0
Menulis persamaan dalam bentuk komponen,
𝐹(𝑟)
𝐹 = 𝑖̂𝐹𝑥 + 𝑗̂𝐹𝑦 + 𝑘̂𝐹𝑧 = (𝑖̂𝑥 + 𝑗̂𝑦 + 𝑘̂𝑧)
𝑟
Kita peroleh:
𝑥 𝑦 𝑧
𝐹𝑥 = 𝐹(𝑟), 𝐹𝑦 = 𝐹(𝑟), 𝐹𝑧 = 𝐹(𝑟)
𝑟 𝑟 𝑟
Kita dapat menulis persamaan sebagai berikut:
𝜕𝐹𝑧 𝜕𝐹𝑦 𝜕𝐹𝑥 𝜕𝐹𝑧 𝜕𝐹𝑦 𝜕𝐹𝑥
∇𝑥𝐹 = 𝑖̂ ( − ) + 𝑗̂ ( − ) + 𝑘̂ ( − )=0
𝜕𝑦 𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦
Hal ini benar jika masing – masing pernyataan komponen ketiga harus samadengan nol,
misalnya,
𝜕𝐹𝑧 𝜕𝐹𝑦
(∇𝑥𝐹)𝑥 = −
𝜕𝑦 𝜕𝑧
Harussama dengan nol, dari persmaaan di atas

𝜕𝐹𝑧 𝜕 𝑥 𝜕 𝐹(𝑟) 𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)


= ( 𝐹(𝑟)) = 𝑧 ( ) =𝑧 ( )
𝜕𝑦 𝜕𝑦 𝑟 𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝑦 𝜕𝑦 𝜕𝑟 𝑟

Dan, demikian pula


𝜕𝐹𝑦 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)
=𝑦 ( )
𝜕𝑧 𝜕𝑧 𝜕𝑟 𝑟
Substitusikan persamaan ke dalam persamaan hasilnya:
𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)
(∇𝑥𝐹)𝑥 = (𝑧 −𝑦 ) ( )
𝜕𝑦 𝜕𝑧 𝜕𝑟 𝑟

4
Dari hubungan,
𝑟 = (𝑥 2 + 𝑦 2 + 𝑧 2 )1/2
𝜕𝑟 𝑦 𝜕𝑟 𝑧
= 𝑑𝑎𝑛 =
𝜕𝑦 𝑟 𝜕𝑧 𝑟
Kita substitusikan ke dalam persamaan, maka diperoleh:
(∇𝑥𝐹)𝑥 = 0
Dengan cara yang sama, kita dapat menunjukkan bahwa
(∇𝑥𝐹)𝑦 = 0dan(∇𝑥𝐹)𝑧 = 0
Dengan demikian, untuk gaya sentral
∇𝑥𝐹 = 0

2.2. Gerak Gaya Sentral pada Bidang Tunggal


Pertimbangan sebuah sistem yang terisolasi yang terdiri dua benda yang terpisah oleh
jarak r = r, dengan interaksi antara benda digambarkan oleh gaya sentral F(r). jika benda
berbentuk sebuah bola yang simetris atau massa titik, sebuah system yang terdiri dari dua
partikel dapat dijelaskan. Jika r1 dan r2 adalah vektor jari-jari dua partikel massa m1 dan m2, maka
enam komponen dari vektor jari-jari menggambarkan sistem sepenuhnya. Persamaan gerak dari
dua partikel:
m1r1  F (r ˆ)r

m2 r2  F (r )rˆ
r  r1  r2
Seperti terlihat pada gambardibawah. gaya antara dua partikel yang menarik jika F(r) ˂ 0
dan mendorong jika F(r) > 0. Nilai r1 dan r2 tergantung pada besarnya r. Bukannya
menggambarkan system sebelumnya dengan enam koordinat dari r1 dan r2, akan lebih mudah
untuk menggambarkan system dengan serangkaian alternative dari enam koordinat: tiga
koordinat menggambarkan pusat massa oleh R dan tiga koordinat menggambarkan posisi relative
dengan r. Artinya:
m1  m2 R  m1r1  m2 r2
r  r1  r2

5
Gambar Sistem yang terdiri dari dua partikel yang bermassa m1 dan m2 yang terletak di r1 dan r2

Di sini R menggambarkan gerak pusat massa dan r menggambarkan gerakan relative dari satu
partikel yang berkaitan dengan lainnya, seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah. karena
tidak ada gaya luar yang bekerja pada system, merupakan gerak pusat massa.Sekarang kita
lanjutkan dengan menemukan gerak, diperoleh:

 1 1 
r  r2     F (r )rˆ
 m1 m2 
Dan dapat dituliskan kembali:
m1m2
(r1  r2 )  F (r )rˆ
m1  m2
r  F (r )rˆ
m1 m2 1 1 1
 atau  
m1  m2  m1 m2
Dan 𝜇 disebut massa tereduksi. Pergerakan dari satu partikel m1 dan m2 di bawah pengaruh gaya
sentral F(r).

Gambar deskripsi system dua partikel melalui enam koordinat. Tiga koordinat
menggambarkan pusat massa R dan tiga koordinat menggambarkan posisi relatif r.

6
Persamaan sebelumnya m telah digantikan dengan 𝜇massa tereduksi. Dengan demikian dapat
digambarkan seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini. untuk dua benda telah
digantikan oleh salah satu benda setara di mana kita harus menentukan gerak sebuah partikel 𝜇
massa dalam F medan gaya sentral (r).
m2
r1  R  r
m1  m2
m1
r2  R  r
m1  m2
Seperti yang kita katakan sebelumnya, pusat massa bergerak dengan kecepatan yang sama
sehingga:
  0
R

Yang memiliki solusi:


R  v0 t  R0

Dengan kondisi awal sebagai t = 0, v0 = 0 dan R0 = 0, kita mendapatkan R = 0, yaitu asal


berimpit dengan pusat massa dan persamaan sebelumnya mengurangi ke:
m2
r1   r
m1  m2
m1
r1   r
m1  m2
Dimana r1 dan r2 diukur dari pusat massa, seperti yang digambarkan pada gambar 2.4. Akhirnya,
hal itu dapat menunjukkan bahwa jika massa salah satu dari dua partikel yang sangat besar,
katakanlah m2 > m1.
1 1 1 1
  
 m1 m2 m1

7
Gambar posisi dua partikel dalam suatu sistem dari pusat massa saat berhenti pada titik
asal

Dan tereduksi menjadi:


m1r  F (r )rˆ
Yang menyatakan bahwa pusat massa hampir terletak di m2 > m1 (yaitu seolah-olah m2 adalah
tidak terbatas dibandingkan dengan m1), sedangkan r = r1 - r2 = r1. Oleh karena itu masalah dapat
dianggap sebagai masalah satu benda.

2.3. Gerak Partikel dalam Gaya Sentral


Dari persamaan sebelumnya adalah r  F (r )rˆ yang digambarkan pada gambar diatas
menggambarkan gerak suatu partikel dari massa 𝜇 dan dapat di selesaikan untuk r(t) jika kita
mengetahui bentuk dari gaya sentral F(r). sifat-sifat penyelesaian umum dari persamaan
diperoleh berdasarkan hukum-hukum kekekalan.

2.4. Gerak Pusat Gaya Pada Bidang


Pada pertimbangan situasi, gaya sentral F ( r ) rˆ adalah sepanjang r; oleh karena itu gaya
sentral tidak menghasilkan torsi T dengan massa 𝜇 ini artinya momentum angular L dari massa 𝜇
berputar pada porosnya ketika pusat gaya konstan. Jika P momentum linear dari suatu partikel
yang bermassa 𝜇, maka torsi berputar pada gaya sentral yang diperoleh sebagai berikut :

 r  p   r  mv
dL d d

dt dt dt
  r  m  v  mv
dv
dt
Tetapi:

8
dv
m  ma  F dan v  v  0
dt
Oleh karena itu dapat ditulis:
dL
  rF
dt
Ketika:
r  F  r F sin 00  0
Kita peroleh:
dL
 0
dt
Maka,
L  r  p  kons tan

Selanjutnya, apabila momentum angular L dari massa µ adalah konstan, maka besarnya dan
arahnya berada di ruang tertentu. Oleh karena itu, dengan definisi dari cross product, jika arah L
ditempatkan pada ruang, vektor r dan p harus berada pada garis bidang yang tegak lurus terhadap
L.
Selanjutnya apabila partikel momentum angular konstan, maka gerak partikel ditempatkan pada
bidang tunggal, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. gerak partikel yang dipengaruhi oleh pusat gaya yang digambarkan pada
bidang XY yang tegak lurus terhadap L.

9
Jika bidang yang dipilih pada bidang xy, posisi gerak dapat digambarkan pada koordinat x dan y.
posisi ini sangat cocok digunakan pada bidang koordinat polar (r , ) dan contoh gerak pada titik
koordinat persamaan (2.6b) adalah:
r  F (r )rˆ
Dapat ditulis dalam bentuk:
 (r  r 2)rˆ   r  2r ˆ  F (r )rˆ
Atau, kedua persamaan dikalikan dengan koefisien dari r dan  , maka di peroleh :
 (r  r 2 )  F (r ) (2.19)

 r  2r   0 (2.20)

2.5. Gerak dari Energi dan Momentum Anguler


Ada 2 konstanta yang lain dari gerak pusat gaya :
1. Besarnya dari momentum angular L yaitu L  L ;

2. System energi total E yang masing-masing konstanta L dan E yang disebut gerak
integral.
Dengan menggunakan gambar di bawah ini, momentum angular partikel
yang memiliki massa m pada saat jarak r dari pusat gaya adalah :
L  rp  rv0  r (r)

Maka, ketika L diperoleh :


L  r 2  kons tan

Gambar gerak partikel dijelaskan dalam bidang koordinat polar

10
Untuk pusat gaya yang konservatif, energy total adalah konstan maka:
E  K  V (r )  kons tan
Dimana :
V (r )    F (r ).dr

Ada E dievaluasikan dari kondisi awal (lihat gambar di atas)

E
1 2
2
1
 
mv V (r )   r 2  r 2 2  V (r )
2

Subsitusi untuk   L dari persamaan sebelumnya


r 2

1 L2 
E   r 2  2   V (r )  kons tan
2 r 

2.6. Hukum Kepler untuk Bidang Yang Sama


Mengingat suatu massa m pada saat jarak r(θ) pada saat t dari pusat gaya O, dapat ditunjukkan
pada gambar di bawah ini. Pada waktu interval dt, massa bergerak dari P ke Q, dan pada saat Q
jarak r dinyatakan dengan r (  dt ) dari pusat gaya O. dA bergerak pada radius vector r pada
saat dt sama dengan segitiga OPQ, yaitu:
1 1
dA  r (rd )  r 2d
2 2
Atau :
dA 1 d 1 2 
2
 r  r
dt 2 dt 2

Gambar Area dA disapu oleh vektor r pada jari-jari lingkaran dalam waktu dt.

Subsitusi untuk   L / r 2 dari persamaan di atas, maka kita peroleh :


dA L
  kons tan
dt 2

11
Pernyataan di atas sama dengan pernyataan hukum kedua kepler’s yang mengitari planet, dan
juga digunakan untuk mengetahui hukum dari bidang yang sama. pada kondisi lain, jika gerak
dinyatakan merupakan gerak yang periodic terhadap T, maka persamaan 5.45 dapat
diintegrasikan sehingga diperoleh:
L
 dA  
T
dt
0 2
Atau
L
A T (5.41)
2
Ketika hukum dari bidang yang sama konsekuen dengan kenyataan bahwa L adalah konstan,
maka dapat dituliskan :
L  r1  p1  r2  p2
Kembali pada gambar 5.7, dimana massa m bergerak pada orbitnya mengelilingi masa katakana
M, seperti bumi mengelilingi matahari kita tulis p  m.v , dimana v adalah kecepatan tangensial:
r1v1  r2 v2  r3 v3
Untuk kecepatan yang konstan, apabila r bertambah, v berkurang, seperti yang digambarkan
pada 5.7, sehingga didapat:
A1  A2  A3

Gambar Hukum Kedua Kepler’s menyatakan bahwa bidang yang dikelilingi adalah sama
yaitu A1  A2  A3

12
2.7. Persamaan Gerak
Mari kita kembali ke persamaan yang tadi, yaitu :
L  r 2  kons tan
Dan

1 L2 
E   r 2  2   V (r )  kons tan
2 r 
Jika kita tahu V(r), persamaan ini menggambarkan gerak dari system dan dapat diselesaikan
untuk  (t ) dan r(t), masing-masing di tetapkan  t , r t  menggambarkan orbit partikel dalam
bentuk parametric dimana waktu t adalah parameter, dalam persamaan orbit di dalam bentuk
hubungan antara r dan untuk memecahkan persamaan tersebut. jika kita melihat masing-masing
persamaan tersebut adalah konsekuensi langsung dari persamaan , kita dapat menulis persamaan
yang baru menjadi:

 L2
Feff (r )  F (r )  mr  F (r ) 
2

mr 3
Disini diperlakukan sebagai istilah lain gaya-gaya fiktif (karena hanya produk massa dan
percepatan) dan biasanya disebut sebagai gaya sentrifugal, Fsentr.
L2
Fcent  mr 2
mr 3
Jadi dari persamaan tersebut
mr  Feff (r )

Dan dapat diperlakukan sebagai suatu persamaan dalam satu dimensi.


Seperti sebelumnya, kita dapat menggunakan definisi gaya efektif yang diberikan oleh
persamaan di atas untuk memperkenalkan potensi yang efektif , Veff(r):
L2
rs
F ( r   )dr
rs
mr 3
Veff (r )   Feff (r )dr   rs r
L 2 s dr
  F (r )dr 
m r r 3
r r

Dengan asumsi menjadi tak terhingga, kita mendapatkan:


L2
Veff (r )  V (r ) 
2mr 2

13
Dengan demikian potensi yang efektif adalah jumlah potensi nyata dan istilah tambahan
yang disebut potensial sentrifugal didefinisikan sebagai:
L2
Vcent 
2mr 2
Membuat persamaan yang terlihat di atas terlihat seperti persamaan yang baru memiliki
makna yang jauh lebih dalam. Menggunakan persamaan yang baru, kita mengamati gerak radial
seperti yang dilihat dari kerangka acuan berputar. Dalam kerangka berputar, yang gaya terlihat
menjadi Feff(r). Ini adalah sifat gaya sentral ini yang mengarah ke konservasi energy diberikan
oleh persamaan sebelumnya: (menggunakan m bukan µ)

dr 2 L2 
r    E  V (r )  
dt m 2mr 2 

Mengintegrasikan persamaan ini, kita peroleh:


r
dr
t
2 L2 
 E  V (r ) 
r0

m 2mr 2 

Yang memberikan t(r), tapi kita bisa mengatur ulang untuk memecahkan r (t). setelah kita
memperoleh r(t) kita dapat mengintegrasikan pesamaan tadi untuk memperoleh θ(t). yaitu:
d L
  
dr mr 2
Kita integrasikan, kita mendapatkan:
t
L
  0   2
0 mr dr

Tentu saja, solusi ini dalam empat konstanta, yakni : L, E, r0 dan θ0 . Konstanta ini dapat
dievaluasi dari kondisi awal, yaitu posisi awal, dan kecepatan awal untuk gerak di pesawat. Jika
kita ingin hubungan untuk θ(r) atau r(θ) , kita dapat tuliskan sebagai berikut:
dr dr d dr 
r    
dt d dt d

d  dr
r
Substitusikan :

14
d 
L / mr dr
2

2 L2 
 E  V (r ) 
m 2mr 2 

( L / mr 2 )dr
 (r )  
2 L2 
 E  V (r ) 
m 2mr 2 

Dimana k adalah sebuah konstanta. Untuk n = 1 , gaya hukum sesuai dengan kasus asilasi
harmonic, untuk n = - 2 , gaya hukum sesuai dengan gaya hukum terbalik persamaan yang
mewakili gaya gravitasi dan gaya coulomb. Ini adalah dua kasus yang paling penting. Salah satu
nya, n = 1, telah dibahas secara rinci sementara yang lain, n = - 2.
Dalam kebanyakan situasi kita tertarik menemukan gerak system (gerak dari partikel
dalam ruang) tanpa memperhatikan ketergantungan waktu, dengan asumsi bahwa hukum gaya F
(r), (b) jika orbit system diberikan, mengevaluasi bentuk gaya hukum. Sebuah persamaan yang
dapat mencapai salah satu dari ini dapat diperoleh memulai dengan persamaan :
F (r )  mr  mr 2
Dan membuat substitusi:
1
r
u
Dan persamaan berikut diperoleh:
L L
  2  u 2
mr m
Dan dari persamaan di atas kita memperoleh r dan r , menjadi :
L du
r  
m d
2
L 2 d 2u
r   2 u
m d 2
Substitusi dari  , r dan r dalam persamaan:
2
1 L 2 d 2u L 2 3
F    u  u
u m d 2 m
Dari hasil persamaan kita dapat menuliskan:

15
d 2u m 1
 u  2 2 F  
d 2
L u u
Persamaan ini adalah persamaan diferensial yang dapat dipecahkan untuk u (θ) dan karena nya
untuk r(θ) yang mengambarkan orbit dari partikel bergerak dibawah gaya sentral F (r) r . disisi
lain, jika orbit partikel diberikan dalam r koordinat polar (θ) , persamaan diferensial ini dapat
diselesaikan untuk menemukan bentuk gaya sentral F (r.). untuk L = 0 , persamaan diatas dapat
ditulis. Dari persamaan mr 2  L  0 berarti bahwa m  0, r  0, Oleh karena itu, θ = 0 atau θ =
konstan, yang berarti jalur partikel adalah lewat garis lurus melalui titik asal.

RINGKASAN ISI BUKU PEMBANDING

2.1. Gaya Sentral


Central Force (Gaya Sentral) didefinisikan sebagai suatu gaya yang mempunyai arah
radial dan besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber (tidak bergantung pada sudut di
sekitar sumber). Dengan kata lain, central force (gaya sentral) adalah sesuatu yang mempunyai
potensial yang besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber. Selain itu, Gaya sentral
adalah gaya bekerja pada benda, di mana garis kerjanya selalu melalui titik tetap, disebut pusat
gaya. Arah gaya sentral mungkin menuju pusat gaya (gaya tarik), dan mungkin meninggalkan
pusat gaya (gaya tolak). Gaya sentral yang besarnya hanya tergantung pada jarak dan pusat gaya
(r).Contoh gaya sentral yakni;Gaya gravitasi (tarik) digambarkan dengan gerak planet, Gaya
coulumb atau gaya elektrostatik (tarik dan tolak), Gaya tarik dalam molekul (intermolekuler)
atau gaya Van Der Walls, Atom dalam kubik kristal yang berosilasi harmonik ditentukan dengan
gaya sentral dan Gaya inti yang ditampilkan oleh Yukawa.Keinginan untuk memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia.

2.2. Gerak pada gaya sentral


Suatu gaya sentral adalah suatu bentuk yang diberikan oleh F= ȓF(r). Secara fisik, gaya
semacam itu merupakan daya tarik sebuah atraksi jika F(r)<0 atau tolakan jika F(r)>0 dari suatu
titik tetap yang terletak di titik asal r = 0. Dalam masalah lain dimana dua particle berinteraksi
dengan partikel lainnya, diantara gaya tersebut (terutama) suatu gaya sentral; itu adalah jika

16
partikel tetap, gaya yang lainnya diberikan oleh F= ȓF(r). Contoh menarik dari gaya sentral
adalah gaya gravitasi pada pada planet karena matahari atau daya tarik listrik pada sebuah
elektron pada nukleus dari sebuah atom.gaya antara sebuah proton atau sebuah partikel alpha dan
nukleus lainnya merupakan gaya sentral repulsif. Banyak masalah penting lainnya, gaya F (r)
berbanding terbalik dengan r2. Masalah ini akan dibahas pada bagian selanjutnya. Bentuk lain
dari fungsi F(r) kadang-kadang terjadi, contoh dalam suatu masalah melibatkan struktur dan
interaksi dari inti atom, atom kompleks dan molekul. Pada baagian ini, kami menghadirkan
metode general untuk memecahkan masalah perpindahan partikel akibat gaya sentral. Semua
contoh bukan dari interaksi dua partikel sebenarnya diikat pada posisi tetap. Masalah yang
sedang kita selesaikan seperti masalah dalam fisika, mewakili idealisasi masalah yang
sebenarnya. berlaku ketika salah satu partikel dapat dianggap sebagai praktis saat diam di titik
asal.
Peristiwa ini akan menjadi kasus jika satu dari partikel jauh lebih berat dari yang lain.
Gaya yaang bekerja pada dua partikel mempunyai ukuran yang sama berdasarkan hukum III
Newton, perecepatan yang berat akan jauh lebih kecil dari pada yang lebih ringan dan gerak
antara partikel berat dapat diabaikan dalam perbandingan dengan gerakan yang lebih ringan.
Kita dapat mencatat bahwa momentum sudut vektor dari sebuah pengaruh gerakan partikel untuk
gaya sentral adalah konstan, apabila torsi:
−𝑁 = 𝑟 × 𝐹 = (𝑟 × ȓ)𝐹(𝑟) = 0
Karena itu. Dari persamaan:
𝑑𝐿
=0
𝑑𝑡
Sebagai akibat, momentum sudut setiap sumbu melalui gaya sentral adalah konstan.
Karena banyak gaya fisika adalah gaya sentral itu konsep dari momentum anguler adalah
penting.
Dalam menyelesaikan gerakan partikel yang digerakkan oleh gaya sentral, pertama kita
tunjukkan arah partikel terletak pada satu bidang yang mengandung gaya sentral. Untuk
menunjukkan ini, biarkan posisi ro dan kecepatan vo diberikann diberikan waktu awal t0, dan
pilih sumbu x melalui posisi awal ro dari partikel dan sumbu z tegak lurus terhadap kecepatan
awal vo. Maka:
xo = |ro|, yo = zo= 0

17
vxo = vo. x vyo = vo.y vzo = 0
Persamaan untuk gerak dalam kordinat persegi panjang adalah:
𝑥 𝑥 𝑥
𝑚ẍ = 𝑟 𝐹(𝑟), 𝑚ӱ = 𝑟 𝐹(𝑟), 𝑚𝑧 = 𝑟 𝐹(𝑟),

Solusi persamaan z yang memenuhi kondisi awal zo dan vzo adalah:


Z(t) = 0
Maka gerakan itu terjadi sepenuhnya pada bidang x,y. Kita bisa melihat secara fisik jika
gaya pada partikel selalu menuju ke titil awal, partikel tidak pernah dapat memperoleh
komponen kecepatan apapun dari bidang awalnya bergerak. Kita juga dapat menganggap hasil
ini sebagai konsekuensi dari kekekalan momentum sudut. Vektor L = m(r x v) adalah konstan,
oleh karena itu r dan v harus selalu terletak tetap pada bidang tegak lurus terhadap L.
Sekarang kita mengurangi masalah untuk suatu gerakan pada bidang dengan persamaan
deferensial kedua dan empat kondisi awal yang tersisa harus dipenuhi. Jika kita memilih
koordinat polar r, 𝜃 dalam bidang gerak, persamaan gerak r dan 𝜃 arah adalah:
𝑚𝑟̈ − 𝑚𝑟𝜃̇ 2 = 𝐹(𝑟)
𝑚𝑟𝜃̈ − 2𝑚𝑟̇ 𝜃̇ = 0
Mengalikan persamaan diatas dengan r, sebagai derivasi dari teorema momentum sudut.
Kita peroleh:
𝑑 𝑑𝐿
(𝑚𝑟 2 𝜃̇) = =0
𝑑𝑡 𝑑𝑡
Persamaan ini mengekspresikan kekekalan momentum sudut tentang asal dan
merupakan konsekuensi juga dari persamaan di atas. itu mungkin terintegrasi untuk memberikan
momentum sudut integral dari persamaan gerak:
𝑚𝑟 2 𝜃̇ = 𝐿 = 𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
L konstan adalah untuk dievaluasi dari kondisi awal. Integral lain. Apabila gaya
konservatif adalah:
1 1
𝑇 + 𝑉 = 𝑚𝑟̇ 2 + 𝑚𝑟 2 𝜃̇ 2 + 𝑉(𝑟) = 𝐸
2 2
Dimana V(r) diberikan oleh persamaan (3.200) dan E adalah energi konstan, untuk dievaluasi
dari kondisi awal. Jika kita subsitusikan untuk 𝜃̇ dari persamaan diatas, energi menjadi:
1 𝐿2
𝑚𝑟̇ 2 + + 𝑉(𝑟) = 𝐸
2 2𝑚𝑟 2
Kita bisa menyelesaikan 𝑟̇ :
18
2 𝐿2 1
𝑟̇ = √ (𝐸 − 𝑉(𝑟) − )2
𝑚 2𝑚𝑟 2

Karena itu:
𝑟
𝑑𝑟 2
∫ =√ 𝑡1
𝐿2 𝑚
𝑟𝑜 (𝐸 − 𝑉(𝑟) − ) 2
2𝑚𝑟 2

Integral ini harus dievaluasi dan persamaan yang dihasilkan diselesaikan untuk r (t).
Kemudian kita peroleh 𝜃(t):
𝑡
𝐿2
𝜃 = 𝜃0 + ∫ 𝑑𝑡
0 𝑚𝑟 2
Dengan demikian kita mendapatkan solusi dalam empat konstanta L, E, ro, 𝜃0 , yang dapat
dievaluasi ketika posisi awal dan keceoatan pada bidang diberikan.
Koordinat disini memainkan peran x dan 𝜃 istilah dalam energi kinetik. Kita dapat
membawa analogi ini lebih jauh . setelah disubsitusikan diperoleh:
𝐿
𝑚𝑟̈ − = 𝐹(𝑟)
𝑚𝑟 3
Jika kita mengubah istilahnya –L3/mr3, disisi kanan kita dapat:
𝐿3
𝑚𝑟̈ = 𝐹(𝑟) +
𝑚𝑟 3
Persamaan ini memiliki bentuk persamaan gerak dalam satu dimensi untuk subjek
partikel dengan gaya aktual F(r) ditambah sebuah gaya sentrifugal L2/mr3. Gaya sentrifugal
merupakan tidak benar-benar gaya sama sekali tetapi bagian dari percepatan waktu massa,
dialihkan ke posisi kanan persamaan untuk mengurangi persamaan untuk r ke persamaan atau
bentuk yang sama seperti gerak satu dimensi. Kita sebut dengan gerak semu. Jika dimasukkan ke
persamaan seperti sebuah masalah dalam gerak satu dimensi, potensial energi efektif sesuai gaya
disebelah kanan adalah:
𝐿3
𝑉 (𝑟) = ∫ 𝐹(𝑟)𝑑𝑟 − ∫ 𝑑𝑟
𝑚𝑟 2
𝐿2
= 𝑉(𝑟) +
2𝑚𝑟 2
Istilah kedua V adalah terkait potensial energi dengan gaya sentrifugal. Alasan mengapa
kita dapar memperoleh solusi lengkap untuk masalah adalah berdasarkan hanya dua integral atau

19
gerak konstan (L dan E), mengandung koordinat 𝜃 adalah persamaan gerak tidak mengandung
koordinat 𝜃 sehingga keteguhan L cukup untuk memungkinkan kita untuk mengeliminasi
koordinat 𝜃 dan untuk mengurangi masalah yang sama dalam gerak satu dimensi.
Kadang-kadang lebih mudah untuk menemukan jalur partikel dalam ruang daripada
menemukan gerakannya sebagai fungsi waktu, kita dapat menggambarkan jalur partikel dengan
memberikan r(𝜃). Hasil persamaan lebih sederhana jika kita subsitusikan:
1 1
𝑢 = 𝑟, 𝑟=𝑢

Kemudian;
1 𝑑𝑢 𝑑𝑢
𝑟̇ = − 𝜃̇ = −𝑟 2 𝜃̇
𝑢2 𝑑𝜃 𝑑𝜃
𝐿 𝑑𝑢
=−
𝑚 𝑑𝜃
𝐿 𝑑2𝑢 𝐿2 𝑢2 𝑑 2 𝑢
𝑟̈ = − 𝜃̇ =−
𝑚 𝑑𝜃 2 𝑚2 𝑑𝜃 2
Subsitusikan untuk r dan 𝑟̈ dan dikalikan –m/(L2u2), kita memiliki persamaan deferensial
jalur atau orbit dalam jangka waktu u (𝜃):
𝑑2𝑢 𝑚 1
= −𝑢 𝐹 ( )
𝑑𝜃 2 𝐿2 𝑢2 𝑢
Kita dapat memutuskaan apakah ada energi totak E, apakah gerakan r adalah periodik
atau aperiodik, kita dapat menemukan titik balik dan kita dapat menjelaskan dengan kasar
bagaimana kecepatan 𝑟̇ b bervariasi selama gerakan. Jika V(r) titik minimum ro, kemudian
energi E sedikit lebih besar dari V (ro), r dieksekusi sekitar osilasi harmonik tentang ro dengan
frekuensi angular yang diberikan:
1 ′
𝜔2 = 𝑚 (𝑑 2 𝑉 ′ /𝑑𝑟 2 )ro

Gambar orbit berbatas aperiodik

20
Kita harus ingat, tentu saja, bahwa pada saat yang sama partikel berputar disekitar pusat
kekuatan dengan kecepatan sudut:
̇ 𝐿
𝜃=
𝑚𝑟 2

2.3. Gaya sentral berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.


Masalah penting dalam gerak tiga dimensi adalah perpindahan massa atas reaksi gaya
sentral berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari pusat:
𝐾
𝐹= 𝑟̂
𝑟2
Untuk energi potensial:
𝐾
𝑉(𝑟) =
𝑟

Dimana standar radius rs diambil menjadi tak terbatas untuk menghindari istilah konstan
tambahan dalam V (r). Misalnya gaya gravitasi antara dua massa m1 dan m2 jarak r. Dengan:
𝐾 = −𝐺𝑚1 𝑚2 , 𝐺 = 6,67 × 10−8 𝑑𝑦𝑛𝑒. 𝑔−2 . 𝑐𝑚2
Dimana K negatif, karena gaya tarik garavitasi.

Gambar potensial efektif untuk hukum kuadrat terbalik persegi.

21
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pembahasan
Pada buku utama, di dapatkan informasi mengenai materi gaya sentral dalam satu bab.
Dimana ada bab khusus membahas pokok bahasan gaya sentral, adapun pokok-pokok bahasan
yang ada dalam bab gaya sentral pada buku utama yaitu :
(1) Gaya Central dan Energi Potensial
Yaitu gaya yang bekerja pada sebuah partikel adalah salah satu yang selalu di arahkan
menuju titik tetap yang disebut pusat (atau asal) dari gaya.
(2) Gerak Gaya Sentral pada Bidang Tunggal
Pertimbangan sebuah sistem yang terisolasi yang terdiri dua benda yang terpisah oleh
jarak r = r, dengan interaksi antara benda digambarkan oleh gaya sentral F(r).
(3) Gerak Partikel dalam Gaya Sentral
Dari persamaan sebelumnya adalah r  F (r )rˆ yang digambarkan pada gambar diatas
menggambarkan gerak suatu partikel dari massa 𝜇 dan dapat di selesaikan untuk r(t) jika
kita mengetahui bentuk dari gaya sentral F(r). sifat-sifat penyelesaian umum dari
persamaan diperoleh berdasarkan hukum-hukum kekekalan.
(4) Gerak Pusat Gaya Pada Bidang
Pada pertimbangan situasi, gaya sentral F ( r ) rˆ adalah sepanjang r; oleh karena itu gaya
sentral tidak menghasilkan torsi T dengan massa 𝜇 ini artinya momentum angular L dari
massa 𝜇 berputar pada porosnya ketika pusat gaya konstan.
(5) Gerak dari Energi dan Momentum Anguler
(6) Hukum Kepler
(7) Persamaan Gerak

Sedangkan dalam buku pembanding, materi gaya sentral tidak berada dalam 1 bab,
melainkan bagian dari satu bab yaitu pada bab gerak pada dua dan tiga dimensi. Namun
walaupun gaya sentral pada buku pembanding tidak dibuat dalam 1 bab, bukan berarti kita
memperoleh sedikit informasi dari buku pembanding tersebut.
Adapun sub materi yang dibahas pada buku pambanding mengenai gaya sentral yaitu :

22
(1) Gaya Sentral
Central Force (Gaya Sentral) didefinisikan sebagai suatu gaya yang mempunyai arah
radial dan besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber (tidak bergantung pada sudut di
sekitar sumber). Dengan kata lain, central force (gaya sentral) adalah sesuatu yang
mempunyai potensial yang besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber.
(2) Gerak pada gaya sentral
Suatu gaya sentral adalah suatu bentuk yang diberikan oleh F= ȓF(r). Secara fisik, gaya
semacam itu merupakan daya tarik sebuah atraksi jika F(r)<0 atau tolakan jika F(r)>0 dari
suatu titik tetap yang terletak di titik asal r = 0.
(3) Gaya sentral berbanding terbalik dengan kuadrat jarak.
Masalah penting dalam gerak tiga dimensi adalah perpindahan massa atas reaksi gaya
sentral berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari pusat:
𝐾
𝐹= 𝑟̂
𝑟2
Untuk energi potensial:
𝐾
𝑉(𝑟) =
𝑟
3.2. Kekurangan dan Kelebihan Buku
Kelebihan Buku Utama :
1. Banyak informasi yang diperoleh,
2. Materi gaya sentral dibahas dalam 1 bab pada buku,
3. Materi gaya sentral dilengkapi dengan contoh soal beserta penyelesaiannya,
4. Dapat melihat penerapan materi gaya sentral.

Kekurangan Buku Utama :


Terlalu banyak persamaan-persamaan yang harus ditelaah untuk memahami solusi dari
persamaan tersebut.

23
Kelebihan Buku Pembanding :
1. Banyak informasi yang diperoleh
2. Ditemukan aplikasi / penerapan pada gaya sentral

Kekurangan Buku Pembanding :


1. Materi mengenai gaya sentral tidak dibuat dalam 1 bab,
2. Contoh soal pada materi gaya sentral sedikit.

24
BAB IV
PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Pada buku utama banyak sekali informasi yang dapat diperoleh mengenai materi gaya
sentral. Bukan hanya informasi berupa materi dan penjelsan, namun buku utama juga dilengkapi
dengan banyak sekali contoh soal ataupun penerapan soal dan cara penyelesaiannya.
Pada buku pembanding banyak juga ditemukan informasi-informasi penting mengenai gaya
sentral namun tidak sebanyak pada buku utama. Pada buku pembanding materi mengenai gaya
sentral terbagi-bagi dalam sub bab tertentu. Tidak fokus pada materi gaya sentral saja.

25
DAFTAR PUSTAKA

26