Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mekanika adalah salah satu cabang ilmu dari bidang ilmu fisika yang mempelajari
gerakan dan perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan oleh gangguan mekanik yang
disebut gaya. Mekanika (Mechanics) juga berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari
gerakan suatu benda serta efek gaya dalam gerakan. Mekanika adalah cabang ilmu yang
tertua dari semua cabang ilmu dalam fisika. Dalam bab ini akan dibahas fisika mekanika
mengenai gaya sentral.
Gaya sentral adalah gaya yang bekerja pada garis lurus yang melalui suatu titik
tertentu atau titik pusat . Gaya sentral merupakan pengetahuan dasar yang sangat penting
dalam ilmu fisika termasuk diantaranya antara lain gaya gravitasi, gaya elektrostatik dan
sebagainya. Gaya interaksi antara partikel-partikel dasar yang terdapat di alam sangat besar
pengaruhnya, untuk dua partikel, salah satu partikel akan berfungsi sebagai pusat gaya dari
partikel yang lain.
Untuk mendapatkan persamaan gerak pengaruh medan-gaya sentral, selain dengan
hukum Newton dapat pula diperoleh melalui persamaan Euler-Lagrange dengan merumuskan
fungsi keadaan system yang disebut fungsi Lagrange. Suatu system yang bergerak
terhadap satu titik dimana potensial interaksi dimisalkan hanya bergantung pada jarak
relatifnya saja. Gerak partikel dibawah aksi gaya sentral masih terbatas pada dua dimensi.
Dengan menggunakan kekekalan momentum sudut dan energi, dapat direduksi gerak dua
dimensi menjadi gerak satu dimensi. Dapat ditegaskan bahwa gaya sentral adalah gaya
yang bergantung posisi dan konservatif.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana gaya sentral dalam pembelajaran fisika ?
2. Bagaimana sifat gerak karena adanya gaya sentral ?
3. Bagaimana aplikasi gaya sentral dalam kehidupan sehari-hari ?

1.3 Tujuan Makalah


1. Mengetahui pengertian gaya sentral dan contohnya.
2. Mengetahui sifat gerak karena adanya gaya sentral
3. Mengetahui aplikasi gaya sentral dalam kehidupan sehari-hari

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Gaya Sentral


Central Force (Gaya Sentral) didefinisikan sebagai suatu gaya yang mempunyai arah
radial dan besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber (tidak bergantung pada sudut di
sekitar sumber). Dengan kata lain, central force (gaya sentral) adalah sesuatu yang
mempunyai potensial yang besarnya hanya bergantung pada jarak dari sumber. Selain itu,
Gaya sentral adalah gaya bekerja pada benda, di mana garis kerjanya selalu melalui titik
tetap, disebut pusat gaya. Arah gaya sentral mungkin menuju pusat gaya (gaya tarik), dan
mungkin meninggalkan pusat gaya (gaya tolak). Gaya sentral yang besarnya hanya
tergantung pada jarak dan pusat gaya (r).Contoh gaya sentral yakni;Gaya gravitasi (tarik)
digambarkan dengan gerak planet, Gaya coulumb atau gaya elektrostatik (tarik dan tolak),
Gaya tarik dalam molekul (intermolekuler) atau gaya Van Der Walls, Atom dalam kubik
kristal yang berosilasi harmonik ditentukan dengan gaya sentral dan Gaya inti yang
ditampilkan oleh Yukawa.Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan
merupakan kebutuhan dasar manusia (Symon,Keith R.1980).
Sebuah gaya sentral yang bekerja pada sebuah partikel adalah salah satu yang selalu
di arahkan menuju titik tetap yang disebut pusat (atau asal) dari gaya. Selain itu, jika interaksi
antara dua benda diwakili oleh gaya pusat, maka gaya diarahkan di sepanjang garis yang
menghubungkan pusat dari dua benda. Jadi gaya pusat yang bekerja pada sebuah partikel
pada jarak r dari pusat gaya dapa diwakili oleh:
𝐹(𝑟) = 𝐹(𝑟)𝑟̂ (A.1)
Dimana F adalah vektor satuan radial. Ini bentuk hukum gaya menunjukkan bahwa
momentum sudut partikel yang konservasi atau tidak berubah.
Gaya sentral akan menjadi konservatif, maka energi mekanik dari sebuah partikel
adalah konstan. Dalam diskusi kita dalam bab ini, kita akan membatasi diri pad bentuk
terakhir dari gaya sentral, maka baik momentum sudut dan energi akan dikonservasi. Dalam
hal ini, hukum – hukum konservasi adalah hasil dari simetri radial. Karena vektor satuan
dapat ditulis sebagai r = r / r, kita dapat menulis persamaan sebagai:
𝐹(𝑟)𝑟
𝐹= (A.2)
𝑟

Pentingnya gaya isotropik menjadi jelas bila kita menganggap gaya berbagai jenis
yang ada di alam, untuk contoh: (1) gaya gravitasi yang menggambarkan gerakan planet, (2)

2
gaya coulomb atau gaya elektrostatik (tolak dan menarik) yang, disamping aplikasi lainnya,
mengarah pada perumusan model Rutherford dan Bohr dari atom, (3) gaya antar molekul
yang disebut van der Walls gaya, dijelaskan oleh:
𝐾 𝐾
𝐹(𝑟) = 𝑟 131 − 𝑟 52 (A.3)

(Arya, Atam P. 1990).


Contoh gaya sentral yakni;
1. Gaya gravitasi (tarik) digambarkan dengan gerak planet.
2. Gaya coulumb atau gaya elektrostatik (tarik dan tolak).
3. Gaya tarik dalam molekul (intermolekuler) atau gaya Van Der Walls yang
dituliskan sebagai berikut:
𝑘1 𝑘
F(r) = 𝑟 13 - 𝑟 72

dalam hal ini 𝑘1 dan 𝑘2 adalah konstan. Persamaan (A.3) disebut persamaan
Lennard-Jones.
4. Atom dalam kubik kristal yang berosilasi harmonik ditentukan dengan gaya
sentral.
5. Gaya inti yang ditampilkan oleh Yukawa dituliskan sebagai berikut:
𝑘 𝑘2
F(r) = ( 𝑟1 − ) 𝑒 −𝑘3 𝑟 (A.4)
𝑟2

dalam hal ini k1, k2, k3 konstan.


Gaya sentral itu bergantung terhadap posisi dan bersifat konservatif, sehingga bisa
ditentukan fungsi energi potensial V(r) jika memenuhi
Curl 𝐹̅ = ∇𝑥𝐹̅ = 0 (A.5)

Persamaan tersebut dapat ditulis dalam komponennya yakni,


𝐹(𝑟)
𝐹̅ = 𝑖̂Fx + 𝑗̂Fy + 𝑘̂Fz = 𝑟 (𝑖̂x+𝑗̂y+𝑘̂z) (A.6)

dan didapatkan
𝑥 𝑦 𝑧
Fx = 𝑟 F(r) ; Fy = 𝑟 F(r) ; Fz = 𝑟 F(r) (A.7)

sehingga persamaan (A.5) dapat dituliskan sebagai berikut,


𝜕𝐹 𝜕𝐹𝑦 𝜕𝐹 𝜕𝑧 𝜕𝐹𝑦 𝜕𝑥
∇𝑥𝐹̅ = 𝑖̂ ( 𝜕𝑦𝑧 − 𝜕𝑧 )+𝑗̂ ( 𝜕𝑧𝑥 − 𝜕𝑥)+𝑘̂ ( 𝜕𝑥 − 𝜕𝑦) = 0 (A.8)

Persamaan ini akan benar apabila tiga komponen tersebut sama dengan nol, sebagai contoh
𝜕𝐹 𝜕𝐹
(∇𝑥𝐹̅ )𝑥 = 𝑧 − 𝑦 (A.9)
𝜕𝑦 𝜕𝑧

harus sama dengan nol, dan persamaan (A.7) menjadi,

3
𝜕𝐹𝑧 𝜕 𝑧 𝜕 𝐹(𝑟) 𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)
= 𝜕𝑦 [𝑟 𝐹(𝑟)] = z𝜕𝑟 [ ] 𝜕𝑦 = z𝜕𝑦 𝜕𝑟 [ ] (A.10)
𝜕𝑦 𝑟 𝑟

dengan cara yang sama


𝜕𝐹𝑦 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)
= y𝜕𝑧 𝜕𝑟 [ ] (A.11)
𝜕𝑧 𝑟

Substitusi persamaan (11), (10) ke (9) menghasilkan


𝜕𝑟 𝜕𝑟 𝜕 𝐹(𝑟)
(∇𝑥𝐹̅ )𝑥 = (𝑧 − y ) [ ] (A.12)
𝜕𝑦 𝜕𝑧 𝜕𝑟 𝑟
1⁄
dari hubungan r = (𝑥2 + 𝑦2 + 𝑧2 ) 2

𝜕𝑟 𝑦 𝜕𝑟 𝑧
= 𝑟 dan =𝑟 (A.13)
𝜕𝑦 𝜕𝑧

disubstitusikan dalam persamaan (A.12) didapatkan


(∇𝑥𝐹)𝑥 = 0 (A.14)
Dengan cara yang sama dapat diperoleh bahwa

(∇𝑥𝐹)𝑦 = 0 dan (∇𝑥𝐹)𝑧 = 0 (A.15)


Jadi gaya sentral F adalah (∇𝑥𝐹) = 0 (A.16)
Dalam hal ini implikai gaya sentral adalah konservatif sehingga fungsi energi potensial
adalah
𝐹̅ (r) = gradV(r) = −∇V(r) (A.17)
Dalam koordinat bola, operator gradien mempunyai persamaan,

𝜕 1 𝜕 1 𝜕
= 𝑟̂ 𝜕𝑟 + 𝜃̂ 𝑟 𝜕𝜃 + 𝜑̂ 𝑟𝑆𝑖𝑛𝜑 𝜕𝜑 (A.18)

oleh karena fungsi energi potensial (V) merpakan fungsi jarak r , maka V = V(r), dan besaran
𝜃, dan 𝜑 tidak memberikan pengaruh pada persamaan (17) tersebut sehingga,
𝜕𝑉
𝐹̅ = −∇V = − 𝜕𝑟 𝑟̂ (A.19)

atau besar gaya F diberikan oleh


𝜕𝑉
F = − 𝜕𝑟 (A.20)

Sehingga didapatkan hubungan


𝑟
V = V(r) = − ∫𝑟 𝐹(𝑟) (A.21)
𝑠

2.2 Sifat Gerak Karena Gaya Sentral


Apabila sebuah benda memperoleh gaya sentral sehingga bergerak, maka gerakanya
bersifat : (1) konservatif, (2) gerak partikel selalu pada bidang yang tegak lurus, (3)
momentum anguler konstan, (4) energy konstan, (5) laju penyapuan luas konstan.

4
2.2.1 Bersifat Konservatif
Gaya konservatif adalah gaya yang dapat menerima kembali usaha yang telah
dilakukan. Gaya konservatif yang beraksi pada sistem tertutup memiliki sebuah kerja
mekanis terkait yang memperkenankan energi untuk mengubah hanya antara bentuk kinetik
atau potensial. Hal ini berarti bahwa untuk sistem tertutup, energi mekanis netto adalah kekal
kapan pun gaya konservatif beraksi pada sistem. Gaya, oleh karena itu, terkait secara
langsung dengan perbedaan energi potensial antara dua lokasi berbeda dalam ruang dan dapat
ditinjau sebagai artifak, benda (artifact) medan potensial dalam cara yang sama bahwa arah
dan jumlah aliran air dapat ditinjau sebagai artifak pemetaan kontur (contour map) dari
ketinggian area. Gaya konservatif meliputi gravitasi, gaya elektromagnetik, dan gaya pegas.
Tiap-tiap gaya ini, oleh karena itu, memiliki model yang gayut pada posisi seringkali
diberikan sebagai vektor radial eminating dari potensial simetri bola.
Tenaga kinetik benda telah diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan usaha
karena adanya gerak. Jelas bahwa setelah perjalanan pulang pergi dalam gambar berikut.

Kemampuan melakukan usahanya tetap sama, kemampuannya kekal (converse). Gaya elastik
yang dilakukan oleh pegas ideal ini, dan gaya lain yang berlaku serupa, disebut bersifat
konservatif. Gaya gravitasi juga konservatif; jika sebuah bola dilemparkan vertikal keatas, ia
akan kembali ke tangan kita dengan tenaga kinetik yang sama seperti ketika ia lepas dari
tangan kita (dianggap hambatan udara diabaikan).
Gaya konservatif dapat didefenisikan lewat pandangan lain, yaitu melalui usaha yang
dilakukan oleh gaya tersebut pada partikel. Dalam contoh pertama di atas, usaha dilakukan
oleh gaya elastik pegas pada balok ketika pegas tertekan. Usaha ini harganha negatif, karena
gaya yang dikenakan pada balok oleh pegas (ke kiri dalam gambar diatas) arahnya
berlawanan dengan arah pergerseran (ke kanan dalam gambar). Ketika pegas memanjang

5
kembali, usaha yang dilakukan oleh gaya pegas pada balok berharga positif (gaya dan
pergeseran berarah sama). Dalam contoh kita yang pertama, usaha netto yang dilakukan pada
balok oleh gaya pegas untuk satu putaran penuh, atau pulang-pergi, sama dengan nol.
(Pantur Silaban dan Erwin Sucipto, 1978)
Gaya sentral terhadap posisi dan bersifat konservatif, sehingga bisa ditentukan fungsi
energy potensial V(r) jika memenuhi ;
Curl F= ∇ x 𝑭 = 0
Persamaan tersebut dapata ditulis dalam komponennya yakni,
𝑭 (𝒓)
F= î𝑭𝑥 +ĵ 𝑭𝑦 + ḱ𝑭𝑧 = ( î𝑥 +ĵ𝑦 + ḱz), didapatkan
𝐫
𝑥 𝑦 𝑧
Fx = F(r) ; F𝑦 = 𝑟 𝐹(r) ; Fz = F(r), sehingga dapat dituliskan persamaan
𝑟 𝑟
𝝏𝑭𝑧 𝝏𝑭𝑦 𝝏𝑭𝑥 𝝏𝑭𝑧 𝝏𝑭𝑦 𝝏𝑭𝑥
∇ x𝑭 = î( − ) + ĵ( − )+ḱ( − ) = 0, persamaan ini benar jika
𝝏𝒚 𝝏𝒛 𝝏𝒛 𝝏𝒙 𝝏𝒙 𝝏𝒚

ketiga komponen bernilai nol.


Dapat disimpulkan bahwa gaya sentral F adalah(∇ x 𝐹) = 0
2.2.2 Gerak Partikel Selalu pada Bidang yang Tegak lurus dengan L
Gaya sentral F(r)ȓ bekerja searah r , oleh karena itu tidakdapat menghasilkan torsi τ
pada pengurangan massa µ. Ini berarti momentum angular L untuk massa µ terhadap sumbu
yang melalui pusat gaya adalah konstan. Jika p merupakan momentum linear untuk partikel
bermassa µ, maka torsinya adalah :

d𝑳 𝑑 d d𝑳
τ = 𝒅𝒕 = (𝒓x𝒑)= ( r x mv ), dengan τ = = 0 dan momentum sudutnya L = r x
𝑑𝑡 𝒅𝒕 𝒅𝒕

p = konstan.
Jika momentum angular L dari massa µ adalah konstan, maka besar dan arahnya
tertentu dalam ruang sehingga vector r dan p harus berada bidang yang tegak lurus dengan L,
dan gerak partikel dengan massa µ terbatasan pada bibang yang tegak lurus L.

z
L

O Y
p

6
2.2.3 Momentum Angular dan Energi konstan
Untuk menentukan energy gerak partikel maka ditinjau momentum sudut dari suatu
partikel bermassa µ yang berada pada r , sehingga L  rp  rV  r (r) , oleh karena L

konstan maka L  r 2 = konstan.


Bila system tidak disipatif dan gaya sentral adalah konservatif, energy total adalah
konstan yaitu
1 2 1
E mv  V (r )   (r 2  r 2 2 )  V (r ) , dimana   L r 2
2 2

1  2 
2

   r  r 2  L 2    V (r )
2   r  

1  2 L2 
E   r  2 2   V (r )
2   r 

1 2 L2
 r   V (r )  kons tan
2 r 2
2.3 Aplikasi Gaya Sentral
2.3.1 Gerak Planet (Hukum Kepler)
Dalam gerak planet, perputaran dan prinsip pergerakannya dianalisis menggunakan
prinsip pada hukum kepler.
Hukum Kepler I (Hukum Ellips):
“The orbit of every planet is an ellipse with the sun at one of two foci” (Suripto,
Probo: 1986), artinya: Orbit setiap planet adalah ellips dengan matahari sebagai titik
fokus. Fokus itu terletak pada sumbu panjang. Animasi gerakan planet ini dapat
dilihat berikut:

keterangan:
a : sumbu Panjang
b : sumbu pendek
ae : eksentrisitas atau perbandingan
jarak antara titik fokus pertama dan
kedua. 0≦e<1, jika nilai e=0, maka
orbit berbentuk lingkaran
r0 : Semi-latus rectum, jari-jari yang
sejajar dengan sumbu pendek dari
titik fokus kedua.
r : Jarak matahari dan planet
M : Matahari, dimana massa (M>m)
m : Planet

7
Semakin dekat fokus-fokus ellips maka ellips semakin mendekati bentuk lingkaran.
Penyimpangan ellips dari lingkaran diukur dengan eksentrisitas yaitu perbandingan jarak
antara kedua fokus dengan diameter panjang. Eksentrisitas sebuah lingkaran adhalah nol,
oleh karena ini syarat ellips adalah nilai e>0.
Akibat pergerakan planet-planet dalam lintasan yang ellips, maka jarak antara
matahari dan planet berubah dari waktu ke waktu selama berputar mengelilingi matahari atau
berevolusi. Bila planet berada dalam jarak terdekat dengan matahari disebut perihelion,
sedangkan jika planet berada dalam jarak terjauh disebut aphelion. Dalam kasus bumi, bumi
berada pada jarak perihelion (91.5 juta mil) pada bulan Januari dan aphelion dalam bulan Juli
(94.5 juta mil). Jarak rata-ratanya adalah 93.0 juta mil atau sekitar 150 juta kilometer, atau 1
SA (Satuan Astronomi) atau Astronomical Unit (AU).
Di dalam lintasan planet yang berbentuk ellips tersebut hubungan yang berlaku
dirumuskan dalam persamaan berikut :
𝑟 𝑟0 𝑎 (1−𝑒 2 )
𝑎 = 1−𝑒0 2 ; 𝑏 = √1−𝑒 2
; 𝑟= 1+𝑒 cos 𝜑

Jika diketahui : r0 = 1000, e = 0.017, φ = 50° maka dengan menggunakan rumus di


atas masing-masing nilai dapat diketahui, yaitu :
a = 1000.28908355, b = 1000.14453133, r = 992.866738542
Jika dibuat sebuah gambar maka terbentuk proyeksi ellip seperti pada gambar 2
dibawah ini, yaitu lingkaran bergaris merah.

Gambar 3. Bentuk Ellips yang terbentuk dari perhitungan di atas.

Hukum Kepler II
Hukum kedua Kepler menyatakan tentang pergerakan planet:
“The line joining the planet to the Sun sweeps out equal areas in equal intervals of time”.
8
Maksudnya adalah planet-planet akan menyapu luas yang sama dalam waktu yang sama.
Gambar 4. Hukum area sama dalam waktu
yang sama

Dalam gambar di atas, M adalah matahari, misalkan sebuah planet B bergerak dari B1
ke B2 dalam waktu sebulan ketika berada di lintasan yang dekat dengan matahari, maka
ketika jauh dari matahari dalam waktu sebulan pula planet B akan menempuh jarak dari B3
ke B4. Luas daerah B1-M-B2 akan sama dengan luas daerah B3-M- B4.
Jika sebuah planet bergerak dari B1 ke B2 menempuh waktu t = 1 bulan, maka
bergerak di sepanjang lintasannya dengan kecepatan sedemikian, sehingga dalam waktu
yang sama garis sinar matahari membentuk sudut dengan luas yang sama.
𝑑𝑆
Rumusan hukum Kepler kedua ini: = 𝐶 (𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛)
𝑑𝑡

dimana dS = luas dan t = intervel waktu.


Dalam hukum Kepler I telah disebutkan bahwa lintasan planet berbentuk ellips,
konsekuensinya planet-planet akan bergerak lebih cepat di lintasan orbitnya apabila ia berada
lebih dekat dengan matahari dan akan bergerak lebih lambat apabila berada jauh dari
matahari. Hukum tentang area sama dalam waktu yang sama adalah konsekuensi fakta bahwa
planet-planet mempertahankan momentum sudutnya ketika berputar di sekitar matahari.
Hukum Kepler III
Hukum ketiga Kepler menyatakan hubungan antara jarak planet dari matahari dan
periode revolusi. Periode revolusi atau tahun planeter dari planet meningkat, dari Merkurius
yang membutuhkan waktu 88 hari karena letaknya paling dekat dengan matahari sampai 248
tahun untuk planet yang terjauh yaitu Pluto. (Catatan: Pluto sekarang oleh komunitas
astronomi tidak dimasukkan lagi sebagai planet tata surya).
Hukum ketiga Kepler disebut juga dengan hukum harmoni. Formulasinya adalah
pangkat dua dari waktu yang dibutuhkan tiap-tiap planet di dalam waktu peredarannya
mengelilingi matahari (W2) berbanding lurus dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet dari
matahari (d3).
Maksudnya adalah, jika waktu beredar planet mengelilingi matahari = W dan jarak
rata-rata planet ke matahari = d, maka dari dua planet P1 dan P2 terdapat perbandingan:

9
W12 : W2 2 = d13 : d2 3 atau W12 : d13 = W2 2 : d2 3
Jadi bagi tiap-tiap planet berlaku rumus W 2 : d 3 = C
C adalah bilangan tetap yang yang besarnya tergantung pada satuan-satuan ukuran yang
dipergunakan.
Contoh: Menghitung jarak planet mars dan matahari:
Jarak bumi ke matahari = 1 AU (astronomical unit = 1 satuan astronomi) dengan
waktu edar = 1 tahun. Jarak rata-rata Mars matahari = d2 dan waktu revolusi Mars = 1,88
tahun. Jarak Mars Matahari adalah:

Rumus ini digunakan untuk mengitung jarak dari planet ke matahari, serta waktu
peredarannya, dengan membandingkannya dengan bumi, yang jarak (d) dan waktunya
(w) diketahui.

10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Gaya sentral adalah gaya yang bekerja pada sebuah partikel yang selalu mengarah
pada satu titik yang dinamakan pusat(asal) dari gaya. Jadi aksi gaya sentral pada
partikel yang berjarak r dari pusat gaya, dapat dinyatakan sebagai: 𝐹̅ (r) = F(r)𝑟̂
2. Contoh gaya sentral yakni: Gaya gravitasi (tarik), gaya coulumb atau gaya
elektrostatik (tarik dan tolak), gaya tarik dalam molekul (intermolekuler) atau gaya
Van Der Walls, atom dalam kubik kristal yang berosilasi harmonik, gaya inti yang
ditampilkan oleh Yukawa.
3. Apabila sebuah benda memperoleh gaya sentral sehingga bergerak, maka gerakanya
bersifat: konservatif, gerak partikel selalu pada bidang yang tegak lurus, momentum
anguler konstan, energy konstan

11
DAFTAR PUSTAKA

Astono, Juli. 2005. Mekanika. Malang: UM Press.


Amnirullah, Lalu. 2015. Analisis Kesulitan Penguasaan Konsep Mahasiswa pada Topik
Rotasi Benda Tegar Dan Momentum Sudut. Jurnal Fisika Indonesia No: (55) Vol.
XIX
Anag Dwijaya, Bima. 2017. Studi Interaksi Dua Nukleon Dan Fenomena Kritis Potensial
Yukawa. Jurnal Fisika. Vol. 6 No ( 4)

Arya, Atam P. Introduction to Classical Mechanics(2nd Edition).


Chien, Mao-thing. 2011. Central force and the higher rank numerical range. Department of
Mathematical Sciences, Faculty of Science and Technology, Hirosaki University.
531–540

Ginting,Eva Marlina dan Bukit,Nurdin. (2015). Mekanika. Medan : Unimed Press

Givental, Alexander. 2016. Kepler’s Laws and Conic Sections. Institute for Mathematical
Sciences (IMS), Stony Brook University, NY. DOI 10.1007/s40598-015-0030-6
Hal.139–148

Ningsih Ayi. 2011. Potensi Energi Arus Laut Untuk Pembangkit Tenaga Listrik . Jurnal
Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 3, No. 1, Hal. 13-25,
Riza, Ibnu Adam. 2017. Perpaduan Metode Newton-Raphson Dan Metode Euler Untuk
Menyelesaikan Persamaan Gerak Pada Osilator Magnetik. Jurnal Pendidikan Fisika
dan Keilmuan . Vol. 3 No (1) hal 13-18
Ray, Subhankar. 2003. Orbits in a central force field: Bounded orbits. Dept of Physics,
Jadavpur University

Silaban,Pantur dan Sucipto, Erwin (1978). Fisika Jilid 1. Bandung : ITB

Suroso, Agus. 2017. Mekanika. Bandung : UPI Press


Suhadi. 2016. Orbit Relativistik Partikel di Bawah Pengaruh Gaya Sentral Tipe Yukawa.
Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya (JIFP), Vol X, No.(10), 1-6
Suhendi, Endi. 2005. Tinjauan Klasik Dan Relativistik Kestabilan Orbit Hampir Melingkar
Dalam Medan Gaya Sentral. Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 6 No. (2)

12