Anda di halaman 1dari 1

“ SEBAB-SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT PARA FUQAHA Kalimat perintah (amr) ini maksudnya yaitu wajib dan adakalanya pula

DALAM MEMAHAMI AL-QUR’AN DAN SUNNAH ” bukan untuk wajib, seperti terdapat dalam sabda Nabi:

“Hai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mempunyai
A. Hal-hal yang Berkaitan dengan Lafaz kesanggupan berumah tangga maka hendaklah kalian beristri.”

Dari awal rujukan utama dalam hukum islam adalah Al-Qur’an dan Jumhur ulama mengatakan bahwa perintah falyatazawwaj hanya
Hadis. Dua sumber ini telah diyakini dan disepakati oleh para ulama islam sebagai menunjukan sunnah (nadh), sementara penggolongan lain berpendapat bahwa
pegangan utama dan umat islam tidak akan tersesat selama mereka tetap lafaz itu menunjukkan wajib kawin bagi pemuda yang sudah berkesanggupan
berpegangan kepada dua sumber tersebut. Namun, menunjukkan bahwa kedua untuk menikah atau berumah tangga. Karena pihak ini desebut sebagai adanya
sumber ini terdiri dari lafaz-lafaz bahasa Arab yang suku katanya mempunyai arti qarinah (pertunjuk) lain yang menyebabkan perintah itu tidak dipakai menurut
banyak, dimana arti yang satu dengan yang lain saling bertentangan atau adanya maksud utamanya (wajib) sebagaimana hal ini dijadikan dasar bagi pihak kedua
banyak kata tetapi mempunyai arti yang sama. Ada lafaz yang dari satu sisi untuk mewajibkan pernikahan bagi yang berkesanggupan.
dipandang sebagai hakikat, tetapi di sisi lain dianggap sebagai majaz, ada lafaz Kalimat larangan (nahy) mempunyai keadaan yang sama, hal ini terdapat
dalam bentuk mutlaq, dan ada yang muqayyad. Dan, disamping itu lagi, ada yang pada hadis Nabi yang berbunyi:
berbentuk perintah dan ada pula yang berbentuk larangan, dan lain sebagainya.
Di antara lafaz yang mempunyai arti ganda biasa disebut lafaz “Apabila seseorang bangun dari tidurnya, janganlah menceburkan
musytarak, terdapat dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 228: tangannya ke dalam bejana sebelum mencucinya terlebih dahulu karena ia tidak
mengetahui di mana tangannya ketika tidur.”

“Dan perempuan-perempuan yang ditalak hendaklah menahan diri tiga Jumhur ulama mengatakan bahwa Ia yagmis dalam hadis kepada makruh,
kali quru’…”. bukan haram, karena qarinah yang menyebabkan tidak dipakai menurut makna
Lafaz quru’ dalam ayat di atas arti ganda: suci dan haid. Oleh karena itu, asalnya yaitu haram. Sementara itu, Imam Ahmad dan kalangan Zahiriyah tetap
sebagian ulama mengartikan quru’ dengan suci, seperti kelompok syafi’iyah, memaknakannya kapada makna asal larangan disebut haram.
sehingga mereka mewajibkan iddah wanita yang ditalak tiga kali suci. Sebaliknya
kelompok Hanafiyah mengartikan lafaz quru’ itu dengan haid, sehingga mereka B. Hal-hal yang Berkaitan dengan Periwayatan
mewajibkan iddah wanita yang ditalak seperti yang disebutkan diatas selama tiga
kali haid, bukan tiga kali suci. Sa’id bin Musayyab berpendapat bahwa istri yang ditalak tiga suaminya
Kemudian, ada ulama yang memakai arti lughwy dari suatu lafaz dan ada akan halal kembali bagi suami yang mentalaknya, setelah istri itu kawin dnga laki-
yang memakai arti (epistimologi). Misal lafaz nikah dalam surat Al-Nisa ayat 22: laki lainwalau suami kedua itu tidak menyetubuhinya. Para ulama mengatakan
bahwa semua baru halal apabila suami kedua tersebut sudah menyetubuhinya,
karena ada riwayat (hadis) lain yang mengatakan:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu.
‫حتى تذوقوعسلته ويذوق عسيلتك‬
“Hingga kamu merasakan madunya, dan Dia merasakan madunya.”
Menurut lughat (etimologi), nikah berarti persetubuhan, dan menurut
syara’ berarti akad. Oleh karena itu, ulama Hanafiah yang mengartikan lafaz
tersebut dengan makna yang pertama melarang seseorang kawin dengan wanita
yang sudah disetubuhi oleh ayahnya, baik perkawinan secara halal atau bukan. Di
lain pihak, ulama Syafi’iyah yang mengartikan lafaz nikah dengan akad nikah
tidak sah. Perkawinan itu baru terlarang kalau persetubuhan yang dilaakukan
ayahnya dengan wanita itu adalah persetubuhan yang sah setelah melakukan akad
nikah.

1 2