Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

HIPERTENSI

KELOMPOK:

1. Arini putri
2. Desti Fitrianti
3. Eta Fatriany
4. Evi Jumiati S
5. Fraga Batara Krayana Tama
6. Khairul Umam
7. Rika Fitriah
8. Sulastri

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur


Tahun Ajaran 2019//2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah yang maha kuasa atas segala rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas berjudul “Asuhan Keperawatan pada
Hipertensi“ dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan penyusunan tugas
ini adalah untuk memenuhi tugas kelompk keperawatan komunitas.
Dengan segala kerendahan hati Penulis selaku penyusun tugas ini menyadari
bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis senantiasa
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi
kesempurnaan tugas yang serupa dimasa yang akan datang.
Demikian, Semoga segala yang tertulis di dalam tugas ini bermanfaat, selebihnya
mohon maaf yang sebesar-besarnya

i
Daftar isi
Table of Contents
KATA PENGANTAR ................................................................................................................. i

Daftar isi ..................................................................................................................................... ii

BAB I ...........................................................................................................................................1

PENDAHULUAN ..............................................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................................1

B. Tujuan Makalah .....................................................................................................2

BAB II ........................................................................................................................................3

PEMBAHASAN ................................................................................................................3

A. Pengertian ...........................................................................................................3

B. Epidemiologi ......................................................................................................4

C. Etiologi ...............................................................................................................4

D. Faktor Predisposisi .............................................................................................6

E. Manifestasi Klinis ..............................................................................................7

F. Klasifikasi ...........................................................................................................8

G. Komplikasi .......................................................................................................10

H. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................11

I. Penatalaksanaan ...............................................................................................12

J. Patofisiologi ..........................................................................................................14

BAB III .....................................................................................................................................17

TINJAUAN KASUS ........................................................................................................17

A. PENGKAJIAN ....................................................................................................17

B. ANALISA DATA ................................................................................................22

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN .........................................................................23

D. Intervensi Keperawatan .......................................................................................23

E. Implementasi ........................................................... Error! Bookmark not defined.

Bab IV........................................................................................................................................26

Penutup ............................................................................................................................26

kesimpulan ...............................................................................................................26

Daftar Pustaka ..........................................................................................................................27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan
penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat, mengingat
dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang
sehingga membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan
terpadu. Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan
mortalitasnya (kematian) yang tinggi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata prevalensi (angka


kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari berbagai
penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8 – 28,6 %
penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Saat ini
terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak
menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini antara lain
dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang berhubungan
dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya
olah raga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar lemaknya.

Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan


ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot
(satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang
mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara
alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan
hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul
tanda dan gejala hipertensi dengan kemungkinan komplikasinya. Obesitas
merupakan ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi

1
volume darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita
hipertensi yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau
normal, sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin
plasma yang rendah.

Hipertensi perlu diwaspadai karena merupakan bahaya diam-diam. Tidak


ada gejala atau tanda khas untuk peringatan dini bagi penderita hipertensi. Selain
itu, banyak orang merasa sehat dan energik walaupun memiliki hipertensi.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, sebagian besar kasus
hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis.

Hipertensi biasanya dimulai “diam-diam” umumnya setelah usia 30


tahun atau 40 tahun. Dalam kasus-kasus pencegahan, penyakit ini bisa dimulai
lebih awal. Pada tahap awal, tekanannya mungkin naik secara berkala, misalnya
pada situasi stress biasanya, ketika mengendarai mobil jarak jauh, dan kembali ke
normal lebih lama dari biasanya. Atau tekanannya mungkin hanya naik saat
bekerja, tidak pada istirahat atau berlibur. Pada kasus-kasus seperti ini kita
membicarakan “hipertensi labil”. Atau jika angkanya terletak diatas kesasaran
normal, kita menyebutnya “hipertensi perbatasan” namun, jika angkanya diatas
normal secara konsisten, penyakitnya telah berkembang ketahap “stabil”
hipertensi kronis bisa memiliki berbagai bentuk. Contohnya sangat banyak,
bahkan setiap rumah sakit mengetahui orang-orang muda dengan tekanan darah
yang sangat tinggi, dari 200/120 samapi 250-140. (Hans p. wolf. 2006 : h 63)

B. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari pembuatan makalah hipertensi ini antara lain :
1. Memahami dan menjelaskan definisi hipertensi.
2. Memahami dan menjelaskan gejala hipertensi.
3. Memahami dan menjelaskan penyebab hipertensi.
4. Memahami dan menjelaskan pemeriksaan penunjang untuk hipertensi.
5. Memahami dan menjelaskan Pengobatan hipertensi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan

sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada

populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan

tekanan diastolic 90 mmHg. (Suzanne C. Smeltzer, 2001)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi

peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang

mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90

mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.

Secara sederhana, seseorang dikatakan menderita Tekanan Darah Tinggi jika

tekanan Sistolik lebih besar daripada 140 mmHg atau tekanan Diastolik lebih besar

dari 90 mmHg. Tekanan darah ideal adalah 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg

untuk Diastolik.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih

tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah

diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80

mmHg didefinisikan sebagai “normal”. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi

kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan

darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka

beberapa minggu.

3
B. Epidemiologi

Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika

Serikat. Sekitar seperempat jumlah pendududk dewasa menderita hipertensi, dan

insidennya lebih tinggi dikalangan Afro-Amerika setelah usia remaja.

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi essensial dan sisanya

mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu.

C. Etiologi

Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90% diantara

mereka menderita hipertensi essensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan

penyebab medisnya.Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab

tertentu (hipertensi sekunder).

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :

1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui

penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).

2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari

adanya penyakit lain.

Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa

perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama

menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-

10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,

penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya

pil KB).

4
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor

pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau

norepinefrin (noradrenalin).

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:

1. Penyakit Ginjal

- Stenosis arteri renalis

- Pielonefritis

- Glomerulonefritis

- Tumor-tumor ginjal

- Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)

- Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)

- Terapi penyinaran yang mengenai ginjal

2. Kelainan Hormonal

- Hiperaldosteronism

- Sindroma Cushing

- Feokromositoma

3. Obat-obatan

- Pil KB

- Kortikosteroid

- Siklosporin

- Eritropoietin

- Kokain

- Penyalahgunaan alkohol

- Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)

4. Penyebab Lainnya

5
- Koartasio aorta

- Preeklamsi pada kehamilan

- Porfiria intermiten akut

- Keracunan timbal akut

Adapun penyebab lain dari hipertensi yaitu :

- Peningkatan kecepatan denyut jantung

- Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama

- Peningkatan TPR yang berlangsung lama

D. Faktor Predisposisi

Berdasarkan faktor pemicu, Hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa hal

seperti umur, jenis kelamin, dan keturunan. Hipertensi juga banyak dijumpai pada

penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi.

Dugaan ini menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya

Hipertensi.

Sedangkan yang dapat dikontrol seperti kegemukan/obesitas, stress, kurang

olahraga, merokok, serta konsumsi alkohol dan garam. Faktor lingkungan ini juga

berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi esensial. Hubungan antara stress dengan

Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah saraf yang

bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada

saat kita tidak beraktivitas.

Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara

intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan

tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka

kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal

6
ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat

yang tinggal di kota.

Berdasarkan penyelidikan, kegemukan merupakan ciri khas dari populasi

Hipertensi dan dibuktikan bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan

terjadinya Hipertensi dikemudian hari. Walaupun belum dapat dijelaskan hubungan

antara obesitas dan hipertensi esensial, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa daya

pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih

tinggi dibandingan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal.

E. Manifestasi Klinis

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun

secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan

dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud

adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan;

yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan

tekanan darah yang normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

- Sakit kepala

- Kelelahan

- Mual

- Muntah

- Sesak nafas

- Gelisah

- Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,

mata, jantung dan ginjal.

7
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan

bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati

hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.

F. Klasifikasi

Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7 (2003) dapat dilihat pada tabel berikut:
Klasifikasi Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi 140-150 90-99
stage I
Hipertensi >150 >100
stage II
(Arif Muttaqin, 2009).
Klasifikasi Hipertensi menurut WHO:
Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal <130 <85
Tingkat I (hipertensi ringan) 140-159 90-99
Sub group: Perbatasan 140-149 90-94
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (Hipertensi Berat) >180 >110
Hipertensi Sistol terisolasi >140 <90
Sub group: Perbatasan 140-149 <90
(Andy Sofyan, 2012)
Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia
Kategori Sistol (mmHg) Dan/Atau Diastol (mmHg)
Normal <120 Dan <180
Pre Hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi Tahap I 140-159 Atau 90-99
Hipertensi Tahap II ≥160 Atau ≥100

8
Hipertensi Sistol ≥140 Dan <90
Terisolasi
(Andy Sofyan, 2012)
The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High

Blood Pressure membuat suatu klasifikasi baru yaitu :

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih *


Kategori Sistolik Diastolik
(mmhg) (mmhg)
Normal < 130 <85
Normal tinggi 130-139 85-89
Hipertensi †
Tingkat 1 (ringan) 140-159 90-99
Tingkat 2 (sedang) 160-179 100-109
Tingkat 3 (berat) ≥180 ≥110

Tidak minum obat antihipertensi dan tidak sakit akut. Apabila tekanan sistolik

dan diastolic turun dalam kategori yang berbeda, maka yang dipilih adalah kategori

yang lebih tinggi. berdasarkan pada rata-rata dari dua kali pembacaan atau lebih yang

dilakukan pada setiap dua kali kunjungan atau lebih setelah skrining awal.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih

tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah

diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80

mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi

kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan

darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka

beberapa minggu.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau

lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih

dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. Sejalan

9
dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah;

tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus

meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan

menurun drastis.

Disamping itu juga terdapat hipertensi pada kehamilan ( pregnancy-induced

hypertension, PIH ) PIH adalah jenis hipertensi sekunder karena hipertensinya

reversible setelah bayi lahir. PIH tampaknya terjadi akibat dari kombinasi

peningkatan curah jantung dan TPR. Selama kehamilan normal volume darah

meningkat secara drastis. Pada wanita sehat, peningkatan volume darah

diakomodasikan oleh penurunan responsifitas vascular terhadap hormon-hormon

vasoaktif, misalnya angiotensin II. Hal ini menyebabkan TPR berkurang pada

kehamilan normal dan tekanan darah rendah. Pada wanita dengan PIH, tidak terjadi

penurunan sensitivitas terhadap vasopeptida-vasopeptida tersebut, sehingga

peningkatan besar volume darah secara langsung meningkatkan curah jantung dan

tekanan darah. PIH dapat timbul sebagai akibat dari gangguan imunologik yang

mengganggu perkembangan plasenta. PIH sangat berbahaya bagi wanita dan dapat

menyebabkan kejang,koma, dan kematian.

G. Komplikasi

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi menurut TIM

POKJA RS Harapan Kita (2003:64) dan Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) adalah

diantaranya:

- Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient

ischemic attack (TIA).

10
- Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut

(IMA).

- Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

- Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

H. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang menurut FKUI (2003:64) dan Dosen Fakultas kedokteran

USU, Abdul Madjid (2004), meliputi:

- Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi

bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan factor resiko lain atau

mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urin analisa, darah perifer

lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol

total, HDL, LDL.

- Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP

(dapat mengidentifikasi hipertensi, sebagai tambahan dapat dilakukan

pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH dan

ekordiografi.

- Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose

(DM) kalium serum (meningkat menunjukkan aldosteron yang meningkat),

kalsium serum (peningkatan dapat menyebabkan hipertensi: kolesterol dan tri

gliserit (indikasi pencetus hipertensi), pemeriksaan tiroid (menyebabkan

vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam

urat (factor penyebab hipertensi)

- Pemeriksaan radiologi : Foto dada dan CT scan

11
I. Penatalaksanaan

Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena

olah raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yang teratur dapat memperlancar

peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat

digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke

dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).

Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Pengobatan non obat (non farmakologis)

2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Pengobatan non obat (non farmakologis)

Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah

sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya

ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan

non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek

pengobatan yang lebih baik.

Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :

1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh

2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.

Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan

penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan.

Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal,

tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.

3. Ciptakan keadaan rileks

Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol

sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.

12
4. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45

menit sebanyak 3-4 kali seminggu.

5. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar

saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.

1. Diuretik

Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh

(lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang

mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya

adalah Hidroklorotiazid.

2. Penghambat Simpatetik

Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf

yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa,

Klonidin dan Reserpin.

3. Betabloker

Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya

pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah

diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh

obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita

diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia

(kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang

bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala

bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat

harus hati-hati.

13
4. Vasodilator

Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi

otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah :

Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari

pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.

5. Penghambat ensim konversi Angiotensin

Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat

Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).

Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang

mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

6. Antagonis kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat

kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah :

Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul

adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.

7. Penghambat Reseptor Angiotensin II

Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II

pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-

obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek

samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.

Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko

terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

J. Patofisiologi

14
Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor yaitu aliran darah dan
resistensi darah. Tekanan darah arteri sama dengan tehanan cardiac
output. Meningkatnya tekanan darah menyebabkan meningkatnya
tekanan vaskuler perifer, meningkatnya kardiac output atau kombimasi
keduanya. Sistem venin angiosten aldosteron karena adanya
vasokontriksi ketika aliran darah keginjal menurun. Ini karena sekresi
renin dan bentuk angiostensin. Bentuk angiostensin menyebabkan
meningkatnya sekresi adosreron, menyebabkan retensi air dan sodium
ginjal. Akibatnya peningkatan volume ekstra seluler. Hal ini akan
meningkatkan cardiac output dan tekanan arteri. Sistem saraf syimpatik
juga menontrol tekanan darah oleh neropineprin dalam situasi stres
menyebabkan vasolonstriksi. Hipertensi primer biasanya mulai dengan
meningkatnya secara intermitten tekanan darah diastolik dan hal lain
yang menopang meningkatnya tekanan darah biasanya tanpa gejala.

15
Patway

16
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN

Pengkajian dilakukan tanggal 27 Maret 2009 , Jam 08.00 WIB di

1. BIODATA

a. Identitas pasien

Nama : Tn. A

Umur : 50 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pendidikan : -

Pekerjaan : -

Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia

Alamat : -

Status perkawinan : Menikah

Tanggal masuk : - Jam : - WIB

Ruang perawatan :

Diagnosa Medis : Hipertensi

b. Identitas penanggung jawab

Nama :

17
Umur :

Jenis kelamin :

Pekerjaan :

Alamat :

Hubungan dengan pasien :

2. RIWAYAT KESEHATAN PASIEN

a. Keluhan utama

Sakit kepala, mual dan muntah.

b. Riwayat kesehatan kesehatan sekarang

Pasien mengatakan kepalanya sakit, dan mempunyai penyakit hipertensi


ditandai dengan tensi darah 210/115 mmHg.

c. Riwayat kesehatan dulu

Pasien pernah mengalami riwayat penyakit hipertensi sebelumnya.

d. Riwayatan kesehatan keluarga

Dalam keluarga pasien, tidak ada yang menderita penyakit keturunan


seperti DM, hipertensi, dsb.

3. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik tanggal 04 Februari 2009

a. Keadaan umum

KU : Lemah

Tanda-tanda : TD : 210 / 115 mmHg

18
N : 90x / menit

S : 3672C

RR : 26 x/menit

b. Kepala

Mesochepal, rambut hitam, kulit kepala bersih tidak ada ketombe.

c. Mata

Sklera tidak ikhterik, conjungtiva tampak merah (tidak anemis), pupil


isokor, penglihatan baik.

d. Telinga

Simetris, terdapat sedikit serumen, pendengaran baik.

e. Hidung

Simetris, tidak ada polip, penciuman baik.

f. Mulut

Tidak cyanosis, tidak ada aphtae (sariawan), tidak ada stomatitis, radang
mukcosa.

g. Gigi

Ada gigi yang tanggal, ada gigi berlubang

h. Lidah

Bersih, warna merah muda

i. Tenggorokkan

19
Pasien mampu menelan dengan baik, tidak ada gangguan menelan, tidak
ada pembesaran tonsil.

j. Leher

Tidak terdapat pembesaran kelenjar tyroid pada pemeriksaan palpasi.

k. Kulit

Turgor kulit jelek dikarenakan sering mual dan muntah.

l. Dada

1) Paru-paru : Inspeksi : RR 26x /menit, gerakan naik turun dada tidak


teratur.

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada dinding dada.

Perkusi : bunyi sonor

Auskultasi : Tidak terdapat bunyi ronkhi / wheezing


bunyi nafas vesikuler

m. Jantung

Inspeksi : Tidak tampak ictus cordis

Palpasi : Denyut jantung tidak teratur teratur

Perkusi : Terdengar bunyi pekak

Auskultasi : Irama jantung tidak teratur, tidak terdapat bunyi gallop.

n. Abdomen

Inspeksi : Tidak terlihat adanya pembesaran (Asites)

Auskultasi : Peristaltik 15 x / menit

20
Palpasi : Tidak ada massa / benjolan

Perkusi : Terdengar bunyi timpani

o. Genetalia

Tidak terpasang DC, tidak ada kelainan

p. Anus

Tidak terdapat haemoroid

q. Reproduksi

Pasien mengatakan tidak ada masalah

4. Data biologis

a. Nutrisi

Nafsu makan klien menurun dan pasien makan tidak habis satu porsi
dikarenakan mual dan muntah serta kepalanya sakit.

b. Eliminasi

Klien mengatakan di rumah biasa BAB 1x/hari. Konsistensi lunak warna


kuning. BAK ± 6 x / hari, warna kuning jernih, tidak ada nyeri, tidak ada
pendarahan.

c. Istirahat tidur

Istirahat tidur ± 6 – 7 jam sehari dan terganggu dikarenakan sakit kepala,


mual dan muntah.

d. Aktivitas

Aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat.

5. Data psikologis

21
Klien mengatakan cemas akan pengobatan yang akan dijalani karena klien
kurang pengetahuan tentang penyakitnya.

6. Data sosiologis

Klien mengatakan orang terdekatnya adalah istri dan anak.

7. Data spiritual

Klien mengatakan beragama islam dan taat menjalankan ibadah sholat.

8. Data komunikasi

Klien mampu berkomunikasi dengan jelas kepada pasien yang lain, keluarga
serta perawat.

B. ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah


1 Do : porsi makan tidak Mual dan muntah Kekurangan
habis, muntah 2 x selama volume cairan
sehari, pucat, turgor kulit
jelek, tidak selera makan.

Ds : Pasien merasa mual.


2 Do : Pasien gelisah, tidak Agen cidera biologis Nyeri
nyaman tidur.

Ds : pasien mengeluh
pusing.
3 Do : Aktivitas pasien Kelemahan umum Intoleran aktivitas
dibantu keluarga dan
perawat.

Ds : lemas, pusing bila


berjalan.

22
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis


2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan v umum..
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah..

D. Intervensi Keperawatan

Dx noc nic
1 Setelah dilakukan keperawatan 2 x Manajemen nyeri
24 jam rasa nyeri / pusing hilang
 Lakukan pengkajian nyeri
atau berkurang
komprehensip yang meliputi
Kontrol nyeri lokasi, karakteristik,
onset/durasi, frekuensi, kualitas,
- mengenali kapan nyeri terjadi
intensitas atau beratnya nyeri
12345
dan faktor pencetus
- menggunakan tindakan  Gali pengetauan dan
pengurangan tanpa analgesik
kepercayaan pasien mengenai
12345 nyeri
 Evaluasi bersama
- melaporkan perubahan terhadap
gejala nyeri pasien,mengenai efektifitas
tindakan pengontrolan nyeri
12345
yang pernah digunakan
- melaporkan nyeri yang terkontrol sebelumnya
12345  Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri
Ket :

1 = tidak pernah menunjukkan

2 = jarang menunjukkan

3 = kadang-kadang menunjukkan

4 = sering menunjukkan

5 = secara konsisten menunjukkan

23
2 Setelah dilakukan tindakan Manajenen energi
keperawatan 1 x 24 jam pasien
dapat melakukan sendiri
 Monitor lokasi dan sumber
Daya tahan ketidaknyamanan/nyeri yang
dialami pasien selama aktivitas
- melakukan aktifitas rutin
 Kurangi ketidaknyamanan fisik
12345
yang dialami pasien yang
- aktifitas fisik mempengaruhi fungsi kognitif,
pemantauan diri dan pengaturan
12345
aktifitas pasien
Pemulihan energi setelah istirahat

12345

Ket :

1 = sangat terganggu

2 = banyak terganggu

3 = cukup terganggu

4 = sedikit terganggu

5 = tidak terganggu

3 Setelah dilakukan tindakan Pemantauan elektrolit


keperawatan 2 x 24 jam menbaik
 Monitor ketidak seimbangan
Keseimbangan cairan asam basa
 Monitor manfestasi
- tekanan darah
ketidakseimbangan elektrolit
12345
 Monitor adanya mual, muntah
- keseimbangan intake dan output dan diare
dalam 24 jam

24
12345

- turgor kulit

12345

Ket:

1 = sangat terganggu

2 = banyak terganggu

3 = cukup terganggu

4 = sedikit terganggu

5 = tidak terganggu

25
Bab IV

Penutup

kesimpulan

26
Daftar Pustaka

Nanda. (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 (10th ed.). Jakarta:
EGC

Amin, Hardi. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Dan Nanda
Nic-Noc. Edisi revisi jilid 3. MediAction: Jogjakarta

27