Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN PEMULA

PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH SINTETIS TERHADAP


PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN MELATI PUTIH (Jasminum
sambac L)
Tahun pertama dari rencana satu tahun

Ketua/ Anggota Tim

Ketua : Novi, S. Si., M. Si / NIDN : 1028108402


Anggota : Dra. Hj. Mulyati, M.Si / NIDN : 1022018401

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP PGRI SUMATERA BARAT
2013
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Sintetis Terhadap Pertumbuhan Vegetatif


Tanaman Melati Putih (Jasminum sambac L)
Penelitian/pelaksanaan

Naman Lengkap : Novi, S.Si, M.Si.

NIDN : 1028108402

Jabatan Fungsional : Asisten ahli/ IIIb

Program Studi : Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat

Nomor HP : 081267525234

Alamat Surel (Email) : Novi.s3tia@gmail.com

Anggota (1) :

Naman Lengkap : Dra. Hj. Mulyati, M.Si

NIDN :

Perguruan Tinggi : STKIP PGRI Sumatera Barat

Alamat :

Penanggung Jawab :

Tahun Pelaksanaan :

Biaya tahun Berjalan :

Biaya Keseluruhan :

Padang, 2016

Mengetahui,

Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat Ketua Peneliti

(Dr Zusmelia, M.Si.) (Novi, S.Si., M.Si.)

NIDN : 1028108402
Menyetujui,
Ketua Lembaga peneliti

(Dra. Hj. Renny Risdawati, M.Si.)

i
HALAMAN PENGESAHAN
PENELITIAN DOSEN PEMULA

Judul Penelitian : Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Sintetis Terhadap


Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Melati Putih (Jasminum
sambac L)

Kode/Nama Rumpun Ilmu : 113/Biologi

Ketua Peneliti :

a. Nama Lengkap : Novi, S.Si., M.Si


b. NIDN : 1028108402
c. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli/IIIb
d. Program Studi : Pendidikan Biologi
e. Nomor HP : 081267525234
f. Alamat surel (email) : novi.s3tia@gmail.com
Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap : Dra. Hj. Mulyati, M.Si
b. NIDN :
c. Perguruan Tinggi : STKIP PGRI SUMBAR
Biaya yang diusulkan : diusulkan ke Yayasan Rp.
16.500.000…………………
dana internal Rp. …………………..
dana institusi lain Rp. …………………..
linkind sebutkan Rp …………………...

Padang, November 2013

Mengetahui,
Ketua STKIP PGRI SUMBAR Ketua
Peneliti,

(Dr. Zusmelia, M.Si) Novi, S.Si., M.Si


NIP: 196604101991012001 NIDN: 1028108402
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian

(Villia Anggraini, M.Pd)


NIDN: 1023028401
HALAMAN PENGESAHAN

Judul :Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Sintetis Terhadap


Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Melati Putih (Jasminum
sambac L)

Peneliti / Pelaksana
Nama Lengkap : Novi, S.Si, M.Si
NIDN :1028108402
Jabatan Fungsional :Asisten Ahli / IIIb
Program Studi : Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumbar
Nomor HP : 081267525234
Alamat Surel (Email) : novi.s3tia@gmail.com
Anggota (1) : Dra. Hj. Mulyati, M.Si
NIDN : 00-2212-5708
Perguruan Tinggi : STKIP PGRI Sumbar
Institusi Mitra
Nama Institusi Mitra :-
Alamat :-
Penanggung Jawab :-
Tahun pelaksanaan : Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun
Biaya tahun berjalan : Rp. 12.500.000.
Biaya Keseluruhan : Rp. 15.000.000

Padang, Oktober 2014


Mengetahui,
Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat Ketua Peneliti,

(Dr. Zusmelia, M.Si) (Novi, S.Si, M.Si)


NIP. 196604101991012001 NIDN. 1028108402

Mengetahui,
Ketua Lembaga Penelitian

(Villia Anggraini, M.Pd)


NIDN: 1023028401
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Sintetis Terhadap


Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Melati Putih (Jasminum
sambac L)
Peneliti / Pelaksana
Nama Lengkap : Novi, S.Si, M.Si
NIDN :1028108402
Jabatan Fungsional :Asisten Ahli / IIIb
Program Studi : Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumbar
Nomor HP : 081267525234
Alamat Surel (Email) : novi.s3tia@gmail.com
Anggota (1) : Dra. Hj. Mulyati, M.Si
NIDN : 00-2212-5708
Perguruan Tinggi : STKIP PGRI Sumbar
Institusi Mitra
Nama Institusi Mitra :-
Alamat :-
Penanggung Jawab :-
Tahun pelaksanaan : Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun
Biaya tahun berjalan : Rp. 13.500.000.
Biaya Keseluruhan : Rp. 15.000.000.

Padang. 25 Februari 2014


Mengetahui,
Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat Ketua Peneliti,

(Dr. Zusmelia, M.Si) (Novi, S.Si, M.Si)


NIP. 196604101991012001 NIDN. 1028108402

Mengetahui,
Ketua Lembaga Penelitian

(Dra, Hj. Renny Risdawaty, M.Si)


NIP.NIK 196709161992932001
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman jenis dan varietas berbagai
tanaman hortikultura, salah satunya adalah melati. Terdapat sekitar dua ratus spesies
melati memiliki genus Jaminum yang tersebar di daerah tropik, subtropik, dan sedang.
Diantara dua ratus jenis melati yaang telah diindentifikasi oleh para ahli botani baru
sekitar sembilan jenis melati yang umum dibudidayakan dan terdapat delapan jenis
melati yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Di indonesia, jenis melati yang
paling umum dibudidayakan adalah melati putih (Jaminum sambac) yang digunakan
untuk bunga tabur dan rangkaian bunga dan Jaminum officinale digunakan untuk
penyedap teh, pewangi, dan bahan baku industri (Rukmana, 1997).
Melati merupakan tanaman hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup
menahun (Rukmana, 1997). Bunga melati merupakn tanaman hias yang saat ini sangat
digemari para peminat tanaman hias untuk menghias pekarangan rumah dan tanaman
karena memiliki nilai keindahan tersendiri. Bunga melati termasuk ke dalam
floriculture, yaitu bagian dari ilmu hortikultura yang mempelajari budi daya tanaman
hias (Zulkarnain, 2010).

Nilai ekonomi bunga melati semakin tinggi untuk bahan baku industri minyak
wangi, kosmetika, penyedap teh, cat, tinta, pestisida, dan industri kecil tekstil. Para
potensial bunga melati adalah Jepang, Korea, Thailand, Taiwan, dan Hongkong.
Peluang besar bunga melati di dalam dan di luar negeri cukup besar, produksi bunga
melati di indonesia baru mampu memenuhi sekitar 20% dari kebutuhan melati di pasar
dunia (Rukmana, 1997).

Paclobutrazol dimanfakan untuk membatu dalam penginduksian pembungaan


tanaman. Paclobutrazol berfungsi menghambat fase vegetatif dan memacu fase
generatif. Wilikinson dan Richard (1991) menyatakan paclobutrazol sangat aktif
menhambat pemanjangan batang dan pemicu tanaman pembungaan tanaman hias
berkayu.

1.2. Batasan Masalah

Mengingat luasnya masalah yang tecakup dalam penilitian ini, maka penulis
membatasi masalah sebagai berikut:

1. Bunga melati yang digunakan umur 2 bulan.


2. Zat penghambat tumbuh yang digunakan adalah paclobutrazol.
3. Parameter yang diamati adalah fase vegetatif dan generatif.

1.3. Rumusan Masalah


Berdasarkan batasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam
penelitian ini adalah “bagaimanakah respon tanaman melati putih (Jasminum sambac L.
W. Ait.) terhadap beberapa paclobutrazol?”.

1.4. Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan mengetahui respon tanaman melati putih (Jasminum sambac
L. W. Ait.) terhadap beberapa paclobutrazol.

1.5. Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah
1. Sebagai bahan informasi bagi pembaca tentang respon tanaman melati putih
(Jasminum sambac L. W. Ait.) terhadap beberapa konsentrasi paclobutrazol.
2. Sebgai informasi awal bagi penelitian selanjutnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Tanaman Melati (Jasminum sambac L. W. Ait.)

Melati merupakan tanaman hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup
menahun (Rukmana, 1997). Perdu adalah tanaman berbatang lebih besar dan lebih
kertas serta percabangannya relatif lebih tinggi dari semak dan biasanya berbatang tegak
(Hasim, 2009). Jaminum yang banyak dikenal adalah Jasminum sambac (Maid of
Orleans) dan Jasminum sambac Grand Duke of Tuscany dikenal sebagai Arabian
Jasmine, bunga berbentuk seperti mawar ganda atau semi ganda petalnya, berwarna
putih (Martjjik, 2010).

Bunga melati merupakan komoditi tanamn hiass yang mempunyai potensi tinggi
untuk dikembangkan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Bunga melati,
selain sebagai tanaman hias juga dimanfatkan untuk mengobati berbagai penyakit salah
satunya yaitu penyakit campak. Selain itu bunga melati juga dimanfaatkn sebagai
pewangi teh, bunga tabur, hiasan pengatin, bahan baku berbagai jenis kosmetik, dan
belakang ini sedang berkembangnya pemanfatan melati sebagai bahan baku minyak
melati (Rukmana, 1997). Tanaman ini banyak disukai dan ditanam di dataran rendah
dan di penggunungan. Tempat tumbuhnya harus terkena sinar matahari yang cukup, dan
pada tanah yang gembur. Bunga melati jarang yang menjadi buah, tidak menghasilkan
biji untuk bibit sehingga memperbanyak tanaman dilakukan dengan cara stek
(Syafrezani, 2009).

Lawrence (1994), mengklasifikasikn melati sebagai berikut : Kingdom : Plantae,


Divisi ; Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas ; Dicotyledonae, Ordo :
oleales, Famili : Oleaceae, Genus : Jaminum, Spesies : Jasminum sambac L. W. Ait.
Melati adalah tanamn semak, ketinggian 0,3 – 2 m. Daunnya bertangkau pendek,
heleian daun berbentuk bulat telur, tepi daun rata, panjang 2,5 – 10 cm, dan lebarnya 1,5
– 6 cm (Suryowinoto, 1997 dalam simbolon, 2007). Bunga melati berbentuk terompet
dengan warna bervariasi yakni putih, kuning cerah dan merah muda, tergantung pada
jeis atau sepesiesnya.

Umumnya bunga melati tumbuh di ujung tanman, susunan mahkota bunga


tunggal atau ganda (bertumpuk), beraroma harum tapi beberapa jenis bunga melati ada
yang memiliki aroma tidak hareum. Sistem perakaran tanaman melati adalah akar
tunggang dan akar – akar cabang menyebar kesemua arah dengan kedalaman 40 – 80
cm . dari akar yang terletak dekat permukaan tanah kadang – ladang tumbuh tunas atau
cikal bakal tanaman baru (Rukmana, 1997).

I.2. Syarat Tumbuh


II. Iklim
Tanaman melati dapat tumbuh di daerah yang cukup mendapat sinar matahari
dengan curah hujan 112 – 119 mm/bulan, dengan sushu udara siang hari 28 -36 oC
dan suhu udara malam hari 24 – 30 oC, serta kelembaban udara (rH) yang cocok,
yaitu sekitar 50 – 80% (Rukmana, 1997).
II. Media Tanam
Tanaman melati umunya tumbuh subur pada jenis tanha Podsolik Merah Kuning
(PMK), latosol, dan andosol. Tanaman melati membutuhkan tanah yang bertekstur
pasir sampa liat, aerasi, dan drainase baik, subur, gembur, banyak mengandung
bahan organik, dan memiliki derajat keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan
tanaman ini, yaitu PH 5 – 7 (Rukmana, 1997).
III. Ketinggian tempat
Tanamn melati dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik didataran rendah
samapai dataran tinggi pada ketinggian 10 – 1600 m dpl (Rukmana, 1997).

1.3. Zat Pengatur Tumbuhan


Zat pengatur tumbuhan adalah senyawa organik yang bukan hara (nutrient), yang
dalam jumlah sedikit dapt mendukung (promote), mengahambat (inhibit), dan dapat
merubah proses fisilogi tumbuhan (Abidin, 1985). Zat pengatur tumbuhan di dalam
tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu auksin, giberelin, sitokinin, etilen dan
inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisologis
(Abidin, 1985).
1. Aukisin
2. Giberelin
3. Sitokinin
4. Etilen
1.4. Zat Penghambat Tumbuhan Paclobutrazol
Inhibitor (zat penghambat tumbuhan) adalah zat yang penghambat pertumbuhan
pada tanaman (Abidin, 1985). Zat penghambat tumbuh berfungsi untuk menghambat
perpanjangan sel pada meristem aub apikal, mengurangi laju perpanjangan batang tanpa
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dan atau tanpa mendorong
pertumbuhan yang abnormal.
Inhibitor (zat penghambat tumbuhan) berperan dalam menghambat aktivitas apikal
meristem (Abidin, 1985). Inhibitor secara tidak langsung dapat menginduksi
pembuangaan, tetapi bila pemakainya pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat
membuangaan. Penggunaan inhibitor (zat penghambat tumbuhan) memberikan
beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah dapat meningkatkan
keseragaman pembungaan serta ketahanan tanaman terhadap cekaman air, suhu panas,
suhu dingin, dan cekaman pada berbagai kondisi ruangan. Kerugianya adalah respon
yang berbeda – beda dalam spesies yng sama, pembuangan akan terhambat jika
pemberian terlambat dilakukan (Larson, 1992 dalam Mas’udah, 2008).
BAB III PENELITIAN

1.1. Waktu dan Tempat


Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai bulan Juni 2014 di Rumah
Kawat Jurusan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat dan di Laboratorium Fisiologi
Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNP.
1.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain neraca digital, gelas ukur gelas kimia, batang
pengaduk, penggaris/meteran, labu ukur 100 mL, mortar, saringan Buchner,
spekrofotometer model Genesys 20, Rak tabung reaksi, dan alat tulis. Bahan yang
digunakan adalah air, media tanam (tanah, pupuk kandang dan sekam padi),
paclobutrazol serbuk, alkohol 96 %, kertas label, kertas tissue, kertas saring, palibag
ukuran 2 kg (10x30 cm), aquadest, dan tanaman melati putih (Jasminum sambac) yang
berumur sekitar 2 bulan yang ditanami polibag. Tanaman penelitian diperoleh dari salah
satu petani tanaman hias di Lubuk Minturun Padang.
1.3. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Dengan perlakuan
pemberian paclobutrazol yang terdidri dari enam taraf yaitu 0, 200, 400, 600, 800, dan
1000 ppm dengan empat kali ulangan masing – masing perlakuan.
1.4. Cara Kerja
1. Tahap persiapan
Untuk media tanam digunakan tanah yang gembur, pupuk kandang, dan sekam
padi, dengan perbandingan 1:1:1. Setelah itu media tanaman tersebut dimasukkan ke
dalam polibag berukura 2 kg (10x30 cm). Tanaman melati dipersiapkan sebanyak 24
batang tanaman yang homogen dan dalam kondisi yang baik. Tanaman terlebih dahulu
dipindahkan ke dalam polibag berukuran 2 kg (10x30 cm) yang telah diberi media
tanam (tanah). Tanaman diberi label sesuai dengan perlakuan yang diberikan,
selanjutnya letak polibag ditata secara acak (Wahyuni, 2010).

2. Perlakuan paclobutrazol
Sebelum paclobutrazol diaplikasikan, terlebih dahulu dibuat larutan
paclobutrazol dengan cara melarutkan serbuk dengan aquadest. Untuk kosentrasi 100
ppm dilarutkan 0,01 gr paclobutrazol didalam 100 mL aquadest. Begitu seterusnya
untuk pembuatan larutan dengan kosentrasi masing – masing 200, 400, 600, 800, dan
1000ppm di pakai paclobutrazol serbuk sebanyak 0,02, 0,04, 0,06, 0,08 dan 0,1 gr
yang dilarutkan dengan 100 mL aquadest untuk masing – masingnya.
Tanaman melati diberiakan paclobutrazol sesuai dengan kosentrasi masing –
masing perlakuan yang telah ditetapkan. Aplikasi paclobutrazol dilakukan dua hari
setelah tanaman dipindahkan ke polibag baru, ini bertujuan agar tanaman dapat
beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Paclobutrazol diberiakan pada semua
tanaman sesuai dengan kosentrasi yang telah ditetapkan kecuali tanaman kontrol atau
konsentrasinya 0 ppm hanya disiram dengan air saja. Pemberian paclobutrazol
dilakukan dengan manyiramkan larutan pada tanah yang ada dalam polibag dengan
cara membuat lubang seperti parit di sekaliling tanaman dengan jarak 5 cm dari batang
dan larutan disiramkan kedalam lubang/parit tersebut. Volume penyiraman yaitu 100
mL per tanaman (Rosmanita, 2008).
3. Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiraman dan pengendalian gulma serta pemberantasan
hama dan penyakit. Penyiraman dapat dilakuka 1 – 2 kali sehari atau sesuai dengan
kebutuhan tanaman. Gulma yang tumbuh dibersihkan dengan cara mencabutnya.
Hama dan penyakit dikendaliakn dengan membuang bagian tanaman yang terkena
hama dan penyakit (Rosmanita, 2008).
4. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan vegetatif dan generatif.
Pengamatan vegetatif dilakukan setiap satu minggu sekali mulai awal penelitian dan
pengamatan dihentikan saat bunga pertama telah muncul. Pengamatan generatif
dilakukan ketika bunga pertama muncul.
a. Pengamatan vegetatif meliputi :
1) Tinggi tanaman
2) Jumlah daun
b. Pengamatan generatif meliputi :
1) Saat muncul bunga pertama, pengamatan dilakukan saat muncul kuncup
bunga pertama, lama hari dihitung setelah perlakuan.
2) Jumlah bakal bunga, diamati saat tanaman sudah memperlihatkan
kuncup bunga.
3) Jumlah bunga pada satu tanaman, dihitung bunga yang sudah mekar
penuh.
4) Fase life, diamati dari bunga mekar hingga bunga layu.
(Rosmanita, 2008).
1.5. Analisi Data
Data dianalisi secara statistika dengan ANOVA pada parameter tinggi tanaman dan
jumlah daun.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1. Hasil
Dari penelitian yang dilakukan tentang respon tanaman melati putih (Jasminum
sambac L. W. Ait.) terhadap beberapa kosentrasi paclobutrazol adalah sebagai berikut :
I. Pengaruh pemberian paclobutrazol pada beberapa kosentrasi terhadap
pengamatan vegetatif .
1. Tinggi Tanaman
Pembirian beberapa konsentrasi paclobutrazol terhadap tinggi tanaman melati
putih (Jasminum sambac L. W. Ait.) setelah dianalisis secara statistik menunjukan
perbedaan yang nyata (Lampiran 2). Selanjutnya dilakukan uji lanjut DNMRT taraf
5%, menunjukkan A, B, dan C berbeda nyata dengan perkaluan D, E, dan F.
Sedangkan perlakuan B, C, D dan E tidak berbeada nyata. Demikian juga dengan
perlakuan C, D, E dan F tidak berbeda nyta, namun berbeda nyata dengan
perlakuan A dan B (Tabel 1).
Tabel 1. Rata – rata tinggi tanaman melati putih (Jasminum sambac L. W. Ait.)
yang diberi paclobutrazol pada beberapa konsetrasi.

Perlakuan Rata – rata tinggi tanaman (cm) Notasi


A 21,93 a
B 18,60 ab
C 17,55 abc
D 14,80 bc
E 14,53 bc
F 13,55 C
Keterangan : nilai yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak
berbeda nyata pada uji DNMRT taraf 5%.

Dari tabel 1 dapat dilihat semakin tinggi kosentrasi paclobutrazol menyebabkan


tinggi tanaman tanaman semakin rendah. Tanaman kontrol berbeda nyata jika
dibandingkan dengan tanaman yang diberi paclobutrazol. Tanaman yang diberi
perlakuan paclobutrazol memiliki tinggi yang relatif lebih rendah jika dibandingkan
dengan tanaman kontrol atau tanpa paclobutrazol. Tanamn kontrol memiliki rata – rata
tertinggi yaitu 21,93 cm, berbeda nyata dengan tanaman yang diberi perlakuan
paclobutrazol memiliki rata – rata paling rendah yaitu 13,55 cm dengan kosentrasi
paclobutrazol 100ppm.
2. Jumlah Daun
Pemberian beberapa kosentrasi paclobutrazol terhadap jumlah daun tanaman
melati putih (Jasminum sambac L. W. Ait.) setelah dianalisi secara statistik
menunjukkan perbedaan yang nyata (Lampiran 2). Selanjutnya dilakukan uji lanjut
DNMRT taraf 5 %, menunjukkan perlakuan B, C, D, E dan F tidak berbeda nyata,
namun berbeda dengan perlakuan A (Tabel 2).
Tabel 2. Rata – rata jumlah daun tanaman melati putih (Jasminum sambac L.
W. Ait.) yang diberi paclobutrazol pada kosentrasi.

Perlakuan Rata – rata jumlah daun Notasi


A 13,00 a
B 11,75 ab
C 10,25 ab
D 7,75 ab
E 6,75 b
F 6,25 b
Keterangan : nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda nyta pada uji DNMRT tara 5%.
Dari tabel 2. Dapat dilihat semakin tinggi kosentrasi paclobutrazol yang diberikan
semakin sedikit pula jumlah daun yang dihasilkan, hal ini dikarenakan paclobutrazol
menekan pertumbuhan vegetatif tanaman. Jumlah daun tanaman kontrol berbeda nyata
dengan tanaman yang diberi paclobutrazol. Tanaman yang diberi perlakuan
paclobutrazol memiliki jumlah daun relatif lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman
kontrol atau tanpa paclobutrazol. Tanaman kontrol memiliki rata – rata jumlah daun
paling banyak yaitu 13,00 helai, berbeda nyata dengan tanaman yang diberi perlakuan
paclobutrazol memiliki rata – rata jumlah daun palng sedikit yaitu 6,25 helai dengan
kosentrasi paclobutrazol 1000 ppm.

II. Pengaruh pemberian paclobutrazol pada beberapa kosentrasi terhadap


pengamatan generatif (saat muncul bunga pertama).
Fase generatif merupakan fase diman tanaman telah siap untuk berbunga,
biasanya tanaman mulai memasuki fase generatauf ditandai dengan pertumbuhan
vegetatif yang menurun atau bisa juga ditandai dengan munculnya tunas – tunas bunga.
Fase generatif merupakan tahap selanjutnya dari pertumbuhan tanaman setelah masa
vegetatif, sehingga pada fase generatif ini mulai muncul bunga pada generatif tanaman
melati putih dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Saat muncul bunga pertama (smbp) yang diberi paclobutrzol beberapa kosentrasi.

Perlakuan life (hari) Smpb (hari)


A 9 – 16
B 6–9
C 6 – 19
D 9 – 14
E 13 – 21
F 6–9
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa waktu
munculny tunas bunga berkisar antara hari 6 – 21 setelah perlakuan paclobutrazol. Dari
Tabel 4 dapat dilihat pada masing – masing perlakuan terdapat tanaman yang tidak
muncul bunga samapi akhir pengmatan.

1.2. Pembahasan
Pemberian paclobutrazol dapat menghambat pertumbuhan vgetatif tanaman
diantaranya adalah tinggi tanaman. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
diketahui bahwa paclobutrazol dapat menghambat tinggi tanaman melati putih
(Jasminum sambac L. W. Ait.). tanaman yang diberi paclobutrazol lebih pendek
dibandingka tanaman kontrol. Richard (1991) menyatakan paclobutrazol sangat aktif
menghambat pemanjangan batang tanpa menyebabkan pertumbuhan yang abnormal.
Pertumbuhan vegetatif lainya yang dihambat dengan pemberian paclobutrazol alah
jumlah daun. Paclobutrazol menghambat aktivitas metabolisme jaringan penyusun daun
yaitu jaringan apikal meristem.jaringan apikal meristem merupakan tempat
diproduksinya auksin, dimana auksin berperan daam rangsangan pertumbuhan baru.
Dwidjoseputro (1981) menyatakan auksin banyak produksi di jaringan – jaringan
meristem di ujung tanaman seperti tunas daun. Apabila aktivitas apikal meristematik
terhambat, maka produksi auksin juga akan terhambat.

BAB V PENUTUP

1.1. Kesimpulan
Berdasrkan hasil yang didapatkan dari penelitian tentang respon tanaman melati
putih (Jasminum sambac L. W. Ait.) terhadap beberapa kossentrasi paclobutrazol, maka
dapat disimpulkan bahwa respon tanaman melati putih (Jasminum sambac L. W. Ait.)
terhadap pemberian paclobutrazol adala sebagai berikut ;
1. Pertumbuhan vegetatif yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun tanaman melati
putih (Jasminum sambac L. W. Ait.) terhambat dengan pemberian
paclobutrazol pada beberapa konsentrasi.
2. Pertumbuhan generatif yaitu waktu muncul tunas bunga melati putih
(Jasminum sambac L. W. Ait.) dapat dipicu dengan pemberian paclobutrazol
pada konsentrasi.
1.2. Saran
Pada penelitian selanjutnya disarankan agar menggunkan kosentrasi yang tepat jika
ingin meningkatkan pembungaan tanaman melati putih (Jasminum sambac L. W. Ait.)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, 1985, Z. 1985. Dasar – dasar pengetahuan tentang zat pengatur tumbuh.
Badung : ANGKASA.

Dwidjoseputro, D. 1981. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia.

Hasim, S, I. 2009. Tanaman hias indonesia . Jakarta : Penebar Swadaya.

Lawrence, G. H. M. 1994. Taxonomy of Vascular Plants. New York: The Macmillan


Company.
Mas’udah,S. 2008. Pengaruh Paclobutrazol terhadap kapasitas Source – Sink Pada
delapan varientas kacang tanah (Arachis hypogea L). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Martjjik, N. A. 2010. Budi Daya Bunga Potong dan Tanaman Hias. Bogor : Institut
Pertanian Bogor Press. Bogor.

Rukmana, R. 1997. Usaha Tani Melati. Yogyakarta : Kanisius.

Simbolon, R. J. 2007. Pospek Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih.


Universitas Sumatera Utara. Medan.

Syafrezani, S. 2009. Manfaat Tumbuhan Bunga Penghias Pekarangan. Bandung : Titian


Ilmu.

Zulkarnain, H. 2010. Dasar – dasar Hortikultura. Jakarta : Bumi Aksara.

REKAPITULASI PENGGUNAAN DANA PENELITIAN

No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan


1 Gaji dan Upah 2.500.000
2 Bahan habis pakai dan peralatan 5.490.000
3 Lain-lain
Penelusuran pustaka (Buku dan foto copy) 300.000
Pembuatan laporan 250.000
Penggandaan laporan 245.000
Publikasi 500.000
Dokumentasi 300.000
Total 9.585.000
Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian

No Uraian Jumlah (Rp)


I Honor Tim Peneliti
1. Ketua Peneliti 1.500.000
2. Anggota 1.000.000
Sub Jumlah 2.500.000
II. Bahan Habis Pakai
1. Kertas HVS 3 Rim @50.000 150.000
2. Tinta Printer Canon 4 botol @75.000 300.000
3. Alat Tulis 125.000
4. Bibit Pisang 50 batang @25.000 1.250.000
5. Tanah Ultisol 500.000
6. Bibit Melati Putih 600.000
7 Pupuk kandang dan sekam padi 500.000
8. Paclobutrazol 1.1400.000
9 Polibaq 50 @3.500 175.000
Sub Total 4.740.000
III Alat
1. Penyewaan Laboratorium 300.000
2. Penyewaan Rumah Kaca 250.000
3. Penyewaan Spektrofotometer Model Genesys 20 200.000
Sub Total 750.000
IV. Lain-lain
1. Penelusuran Pustaka (buku dan foto copy) 300.000
2. Pembuatan laporan 250.000
3. Penggandaan laporan 7 eksemplar @35.000 245.000
4. Publikasi 500.000
5. Dokumentasi 300.000
Sub Total 1.595.000
Total 9.585.000

Lampiran 2. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

No Nama NIDN Bidang Ilmu Alokasi Uraian


Waktu Tugas
(Jam/Minggu)
1 Novi, S.Si., M.Si. 1028108402 Biologi 12 Memberikan
arahan,
membuat
proposal,
melakuka
n uji coba
2 Rizki, S.Si., M.P. 1022018401 Biologi 12 membuat
Ilmu Tanaman proposal,
melakuka
n uji coba
Lampiran 3. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Penelitian
Sarana dan Kebutuhan Ketersedian Cara mengatasinya
Prasarana
Laptop 2 2
Printer 1 1
Laboratorium 1 1 Meminjam
Rumah Kaca 1 1 Meminjam