Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berwirausaha merupakan salah satu cara seseorang untuk bekerja dan menitih karir untuk
kehidupan mereka di masa yang akan datang. Dengan berwirausaha dapat pula membukakan lapangan
pekerjaan baru bagi orang-orang yang membutuhkan atau sedang mencari sebuahpekerjaan, selain itu
dapat membantu tugas pemerintah dalam mengurangi pertumbuhan pengangguran di negeri ini.
Namun di era global saat ini, tidak sedikit orang-orang yang mencoba mengambil peluang untuk memiliki
usaha sendiri. Oleh karena itu selain tekat dan usaha, seorang wirausaha perlu mengetahui hal-hal penting
tentang usaha, guna menambah pengetahuan dan wawasan mereka. Apalagi di era sekarang ini
permintaan para konsumen semakin beragam, sehingga dibutuhkan pengetahuan yang cukup bagi
seorang pengusaha agar dapat menjawab keinginan konsumen

1.2 Rumusan Masalah


 Apa yang dimaksud dengan produksi usaha
 Bagaimana cara berkomunikasi yang baik dalam berwirausaha
 Sikap kepemimpinan seperti apa yang harus dimiliki dalam berwieausaha
 Bagaimana cara menumbuhkan motivasi,inovasi dan kreatifitas dalam berwirausaha

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk memahami bagaimana cara berwirausaha dengan langkah-
langkah yang baik dan sistematis, serta untuk memenuhi tugas dari mata kuliah kewirausahaan

1
BAB II
ISI

2.1 Produksi Usaha

a. Pengertian Produksi

Jika dipandang dari segi ilmu ekonomi, pengertian produksi adalah setiap kegiatan atau usaha
yang dilakukan manusia untuk dapat menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang barang atau
pun jasa. Secara sederhana, nilai guna ini bisa diartikan sebagai nilai harga ya.

Sebagai contoh, semisal kita menanam tebu, maka kita akan bisa mmenghasilkan tebu sehingga
tebu tadi memiliki harga lebih tinggi untuk dijual. Contoh kegiatan produksi lain, jika kita mengambil ikan
dari sungai, berarti kita menambah guna tempat tersebut sehingga bisa menghasilkan ikan untuk dijual.

Ada lagi jika kita menjahit kain sehingga menjadi baju, ini berarti kita menambah guna bentuk dari kain
sehingga menjadi baju dan harga jualnya pun bisa lebih mahal. Dari contoh di atas, dapat kita ketahui
bahwa secara umum, kegiatan produksi mencakup dua hal, yaitu:

 Menciptakan atau menghasilkan barang dan jasa

 Menambah guna barang dan jasa

b. Tujuan Produksi

Suatu kegiatan produksi dilakukan tentu ada tujuannya. Tujuan dari produksi barang dan jasa yang
dilakukan oleh manusia ini pun ada beragam. Apa saja? Berikut adalah tujuan produksi barang dan jasa :

 Untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa sangat
beragam. Seluruh kebutuhan tersebut pun ada yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut lah, manusia melakukan produksi. Selain itu, jumlah manusia yang terus bertambah juga
membuat barang dan jasa hasil produksi yang dibutuhkan juga bertambah.

2
 Untuk mencari keuntungan atau laba. Seorang manusia memproduksi barang dan jasa umumnya
karena mereka memiliki tujuan tertentu untuk diri sendiri, yakni berharap agar bisa mendapatkan
laba sebanyak-banyaknya dengan cara menjual barang hasil produksi tersebut.

 Untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Dengan memproduksi barang dan jasa,
produsen akan memperoleh pendapatan dan laba dari penjualan produknya, yang dapat
digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan termasuk kehidupan para karyawan

 Untuk meningkatkan mutu dan jumlah produksi. Seorang produsen yang baik akan selalu
berupaya untuk dapat memuaskan keinginan para konsumennya. Hal ini bisa dilakukan dengan
cara berproduksi. Sebab, melalui produksi inilah, para produsen berkesempatan melakukan uji
coba terhadap produksinya demi upaya meningkatkan mutu sekaligus jumlah produksi agar lebih
baik dari produksi sebelumnya.

 Mengganti barang-barang yang aus dan rusak, entah karena dipakai atau karena bencana alam.
Ketika berbagai barang tersebut tidak lagi bisa atau baik untuk digunakan, maka barang tersebut
perlu diganti dengan cara memproduksi barang baru.

c. Tingkatan Produksi

Suatu proses produksi dapat dibagi ke dalam beberapa tingkatan atau tahapan. Ada pun tingkatan
produksi yang ada, yakni meliputi primer, sekunder dan tersier.

 Primer, adalah suatu kegiatan produksi yang dilakukan guna menghasilkan bahan-bahan dasar
untuk dikonsumsi langsung atau yang akan digunakan pada proses produksi selanjutnya. Contoh
produksi primer adalah bidang produksi ekstraktif dan agraris.

 Sekunder, adalah suatu kegiatan produksi yang dilakukan dengan cara mengolah bahan-bahan
dasar yang dihasilkan pada tingkat produksi primer. Contoh bidang produksi pada tingkat sekunder
adalah bidang produksi industri.

 Tersier, adalah suatu kegiatan produksi yang sifatnya memperlancar proses produksi dan
dilakukan dengan cara menyalurkan hasil produksi. contoh produksi tingkat tersier adalah Bidang
produksi perdagangan dan jasa.
3
d. Jenis Faktor Produksi

Jenis faktor produksi yang kita kenal ada beragam. Secara umum, jenis faktor produksi dibagi
dalam dua bentuk, yakni faktor produksi alam dan faktor produksi tenaga kerja. Kedua faktor produksi ini
disebut sebagai faktor asli, karena manusia bisa memproduksi suatu barang untuk memenuhi kebutuhan
hidup hanya dengan menggunakan dua faktor produksi tersebut saja.

Faktor produksi asli ini lebih banyak digunakan oleh para manusia di zaman primitif. Meski sudah
cukup untuk menghasilkan produk, tapi hasil produksi yang bisa diperoleh melalui faktor produksi asli ini
dapat dibilang minim. Karenanya, manusia pada zaman modern berusaha agar hasil produksi bisa lebih
baik dalam segi kualitas dan kuantitas. Kebutuhan manusia yang semakin beragam ditambah dengan
jumlah manusia yang juga semakin banyak membuat manusia berupaya untuk meningkatkan faktor
produksi ini. Inilah yang memicu kemunculan faktor produksi lain berupa faktor produksi modal dan
pengusaha, yang kemudian dikenal sebagai faktor produksi turunan. Keberadaan faktor produksi turunan
ini dapat membuat hasil produksi yang diperoleh dari proses produksi meningkat, baik dari segi kuantitas
maupun kualitas. Sebagai contoh, dapat dilihat pada bagaimana para petani jaman dulu yang kebanyakan
bertani dengan cara tradisional.

Para petani tradisional menjemur gabah mereka dengan hanya memanfaatkan faktor produksi asli,
berupa faktor alam dan faktor produksi tenaga kerja. Faktor produksi alam yang dimanfaatkan salah
satunya adalah sinar matahari yang berperan untuk mengeringkan gabah. Akan tetapi, ini berarti para
petani menjadi tergantung terhadap kehadiran matahari. Tidak ada sinar matahari berarti gabah mereka
tidak bisa kering dengan segera. Hal ini pun bisa berakibat pada kualitas dan kuantitas gabah yang
dihasilkan menjadi minim. Namun, petani modern kini mulai memikirkan cara lain agar bisa mengeringkan
gabah tanpa harus bergantung pada sinar matahari, yakni dengan menggunakan mesin pengering.Mesin
pengering inilah yang bisa membantu para petani untuk bisa menghasilkan gabah atau beras berkualitas.
Sebab, apabila masa panen tiba ketika kondisi curah tinggi, petani tidak perlu kebingungan dalam hal
proses pengeringan. Proses pengeringan bisa tetap terlaksana dengan bantuan mesin pengering gabah.

Dengan begitu, petani pun bisa mendapatkan pasokan gabah dalam jumlah yang memadai
sekaligus dalam harga yang memadai pula. Ini artinya, hasil produksi bisa lebih maksimal. Penjelasan lebih
detail mengenai pengertian faktor produksi ada di artikel Pengertian, Tujuan dan 4 Faktor Produksi (Alam,
Tenaga Kerja, Modal, Manajerial).
4
e. Cara Meningkatkan Faktor Produksi dengan Perluasan Produksi

Cara meningkatkan faktor produksi biasa dikenal sebagai usaha perluasan produksi, yakni suatu
usaha atau cara yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan atau menambah kuantitas (jumlah)
dan kualitas (mutu) dari suatu barang atau jasa yang dihasilkan melalui beberapa cara.

cara apa saja yang bisa dilakukan dalam perluasan produksi :

 Ekstensifikasi

adalah suatu usaha perluasan produksi yang dilakukan dengan cara menambah faktor produksi.
Ekstensi sendiri memiliki makna perluasan atau penambahan. Jadi, hal ini bisa dilakukan misalnya dengan
mendirikan pabrik baru, menambah mesin, membuka lahan baru, dan lain-lain.

 Intensifikasi

yaitu suatu upaya perluasan produksi yang dilakukan dengan cara memperbesar kemampuan
dalam berproduksi, yang diperoleh dari faktor produksi yang sudah ada, tanpa harus menambah
jumlah faktor produksi. Jadi, pada intinya faktor produksi yang sudah ada dimaksimalkan
penggunaannya dari segi kualitas. Hal ini misalnya pada upaya meningkatkan hasil produksi
pertanian, maka dilakukan pemilihan bibit unggul, memperbaiki sistem pengairan, dan dengan
pemberian pupuk berkualitas dan teratur.

 Diversifikasi

yaitu upaya perluasan produksi yang dilakukan dengan cara menambah jenis produksi. Diversi
sendiri dapat dimaknai sebagai suatu pembedaan. Jadi, cara ini dilakukan dengan menambah jenis
produk yang berbeda dari jenis produksi yang sudah dilakukan. Misalnya, jika suatu pabrik awalnya
hanya memproduksi kertas, maka pabrik dapat melakukan diversifikasi dengan menambah jenis
produksi berupa buku tulis, buku gambar, dan lain-lain.

 Normalisasi

5
yaitu upaya perluasan produksi yang dilakukan dengan cara menambah keragaman dari satu
jenis produksi. Ingat, ini berbeda dari diversivikasi. Jika diversifikasi menambah jenis produk, maka
normalisasi menambah keragaman dari SATU jenis produk saja. Sebagai contoh, jika suatu pabrik
awalnya hanya memproduksi kertas HVS 60 gram saja, maka pabrik bisa menambah produksi kertas
HVS dengan jenis lain yakni 70 gram dan 80 gram, tapi masih sama kertas HVS.

 Spesialisasi

yaitu upaya perluasan produksi yang dilakukan dengan cara mengadakan pembagian kerja. Jadi,
hal ini lebih pada peningkatakan kualitas faktor produksi tenaga kerja. Para tenaga kerja yang ada
diberikan pembagian kerja yang lebih sempit atau spesial. Semisal pada suatu proses produksi
pakaian, satu orang hanya mengerjakan satu bagian saja, jadi bagian lengan sendiri, memasang
kancing sendiri, memotong kain sendiri, memasang kerah pakaian sendiri, mengepak pakaian sendiri
dan lain sebagainya.Jadi, kemampuan masing -masing orang bisa lebih spesial atau terfokus.
Spesialisasi yang dilakukan umumnya dapat membuat kualitas barang yang dihasilkan meningkat,
dan begitu pula dari segi kuantitas (jumlah) barang yang umumnya juga dapat ikut meningkat. Ini
dapat terjadi karena pada setiap pekerjaan, dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai
kemampuan spesifik atau ahli di bidangnya.

 Mekanisasi

yaitu upaya perluasan produksi yang dilakukan dengan cara penggunaan mesin-mesin untuk
menghemat waktu dan tenaga, agar hasil produksi yang diperoleh bisa meningkat dari segi kuantitas
maupun kualitas. Misalnya, jika awalnya orang melakukan bordir pakaian dengan cara manual
menggunakan tangan dengan teknik sulaman, maka kini orang bisa melakukan bordir pakaian
dengan menggunakan mesin bordir sehingga hasilnya bisa lebih rapi dan cepat. Kini, perkembangan
mesin bordir juga semakin maju sehingga ada pula mesin bordir komputer yang mampu membordir
sendiri pakaian sesuai dengan sketsa gambar yang diprogramkan. Hasilnya bisa jauh lebih cepat dan
juga lebih rapi.

 Fasilitas dan kemudahan

6
yaitu suatu usaha perluasan produksi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam kapasitasnya
sebagai pengambil kebijakan umum. Jadi, pemerintah membuat kebijakan untuk dapat memberikan
fasilitas dan kemudahan bagi para produsen untuk memperlancar kegiatan produksi yang dilakukan.
Sebagai contoh, dapat dilakukan dengan cara pemberian kredit bunga rendah tanpa agunan bagi
usaha kecil dan menengah, kebijakan deregulasi (penyederhanaan peraturan), debirokratisasi
(penyederhanaan mekanisme perizinan), menyediakan kursus-kursus keterampilan kerja gratis dan
lain-lain.

2.2 Komunikasi dalam Berwirausaha

a. Pengertian Komunikasi
Wirausaha secara individu dikenali bukan dalam isolasi, melainkan dalam berkomunikasi dan interaksi
dengan pihak lain di luar dirinya sendiri. Karena wirausaha itu tidak hidup sendirian. Dari adanya
berkomunikasi dan interaksi, akan terbentuk kepribadian yang mencakup perilaku, sikap, dan
sistemnilai.Kehidupan para wirausaha sehari-hari selalu terlibat dengan menerima dan memberi informasi
melalui komunikasi. Oleh sebab itu, dengan adanya komunikasi di dalam dunia bisnis sangat penting sekali
untuk keberhasilan di dalam kegiatan usahanya.
Menurut Oxford Dictionary, komunikasi adalah pengiriman atau tukar menukar informasi, ide, dan lain
sebagainya. Sedangkan menurut Ensiklopedia, komunikasi adalah penyelenggaraan tata hubungan
kegiatan menyampaikan warta dari satu pihak dalam suatu organisasi. Jadi, sebenarnya komunikasi itu
adalah proses pernyataan antar manusia. Pernyataan manusia itu dinamakan pesan (message), dan orang
yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima
pernyataan pesan (message) disebut komunikan (communicatee). Adapun isi pesan yang disampaikan
komunikator itu adalah pikiran atau perasaan, serta lambang dengan menggunakan bahasa lisan maupun
tulisan.
Sudah jelas bahwa salah satu yang paling penting bagi para wirausahawan untuk mendapatkan sukses
di dalam bisnis adalah dengan berkomunikasi dan interaksi. Jika tidak dapat berkomunikasi maka tidak
mungkin bagi seorang wirausahawan dapat memperoleh kesempatan berbisnis, baik untuk menciptakan
ide-ide, gagasan, maupun cara mengembangkan usahanya.

7
Akhirnya dari penjelasan materi tersebut di atas, dapat diambil suatu kesimpulan mengenai pengertian
komunikasi, adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk menyampaikan warta dari seseorang kepada
orang lain dalam usaha kerja sama untuk mencapai suatu tujuan.

2. Komunikasi adalah suatu proses dalam memberitahukan keterangan

3. Keterangan mengenai buah pikiran yang saling diperlukan.

4. Komunikasi adalah proses penyampaian keterangan dan pengertian dari : seseorang kepada
orang lain.

Dengan demikian, berkomunikasi itu mengandung proses pemberitahuan, mendengarkan, dan


memahami secara terus menerus dengan menggunakan lambang-lambang tertentu. Berkomunikasi yang
dianggap baik adalah berkomunikasi yang berlangsung secara timbal balik dan terus menerus dapat
menciptakan saling pengertian semua pihak. Dengan demikian, komunikasi yang berlangsung secara
timbal balik, akan bermanfaat dalam setiap kesempatan berwirausaha untuk mencapai tujuan.Begitu pula
dengan berkomunikasi di dalam berbisnis akan mendapatkan kesempatan sukses jika disertai dengan
perkembangan teknologi. Di dalam pembinaan kemampuan berkomunikasi ada tiga aspek yang perlu
diperhatikan oleh setiap wirausahawan, yaitu:

 .Berkomunikasi harus dipandang sebagai proses.


 Berkomunikasi harus menyangkut manusia dan bukan manusia.
 Berkomunikasi harus menyangkut informasi.

b.Syarat-syarat berkomunikasi
Apabila telah melaksanakan cara berkomunikasi maka seorang wirausaha harus mengetahui bagaimana
tanggapan suatu jenis komunikasi yang disampaikan terhadap seseorang mengenai isi suatu pesan yang
dikirimkan. Syarat-syarat untuk mampu berkomunikasi, adalah sebagai berikut:

1. Pesan yang disamgaikan hendaknya dapat membangkitkan keinginan pribadi pihak sasaran dan
menyarankan beberapa cara untuk memperolehnya.

8
2. Pesan yang disampaikan harus dirancang terlebih dahulu dan disampaikan sedemikian rupa,
sehingga dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud.

3. Pesan yang disampaikan harus menggunakan tanda-tanda yang disesuaikan dengan pengalaman
yang sama antara yang memberi pesan dan orang yang menerima pesan, sehingga sama-sama
mengerti.

4. Pesan yang disampaikan hendaknya mewujudkan dan menunjukkan suatu jalan untuk
memperoleh keinginan yang layak.

9
c. Macam-macam komunikasi
Komunikasi yang dipergunakan oleh seorang wirausaha ada tiga macam.

1. Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis adalah komunikasi menggunakan lambang, huruf, misalnya jika akan menyampaikan
pesan melalui surat biasanya menggunakan huruf-huruf atau abjad, dan lain sebagainya.
Kebaikan komunikasi secara tertulis, yaitu:
1) Dapat disebarkan seluas-luasnya
2) Merupakan pegangan yang pasti oleh penerima komunikasi
3)Mempunyai daya tahart yang lama
4) Dapat lebih tegas dan jelas
Kelemahan komunikasi secara tertulis, yaitu:
1) Tidak ada penjelasan lebih lanjut selain tertulis.
2) Tidak semua hal yang dikomunikasikan secara tertulis.
3) Suka gagal jika latar belakang penerima komunikasi pendidikannya lebih rendah.

2. Komunikasi Lisan
Komunikasi lisan adalah komunikasi berbentuk pembicaraan langsung, ceramah, diskusi kelompok, dan
lain sebagainya.
Kebaikan komunikasi secara lisan, yaitu:
1) Dapat menimbulkan komunikasi timbal balik secara langsung.
2) Dapat menimbulkan partisipasi secara langsung.
3) Dapat memberi penjelasan dengan lebih terperinci.
Kelemahan komunikasi secara lisan, yaitu:
1) Memerlukan penyesuaian di dalam berkomuni kasi.
2) Berkomunikasi secara lisan lebih banyak memerlukan penjelasan lebih terperinci.
3) Tidak dapat dipakai sebagai dokumentasi tertulis.
4) Komunikasi lisan kurang ada ketegasan.

10
3. Komunikasi Gambar
Kadang-kadang berkomunikasi secara tertulis sulit dilaksanakan, sehingga untuk itu perlu dilaksanakan
dengan komunikasi gambar. Misalnya dalam mengkomunikasikan perencanaan suatu bangunan yang
rumit, apabila disampaikan dengan tertulis atau lisan hanya akan menimbulkan miss comunication.

d. Proses berkomunikasi
Proses berkomunikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Proses komunikasi primer
Proses komunikasi primer adalah proses penyampaian pikiran oleh wirausaha (komunikator) kepada
masyarakat konsumen (komunikan) dengan menggunakan lambang-lambang sebagai media atau saluran.
2. Proses komunikasi sekunder
Proses komunikasi sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang wirausaha (komunikator)
kepada masyarakat konsumen (komunikan) dengan menggunakan alat sebagai sarana. Seorang
wirausaha menggunakan media, karena masyarakat konsumen sangat jauh tempat tinggalnya dan sangat
banyak. Apabila masyarakat konsumen (komunikan) sangat jauh tempat tinggalnya, maka sebagai alat
berkomunikasi menggunakan surat, telepon, telegram, dan lain sebagainya.
3. Proses komunikasi linear
Proses komunikasi linear adalah proses perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus. Proses
komunikasi linear merupakan penyampaian pesan oleh seorang wirausaha (komunikator) kepada
masyarakat konsumen (komunikan) sebagai titik terminal. Komunikasi linear ini berlangsung dalam situasi
berkomunikasi tatap muka atau melalui alat media.
4. Proses komunikasi sirkular
Proses komunikasi sirkular adalah proses terjadinya umpan balik (feed back). Terjadinya umpan balik
(feed back) adalah adanya arus pesan dari seorang wirausaha (komunikator) mengalir kepada masyarakat
konsumen (komunikan). Adakalanya umpan balik itu mengalir dari masyarakat konsumen (komunikan)
kepada wirausaha (komunikator)."

11
e. Tujuan dan keberhasilan berkomunikasi
Tujuan adanya berkomunikasi adalah mengubah tingkah laku, baik secara individu maupun secara
kelompok. Tujuan adanya berkomunikasi adalah melaksanakan pertukaran informasi yang paling
menguntungkan kedua belah pihak, baik untuk wirausaha (komunikator) maupun masyarakat konsumen
(komunikan) untuk menemukan kesamaan persepsi. Berkomunikasi dianggap berhasil apabila tafsiran
masyarakat konsumen (komunikan) dapat menerima maksud wirausaha (komunikator).
Apabila antara komunikan dan komunikator tidak ada kesesuaian, maka masalah ini disebut salah
komunikasi. Dengan perkataan lain berkomunikasi dianggap berhasil apabila tujuan yang dunginkan
wirausahawan (komunikator) mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat konsumen (komunikan).

f. Melakukan Komunikasi Efektif


Pandai berkomunikasi berarti pandai mengorganisasi buah pikiran ke dalam bentuk ucapan-
ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak didengar dan mampu menarik perhatian orang lain.
Berkomunikasi yang efektif harus diikuti dengan perilaku jujur, sehingga dapat membantu seorang
wirausaha di dalam mengembangkan karir masa depannya.
Dengan kepandaian berkomunikasi secara efektif seorang wirausaha akan mencapai puncak karir dan
meraih kursi empuk yang menjadi idaman setiap orang. Keterampilan di dalam berkomunikasi ditentukan
oleh bentuk mengekspresikan diri. Di samping itu hambatan berbahasa, hambatan fisik dan
hambatan secara psikologis harus bisa diatasi.
Sementara itu orang-orang bisnis mengatakan bahwa: "Untuk mengelola bisnis dengan baik pasarkanlah
sesuatu untuk masa depan. Agar bisa menguasai masa depan, kuasailah sebanyakbanyaknya informasi
melalui komunikasi yang efektif'.
Berkomunikasi secara efektifprinsipnya adalah bertanya dan berbicara seperlunya dengan menggunakan
bahasa yang baik dan benar. Prinsip berkomunikasi secara efektif harus memperhatikan tata cara dan
sopan santun agar di dalam pembicaraan dapat berjalan dengan lancar.
Berkomunikasi secara efektif akan menghasilkan buah pildran yang positif untuk memecahkan
permasalahan, yaitu:
a. Memberi kesempatan berbicara kepada lawan bicara.
b. Bertatap muka secara sopan dan ramah tamah.
c. Berbicara secara jelas, dimengerti, dan jangan berbisik.
d. Menghayati pokok permasalahan yang akan disampaikan.

12
e. Menghimpun karakteristik wirausaha yang berhasil di dalam usahanya.

2.3 Kepemimpinan dalam Berwirausaha

a. Kepemimpinan
Dalam suatu organisasi, kepemimpinan merupakan salah satu faktor utama yang mendukung
kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan. Banyak ahli yang mencoba untuk mendefinisikan
kepemimpinan. Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi dan mengarahkan orang denan cara
kepatuhan, kepercayaan, hormat, dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama
(Timpe, 2002:181). Hughesc dalam Ria (2009:11) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
fenomena kompleks yang melibatkan tiga hal utama yakni pemimpin, pengikut, dan situasi. Fenomena
mengenai kepemimpinan ini diyakini memiliki pengaruh terhadap produktifitas dan kohefisitas kelompok
(Bass dalam Ria, 2009:11).
Keberhasilan atau efektifitas kepemimpinan tidak sajalah diukur bagaimana memberdayakan
bawahannya tapi uga kemampuannya menjalankan atau melaksanakan kebijakan perusahaan melalui cara
atau gaya kepemimpinannya. Pola atau gaya kepemimpinan sangat tergantung pada karakteristik individu
pemimpin menghadapi bawahan berdasarkan fungsinya sebagai atasan.
Tidak ada gaya kepemimpinan yang paling baik, karena gaya kepemimpinan haruslah fleksibel
dan harus disesuaikan dengan perilaku, sistem nilai yang dianut bawahan, situasi lingkungan, kematangan
dan situasi bawahan. Seorang pemimpin yang berhasil dan efektif bila dapat melakukan gaya
kepemimpinan yang tepat pada situasi yang tepat. Terdapat kriteria perilaku kepemimpinan yang dapat
menentukan gaya kepemimpinan pengusaha adalah: (1) gaya kepemimpinan diktator, (2) gaya
kepemimpinan partisipasi, (3) gaya kepemimpinan delegasi, (4) gaya kepemimpinan konsiderasi.
1. Diktator
Pada kepemimpinan diktator atau otokratis, pemimpin membuat keputusan sendiri karena
kekuasaan terpusatkan dalam diri satu orang. Pemimpin tersebut memikul tanggung jawab dan wewenang
penuh. Pengawasan bersifat ketat, langsung dan tepat. Keputusan dipaksakan dengan menggunakan
imbalan dan kekhawatiran akan dihukum. Jika ada, maka komunikasi bersifat turun kebawah. Bila
wewenang dari pemimpin diktator bisa menjadi otokrat kebapak-bapakan.

13
2 Partisipasi
Pola kepemimpinan partisipasi adalah pola kepemimpinan dimana atasan memotivasi bawahan
untuk berperan serta dalam organisasi terutama dalam pengambilan keputusan sehingga akan
mendatangkan gairah bagi para bawahan. Pada kepemimpinan ini pendelegasian wewenang sangat
diutamakan, sedangkan komunikiasi berjalan baik untuk mencari solusi dalam setiap permaslahan yang
ada. Pada kepemimpinan partisipasi, pemimpin cenderung memberikan perhatian kepada bawahan dan
pekerjaan sehingga komunikasi berjalan berbagai arah (situasional dan diagonal). Kepemimpinan
partisipasi ini tidak efektif bila bawahan tidak menunjang keberhasilan perusahaan karena bawahan tidak
matang. Davis (1997) dalam Dalimunthe (2002: 80) menyatakan partisipasi adalah keterlibatan dan
emosional dari orang-orang dalam situasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan
sumbangan pada tujuan kelompok dan ikut serta bertanggungjawab.
3 Delegasi
Mendelegsaikan adalah memberi tanggung jawab sepenuhnya kepada bawahan untuk
mengerjakan suatu pekerjaan dan meminta pertanggungan jawab dari pelaksanaan pekerjaan. Seorang
pemimpin berhak mendelegasikan wewenang kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, pemimpin
menyerahkan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan penyelesaian pekerjaan. Pimpinan tidak akan
membuat peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut, dan hanya melakukan sedikit
kontak dengan bawahan.
4 Konsiderasi
Konsiderasi yang diberikan oleh pimpinan merupakan faktor yang penting dalam mencapai tujuan
organisasi. Sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan memberikan perhatian
pada bawahan, agar menghasilkan kerja yang optimal. Konsiderasi yang diberikan merupakan motivasi
kepada para bawahan untuk lebih giat bekerja sehingga prestasi kerjanya akan lebih baik. Para bawahan
yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan, perbedaan ini seringkali didasarkan oleh tujuan dan
kebutuhan masing-masing yang berbeda dari bawahan.

b. Kewirausahaan
Kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata kewiraswastaan akhir-
akhir ini diterjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yaitu
entreprendre yang artinya memulai atau melaksanakan. Wiraswasta atau wirausaha berasal dari kata: Wira
yaitu utama, gagah berani, luhur; Swa: sendiri; Sta: berdiri; dan Usaha: kegiatan produktif. Hisrich, Peters,

14
dan Sheperd (2008:h 10) mendifinisikan “Kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatuyang baru
pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung risiko keuangan, fisik, serta risiko
sosial yang mengiringi, menerima imbalan moneter yang dihasilkan, serta kepuasan dan kebebasan
pribadi”.
Kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai pengambilan risiko untuk menjalankan usaha sendiri
dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan usaha baru atau dengan pendekatan yang
inovatif sehingga usaha yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi
tantangan-tantangan persaingan (Nasrullah Yusuf, 2006).
Kata kunci dari kewirausahaan adalah:
1. Pengambilan resiko
2. Menjalankan usaha sendiri
3. Memanfaatkan peluang-peluang
4. Menciptakan usaha baru
5. Pendekatan yang inovatif
6. Mandiri

c. Kepemimpinan dalam Kewirausahaan


Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan
tertentu. Pengarahan dalam hal ini berarti menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau
mengikuti arah tertentu. Wirausahawan yang berhasil merupakan pemimpin memimpin para karyawannya
dengan baik. Seorang pemimpin dikatakan berhasil jika percaya pada pertumbuhan yang
berkesinambungan, efisiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan.
Para wirausaha memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, mereka mengembangkan gaya
kepemimpinan mereka sendiri sesuai dengan karakter pribadi mereka dalam memajukan perusahaannya.
Perilaku Kepemimpinan
Perilaku pemimpin menyangkut dua bidang utama:
1. Berorientasi pada tugas yang menetapkan sasaran. Merencanakan dana mencapai sasaran.
2. Berorientasi pada orang yang memotivasi dan membina hubungan manusiawi.
Orientasi Tugas Pemimpin
Seorang pemimpin cenderung menunjukkan pola-pola perilaku berikut:
1. Merumuskan secara jelas peranan sendiri maupun stafnya.

15
2. Menetapkan tujuan yang sukar dapat dicapai, dan memberitahukan orang-orang apa yang
diharapkan dari merekan.
3. Menentukan prosedur-prosedur untuk mengukur kemajuan menuju tujuan dan untuk
mengukur pencapaian tujuan itu, yakin tujuan yang dirumuskan secara jelas dan khas.
4. Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan
membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.
5. Berminat mencapai peningkatan produktifitas.
Pemimpin yang orientasi orangnya rendah cenderung bersikap dingin dalam berhubungan dengan
karyawan mereka, memusatkan perhatian pada prestasi individu dan persaingan daripada kerjasama,
serta tidak pernah mendelegasikan tugas dan tanggung jawab.
Pemimpin dan Manajer
Memimpin tidaklah sama dengan mengelola (manage). Walaupun beberapa wirasahawan adalah seorang
pemimpin dan beberapa pemimpin adalah wirausahawan, memimpin dan mengelola bukanlah merupakan
aktifitas yang identik. Kepemimpinan adalah bagian dari manajemen. Pengelolaan (manage) adalah bidang
yang lebih luas dibandingkan memimpin dan dipusatkan pada masalah perilaku maupun non perilaku.
Kepemimpinan terutama ditekabkan pada isu perilaku.

Sikap-sikap Pemimpin yang Sukses dalam Berwirausaha


1. (Purposeful) - MEMILIKI TUJUAN YANG JELAS UNTUK DICAPAI: tujuan yang sesungguhnya
Memiliki tujuan yang jelas berarti punya pendinian, memiliki fokus, memiliki keyakinan akan
keputusannya, memiliki kemampuan memutuskan, dan berdaya tahan, sesungguhnya merupakan kualitas
pencapaian yang sukses dan tuntutan tujuan apa pun. Tak dapat dipungkiri, ini adalah salah satu kualitas
manusia yang paling dicari dalam kehidupan, namun banyak orang yang belum memilikinya. Seseorang
yang tidak memiliki tujuan dapat diibaratkan sebagai sebuah kapal di tengah-tengah kabut di lautan yang
telah kehilangan kemudi dan layar sekaligus. Di saat semuanya berjalan mulus, sering kali dilema muncul
tanpa kita sadari, kecuali mungkin kurangnya pemahaman akan arah yang jelas atau gerakan yang
meyakinkan. Saat cuaca berubah ia akan bereaksi dengan pengaruh dari luar. Namun kita tetap dapat
kehilangan arah tujuan kita seandainyapun layar dan kemudi tetap ada di tempatnya. Kecuali jika Anda
mcmiliki tujuan yang jelas dalam mengambil suatu tindakan, Anda akan menuju arah yang salah.

2. (Responsible) - TANGGUNG JAWAB: kehandalan yang sejati.

16
Pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab sendiri mengenai ‘akan menjadi seperti apa
perusahaan saya, jika semua orang seperti saya’ adalah sebagai berikut: Menanamkan akuntabilitas yang
sebenarnya dalam diri kita membutuhkan evaluasi yang teratur. Kebiasaan memahami betapa kita harus
bertanggung jawab terhadap apa yang kita pikirkan dan lakukan menupakan hal bernilai untuk dibangun.
Menanamkan akuntabilitas yang sebenarnya pada din orang lain membutuhkan pujian dan evaluasi kinerja
yang teratur. Kebiasaan semacam ini akan mengembangkan loyalitas yang lebih mendalam dan
pemahaman yang lebih besar sebagaimana tanggung jawab yang kita harapkan dan orang lain. Sebagian
besar evaluasi kinerja tradisional terlalu terpisah-pisah dan lebih berlandaskan pada ‘bagaimana Anda
dapat melakukan sesuatu dengan lebih baik’ danipada ‘seberapa balk yang telah Anda lakukan.’ Evaluasi
kinerja seharusnya mengikutsertakan secara tepat apa yang ingin dicapai dan kata itu: baik mengevaluasi
maupun juga memuji.
3. (Integrity) — INTEGRITAS: nilai yang sejati
Tidak ada kualitas tunggal yang mendefinisikan para pemimpin, baik yang berpemikiran wirausaha
atau tidak. Namun kualitas yang tak dapat diabaikan adalah melakukan sesuatu yang benar berdasarkan
kesadaran akan kehormatan dan penghargaan pada orang lain. Memahami apa yang benar untuk
dilakukan dan secara nyata mengerjakannya berarti memiliki integnitas. Filsuf Yunani Socrates percaya
bahwa untuk sungguh mengetahui apa yang benar tidak mungkin tanpa bertindak selaras dengannya.
Ketika dia telah dijatuhi hukuman mati oleh pemenintah untuk apa yang dianggap sebagai pandangan yang
sangat kontroversial, teman-temannya memaksanya untuk melarikan diri dengan rencana yang telah
mereka susun. Socrates dengan tegas menolak saran mereka, dengan menjawab: ‘Sepanjang hidupku,
aku telah mengajarkan bahwa orang harus mematuhi hukum yang berlaku di suatu tempat. Jika hukum itu
salah maka kita harus memperbaikinya melalui diskusi, dan walaupun saya menjadi korban ketidakadilan,
saya tidak dapat dengan tiba-tiba melawan apa yang menjadi kepencayaan saya hanya karena hidup saya
terancam. Pnionitas pertama manusia bukan hanya untuk hidup, namun untuk memimpin suatu kebaikan
dan menjalani kehidupan’ Dengan lebih memilih untuk memberikan hidupnya dibandingkan hidup tanpa
integnitas, dia membuat sebuah contoh sangat besar mengenai melakukan apa yang Anda ajarkan.
4. (Nonconformity) - KETIDAKCOCOKAN: kreativitas yang sesungguhnya
Pemimpin wirausaha bukanlah seorang yang mudah cocok, kecuali dalam hal ketaatan mereka
terhadap nilai inti. Tak seorang pun mencapai sukses yang sesungguhnya untuk menjadi diri sendiri
dengan menjadi seorang yang mudah cocok (konformis). Namun dalam bisnis, banyak orang berpegang
teguh pada pola yang mereka percayai, yaitu selubung mayoritas merupakan suatu prasyarat bagi

17
persetujan dan keberhasilan. Dengan cara ini bisnis menjadi mangsa mitos , mendasar—bahwa mayoritas
secara otomatis dan tanpa terkecuali selalu benar. Namun mayoritas tidaklah maha tahu semata-mata
karena dia adalah mayoritas dan sullt untuk memastikan kebenaran pendapat tersebut.
5. (Coureqeous) – KEBERANIAN : kekuatan yang sejati
Ketika Anda memiliki keberanian terhadap pendirian Anda dan keberanian untuk menjadi diri Anda
sendiri dan mengikuti jalan yang Anda percayai sebagai yang terbaik, kekuatan Anda yang sejati
berkembang secara alami. Di dalamnya, Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman ditinjau ulang dan
diperhatikan, sementara kategori Kelemahan lebih diutamakan daripada apa yang dianggap sebagai
kekuatan. Setiap laporan akan menekankan lebih pada yang pertama daripada yang terakhir secara
sungguh-sungguh, sekalipun salah pedoman, kepercayaan bahwa sesuatu yang salah haruslah menjadi
perhatian.
6. (Intuitive) — INTUITIF : keputusan yang sesungguhnya
Suatu keputusan yang nyata merupakan sesuatu yang sangat penting. Bukan apa yang anda,
Anda makan, ke mana Anda akan pergi atau bahkan, mobil apa yang akan Anda beli. Keputusan yang
sesungguhnya adalah sesuatu yang mempengaruhi masa depan dan keberhasilan Anda dan juga orag
lain. Sedikit orang akan berpendapat bahwa salah satu kemampuan yang terpenting dalam bisnis adalah
untuk maju bersama dengan yang lain. Saya percaya bahwa itu sama pentingnya dengan membuat
keputusan yang benar ‘Tentu saja demikian! dapat saya bayangkan Anda berkata kepada diri Anda sendiri.
Hidup ini akan menjadi sempurna yang kita harapkan jika ini yang terjadi. Namun membuat keputusan
yang sulit, apalagi selalu membuat keputusan yang benar. Saya berpendapat, setiap dari kita dapat belajar
bagaimana untuk menjadi intuitif sampai pada titik saat kita harus membuat sesuatu keputusan yang
sangat penting, baik besar maupun kecil, dengan latihan bertahap untuk menjadi yang terbaik.
7. (Patience) — KESABARAN: hubungan yang sesungguhnya
Manusia memiliki keunikan, dalam menempatkan batasan waktu bagi suatu hasil yang
diinginkannya dalam hidup, khususnya berkaitan dengan relasi. Tentu saja, mudah bersikap sabar
terhadap sesuatu yang ihasilnya sudah ten- tu, karena dalam kepastian, hanya sedikit ruang untuk
kecemasan. Terdapat hubungan langsung yang berkaitan antara kesabaran dan kepastian, sebanyak
antara ketidaksabaran dan keraguan. Semakin Anda tidak sabar untuk sesuatu berjalan sesuai kehendak
Anda, semakin Anda bertanya-tanya apakah akan terjadi demikian. Kapanpun Anda mempertanyakan
suatu ide intuitif yang Anda percayai benar, pertanyaan Anda menyebabkan meningkatnya keraguan
sampai Anda berpikir bahwa ide itu tidak tidak masuk akal dan kemudian mengabaikan atau mengulurnya

18
hingga sesuai dengan batasan rasional Anda. Sekalipun ide tersebut benar dalam rasio Anda, terpengaruh
oelh ketidaksabaran Anda untuk mencapai apa yang Anda inginkan, akan tampak sebagai ide yang salah
atau jalan yang terlalu lambat untuk apa yang Anda inginkan. Bersikap sabar membutuhkan keyakinan.
8. (Listen) — MENDENGARKAN: pasar yang sesungguhnya
Pemasaran adalah istilah yang pada mulanya dimaksudkan untuk memberikan gambaran
bagaimana keberhasilan suatu bisnis bergantung sepenuhnya pada sesuatu di luar dirinya. Pemasaran
mengajarkan, jika kita mendengarkan perekonomian, masyarakat, dan konsumen, kita dapat
menggunakan informasi tersebut untuk menentukan strategi internal. Aneh,nya pemasaran sangat jarang
digunakan untuk hal ini. Bukan berarti ‘siapakah konsumen kita’ , pemasaran telah menjadi sekadar alat
pendukung penjualan dengan bertanya ‘bagaimana kita dapat menjual lebih banyak yang kita inginkan.
Dengan telah beralihnya kita dari budaya menjual produk menjadi melayani konsumen, sekarang menjadi
lebih penting untuk mendengarkan pasar kita dan menentukan apa yang mereka inginkan dibanding masa-
masa sebelumnya.
9. (Enthusiasm) – ANTUSIASME : komunikasi yang sesungguhnya
Manusia dilahirkan dengan cara pandang yang optimis atau positif, namun pesimisme atau
pandangan-pandangan negatif sering kali memungkinkan untuk dikedepankan. Pesimisme datang dan
kekecewaan, dari suatu impresi buruk yang terbentuk karena rintangan yang terjadi di masa lalu. Mungkin
pesimisme menunjukkan kehati-hatian dan pengalaman, namun yang baik adalah untuk berpikir hanya
pada kesulitan macam apa yang dapat terjadi di depan kita? Efek psikologis dan optimisme adalah dia
membantu pencapaian keberhasilan.
10. (Service) — LAYANAN: tindakan yang sesungguhnya
Setiap orang mengetahui betapa pentingnya layanan pelanggan. Setiap orang berpikir bahwa
mreka mengetahui layanan sebaik apa yang dibutuhkan. Walaupun begitu, persepsi konsumenlah yang
benar-benar harus diperhitungkan. Memahami persepsi konsumen terhadap Anda, produk Anda, layanan
Anda, dan bisnis Anda merupakan kunci untuk membangun hubungan jangka panjang dan keberhasilan
dalam menumbuhkan penjualan. Meskipun demikian, kecuali kita mampu menyesuaikan diri dengan
kebutuhan pelanggan, kita akan dapat memaksimalkan nilai yang kita bentuk dari kesempatan memiliki
konsumen. Mendapatkan masukan dari konsumen sama pentingnya dengan menerima masukan tentang
diri kita. Itu membantu kita mengevaluasi tindakan nyata yang diperlukan.
Mengapa Kepemimpinan Penting dalam Berwirausaha:

1. Agar dalam pelaksanaan berwirausaha dapat terorganisir dengan baik.

19
2. Dalam berwirausaha dibutuhkan sosok yang dapat memimpin dan bertanggung jawab dalam
mengurus dan mengelola suatu usaha.

3. Pemimpin adalah jabatan tertinggi yang memiliki tugas-tugas yang sangat penting dan vital dalam
kewirausahaan seperti pengambil keputusan, penanggung jawab tindakan yang dilakukan oleh
setiap bawahannya, memberikan wewenang, dan lain-lain.

4. Bila dalam mengelola suatu usaha tidak ada pemimpin, maka akan terjadi kekacauan dan
kerancuan dalam pembagian tugas-tugas yang mengakibatkan kebangkrutan.

5. Pemimpin merupakan salah satu syarat utama dalam berwirausaha

2.4 Motifasi,Inovasi dan Kreatifitas dalam Berwirausaha

Untuk mendukung semangat kerja sebagai wirausahawan, kita harus mempunyai jiwa inovatif,
kreativitas dan motivasi. Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuat, sedangkan motif adalah
kebutuhan, keinginan dan dorongan untuk maju.

Jadi motivasi adalah daya dorong untuk lebih maju dalam berwirausaha dan berkembang di dalam
diri wirausaha. Prinsip motivasi adalah prinsip memberi dorongan untuk membangkitkan minat
berkomunikasi dengan seseorang, kelompok, dan masyarakat pada umumnya.

Inovator adalah orang atau sesuatu yang mendatangkan hal-hal yang baru. Pengertian inovasi
adalah suatu temuan yang luar biasa tetapi adalah suatu temuan yang menyebabkan berdayagunanya
sumber ekonomi ke arah yang lebih produktif.

Faktor-faktor inovasi yang dapat mempengaruhi semangat kerja wirausaha adalah:

 Kesempatan untuk memperoleh keuntungan

 Minat dan keinginan wirausaha sendiri untuk berwirausaha

 kesempatan untuk menjadi ”BOSS”

20
 Kebebasan di dalam manajemen usaha

Kreatifitas merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Dengan
mengembangkan kreatifitas, seorang wirausaha akan mampu meningkatkan:

 Ketrampilannya

 Semangat kerjanya

 Mutu produknya

 Efisien kerjanya

 Inisiatif kerjanya

 Keuntungan usahanya

Pembinaan efektifitas dan efisiensi kerja ke arah pengaturan yang maksimal, yaitu dengan memberi
latihan kerja yang baik, serta dalam rangka tugasnya untuk perkembangan technical skill dan managerial
skill. Prinsip pembinaan bekerja efektif dan efisien merupakan kundi ke arah kemajuan organisasi.

21
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi bagaimana cara wirausaha mmemanajemen
dengan baik produksi usahanya, bagaimana ia berkomunikasi dalam berwirausaha, bagaimana ia memiliki
sikap kepemimpinan yang baik dalam berwirausaha, sertakemampuan berinovasi, memiliki kreatifitas dan
motivasi yang besar

22
DAFTAR PUSTAKA

https://portal-ilmu.com/pengertian-produksi-dan-usaha-meningkatkan-faktor-produksi/
https://www.scribd.com/doc/312368731/Komunikasi-dalam-Wirausaha
http://nugraha0215.blogspot.com/2013/09/kepemimpinan-dalam-kewirausahaan.html
ia Agustina, 2009, Hubungan antara Gaya Kepemimpinan dengan Kreativitas Karyawan: Analisis
Pengaruh Mediasi Pemikiran Kreatif dan Motivasi Intrinsik pada Karyawan di Industri
Media.
Timpe, Dale, 2002, Seri Manajemen Sumber Daya Manusia – Kepemimpinan, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta
http://ujiansma.com/motivasi-inovasi-dan-kreativitas

23