Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

“SINERGITAS MISSION HMI UNTUK MENCAPAI TUJUAN


INDONESIA DALAM BERBANGSA DAN BERNEGARA”
(TEMA B)

Disusun
Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Intermediate Training (LK II)
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) CABANG MEDAN

Oleh :
Fitria Wulandari

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)


KOMISARIAT FMIPA UNIMED
CABANG MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirobbilalamiin, Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT.


yang telah memberikan rahmat, taufiq, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita
semua sehingga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Shalawat dan Salam
semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul, Sang Revolusioner sejati, yakni
Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman
kebodohan menuju kehidupan yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Suatu rahmat yang besar dari Allah SWT yang selanjutnya penulis syukuri
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Sinergitas Mission
HmI Untuk Mencapai Tujuan Indonesia Dalam Berbangsa Dan Bernegara”
ini untuk memenuhi syarat mengikuti Intermediate Training (LK II) Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan. Kritik dan saran sangat dibutuhkan dari
pembaca.
Meskipun makalah ini disusun untuk memenuhi syarat dalam mengikuti
Intermediate Training (LK II), semoga makalah ini bermanfaat sebagai penambah
wawasan kita tentang sinergitas mission hmi untuk mencapai tujuan indonesia
dalam berbangsa dan bernegara

Medan, 02 Mei 2018

Fitria Wulandari

ii
DAFTAR ISI

Judul Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2
1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Bangsa Indonesia ........................................................................... 3
2.2 Mission HmI .............................................................................................. 4
2.3 Hubungan antara Mission HmI dengan Tujuan Bangsa Indonesia ............ 8
2.4 Tantangan yang dihadapi HMI .................................................................. 14
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 18
3.2 Saran ........................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 20
BIODATA ........................................................................................................ 21

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam perkembangan HMI pada saat ini, organisasi yang didirikan pada
tanggal 5 Februari 1947 ini diibaratkan seperti besi yang sedang berkarat. Hal ini
terjadi dikarenakan peran organisasi sebagai organisasi perjuangan yang mampu
mencetak kader sebagai kader yang menanamkan didalam dirinya lima kualitas
insan cita kini telah memudar. Memudarnya peranan HMI ini disinyalir salah
satunya karena kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus. Hampir-
hampir tidak ada perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan agama Islam seorang anggota HMI sebelum dan sesudah masuk
HMI. Hal ini disebabkan karena minimnya pembinaan maupun program maupun
implementasinya yang berkaitan dengan pembinaan jiwa dan semangat beragama
di kalangan HMI. Semestinya seorang mahasiswa yang masuk HMI harus
mendapatkan nilai tambah atau nilai lebih tentang agama Islam.1
Lain daripada itu, perbuatan jelek yang dilakukan beberapa orang kader,
anggota, dan alumni HMI berdampak dan membawa akibat yang negatif pada
semua kader termasuk kader yang baik maupun alumni HMI 2 serta lingkungan
masyarakat pada umumnya.
HMI adalah suatu gerakan pembaharuan untuk membebaskan umat Islam
dan bangsa Indonesia dari keterbelakangan. Pemikiran keislaman- keindonesiaan
HMI menampilkan Islam yang bercorak khas Indonesia. Pemikiran ini akan
mendatangkan perubahan sesuai dengan kebutuhan kontemporer menuju masa
depan yang baru yang dicita-citakan seluruh rakyat Indonesia, yaitu masyarakat
adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun HMI sudah berbalik menjadi tidak
mengikuti, hanya menjadi kader olah mengolah pejabat yang mencari keuntungan
pribadi tanpa memikirkan apa yang diperbuatnya telah merugikan orang lain.

1
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal 86.
2
Ibid, hal 103.

1
Dalam setiap organisasi khususnya HMI, kader memiliki peran sentral,
dimana kader sebagai agen dalam rangka menerapkan cita perjuangan HMI yang
sesuai dengan tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi,
yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhai Allah SWT sehingga dibutuhkan kader yang berwawasan
keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan dengan kualitas lima insan cita dan
bersifat independen, penuh semangat dan militansi yang tinggi dalam rangka
mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

1.2 Rumusan masalah


Dengan bertolak pada landasan masalah diatas, maka penulis mencoba
mencoba merumuskan dalam butir-butir masalah sebagai berikut:
1. Apa tujuan dari Bangsa Indonesia ?
2. Apa yang dimaksud dengan Mission HmI?
3. Bagaimana Hubungan antara Mission HmI dengan tujuan bangsa
Indonesia?
4. Bagaimana tantangan yang dihadapi HMI untuk mewujudkan mission
HmI dalam kehidupan berbangsa an bernegara?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
1. Untuk tujuan dari Bangsa Indonesia
2. Untuk mengetahui Mission Hm
3. Untuk mengetahui Hubungan antara Mission HmI dengan tujuan
bangsa Indonesia
4. Untuk mengetahui tantangan yang dihadapi HMI untuk mewujudkan
mission HmI dalam kehidupan berbangsa an bernegara
1.3.2 Tujuan Khusus
Sebagai syarat untuk mengikuti Intermediate Training (LK 2) Tingkat
Regional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan pada tanggal 6
Mei 2018 dengan tema B “Sinergitas Mission HMI untuk Mencapai Tujuan
Indonesia dalam Berbangsa dan Bernegara”.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Bangsa Indonesia


Cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia, yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila, tertuang dalam Alinea kedua Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 “... Negara Indonesia, yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Tujuan Nasional Negara
Republik Indonesia tertuang dalam Alinea Keempat, disebutkan bahwa “…
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial …”. Berdasarkan alinea tersebut, tujuan nasional yang ingin
dicapai Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia.
2. Memajukan kesejahteraan umum.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dalam rangka perwujudan cita-cita dan tujuan nasional tersebut, beberapa
upaya yang dapat dilakukan negara, di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Memberikan kepastian dan perlidungan hukum terhadap semua warga
negara tanpa diskriminatif.
2. Menyediakan fasilitas umum yang memadai yang berdampak pada
kesejahteraan masyarakat
3. Menyediakan sarana pendidikan yang memadai dan merata di seluruh
tanah air
4. Memberikan biaya pendidikan gratis terhadap seluruh jenjang
pendidikan bagi seluruh warga negara

3
5. Menyediakan infrastruktur serta sarana transportasi yang memadai dan
menunjang tingkat perekonomian rakyat
6. Menyediakan lapangan kerja yang dapat menyerap jumlah angkatan
kerja dalam rangka penghidupan yang layak bagi seluruh warga negara
7. Mengirimkan pasukan perdamaian dalam rangka ikut serta
berpartisipasi aktif dalam menjaga dan memelihara perdamaian dunia.
Pada intinya, cita-cita nasional yang tercantum dalam Pembukaan UUD
1945 tersebut harus dicapai dalam wadah negara Kesatuan Republik Indonesia
dan selalu dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila.

2.2 Mission HmI


HMI sebagai organisasi berbasis mahasiswa yang merupakan kaum
intelektual, generasi kritis, dan memiliki profesionalisme harus mampu menjadi
agen pembaharu di tengah masyarakat dan kehidupan bangsa. Karena mahasiswa
memiliki kekuatan yang luar biasa dalam tatanan kehidupan bangsa dan negara,
maka seluruh gerak perubahan yang terjadi di bangsa ini dimotori oleh kelompok
mahasiswa dan pemuda, mulai dari proklamasi, revolusi, hingga reformasi, selalu
ada andil mahasiswa. Namun demikian arah perubahan harus sesuai dengan usaha
untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT
sebagaimana termaktub dalam penggalan tujuan HMI.
Dalam perjalanannaya, gerakan mahasiswa begitu dinamis, mengikuti
perkembangan jaman dan selalu eksis dalam setiap momen penting kebangsaan.
Kekonsistenan itu harus diiringi oleh pegangan yang teguh terhadap idealisme dan
menjaga sikap hanif sehingga kehadiran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang
dalam tatanan sosial masyarakat mendapat tempat yang penting sebagai embun
penyejuk. Untuk itulah HMI sebagai organisasi mahasiswa harus mampu
menetaskan kader-kader yang berkualitas insan cita sebagaimana yang tersurat
dalam tujuan HMI “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT (pasal 4 AD HMI).
HMI sebagai Organisasi yang Bersifat Independen (pasal 6 AD HMI) HMI
yang bersifat independen adalah waktak organisasi yang selalu tunduk

4
danberorientasi pada kebenaran (hanif), sehingga kiprah setiap individu dan
dinamika organisasi dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mempunyai
pola pikir, pola sikap, dan pola tindak tidak terikat dan tidak mengikatkan diri
secara organisatoris dengan kepentingan atau organisasi mana pun, segala sesuatu
tidak didasarkan atas kehendak atau paksaan pihak lain.
Independensi dilihat dari dua dimensi, yakni :
1) Independensi Etis
Sikap dan watak HMI yang termanifestasikan secara individu dan
organisasi dalam dinamika berfikir, bersikap, dan bertindak, baik dalam
hubungan terhadap Sang Rab, ataupun hubungan terhadap sesama, sesuai
dengan fitrah kemanusiaannya, yakni tunduk dan patuh kepada kebenaran
(hanif).
2) Independensi Organisatoris
Sikap dan watak HMI yang teraktualisasikan secara organisatoris di dalam
kiprah dinamika intern organisasi maupun dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam keutuhan kehidupan
nasional melakukan partisipasi aktif, konstruktif secara konstitusional
terhadap perjuangan bangsa dan pencapaian cita-cita nasional, hanya
komit kepada kebenaran, dan tidak tunduk atau komit terhadap
kepentingan atau organisasi tertentu.

Prinsip-prinsip independensi HMI dalam implementasi dirumuskan


sebagai berikut :
a) Kader HMI terutama aktivitasnya dalam melakukan tugas dan tanggung
jawab organisasi harus tunduk pada ketentuan-ketentuan organisasi dalam
melaksanakan program-program organisasi, oleh karena itu tidak
diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan yang membawa organisasi
atas kehendak pihak luar manapun.
b) Kader HMI terutama aktivitasnya tidak dibenarkan mengadakan komitmen
dalam bentuk apapun dengan pihak luar selain segala sesuatu yang telah
ditetapkan dan diputuskan secara organisatoris.
c) Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang meneruskan dan
mengembangkan watak independensi etis dimanpun mereka berada dan

5
berfungsi sesuai dengan profesinya dalam rangka membawa hakekat misi
HMI, menganjurkan serta mendorong alumni HMI untuk menyalurkan
aspirasinya secara tepat melalui semua jalur pengabdian, baik jalur
organisasi profesi, instansi pemerintah, wadah aspirasi politik, dan jalur
lainnya yang semata-mata karena hak dan tanggung jawab dalam rangka
merealisasikan kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.

Aplikasi dan dinamika berfikir, bersikap dan bertindak secara keseluruhan


dari watak asasi kader HMI terumus dalam bentuk :
a. Cenderung kepada kebenaran
b. Bebas, merdeka dan terbuka
c. Obyektif, rasional, dan kritis
d. Progresif dan dinamis
e. Demokratis, jujur dan adil

Terlihat dalam tubuh organisasi, kader memiliki fungsi tersendiri yaitu


sebagai tenaga penggerak organisasi, sebagai calon pemimpin, dan sebagai
benteng organisasi. Secara kualitatif, kader mempunyai mutu, kesanggupan
bekerja dan berkorban yang lebih besar daripada anggota biasa. Kader itu adalah
anggota inti. Kader merupakan benteng dari “serangan” dari luar serta
penyelewengan dari dalam. Ke dalam tubuh organisasi, kader merupakan pembina
yang tidak berfungsi pemimpin.
Kader adalah tenaga penggerak organisasi, yang memahami sepenuhnya
dasar dan ideologi perjuangan. Ia mampu melaksanakan program perjuangan
secara konsisten di setiap waktu, situasi, dan tempat. Terbawa oleh fungsinya itu,
untuk menjadi kader organisasi yang berkualitas, anggota harus menjalani
pendidikan, latihan, dan praktikum. Pendidikan kader harus dilaksanakan secara
terus menerus dan teratur, rapi dan berencana, yang diatur dalam pedoman
perkaderan. Kongres ke-8 HMI tahun 1966 merumuskan pengertian kader adalah
tulang punggung organisasi, pelopor, penggerak, pelaksana, penyelamat cita-cita

6
HMI masa kini dan yang akan datang dimanapun berada, tetap berorientasi
kepada asas dan syariat islam.3
Definisi dan pengertian diatas, setidaknya terdapat tiga ciri yang terintegrasi
dalam diri seorang kader. Pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam
organisasi. Kader mengenal aturan permainan organisasi sesuai dengan ketentuan
yang ada, seperti NDP dalam pemahaman yang integralistik dengan Pancasila
dan UUD 1945. Dari segi operasionalisasi organisasi, kader selau berpegang dan
mematuhi AD/ART HMI, pedoman perkaderan, dan ketentuan lain. Kedua,
seorang kader mempunyai komitmen yang tinggi secara terus menerus, konsisten
dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga, seorang kader
mempunyai bakat dan kualitas sebagai tulang punggung yang mampu menyangga
kesatuan kumpulan manusia yang lebih besar. Jadi, fokus seorang kader terletak
pada kualitas. Kader HMI adalah anggota HMI yang telah menjalani proses
perkaderan sehingga memiliki ciri kader, yang integritas kepribadian yang utuh,
beriman, berilmu, dan beramal shaleh sehingga siap mengemban tugas dan
amanah dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 4
Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitasnya
harus dapat memberi kesempatan berkembang bagi kualitas-kualitas pribadi
anggota-anggotanya. Sifat kekaderan HMI dipertegas dalam pasal 4 Anggaran
Dasar HMI yaitu Terbinanya insane kademis, pencipta, pengabdi, yang
bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhai Allah SWT. Tujuan HMI ini telah memberi tuntunan
kemana perkaderan HMI diarahkan. Anggota HMI yang merupakan human
material yang dihadapi HMI untuk dibina dan dikembangkan menjadi kader HMI,
adalah mereka yang memiliki kualitas-kualitas sebagai: a) mahasiswa, yaitu
mereka yang telah mencapai tingkat pendidikan intelektual tertentu, calon sarjana,
dan potensial menjadi intelegensia, b) kader yaitu mereka yang memiliki
kesediaan untuk berlatih dan mengembangkan kualitas pribadinya guna
menyongsong tugas masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia, c) pejuang,

3
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal. 10.
4
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal 11.

7
yaitu mereka yang ikhlas, bersedia berbuat dan berkorban guna mencapai cita-cita
umat Islam dan bangsa Indonesia pada waktu sekarang dan yang akan datang.5
Pada hakekatnya, tugas pokok HMI adalah tugas perkaderan yang mana semua
kegiatannya hendaklah menggambarkan fungsi kekaderannya sehingga
membentuk profil kader yang ideal, yaitu Muslim intelektual profesioanl.
Tujuan HMI sebagai tujuan umum yang hendak dicapai oleh HMI menjadi
garis arah dan titik sentral seluruh kegiatan dan aktivitas perkaderan HMI.
Konsekuensi dari tujuan itu maka dengan sendirinya tujuan merupakan
ukuran/norma dari semua kegiatan HMI. Dengan demikan kegiatan-kegiatan HMI
benar-benar relevan dengan tujuannya. Bagi anggota, tujuan organisasi
merupakan titik pertemuan persamaan kepentingan yang paling pokok dari
seluruh anggota. Oleh karena itu peranan anggota dalam pencapaian tujuan
organisasi adalah sangat besar dan menentukan.6

Gambar 1. Skema Mission HmI


2.3 Hubungan Mission dengan Tujuan Bangsa Indonesia
Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat
oleh suatu kebudayaan yg mereka anggap sama. Kehidupan masyarakat yang adil,
makmur, dan sejahtera merupakan dambaan dan impian bagi semua orang.
Masyarakat yang demikian tidak pernah lepas dari peran civil society yang
berakhlak-ul-karimah. Secara analitis konsep civil society berakar pada suatu
bangunan pemikiran--yang nantinya menjadi model--mengenai manusia dan
5
Ibid, hal 12.
6
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal 137.

8
masyarakat. Bangunan tersebut dapat ditelusuri kembali pada benih-benih awal
yang dibangun oleh para filsof Stoa (Filsafat Alam). Mereka merupakan jajaran
pemikir yang merumuskan manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan
dan kesederajatan. Oleh alam, menurut mereka, manusia dianugerahi kemampuan-
kemampuan tertentu yang dapat digunakan untuk mencapai kebaikan dan
keutamaan. Cicero misalnya, beranggapan bahwa kebaikan dapat direalisasikan
oleh semua manusia, karena ia secara inhern telah memiliki potensi tersebut.7
Dengan demikian, konsep civil society harus dipahami dalam kerangka
tradisi liberal. Civil Society bukanlah entitas sosial yang terdiri dari kumpulan
manusia. Ia juga bukan manifestasi dari sistem komunal yang dikenal luas dalam
masyarakat tradisional. Civil society merupakan ruang publik yang berisikan
manusia sebagai individu-individu dengan segala atribut intrinsiknya. Oleh
karenanya, civil society, memiliki karakteristik yang juga terdapat dalam konsep
manusia sebagai individu. Jika individu sebagai ruang pribadi, civil society,
merupakan ruang publik. Karena itu, di dalam civil society juga harus terdapat
kebebasan, kesederajatan, dan nilai-nilai lain yang terkait seperti otonomi,
kesukarelaan atau keseimbangan. Ciri-ciri tersebut harus terwujud dalam gerak
anggota yang ada di dalamnya maupun dalam relasi suatu civil society dengan
civil society lain dan bahkan dalam hubungannya dengan negara.8
Kebebasan yang terdapat dalam civil society ini merupakan sebuah prasyarat
menuju kebebasan dari segala dominasi dan hegemoni kekuasaan serta kebebasan
untuk berpartisipasi dalam berbagai proses kemasyarakatan secara sukarela dan
rasional. Dalam kehidupan bernegara, kebebasan tersebut tentu hanya bisa
terwujud dalam suatu sistem kekuasaan yang demokratis. Dalam konteks inilah
gagasan civil society memiliki signifikansi politik. Penciptaan sistem demokrasi
tidak bisa didasarkan semata pada “niat baik” pemegang kekuasaan negara. Upaya
tersebut harus dilakukan oleh masyarakat, khususnya melalui penguatan potensi-
potensi yang ada, sehingga dapat menjembatani hubungan antara individu dan
masyarakat di satu pihak, dan negara serta institusi pemegang kekuasaan lainnya

7
Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2002), hal 3.
8
Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2002), hal 5.

9
di pihak lain. Karena itu, upaya pemberdayaan potensi-potensi masyarakat hingga
menjadi kekuatan civil society pada dasarnya mengarah kepada penciptaan pola
kekuasaan masyarakat demokratis.
Namun berkaitan dengan upaya penguatan civil society, Muslim
Indonesia—sebagai mayoritas—menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.
Upaya penguatan civil society di Indonesia tidak bisa mengabaikan pentingnya
faktor umat Islam. Bahkan dalam beberapa hal tertentu, bisa dikatakan bahwa
keberadaan Muslim merupakan basis perubahan politik dan sosial di Indonesia.
Begitu pula dalam upaya penguatan civil society, Muslim menduduki posisi
terdepan yang bisa diharapkan sebagai pengimbang dari kekuatan negara yang
cenderung dominatif. Dengan ungkapan lain, Muslim di Indonesia memiliki
prasyarat—setidaknya secara kuantitatif—bagi pertumbuhan dan penguatan civil
society di Indonesia.9
Berdasarkan paparan kalangan intelektual-aktivis Muslim modernis muncul
kecenderungan untuk melihat civil society sebagai sebuah konsep yang dihasilkan
dari ideologi sekular yang jauh dari kehidupan spiritual. Karena itu, istilah
masyarakat madani yang diperkenalkan di Indonesia dianggap bukan merupakan
terjemahan dari civil society. Ada perbedaan ideologis antara civil society dan
masyarakat madani, sebab diyakini bahwa masyarakat madani memiliki landasan
spiritual dan religius karena kembali ke teks-teks agama, dan hal tersebut tidak
dapat ditemukan dalam civil society.10
Menurut Nurcholish Madjid, konsepsi civil society ini sudah diterapkan
terlebih dahulu ketika zaman Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Nabi
manyatukan kalangan Muslim, Nasrani, dan Yahudi dengan satu kesepakatan
yang disebut Piagam Madinah yang kemudian diteruskan oleh Sahabat Umar Ibn
Khatab sebagai salah satu kelanjutan wujud pelaksanaan cita-cita masyarakat
madani yang diteladankan Nabi. Hal ini membuktikan bahwa Islam menunjukkan
peradaban yang sudah modern dalam hal sosial-politik serta menjadi referensi
bagi umat Islam di zaman sekarang. Pada prinsipnya, fungsi utama daripada
hukum Islam adalah untuk menciptakan kebaikan manusia di dunia dan di akhirat,

9
Hendro Prasetyo, Ali Munhanif, dkk, Islam & Civil Society, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2002), hal 11.
10
Ibid, 163.

10
atau dengan kata lain untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia, karena
hukum Islam berorientasi pada keadilan dan kesetaraan manusia.11
Tetapi, barangkali cukup safe untuk mengatakan bahwa agama—Islam
khususnya--akan dibutuhkan manusia, dan dengan demikian ia tetap berperan.
Sebab sebagaimana dikatakan oleh Julian Huxley: “manusia selalu concerned
tentang nasibnya – artinya, tentang kedudukan dan peranannya di dalam alam
raya, bagaimana ia mempertahankan kedudukan itu, dan bagaimana pula ia
memenuhi peranan tersebut. Semua masyarakat manusia mengembangkan jenis
alat-alat tertentu untuk mengatasi masalah ini – alat-alat untuk mengerahkan ide-
ide dan emosinya serta untuk membina sikap-sikap batin, pola-pola kepercayaan
dan perilaku dalam hubungannya dengan konsepsi mereka tentang nasib mereka.
Semua alat sosial yang berkenaan dengan nasib itu, dia kira, dapatlah secara
sepenuhnya dimasukkan ke bawah judul agama.12
Tuntunan Al-Quran meletakkan titik berat utama pada kebajikan sosial yang
didasarkan pada agama dan moralitas, bertentangan dengan falsafah-falsafah
sosial sekuler yang berakarkan keduniawian dan mempunyai pendekatan
materialistis yang dibangun dalam kefanaan sebagai dasar sistem-sistem nilainya.
Dengan demikian, masyarakat Islam adalah theosentris dan ethico-religious yang
dilestarikan dalam upaya kebajikan.13
Secara garis besar, masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT dapat
diartikan sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
yang berkepercayaan dalam kehidupan sehari-hari yang di dalamnya terdapat
hubungan antara sesama manusia, hubungan kepada negara, dan hubungan kepada
Tuhan. Sebagai kader sebuah organisasi yang berasaskan Islam yang mana dalam
kegiatannya selalu berlandaskan ajaran Islam, kita harus menerapkan dari apa
yang telah menjadi tujuan daripada organisasi itu.
Dalam rumusan ideal tentang visi perjuangan kader dan misinya, HMI
membuat rumusan kualitas lima insan cita yakni bahwa HMI adalah merupakan

11
Srijanti, Purwanto S. K., Wahyudi Pramono, Etika Membangun Masyarakat Islam Modern,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hal 42.
12
Nurcholish Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesiaan (Bandung: Penerbit Mizan, 1997), hal
126.
13
Dr. Muhammad Faiz-Ur-Rahman Ansari, Konsepsi Masyarakat Islam Modern (Bandung: Risalah,
1983), 166

11
dunia cita dimana sebuah sandaran ideal yang selalu di upayakan dan di wujudkan
di tengah masyarakat oleh setiap pribadi sebagai kader umat dan bangsa, sebagai
mana yang telah dirumuskan adalah : bahwa dalam setiap kader HMI harus
mencerminkan.
1. Insan Akademis
Menerapkan teori yang didapat dalam bidanngya serta pengplikasiaan
yang seiring dengan teori yang didapat dalam bidangnya. Setiap kader yang
berkualitas ditandai dengan semangat pendidikannya tinggi, berpengetahuan luas,
berpikir rasional dan objektif dan kritis. Memiliki kemampuan teoritis serta
mampu mengformulasikan apa yang diketahui dan di rasakan. Ia selalu berlaku
dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran. Sanggup berdiri sendiri
dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu yang dipilihnya, baik
secara teoritis dan teknis dan sanggup bekerja secara ilmia yaitu secara tertahap,
teratur mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
2. Insan Pencipta
Yaitu sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan yang lain yang lebih
dari sekedar yang ada dan bergairah besar menciptakan bentuk-bentuk baru yang
lebih baik dan bersilkap dengan bertolak dari apa yang ada yaitu ( Allah ).
Berjuang penuh dengan gagsan, kemajuan selalu mencari perbaikan dan
pembaharuan. Bersikap independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang
menyadari dengan sikap demikian potensi, kretifnya dapat berkembang dan
menemukan bentuk yang indah-indah. Dengan ditopang akademisnya dia mampu
melaksanakan kerja kemanusiaan ( amal soleh ), serta pemberi solusi terhadap
perkembangan zaman yang menuntut diri setiap manusia yang disemgati ajaran
islam.
3. Insan Pengabdi
Kualitas Insan Pengabdi; Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi Ikhlas
dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk. Sadar
membawa tugas insan pengabdi bukanya hanya membuat dirinya baik, tetapi juga
membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik. Insan akademis, pencipta dan
pengabdi adalah yang pasrah cita-citanya yang ikhlas mengamalkan ilmunya

12
untuk kepentingan sesamanya. Kader HMI mampu mengabdikan diri dan ilmunya
mengawal perkembangan zaman dalam bidang lainnya.
4. Insan Yang Bernafaskan Islam
Insan Akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam Islam
yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa
memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta
sejalan dengan mission Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan
menjiwai karyanya.
Ajaran Islam telah berhasil membentuk "unity of personality" dalam dirinya.
Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality
tidak pernah ada dilema antara dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai
muslim insan ini telah meng-integrasi-kan masalah suksesnya dalam
pembangunan Nasional bangsa ke dalam suksesnya perjuangan umat Islam
Indonesia dan sebaliknya.
5. Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur
Diridhoi Allah Swt
Insan akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam dan
bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT. Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar
bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral. Spontan
dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan
jauh dari sikap apatis.
Rasa tanggung jawab taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk
mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat yang
adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Korektif terhadap setiap langkah yang
berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai "khalifah fil
ardhi" yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan. Pada pokoknya insan
cita HMI merupakan "Man of future" insan pelopor yaitu insan yang berfikiran
luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya,
dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu
perjuangan untuk secara operatif bekerja sesuai yang dicita-citakan. Ideal type

13
dari hasil perkaderan HMI adalah "Man of inovator" (duta-duta pembaharu).
Penyuara "Idea of progress" insan yang berkepribadian imbang dan padu, kritis,
dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah SWT. Mereka itu
manusia-manusia yang beriman berilmu dan mampu beramal soleh dalam kualitas
yang maksimal (insan kamil).
Dari lima kualitas lima insan cita tersebut pada dasarnya harus dipahami
dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas Insan akademis, kualitas insan
pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga kualitas insan pengabdi tersebut
merupakan insan Islam yang terefleksikan dalam sikap senantiasa bertanggung
jawab atas terwujudnya masyarakat adi dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya
pada kualitas insan cita HMI seperti tersebut di atas. Tetapi juga sebaliknya HMI
berkewajiban untuk memberikan pimpinan, bimbingan dan kondusif bagi
perkembangannya potensi kualitas pribadi-pribadi anggota-anggota dengan
memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan-kesempatan. Untuk setiap anggota
HMI harus mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen untuk
itu: Senantiasa memperdalam hidup kerohanian agar menjadi luhur dan bertaqwa
kepada Allah SWT.

2.4 Tantangan yang dihadapi HMI untuk mewujudkan mission HmI dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
1. Lingkungan yang Berubah
Di penghujung abad ke-20, kita dihadapkan pada perubahan-perubahan
multi dimensi yang cepat dan tidak pernah terjadi. Perubahan-perubahan ini
seakan-akan merupakan penjungkir balikan tatanan kehidupan sebelumnya.
Perubahan itu terjadi pada sistem nilai, termasuk pertimbangan moral yang
bersifat imperatif. Sebagai contoh kecil, baru satu dekade yang lalu pemuda-
pemuda jika keluar malam hari akan pulang menjelang tengah malam. Pada saat
ini menjelang tengah malam mereka baru keluar rumah.
Perubahan multi dimensi itu juga menghinggapi tatanan masyarakat lain di
bidang sosial ekonomi, politik, budaya, pendidikan, moral keagamaan. Tidak ada

14
yang tidak berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Berarti perubahan
itu, maupun proses globalisasi adalah sesuatu yang tidak terelakkan.
Memasuki millennium baru ini, akan tumbuh masyarakat dunia baru dengan
ciri yang berbeda dengan ciri-ciri masyarakat lama. Dalam konteks ini, bangsa
Indonesia sedang membangun sebuah masyarakat baru yang mana tidak bisa
terelakkan tidak mengandung dua dimensi. Dimensi tersebut adalah dimensi ideal
dan dimensi pragmatis. Idealisme ini penting untuk memberikan arah serta
menjaga agar bangsa kita tidak kehilangan sense of being dan sense of purpose.
Singkatnya, jati diri atau khittah sebagai bangsa, kita juga harus pragmatis
mengingat upaya untuk mewujudkan yang ideal bisa memerlukan waktu yang
lama, bahkan merupakan upaya yang tidak ada hentinya.
Semua tantangan ini menuntut diperlukannya sumber daya manusia (SDM)
yang berkualitas. Kualitas yang diperlukan ini terutama SDM yang memiliki
tingkat kecerdasan dan keterampilan yang tinggi, mantap dalam wawasan dan
semangat kebangsaannya, sehat dan kuat kondisi jasmani dan rohaninya, serta
memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur.14
Berdasarkan paparan dia atas, HMI sebagai organisasi perjuangan yang
mana harus memperjuangkan pribadinya agar mencapai nilai kualitas yang sudah
ditentukan, merupakan sebuah kesiapan serta memiliki kemampuan dengan
beragam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai dengan predikat yang
disandangnya, HMI harus mampu menampilkan sikap dan perilaku yang positif,
kreatif dan konstruktif, sesuai dengan ciri khas kemahasiswaannya, keislamannya,
dan keindonesiaannya, yang senantiasa melibat dan tertanam kuat pada dirinya.

2.Tantangan Internal
Berdasarkan perannya, HMI sebagai organisasi perjuangan, setiap saat HMI
dihadapkan kepada berbagai tantangan yang datang silih berganti. Tantangan
itupun akan selalu muncul terlebih-lebih di masa depan, yang bentuk dan
wujudnya jauh lebih besar dan berat. Berdasarkan uraian Agussalim Sitompul,
tantangan yang dihadapi HMI dari internal meliputi:

14
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal. 111.

15
a. Masalah eksistensi dan keberadaan HMI. Walaupun HMI ada tetapi seolah-
olah tidak ada karena tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranannya
sebagaimana mestinya.
b. Masalah relevansi pemikiran-pemikiran HMI, untuk melakukan perbaikan
dan perubahan yang mendasar terhadap berbagai masalah yang muncul
yang dihadapi bangsa Indonesia.
c. Masalah peran HMI sebagai organisasi perjuangan yang sanggup tampil
dalam barisan terdepan sebagai avant garde, kader pelopor bangsa dalam
mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai perubahan yang sangat
dibutuhkan masyarakat.
d. Masalah efektifitas HMI untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa,
karena banyak organisasi yang sejenis maupun yang lain dapat tampil lebih
efektif dan dapat mengambil inisiatif terdepan untuk memberi solusi
terhadap problem yang dihadapi bangsa Indonesia.
Sebagai jawabannya, menuntut pemecahan yang bersifat teoritis dan
praktis, akan tetapi semuanya bersifat konseptual, integratif, dan inklusif. Sebab
pendekatan yang tidak konseptual, parsial, dan eksklusif tidak akan melahirkan
jawaban yang efektif. Untuk itu dibutuhkan ide dan pemikiran dari anggota
aktivis, kader, dan pengurus HMI di seluruh jenjang organisasi.15

3. Tantangan Eksternal
Berbagai tantangan eksternal juga dihadapkan kepada HMI yang tidak kalah
besar dan rumitnya dari tantangan internal, antara lain:
a. Tantangan menghadapi perubahan zaman yang jauh berbeda dari abad ke-
20 dan yang muncul pada abad ke-21 saat ini.
b. Tantangan terhadap peralihan generasi yang hidup dalam zaman dan
situasi yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan khususnya yang
dijalani generasi muda bangsa.
c. Tantangan untuk mempersiapkan kader-kader dan alumni HMI yang akan
menggantikan alumni-alumni HMI yang saat ini menduduki di berbagai

15
Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, 44 Indikator Kemunduran HMI, (Jakarta: CV Misaka Galiza,
2008), hal. 113.

16
posisi strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Karena regenerasi atau pergantian pejabat-pejabat, suka tidak
suka, mau tidak mau pasti berlangsung.
d. Tantangan menghadapi golongan lain yang mempunyai missi lain dari
umat Islam dan bangsa Indonesia.
e. Tantangan menghadapi perubahan dan pembaharuan di segala aspek
kehidupan manusia yang terus berlangsung sesuai dengan semangat
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itu menghadapi tantangan itu HMI dengan segenap aparatnya


harus mampu menghadapinya dengan penuh semangat dan militansi yang tinggi.
Apakah HMI mampu menghadapai tantangan itu, sangat ditentukan oleh
pemegang kendali organisasi sejak dari PB HMI, Pengurus Badko, Cabang,
Komisaria, Korkom, dan lembaga-lembaga kekaryaan, serta segenap anggota-
anggota HMI, maupun alumninya yang tergabung dalam KAHMI sebagai
penerus, pelanjut serta penyempurna mission sacre HMI. Peralihan zaman dan
peralihan generasi saat ini sangat menentukan bagi eksistensi HMI di masa-masa
mendatang.

17
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tujuan nasional yang ingin dicapai Negara Republik Indonesia adalah
sebagai berikut :
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
2. Memajukan kesejahteraan umum.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Kader HMI sebagai bagian dari pemuda mempunyai tanggung jawab yang
besar dalam membangun umat dan bangsa. Dia mempunyai kesempatan dan
peluang yang lebih dikarenakan semua tingkah polah yang dilakukan kader HMI
selalu menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan berlandaskan Islam.
Mengingat fungsi HMI sebagai organisasi kader, maka seluruh aktivitasnya
harus dapat memberi kesempatan berkembang bagi kualitas-kualitas pribadi
anggota-anggotanya. Sifat kekaderan HMI dipertegas dalam pasal 4 Anggaran
Dasar HMI yaitu Terbinanya insane kademis, pencipta, pengabdi, yang
bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhai Allah SWT.
Tujuan HMI ini telah memberi tuntunan kemana perkaderan HMI
diarahkan. Anggota HMI yang merupakan human material yang dihadapi HMI
untuk dibina dan dikembangkan menjadi kader HMI, adalah mereka yang
memiliki kualitas-kualitas sebagai: a) mahasiswa, yaitu mereka yang telah
mencapai tingkat pendidikan intelektual tertentu, calon sarjana, dan potensial
menjadi intelegensia, b) kader yaitu mereka yang memiliki kesediaan untuk
berlatih dan mengembangkan kualitas pribadinya guna menyongsong tugas masa
depan umat Islam dan bangsa Indonesia, c) pejuang, yaitu mereka yang ikhlas,
bersedia berbuat dan berkorban guna mencapai cita-cita umat Islam dan bangsa
Indonesia pada waktu sekarang dan yang akan datang.
Dalam rumusan ideal tentang visi perjuangan kader dan misinya, HMI
membuat rumusan kualitas lima insan cita yakni bahwa HMI adalah merupakan

18
dunia cita dimana sebuah sandaran ideal yang selalu di upayakan dan di wujudkan
di tengah masyarakat oleh setiap pribadi sebagai kader umat dan bangsa, sebagai
mana yang telah dirumuskan adalah : bahwa dalam setiap kader HMI harus
mencerminkan (1) Insan Akademis, (2) Insan Pencipta, (3) Insan Pengabdi, (4)
Insan yang bernafaskan Islam, (5) Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya
Masyarakat Adil Makmur Diridhoi Allah Swt.
Beberapa Tantangan yang dihadapi HMI untuk mewujudkan mission HmI
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara timbul dari beberapa faktor
diantaranya (1) Lingkungan yang berubah, (2) Faktor Internal, (3) Faktor
Eksternal. Untuk menghadapi tantangan itu HMI dengan segenap aparatnya harus
mampu menghadapinya dengan penuh semangat dan militansi yang tinggi
3.2 Saran
Kita sebagai kader HMI mengemban missi keumatan dan misi kebangsaan
untuk kembali membangun tradisi HMI dengan gerakan intelektualnya, karena
HMI adalah organisasi kader. Peran HMI sebagai organisasi perjuangan harus
selalu kita laksanakan, berjuang untuk membela kaum mustadh’afin.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Ansari, Muhammad Faiz-Ur-Rahman. Konsepsi Masyarakat Islam Modern.


Bandung: Risalah, 1983.

2. Madjid, Nurcholish. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung:


Penerbit Mizan, 1997.

3. Prasetyo, Hendro. Munhanif, Ali. dkk, Islam & Civil Society. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2002.

4. Sitompul, Agussalim. 44 INDIKATOR KEMUNDURAN HMI. Jakarta: CV


Misaka Galiza, 2005.

5. Srijanti, Purwanto S. K, Wahyudi Pramono, Etika Membangun Masyarakat


Islam Modern. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

20
BIODATA PENULIS

Nama : Fitria Wulandari


Tempat/ Tanggal Lahir : Kabanjahe, 02 Februari 1998
Alamat : Jalan Mesjid Gang Harmonis No. 05 Kabanjahe
Asal Universitas : Universitas Negeri Medan
Komisariat : FMIPA UNIMED
Cabang : Medan
Alamat Email : fitria.pilliang@gmail.com
No. Kontak : 082267015792

21

Anda mungkin juga menyukai