Anda di halaman 1dari 44

Dra. Yulia Trisna, Apt., M.

Pharm

Workshop Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO)


Jakarta, 19-20 Maret 2019
Pendidikan:
 Apoteker (Universitas Indonesia), Master Farmasi Klinik (Universiti Sains Malaysia)

Jabatan Sekarang:
 Koordinator Produksi, Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Instalasi Farmasi,
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
 Surveior Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS)

Pengalaman Kerja:
 Kepala Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (2007-2015)
 Sekretaris Panitia Farmasi dan Terapi RSCM (1999-2017)
 Ketua Pokja MPO/MMU RSCM (2011-2016)
 Pengajar pada: Program Apoteker UI, Unand, Magister Farmasi UI, Magister Farmasi
Klinik UGM, Program CPD HISFARSI, IAI

Pengalaman Organisasi:
 Ketua Bidang Diklit PP HISFARSI (sejak 2015)
 Ketua Bidang Diklat HISFARSI PD IAI (sejak 2016)
 Anggota Kompartemen Manajemen Farmasi Rumah Sakit PP PERSI (sejak 2009)
PMK No. 72 tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT

Pengorganisasian

Seleksi dan Pengadaan

Penyimpanan

Peresepan & Penyalinan

Penyiapan dan Penyerahan

Pemberian

Pemantauan
Pemantauan (Monitoring)

 Standar PKPO 7
Efek obat dan efek samping obat terhadap pasien
dipantau.

 Elemen Penilaian
1. Ada regulasi pemantauan efek obat dan efek samping obat serta dicatat
dalam status pasien (lihat juga AP 2 EP 1). (R)
2. Ada bukti pelaksanaan pemantauan terapi obat. (D, W)
3. Ada bukti pemantauan efek samping obat dan pelaporannya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. (D,W)
Pemantauan (Monitoring) … lanjutan

Link dengan standar Asesmen Pasien (AP) EP 1:


Ada regulasi tentang asesmen ulang oleh dokter
penanggung jawab pemberi pelayanan (DPJP), perawat dan
profesional pemberi asuhan (PPA) lainnya untuk evaluasi
respons pasien terhadap asuhan yang diberikan sebagai
tindak lanjut. (R)

Kolaboratif
Symptoms related
to disease or Adverse Drug
therapy Reaction

Human or
systematic
Drug
error
therapy

Medication error
Medication error no morbidity
with morbidity

*DRP = Drug Related Problem


Dokter

Perawat Pasien Apoteker

Nakes
lain
Joint Commission of Pharmacy Practitioners, 2014
• Medication review
• Identifikasi DRP (Drug
Related Problem)
• Rekomendasi
1. Seleksi pasien
2. Pengumpulan data pasien
3. Identifikasi DRP
4. Rekomendasi terapi
5. Rencana pemantauan
6. Tindak lanjut
Kondisi pasien:
• Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit
sehingga menerima polifarmasi.
• Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.
• Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan
ginjal.
• Pasien geriatri dan pediatri.
• Pasien hamil dan menyusui.
• Pasien dengan perawatan intensif
Obat:
 Pasien yang mendapatkan obat risiko tinggi (sitostatika,
indeks terapi sempit, nefrotoksik, obat yang dapat
menimbulkan efek samping serius,)
 Kompleksitas regimen (variasi frekuensi, rute)
Sumber data:
• Rekam medik.
• Profil pengobatan
pasien/pencatatan penggunaan
obat.
• Wawancara dengan pasien,
anggota keluarga, dan tenaga
kesehatan lain.
Perlu pengetahuan tentang:
• Penyakit (Patogenesis, Patofisiologi,
Tanda/Gejala)
• Istilah medis
• Identitas Pasien
• Keluhan Utama
• Riwayat Penyakit Sekarang
• Riwayat Penyakit Terdahulu
• Riwayat Sosial
• Riwayat Keluarga
• Riwayat Penggunaan Obat
• Pemeriksaan Fisik
• Uji Laboratorium
• Uji Diagnostik
• Diagnosis (Daftar Masalah Medis)
• Terapi
• Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT)
• Obat-obat yang sedang digunakan
• Resume Medis
• Ada indikasi tapi tidak diterapi
• Pemilihan obat tidak tepat
• Dosis terlalu rendah
• Dosis terlalu tinggi
• Efek samping obat
• Interaksi Obat
• Pasien tidak menggunakan obat
• Tidak ada indikasi
• Telaah data subjektif dan objektif
• Gejala terkait interaksi obat/ ESO
• Terapi obat (termasuk obat non resep, herbal):
indikasi?, tepat obat? Tepat rejimen?
• Evidence based therapy
• Fungsi organ utama (ginjal, hepar)
• Reaksi alergi/hipersensitivitas
• Kepatuhan pasien
 Specific
 Measurable (qualitative, quantitative)
 Achievable (different settings: hospital vs
community)
 Relevant with the pharmacist’s responsibility
 Timely

Goals ≠ Plan
1. Pertimbangkan status klinik pasien, terapi obat
2. Pilihan terapi
3. Care plan:
- patient-focused (e.g.: patient education)
- drug-focused (e.g.: recommendation alteration of drug
therapy)
- do nothing (e.g.: monitoring)
• Ubah obat
• Ubah dosis
• Ubah rute pemberian
• Ubah waktu pemberian.
• Hentikan obat
• Lakukan pemantauan (gejala klinis, uji laboratorium)
• Edukasi pasien (cara menggunakan obat, modifikasi
gaya hidup)
• Menetapkan parameter pemantauan
• Menetapkan sasaran terapi
• Menetapkan frekuensi pemantauan
• Menggunakan format: SOAP
 Efek terapeutik
 Efek tidak diharapkan
 Kepatuhan pasien
 Hasil terapi (Patient Outcome)
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI
KOMUNIKASI
Fungsi:
 Komunikasi antar tenaga kesehatan
 Bukti pelayanan
 Reimbursement
 Bukti hukum
 Apa yang perlu ditulis?
Bagaimana menuliskannya?
1. Pengumpulan data pasien (S, O)

2. Identifikasi Masalah Terkait Obat (A)

3. Rekomendasi terapi (P)

4. Rencana pemantauan (P)


• S : Gejala, keluhan yang disampaikan pasien/keluarga
• O : Pengukuran/observasi oleh tenaga kesehatan
• A : Penilaian apoteker terhadap masalah yang
dihadapi pasien terkait penggunaan obat
• P : Rencana Terapi
• Tulisan jelas dapat dibaca
• Tuliskan tanggal dan jam penulisan SOAP
• Tidak melebihi 1 halaman
• Gunakan frase
• Gunakan singkatan standar
• Tidak menggunakan singkatan untuk nama obat
• Tulis hanya data yang mendukung Assessment dan Plan
• Tiap masalah diberi nomor yang berbeda
• Tulisan yang salah tidak boleh dicoret-coret/dihapus,
tetapi dicoret dengan 1 garis lurus dan diberi paraf
• Tuliskan paraf dan nama jelas
• Menyalahkan orang lain, konflik dengan tenaga
kesehatan lain
 harus diselesaikan dengan komite/unit mutu
• Menggunakan istilah yang menuduh
• Komplain perihal kinerja tenaga kesehatan lain,
sarana, fasilitas
• Laporan insiden
• Komunikasi dengan perusahaan asuransi, pengacara,
komunikasi masalah hukum
HASIL ASESMEN PASIEN DAN PEMBERIAN
REVIEW &
PELAYANAN Instruksi PPA
Profesional VERIFIKASI
Termasuk Pasca Bedah
Tgl, Jam Pemberi DPJP
(Tulis dengan format SOAP/ADIME, disertai (Instruksi ditulis dgn
Asuhan (Tulis Nama, beri
Sasaran. Tulis Nama, beri Paraf pada akhir rinci dan jelas)
Paraf, Tgl, Jam)
catatan)

27/2/2019 Apoteker S : Batuk berdahak, sesak, lemah 1. Evaluasi penggunaan


Jam .14.00 O : Tanda-tanda vital normal, Hemoglobin (11,0 Levofloxacin, ganti
g/dL); hematokrit (31,9%); Eritrosit (3,84 dengan Meropenem inj
106/µL); Leukosit (20,4 103/µL) 3X1 g
Obat-obat sesuai daftar Pemberian Obat 2. Tambahkan Asetilsistein
A: 3X10 ml
1. Pasien belum menunjukkan perbaikan dengan 3. TambahkanSulfas
Levofloxacin Ferrosus tab 1X
2. Batuk berdahak belum teratasi 4. Ganti omeprazole
3. Anemia belum teratasi dengan Ranitidin 2X 150
4. Kombinasi dengan Omeprazol dapat menurunkan mg
efek terapi Clopidogrel 5. Pantau INR (yarget 2,5)
5. Kombinasi Warfarin dan Clopidogrel dapat
meningkatkan risiko perdarahan
P:
1. Mengevaluasi penggunaan Levofloxacin
2. Menyarankan pemberian asetil sistein 3 X 10 ml
3. Menyarankan pemberian Sulfas Ferrosus tab 1X1
4. Menyarankan untuk mengganti Omeprazol dengan
Ranitidin
5. Memantau INR (target 2,5)
Obat yang digunakan:

Nama Obat Rute Regimen

Levofloxacin 500mg po 1x500 mg (Hari ke 14)


Omeprazol inj.40mg iv 2x 40 mg
Simvastatin 20mg po 1x20 mg
Warfarin 2mg po 1x2 mg
Clopidogrel 75mg po 1x75 mg
Valsartran 80mg po 1x80 mg
Asam folat 5mg po 2x5 mg
Neurodex 100 mg po 2 x 100 mg
• Spontaneous
• Metode Trigger Tools
 Pemantauan dan Pelaporan efek samping
obat dikoordinasikan oleh Tim Farmasi dan
Terapi RS.

 Petugas pelaksana pemantauan dan


pelaporan efek samping obat adalah dokter,
perawat, apoteker di ruang rawat / Poliklinik
 Obat yang diprioritaskan untuk dipantau efek
sampingnya adalah obat baru/obat yang baru masuk
formularium RS atau obat yang terbukti dalam
literatur menimbulkan efek samping serius.
 Laporan Efek Samping Obat dikirimkan ke Tim
Farmasi dan Terapi untuk dievaluasi.
 Tim Farmasi dan Terapi melaporkan hasil evaluasi
pemantauan ESO kepada Direktur Medik dan
menyebarluaskannya ke seluruh Departemen
Medik/Instalasi/Unit Pelayanan di RS sebagai umpan
balik/edukasi.
 Hasil evaluasi laporan efek samping obat dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
mengeluarkan obat dari formularium
Anda curiga suatu gejala
merupakan ESO ? Reminder
Ya
Ya
Reaksi yang serius? Laporkan
Tidak
Ya
Merupakan obat baru atau Laporkan
baru masuk Formularium
RS?

Tidak
Ya
Laporkan
Anda tidak yakin apakah
harus dilaporkan?
Algoritma Naranjo
Ya Tidak Tidak Skor
tahu
1. Apakah ada laporan penelitian sebelumnya tentang +1 0 0
reaksi ini ?
2.Apakah reaksi muncul setelah obat yang dicurigai +2 -1 0
diberikan ?
3. Apakah reaksi ini berkurang saat obat dihentikan atau +1 0 0
antagonis obat yang spesifik diberikan ?
4. Apakah reaksi muncul kembali saat obat digunakan +2 -1 0
kembali ?
5. Apakah ada penyebab alternatif (selain obat) yang -1 +2 0
dapat menyebabkan reaksi ini ?
6. Apakah reaksi muncul kembali saat diberikan placebo ? -1 +1 0
7. Apakah obat terdeteksi dalam darah (atau cairan lain) +1 0 0
dalam konsentrasi yang diketahui toksik ?
8. Apakah reaksi lebih berat saat dosis dinaikkan, atau +1 0 0
berkurang saat dosis diturunkan ?
9. Apakah pasien mempunyai reaksi yang mirip pada obat +1 0 0
yang sama atau mirip pada pemaparan sebelumnya
10.Apakah reaksi dikonfirmasi dengan suatu bukti obyektif ? +1 0 0
Total skor: