Anda di halaman 1dari 46

KONSEP DASAR DESINFEKTAN

PENGERTIAN DESINFEKTAN

 Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang


digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik
seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah
mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya.
 Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat
menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur
dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk
proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian
(Signaterdadie, 2009).

 Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai
antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah
bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik.
Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau
tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan
sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan
kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat
berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi.

 Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat
menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganisme yang akan
dimatikan. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik
(pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini
hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang
digunakan serta aplikasinya.
 Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi
umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan
pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan
alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan
halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen
atau yang mengandung gugus-X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi,
golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan
biguanida.

 Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan


glutaraldehid) dan halogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme
Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin
dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid
dan halogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien
fenol.
 Fenol digunakan sebagai kontrol positif, aquadest sebagai kontrol negatif dan
larutan aldehid dan halogen dalam pengenceran 1 : 100 sampai 1 : 500
dicampur dengan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella
typhi resisten ampisilin yang telah diinokulum, keburaman pada tabung
pengenceran menandakan bakteri masih dapat tumbuh.
 Nilai koefisien fenol dihitung dengan cara membandingkan aktivitas suatu
larutan fenol dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji. Hasil dari uji
koefisien fenol menunjukan bahwa disinfektan turunan aldehid dan halogen
lebih efektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus dengan nilai koefisien
fenol 3,57 ; 5,71 ; 2,14 ; 2,14 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid,
iodium dan hipoklorit, begitu juga dengan bakteri Salmonella typhi,
disinfektan aldehid dan halogen masih lebih efektif dengan nilai koefisien
fenol 1,81 ; 2,72 ; 2,27 dan 2,27 berturut-turut untuk formalin, glutaraldehid,
iodium dan hipoklorit. (Signaterdadie, 2009).

PENGGUNAAN DESINFEKTAN

 Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. Desinfektan akan
membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan
maupun dari staf medis yang ada di rumah sakit dan juga membantu
mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Perlu diperhatikan
bahwa desinfektan harus digunakan secara tepat (Imbang, 2009).

a. Desinfektan tingkat rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan :


1. Golongan pertama

 Desinfektan yang tidak membunuh virus HIV dan Hepatitis B.

1. Klorhexidine (Hibitane, Savlon).


2. Cetrimide (Cetavlon, Savlon).
3. Fenol-fenol (Dettol).

Desinfektan golongan ini tidak aman untuk digunakan :

1. Membersihkan cairan tubuh (darah, feses, urin dan dahak).


2. Membersihkan peralatan yang terkena cairan tubuh misalnya sarung tangan
yang terkena darah.

 Klorheksidine dan cetrimide dapat digunakan sebagai desinfekan kulit


 fenol-fenol dapat digunakan untuk membersihkan lantai dan perabot seperti
meja dan almari namun penggunaan air dan sabun sudah dianggap memadai.

2. Golongan kedua

 Desinfektan yang membunuh Virus HIV dan Hepatistis B.

a). Desinfektan yang melepaskan klorin.

 Contoh : Natrium hipoklorit (pemutih, eau de javel), Kloramin (Natrium


tosilkloramid, Kloramin T) Natrium Dikloro isosianurat (NaDDC), Kalsium
hipoklorit (soda terklorinasi, bubuk pemutih)

b). Desinfektan yang melepaskan Iodine misalnya : Povidone Iodine (Betadine,


Iodine lemah)

1. Alkohol : Isopropil alkohol, spiritus termetilasi, etanol.


2. Aldehid : formaldehid (formalin), glutaraldehid (cidex).
3. Golongan lain misalnya : Virkon dan H2O2. (Imbang, 2009)
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lingkup bidang keperawatan memberikan asuhan keperawatan baik pada
pasien yang beresiko terinfeksi atau telah terinfeksi.Pengetahuan mengenai bagaiman
terjadinya infeksi sangat penting dikuasai untuk membatasi dan mencegah terjadi
penyebaran infeksi dengan cara mempelajari ilmu bakteriologi, imunologi, virologi
dan parasitologi yang terkandung pada ilmu mikrobiologi.
Selain itu, diperlukan juga cara untuk mengurangi atau bahkan mengatasi
infeksi tersebut secara keseluruhan. Secara lebih spesifik diperlukan pula
pengetahuan mendasar akan kondisi seperti apa yang bisa dijadikan lokasi atau
tempat untuk melakukan asuhan kebidanan .
Perkembangan ilmu mikrobiologi telah memberikan sumbangan yang besaar
bagi dunia kesehatan, dengan ditemukannya berbagai macam alat berkat penemuan
beberapa ilmuan besar. Bahwa terbukti untuk mencegah atau mengendalikan infeksi
tenaga kesehatan dapat menggunakan konsep steril ataupun bersih, untuk membantu
proses penyembuhan pasiennya dan lebih spesifik lagi untuk mengendalikan dan
mencegah terjadinya infeksi.
Maka dari itu, kami merasa penting untuk menyusun sebuah tulisan yang
membahas tentang bagaimana penerapan sterilisasi dan desinfeksi dalam makalah
ini.Juga bagaimana aplikasinya dalam keseharian dunia keperawatan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Sterilisasi dan Desinfeksi
2. Apa tujuan Sterilisasi dan Desinfeksi
3. Bagaimana macam-macam sterilisasi
4. Bagaimana macam-macam desinfeksi
5. Apa perbedaan antara Sterilisasi dan Desinfeksi
6. Bagaimana aplikasi sterilisasi dan desinfeksi dalam keseharian dunia kesehatan dan
keperawatan

C. Tujuan
Dari latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dipaparkan
sebelumnya, maka kami menyimpulkan beberapa tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah:
1. Bagaimana konsep steril dan desinfeksi digunakan.
2. Mempelajari pengertian, tujuan maupun macam-macam tekhnik sterilisasi dan
desinfeksi.
3. Mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa tentang sterilisasi dan desinfeksi.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Sterilisasi dan Desinfeksi


A. Pengertian Sterilisasi
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu (alat,bahan,media,
dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan kehadirannya baik yang
patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan sebagai proses untuk
membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetative
maupun bentuk spora.
Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk mencegah
pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan
aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan
terhadap pencemaran oleh miroorganisme dan di dalam bidang-bidang lain pun
sterilisasi ini juga penting.
Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi. Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman
patogen atau kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau
kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahkan
kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi
gas (Formalin H2 O2), dan radiasi ionnisasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
a. Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi.
b. Peralatan yang akan di steralisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas
dengan menyebutkan jenis pera;latan, jumlah, dan tanggal pelaksanaan sterilisasi.
c. Penataan alat harus berprinsip bahwa semua bagian dapat steril.
d. Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril
selesai.
e. Memindahklan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril
f. Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka
harus dilakukan steralisasi ulang.
B. Desinfeksi
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan
bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi
dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.Disinfektan yang tidak berbahaya
bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan
antiseptik.Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan
mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda
mati.Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung
dari toksisitasnya.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut
dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses
disinfeksi.
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati.
Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok
mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus
influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M.
tuberculosis.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan
seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit.Untuk mendesinfeksi permukaan,
umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas.Tiap desinfektan tersebut
memiliki efektifitas "tingkat menengah" bila permukaan tersebut dibiarkan basah
untuk waktu 10 menit.

Kriteria desinfeksi yang ideal:


1. Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
2. Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan
kelembaban

3. Tidak toksik pada hewan dan manusia

4. Tidak bersifat korosif

5. Tidak berwarna dan meninggalkan noda

6. Tidak berbau/ baunya disenangi

7. Bersifat biodegradable/ mudah diurai

8. Larutan stabil

9. Mudah digunakan dan ekonomis.

 Tujuan Sterilisasi dan Desinfeksi

Adapun tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi tersebut adalah


1. Mencegah terjadinya infeksi
2. Mencegah makanan menjadi rusak
3. Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri
4. Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan
biakan murni.

 Macam-Macam Sterilisasi

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara


mekanik, fisik dan kimiawi:
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi)
Menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45
mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk
sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik
2. Sterilisasi secara fisik
Dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran
3. Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung)
Membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum,
pinset, batang L, dll. 100 % efektif namun terbatas penggunaanya.
b. Panas kering:
Sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok
untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.Waktu relatif
lama sekitar 1-2 jam. Kesterilaln tergnatung dengan waktu dan suhu yang digunakan,
apabila waktu dan suhu tidak sesuai dengan ketentuan maka sterilisasipun tidak akan
bisa dicapai secara sempurna.
c. Uap air panas
Konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi Teknik disinfeksi termurah
Waktu 15 menit setelah air mendidih Beberapa bakteri tidak terbunuh dengan teknik
ini: Clostridium perfingens dan Cl. Botulinum
d. Uap air panas bertekanan
Menggunalkan autoklaf menggunakan suhu 121 C dan tekanan 15 lbs, apabila
sedang bekerja maka akan terjadi koagulasi. Untuk mengetahui autoklaf berfungsi
dengan baik digunakan Bacillus stearothermophilus Bila media yang telah
distrerilkan.diinkubasi selama 7 hari berturut-turut apabila selama 7 hari: Media
keruh maka otoklaf rusak Media jernih maka otoklaf baik, kesterilalnnya, Keterkaitan
antara suhu dan tekanan dalam autoklaf
4 Pasteurisasi
Pertama dilakukan oleh Pasteur, Digunakan pada sterilisasi susu Membunuh
kuman: tbc, brucella, Streptokokus, Staphilokokus, Salmonella, Shigella dan difteri
(kuman yang berasal dari sapi/pemerah) dengan Suhu 65 C/ 30 menit
5 Penyinaran dengan sinar UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya
untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet
dengan disinari lampu UV Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan
senyawa desinfektan antara lain alkohol. Beberapa kelebihan sterilisasi dengan cara
ini:
a. Memiliki daya antimikrobial sangat kuat
b. absorbsi as. NukleatDaya kerja
c. Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm
d. penetrasi lemahKelemahan

6 Sinar ion bersifat hiperaktif


Sering digunakan padaGamma Daya kerjanya sterilisasi bahan makanan,
terutama bila panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau penampilan Bahan
disposable: alat suntikan cawan petri dpt distrelkan dengan teknik ini. Sterilisasi
dengan sinar gamma disebut juga “sterilisasi dingin”
3. Sterilisasi dengan Cara Kimia
a. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia
1. Rongga (space)
2. Sebaiknya bersifat membunuh (germisid)
3. Waktu (lamanya) disinfeksi harus tepat
4. Pengenceran harus sesuai dengan anjuran
5. Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya bersifat
sangat mudah menguap
6. Sebaiknya menyediakan hand lation merawat tangan setelah berkontak dengan
disinfekstan
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia
1.Jenis bahan yang digunakan
2.Konsentrasi bahan kimia
3.Sifat Kuman
4.pH
5.Suhu
c. Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi

1.Alkohol

a) Paling efektif untuk sterilisasi dan desinfeksi membran sel rusak


b) Mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi & enzim tdk aktif
2.Halogen
a) Mengoksidasi protein kuman
3.Yodium
a) Konsentrasi yg tepat tidak mengganggu kulit
b) Efektif terhadap berbagai protozoa
4.Klorin
a) Memiliki warna khas dan bau tajam
b) Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah
5.Fenol (as. Karbol)
a) Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran sel menurunkan
tegangan permukaan
b) Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan
6.Peroksida (H2O2)

a) Efektif dan nontoksid


b) Molekulnya tidak stabil
c) Menginaktif enzim mikroba
7.Gas Etilen Oksida

a) Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastik


Macam-macam Desinfeksi
Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan
bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi
dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.Disinfektan yang tidak berbahaya
bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik.
Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan
mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda
mati.Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung
dari toksisitasnya.
Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut
dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses
disinfeksi.
Macam-macam desinfektan yang digunakan :
1. Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit.
Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi
unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian
alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa
meninggalkan efek sisa.
2. Aldehida
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada
kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan
desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat
yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali
dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa
pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker,
kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif
terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam
waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
3. Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas
dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4%
larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin
glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada
konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat
aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut
terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
4. Senyawa halogen.
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion
halide.Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan
cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
5. Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk
membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat
organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah.Namun karena sebagian
besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan
laboratorium.
6. Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan
sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya
terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).

Desinfeksi permukaan
Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati.
Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok
mikroorganisme, disinfektan “tingkat tinggi” dapat membunuh virus seperti virus
influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M.
tuberculosis.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan
seperti iodophor, derivate fenol atau sodium hipokrit :
a. Iodophor dilarutkan menurut petunjuk pabrik.Zat ini harus dilarutkan baru
setiap hari dengan akuades.Dalam bentuk larutan, desinfektan ini tetap efektif namun
kurang efektif bagi kain atau bahan plastik.
b. Derivat fenol (O-fenil fenol 9% dan O-bensil-P klorofenol 1%) dilarutkan
dengan perbandingan 1 : 32 dan larutan tersebut tetap stabil untuk waktu 60 hari.
Keuntungannya adalah “efek tinggal” dan kurang menyebabkan perubahan warna
pada instrumen atau permukaan keras.
c. Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan
perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-
hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk
aluminium.Kekurangannya yaitu menyebabkan pemutihan pada pakaian dan
menyebabkan baru ruangan seperti kolam renang.
Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga
desinfektan diatas.Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas “tingkat menengah”
bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit.
Macam-Macam Desinfektan Dan Antiseptik dari sumber lain
1. Garam Logam Berat

Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah
yangkecil saja dapat membunuh bakteri, yang disebut oligodinamik.Hal ini
mudahsekali ditunjukkan dengan suatu eksperimen.Namun garam dari logam berat
itumudah merusak kulit, makan alat-alat yang terbuat dari logam dan lagipula
mahalharganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan
merkuroklorida(sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya
kita pakaimerkurokrom, metafen atau mertiolat.
2. .Zat Perwarna
Zat perwarna tertentu untuk pewarnaan bakteri mempunyai daya
bakteriostatis.Daya kerja ini biasanya selektif terhadap bakteri gram positif, walaupun
beberapakhamir dan jamur telah dihambat atau dimatikan, bergantung pada
konsentrasi zatpewarna tersebut. Diperkirakan zat pewarna itu berkombinasi dengan
protein ataumengganggu mekanisme reproduksi sel. Selain violet Kristal (bentuk
kasar, violet gentian), zat pewarna lain yang digunakan sebagai bakteriostatis adalah
hijau malakhit dan hijau cemerlang.
3. Klor dan senyawa klor
Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum.persenyawaan klor
dengankapur atau dengan natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai
untukmencuci alat-alat makan dan minum.
4. Fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis
Larutan fenol 2 – 4% berguna sebagai desinfektan. Kresol atau kreolin lebih
baikkhasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran
sabundengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-
desinfektanyang lain. Karbol ialah nama lain untuk fenol. Seringkali orang
mencampurkanbau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik.
5. Kresol
Destilasi destruktif batu bara berakibat produksi bukan saja fenol tetapi
jugabeberapa senyawa yang dikenal sebagai kresol. Kresol efektif sebagai
bakterisida,dan kerjanya tidak banyak dirusak oleh adanya bahan organic. Namun,
agen inimenimbulkan iritasi (gangguan) pada jaringan hidup dan oleh karena
itudigunakan terutama sebagai disinfektan untuk benda mati. Satu persen lisol(kresol
dicampur dengan sabun) telah digunakan pada kulit, tetapi konsentrasiyang lebih
tinggi tidak dapat ditolerir.
6. Alkohol
Sementara etil alcohol mungkin yang paling biasa digunakan, isoprofil dan
benzylalcohol juga antiseptic.Benzyl alcohol biasa digunakan terutama karena
efekpreservatifnya (sebagai pengawet).
7. Formaldehida
Formaldehida adalah disinfektan yang baik apabila digunakan sebagai
gas.Agenini sangat efektif di daerah tertutup sebagai bakterisida dan
fungisida.Dalamlarutan cair sekitar 37%, formaldehida dikenal sebgai formalin.

8. Etilen Oksida
Jika digunakan sebagi gas atau cairan, etilen oksida merupakan agen
pembunuhbakteri, spora, jamur dan virus yang sangat efektif. Sifat penting yang
membuatsenyawa ini menjadi germisida yang berharga adalah kemampuannya
untukmenembus ke dalam dan melalui pada dasarnya substansi yang manapun
yangtidak tertutup rapat-rapat. Misalnya agen ini telah digunakan secara
komersialuntuk mensterilkan tong-tong rempah- rempah tanpa membuka tong
tersebut.Agen ini hanya ditempatkan dalam aparatup seperti drum dan, setelah
sebagianbesar udaranya dikeluarkan dengan pompa vakum, dimasukkanlah etilen
oksida.
9. Hidogen Peroksida
Agen ini mempunyai sifat antseptiknya yang sedang, karena
kemampuannyamengoksidasi.Agen ini sangat tidak stabil tetapi sering digunakan
dalampembersihan luka, terutama luka yang dalam yang di dalamnya
kemungkinandimasuki organisme aerob.
Perbedaan Sterilisasi dan Desinfeksi
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu (alat, bahan, media,
dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan kehadirannya baik yang
patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan sebagai proses untuk
membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik bentuk vegetative
maupun bentuk spora.
Sedangkan desinfeksi adalah, membunuh mikroorganisme penyebab penyakit
dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi
infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.
Dari kedua pengertian di atas bisa kita simpulkan, jika sterilisasi dan
desinfeksi memiliki perbedaan yang khas, walaupun tetap memiliki tujuan yang
sama. Namun sterilisasi memiliki guna yang lebih besar, dan desinfeksi secara
khusus membunuh kuman penyebab penyakit.

Aplikasi Sterilisasi Dan Desinfeksi Dalam Keseharian Dunia Kesehatan


Dan Keperawatan
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk
kehidupan mikrobayang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi. Sterilisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman
pathogen atau apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau
kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahan
kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, sterilisasi
gas (formalin, H2O2).
Teknik steril biasanya di gunakan dalam ruangan operasi dan ruang bersalin,
selain menggunakan teknik steril pada tempaat tidur pasien untuk prosedur invasive
sepeti:
a. Mengisap jalan napas pasien
b. Memasukkan kateter urinarius
c. Mengganti balutan luka
Daerah steril biasanya dibatasi engan duk steril atau lapisan tebal kertas
berlilin atau kemasan terbuka tempat bahan-bahan steri dikemas.
Banyak rumah sakit mempunyai pusat penyedian, yaitu tempat kebanyakan
peralatan dan suplai dibersihkan serta desterilkan.Hasil prose ini dimonitor oleh
laboratorium mirobiologi secara teratur.
Kecenderungan di rumah sakit untuk menggunakan alat-alat serta bahan yang
dijual dalam keadaan steril dan sekali pakai, seperti alat suntik, jarum, srung tangan
dan masker, tidak saja mengurangi waktu yang diperlukan untuk membersihkan,
menyiapkan, serta mensterilkan peralatan, tetapi juga mengurangi pemindah sebaran
patogen melalui infeksi silang.
d. Sanitasi lingkungan rumah sakit
Tujuan sanitasi lingkungan ialah membunuh atau menyingkirkan pencemaran
oleh mikrobe dari permukaan.Untuk mengevaluasi prosedur dan cara-cara untuk
mengurangi pencemaran, dilakukan pengambilan contoh mikroorganisme sewaktu-
waktu dari permukaan.Pinggan-pinggan petri yang menunjukan adanya pertumbuhan
mikrobe sebelum dan sesudah pembersihan merupakan alat pengajar yang
meyakinkan untuk melatih para petugas yang baru.
Pengurangan kontaminasi oleh mikroba paling baik dicapai dengan
kombinasu pergeseran dan penggsokan, serta air dan deterjen. Ini sudah cukup,
kecuali bila spencemrannya hebat, maka perlu digunakan desinfektan.Agar efektif,
desinfektan digunakan dalam konsentrasi yang cukup selama waktu
tertentu.Penggunaan desinfektan, misalnya, membantu menjaga air untuk mengepel
agar tidak tercemar.Kain pel harus di cuci dan di keringkan baik-baik setiap hari
untuk mengurangi pencemaran. Seember larutan dan kain pel basah sering kali di
gunakan untuk membersihkan permukaan benda lain selain lantai. Bila larutan yang
sam dipakai seharian, maka dapat mengakibatkan pencemaran oleh mikrobe yang
lebih parah dibandingkan sebelum di bersihkan.
Dengan keadaan yang bersih di rumah sakit maka keadaan asepsis lebih
mudah dicapai.
e. Universal Precaution
Pengendalian infeksi untuk penyakit-penyakit yang menular malalui darah
.Berlaku universal ,tidak memandang apa atau siapa yang dirawat, tahu ataupun tidak
tahu status infeksinya. Setiap tenaga medis harus menyadari bahwa semua pasien
berpotensi menularkan berbagai penyakit.
f. Cuci Tangan
Pencegahan infeksi yang paling penting Harus merupakan kebiasaan yang
mendarah daging bagi tenaga kesehatan Harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah
melakukan tindakan keperawatan walaupun memakai sarung tangan atau yang lainya
(cuci tangan tidak bisa digantikan dengan sarung tangan).
Selain itu selalu gunakan alat pelindungan diri secara lengkap ketika
melakukan prosedur invasive, ataupun bedah. Seperti:
1. Gown/barakschort :
2. Masker :
3. Sarung Tangan
4. Kaca mata pelindung/goggles
g. Pengolaan Sampah Medis Dan Air Limbah
Perlu diatur sedemikian rupa agar alat atau ruang tetap bersih atau steril,tidak
berdekatan dengan limbah atau sampah medis. Membakar sampah medis sampai
menjadi arang.
h. Sterilisasi Dan Desinfeksi Alat-Alat Medis
1) Desinfekatan :
a) Aseptik/Asepsis
Suatu istilah umum yg digunakan untuk menggambarkan upaya kombinasi
untuk mencegah masuknya mikroorganisem ke dalam area tubuh manapun yg sering
menyebabkan infeksi.
Tujuannya untuk mengurangi jumlah mikroorganisme baik pada permukaan
hidup maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan aman digunakan.
b) Antisepsis
Proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, selaput lendir atau
bagian tubuh lainnya dengan menggunakan bahan antimikrobial (antiseptik)
c) Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT).
Proses yg menghilangkan semua mikroorganisme kecuali beberapa endospora
bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus atau penggunaan desinfektan
kimia
2) Sterilisasi :
Upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk kehidupan mikroba yg
dilakukan di RS melalui proses fisik maupun kimiawi.
Proses yang menghilangkan semua mikroorganisem (bakteri, virus, fungi dan
parasit) termasuk endospora bakteri pada benda mati dengan uap air panas tekanan
tinggi (otoclaf), panas kering (oven), sterilan kimia atau radiasi.
a) Pemprosesan Alat
b) Dekontaminasi
Proses yg membuat benda mati lebih aman ditangani staff sebelum
dibersihkan. Tujuan dari tindakan ini dilakukan agar benda mati dapat ditangani oleh
petugas kesehatan secara aman, terutama petugas pembersih medis sebelum
pencucian berlangsung.
c) Pencucian/ bilas
Proses yg secara fisik membuang semua debu yg tampak, kotoran, darah, atau
cairan tubuh lainnya dari benda mati ataupun membuang sejumlah mikroorganisme
untuk mengurangi resiko bagi mereka yg menangani objek tersebut. Prosesnya terdiri
dari mencuci sepenuhnya dengan sabun atau detergen dan air, membilas dengan air
bersih dan mengeringkannya.
d) Sterilisasi/DTT.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1.Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari
semua bentuk kehidupan.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab
penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi
kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen.
2.beberapa tujuan sterilisasi dan desinfeksi: Mencegah terjadinya infeksi Mencegah
makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri
Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan
murni.
3.sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
Adapun desinfeksi dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor,
derifat fenol atau sodium hipokrit.

B. Saran

2. Sterilisasi apabila dilakukan secara baik dan sempurna makan akan menjamin
keselamatan kerja dan berkurangnya resiko terpapar mikroorganisme. Dan dapat juga
dilakukan untuk mencegah ataupun mengendalikan infeksi.
3. Semoga tulisan kami ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam proses
pembelajaran mata kuliah mikrobiologi dan parasitologi.
Daftar Pustaka

Dr. jan Tambayong; Mikrobiologi untuk keperawatan

Mikrobiologi kedokteran, Bina Rupa Aksara, Jakarta, FKUI 1994

Jawetz, J. Melnick, EA, Adeberg (1986), Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan,


EGC, Jakarta.

Azis, alimul H.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.Jakarta:Salemba


Medika

Ester, Monica.2005.Pedoman Perawatan Pasien.Jakarta:EGC

http://irwanto-fk04usk.blogspot.com/2009/08/sterilisasi-dan-desinfeksi.htm l
diunduh pada tanggal 06mei 2011 18:29

http://kumpulan-materi-kuliah-s1kep.blogspot.com/2011/03/resume-pengendalian-
infeksi.html
DEFINISI

STERILISASI

Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk


kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi. Sterilisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogn
atau apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran
dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahan kimia. Jenis
sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, sterilisasi gas (formalin)
dan radiasi ionisasi.

Dalam ilmu bedah, sterilisasi berarti memusnahkan semua mikroorganisme


beserta sporanya, sedangkan desinfeksi berarti memusnahkn semua mikroorganisme
yang tidak mempunyai spora, misalnya kuman-kuman. Desinfeksi biasanya dilakukan
pada pakaian, alat-alat linen, tempat tidur, alat buang air kecil dan besar, dan
sebagainya.

Metode sterilisasi pada dasarnya dapat ditempuh melalui tiga cara yaitu:

1. Secara fisika
Yaitu dimana proses sterilisasi mengunakan hukum fisika yaitu dengan:
1) Pemanasan kering
Prinsipnya adalah protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi
sampai kering. Selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga
menyebabkan mikrobanya mati.

Pemanasan kering ini kurang efektif apabila temperatur kurang tinggi. Untuk
mencapai efektivitas diperlukanp pemanasan mencapai 160oC s/d 180oC. Pada
temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan jaringan, hal ini
disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri phatogen dapat terbakar. Pada
sistem pemanasan kering terdapat udara, hal mana telah diketahui bahwa udara
memerlukan waktu lama, rata-rata waktu yang diperlukan 45 menit. Pada temperature

a. Udara panas oven


Digunakan untuk sterilisasi alat gelas yang tidak berskala, alat bedah, minyak
lemak, parafin, petrolatum, serbuk stabil seperti talk, kaolin, ZnO. Suhu sterilisasi
yang digunakan adalah 170oC selama 1 jam, 160oC selama 2 jam, 150oC selam 3 jam.

b. Pemijaran langsung
Digunakan untuk sterilisasi alat logam, bahan yang terbuat dari porselen, tidak
cocok untuk alat yang berlekuk karena pemanasannya tidak rata. Suhu yang
digunakan 500-600oC dalam waktu beberapa detik, untuk alat logam sampai berpijar.

c. Minyak dan penangas lain


Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti gunting bedah sebagai lubrikan
menjaga ketajaman alat, bahan kimia stabil dalam ampul. Bahan atau alat dicelupkan
dalam penangas dicelupkan dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu
160oC. Larutan natrium atau amonium klorida jenuh dapat digunakan pula sebagai
pengganti minyak mineral.

2) Pemanasan basah
Prinsipnya adalah dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein
penyusun tubuh mikroba sehingga dapat membunuh mikroba.

a. Uap bertekanan (autoklaf)


Digunakan untuk sterilisasi alat gelas, larutan yang dimaksudkan untuk
diinjeksikan ke dalam tubuh, alat berskala, bahan karet. Waktu yang dibutuhkan
untuk sterilisasi larutan suhu 121oC adalah 12 menit. Uap jenuh pada suhu 121oC
mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme dalam 1
atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora bakteri yang tahan
pemanasan.

Benda yang akan disuci hamakan diletakan diatas lempengan saringan dan
tidak langsung mengenai air dibawahnya. Pemanasan dilakukan hingga air mendidih
(diperkirakan pada suhu 100oC), pada tekanan 15Ib temperatur yang mencapai 121oC.
Organisme yang tidak berspora hanya dapat mati dengan pemanasan 100oC selama
30 menit tetapi ada beberapa dapat bertahanselama 10 jam pada temperatur 100oC
dapat dimatikan hanya dalam waktu 30 menit apabila air yang mendidih ini ditambah
dengan natrium carbonat

b. Pemanasan dengan bakterisida


Digunakan untuk sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil
dalam autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena dosis tunggal
lebih dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal. Larutan yang ditambahkan
bakterisida dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 oC selama 10 menit di
dalam pensteril uap atau penangas air. Bakterisida yang digunakan 0,5% fenol; 0,5%
klorobutanol; 0,002 % fenil merkuri nitrat; 0,2% klorokresol.

c. Air mendidih
Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti jarum spoit. Hanya dilakukan
dalam keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk vegetatif mikroorganisme tetapi
tidak sporanya.

3) Cara bukan panas


a. Sterilisasi dengan radiasi
Prinsipnya adalah radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai
DNA dari inti sel sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi
bahan atau produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada dua macam radiasi
yang digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x, sinar γ) dan arus partikel
kecil (sinar α dan β).
Dalam mikrobiologi radiasi gelombang elektromagnetik yang banyak
digunakan adalah radiasi sinar ultra violet, radiasi sinar gamma atau sinar dan sinar
matahari. Sinarmataharib anyak mengandung ultraviolet, sehingga secara langsung
dapat dipakai untuk proses sterilisasi, hal ini telah lama diketahui banyak orang. Sinar
ultraviolet bisa diperoleh dengan menggunakankatoda panas(emisi termis) yaitu ke
dalam tabung katoda b ertekanan rendah diisi dengan uap air raksa, panjang
gelombang yang dihasilkan dalam proses ini biasanya dalam orde 2.500 s/d 2600
angstrom. Lampu merkuri yang banyak terpasang dijalan-jalan sesungguhnya banyk
yang mengandung sina ultraviolet yang dihasilkan itu diserap banyak oleh tabung
gelas yang dilaluinya, sehingga dalam proses sterilisasi hendaknya memperhatikan
dosis ultraviolet.

2. Secara kimia
a. Menggunakan bahan kimia
Dalam pensterilan digunakan bahan kimia seperti alkohol 96%, fenol 5%, selain
itu juga Aceton tab formalin, sulfur dioxida dan chlorin. Materi yang akan disuci
hamakan dibersihkan terlebih dahulu kemudian direndam dalam alkhohol aceton atau
tab formalin selama kurang lebih 24 jam.

b. Sterilisasi gas
Dalam pensterilan digunakan bahan kimia dalam bentuk gas atau uap, seperti
etilen oksida, formaldehid, propilen oksida, klorin oksida, beta propiolakton,
metilbromida, kloropikrin. Digunakan untuk sterilisasi bahan yang termolabil seperti
bahan biologi, makanan, plastik, antibiotik. Aksi antimikrobialnya adalah gas etilen
oksida mengadisi gugus –SH, -OH, -COOH,-NH2 dari protein dan membentuk ikatan
alkilasi sehingga protein mengalami kerusakan dan mikroba mati.

3. Metode mekanik
a. Filtrasi
Digunakan untuk sterilisasi larutan yang termolabil. Penyaringan ini
menggunakan filter bakteri. Metode ini tidak dapat membunuh mikroba, mikroba
hanya akan tertahan oleh pori-pori filter dan terpisah dari filtratnya. Dibutuhkan
penguasaan teknik aseptik yang baik dalam melakukan metode ini. Filter biasanya
terbuat dari asbes, porselen. Filtrat bebas dari bakteri tetapi tidak bebas dari virus.

Ada banyak macam filter yaitu:

1) Berkefeld V
2) Coars N, M dan W
3) Chamberland
4) Seitz
5) Sintered glass
Metode filtrasi ini hanya dipakai untuk menyeterilkan larutan gula, cairan lain
seperti serum atau sterilisasi hasil produksi mikroorganime seperti enzym dan
exotoxin dan untuk memisahkan filtrable virus dari bakteria dan organisme.

2. PELAKSANAAN STERILISASI ALAT


Sterilisasi dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu
mikroorganisme dapat dibunuh dan peralatan tetap baik, untuk sementara itu perlu
mengetahui:

1. Macam peralatan manakah yang akan disuci hamakan

Seperti alat-alat yang digunakan untuk medis atau oprasi sangat diharusk, alat-alat
yang disterilkan adalah yang berbahan jenis: logam, kaca, baku kain,plasti, dan karet.

2. Metode sterilisasi manakah yang akan dipakai misalnya dengan mengunakan


metode fisika dan metode kimia

1. STERILISASI TERHADAP BAHAN BAKU KARET ( Hand Schoen)


Hand schoen atau Sarung tangan dapat disterilkan dengan uap formalin atau
dengan otoklaf. Sebelum sarung tangan disterilkan, terlebih dahulu harus dibersihkan
dengan jalan mencuci dengan air dan sabun. Sarung tangan yang terkena nanah,
setelah dicuci bersih,dibersihkan lagi dengan lison 0,5% atau larutan betadin ( 1 gelas
air ditambah 1 sendok teh betadin ). Setelah dibilas dengan air bersih, keringkan dan
periksa apakah ada yang bocor atau tidak. Yang bocor dipisahkan. Sarung tangan
yang telah bersih itu dikiringkan dengan kain bersih, baik luar maupun dalamnya.
Setelah kering, bagian luar dan dalam diberi talk, dilipat, dan dimasukkan sepasang
(kiri dan kanan) kedalam kantong sarung tangan, dengan terlebih dahlu diberi ukuran
dan dimasukkan pula tambahan talk yang dibungkus dengan kasa kecil.

Bila hendak memakai uap formalin, sarung tangan yang telah siap,
dimasukkan kedalam tromol atau stoples, lalu dimasukkan beebrapa tablet formalin.
Sarung tangan baru suci hama (steril) setelah terkena uap formalin paling sedikit 24
jam. Sebaiknya disediakan beberapa buah stoples atau tromol agar selalu ada sarung
tengan yang steril. Sarung tangan dapat pula dimasukkan ke dalam otoklaf untuk
disterilkan.

2. STERILISASI TERHADAP BAHAN BAKU LOGAM


Alat yang terbuat dari logam sebelum disteril dicuci terlebih dahulu.
Perbiasakan segera mencuci alat-alat begitu selesai memakainya, agar kotoran yang
melengket mudah dibersihkan.

Alat-alat logam peperti jarum suntik, pinset, gunting, jarum oprasi, scapel
blede maupun tabung reaksi mula-mula dibersihkan terlebih dahulu kemudian
dibungkus dengan kain gaas. Setelah itu menggunakan metode pemanasan secara
kering, agar suhu mencapai 160oC, jarak waktu mencapai 1-2 jam, kemudian
didiamkan agar suhu turun perlahan-lahan

3. STERILISASI TERHADAP BAHAN BAKU KACA


Sterilisasi bahan baku kaca sama dengan sterilisasi logam yaitu dengan
menggunakan pemanasan kering, selain itu bahan baku kaca juga sering disterilisasi
dengan menggunakan metode radiasi karena bahan baku kaca banyak menyerap
bahan kaca sehingga sterilisasi dengan radiasi sangat efektive, pelaksanaanya yaitu
alat bahan baku kaca dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang melekat kemudian
keringkan dengan udara setelah kering alat bahan baku kaca dimasukan ketempat
elektronik yaitu dengan katoda panas (emisi termis) yang mengeluarkan sinar
ultraviolet kemudian sinari kaca tersebut dengan sinar ultraviolet dengan kekuatan
kurang lebih 2500 s/d 2600 angstrom sehingga spora dan bakteri yang melekat pada
alat tersebut dapat terbakar.

4. STERILISASI TERHADAP BAHAN BAKU KAIN ATAU MEDIA


KULTUR ( kain doek)
Media kultur yang akan disteril, terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran,
kemudian kain resebut dibungkus dengan kertas agar setelah steril dan dikeluarkan
dari alat sterilisator tidak terkontaminasi dengan kuman maupun bakteri lagi.
Demikian pula kain doek tersebut dibersihkan terlebih dahulu, setelah dibersihkan
bungkus dengan plastik terlebih dahulu sebelum sterilisasi, metode sterilisasi yang
akan dilakukan menggunakan metode pemanasan dengan uap air dan juga
dipengaruhi dengan tekanan (autoclave). Metode sterilisasi denga menggunakan
autoclave ini yaitu dengan adanya pertukaran anatara oksigen dan carbon dioxida.

5. STERILISASI TERHADAP BAHAN BAKU PLASTIK


Bahan baku plastik misalnya mayo apabila disterilkan sebaiknya jangan
menggunakan metode pemanasan, oleh karna itu maka akan merubah bentuk dari
plastik tersebut. Untuk mensucikan alat dari bahan baku plastik sebaiknya mula-mula
bersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan detergen, kemudian keringkan,
setelah itu rendam dalam larutan alkohol setelah itu cuci denga aquades lalu rendam
dalam larutan antiseptik.
3. PERAWATAN ALAT-ALAT
Perawatan alat sangatlah penting dilakukan setelah dilakukannya strerilisasi
agar alat-alat yang steril tidak terkontaminasi lagi olek mikroorganisme lain atau oleh
spora sehingga bila alat itu digunakan akan menjadi aman

1. PERAWATAN ALAT DARI BAHAN BAKU LOGAM YANG SUDAH


DISTERILKAN
Alat-alat yang terbuat dari logam misalnya besi, tembaga maupun alumunium
sering terjadi karatan. Untuk menghindari terjadinya hal demikian maka alat-alat
tersebut harus disimpan pada tempat yang mempunyai temperatur tinggi (sekitar
37oC) dan lingkungan yang kering kalau perlu memakai bahan silikon sebagai
penyerap uap air, sebelum alat tersebut disimpan maka alat tersebut harus bebas dari
kotoran debu maupun air yang melekat, kemudian olesi dengan olie atau parafin.

2. PERAWATAN ALAT DARI BAHAN BAKU KACA SETELAH DISTERIL


Bahan baku kaca banyak dipakai dalam laboratorium medis. Ada beberapa
keuntungan dan kelemahan dari bahan baku kaca tersebut.

Keuntungan:

Bahan baku kaca tahan terhadap reaksi kimia, terutama bahan gelas pyrex,
tahan terhadap perubahan temperatur yang mendadak, koefisien muai yang kecil dan
tembus cahaya yang besar.

Kelemahan:

Mudah pecah terhadap tekanan mekanik, dan mudah tumbuh jamur sehingga
menggagu daya tembus sinar, kadang-kadang dengan menggunakan kain katun untuk
membersihkan saja timbul goresan.

Dengan memeperhatikan keuntungan dan kelemahan dari bahan gelas, maka


dalam segi perawatan maupun memperlakukan alat-alat gelas harus memperhatikan:
a. Penyimpanan pada ruangan yang suhunya berkisar 27oC-37oC dan beri
tambahan lampu 25 watt
b. Ruangan tempat penyimpana diberi bahan silikon sebagai zat higroskopis.
c. Gunakan alkohol, aceton, kapas, sikat halus dan pompa angin untuk
membersihakan debu dari permukaan kaca. Usahakan pada waktu membersihkan
lensa jangan sampai merusak lapisan lensa.
d. Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknaya ditempatkan diatas kawat
kasa, atau boleh melakukan pemanasan asal bahan baku dari pyrex.
e. Gelas yang direbus hendaknya jangan dimasukkan langsung kedalam air yang
sedang mendidih melainkan gelas dimasukkan ke dalam air dingin kemudian
dipanaskan secara perlahan-lahan. Sebaiknya untuk pendinginan mendadak tidak
diperkenankan.
f. Membersihkan kotoran dari kaca sebaiknya segera setelah dipakai dapat
menggunakan:
a. Air bersih
b. Detergen: menghilangkan efek lemak dan tidak membawa efek lemak
c. Larutan: kalium dichromat 10 gram
Asam belerang 25 ml.
Aquades 75 ml.
Kadang-kadang memerlukan perendaman sampai beberapa jam, kemudian
dibilas dengan air bersih, dikeringkan dengan udara panas lalu disimpan ditempat yng
kering.

3. PERAWATAN ALAT DARI BAHAN BAKU KARET


Sarung tangan dari karet mudah meleleh atau lengket apabila disimpan terlalu
lama. Untuk menghindari kerusakan dari bahan baku karet, sebelum melakukan
penyimpanan mula-mula bersihkan kotoran darah atau cairan obat dengan cara
mencuci dengan sabun kemudian dikeringkan dengan menjemur dibawa sinar
matahariatau hembusan udara hangat. Setelah itu taburi tal pada seluruh permukaan
karet.

KONSEP DASAR STERILISASI DAN DESINFEKSI“.

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat sertaa hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan tugas makalah penulis yang berjudul “KONSEP DASAR
STERILISASI DAN DESINFEKSI“.

Shalawat dan salam tidak lupa penulis kirimkan kepada rasulullah Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju zaman
terang benderang ini.

Makalah ini di maksudkan sebagai tuntutan belajar bagi mahasiswa di institusi


pendidikan kesehatan khususnya program studi D-3 Kebidanan. Semoga dengan
adanya makalah ini bisa memberi sedikit pengetahuan bagi pembaca khususnya bagi
penulis sendiri, makalah ini terselesaikan oleh karena bantuan banyak pihak.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulismengucapkan terimakasih kepada:

1. DR. Ir. H. Budi Santoso, MS. Selaku Ketua STIKES Darul Azhar Batulicin.
2. Lidia Widia,S.ST,M.Kes selaku Ketua Prodi D-3 STIKES Darul Azhar Batulicin.
3. Dosen Pengampu Mata Kuliah dr. I Made Haryadi Thenaya .Yang telah
memberikan bimbingan sehingga makalah ini terselesaikan dengan baik.
4. Teman-teman D-3 Kebidanan Angkatan ke VII yang membantu terselesaikannya
penyusunan makalah ini.
Tentunya penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh
dari kata kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
mendukung dari para pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah
ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Simpang Empat. 2 April 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................. 1


1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................ 2
1.3 TUJUAN...................................................................................................... 2
1.3.1 Tujuan Umum ................................................................................................. 2
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................................................ 2
1.4 MANFAAT ................................................................................................. 2
BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................. 3

2.1 TINJAUAN TEORITIS ............................................................................... 3


BAB 3 PENUTUP ...................................................................................... 9

3.1 KESIMPULAN ........................................................................................... 9


3.2 SARAN........................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Lingkup bidang kebidanan memberikan asuhan kebidanan baik pada pasien
yang beresiko terinfeksi atau telah terinfeksi. Pengetahuan mengenai bagaiman
terjadinya infeksi sangat penting dikuasai untuk membatasi dan mencegah terjadi
penyebaran infeksi dengan cara mempelajari ilmu bakteriologi, imunologi, virologi
dan parasitologi yang terkandung pada ilmu mikrobiologi.
Selain itu, diperlukan juga cara untuk mengurangi atau bahkan mengatasi
infeksi tersebut secara keseluruhan. Secara lebih spesifik diperlukan pula
pengetahuan mendasar akan kondisi seperti apa yang bisa dijadikan lokasi atau
tempat untuk melakukan asuhan kebidanan.
Perkembangan ilmu mikrobiologi telah memberikan sumbangan yang besaar
bagi dunia kesehatan, dengan ditemukannya berbagai macam alat berkat penemuan
beberapa ilmuan besar. Bahwa terbukti untuk mencegah atau mengendalikan infeksi
tenaga kesehatan dapat menggunakan konsep steril ataupun bersih, untuk membantu
proses penyembuhan pasiennya dan lebih spesifik lagi untuk mengendalikan dan
mencegah terjadinya infeksi.
Maka dari itu, kami merasa penting untuk menyusun sebuah tulisan yang
membahas tentang bagaimana penerapan sterilisasi dan desinfeksi dalam makalah ini.
Juga bagaimana aplikasinya dalam keseharian dunia kebidanan.

1.2. RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan sterilisasi?

1.2.2 Apa yang dimaksud dengan desinfeksi?


1.2.3 Apa yang dimaksud dengan antiseptik?
1.2.4 Apa saja pengendalian mikroorganisme?
1.2.5 Apa macam-macam limbah said?
1.2.6 Bagaimana peranan tenaga kesehatan/bidan dalam sterilisasi dan desinfeksi?

1.3. TUJUAN

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan pembuatan makalah ini adalah, agar mahasisiwa atau mahasiswi bisa
mengetahui sterilisasi dan desinfeksi, memahami dan mengenal apa yang dimaksud
dengan sterilisasi dan desinfeksi tersebut. Mahasiswa atau mahasiswi mampu
menerapkan yang telah di bahas di makalah ini.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Apa yang dimaksud dengan sterilisasi


2. Apa yang dimaksud dengan desinfeksi
3. Apa yang dimaksud dengan antiseptik
4. Apa saja pengendalian mikroorgamisme
5. Apa macam-macam limbah said
6. Bagaimana peranan tenaga kesehatan/bidan dalam sterilisasi dan desinfeksi

1.4. MANFAAT

Penyusunan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis


maupun praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan
pengetahuan mengenai sterilisasi dan desinfeksi. Secara praktis makalah iniberguna
bagi :
1.4.1 Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan keilmuan di bidang kesehatan
khususnya tentang sterilisasi dan desinfeksi.
1.4.2 Pembaca / dosen, sebagai media informasi dalam pembuatan makalah
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 TINJAUAN TEORITIS

2.1.1 PENGERTIAN STERILISASI

Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua


bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik
maupun kimiawi. Sterilisasi juga dikalatan sebagai tindakan untuk membunuh kuman
patogen atau apatogen beserta spora yang terdapat pada alat kebidanan dengan cara
merebus, stoom, panas tinggi, atau bahan kimia.

Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu


(alat,bahan,media, dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan
kehadirannya baik yang patogen maupun yang a patogen. Atau bisa juga dikatakan
sebagai proses untuk membebaskan suatu benda dari semua mikroorganisme, baik
bentuk vegetative maupun bentuk spora.

Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk mencegah


pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk mempertahankan keadaan
aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan
terhadap pencemaran oleh miroorganisme dan di dalam bidang-bidang lain pun
sterilisasi ini juga penting.

Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi.
Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen atau
kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat kebidanan dengan cara
merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau bahkan kimia. Jenis sterilisasi
antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi gas (Formalin H2 O2),
dan radiasi ionnisasi.
2.1.2 PENGERTIAN DESINFEKSI

Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada


objek yang tidak hidup dengan pengecualian pada endospora bekteri. Desinfeksi juga
dikatakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman patogen dan
apatogen tetapi tidak dengan membunuh spora yang terdapat pada alat kebidanan.
Desinfeksi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui dengan
mencuci, mengoles, merendam dan menjemur dengan tujuan mencegah terjadinya
infeksi, dan mengondisikan alat dalam keadaan siap pakai.

Desinfektan dapat diartikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang
digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti
bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme
atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik diartikan sebagai bahan kimia
yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri,
jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk
proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian.

Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan
untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan
virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman
penyakit lainnya.

2.1.3 PENGRTIAN ANTISEPTIK

Antiseptik diartikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh
pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup.
Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan,
peralatan dan pakaian.
Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme
pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan
dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.

2.1.4 PENGENDALIAN MIKROORGANISME

Mikroorganisme dapat dikendalikan dengan beberapa cara, dapat dengan


diminimalisir, dihambat dan dibunuh dengan sarana atau proses fisika atau bahan
kimia.

A. Beberapa cara untuk mengendalikan mikroorganisme :


1) Cleaning (kebersihan) dan Sanitasi
2) Desinfeksi
3) Antiseptis
4) Sterilisasi
5) Pengendalian Mikroba dengan Suhu Panas lainnya
6) Pengendalian Mikroba dengan Radiasi
7) Pengendalian Mikroba dengan Filtrasi
8) Pengendalian Mikroba dengan Bahan Kimia
Penjelasan:

1) Cleaning (kebersihan) dan Sanitasi


Cleaning dan Sanitasi sangat penting di dalam megendalikan mikroorganisme pd
suatu ruang/tempat. Prinsip cleaning dan sanitasi adalah men-ciptakan lingkungan
yang tidak dapat menyediakan sumber nutrisi bagi per-tumbuhan mikroba sekaligus
membunuh sebagian besar populasi mikroba.
2) Desinfeksi
Adalah proses pengaplikasian bahan kimia (desinfektans) terhadap per-alatan,
lantai, dinding atau lainnya untuk membunuh sel vegetatif mikrobial. Desinfeksi
diaplikasikan pada benda dan hanya berguna untuk membu-nuh sel vegetatif saja,
tidak mampu membunuh spora.
3) Antiseptis
Merupakan aplikasi senyawa kimia yang bersifat antiseptis terhadap tubuh untuk
melawan infeksi mencegah pertumbuhan mikro-organisme dengan cara menghancur-
kan atau menghambat aktivitas mikroba.
4) Sterilisasi/suci hama
Proses menghancurkan semua jenis kehidup atau -an mikroorganisme sehingga
menjadi steril. Sterilisasi seringkali dilakukan dengan peng-aplikasian udara panas.
Ada dua metode yang sering digunakan, yaitu Panas kering dan Panas lembab :
a) Panas kering, biasanya digunakan untuk mensterilisasi alat-alat laboratorium. Suhu
efektifnya adalah 160oC selama 2 jam. Alat yang digunakan pada umumnya adalah
oven.
b) Panas lembab dengan uap jenuh berte-kanan. Sangat efektif untuk sterilisasi karena
menyediakan suhu jauh di atas titik didih, proses cepat, daya tembus kuat dan kelem-
baban sangat tinggi sehingga mempermudah koagulasi protein sel-sel mikroba yang
menyebabkan sel hancur. Suhu efektifnya adalah 121oC pada tekanan 5 kg/cm2
dengan waktu standar 15 menit. Alat yang digunakan : pressure cooker, autoklaf
(autoclave) dan retort.
5) Pengendalian Mikroba dengan Suhu Panas lainnya :
a) Tyndalisasi : Pemanasan yang dilakukan biasanya pada makanan dan minuman
kaleng.
b) Tyndalisasi dapat membunuh sel vegetatif sekaligus spora mikroba tanpa merusak
zat-zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang diproses. Suhu
pemanasan adalah 65oC selama 30 menit dalam waktu tiga hari berturut-turut.
B) Pasteurisasi : Proses pembunuhan mikroba patogen dengan suhu terkendali
berdasar-kan waktu kematian termal bagi tipe patogen yang paling resisten untuk
dibasmi. Dalam proses pasteurisasi yang terbunuh hanyalah bakteri patogen dan
bakteri penyebab kebusukan namun tidak pada bakteri lainnya. Pasteurisasi biasanya
dilaku-kan untuk susu, rum, anggur dan makanan asam lainnya. Suhu pemanasan
adalah 65oC selama 30 menit.

C) Boiling : Pemanasan dengan cara merebus bahan yang akan disterilkan pada suhu
100oC selama 10-15 menit. Boiling dapat membunuh sel vegetatif bakteri yang
patogen maupun non patogen. Namun spora dan beberapa virus masih dapat hidup.
Biasanya dilakukan pada alat-alat kedokteran gigi, alat suntik, pipet, dll.

D) Red heating : Pemanasan langsung di atas api bunsen burner (pembakar spiritus)
sampai berpijar merah. Biasanya digunakan untuk mensterilkan alat yang sederhana
seperti jarum ose.

E) Flaming : Pembakaran langsung alat-alat laboratorium diatas pembakar


bunsen dengan alkohol atau spiritus tanpa terjadinya pemijaran.

2.1.5 MACAM-MACAM LIMBAH SAID

Rumah sakit merupakan sarana upaya perbaikan kesehatan yang melaksanakan


pelayanan kesehatan dan dapat dimanfaatkan pula sebagai lembaga pendidikan tenaga
kesehatan dan penelitian. Pelayanan kesehatan yang dilakukan rumah sakit berupa
kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan serta jiwa (Said
dan Ineza, 2002).
A) jenis-jenis limbah rumah sakit meliputi bagian berikut ini
1) Limbahklinik
Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan di unit-unit
resiko tinggi. Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi
kuman dan populasi umum dan staff rumah sakit. Oleh karena itu perlu diberi label
yang jelas sebagai resiko tinggi. contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau
pembungkus yang kotor, cairan badan, anggota badan yang diamputasi, jarum-jarum
dan semprit bekas, kantung urin dan produk darah.
2) Limbah Patologi
Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diotoklaf sebelum keluar
dari unit patologi. Limbah tersebut harus diberi label biohazard.
3) Limbah Bukan Klinik
Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak
berkontak dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah
tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut
dan mambuangnya.
4) Limbah Dapur
Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor. Berbagai serangga seperti
kecoa, kutu dan hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staff
maupun pasien di rumah sakit.
5) Limbah Radioaktif
Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah
sakit, pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.
2.1.6 PERANAN TENAGA KESEHATAN/BIDAN DALAM STERILISASI DAN
DESINFEKSI .
A. Peranan Tenaga Kesehatan dalam Sterilisasi dan Disinfeksi
Dalam dunia kesehatan khususnya bidan sterilisasi dan disinfeksi digunakan
sebagai pencegah infeksi (PI).Dengan adanya praktek pencegah infeksi dapat
mencegah mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu lainnya (ibu,bayi
baru lahir(BBL),dan para penolong persalinan)sehingga dapat memutus rantai
penyebaran infeksi.
Tindakan- tindakan pencegahan infeksi termasuk hal-hal berikut:
1) Cuci tangan
2) Memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung lainnya
3) Menggunakan teknik asepsis atau aseptic
4) Memproses alat bekas pakai
5) Menangani peralatan tajam dangan aman
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

 Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk


kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi.
 Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada objek
yang tidak hidup dengan pengecualian pada endospora bekteri.
 Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan
mikroorganisme pada jaringan hidup

3.2 SARAN
3.2.1 BAGI STIKES DARUL AZHAR BATULICIN
Somoga makalah yang penulis susun ini dapat sangat bermanfaat bagi Perguruan
Tingi Stikes Darul Azhar dan dapat memberikan pengetahuan sedikit tentang
sterilisasi dan desinfeksi. Penulis mengetahui bahwa dalam penyusunan makalah ini
masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi penulisannya, bahasa dan lain
sebagainya. Untuk itu saran dari Perguruan Tinggi Stikes Darul Azhar yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan agar dapat terciptanya makalah yang baik.

3.2.2 BAGI PEMBACA


Pengetahuan mengenai darah hendaknya dimiliki oleh semua tenaga medis.
Dengan pengetahuan yang dimiliki diharapkan tenaga medis tersebut akan dapat
memperaktikkan dengan benar atau cara pelaksanaan dalam menjalankannya., oleh
karena itu saran dan kritik dari pembaca sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA

http://irwanto-fk04usk.blogspot.com/2009/08/sterilisasi-dan-desinfeksi.htm l diunduh
pada tanggal 06mei 2011 18:29

http://kumpulan-materi-kuliah-s1kep.blogspot.com/2011/03/resume-pengendalian-
infeksi.html

12:31 5 19 2011

http://rikedianhusada.blogspot.co.id/p/konsep-dasar-sterilisasi-dan-desinfeksi.html

http://putriiandynii.blogspot.co.id/2014/01/makalah-sterilisasi-dan-desinfeksi.html

http://nerseducation.blogspot.co.id/2012/02/makalah-sterilisasi-alat.html

http://sriwahyuniogie.blogspot.co.id/2015/05/konsep-dasar-sterilisasi-dan-
desinfeksi.html