Anda di halaman 1dari 19

KONFLIK, KOLABORASI dan NEGOSIASI

KONFLIK, KOLABORASI DAN NEGOSIASI


By : Muhlisin Nalahudin
A. Pengertian dan Sejarah Terjadinya Manajemen Konflik
Konflik adalah masalah internal dan eksternal yang terjadi sebagai akibat dari perbedaan
pendapat, nilai-nilai, atau keyakinan dari dua orang atau lebih. (Marquis dan Huston, 1998).
Konflik timbul akibat ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan kesenjangan status
sosial, kurang meratanya kemakmuran, dan akses yang tidak seimbang terhadap sumber daya,
serta kekuasaan yang tidak seimbang yang kemudian menimbulkan masalah-masalah seperti
diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, penindasan, dan kejahatan. Masing-masing tingkat
tersebut saling berkaitan, membentuk sebuah rantai yang memiliki potensi kekuatan untuk
menghadirkan perubahan, baik yang konstruktif maupun yang dekstruktif.
Konflik terjadi sudah dimulai sejak seratus tahun yang lalu, dimana konflik adalah suatu
kejadian yang alamiah dan peristiwa yang pasti terjadi dalam organisasi. Namun harus tetap
diselesaikan secepatnya. Konflik diindikasikan sebagai suatu kelemahan manajemen pada
suatu organisasi yang harus dihindarkan. Kalau staf diarahkan terhadap suatu tujuan yang
jelas dalam melaksanakan tugasnya dan ketidakpuasan staf harus diekspresikan secara
langsung supaya masalah tidak menumpuk dan bertambah banyak. Manajemen konflik yang
konstruktif akan menghasilkan lingkungan yang kondusif untuk didiskusikan sebagai suatu
fenomena utama, komunikasi yang terbuka melalui pengutaraan perasaan, dan tukar pikiran
serta tanggung jawab yang menguntungkan dalam menyelesaikan suatu perbedaan.

B. Penyebab konflik
1) Batasan pekerjaan yang tidak jelas
2) Hambatan komunikasi
3) Tekanan waktu
4) Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal
5) Pertikaian antar pribadi
6) Perbedaan status
7) Harapan yang tidak terwujud

C. Kategori konflik
1. Intrapersonal.
Konflik yang terjadi pada individu sendiri. Akibat dari kompetisi peran, misalnya, manajer
mempunyai konflik intrapersonal dengan loyalitas terhadap profesi keperawatan, loyalitas
terhadap pekaryaan, dan loyalitas kepada pasien.
2. Interpersonal.
Konflik terjadi antara dua orang atau lebih dimana nilai, tujuan dan keyakinan berbeda.
Misal, manajer sering mengalami konflik dengan teman sesama manajer, atasan, dan
bawahan.
3. Antarkelompok.
Konflik terjadi antara dua atau lebih dari kelompok orang, departemen, atau organisasi.
Misalnya, hambatan dalam mencapai kekuasaan dan otoritas.

D. Proses konflik
1. Konflik laten.
Konflik yang terjadi terus menerus dalam suatu organisasi. Misal, kondisi tentang
keterbatasan staf dan perubahan yang cepat. Memicu ketidakstabilan organisasi dan kualitas
produksi, konflik kadang tidak nampak secara nyata atau tidak pernah terjadi.
2. Konflik yang dirasakan.
Konflik terjadi karena adanya sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman, ketakutan, tidak
percaya, dan marah.
3. Konflik yang tampak/sengaja dimunculkan.
Konflik sengaja dimunculkan untuk dicari solusinya. Tindakan yang dilaksanakan
menghindar, kompetisi, debat, atau mencari penyelesaian konflik.
4. Resolusi konflik.
Suatu penyelesaian masalah dengan cara memuaskan semua orang yang terlibat didalamnya.
Dengan prinsip “win-win solution”
5. Konflik “aftermath”.
Konflik yang terjadi akibat dari tidak terselesainya konflik yang pertama. Konflik ini akan
menjadi masalah besar jika tidak segera diatasi.

E. Langkah-langkah Penyelesaian konflik


1. Pengkajian
 Analisis situasi. Identifikasi jenis konflik untuk menentukan waktu yang diperlukan, lakukan
pengumpulan fakta pengkajian lebih mendalam, siapa yang terlibat dan peran masing-masing,
tentukan situasinya jika dapat diubah.
 Analisis dan mematikan isu yang berkembang. Jelaskan masalah dan perioritas fenomena
yang terjadi, tentukan masalah utama yang memerlukan suatu penyelesaian, hindari
penyelesaian semua masalah dalam satu waktu.
 Menyusun tujuan. Jelasakan tujuan spesifik yang akan dicapai.

2. Identifikasi
 Mengelola perasaan. Hindari respon emosional : marah, sebab setiap orang mempunyai
respon yang berbeda terhadap kata-kata, ekspresi, dan tindakan.
3. Intervensi
 Masuk pada konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan baik. Identifikasi hasil yang
positif yang akan terjadi.
 Menyelesaikan metode dalam menyelesaikan konflik. Memerlukan metode yang berbeda-beda.
Pilih metode yang paling sesuai untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.

F. Strategi penyelesaian konflik


1. Kompromi atau Negosiasi
Strategi penyelesaian konflik semua yang terlibat saling menyadari dan sepakat pada
keinginan bersama. “lose-lose situation” kedua unsur yang terlibat menyerah dan
menyepakati hal yang telah dibuat.
2. Kompetisi
Strategi “win-lose” sebagai penyelesaian konflik. Hanya ada satu orang atau kelompok yang
menang tanpa mempertimbangkan yang kalah.
3. Akomodasi
Seseorang berusaha mengakomodasi permasalahan, dan memberi kesempatan pada orang lain
untuk menang.
4. Smoothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen emosional
dalam konflik. Individu yang terlibat berupaya mencapai kebersamaan dari pada perbedaan
dengan penuh kesadaran dan introfeksi diri.
5. Menghindar
Semua yang terlibat dalam konflik ini menyadari tentang masalah yang dihadapi, tetapi
memilih untuk menghindar atau tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini dipilih bila ketidak
ada sepakatan dan membahayakan kedua belah pihak.
6. Kolaborasi
Strategi ini merupakan strategi “win-win solution” dalam kolaborasi, kedua unsur yang
terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan.

G. NEGOSIASI
Menurut Marquis dan Huston, (1998) Negosiasi yaitu suatu pendekatan yang kompetitif.
Negosiasi dirancang sebagai suatu pendekatan kompromi untuk menyelesaikan konflik.
Berbagai pihak yang terlibat menyerah dan lebih menekankan waktu mengakomodasi
perbedaan-perbedaan antara keduanya.
Menurut Smeltzer, (1991) ada dua tipe dasar negosiasi :
1) Setiap orang menang (kooperatif).
2) Hanya satu orang yang menang (kompetitif).
Sebagai negotiator penting untuk :
1) Memaksimalkan kemenangan kedua pihak untuk mencapai tujuan bersama.
2) Meminimalkan kekalahan, bagi yang kalah tetap dapat mengikuti tujuan bersama.
3) Membuat kedua belah pihak merasa puas terhadap hasil organisasi.

1. Sebelum Negosiasi
a. Tiga kriteria yang harus dipenuhi sebelum memulai negosiasi :
1) Masalah harus dapat dinegosiasikan.
2) Negotiator harus tertarik terhadap “take and give” selama proses negosiasi.
3) Harus saling percaya.
b. Langkah-langkah sebelum melaksanakan negosiasi :
1) Mengumpulkan informasi tentang masalah sebanyak mungkin, karena pengetahuan adalah
kekuatan.
2) Dimana manajer harus memulai, karena tugas manajer melakukan kompromi, mereka harus
memilih tujuan yang utama.
3) Memilih alternatif yang terbaik terhadap sarana dan prasarana. Efektifitas dan efisiensi.
4) Mempunyai agenda yang disembunyikan. Agenda negosiasi dapat ditawarkan jika alternatif
negosiasi tidak dapat disepakati.

2. Selama Negosiasi
1) Filih fakta-fakta yang rasional dan berdasarkan hasil penelitian.
2) Dengarkan dengan seksama, dan perhatikan respons nonverbal yang nampak.
3) Berfikirlah positif dan selalu terbuka untuk menerima semua alternatif informasi yang
disampaikan.
4) Upayakan untuk memahami pandangan apa yang disampaikan lawan bicara anda.
Konsentrasi dan perhatikan.
5) Selalu diskusikan tentang konflik yang terjadi. Hindarkan masalah-masalah pribadi yang
disampaikan pada saat negosiasi.
6) Hindarkan untuk menyalahkan orang lain terhadap konflik yang terjadi.
7) Jujur.
8) Usahakan bersikap bahwa anda memerlukan suatu penyelesaian yang baik.
9) Jangan langsung menyetujui terhadap solusi yang ditawarkan, tetapi berfikir dan mintalah
waktu untuk menjawabnya.
10) Jika kedua belah pihak menjadi marah atau lelah selama negosiasi berlangsung, istirahatlah
sebentar.
11) Dengarkan dan tanyakan tentang pendapat yang belum begitu anda pahami.
12) Bersabarlah.

H. Kunci Sukses dalam Melakukan Negosiasi


1. Lakukan
1) Jelaskan tujuan negosiasi, bukan posisinya. Pastikan bahwa anda mengetahui keinginan
orang lain.
2) Perlakukanlah orang lain sebagai teman dalam menyelesaikan masalah bukan sebagai musuh.
Hadapi masalah yang ada, bukan orangnya.
3) Ingat bahwa setiap orang mengharapkan penyelesaian yang dapat diterima, jika anda dapat
menyajikan sesuatu dengan baik dan menarik.
4) Dengarkan dengan baik-baik apa yang akan dikatakan dan apa yan tidak. Perhatikan
pergerakan tubuhnya.
5) Lakukan sesuatu yang sederhana, tidak berbelit-belit.
6) Antisipasi penolakan.
7) Tahu apa yang dapat anda berikan.
8) Tunjukkan beberapa alternatif pilihan.
9) Tunjukkan keterbukaan dan ketaatan jika orang lain sepakat dengan pendapat anda.
10) Bersikaplah asertif, bukan agresif.
11) Hati-hati ! anda mempunyai suatu kekuasaan untuk mrmutuskan.
12) Pergunakan pergerakan tubuh jika anda menyetujui atau tidak terhadap suatu pendapat.
13) Konsisten terhadap sesuatu yang anda anggap benar.

2. Hindari
1) Sikap yang tidak baik, sinis, kasar dan menyepelekan.
2) Trik yang tidak baik, manipulasi.
3) Distorsi.
4) Tergesa – gesa dalam proses negosiasi.
5) Tidak berurutan.
6) Membuat hanya satu pilihan.
7) Memaksakan kehendak.
8) Berusaha menekankan pada satu pendapat.

Referensi
Marquis, B.L. dan Huston, C.J. (1998). Management Decision Making for Nurses. Philadelpia :
JB. Lippincott.

Nursalam, (2008) Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional.


Edisi 2, Salemba Medika, Jakarta.

Smeltzer, C (1991) The Art of Negosiation: an Everyday Experience. J Nurse Administration.

http://dosenngeblog.blogspot.co.id/2012/03/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html
makalah manajemen konflik,,, manajemen kolaborasi,,,

kepemimpinan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan yang sangat cepat di linkungan kesehatan merupakan elemen baru dalam
manajemen sehingga orang dapat mengahdapinya dengan kecemasan atau kekawatiran
karena tidak siap bekerja di lingkungan yang baru sementara itu tuntutan dalam pelayanan
menjadi lebih tinggi dan kompleks . peran pemimpin menjadi penting karena harus mampu
mengatasi permasalahan yang ada sehingga dapat memberikan lingkungan yang kondusif
demi tercapainya tujuan pelayanan tersebut.
Kepemimpinan didefinisikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi,
menggerakkan dan mengarahkan suatu tindakan pada diri seseorang atau sekelompok orang
untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu (Sujak, 1990). Menurut Robbin (1996),
kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya
tujuan. Koonzt (1984), bahwa kepemimpinan sebagai pengaruh, seni atau proses
mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok
dengan kemampuan dan antusias. Dari beberapa pengertian kepemimpinan tersebut, Manduh
(1997) memberikan pengertian singakat tentang kepemimpinan yaitu proses mengarahkan
dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok.
Dalam kepemimpinan terdapat beberapa kegiatan kepemimpinan. Menurut Gillies
(1997) untuk mencapai kepemimpinan yang efektif harus dilaksanakan kegiatan penugasan
dan memberikan pengarahan, memberikan bimbingan, mendorong kerja sama dan partisipasi,
mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan, observasi dan supervisi serta evaluasi dari hasil
penampilan kerja. Pemimpin yang efektif adalah seorang katalisator dalam memudahkan
interaksi yang efektif diantara tenaga kerja, bahan dan waktu. Untuk dapat melaksanakan
tugas tersebut, maka seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas dan kompleks
tentang sistem manusia, mempunyai kemampuan hubungan antar manusia terutama dalam
mempengaruhi orang lain dan memiliki sekelompok nilai-nilai dalam mengenal orang lain
dengan baik. Di samping itu, pemimpin harus mempertimbangkan kewaspadaan diri,
karakteristik kelompok, karakteristik individu serta motivasi yang ada dalam menggerakkan
orang lain dalam mencapai tujuan organisasi.
B. Tujuan penulisan
a. Tujuan umum
Untuk mengetahui manajemen kepemimpinan dalam masalah konflik, kolaborasi dan
negosiasi
b. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui pengertian konflik, kolaborasi dan negosiasi
2. Untuk mengetahui penyebab, proses konflik, penyelesaian konflik
3. Untuk mengetahui karakteristik kolaborasi
4. Untuk mengetahui proses negosiasi dan strategi negosiasi
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
1. Pengertian Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni
melaksanakan dan mengatur.Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima
secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer
bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh kepada
perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun tidak. Gaya kepemimpinan dapat
diidentifikasikan berdasarkan perilaku pimpinan itu sendiri.
2. Manajemen Konflik
Organisasi merupakan tempat manusia berinteraksi yang mempunyai kemungkinan
terjadinya suatu konflik, konflik ini bisa berhubungan dengan perasaan termasuk perasaan
yang diabaikan, tidak dihargai, atau beban berlebihan dan perasan individu yang
menimbulkan suatu titik kemarahan.

Dahulu konflik dianggap sebagai sesuatu yang berbau negatif sehingga cara
mengelolahnya pun bermula dari yang sederhana seperti dan membiarkan saja sampai yang
bersifat ekstrim yaitu berusaha menghilangkan sampai ke keakar-akarnya (gillies, 1994).
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu
interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan
dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang
wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami
konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan
hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau
dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri.

a. Pengertian konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli.

1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan
kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada
berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua
pihak atau lebih pihak secara berterusan.
2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama,
hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing
– masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan
tidak bekerja sama satu sama lain.
3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh
persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di
dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya,
jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka
konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada
tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi
(Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat
hubungannya dengan stres.
5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau
lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun
terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
6. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang
sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak
mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif
(Robbins, 1993).
7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain,
kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini,
pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang
diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku
komunikasi (Folger & Poole: 1984).
9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin
dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun
perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart,
1993:341).
10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak
dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito,
1995:381)

b. Penyebab konflik
Penyebab konflik dapat di sebabkan oleh beberapa hal seperti berikut:
1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan
perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan
sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial,
sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap
warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula
yang merasa terhibur.
2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian
kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan
perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda.
Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki
kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama,
tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan
dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan
budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh
ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi
mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang
dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan.
Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus
dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan
kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat
perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan
budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu,
misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan
kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan
pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar
bidang serta volume usaha mereka.
4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu
berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya
konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi
yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat
tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai
masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti
menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya.
Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi
formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai
tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu
yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini,
jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di
masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena
dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
Ada beberapa faktor penyebab konflik yang muncul dalam organisasi, yaitu:
1. Faktor Komunikasi. Salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit
dimengerti, atau informasi yang mendua dan tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang
tidak konsisten.
2.Faktor Struktur. Pertarungan antara departemen, sistem penilaian yang bertentangan,
persaingan memperebutkan sumber daya yang terbatas, saling ketergantungan dua atau lebih
kelompok.
3.Faktor Pribadi. Ketidak sesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial pribadi karyawan dengan
perilaku yang diperankan pada jabatan mereka, dan perbedaan-perbedaan dalam nilai-nilai
dan persepsi.

c. Proses konflik
Proses konflik tidak hanya mengacu kepada bentuk konflik yang nampak dari tindakan
yang terbuka dan penuh kekerasan tapi juga bentuk yang tidak nampak seperti situasi
ketidaksepakatan antar pihak. Proses konflik dapat dimulai dari sumber konflik yang meliputi
tujuan yang saling bertentangan dan nilai-nilai yang berbeda. Selanjutnya dapat dilihat
melalui konflik presepsi dan emosi, manifes konflik, dan hasil konflik.
a. Konflik presepsi dan emosi
Langkah pertama dalam proses konflik adalah adanya kondisi yang menunjukkan sumber
konflik yang mengarahkan kepada salah satu atau kedua belah pihak untuk merasakan adanya
konflik. Konflik harus dirasakan oleh pihak-pihak terkait, ada tidaknya konflik merupakan
masalah persepsi. Oleh karena itu satu pihak atau lebih harus sadar akan adanya konflik.
Untuk mengetahui apakah konflik tersebut termasuk konflik persepsi dan emosi dapat dilihat
dari konflik terkait dengan tugas (task related) dan konflik sosioemosional (socioemotional
conflict). Dengan demikian langkah pertama proses konflik adalah adanya konflik yang
dipersepsikan sebagai suatu kesadaran terhadap eksistensi konflik bukan konflik yang
dirasakan secara emosional.

b. Manifes konflik
Manifes konflik terjadi ketika konflik persepsi dan emosi dapat dilihat dalam keputusan
dan prilaku yang dilakukan salah satu pihak kepada pihak lain. Manifes konflik juga dapat
dinyatakan melalui gaya masing-masing dalam memecahkan suatu konflik, seperti seseorang
mencoba untuk mengalahkan yang lain atau menemukan suatu solusi yang
menguntungkannya.
Jadi prilaku merupakan manifes konflik, karena disinilah konflik itu tampak nyata. Prilaku
mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik.
Prilaku konflik ini biasanya secara terang-terangan berupaya untuk melaksanakan keputusan
dalam suatu cara tertentu. Suatu proses dinamis dari interaksi. Dalam manifes konflik
terdapat siklus peningkatan konflik, adanya hubungan timbal balik antara konflik presepsi
dan emosi dengan konflik manifes. Hubungan timbal balik tersebut merupakan rangkaian
peristiwa yang datang secara bersamaan kedalam suatu siklus. Untuk itu suatu kesalahan dan
tindakan yang kurang bijak apabila tidak memahami siklus peningkatan konflik.
Siklus konflik diawali dengan prilaku yang dikomunikasikan kepada pihak lain dengan
cara menciptakan suatu persepsi konflik, sekalipun pihak yang pertama tidak mempunyai
naluri untuk menunjukan konflik, pihak kedua boleh menciptakan persepsi konflik itu.
c. Hasil konflik (Outcames conflict)
Jalinan aksi reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik menghasilkan konsekuensi. Hasil
ini dapat positif dalam arti konflik itu menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok dalam
hal pengambilan keputusan dan kepaduan. Atau menghasilkan negatif dalam arti merintangi
kinerja organisasi yang ditandai dengan adanya pergantian, situasi politik dan stres.

d. Penyelesaian konflik
Usaha manusia untuk meredakan pertikaian atau konflik dalam mencapai kestabilan
dinamakan “akomodasi”. Pihak-pihak yang berkonflik kemudian saling menyesuaikan diri
pada keadaan tersebut dengan cara bekerja sama. Bentuk-bentuk akomodasi :
1. Gencatan senjata, yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna
melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu. Misalnya : untuk melakukan
perawatan bagi yang luka-luka, mengubur yang tewas, atau mengadakan perundingan
perdamaian, merayakan hari suci keagamaan, dan lain-lain.
2. Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang
memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak. Kejadian seperti ini
terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja dalam masyarakat, bersifat spontan dan
informal. Jika pihak ketiga tidak bisa dipilih maka pemerintah biasanya menunjuk
pengadilan.
3. Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan yang
mengikat. Contoh : PBB membantu menyelesaikan perselisihan antara Indonesia dengan
Belanda.
4. Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih
sehingga tercapai persetujuan bersama. Misalnya : Panitia tetap penyelesaikan perburuhan
yang dibentuk Departemeapai kestabilan n Tenaga Kerja. Bertugas menyelesaikan persoalan
upah, jam kerja, kesejahteraan buruh, hari-hari libur, dan lain-lain.
5. Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang
seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi karena
kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur. Sebagai contoh : adu senjata
antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang dingin.
6. Adjudication (ajudikasi), yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.
Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konflik adalah :
1. Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, yang
diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah, kami keluar, dan sebagainya.
2. Subjugation atau domination, yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar
untuk dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. Sudah barang tentu cara ini bukan
suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
3. Majority rule, yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil
keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati
oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan
sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas.
5. Kompromi, yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik.
6. Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-
pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
3. Manajemen Kolaborasi
Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait
baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung
yang menerima akibat dan manfaat. Nilai-nilai yang mendasari sebuah kolaborasi adalah
tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan manfaat,
kejujuran, kasih sayang serta berbasis masyarakat. (CIFOR/PILI, 2005).
Kolaborasi menurut beberapa ahli
1. Jonathan (2004) mendefinisikan kolaborasi sebagai proses interaksi di antara beberapa orang
yang berkesinambungan.
2. Menurut Kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya
dalam usaha penggabungan pemikiran.
3. Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses berpikir dimana pihak
yang terlibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi
dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap apa yang dapat
dilakukan.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan para ahli, dapat disimpulkan bahwa kolaborasi
adalah suatu proses interaksi yang kompleks dan beragam, yang melibatkan beberapa orang
untuk bekerja sama dengan menggabungkan pemikiran secara berkesinambungan dalam
menyikapi suatu hal dimana setiap pihak yang terlibat saling ketergantungan di dalamnya.
Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang
memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator.

Menurut Carpenter (1990), kolaborasi mempunyai 8 karakteristik, yaitu:

1. Partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis.


2. Partisipan bertanggung jawab dalam memastikan pencapaian kesuksesan.
3. Adanya tujuan yang masuk akal.
4. Ada pendefinisian masalah.
5. Partisipan saling mendidik atau mengajar satu sama lain.
6. Adanya identifikasi dan pengujian terhadap berbagi pilihan.
7. Implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan yang terlibat.
8. Partisipan selalu mengetahui perkembangan situasi

4. Manajemen Negosiasi
Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha
untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford,
negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal
1. Proses Negosiasi
a. Pihak yang memiliki program (pihak pertama) menyampaikan maksud dengan kalimat santun,
jelas, dan terinci.
b. Pihak mitra bicara menyanggah mitra bicara dengan santun dan tetap menghargai maksud
pihak pertama.
c. Pemilik program mengemukakan argumentasi dengan kalimat santun dan meyakinkan mitra
bicara disertai dengan alasan yang logis.
d. terjadi pembahasan dan kesepakatan terlaksananya program/ maksud negosiasi

Keterampilan - keterampilan dasar

Berikut ini, adalah keterampilan -keterampilan dasar dalam bernegosiasi :


1. Ketajaman pikiran / kelihaian
2. Sabar
3. Kemampuan beradaptasi
4. Daya tahan
5. Kemampuan bersosialisasi
6. Konsentrasi
7. Kemampuan berartikulasi
8. Memiliki selera humor
2. strategi negosiasi yang dapat digunakan dan dihindari :
 Mengeryit ( The Wince )
Taktik ini dikenal juga dengan istilah Terkejut ( Flinch ) merupakan reaksi negatif
terhadap tawaran seseorang. Dengan kata lain, bertindak terkejut saat negosiasi yang
diadakan pihak negosiator berjalan dengan keinginan pihak lain.
 Berdiam ( The Silence )
Jika Anda tidak menyukai apa kata seseorang, atau jika Anda baru saja membuat tawaran
dan Anda sedang menunggu jawaban, diam bisa menjadi pilihan terbaik Anda. Kebanyakan
orang tidak bisa bertahan dalam kesunyian panjang ( " Dead Air Time" ). Mereka menjadi
tidak nyaman jika tidak ada percakapan untuk mengisi kekosongan antara Anda dan pihak
lain. Biasanya, pihak lain akan merespon dengan konsesi atau memberikan kelonggaran.
 Ikan Haring Merah ( Red Herring )
Istilah ini diambil dari kompetisi tua di Inggris, Berburu Rubah ( Fox Hunting
Competition ). Dalam kompetisi ini, tim lawan akan menyeret dan membaui jejak rubah ke
arah lain dengan ikan. Sehingga, anjing lawan akan terkecoh dan kehilangan jejak. Sama
halnya saat negosiator membawa "ikan amis" atau isu lain ke meja perundingan untuk
mengalihkan perhatian dari isu utama bahasan.
 Kelakuan Menghina ( Outrageous Behaviour )
Segala bentuk perilaku - biasanya dianggap kurang bermoral dan tidak dapat diterima
oleh lingkungan- dengan tujuan memaksa pihak lain untuk setuju. Seperti pihak manajemen
muak dengan tuntutan yang dianggap tidak masuk akal dan terpaksa menandatangi kontrak
dengan air mata kemudian membuangnya secara ganas dan dramatis seolah - olah diliput oleh
media. Tujuan dari taktik ini adalah untuk menggertak orang - orang yang terlibat dalam
negosiasi.
 Yang Tertulis ( The Written Word )
Adalah persyaratan ditulis dalam perjanjian yang tidak dapat diganggu gugat. Perjanjian,
sewa guna usaha ( leasing ), atau harga di atas pahatan batu dan sekarang di kertas ( uang )
adalah contoh - contoh Yang Tertulis.
 Pertukaran ( The Trade-off )
Taktik ini digunakan untuk tawar - menawar. Pertukaran hanya menawarkan konsesi,
sampai semua pihak setuju dengan syarat - syarat. Sebenarnya, taktik ini dipakai untuk
kompromi.
 Ultimatum ( The Ultimatum )
Penggunaan ultimatum kadang-kadang ( seldom ) efektif sebagai taktik pembuka dalam
negosiasi. Namun, suatu saat dalam sebuah negosiasi yang panjang saat Anda merasa Anda
perlu menggunakan taktik ini.
 Berjalan Keluar ( Walking Out )
Pada beberapa situasi, berjalan keluar dapat digunakan sebagai strategi untuk
memberikan tekanan pada pihak lain.
 Kemampuan untuk Mengatakan "Tidak" ( The Ability to Say "No" )
Sebuah taktik memepang peran sangat penting dalam segala macam strategi negosiasi
dan cara menyampaikannya secara tepat. Pertama dan paling dasar untuk mempelajari taktik
ini adalah bahwa apa pun bila mengatakan 'tidak' secara langsung, diterjemahkan oleh pihak
lain sebagai

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang memiliki arti "seni
melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima
secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer
bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memberikan pengaruh kepada
perubahan perilaku orang lain secara langsung maupun tidak. Gaya kepemimpinan dapat
diidentifikasikan berdasarkan perilaku pimpinan itu sendiri
Kepemimpinan merupakan aspek penting bagi seorang pemimpin sebab dia harus mampu
melakukan berbagai aktivitas dan peran kepemimpinan untuk merencanakan, mengerakkan,
motivasi dan mengedalikan angota kelompok mencapai tujuan yang telah di sepakati
bersama. Beberapa model kepemimpinan dapat saja di aplikasikan di lingkungan tempat
seorang pemimpin bekerja untuk memotivasi anggota kelompoknya. Untuk melancarkan
maksud tersebut maka sebagai seorang pemimpin harus mampu memilih prilaku
kepemimpinan mana yang sekiranya tepat untuk dilaksanakan. Disamping kemampuan
berkomunikasi secara efektif kepada anggota kelompoknya. Dengan kemampuan tersebut
maka seorang pemimpin harus mampu melakukan seluruh kegiatan secara efektif dan efisien.
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik bisa disebabkan oleh
perbedaan individu, perbedaan latar belakang kebudayaan, perbedaan kepentingan individu
atau kelompok. Sedangkan cara untuk memecahakan konflik anatara lain elimination,
domination, majority rule, minority consent, kompromi dan integrasi
Kolaborasi adalah bentuk kerjasama, interaksi, kompromi beberapa elemen yang terkait
baik individu, lembaga dan atau pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung
yang menerima akibat dan manfaat. Menurut Carpenter (1990), kolaborasi mempunyai 8
karakteristik, yaitu: partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis, partisipan bertanggung jawab
dalam memastikan pencapaian kesuksesan, adanya tujuan yang masuk akal, ada pendefinisian
masalah, partisipan saling mendidik atau mengajar satu sama lain, adanya identifikasi dan
pengujian terhadap berbagi pilihan, implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan
yang terlibat, partisipan selalu mengetahui perkembangan situasi.
Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha
untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan
Berikut ini, adalah keterampilan -keterampilan dasar dalam bernegosiasi : ketajaman
pikiran / kelihaian, sabar, kemampuan beradaptasi, daya tahan, kemampuan bersosialisasi,
konsentrasi, kemampuan berartikulasi, memiliki selera humor.

B. Saran
Sebaiknya para pemimpin lebih banyak membaca mengenai manajemen

kepemimpinan dalam masalah konflik, kolaborasi, negosiasi agar dia dapat informasi dan

pengetahuan serta wawasan yang lebih luas.


DAFTAR PUSTAKA

caompany ,Saunders.1989.manajemen keperawatan suatu pendekatan sistim.jakarta:


erlangga
sumijatun. 2009.Konsep dasar dan aplikasi pengambilan keputusan klinis. Jatim: trans info
media.
Kuntoro,agus.2010.buku ajar manajemen keperawatan.yogyakarta: kuha medika
http://junaedybonggaupa.blogspot.co.id/2013/05/makalah-manajemen-konflik-
manajemen.html