Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar belakang
Elephantiasis atau filariasis yang dikenal dengan penyakit kaki
gajah mulai ramai diberitakan sejak akhir tahun 2009, akibat terjadinya
kematian pada beberapa orang. Sebenarnya penyakit ini sudah mulai
dikenal sejak 1500 tahun oleh masyarakat, dan mulai diselidik lebih
mendalam ditahun 1800 untuk mengetahui penyebaran, gejala serta upaya
mengatasinya. Baru ditahun 1970, obat yang lebih tepat untuk mengobati
filarial ditemukan. Rubrik ini berusaha menjelaskan mengapa hal tersebut
dapat terjadi dan mengapa penanggulangan Penyakit Kaki Gajah harus
segera dilaksanakan. Penyakit filaria yang disebabkan oleh cacing khusus
cukup banyak ditemui di negeri ini dan cacing yang paling ganas ialah
Wuchereria bancrofti, Brugia, malayi, Brugia timori, Penelitian di
Indonesia menemukan bahwa cacing jenis Brugia dan Wuchereria
merupakan jenis terbanyak yang ditemukan di Indonesia, sementara cacing
jenis Brugia timori hanya didapatkan di Nusa Tenggara Timur, khususnya
di pulau Timor. Di dunia, penyakit ini diperkirakan mengenai sekitar 115
juta manusia, terutama di Asia Pasifik, Afrika, Amerika Selatan dan
kepulauan Karibia. Penularan cacing Filaria terjadi melalui nyamuk
dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi)
ditemukan di Indonesia sebagian besar lainnya memiliki periodisitas
nokturnal dengan nyamuk Culex, nyamuk Aedes dan pada jenis nyamuk
Anopheles. Nyamuk Culex juga biasanya ditemukan di daerah-daerah
urban, sedangkan Nyamuk Aedes dan Anopheles dapat ditemukan di
daerah-daerah rural. (riyanto,harun.2010).

Elephantiasis merupakan penyakit menular (penyakit kaki gajah)


yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis
nyamuk.penyakit ini bersifat menahun, Dan bila tidak dapat pengobatan
daapt menimbulakan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan
alat kelamin, baik perempuan maupun laki-laki. WHO sudah menetapkan

KMB I FILARIASIS Page 1


kesepakatan global (The Global Goal of Elimination of lympatic filariasis
as a public Health Problem by the year 2020). Program eliminasi
dilaksanakan melalui pengobatan misal dengan DEC dan albendazol
setahun sekali selama 5 tahun di lokasi yang endemis dan perawatan kasus
klinis baik yang akut maupun kronis untuk mencegah kecacatan dan
mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan eliminasi
penyakit gajah secara berthap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten
percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan 5 tahun.

B Rumusan masalah
1. apa yang dimaksud dengan elephantiasis?
2. Sebutkan klasifikasi dari elephantiasis?
3. Apa etimologi dari elephantiasis?
4. Jelaskan patofisiologi dari elephantiasis?
5. Gambarkan pathway nursing dari elephantiasis?
6. Jelaskan manisfestasi klinis dari elephantiasis?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari elephantiasis?
8. Apa masalah yang lazim muncul dari elephantiasis?
9. bagaimana cara pencegahan dari elephantiasis?
10. Bagaimana penyuluhan dari elephantiasis?
11. Bagaimana asuhan keperawatan dari elephantiasis?

C Tujuan
1. dapat mengetahui definisi dari elephantiasis
2. Mengetahui klasifikasi dari elephantiasis
3. Mengetahui etimologi dari elephantiasis
4. Dapat memahami patofisiologi dari elephantiasis
5. Mengetahui pathway nursing dari elephantiasis
6. Memahami manifestasi klinis dari elephantiasis
7. Memahami penatalaksanaan dari elephantiasis
8. Mengetahui maslah yang lazim muncul dari elephantiasis
9. Mengetahui cara pencegahan dari elephantiasis
10. Mengetahui penyuluhan dari elephantiasis

KMB I FILARIASIS Page 2


BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Filariasis atau lebih dikenal dengan elephantiasis (kaki gajah) adalah
penyakit akibat nematobe yang seperti cacing yaitu Wuchereria boncrofti.
Brugia malayi san brugia timory yang dikenal sebagai filarial. Infeksi ini
biasanya terjadi pada saat kanak-kanak dan manesfestasi yang dapat terlihat
muncul belakangan, menetap dan menimbulkan ketidak mampuan menetap.
(yuuliana elin, 2011).

B. Klasifikasi
Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai.
Limf edema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:
a. Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal
(reversibel) bila tungkai diangkat.
b. Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal
(irreversibel) bila tungkai diangkat
c. Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila
tungkai diangkat, kulit menjadi tebal.
d. Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada
kulit (elephantiasis). (T.Pohan,Herdiman,2009)

C. Etimologi
Wuchereria buncrofti merupkan cacing dewasa berwarna putih, kecil seperti
benang. Cacing jantan berukuran 40mm x 0,1mm, sedangkan cacing betina
berukuran dua kali cacing jantan yaitu 80-100mm x0,2-0,3 mm.
(sumarmo,2002). Manusia adalah satu-satunya hospes yang diketahui.
Penularannya melalui proboscis (labela) sewaktu gigitan nyamuk yang
mengandung larva inevektif. Larva akan terdeposit di kulit, berpindah
kepembulu limfa berkembang menjadi cacing dewasa selama 6-12 bulan, dan
menyebabkan kerusakan dan pembesaran pembulu limfa. Filarial dewasa hidup

KMB I FILARIASIS Page 3


beberapa tahun di tubuh manusia. Selama peride tersebut filarial berkembang
menghasilkan jutaan microfilaria (umur 3-36 bulan) yang belum masak,
beredar di daerah perifer dan dapat dihisap oleh nyamuk ysng kemudian
menular kepadaa manusia lain. (yuliana Eline, 2011).
Karena filariasis bancrofi dapat berlangsung selama beberapa tahun, maka
dapat mempunyai perputaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi manusia
terhadap infeksi filarial berbeda-beda tidak mungkin stadium ini dibatasi
dengan pasti, sehingga seringkali pembagiannya atas dasar akibat infeksi
filariasis yaitu:
1. Bentuk tanpa gejala
2. Filariasis dengan peradangan
3. Filariasis dengan penyumbatan

KMB I FILARIASIS Page 4


D. PATOFISIOLOGI

Pengisapan microfilarian Metamorphosis


dari darah/jaringan oleh microfilaria didalam Membentuk larva
serangga penghisap darah horpes perantara rabditiform
serangga (nyamuk)

Menuju pembulu Penularan larva infektif


Larva masuk kedalam
darah dan kelenjar kedalam kulit hospes
tubuh lewat luka
limfe baru, melalui proboscis
gigitan
gigitan nyamuk
Menjadi cacing
dewasa Kerusakan getah bening

Microfilaria Proses inflamasi


berkembangbiak dan
meninggalkan induknya
Demam

Menembus dinding
pembulu limfe Nyeri

Hipetermi
Penekanan syaraf oleh
Menuju pembulu darah/
granulasi mikrofilaria
terbawa saluran limfe Penyumbatan darah
kedalam aliran
Stadium menahun Proses menahun (destruksi
Salah satunya menuju ke gangguan syaraf)
ginjal
Granulasi yang proliferative
serta terbentuk veses saluran Kandungan protein naik
limfe yang luas dalam saluran limfe

Terbentuk jaringan ikat dan


kolagen di saluran limfe yang
Hematuria Proteinuria
terinfeksi

Anemia Gangguan eliminasi urine


Semakin membesar

Gangguan citra tubuh Gangguan aktivitas Perubahasn status kesehatan

Kerusakan mobilitas fisik Bergantung pada orang lain


KMB Iketidak
Resiko FILARIASIS
berdayaan Page 5
E. Pathway

Cacing filaria Masuk kedarah Nyamuk filaria Limfe

Produk- Parasit dewasa menginfeksi Sampai kejejaring


produk mikro limfe
organisme

Dilatasi Terbentuk kompleks Mediator Disfungsi


pembulu darah antibody-antigen inflamasi katub

Ansietas Limfe edema Aliran limfe


Hipotalamus
rusak

Intoleransi
Nyeri Hipertensi
aktivitas

F. Manifestasi klinis
1. Gejala tampak setelah 3 bulan infeksi
2. Umumnya masa tunas 8-12 bulan
3. Fase akut menimbulkan peradangan seperti limfangitis, limfadenitis,
funikulitis, epididimitis dan orkitis
4. Gejala dari limfadenitis nyeri local, keras didaerah kelenjar limfe, demam,
sakit kepala dan badan, mual muntah, lesu dan tidak nafsu makan
5. Fase akut dapat sembuh sepontan setelah beberapa haei dan beberapa kasus
mengalami kekambuhan tidak teratur selama berminggu-minggu atau bulan
sebelum sembuh
6. Fase kronik terjadi dengan gejala hidrokel, kiluria, limfedema, dan
elephantiasis. (Issebacher, 2002)

KMB I FILARIASIS Page 6


 Pemeriksaan menunjang
1. Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi memalui pemerikasaan
mikroskopis darah, sampai saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit
dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri
dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja.
(nocturnal periodicity).
2. Selain itu beberpa methode pemeriksaan juga dilakukan untuk
mendiagnosa penyakit kaki gajah. Diantaranya ialah dengan system
yang dikenal sebagai penjaring membrane, method konsentrasi knott
dan teknik pengendapan.
3. Method pemeriksaan yang mendekati kearah duagnosa dan diakui
oleh WHO dengann pemeriksaan system “Tes kartu”, Hal ini
sangatlah sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit
(larva). Yaitu dengan mengambil sempel darah system tusukan jadi
droplets diwaktu kapanpun, tidak harus dimalam hari.
 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan beratnya
penyakit (Addis DG, Dreye G)
1. Terapi medikamentosa
o Diethycarbamazine citrate (DEC)
WHO merekomendasikan DEC dengan dosis 6mg/kgBB untuk 12
hari berturut-turut. Di Indonesia, dosis 6 mg/kgBB memberikan
efek samping yang sangat berat, sehingga pemberian DEC
dilakukan berdasarkan usia dan dikombinasi dengan albendazol.
o Ivermectin
Obat ini merupakan antibiotic semisintetik golongan makrolid yang
berfungsi agent mikrofilarisidal poten. Dosis tunggal 200-
400mg/kg dapat menurunkan microfilaria dalam darah tepi untuk
waktu 24 bulan. Obat belum di gunakan di Indonesia.
o Albendazol
Obat ini digunakanuntuk cacing intestine selama bertahun-tahun
dan baru-baru ini digunakan sebagai anti-filaria. Albendazol hanya

KMB I FILARIASIS Page 7


mempunyai sedikit efek untuk mikrofilaremia dan antigenaemia
jika digunakan sendiri. Dosis 400mg nya dikombinasikan dengan
DEC atau ivermectin efektif menghancurkan microfilaria.
o Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat
menjadi terapi tambahan.
2. Pembedahan
Tindakan bedah pada limfedema bersifat paliatif, indikasi tindakan
bedah jika tidak terdaapat perbaikan dengan terapi konservatif,
limfedema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan pekerjaan
dan menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif.

G. Masalah yang lazim muncul


1. Hipertermia b.d peradangan pada kelenjar getah bening
2. Gangguan eliminasi urine b.d infeksi saluran kemih
3. Nyeri akut b.d pembengkakan getah limfe
4. Gangguan citra tubuh b.d tahap perkembangan penyakit, perubahan stuktur
dan fungsi tubuh
5. Kerusakan mobilitas fisik b.d pembengkakan kelenjar limfe
6. Resiko ketidak berdayaan
7. Ansietas b.d proses penyakit

H. Pencegahan
1. Kontak dengan nyamuk terinfeksi dapat dikurangi memalui penggunaan
obat oles antu nyamuk, kelambu, atau insektisida
2. Mengikuti edukasi yang diberikan tenaga kesehatan atau pemerintah tentang
filariasis (cara penyebaran, pencegahan dll)
3. Bagi yang masih terkena :
 Pencucian dengan sabun dan air dua kali perhari
 Menaikan tungkai yang terkena pada malam hari
 Ekstremitas digerakan teratur untuk melancarkan aliran
 Menjaga kebersihan kuku
 Memakai alas kaki

KMB I FILARIASIS Page 8


 Mengobati luka kecil dengan antiseptic dan atibotik
4. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:
 Pemberantasan nyamuk dewasa
 Anopheles : residual indoor spraying
 Aedes : aerial spraying
5. Pemberantasan jentik nyamuk
 Anopheles : Abate 1%
 Culex : minyak tanah
 Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan
rawa dan saluran air
6. Mencegah gigitan nyamuk
 Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
 Menggunakan repellent

I. Penyuluhan
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu
dilaksanakan sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk
menunjang penanggulangan filariasis. Sasaran penyuluhan adalah penderita
filariasis beserta keluarga dan seluruh penduduk daerah endemis, dengan
harapan bahwa penderita dengan gejala klinik filariasis segera memeriksakan
diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler jari dan minum obat DEC
secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari gigitan nyamuk.
Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan melakukan
pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi mikrofilaria.
(Marty,Aileen,M.2009)

KMB I FILARIASIS Page 9


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ELEPHANTIASIS
A. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan
imun. Cacing filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk
infektif yang mengandung larva stadium III. Gejala yang timbul berupa
demam berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat hilang pada saat istirahat
dan muncul lagi setelah bekerja berat.
b. Aktifitas / Istirahat
1. Gejala : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.
2. Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi
aktivitas (Perubahan TD, frekuensi jantung)
c. Sirkulasi
Tanda : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan
pengisian kapiler
d. Integritas dan Ego
1. Gejala : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan
penampilan, putus asa, dan sebagainya.
2. Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah
e. Integumen
Tanda : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.
f. Makanan / Cairan
1. Gejala : Anoreksia, permeabilitas cairan.
2. Tanda : Turgor kulit buruk, edema.
g. Hygiene
1. Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
2. Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
h. Neurosensoris
1. Gejala : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba,
kelemahan otot.
2. Tanda : Ansietas, refleks tidak normal.

KMB I FILARIASIS Page 10


i. Nyeri / Kenyamanan
1. Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala
2. Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.
j. Keamanan
1. Gejala : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun,
demam berulang, berkeringat malam.
2. Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.
k. Seksualitas
1. Gejala : Menurunnya libido
2. Tanda : Pembengkakan daerah skrotalis
l. Interaksi Sosial
1. Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
2. Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.
m. Pemeriksaan diagnostic
Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat
menggunakan ELISA dan rapid test dengan teknik imunokromatografik
assay. Jika pasien sudah terdeteksi kuat telah mengalami filariasis limfatik,
penggunaan USG Doppler diperlukan untuk mendeteksi pengerakan cacing
dewasa di tali sperma pria atau kelenjer mammae wanita.

B. Diagnosa keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar
getah bening
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe.
3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik
4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota
tubuh
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi
pada kulit

KMB I FILARIASIS Page 11


C. INTERVENSI

N Dx TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL


O KRITERIA HASIL
1. Peningkatan suhu Setelah dilakukan 1. Berikan 1) Mempengaru
tubuh berhubungan tindakan 2 kali 24 kompres pada hi pusat
dengan peradangan jam klien mampu daerah frontalis pengaturan
pada kelenjar getah menunjukan, dan axial. suhu di
bening hipotalamus,
Kriteria hasil; 2. Monitor vital mengurangi
sign, terutama panas tubuh
1. Suhu tubuh suhu tubuh yang
pasien mengakibatk
dalam batas 3. Pantau suhu an darah
normal. lingkungan dan vasokonstriks
2. Nadi dalam modifikasi i sehingga
batas yang lingkungan pengeluaran
diharapkan sesuai panas secara
3. Tidak ada kebutuhan, konduksi
perubahan misalnya 2) Untuk
warna kulit sediakan mengetahui
dan tidak ada selimut yang kemungkinan
pusing tipis perubahan
tanda-tanda
vital
4. Anjurkan kien 3) Dapat
untuk banyak membantu
minum air putih dalam
mempertahan
kan /
5. Anjurkan klien menstabilkan
memakai suhu tubuh

KMB I FILARIASIS Page 12


pakaian tipis pasien.
dan menyerap 4) Diharapkan
keringat jika keseimbanga
panas tinggi n cairan
tubuh dapat
terpenuhi
6. Kolaborasi 5) Dengan
dengan tim pakaian tipis
medis dalam dan
pemberian menyerap
terapi keringat
pengobatan maka akan
(antipiretik) mengurangi
penguapan

6) Diharapkan
dapat
menurunkan
panas dan
mengurangi
infeksi
2. Nyeri berhubungan Setelah di berikan 5. Berikan 1) Meningkatka
dengan terapi keperawatan tindakan n relaksasi,
pembengkakan pada pasien 2x24 kenyamanan memfokuska
kelenjar limfe Nyeri jam, pasen (pijatan / atur n kembali
hilang mengeluhkan nyeri posisi), ajarkan perhatian
Untuk mengurangi teknik relaksasi. dapat
rasa nyeri pada meningkatka
pasien. 6. Observasi nyeri n koping.
(kualitas, 2) Menentukan
Klasifikasi hasil : intensitas, intervensi
1. Mampu durasi dan selanjutnya

KMB I FILARIASIS Page 13


mengontrol frekuensi dalam
nyeri nyeri). mengatasi
2. Melaporork nyeri
an nyeri 3) Nyeri berat
telah 7. Anjurkan dapat
berkurang pasien untuk menyebabka
3. Mampu melaporkan n syok
mengenali dengan segera dengan
nyeri (skala, apabila ada merangsang
frekuensi nyeri. sistem syaraf
dan tanda simpatis,
nyeri) 8. Kolaborasi mengakibatk
4. Menyatakan dengan tim an kerusakan
rasa nyaman medis dalam lanjutan.
setelah pemberian 4) Diberikan
nyeri terapi untuk
berkurang. pengobatan menghilangk
(obat anelgetik) an nyeri.
3. Harga Diri Rendah Setelah di berikan 1. Akui 1) Memberi
berhubungan tindakan selama kenormalan petunjuk bagi
dengan perubahan 2x24 jam, klien perasaan. pasien dalam
fisik HDR pasien tidak memandang
rendah 2. Dengarkan dirinya,
keluhan adanya
Klasifikasi hsail: pasien dan perubahan
1. Menunjukan tanggapan – peran dan
penilaian tanggapann kebutuhan,
pribadi ya dan berguna
tentang mengenai untuk
harga diri keadaan memberikan
2. Mengungkap yang 2informasi
kan dialami. pada saat

KMB I FILARIASIS Page 14


penerimaan tahap
diri 3. Perhatikan penerimaan.
3. Mengatakan perilaku
optimize menarik 2) Mengidentifi
tentang diri, kasi tahap
masa depan mengangga kehilangan /
p diri kebutuhan
negatif, intervensi.
penggunaan
penolakan 3) Melihat
atau tudak pasien dalam
terlalu kluarga,
menpermasa mengurangi
lahkan perasaan
perubahan tidak
actual. berguna,
tidak
berdaya, dan
4. Anjurkan persaan
kepada terisolasi dari
orang lingkungan
terdekat dan dapat
untuk pula
memperlaku memberikan
kan pasien kesempatan
secara pada orang
normal terdekat
(bercerita untuk
tentang meningkatka
keluarga) n kesejahtera.

5. Terima 4) Membina

KMB I FILARIASIS Page 15


keadaan suasana
pasien, teraupetik
perlihatkan pada pasien
perhatian untuk
kepada memulai
pasien penerimaan
sebagai diri.
individu.
5) Fokus
informasi
6. Berikan harus
informasi diberikan
yang akurat. pada
Diskusikan kebutuhan –
pengobatan kebutuhan
dan sekarang dan
prognosa segera lebih
dengan jujur dulu, dan
jika pasien dimasukkan
sudah dalam tujuan
berada pada rehabilitasi
fase jangka
menerima panjang

6) Mungkin
7. Kolaborasi : diperlukan
Rujuk untuk sebagai
berkonsultas tambahan
i atau untuk
psikoterapi menyesuaika
sesuai n pada
dengan perubahan

KMB I FILARIASIS Page 16


indikasi gambaran
Pengenalan diri.
perasaan
tersebut 7) Meningkatka
diharapkan n keadaan
membantu pada harga
pasien diri yang
untuk rendah.
menerima
dan
mengatasiny
a
secaraefekti
f.
4. Mobilitas fisik Setelah klien 5. Lakukan 1) Meningkatka
terganggu dibelikan tindakan Retang n kekuatan
berhubungan selama 2x24 jam Pergerakan otot dan
dengan klien, Menunjukkan Sendi (RPS) mencegah
pembengkakan pada perilaku yang 6. Tingkatkan kekakuan
anggota tubuh mampu kembali tirah baring / sendi
melakukan aktivitas duduk. 2) Meningkatka
7. Berikan n istirahat
Klasifikasi hasil: lingkungan dan
1. Klien yang tenang. ketenangan,
meningkat 8. Tingkatkan menyediakan
dalam aktivitas sesuai enegi untuk
aktivitas fisik toleransi. penyembuha
2. Mengerti n
tujuan dari 9. Evaluasi respon 3) tirah baring
meningkatka pasien terhadap lama dapat
n mobilitas aktivitas 1. meningkatka
3. Memverbalis Meningkatkan n kemampua

KMB I FILARIASIS Page 17


asikan kekuatan otot 4) Menetapkan
perasaan dan mencegah kemampuan
dalam kekakuan sendi / kebutuhan
meningkatka pasien dan
n kekuatan memudahka
dan n pilihan
kemampuan intervensi
berpindah 5) kelelahan
4. Memperagak dan
an alat bantu
membantu
untuk
keseimbanga
mobilitas
ns
(walker)
5. Kerusakan integritas Mempertahankan 1. Ubah posisi di 1) Mengurangi
kulit berhubungan keutuhan kulit, lesi tempat tidur dan resiko abrasi
dengan bakteri, defisit pada kulit dapat kursi sesering kulit dan
imun, lesi pada kulit hilang mungkin (tiap 2 penurunan
jam sekali). tekanan yang
2. Gunakan dapat
pelindung kaki, menyebabkan
bantalan busa/air kerusakan
pada waktu aliran darah
berada di tempat seluler.
tidur dan pada 2) Tingkatkan
waktu duduk di sirkulasi udara
kursi. pada
3. Periksa permukaan
permukaan kulit kulit untuk
kaki yang mengurangi
bengkak secara panas/
rutin. kelembaban.
4. Anjurkan pasien 3) Kerusakan
untuk melakukan kulit dapat

KMB I FILARIASIS Page 18


rentang gerak terjadi dengan
5. Kolaborasi : cepat pada
Rujuk pada ahli daerah –
kulit. daerah yang
Meningkatkan beresiko
sirkulasi, dan terinfeksi dan
mencegah nekrotik.
terjadinya 4) Meningkatkan
dekubitus. sirkulasi, dan
meningkatkan
partisipasi
pasien.
5) Mungkin
membutuhkan
perawatan
profesional
untuk masalah
kulit yang
dialami

6. Resiko Setelah di berikan 1. Tunjukan rasa 1) Bantu pasien


ketidakberdayaan, tindakan selama 2x24 percaya diri mengidentifik
beresiko terhadap jam klien beresiko terhadap pasien asi factor-
pengalaman hidup ketidakberdayaan untuk mengatasi faktor yang
kurang terkendali terhadap situasi situasi dapat
terhadap situasi. 2. Dorong pasien menimbulkan
Kriteria hasil: untuk mengatasi ketidak
1. Kepercayaan situasi berdayaan
kesehatan : 3. Ajarkan 2) Diskusikan
Presepsi keterampilan dengan pasien
kemampuan prilaku yang tentang
2. Kepercayaan positif pilihan yang
kesehatan: 4. Dukung realitas dalam

KMB I FILARIASIS Page 19


presepsi peningkatan perawatan
kendali tanggung jawab 3) Libatkan
3. Manunjukan diri, jika pasien dalam
penilaian diperlukan mengambil
pribadi 5. Buat statement keputusan
ttentang positif terhadap tentang
harga diri pasien perawat
4. Mengungkap 6. Dukung pasien 4) Jelaskan alas
kan untuk menerima an setiap
penerimaan tantangan baru perubahan
diri 7. Kaji alas an- perencanaan
5. Komunikasi alasan untuk perawaatan
terbuka mengeritik atau terhadap
6. Mengatakan menyalahkan diri pasien
optimisme sendiri 5) Dukungan
tentang masa 8. Kolaborasi pengambilan
depan dengan sumber- keputusan
7. Menggunaka sumber lain 6) Kaji
n kopping (petugas dinas kemampuan
efektif social, perawat untuk
8. Body image specialis klinis, mengambil
positif dan layanan keputusan
o
keagamaan)
o 7) Beri
penjelasan
pada pasien
tentang
proses
penyakit
7. Perasaan tidak Setelah diberikan 1. Gunakan 1) Jelaskan alas
nyaman atau tindakan 2x24 jam pendekatan an untuk
kekawatiran yang klien mengalami yang relaksasi dan
samar disertai respon kekawatiran yang menenangkan manfaat,

KMB I FILARIASIS Page 20


autonom (sumber samar disertai respon 2. Nyatakan batas, dan
ssering sekali tidak autonom dengan jelas jenis relaksasi
diketahui oleh harapan yang tersedia
individu) Klasifikasi hasil: terhadap 2) Menciptkan
perilaku pasien lingkungan
1. Klien mampu 3. Jelaskan semua yang tenang
mengidentifi prosedur dan dan cahaya
kasi, apa yang redup dan
mengungkap dirasakan suhu yang
kan dan selama senyaman
menunjukan prosedur mungkin
tehnik untuk 4. Pahami 3) Ajak pasien
mengontrol prespentif untuk
cemas pasien bersantai dan
2. Vital sign terhadap membiarkan
dalam batas situasi stress sensasi terjadi
normal 5. Temani pasien 4) Menunjukan
3. Postur tubuh, untuk dan berlatih
ekspresi memberikan relaksasi
wajah, keamanan dan dengan pasien
bahasa tubuh mengurangi
dan tingkat rasa takut
aktivitas 6. Dorong
menunjukan keluarga untuk
berkurangny menemani
a kecemasan 7. Lakukan
back/neckrub
8. Dengarkan
dengan penuh
perhatian
9. Identifikasi
tingkat
kecemasan

KMB I FILARIASIS Page 21


10. Dorong pasien
untuk
mengungkapka
n perasaan,
ketakutan,
presepsi
11. Intruksikan
pasien
menggunakan
teknik relaksasi
12. Berikan obat
untuk
mengurangi
kecemasan

D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No. Diagnose Tanggal dan Implementasi Evaluasi


waktu
1. Hipertensi 23 september 1. Memantau TD, nadi, S:
2017 dan RR - Klien
(pagi, siang, 2. Mencatat mengataka
malam) keberadaan, kalitas n tidak
denyutan sentral dan adanya
perifer perdaraha
3. Mengamati warna n di
kulit, kelembaban hidung
suhu, dan masa - Klien
pengisian kapiler mengataka
4. Mencatat edema n
umumdan tertentu merasakan

KMB I FILARIASIS Page 22


5. Memberikan tidak
lingkungan tenang, pusing
nyaman, kurangi lagi
aktivitas/keributan - Klien
lingkungan mengataka
6. Melakukan tindakan n merasa
yang nyaman tidak
7. Menganjurkan lemas
tekhnik relaksi, kelelahan
panduan dan lagi
imajinasi - Klien
8. Memantau respons mengataka
terhadap obat untuk n merasa
mengontrol tekanan tidak
darah. gelisah
9. Berkolaborasi lagi
memberikan obat- - Klien
obatansesuai mengataka
indikasi n tidak
kesulitan
bernafas
O:
- Klien
tampak
tenang
- Klien
tampak
tidak
lemah
- Ttv
TD:120/8
0mmHg

KMB I FILARIASIS Page 23


ND:90
X/Menit
RR:37,5
X/Menit
- Turgor
kulit baik
(elastic)
- Kuku
tidak
pucat
- Pada leher
tidak
terdapat
bising
karotis
- Tidak
adanya
suara
nafas :
Ronchi,W
heezing
- Pada
abdomen
adanya
edema
A:
Maslah klien
teratasi, klien jadi
tenang
P:
- Intervensi
di

KMB I FILARIASIS Page 24


hentikan

2. Nyeri 23 september 1. Mendemonstrasikan S:


2017 kepada klien - klien
(pagi, manajemen nyeri mengatakl
siang,malam) dengan teknik an nyeri
relaksasi nafas sedikit
dalam. berkurang
2. Memeriksa tanda- O:
tanda Vital. - klien
mampu
melakuka
n teknik
nafas
dalam.
- Ttv
TD : 120/80
mmHg
RR :
20x/menit
N :
80x/menit
S : 37°C

A: masalah
bwlum teratasi
P:
- Klien
tampak
tidak
meringis
lagi

KMB I FILARIASIS Page 25


- Monitor
tanda-
tanda vital
1. Teknik
relaksasi
nafas
dalam
3. Harga diri rendah 23 september 1. Mengidentifikasi S:
2017 kemampuan dan - Klien
(paagi, siang, aspek positif yang mengataka
malem) dimiliki pasien n bisa
2. Memantau pasien menyapu,
menilai kemampuan mengepel
pasien yang masih lantai dan
dapat digunakan membantu
3. Membantu pasien kegiatan
memilih kegiatan harian di
yang akan dilatih ruangan
sesuai dengan lainnya
kemampuan - Klien
4. Melatih pasien mengataka
sesuaai kemampuan n lebih
yang dipilih senang
5. Memberikan pujian dan
yang wajar terhadap menyapu
keberhasian pasien O:
6. Menganjurkan - Klien
pasien untuk mendemo
memasukan ke nstrasikan
dalam jadwal harian menyapu
lantai
dengan

KMB I FILARIASIS Page 26


bantuan,
dengan
motivasi,
dengan
wajah
senang
dan tanpa
paksaan
- Klien
memasuka
n ke
dalam
jadwal
harian
P:
- Ulangi
intervensi
SP1
- Bimbinga
n klien
untuk
melakuka
n kegian
sesuai
jaadwal
07.00
menyapu
ruang
tidur,
08.00
menyapu
ruangan

KMB I FILARIASIS Page 27


makan,
13.00
menyapu
ruang
makan

4. Mobilisasi fisik 23 september 1. Mengkaji kondisi S:


2017 pasien - Klien
(pagi, siang, sudah
sore) tidak bisa
berdiri
dan
duduk.
- Klien
mengataka
n ia tidak
bisa
menggera
kan
kakinya
O:
- Klien
melakuka
n
melakuka
n seluruh
aktivitas
diatas
kasur

5. Kerusakan 23 september 1. Mengkaji skala nyeri S:


integritas kulit 2017 dan lokasi nyeri - Klien

KMB I FILARIASIS Page 28


(pagi,siang, 2. Mengajarkan pasien mengataka
sore) teknik relaksasi n nyeri
pernapasan dalam pada luka
3. Member analgetik O:
inj keterolc 1 amp - Skala
melalui vena nyeri 3
4. Mengajurkan pasien A:
untuk istirahat saat - Masalah
merasakan nyeri belum
5. Memberikan teratasi
analgetik inj. P:
Keterolix 1 amp - Intervensi
melalui vena dilanjutka
n
6. Perasaan tidak 23 september 1. Kolaborasi dengan - Gangguan
nyaman 2017 dokter pemberian rasa aman
(pagi, siang, obat dan
malam) 2. Kolaborasi dengan nyaman:
dokter pemberian - Peningkat
cairan infuse an suhu
tubuh
dapat
teratasi
- Dengan
ditandai:
DS:
- Klien
tidak lagi
mengeluh
panas
pada
seluruh

KMB I FILARIASIS Page 29


tubuhnya
DO:
- Klien
tidak
bersuara
mendengk
ur karna
suhu
tubuh

KMB I FILARIASIS Page 30


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang
yang disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang disebut filaridae.,
dimana cacing dewasanya hidup dalam cairan san saluran limfe, jaringan ikat
di bawah kulit dan dalam rongga badan. Cacing dewasa betina mengeluarkan
mikrofilaria yang dapat ditemukan dalam darah, hidrokel, kulit sesuai dengan
sefat masing-masing spesiesnya.
Penyakit filariasis banayak ditemukan di berbagai negara tropik dan
subtropik, termasuk Indonesia. Prevalensi tidak banyak berbeda menurut jenis
kelamin, usia maupun ras.
Penyakit filariasis dapat disebabkan oleh berbagai macam spesies, sehingga
gambaran klinisnya spesifik untuk masing-masing spesies, misalnya bentuk
limfatik biasnya digunakan sebagai tanda bahwa penyakit tersebut disebabkan
oleh Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, dimana parasit
dapat menyumbat saluran limfe dengan manifestasi terbentuknya elefantiasis,
sedangkan Loa loa ditandai dengan calabar swelling. Onchocerca volvulus
menyebabkan kebutaan dan pruritus pada kulit.

B. Saran
Demikianlah makalah pleno ini kami susun dengan penuh kerjasama.
Diharapkan dengan adanya makalah pleno ini mahasiswa dapat menambah
wawasan mengenai penyakit Filariasis. Selain itu mahasiswa juga mampu
memahami secara teoritis mengenai penyakit ini serta mampu mebuat asuhan
keperawtan tentang kasus Filariasis
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah referensi akademik
untuk melengkapi bahan pembelajaran dan motivasi mahasiswa untuk
mengetahui lebih banyak lagi tentang penyakit Filariasis. Kelompok menyadari
bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, saran dan kritik

KMB I FILARIASIS Page 31


yang membangun sangat diharapkan untuk dapat memperbaiki penulisan
makalah ini selanjutnya.

KMB I FILARIASIS Page 32


DAFTAR PUSTAKA

Huda nurarif, S.kep.,Ns, kusumahardhi,S.kep.,kep.,Ns, Asuhan keperawatan


praktis, edisi revisi jilid 2

Dep.Kes RI.(2003).Leaflet:eliminasi penyakit kaki gajah(filariasis)di Indonesia.DASK


Dinkes:prov.kalbar.

Doengoes M.E,Geisler A.C.moorhouse M.F.(2000).rencana asuhan keperawatan :


pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien,edisi 3.jakarta :
EGC.

http://www.ilmukeperawatan/askep-elephantiasis/

KMB I FILARIASIS Page 33