Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam thypoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan


oleh Salmonella thypi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit
ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena
penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisai, kepadatan penduduk,
kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar
higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah (Simanjuntak, C,H,
2009).

Demam thypoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran
pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan, 2007)

Demam thypoid (enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya
mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu
minggu, gangguan pada pencernaan, dan gangguan kesadaran. (Nursalam,
2005)

Badan kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus Demam


Thypoid di seluruh dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian
tiap tahunnya. Demam Thypoid merupakan penyakit infeksi menular yang
dapat terjadi pada anak maupun dewasa. Anak merupakan yang paling rentan
terkena Demam Thypoid, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan
dari dewasa, dihampir semua daerah endemik insiden Demam Thypiod
banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun ( Hadinegoro, SpA 2010).
rnDemam Typhoid masih merupakan masalah kesehatan yg penting di
berbagai negara sedang berkembang. Besarnya angka pasti demam typhoid di
dunia ini sangat sukar ditentukan, sebab penyakit ini dikenal mempunyai

KMB Thypoid Page 1


gejala dengan spectrum klinisnya sangat luas. Di perkirakan angka kejadian
dari 150/100.000/ tahun.rn Demam tifoid menyerang penduduk di semua
negara. Seperti penyakit menular lainnya , tifoid banyak di temukan di negara
berkambang yang higiene pribadi dan sanitasi lingkungannya kurang baik.
Prevalensi kasus bervariasi tergantung dari lokasi, kondisi lingkungan
setempat, dan perilaku masyarakat. Angka insiden di Amerika sekitar tahun
1990 adalah 300-500 kasus per tahun dan terus menurun. Prevalensi di
Amerika Latin sekitar 150/100.000 penduduk setiap tahunnya, sedangkan
pervalensi di Asia jauh lebih banyak yaitu sekitar 900/10.000 penduduk per
tahun. Meskipun demam tifoid menyerang semua umur, namun golongan
terbesar tetap pada usia kurang dari 20 tahun (Dr. Widoyono,MPH 2008)rn
Prevalensi demam typhoid paling tinggi pada usia 5 -9 tahun karena pada usia
tersebut orang-orang cenderung memiliki aktivitas fisik yang banyak, atau
dapat dikatakan sibuk dengan pekerjaan dan kemudian kurang
memperhatikan pola makannya, akibatnya mereka cenderung lebih memilih
makan di luar rumah, atau jajan di tempat lain, khususnya pada anak usia
sekolah, yang mungkin tingkat kebersihannya masih kurang dimana bakteri
Salmonella thypii banyak berkembang biak khususnya dalam makanan
sehingga mereka tertular demam typhoid. Pada usia anak sekolah, mereka
cenderung kurang memperhatikan kebersihan/hygiene perseorangannya yang
mungkin diakibatkan karena ketidaktahuannya bahwa dengan jajan makanan
sembarang dapat menyebabkan tertular penyakit demam typhoid (Robert,
2007).rnDemam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia.
Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-
undang no.6 tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini
merupakan penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang
sehingga dapat menimbulkan wabah.rn Surveilans Departemen Kesehatan RI,
frekuensi kejadian demam tifoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2
dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15,4/10.000
penduduk. Dari survai berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981
sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar
35,8% yaitu dari 19.596 menjadi 26.606 kasus.rn Insiden demam tifoid

KMB Thypoid Page 2


bervariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan, di
daerah rural 157 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan di daerah urban
ditemukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedan insiden di perkotaan
berhubungan erat dengan penyadian air bersih yang belum memadai serta
sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi
syarat kesehatan lingkungan.rn Case fatality rate (CRF) demam tifoid di
tahun 1996 sebasar 1,08% dari seluruh kematian di Indonesia. Namun
demikian berdasarkan hasil survei Kesehatan Rumah Tangga Departemen
Kesehatan RI (SKRT Depkes RI) tahun 1995 demam tifoid tidak termasuk
dalam 10 penyakit dengan mortalitas tinggi ( (-Sudoyo dkk, Ilmu penyakit
Dalam, 2009).

C. Rumusan Masalah

a. Apa pengertian demam thyfoid?


b. Apa saja penyebab demam tifoid?
c. Bagaimana gejala dan tanda demam thyfoid
d. Bagaimana manifestasi klinis dari demam thyfoid?
e. Komplikasi apa saja yang terjadi pada penderita demam thyfoid?
f. Bagaimana penanganan atau pencegahan demam thyfoid?
B. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian demam thyfoid
b. Untuk mengetahui apa saja penyebab dari demam thyfoid
c. Untuk mengetahui gejala dan tanda yang terjadi pada demam thyfoid
d. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari demam thyfoid
e. Untuk mengetahui komplikasi yang disebabkan oleh demam thyfoid
f. Untuk mengetahui pemeriksaan apa saja yang baik untuk penderita demam
thyfoid

KMB Thypoid Page 3


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
cerna, dengan gejala demam kurang lebih 1 minggu, gangguan pada
pencernaan, dan gangguan kesadaran. Penyakit infeksi dari Salmonella ialah
segolongan penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejumlah besar spesies
yang tergolong dalam genus salmonella, biasanya mengenai saluran
pencernaan. (Hasan & Alatas, 1991, dikutip Sodikin, 2011 : hal.240).
Thypoid merupakan penyakit infeksi yang terjadi pada usus halus yang di
sebabkan oleh salmonella thypi. Penyakit ini dapat di tularkan melalui makan,
mulut, atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman salmonella thypi,
(A.Aziz Alimul Hidayat, 2008 : hal.120)
Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang melebihi satu minggu, gangguan pada
pencernaan, dan gangguan kesadaran, penyebab penyakit ini adalah
salmonella thyphosa, basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar,
tidak berspora. (Ngastiyah, 2005 : hal.236)
Thypoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi
salmonella thypoi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang
sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang sudah terinfeksi
kuman salmonella. (Bruner and Sudart, 1994)

B. Etiologi

Etiologi demam thypoid adalah salmonella thypi (S.thypi) 90 % dan


salmonella parathypi (S. Parathypi Adan B serta C). Bakteri ini berbentuk
batang, gram negatif, mempunyai flagela, dapat hidup dalam air, sampah dan
debu. Namun bakteri ini dapat mati dengan pemanasan suhu 600 selama 15-
20 menit. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, pasien membuat antibodi atau
aglutinin yaitu :

KMB Thypoid Page 4


a. Aglutinin O (antigen somatik) yang dibuat karena rangsangan antigen O
(berasal dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H (antigen flagela) yang dibuat karena rangsangan antigen H
(berasal dari flagel kuman).
c. Aglutinin V (envelope) terletak pada kapsul yang dibuat karena
rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman).

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan


titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar pasien menderita
tifoid. (Aru W. Sudoyo, 2009)

C. Patofisiologi

Bakteri Salmonella typhi bersama makanan atau minuman masuk ke


dalam tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana
asam (pH < 2) banyak bakteri yang mati. Keadaan-keadaan seperti
aklorhidiria, gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2,
inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi
dosis infeksi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Di usus
halus, bakteri melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa
dan menembus dinding usus, tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M, sel
epitel khusus yang melapisi Peyer’s patch, merupakan tempat internalisasi
Salmonella typhi. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus, mengikuti aliran
ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik
sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami
multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe, kelenjar
limfe mesenterika, hati dan limfe.

Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya


ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka
Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus torasikus
masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Dengan cara ini organisme dapat
mencapai organ manapun, akan tetapi tempat yang disukai oeh Salmonella

KMB Thypoid Page 5


typhi adalah hati, limpa, sumsum tulang belakang, kandung empedu dan
Peyer’s patch dari ileum terminal. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik
secara langsung dari darah atau penyebaran retrograd dari empedu. Ekskresi
organisme di empedu dapat menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan
melalui tinja. Peran endotoksin dalam patogenesis demam tifoid tidak jelas,
hal tersebut terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksin dalam sirkulasi
penderita melalui pemeriksaan limulus. Diduga endotoksin dari Salmonella
typhi menstimulasi makrofag di dalam hati, limpa, folikel limfoma usus halus
dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain.
Produk dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem
vaskular yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang belakang, kelainan
pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik. (Soedarmo, dkk., 2012)

D. Manifestasi Klinis
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3-30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala
prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) :
a. Perasaan tidak enak badan, panas dingin
b. Lesu, tidak nafsu makan, mual
c. Nyeri kepala
d. Diare atau sebaliknya
e. Anoreksia, kehilangan berat badan
f. Batuk, nyeri otot
g. Nyeri perut, perut kaku dan bengkak
h. Menyusul gejala klinis yang lain
1. Demam
Demam berlangsung 3 minggu
Minggu I : demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan
meningkat pada sore dan malam hari
Minggu II : demam terus mengigau
Minggu III : demam mulai turun secara berangsur-angsur

KMB Thypoid Page 6


2. Gangguan pada saluran pencernaan
o Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi
kemerahan, jarang di sertai tremor
o Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan
o Terdapat konstipasi, diare
3. Gangguan kesadaran
Kesadaran yaitu apatis-somnolen
Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan pada kulit karena
emboli dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996)

E. Pemeriksaan dan diagnostik

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah


pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :

1. Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid


terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya
leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam
typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas
normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder

2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT


SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat
kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

3. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila
biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam
typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa
faktor:

KMB Thypoid Page 7


a. Teknik pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan


laboratorium yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan
media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik
adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia
berlangsung.

b. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu


pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu
kambuh biakan darah dapat positif kembali.

c. Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat


menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatif.

d. Pengobatan dengan obat anti mikroba

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti


mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil
biakan mungkin negatif.

4. Uji widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan


antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi
terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang
pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah
suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam
serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

KMB Thypoid Page 8


a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
c. Aglutinin VI, yang dibuat karena rangsangan antigen VI (berasal dari
simpai kuman).

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan


titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typhoid.

F. Penatalaksanaan

1. Observasi

a. Pasien harus tirah baring absolute sampai 7 hari bebas demam atau
kurang lebih dari selam 14 hari. MAksud tirah baring adalah untuk
mencegah terjadinya komplikasi perforasi usus.
b. Mobilisasi bertahap bila tidak panas, sesuai dengan pulihnya kekuatan
pasien.
c. Pasien dengan kesadarannya yang menurun, posisi tubuhnya harus
diubah pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi
pneumonia dan dekubitus.
d. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang
terjadi konstipasi dan diare.

2. Diet

a. Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.


b. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
c. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
d. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam
selama 7 hari

KMB Thypoid Page 9


3. Pengobatan

Obat-obatan yang umumnya digunakan antara lain:

a. Anti Biotik (Membunuh Kuman) :

1. Klorampenicol

2. Amoxicilin

3. Kotrimoxasol

4. Ceftriaxon

5. Cefotaxim

b. Antipiretik (Menurunkan panas): Paracetamol (Smeltzer & Bare. 2002)

G. Konsep dasar keperawatan

a. Pengkajian

1) Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,


suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit,
nomor register dan diagnosa medik

2) Keluhan utama

Keluhan utama demam thypoid adalah panas atau demam yang tidak
turun-turun, nyeri perut, pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diare
serta penurunan kesadaran.

3) Riwayat penyakit sekarang

Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi ke


dalam tubuh.

KMB Thypoid Page 10


4) Riwayat penyakit dahulu

Apakah sebelumnya pernah sakit demam thypoid.

5) Riwayat penyakit keluarga

Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.

6) Pola-pola fungsi kesehatan

a) Pola nutrisi dan metabolisme

Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena


mual dan muntah saat makan sehingga makan hanya
sedikit bahkan tidak makan sama sekali.

b) Pola eliminasi

Klien dapat mengalami konstipasi oleh karena tirah baring


lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan,
hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan
demam thypoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat
keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat
meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.

c) Pola aktivitas dan latihan

Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar
tidak terjadi komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.

d) Pola tidur dan istirahat

Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu


tubuh.

e) Pola persepsi dan konsep diri

Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap keadaan


penyakit anaknya.

KMB Thypoid Page 11


f) Pola sensori dan kognitif

Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan


umumnya tidak mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu
waham pada klien.

b. Pemeriksaan fisik

Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38 – 41°C muka


kemerahan. Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).

H. Diagnosa keperawatan

1) Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma

2) Kurangnya volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh,


intake cairan peroral yang kurang (mual, muntah)

3) Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cidera biologis atau infeksi

I. Intervensi keperawatan

No. Dx

Tujuan Dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

a. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh pasien dapat


turun, kriteria:

- Suhu tubuh stabil 36-37 C

- Tanda-tanda vital dalam rentang normal :

KMB Thypoid Page 12


1. Pantau suhu tubuh pasien setiap 4 jam

2. Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai anjuran

3. Turunkan panas dengan melepaskan selimut atau menanggalkan


pakian yang terlalu tebal, beri kompres pada aksila dan liatan paha.

4. Observasi adanya konfusi disorientasi

5. Berikan cairan IV sesuai yang dianjurkan.

b. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan cairan


terpenuhi, kriteria

- Tidak mual

- Tidak demam

- Suhu tubuh dalam batas normal

 Jelaskan kepada pasien tentag pentingnya cairan


 Monitor dan catat intake dan output cairan
 Kaji tanda dan gejala dehidrasi hypovolemik, riwayat muntah,
kehausan dan turgor kulit
 Berikan cairan peroral pada klien sesuai kebutuhan
 Anjurkan kepada orang tua klien untuk mempertahankan asupan
cairan secara dekuat
 Kolaborasi pemberian cairan intravena
o Agar pasien dapat mengetahui tentang pentingnya
cairan dan dapat memenuhi kebutuhan cairan.
o Untuk mengetahui keseimbangan intake da output cairan
o Hipotensi, takikardia, demam dapat menunjukkan respon
terhadap dan atau efek dari kehilangan caira
o Cairan peroral akan membantu memenuhi kebutuhan caira
o Asupan cairan secara adekuat sangat diperlukan untuk
menambah volume cairan tubuh

KMB Thypoid Page 13


o Pemberian intravena sangat penting bagi klien untuk
memenuhi kebutuhan cairan yang hilang.

c. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien menunjukkan tingkat


kenyamanan meningkat, kriteria:

- Pasien dapat melaporkan nyeri berkurang Frekuensi nyeri

- Tanda-tanda vital dalam batas normal

 Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensi


 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
 Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan.
 Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk
mengetasi nyeri.
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
o Respon nyeri sangat individual sehingga penangananya pun
berbeda untuk masing-masing individu.
o Menngetahui tingkat kenyamanan
o Lingkungan yang nyaman dapat membantu klien untuk
mereduksi nyeri.
o Pengalihan nyeri dengan relaksasi dan distraksi dapat
mengurangi nyeri yang sedang timbul.
o Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu klien untuk
beradaptasi dan mengatasi nyeri.

KMB Thypoid Page 14


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella thypi A,B,C. sinonim dari
penyakit ini adalah thypoid dan parathypoid abdominalis, (Syaifullah
Noer, 1998).
Demam thypoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran
pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Penyakit Infeksi
Tropik Pada Anak, 1993)

B. Saran
1. Makanlah makanan dan minuman yang sudah pasti matang
2. Lindungi makanan dari lalat, kecoa dan tikus ataupun hewan
peliharaan
3. Cucilah tangan dengan sabun setelah beraktivitas
4. Hindari jajan di tempat yang kurang bersih

KMB Thypoid Page 15


DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Susilo. (2011). Pengobatan Demam Tifoid. Yogyakarta: Nuha Medika

Mansjoer, Arif. (2009). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Simanjuntak, C. H. (2009). Demam Tifoid, Epidemiologi dan Perkembangan


Penelitian. Cermin Dunia Kedokteran No. 83. Jakarta. Nuha

Sjamsuhidayat. (1998). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta: EGC

Smeltzer & Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta: EGC

Soedarmo, dkk. (2012). Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Jakarta: IDAI

Widodo, D. (2007). Buku Ajar Keperawatan Dalam. Jakarta: FKUI

Minoto, Sastro, 2013 Askep Thypoid, 18 September 2017

(file:///D:materi%20kuliah/smester%20lv/kelompok%203/data%20thypoid/KUM
PULAN%20ASKEP%20%20%20askep%20thypoid%20pada%20anak.html)

KMB Thypoid Page 16