Anda di halaman 1dari 41

MANAJEMEN KOPERASI dan UMKM

SAP 10-11

STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN KOPERASI dan UMKM

Oleh:

Kelompok 9:
GEDE EKA YASA 1607532016
I GEDE DIKA WAISNA PUTRA 1607532030
MADE BAYU SUARTAMA 1607532032

Kelompok 10:
NI KETUT RAI RISKATARI 1607532023
NI PUTU LAKSMI NARAYANTI 1607532024
NI KADEK SRI RAHAYU 1607532013

PROGRAM REGULER DENPASAR


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
Materi Pokok:

1. Sistem Informasi Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

2. Karakteristik Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

3. Standar Akuntansi Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

PEMBAHASAN

1. Sistem Informasi Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

Manajemen Koperasi dan UMKM, sebagaimana telah diuraikan pada bab

sebelumnya, dilakukan secara terbuka terutama untuk anggota-anggotanya.

Keterbukaan, dalam hal ini, tidaklah berarti bahwa semua informasi usaha, keuangan,

organisasi, dan ketatalaksanaan koperasi dan UMKM dapat diungkapkan secara

bebas. Keterbukaan manajemen koperasi dan UMKM dititikberatkan pada

pelaksanaan fungsi pertanggung jawaban pengurus koperasi dan UMKM. Pengurus

bertanggung jawab dan wajib melaporkan kepada rapat anggota segala sesuatu yang

menyangkut tata kehidupan koperasi. Aspek keuangan merupakan salah satu dari

aspek-aspek yang tercakup dalam tata kehidupan koperasi maupun UMKM.

Laporan keuangan selain merupakan bagian dari sistem pelaporan keuangan,

juga merupakan bagian dari laporan pertanggung jawaban pengurus tentang tata

kehidupan koperasi dan UMKM. Dengan demikian, dilihat dari fungsi manajemen,

laporan keuangan sekaligus dapat dijadikan sebagai salah satu alat evaluasi kemajuan

koperasi.
Pengguna utama (main users) dari laporan keuangan koperasi adalah:

a. Para anggota koperasi

b. Pejabat koperasi

c. Calon anggota koperasi

d. Bank

e. Kreditur

f. Kantor pajak

Adapun tujuan atau kepentingan pemakai terhadap laporan keuangan koperasi,

adalah:

a. Menilai pertanggung jawaban pengurus.

b. Menilai prestasi pengurus.

c. Menilai manfaat yang diberikan koperasi terhadap anggotanya.

d. Menilai kondisi keuangan koperasi (rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas).

e. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan jumlah sumber daya dan jasa

yang akan diberikan kepada koperasi.

Butir pertama hingga keempat pada hakekatnya ditujukan pada pemilik koperasi itu

sendiri dari pada untuk pihak eksternal (nonanggota). Sedangkan butir kelima selain

untuk anggota, juga perlu bagi pihak eksternal seperti perbankan.

1.1 Tujuan Pelaporan Keuangan Koperasi

Tujuan laporan keuangan koperasi adalah untuk menyediakan informasi yang

berguna bagi pemakai utama dan pemakai lainnya. Beberapa hal yang dapat

diinformasikan oleh laporan keuangan adalah sebagai berikut:


1) manfaat yang diperoleh setelah menjadi anggota koperasi

a. prestasi keuangan koperasi selama suatu periode

b. transaksi, kejadian, dan keadaan yang mengubah sumber daya ekonomis,

kewajiban, dan kekayaan bersih dalam suatu perioide. Transaksi

berkaitan dengan anggota dipisahkan dengan yang bukan anggota.

c. Informasi penting lainnya yang mungkin mempengaruhi likuiditas dan

solvabilitas koperasi.

2) Adapun informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan seperti dimaksud

diatas, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Sumber daya ekonomis yang dimilikin koperasi.

b. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh koperasi.

c. Kekayaan bersih yang dimiliki oleh anggota dan koperasi itu sendiri.

d. Transaksi, kejadian, dan keadaan yang terjadi dalam suatu periode yang

mengubah sumber daya ekonomis, kewajiban, dan kekayaan bersih

koperasi.

e. Sumber dan penggunaan dana serta informasi-informasi lain yang

mungkin mempengaruhi likuiditas dan solvabilitas koperasi.

Informasi aktifitas yang dilakukan oleh anggota yang disajikan dalam laporan

keuangan koperasi sedapat mungkin dipisahkan dengan yang bukan anggota.

1.2 Sistem Informasi Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah memberikan

peningkatan peran komputer yang sangat bagus, awalnya komputer hanya

digunakan untuk mesin penghujung saja, tapi saat ini kemampuan komputer

semakin maju dalam mengolah data. Dalam standar operasional manajemen


koperasi dan UMKM, Sistem Informasi Laporan Keuangan Koperasi

UMKM, dimana terdapat kebutuhan fungsional. Kebutuhan fungsional

dalam Sistem Informasi Laporan Keuangan Koperasi UMKM (SILK), antara

lain:

1) Fungsi Login

Fungsi login digunakan untuk memberikan hak akses yang berbeda pada

setiap user pengguna sistem, sesuai dengan kebijakan usaha yang

dilakukannya.

2) Fungsi Kelola Data Master

a. Kelola Master User

Pada Kelola Data Master user digunakan:

• untuk menambah atau mengedit data user;

• untuk melakukan setting hak akses setiap user yang ada dalam sistem.

Sehingga user dibatasi dengan fitur-fitur tertentu yang ada.

b. Kelola Barang/Barang Produksi

Kelola Barang/Barang Produksi digunakan untuk :

• menambahkan data barang / barang produksi baru,

• mengedit data barang/ barang produk

• mengaktifkan/me-nonaktifkan data barang sehingga data yang tidak

aktif tidak perlu ditampilkan dalam data barang/barang produk

c. Kelola Supplier

Kelola Data Supplier digunakan untuk menambahkan, mengedit data

supplier. Dengan adanya data supplier sistem bisa memberikan informasi

barang-barang apa saja yang dibeli dari supplier tersebut.


d. Kelola Data Customer

Kelola data Customer digunakan untuk menambahkan data customer baru

maupun mengedit data customer yang sudah ada. Dengan adanya

pengelolaan data customer nantinya dapat dikembangkan untuk program

member customer ataupun untuk memberikan kebijakan discount yang

diberikan berdasarkan transaksi pembelian yang dilakukan oleh customer

tersebut pada periode sebelumnya.

3) Fungsi Pembelian

a. Fungsi Order Pembelian (PO)

Pada fungsi ini bagian pembelian bisa melakukan order pembelian

kepada supplier berdasarkan stok barang yang ada di gudang. Fungsi ini

sifatnya opsional bisa dilakukan bisa tidak. Kalau tidak dilakukan berarti

langsung pada penggunaan fungsi pembelian.

b. Fungsi Pembelian

Fungsi Pembelian digunakan untuk menginputkan barang-barang yang

dibeli dari supplier. Dimana fungsi pembelian bisa dilakukan tanpa harus

melakukan order pembelian terlebih dahulu. Jika pembelian menggunakan

order pembelian, maka ketika input item pembelian tinggal memanggil

faktur PO yang telah dibuat sebelumnya. Dengan syarat bahwa item dan

kuantiti barang tidak diijinkan mengalami penambahan.

c. Fungsi Retur Pembelian.

4) Fungsi Produksi Harian

Pada Fungsi Produk harian Admin melakukan input produksi harian ke

dalam sebuah form berdasarkan berapa banyak jumlah produksi yang


dilakukan oleh UMKM tersebut. Selain untuk menginputkan produksi

harian, pada fungsi ini juga bisa melakukan produksi berdasarkan order

penjualan. Admin juga bisa melakukan kelola data produksi seperti edit,

delete data produksi bukan hanya input data saja. Data yang sudah tersimpan

akan masuk secara otomatis ke dalam database yang akan ditampilkan di form

produksi harian.

5) Fungsi Penjualan

a. Order Penjualan

Pada fungsi ini bagian penjualan bisa menerima order penjualan dari

costumer berdasarkan permintaan costumer dan stok barang yang ada

digudang. Fungsi ini sifatnya opsional bisa dilakukan bisa tidak. Kalau

tidak dilakukan berarti langsung pada penggunaan fungsi penjualan.

b. Penjualan

Fungsi Penjualan digunakan untuk menginputkan barang-barang yang

dijual. Dimana fungsi penjualan bisa dilakukan tanpa harus melakukan

order penjualan terlebih dahulu. Jika pembelian menggunakan order

penjualan, maka ketika input item pembelian tinggal memanggil faktur

Order penjualan yang telah dibuat sebelumnya.

c. Retur Penjualan

Fungsi retur penjualan dilakukan jika customer tidak jadi membeli suatu

barang tetapi transaksi pembelian telah di closing. Retur penjualan bisa

dilakukan dengan syarat menukar dengan barang lain dengan nominal rupiah

lebih besar atau sama dengan yang harga barang yang diretur. Jika retur

pembelian dilakukan maka stok barang yang diretur akan bertambah


6) FungsiHutang/Piutang

a. Pembayaran Hutang

Transaksi pembayaran hutang digunakan untuk menginputkan data

transaksi pembayaran hutang ke supplier.

b. Penerimaan Piutang

Transaksi penerimaan piutang digunakan untuk menginputkan data

transaksi penerimaan piutang dari costumer.

2. Karakteristik Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

2.1 Karakteristik Laporan Keuangan Koperasi

Laporan keuangan koperasi mempunyai karakter tersendiri sebagai berikut :

1) laporan keuangan merupakan bagian dari pertanggung jawaban pengurus kepada

para anggotanya di dalam rapat anggota tahunan (RAT).

2) laporan keuangan biasanya meliputi neraca/laporan posisi keuangan, laporan

sisa hasil usaha, dan laporan arus kas yang penyajiannya dilakukan secara

komparatif.

3) laporan kuangan yang disampaikan pada RAT harus ditandai oleh semua

anggota pengurus koperasi (UU No. 25 / 1992, Pasal 36, Ayat 1).

4) laporan laba-rugi menyajikan hasil akhir yang disebut sisa hasil usaha (SHU).

SHU koperasi dapat berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan

bukan angota. SHU yang dibagikan kepada anggota harus berasal dari usaha

yang diselenggarakan untuk anggota. Pada saat RAT, SHU ini diputuskan untuk

dibagi-bagi sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam undang-undang dan

anggaran dasar koperasi. Komponenpembagian SHU sesuai dengan anggaran


dasar atau anggaran rumah tangga (AD / ART ) koperasi yang bersangkutan

(pasal 45 UU No. 25 / 1992).

5) SHU yang berasal dari transaksi anggota maupun nonanggota didistribusikan

sesuai dengan komponen-komponen pembagian SHU yang telah diatur dalam

AD atau ART koperasi.

a. SHU yang bersumber dari transaksi anggota dibagi sebagai berikut

contohnhya :

1. Dana cadangan

2. Dana anggota

3. Dana pengurus

4. Dana pegawai / karyawan

5. Dana sosial

6. Dana pembanguna daerah kerja

b. SHU yang berasal dari transaksi bukan anggota terdiri dari komponen-

komponen sebagai berikut contohnya:

1. Dana cadangan koperasi

2. Dana pengurus

3. Dana pegawai / karyawan

4. Dana pendidikan koperasi

Komponen-komponen tersebut selama belum dicairkan, disajikan dalam

kelompok kewajiban lancer pada neraca, sedangkan cadangan koperasi

merupakan bagian sisa hasil usaha yang tidak dibagi dan dapat digunakan untuk

memupuk modal sendiri dan menutup kerugian koperasi.


6) laporan keuangan koperasi bukan merupakan laporan keuangan konsolidasi dari

koperasi-koperasi.

7) posisi keuangan koperasi tercermin pada neraca, sedangkan sisa hasil usaha

tercermin pada perhitungan hasil usaha. Istilah perhitungan hasil usaha sebagai

pengganti istilah laporan labarugi adalah mengingat manfaat dari usaha koperasi

tidak semata-mata diukur dari laba, tetapi lebih ditekankan pada manfaat bagi

anggota. Oleh karena itu koperasi tidak menggunakan istilah laba atau rugi,

malinkan hasil usaha.

8) laporan keuangan yang diterbitkan oleh koperasi dapat menyajikan hak dan

kewajiban anggota beserta hasil usaha dari dan untuk anggota, disamping yang

berasal dari bukan anggota. Hal ini dilakukan oleh karena kegiatan koperasi

sendiri cenderung lebih banyak ditujukan kepada kepentingan anggota, baik

sebagai pemilik maupun pelanggan.

9) alokasi pendapatan dan beban pada perhitungan hasil usaha kepada anggota dan

bukan anggota, berpedoman kepada perbandingan manfaat yang diterima oleh

anggota dan bukan anggota. Jika hal demikian sulit dileksanakan, alokasi dapat

dilakukan dengan cara lain yang sistematik dan rasional. Cara-cara yang

diterapkan perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.

10) Modal koperasi yang dibukuan terdiri dari :

a. simpanan-simpanan

b. pinjaman-pinjaman

c. penyisihan dari hasil usahanya termasuk cadangan serta sumber-sumber

lain.
Simpanan anggota dalam koperasi terdiri dari (1) simpanan pokok, (2)

simapanan wajib, (3) simapanan sukarela. Simpanan sukarela dapat berasal dari

bukan anggota. Cadangan koperasi dipupuk melalui penyisihan sisa hasil usaha

dan cara-cara lain yang ditetapkan dalam anggaran dasar, cadangan dalam

koperasi diemkasudkan untuk memupuk modal koperasi sendiri dan untuk

menutup kerugian kopeasi. Cadangan koperasi bukan milik anggota koperasi

dan tidak boleh dibagikan kepada anggota walaupun di waktu pembubaran.

Istilah permodalan koperasi, dengan demikian, tidak hanya mencangkup modal

yang disetor oleh anggota. Permodalan dalam koperasi meliputi seluruh sumber

pembelanjaan koperasi, yang dapat bersifat permanent atau sementara. Pihak-

pihak yang mempunyai klaim terhadap sumber daya koperasi terdiri dari

kreditur, anggota / pemilik dan badan usaha koperasi itu sendiri. Struktur klaim

yang demikian menunjukkan bahwa koperasi mempunyai eksistensi tersendiri,

terpisah dengan anggota-anggotanya.

11) pendapatan koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan

penyusutan-penyusutan dan beban-beban dari tahun buku yang bersangkutan

disebut sisa hasil usaha. Sesuai dengan karakteristik koperasi, sisa hasil usaha

berasal dari hasil usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan juga bukan

anggota. Sisa hasil usaha pada koperasi bukan merupakan satu-satunya alat

pengukur bagi manfaat keanggotaan koperasi dan prestasi p0engurus. Sisa hasil

usaha, dengan demikian, merupakan hasil dari aturan dan prosedur akuntansi yag

diterapkan dalam koperasi dan mencerminkan perubahan kekayaan bersih yang

dimiliki oleh anggota dan koperasi itu sendiri, yang berasal dari transaksi,

kejadian atau keadaan ekonomis yang timbul dari kegiatan usaha. Pembagian
laba dan transaksi modal tidak dimasukkan dalam perhitungan sisa hasil usaha.

12) keanggotaan atau kepemilikan pada koperasi tidak dapat dipindahtangankan

dengan dalih apapun. Kewajiban anggota untuk menanggung kerugian yang

diderita koperasi baik yang timbul pada penutupan tahun buku maupun pada saat

pembubaran dapat ditetapkan terbatas atau tidak terbatas. Dalam hal tanggungan

anggota ditetapkan terbatas, maka kerugian hanya dapat dibebankan pada

kekayaan koperasi (dalam bentuk cadangan yang telah dipupuk) dan kepada

anggota sebesar jumlah tanggungan yang ditetapkan dalam anggaran dasar.

Dalam kaitan ini, sisa hasil usaha bukan merupakan perubahan kekayaan dari

anggota.

2.2 Karakteristik Laporan Keuangan UMKM

Laporan Keuangan menurut SAK EMKM dibuat berdasarkan asumsi dasar

akrual dan kelangsungan usaha seperti entitas bisnis umumnya. Syarat penyajian

Laporan Keuangan UMKM harus bersifat relevan, lengkap, bisa dipahami, dan

komparatif. Sesuai dengan peraturan SAK EMKM, minimal UMKM harus

membuat tiga jenis laporan keuangan berikut ini:

1. Laporan Posisi Keuangan

Laporan Posisi Keuangan adalah Laporan Keuangan yang meringkas

total aset bisnis (aset lancar, tidak lancar dan tidak berwujud). Kemudian

pada sisi Liabilitas terdapat akun kewajiban (utang usaha dan utang bank),

dan ekuitas (modal saham dan laba ditahan). Laporan Posisi Keuangan pada

UMKM sama dengan entitas bisnis pada umumnya dibuat dan diterbitkan di

tiap akhir periode akuntansi. Sederhananya, Laporan Posisi Keuangan


memberikan gambaran menyeluruh terkait informasi keuangan perusahaan.

Informasi tersebut termasuk mengenai sumber daya ekonomi yang dimiliki

perusahaan, utang-utang, dan sumber pembiayaan (modal) untuk

mendapatkan sumber daya ekonomi tersebut.

Fungsi utama dari penggunaan Laporan Posisi Keuangan adalah untuk

mengidentifikasi tren ekonomi berjalan dan membuat keputusan keuangan

yang lebih tepat. Data dan informasi dari Laporan Keuangan juga sering

dipakai oleh kreditur dan investor untuk menentukan kelayakan investasi dan

pemberian kredit terhadap bisnis Anda. Berikut contoh Laporan Posisi

Keuangan UMKM:
PT Enggan Mundur
Laporan Posisi Keuangan
31 Desember 2017 dan 2018
(Dalam Ribu Rupiah)

ASET
Kas dan setara kas 2017 2018
Kas Rp2.000 Rp3.000
Giro Rp1.000 Rp1.500
Deposito Rp500 Rp600
Jumlah kas dan setara kas Catatan Rp3.500 Rp5.100
Piutang Usaha 3 Rp2.500 Rp2.000
Persediaan 4 Rp10.000 Rp11.000
Beban Dibayar Di Muka 5 Rp7.000 Rp6.000
Aset Tetap 6 Rp100.000 Rp95.000
Akumulasi Penyusutan 7 (Rp5.000) (Rp5.000)

JUMLAH ASET Rp114.500 Rp114.100

LIABILITAS
Utang Usaha Rp20.000 Rp15.000
Utang Bank 8 Rp15.500 Rp15.600

JUMLAH LIABILITAS Rp35.500 Rp30.600

EKUITAS
Modal Rp50.000 Rp46.000
Saldo Laba (Rugi) 9 Rp29.000 Rp37.500

JUMLAH EKUITAS Rp79.000 Rp83.500

JUMLAH LIABILITAS DAN EKUITAS Rp114.500 Rp114.100


2. Laporan Laba Rugi

Laporan Laba Rugi UMKM merinci akun pendapatan, beban keuangan,

dan beban pajak. Secara ringkas, Laporan Laba Rugi merangkum total

pendapatan dan pengeluaran yang dikeluarkan oleh bisnis. Dengan Laporan

Laba Rugi, Anda bisa melihat apakah bisnis mencetak laba atau rugi dalam

periode tertentu. Periode Laporan Laba Rugi biasanya ditentukan per bulan,

kuartalan, atau tahunan.

Laporan Laba Rugi dibutuhkan oleh pemangku kepentingan internal

(tim manajemen dan dewan direksi) dan pemangku kepentingan eksternal

(investor dan kreditur). Mereka menggunakan Laporan Laba Rugi untuk

mengevaluasi profitabilitas bisnis dan membantu menilai tingkat risiko

keuangan bisnis. Selain rasio profitabilitas, Laporan Laba Rugi juga dijadikan

acuan untuk melihat rasio keuangan lainnya seperti rasio solvabilitas,

rentabilitas, dan lainnya. Berikut contoh dari Laporan Laba Rugi UMKM :
3. Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK)

Sesuai dengan SAK EMKM, CALK UMKM harus memuat informasi

berikut:

Sebuah pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai

dengan ED SAK EMKM.Ikhtisar kebijakan akuntansi. Informasi tambahan

dan rincian akun tertentu yang menjelaskan transaksi penting dan material

sehingga bermanfaat bagi pengguna untuk memahami laporan keuangan.

Informasi tambahan dari setiap akun di Laporan Keuangan dirujuk-

silang ke CALK sehingga mempermudah dan memperjelas pengguna dalam

memahami Laporan Keuangan UMKM.


PT Enggan Mundur
Catatan Atas Laporan Keuangan
Untuk Tahun-Tahun yang Berakhir 31 Desember 2017 dan 2018

UMUM
Entitas didirikan di Jakarta berdasarkan akta Nomor 07 tanggal 1 Januari 2017 yang dibuat
dihadapan Notaris, S.H., notaris di Jakarta dan mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia No.08 2016 tanggal 31 Januari 2016. Entitas bergerak dalam bidang
usaha manufaktur. Entitas memenuhi kriteria sebagai entitas mikro, kecil, dan menengah sesuai
UU Nomor 20 Tahun 2008. Entitas berdomisili di Jalan Suprapto, Jakarta Utara.
IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI PENTING
– Pernyataan Kepatuhan
Laporan keuangan disusun menggunakan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil,
dan Menengah.
– Dasar Penyusunan
Dasar penyusunan laporan keuangan adalah biaya historis dan menggunakan asumsi dasar
akrual. Mata uang penyajian yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan adalah
Rupiah.
– Piutang usaha
Piutang usaha disajikan sebesar jumlah tagihan.
– Persediaan
Biaya persediaan bahan baku meliputi biaya pembelian dan biaya angkut pembelian. Biaya
konversi meliputi biaya tenaga kerja langsung dan overhead. Overhead tetap dialokasikan ke
biaya konversi berdasarkan kapasitas produksi normal. Overhead variabel dialokasikan pada unit
produksi berdasarkan penggunaan aktual fasilitas produksi. Entitas menggunakan rumus biaya
persediaan rata-rata.
– Aset Tetap
Aset tetap dicatat sebesar biaya perolehannya jika aset tersebut dimiliki secara hukum oleh
entitas. Aset tetap disusutkan menggunakan metode garis lurus tanpa nilai residu.
– Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pendapatan penjualan diakui ketika tagihan diterbitkan atau pengiriman dilakukan kepada
pelanggan. Beban diakui saat terjadi.
– Pajak Penghasilan
Pajak penghasilan mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia.
3. KAS
Kas-Rupiah
• GIRO
PT Bank Maju – Rupiah
• DEPOSITO
PT Bank Maju – Rupiah
Suku Bunga Deposito – Rupiah
• PIUTANG USAHA
Toko Plain
Toko Plain
Jumlah
• BEBAN DIBAYAR DI MUKA
Sewa
Asuransi
Lisensi dan perizinan
Jumlah
• UTANG BANK
Pada tanggal 4 Maret 2018, Entitas memperoleh pinjaman Kredit Modal
Kerja (KMK) dari PT Bank ABC dengan maksimum kredit Rp xxx, 2017
suku bunga efektif 11% per tahun dengan jatuh tempo berakhir tanggal Rp2.000
19 April 20X8. Pinjaman dijamin dengan persediaan dan sebidang tanah Rp1.000
milik entitas. Rp500
• SALDO LABA 4,5 %
Saldo laba merupakan akumulasi selisih penghasilan dan beban, setelah Rp1.500
dikurangkan dengan distribusi kepada pemilik. Rp1.000
• PENDAPATAN PENJUALAN Rp2.500
Penjualan Rp2.300
Retur penjualan Rp1.700
Jumlah Rp3.000
• BEBAN LAIN-LAIN Rp7.000
Bunga pinjaman Rp29.000
Lain-lain Rp45.500
Jumlah Rp500
• BEBAN PAJAK PENGHASILAN RP45.000
Pajak penghasilan Rp 10.000

Dengan mematuhi persyaratan SAK EMKM untuk membuat Laporan

Keuangan, diharapkan bisnis UKM atau UMKM di Indonesia semakin maju.

Untuk mempermudah bisnis Anda dalam membuat Laporan Keuangan,

pilih Software Akuntansi yang memiliki fitur akuntansi yang lengkap. Salah

satu Software Akuntansi yang bisa menjadi pilihan bisnis Anda adalah Jurnal.

Dengan Jurnal, proses pencatatan transaksi dan pembuatan Laporan

Keuangan diproses secara otomatis dan real-time.


3. Standar Akuntansi Laporan Keuangan Koperasi dan UMKM

3.1 Standar Akuntansi Laporan Keuangan Koperasi

Secara jati-diri badan hukum koperasi lain dengan badan hukum lain seperti

PT dan CV tetapi Koperasi tetap sama sebagai suatu gerakan ekonomi yang harus

dikelola secara profesional, harus memisahkan kekayaan para anggotanya dengan

badan hukum koperasi itu sendiri, menerapkan prinsip keterbukaan, transparasi,

dan akuntabilitas sehingga badan hukum koperasi dapat dipercaya dan diterima

tidak saja oleh para anggota koperasi sebagai pemilik tetapi juga oleh masyarakat

luas, bila hal ini dilaksanakan maka akan membawa dampak ketertarikan

masyarakat umum untuk apresiatif dan tertarik menjadi anggota koperasi sehingga

koperasi-koperasi di Indonesia akan semakin kuat dengan anggota yang banyak dan

tentunya berkualitas. Pengelolaan inilah yang disebut dengan Clean Corporate

Governance ( Tata Kelola Perusahaan yang bersih dan baik ).

Salah satu cara mewujudkan tujuan tersebut diatas adalah dengan pengelolaan

pencatatan akuntansi yang baik, benar, dan tertib. Karena koperasi mempunyai ciri

dan jati-diri tersendiri maka penerapan akuntansi dan pelaporan akuntansinya juga

mempunyai kekhususan tersendiri dibandingkan dengan badan hukum yang lain

pada umumnya walaupun secara prinsip akuntansinya adalah sama seperti laporan

keuangan harus mencerminkan kondisi, kinerja, dan perubahan posisi keuangan

dalam periode tertentu yang digunakan untuk pengambilan suatu keputusan

strategis ke depan.

Untuk dapat membuat laporkan keuangan tersebut diatas diperlukan suatu

standar pencatatan dan pelaporan sehingga masyarakat yang awam pun dapat

dengan mudah membaca dan memahami laporan keuangan yang diterbitkan oleh
suatu badan usaha khususnya koperasi dan UMKM.

Pengertian secara umum dalam pedoman akuntansi koperasi yang mengacu kepada

SAK-ETAP, UU RI No.25/1992 dan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM

Republik Indonesia No.12/2015 dan No.13/2015, meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perorangan atau

badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya

sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan

kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai

dan prinsip koperasi.

2. Koperasi Simpan Pinjam (KSP) adalah koperasi yang melaksanakan kegiatan

usahanya hanya usaha simpan pinjam.

3. Koperasi Riil adalah koperasi yang mempunyai kegiatan usaha dibidang

usaha jasa, usaha perdagangan, dan usaha produksi.

4. Pedoman Akuntansi Koperasi adalah suatu petunjuk atau standar dalam

pencatatan akuntansi dan penyusunan laporan keuangan koperasi dari semua

transaksi yang timbul dari hubungan usaha antara koperasi sebagai badan

usaha dengan anggota koperasi maupun non-anggota koperasi.

5. Standar Akuntansi Keuangan adalah standar pencatatan akuntansi yang

berlaku umum yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang terdiri

dari PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) atau lebih dikenal

dengan SAK-Umum dan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) - ETAP

(Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik).


6. Dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan pada koperasi simpan

pinjam adalah dengan menggunakan SAK-Umum dan SAK-Etap ( pasal 3

Permenkop & UKM RI No.13/2015 ).

7. Dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan pada koperasi riil yang

tidak harus melaporkan akuntabilitasnya ke publik memakai SAK-ETAP

sedangkan koperasi riil yang melaporkan akuntabilitasnya ke publik

menggunakan PSAK atau SAK-UMUM ( pasal 3 Permenkop & UKM RI

No.12/2015 ).

8. Akuntansi koperasi adalah system pencatatan yang sistematis atas transaksi-

transaksi keuangan koperasi yang mencerminkan suatu pengelolaan koperasi

secara clean corporate governance ( tata kelola perusahaan yang baik,

transparan, dan bertanggung jawab ) sesuai prinsip-prinsip dan jati-diri

perkoperasian Indonesia.

9. Pelayanan kepada anggota adalah transaksi koperasi dengan anggota yang

merupakan hubungan pelayanan baik barang dan/atau jasa.

10. Penjualan kepada non-anggota adalah transaksi koperasi dengan non-anggota

yang merupakan hubungan bisnis atas penjualan barang dan/atau jasa.

11. Harga pokok penjualan adalah pengorbanan ekonomis dari koperasi atau

harga perolehan barang dan/atau jasa ( dapat berupa harga beli ataupun harga

pembuatan/produksi ) yang diperlukan koperasi untuk memperoleh

pendapatannya dalam suatu periode tertentu.


3.1.1 Karakter Spesifik Laporan Keuangan Koperasi

Berdasarkan karakter yang spesifik dari badan usaha koperasi yaitu dengan

karakter utama adalah posisi anggota koperasi adalah sebagai pemilik sekaligus

pengguna jasa koperasi, maka laporan keuangan koperasi pun akan mempunyai

karakter yang spesifik juga bila dibandingkan dengan badan hokum usaha-usaha

yang lain yang antara lain adalah:

1) Laporan Keuangan Koperasi merupakan pertanggungjawaban pengurus

selama satu periode akuntansi untuk bahan penilaian kinerja pengelolaan

koperasi.

2) Laporan Keuangan Koperasi ditujukan untuk pihak internal koperasi dan

pihak eksternal koperasi.

3) Laporan Keuangan Koperasi harus berdaya guna bagi anggotanya untuk

mengetahui :

a. Prestasi koperasi dalam hal pelayanan kepada anggota dalam satu

periode akuntansi.

b. Prestasi koperasi dalam hal pelayanan kepada non-anggota dalam satu

periode akuntansi.

Sedangkan karakter laporan keuangan koperasi secara kualitatif adalah:

a. Dapat dipahami,

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus mudah dipahami

oleh pengguna

b. Relevan,

Informasi keuangan harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses

pengambilan keputusan dan membantu melakukan evaluasi


c. Keandalan,

Informasi keuangan harus memiliki kualitas handal dan bebas dari kesalahan

material yang dapat mem-biaskan pengambilan keputusan atau kebijakan

untuk pencapaian tujuan

d. Dapat dibandingkan,

Pengguna laporan keuangan harus dapat membandingkan laporan keuangan

koperasi antar periode untuk dapat mengidentifikasi kecenderungan posisi

dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat membandingkan laporan

keuangan antar koperasi atau koperasi dengan badan usaha lain, untuk

evaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara

relatif.

e. Materialitas,

Informasi yang disampaikan dalam laporan keuangan harus cukup material.

Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam laporan

keuangan, sedangkan yang tidak material dapat digabungkan sepanjang

memiliki sifat atau fungsi yang sejenis.

f. Pertimbangan sehat,

Pertimbangan yang sehat berarti laporan keuangan mengandung unsur kehati-

hatian sehingga aset atau penghasilan tidak disajikan lebih tinggi dan

kewajiban atau beban tidak disajikan lebih rendah.

g. Kelengkapan,

Informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas

dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan

informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan.


h. Tepat waktu,

Informasi dalam laporan keuangan harus dapat mempengaruhi keputusan

ekonomi para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi

dalam jangka waktu pengambilan keputusan.

i. Keseimbangan antara biaya dan manfaat,

Evaluasi biaya dan manfaatnya merupakan proses pertimbangan yang

substansial. Manfaat informasi juga merupakan manfaat yang dinikmati oleh

pengguna eksternal.

3.1.2 Penyajian Laporan Keuangan Koperasi

Alur penyajian laporan keuangan koperasi menurut ketentuan SAK-ETAP


sebaiknya dapat dijalankan secara runut/teratur/step by step seperti prinsip
akuntansi yang diterima umum :
1. Menyediakan bukti-bukti transaksi secara lengkap dalam buku-buku jurnal
harian.
2. Menyediakan data-data saldo transaksi yang lengkap berdasarkan buku-buku
jurnal harian tersebut diatas.
3. Data-data yang lengkap didukung oleh bukti-bukti transaksi dalam buku
jurnal akan menyediakan jejak audit yang lengkap yang dapat digunakan
untuk memudahkan auditor eksternal dalam bekerja maupun untuk
adjustment/koreksi bila terdapat kesalahan dalam pencatatan akuntansi.
4. Menjamin akurasi data dan informasi akuntansi serta terbebas dari kesalahan
yang material dalam penyajian laporan keuangan koperasi.
JURNAL HARIAN
Bukti-bukti
Transaksi

Posting

BUKU BESAR

Pembuatan NERACA SALDO

Adjustment/
Koreksi

NERACA SALDO
Setelah Penyesuaian

Pembuatan Laporan Keuangan :


Neraca, PHU, Perubahan Ekuitas,
Arus Kas, Catatan Lap Keuangan

3.1.3 Pencatatan Akuntansi Dengan Dasar Akrual

Dalam penyelenggaraan catatan akuntansi untuk menghasilkan laporan

keuangan koperasi harus menggunakan dasar akrual kecuali laporan arus kas.

Dasar akrual mensyaratkan pencatatan akuntansi berdasarkan terjadinya transaksi

keuangan tersebut walaupun nilai uangnya belum diterima. Sebaliknya dengan

dasar kas maka transaksi keuangan dicatat pada saat kas benar-benar diterima

seperti dalam laporan arus kas:


Jenis Transaksi

a. Transaksi koperasi dengan anggotanya :

1. Transaksi Setoran :

a) Setoran modal yang menentukan kepemilikan (Simpanan Pokok

dan Simpanan Wajib)

b) Setoran yang tidak menentukan kepemilikan (Simpanan

Sukarela, Simpanan Berjangka, Tabungan, Simpanan lainnya )

2. Transaksi Pelayanan:

a) Pelayanan dalam bentuk kegiatan penyaluran dan pengadaan

barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan anggota.

b) Menyediakan dan menyalurkan kebutuhan input bagi kegiatan

proses produksi usaha anggota.

c) Pelayanan penyaluran barang/jasa yang dihasilkan anggota untuk

dipasarkan.

d) Pengelolan kegiatan simpan pinjam anggota

b. Transaksi antara koperasi dengan non anggota :

1. Penjualan barang/jasa kepada non anggota atau masyarakat umum atau

perusahaan.

2. Pembelian barang/jasa dari non anggota.

c. Transaksi khusus pada koperasi :

1. Penerimaan dan pengembalian modal penyertaan untuk kegiatan

usaha/proyek dari anggota atau pihak lain.

2. Penerimaan modal sumbangan ( Hibah/Donasi ) dari anggota atau pihak

lain.
3. Pengalokasian “ Beban Perkoperasian “

4. Pembentukan cadangan

3.1.4 Pengakuan/perlakuan, Penyajian, dan Pengungkapan

Dalam penyusunan laporan keuangan dilakukan proses pengakuan dan


pengukuran (pelakuan), penyajian dan pengungkapan dari setiap transaksi dan
perkiraan atas kejadian akuntansi pada koperasi, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengakuan merupakan proses pembentukan suatu pos/akun dalam neraca atau
laporan perhitungan hasil usaha (PHU) yang mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur, dimana manfaat ekonomi yang berkaitan dengan perkiraan
tersebut, akan mengalir dari atau ke dalam koperasi.
b. Pengukuran merupakan proses penetapan jumlah uang yang digunakan oleh
koperasi untuk mengukur nilai asset, kewajiban, pendapatan dan beban dalam
laporan keuangan.
c. Penyajian merupakan proses penempatan pos/akun (perkiraan) dalam laporan
keuangan secara tepat dan wajar.
d. Pengungkapan adalah pemberian informasi tambahan yang dibutuhkan untuk
menjelaskan unsur-unsur pos/akun (perkiraan) kepada pihak yang
berkepentingan sebagai catatan dalam laporan keuangan koperasi.
e. Tujuan dari pernyataan tersebut diatas adalah agar penerapan akuntansi dapat
dilakukan oleh koperasi secara terukur, tepat, wajar, dan konsisten, sehingga
laporan keuangan yang disajikan benar, akurat, dan dapat
dipertanggungjawabkan.
3.1.5 Contoh laporan Keuangan Koperasi
3.2 Standar Akuntansi Laporan Keuangan UMKM

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah organisasi profesi akuntan yang

senantiasa mendukung penegakan transparansi dan akuntabilitas pelaporan

keuangan entitas di Indonesia. Dalam rangka mewujudkan UMKM Indonesia yang

maju, mandiri, dan modern, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI telah

mengesahkan Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil,

dan Menengah (“ED SAK EMKM”) dalam rapatnya pada tanggal 18 Mei 2016.

Dengan disahkannya ED SAK EMKM ini, maka standar akuntansi keuangan di

Indonesia nantinya akan menjadi lengkap dengan tiga pilar standar akuntansi

keuangan, yakni: (a) SAK Umum yang berbasis IFRS, (b) SAK ETAP, dan (c) SAK

EMKM. Masing-masing pilar utama tersebut merupakan dukungan infrastruktur

dalam konteks standar akuntansi keuangan yang dapat mencerminkan esensi dari

entitas dunia usaha di Indonesia, yaitu:

1. SAK Umum yang berbasis IFRS merupakan standar akuntansi yang mengatur

perlakuan akuntansi untuk transaksi-transaksi yang di lakukan oleh entitas

dengan akuntabilitas publik signifikan.

2. SAK ETAP merupakan standar akuntansi keuangan yang dimaksudkan untuk

digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik yang signifikan namun

menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi penggunanya; dan

3. ED SAK EMKM yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan

keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah. 



3.2.1 Kriteria UMKM

Sesuai dengan definisi dari SAK EMKM, pengertian serta kriteria EMKM

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia,

setidaktidaknya selama dua tahun berturut-turut. Berikut definisi UMKM yang

telah ditetapkan oleh Undang-undang No. 20 tahun 2008.

a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan

usaha perorangan yang memiliki kekayaan bersih maksimal 50 juta rupiah dan

hasil penjualan tahunan dengan maksimal 300 juta rupiah.

b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan

anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau

menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah

atau Usaha Besar yang memiliki kekayaan bersih maksimal 50 juta rupiah dan

hasil penjualan tahunan dengan maksimal 500 juta rupiah.

c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan

anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi

bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha

Besar dengan jumlah kekayaan bersih maksimal 300 juta rupiah dan hasil

penjualan tahunan dengan maksimal 2 miliar rupiah.


3.2.2 Laporan Keuangan UMKM

Dalam ED SAK EMKM, laporan keuangan entitas disusun menggunakan

asumsi dasar akrual dan kelangsungan usaha, sebagaimana yang digunakan oleh

entitas selain entitas mikro, kecil, maupun menengah, serta menggunakan konsep

entitas bisnis. Laporan keuangan entitas terdiri dari: (a) laporan posisi keuangan,

(b) laporan laba rugi, dan (c) catatan atas laporan keuangan.

Cara penyajian laporan keuangan EMKM telah disusun secara rinci pada ED

SAK EMKM yang dimana penyajiannya harus konsisten, informasi keuangan yang

komparatif, serta lengkap. Minimal laporan keuangan tersebut terdiri dari:

1) Laporan posisi keuangan pada akhir periode,

2) Laporan laba rugi selama periode,

3) Catatan atas laporan keuangan, yang berisi tambahan dan rincian akun-

akun tertentu yang relevan.

a. Laporan Posisi Keuangan EMKM

Informasi posisi keuangan yang ditujukan untuk laporan keuangan telah

disusun dalam ED SAK EMKM. Informasi ini terdiri dari informasi mengenai

aset, liabilitas, dan ekuitas entitas pada tanggal tertentu yang disajikan dalam

laporan ini. Berikut penjelasan unsur-unsur laporan posisi keuangan dalam ED

SAK EMKM.

1) Aset merupakan sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat

dari peristiwa masa lalu dan yang dari mana manfaat ekonomi di masa

depan diharapkan akan diperoleh oleh entitas. Aset sendiri terbagi

menjadi dua macam yaitu aset yang memiliki wujud dan aset tidak

memiliki wujud (tak berwujud).


2) Liabilitas merupakan kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa

masa lalu, yang penyelesaiannya mengakibatkan arus keluar dari

sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi. Karakteristik

esensial dari liabilitas adalah kewajiban yang dimiliki entitas saat ini

untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu

yang dapat berupa kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif.

Kewajiban konstruktif yaitu kewajiban yang biasanya melibatkan

pembayaran kas, penyerahan aset selain kas, pemberian jasa, dan/atau

penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain.

3) Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh

liabilitasnya. Klaim ekuitas adalah klaim atas hak residual atas aset

entitas setelah dikurangi seluruh liabilitasnya. Klaim ekuitas

merupakan klaim terhadap entitas, yang tidak memenuhi definisi

liabilitas.

Berikut contoh ilstrasi laporan posisi keuangan berdasarkan ED SAK EMKM :


b. Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi sebuah EMKM mencakup informasi tentang

pendapatan, beban keuangan serta beban pajak pada suatu entitas. Sesuai dengan

ED SAK EMKM, laporan laba rugi memasukkan semua penghasilan dan beban

yang diakui dalam suatu periode, kecuali ED SAK EMKM mensyaratkan lain.

Berikut merupakan contoh laporan Laba Rugi berdasarkan ED SAK EMKM:


c. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan yang disusun dalam ED SAK EMKM harus

memuat tentang:

1) Sebuah pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan

ED SAK EMKM,

2) Ikhtisar kebijakan akuntansi,

3) Dan, informasi tambahan dan rincian akun tertentu yang menjelaskan

transaksi penting dan material sehingga bermanfaat bagi pengguna untuk

memahami laporan keuangan.

Setiap catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis selama hal

tersebut terbilang praktis. Setiap akun dalam laporan keuangan merujuk-silang

ke informasi terkait dalam catatan atas laporan keuangan agar mendapatkan

informasi yang tepat, akurat, serta relevan. Berikut merupakan contoh laporan

Catatan atas Laporan Keuangan menurut ED SAK EMKM:


DAFTAR PUSTAKA

Rudiantoro, R., & Siregar, S. V. (2012). Kualitas laporan keuangan umkm serta prospek

implementasi SAK ETAP. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 9(1), 1-21.

Hidayat, Taufik R, (2014). Penerapan Sak Etap (Standar Akuntansi Keuangan Entitas

Tanpa Akuntabilitas Publik) Untuk Pelaporan Keuangan Bagi Entitas Usaha

Koperasi dan UMKM di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia,

12(2), 1-50.

Bambang, Erwin (2017). Manajemen Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan

Menengah(UMKM). Kediri: Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Kediri.

UU RI No.25/1992

Peraturan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia No.12/2015 dan

No.13/2015

https://goukm.id/sak-emkm/

www.iaiglobal.or.id.

Indonesia, I. A. (2016). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan

Menengah. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan

Indonesia.

www.jurnal.id/id/blog/contoh-laporan-keuangan-khusus-ukm-yang-sesuai-dengan-sak-

emkm/

finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3997725/umkm-bisa-gerakkan-ekonomi-ri-

ini-syaratnya

www.depkop.go.id/