Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penyakit kanker (neoplasma) merupakan penyebab kematian pertama di dunia. Pada


tahun 2005 jumlah kematian akibat penyakit kanker mencapai 58 juta jiwa. Menurut data
WHO (2005), jenis kanker yang menjadi penyebab kematian terbanyak adalah kanker paru
(mencapai 1,3 juta kematian pertahun), disusul kanker lambung (mencapai lebih dari 1 juta
kematian pertahun), kanker hati (sekitar 662.000 kematian pertahun), kanker usus besar
(655.000 kematian pertahun), dan yang terakhir yaitu kanker payudara (502.000 kematian
pertahun). Sedikitnya 1,2 juta jiwa di Amerika Serikat didiagnosa menderita kanker setiap
tahunnya. Akan tetapi incidence rate lebih banyak terjadi di negara berkembang (Smeltzer &
Bare, 2001). Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan prevalensi rate penyakit
kanker yang cukup tinggi.
Di wilayah ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Vietnam dengan
kasus penyakit kanker mencapai 135.000 kasus pertahun (WHO, 2005). Data tersebut hampir
sama dengan yang ditemukan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Departemen Kesehatan RI
(2004) yang menyebutkan prevalensi penyakit kanker mencapai 100 ribu pertahun. Di
Indonesia penyakit kanker menjadi penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung
(Depkes RI, 2004). Sebagian manusia terkadang mengabaikan suatu gejala penyakit yang
timbul dalam dirinya, sehingga penyakit tersebut baru diketahui ketika telah mencapai
stadium lanjut. Salah satu contoh kanker akibat kebiasaan buruk ini adalah kanker lambung
dimana kanker lambung ini merupakan suatu bentuk neoplasma maligna gastrointestinal.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut:


1. Bagaimana konsep dasar teori penyakit Ca Lambung?
2. Bagaimana faktor terjadinya Ca Lambung ?

1.3 TUJUAN
Tujuan Umum : Untuk mengetahui konsep dasar dan teori penyakit Ca lambung.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

Kanker harus semakin diwaspadai mengingat jumlah penderitanya yang terus


bertambah. Jenis kanker pun semakin banyak dan hampir semua organ tubuh bisa terkena.
salah satunya adalah kanker lambung. Penyakit ini, memang jumlah penderitanya di
Indonesia masih sangat kecil, tetapi seperti jenis kanker lainnya, kanker lambung sulit untuk
disembuhkan.
Tumor jinak di lambung tidak menimbulkan gejala atau masalah medis. Tetapi
kadang-kadang, beberapa mengalami perdarahan atau berkembang menjadi kanker. Sekitar
99% kanker lambung adalah adenokarsinoma. Kanker lambung lainnya adalah
leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada
usia lanjut. Kurang dari 25 % kanker tertentu terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun. Di
Cina, Jepang, Cili dan Iceland, kanker lambung sering sekali ditemukan. Di AS, lebih sering
terjadi pada orang miskin, orang kulit hitam dan orang yang tinggal di utara. Dan merupakan
penyebab kematian no. 7, yang terjadi pada sekitar 8 dari setiap 100.000 orang ( Rudi
Prasetyo,2008).
Ca lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan dilambung. Kanker
lambung sering dimulai pada sisi dimana lapisan lambung meradang. Tetapi banyak ahli
yakin bahwa peradangan adalah akibat dari kanker lambung, bukan sebagai penyebab kanker.
( Khaidir Muhaj,2009 ).
Tumor jinak di lambung agaknya tidak menimbulkan gejala atau masalah medis.
Tetapi kadang-kadang, beberapa mengalami perdarahan atau berkembang menjadi kanker.
Sekitar 99% kanker lambung adalah adenokarsinoma. Kanker lambung lainnya adalah
leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada
usia lanjut. Kurang dari 25 % terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun.
Di Cina, Jepang, Cili dan Iceland, kanker lambung sering sekali ditemukan. Di AS,
lebih sering terjadi pada orang miskin, orang kulit hitam dan orang yang tinggal di utara. Dan
merupakan penyebab kematian no 7, yang terjadi pada sekitar 8 dari setiap 100.000 orang (
Admin,2010 ).
Kanker lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan di lambung,
biasanya adenokarsinoma, meskipun mungkin merupakan limfoma malignansi. Diketahui

2
bahwa cancer lambung 2 kali lebih umum terjadi pada pria daripada wanita dan lebih sering
terjadi pada klien yang mengalami anemia pernisiosa.
Meskipun tidak ada faktor etiologi khusus yang dihubungkan dengan ca lambung,
banyak faktor yang tampak berhubungan dengan perkembangan penyakit ini seperti inflamasi
lambung kronik, anemia pernisiosa, ulkus lambung, bakteri Helicobacter Pylori dan faktor
keturunan (Ns Nurhayati, S.Kep ).
Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh
terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak
berguna bagi tubuh (Patologi, dr. Achmad Tjarta,2002).
Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster (R. Simadibrata,
2000).

2.2 ETIOLOGI

Beberapa ahli berpendapat, ulkus gastrikum bisa menyebabkan kanker. Tapi


kebanyakan penderita ulkus dan kanker lambung, kemungkinan sudah mengidap kanker yang
tidak terdeteksi sebelum tukaknya terbentuk. Helicobacter pylori, kuman yang memegang
peranan penting dalam ulkus duodenalis, juga bisa berperan dalam terjadinya kanker
lambung. Penyebab kanker lambung adalah bakteri Helicobacter Pylori yang ditemukan oleh
dua warga Australia peraih hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2005, yakni J. Robin
Warren dan Barry J. Marshall. Kebanyakan penderita kanker lambung datang ke dokter sudah
dalam kondisi stadium akhir. Bahkan di Amerika Serikat, hanya 10-20 persen penderita yang
diketahui datang ke dokter pada stadium awal. Akan tetapi, penyebab keberadaan bakteri
Helicobacter Pylori di dalam lambung masih belum diketahui dengan pasti. Banyak hal yang
menjadi penyebabnya. Misalnya pola makan yang tidak sehat, seperti kurang mengkonsumsi
buah dan sayur. Juga gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, dan
makan makanan yang dibakar (barbeque). Polip lambung, suatu pertumbuhan jinak yang
berbentuk bundar, yang tumbuh ke dalam rongga lambung, diduga merupakan pertanda
kanker dan oleh karena itu polip selalu diangkat.
Kanker mungkin terjadi bersamaan dengan jenis polip tertentu, yaitu polip yang lebih besar
dari 1,8 cm atau polip yang jumlahnya lebih dari 1. Faktor makanan tertentu diperkirakan
berperan dalam pertumbuhan kanker lambung.
Faktor-faktor ini meliputi :
a) Asupan garam yang tinggi.
b) Asupan karbohidrat yang tinggi.

3
c) Asupan bahan pengawet (nitrat) yang tinggi.
d) Asupan sayuran hijau dan buah yang kurang.
e) Ada kaitannya dengan : diet, genetik, komposisi tanah, lambung kronis. Namun para
penyelidik berpendapat bahwa komposisi makanan merupakan faktor penting dalam
kejadian karsinoma Gaster.
f) Gastritis kronis.
g) Faktor infeksi (oleh kuman H. Pylory).
h) Herediter.
i) Sering Makan daging hewan dengan cara dipanggang atau dibakar atau diasapkan.
j) Sering makan makanan yang terlalu pedas.
k) Kurang makanan yang mengandung serat.
l) Makan makanan yang memproduksi bahan karsinogenik

Ada yang timbul sebagai hubungan dengan konsumsi garam yang meningkat. Ingesti
nitrat dan nitrit dlam diet tinggi protein telah memberikan perkembangan dalam teori bahwa
senyawa karsinogen seperti nitrosamine dan nitrosamide dapat dibentuk oleh gerak
pencernaan.
Penurunan kanker lambung di USA pada decade lalu dipercaya sebagai hasil pendinginn
yang meningkat yang mnyebabkan terjadinya bermacam-macam makanan segar termasuk
susu, sayuran, buah, juice, daging sapid an ikan, dengan penurunan konsumsi makanan yang
diawetkan, garam, rokok, dan makanan pedas. Jadi dipercaya bawha pendinginan dan vit C
(dlm buah segar dan sayuran) dapat menghambat nitrokarsinogen.
Factor genetic mungkin memainkan peranan dalam perkembangan kanker lambung.
Frekuensi lebih besar timbul pada individu dgn gol.darah A. Riwayat keluarga meningkatkan
resiko individu tetapi minimal, hanya 4% dari organ dgn karsinoma lambung mempunyai
riwayat keluarga.

Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang bisa
meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi hal- hal sebagai berikut:

1. Faktor predisposisi
a). Faktor genetik.
Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki hubungan genetik.
Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen E-cadherin

4
terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adanya riwayat keluarga anemia pernisiosa dan
polip adenomatus juga dihubungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani,
2003).

b). Faktor umur.


Pada kasus ini ditemukan lebih umum terjadi pada usia 50-70 tahun, tetapi sekitar 5 %
pasien kanker lambung berusia kurang dari 35 tahun dan 1 % kurang dari 30 tahun (Neugut,
1996).

2. Faktor presipitasi
a). Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang diawetkan.
Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor
utama peningkatan kanker lambung. Sehingga menfasilitasi konversi golongan nitrat menjadi
carcinogenic nitrosamines didalam lambung. Kondisi terlambatnya pengosongan asam
lambung dan peningkatan komposisi nitrosamines didalam lambung memberikan konstribusi
terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005).

b). Infeksi H. Pylori. H. Pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus doudenum dan
80% tukak lambung (fuccio, 2007).
Bakteri ini menempel dipermukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara
membran bakteri lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel
lambung (fuccio, 2009). Mekanisme utama bakteri ini dalam menginisiasi pembentukan luka
adalah melalui produksi racun VacA. Racun VacA bekerja dalam menghancurkan keutuhan
sel-sel tepi lambung melalui berbagai cara; diantaranya melalui pengubahan fungsi
endolisosom, peningkatan permeabilitas sel, pembentukan pori dalam membran plasma, atau
apoptosis (pengaktifan bunuh diri sel). Pada beberapa individu, H. Pylori juga menginfeksi
bagian badan lambung.
Bila kondisi ini sering terjadi, maka akan menghasilkan peradangan yang lebih luas
yang tidak hanya memengaruhi ulkus didaerah badan lambung, tetapi juga meningkatkan
risiko kanker lambung. Peradangan dilendir lambung juga merupakan faktor risiko tipe
khusus tumor limfa (lymphatic neoplasm) dilambung, atau disebut dengan limfoma MALT
(Mucosa Lymphoid Tissue). Infeksi H. Pylori berperan penting dalam menjaga kelangsungan
tumor dengan menyebabkan dinding atrofi dan perubahan metaplastik pada dinding lambung
(santacroce, 2008).

5
c). Mengkonsumsi rokok dan alkohol.
Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan kombinasi dengan
konsumsi alkohol kronik akan meningkatkan risiko kanker lambung (Gonzalez, 2003).

d). NSAIDs.
Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengkonsumsi NSAIDs dalam
jangka waktu yang lama dalam hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker
lambung. Kondisi polip lambung berulang akan meningkatkan risiko kanker lambung
(Houghton, 2006).

e). Anemia pernisiosa.


Kondisi ini merupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin
(vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung, kombinasi
anemia pernisiosa dengan infeksi H. Pylori memberikan konstribusi penting terbentuknya
tumorigenesis pada dinding lambung (Santacroce, 2008).

2.3 KLASIFIKASI
1. Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini).
Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan pemeriksaan histopatologis dapat
dibagi atas :
a. Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang
berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa
ulserasi.

b. Tipe II (superficial type)


Dapat dibagi atas 3 sub tipe.
1) Elevated type
Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung. Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit
elevasi dan lebih meluas dan melebar.
2) Flat type
Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna
mukosa.

6
3) Depressed type
Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik
perdarahan.

c. Tipe III. (Excavated type)


Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti
IIC + III atau III + IIc dan IIa + IIc

Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :


a) Bormann I.
Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan
mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular.

b) Bormann II
Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa
sekitarnya menonjol dan disertai nodular. Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan Tugas Dewasa
2. Tingkat 3 Semester 5 STIKes BudiLluhur Cimahi 2013 Makalah Kanker lambung warna
kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman. Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik.

c) Bormann III.
Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas pada dinding dan
infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

d) Bormann IV
Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan
infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

2.4 PATOFISIOLOGI
Beberapa faktor dipercaya menjadi precursor kanker yang mungkin yaitu polip,
anemia pernisiosa, prostgastrektomi, gastritis atrofi kronis dan ulkus lambung. Diyakini
bahwa ulkus lambung tidak mempengaruhi individu menderita kanker lambung, tetapi kanker
lambung mungkin ada bersamaan dgn ulkus lambung dan tidak ditemukan ada bersaman
dengan ulkus lambung dan tidak ditemukan pada pemeriksaan diagnostic awal.

7
Kanker lambung adalah adenokarsinoma yang muncul plg sering sebagai massa
irregular dengan penonjolan ulserasi sentral yang dalam ke lumen dan menyerang lumen
dinding lambung. Tumor mungkin menginfiltrasi dan menyebabkan penyempitan lumen yang
paling sering di antrum. Infiltrasi dapat melebar keseluruh lambung, menyebabakan kantong
tidak dapat meregang dengan hilangnya lipatan normal dan lumen yg sempit, tetapi hal ini
tidak lazim. Desi polipoid juga mungkin timbul dan menyebabkan sukar untuk membedakan
dari polip benigna pada X-ray. Kanker lambung mungkin timbul sebagai penyebaran tumor
superficial yang hanya melibatkan prmukaan mukosa dan menimbulkan Prognosis yang baik
berhubungan dengan bentuk polipoid dan kemudian berbentuk ulserasi dan yang paling jelek
ada bentuk scirrhous.
Penyebaran karsinoma gaster sering kehati, arteri hepatika dan celiac, pankreas dan hilus
selitar limpa. Dapat juga mengenai tulang, paru, otak dan bagian lain saluran cerna.

8
2.5 TANDA DAN GEJALA
Pada tahap awal kanker lambung, gejala mungkin tidak ada. Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa gejala awal, seperti nyeri yang hilang dengan antasida, dapat
menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi:
1. Nyeri
2. Penurunan Berat badan.
3. Muntah
4. Anoreksia.
5. Disfagia.
6. Nausea.
7. Kelemahan.
8. Hematemasis.
9. Regurgitasi.
10. Mudah kenyang.
11. Asites ( perut membesar).
12. Keram abdomen
13. Darah yang nyata atau samar dalam tinja
14. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan.

2.6 MANIFESTASI KLINIK


Gejala awal dari kanker lambung sering tidak nyata karena kebanyakan tumor ini
dikurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ggn fungsi lambung. Beberapa penelitian
telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yg hilang dgn antasida dapat menyerupai
gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat
makan, anoreksia, dyspepsia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual
serta muntah ( Harnawati,2008 ).
A. Bercak darah dalam tinja merupakan salah satu tanda-tanda menderita kanker perut
Adanya darah saat membagikan feses juga disebabkan oleh kondisi lain,. Tapi untuk
kanker perut itu adalah salah satu gejala yang paling indikatif. Juga, itu adalah gejala
yang dihubungkan ke beberapa jenis kanker. Ketika ada tumor hadir di perut,
mungkin menyebabkan darah mengalir keluar melalui tinja.
B. Penderitaan dari rasa sakit konstan dalam perut merupakan gejala dari kanker
lambung. Hal ini bisa apa saja dari rasa sakit ringan sampai nyeri kram parah. Jenis
rasa sakit biasanya ada di daerah atas perut.

9
C. Konstan dengan mual muntah, terutama setelah Anda makan adalah tanda kanker
lambung. mual mungkin gigih dan hadir untuk jangka waktu yang panjang. Hal ini
pernah berhubungan dengan demam atau sakit kepala. Jenis mual sering menunjukkan
masalah kesehatan serius.
D. Kehilangan nafsu makan tanpa alasan adalah tanda lain yang cukup sering terlihat
pada orang yang menderita dari kanker terdiagnosis dalam lambung. Beberapa orang
mungkin mengalami kembung di daerah perut bahkan jika mereka tidak makan apa-
apa. Kebiasaan usus dapat berubah drastis.

Pada stadium awal kanker lambung, gejalanya tidak jelas dan sering tidak dihiraukan.
Jika gejalanya berkembang, bisa membantu menentukan dimana lokasi kanker lambung
tersebut. Sebagai contoh, perasaan penuh atau tidak nyaman setelah makan bisa menunjukkan
adanya kanker pada bagian bawah lambung.
Penurunan berat badan atau kelelahan biasanya disebabkan oleh kesulitan makan atau
ketidakmampuan menyerap beberapa vitamin dan mineral. Anemia bisa diakibatkan oleh
perdarahan bertahap yang tidak menyebabkan gejala lainnya. Kadang penderita juga bisa
mengalami muntah darah yang banyak (hematemesis) atau mengeluarkan tinja kehitaman
(melena).Bila kanker lambung bertambah besar, mungkin akan teraba adanya massa pada
dinding perut. Pada stadium awal, tumor lambung yang kecil bisa menyebar (metastasis) ke
tempat yang jauh.Penyebaran tumor bisa menyebabkan pembesaran hati, sakit kuning
(jaundice), pengumpulan cairan di perut (asites) dan nodul kulit yang bersifat ganas.
Penyebaran kanker juga bisa menyebabkan pengeroposan tulang, sehingga terjadi patah
tulang ( Admin,2010 ).

2.7 KOMPLIKASI
A. Perforasi
Dapat terjadi perforasi akuta dan perforasi kronika
1. Perforasi akut AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang
terbuka dari korsinoma ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi
dari kangker yang terletaknya di kurvatur mitor, diantrium dekat pylorus. Biasa
nya mempunyai gejala-gejala yang mirip demean perforasi dari ulkus peptikum.
Perforasi ini sering di jumpai pada pria.

10
2. Perforasi kronika
Perforasi yang tedar jadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh
omentum atau bersifat penetrasi. Biasanya lebih jarang dijumpai jika
dibandingkan dengan komplikasi dari ulkus benigna.penetrasi mungkin di jumpai
antara lapisan omentum gastrohepatik atau lapisan bawah dari hati. Yang sering
terjadi yaitu perforasi dan tertutup oleh pancreas.dengan terjadinya penetrasi maka
akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrokolik fistula.

B. Hematemesis
Hematemasis yang masif dan melena terjadI+ 5 % dari karsinoma ventrikuli yang
gejala-gejalanya mirip seperti pada pendarahan massif maka banyak darah yang
hilang sehingga timbullah anemia hipokromik
C. Obstruksi
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan
muntah-muntah.
D. Adhesi
E. Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan
organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut

2.8 PENATALAKSANAAN
A. Pencegahan
Kanker lambung dapat dicegah dengan cara-cara di bawah ini, untuk mengurangi
risiko kanker perut dengan membuat perubahan kecil kehidupan sehari-hari Anda. Sebagai
contoh, cobalah untuk:
1. Makan lebih banyak buah dan sayuran. Cobalah untuk memasukkan lebih banyak buah
dan sayuran ke dalam makanan setiap hari. Memilih berbagai jenis buah-buahan dan
sayuran berwarna.
2. Mengurangi jumlah makanan diasap dan asin yang anda makan. Lindungi perut Anda
dengan membatasi makanan ini. Coba dengan bumbu dan cara lain untuk penyedap
makanan yang tidak menambahkan natrium.
3. Berhenti merokok. Jika Anda merokok, berhenti. Jika Anda tidak merokok, jangan mulai.
Merokok meningkatkan risiko kanker perut, dan juga banyak jenis kanker lainnya.
Berhenti merokok bisa sangat sulit, sehingga mintalah bantuan dokter.

11
4. Tanyakan kepada dokter Anda tentang risiko kanker perut. Beberapa kondisi medis yang
meningkatkan risiko kanker perut, seperti anemia, maag dan perut polip. Jika Anda telah
didiagnosa dengan salah satu kondisi tersebut, tanyakan kepada dokter bagaimana ini
mempengaruhi risiko kanker perut. Bersama Anda dapat mempertimbangkan periodik
endoskopi untuk mencari tanda-tanda kanker perut. Tidak ada pedoman untuk
menentukan siapa yang harus menjalani skrining untuk kanker lambung di Amerika
Serikat. Tetapi dalam beberapa kasus, Anda dan dokter Anda dapat memutuskan risiko
Anda cukup tinggi bahwa manfaat dari skrining lebih besar daripada potensi resiko.

B. Pengobatan
1. Kemoterapi dan terapi radiasi
Bila karsinoma telah menyebar ke luar dari lambung, tujuan pengobatannya adalah
untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup. Kemoterapi dan terapi
penyinaran bisa meringankan gejala.
Hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik daripada karsinoma.
Mungkin penderita akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.

2. Reseksi bedah.
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik adalah pembedahan.
Walaupun telah terdapat daerah sebar, pembedahab sudah dapat dilakukan sebagai tindakan
paliatif. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain, tidak ada
sisa Ca pada irisan lambung, reseksi cairan sekitar yang terkena, dari pengambilan kelenjar
limfa secukupnya.
a. Obat multiple (fluorosil, mitomisin C dan doksorubisin)
Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU, trimetrexote, fluorosil, mitomisin C,
doksorubisin, hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 – 30 %.

b. Hiperalimentasi (nutrisi intravena).


utrisi intravena yag disuntikan melalui intravena yang berfunsi untuk menggantikan
nutrisi karena kanker lambung ini. Karena kanker lmbung ini proses penyerapan
nutrisi yang terjadi di lambung terganggu dan mengakibatkan kekurangan nutrisi dari
kebutuhan yang diperlukan. Maka diberikan hiperalimentasi ini.

12
C. Perawatan
 Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien
harus tetap berbaring sampai beberapa hari setelah tanda dan gejala terjadi, dan 7
hari setelah dilakukan operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan
usus atau perforasi usus.
 Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring
untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.

D. Diet
 Pada mulanya klien diberikan makanan diet cair atau bubur saring kemudian
bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu
nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat
diberikan dengan aman kepada klien.

2.9 PEMERIKASAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun dan
anemia. Di daerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan jika telah terjadi
metastasis ke hati, teraba hati yang iregular, dan kadang-kadang kelenjar limfe klavikula
teraba.

2. Radiologi.
Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda dengan
berbagai posisi seperti telentang. Tengkurap, oblik yang disertai dengan komprsi.

3. Gastroskopi dan Biopsi.


Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat adanya
tumor gaster. Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi ditemukan 94 % pasien dengan
tumor ganas gaster sedangkan dengan sitologi lavse hanya didapatkan 50 %.

13
4. Pemeriksaan darah pada tinja.
Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood), untuk itu
perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin.

5. Sitologi.
Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor ganas
lambung dengan hasil 80 – 90 %. Tentu pemeriksaan ini perlu dilengkapi dengan
pemeriksaan gastroskopi dan biopsi.

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
Kasus :
Tn M berusia 56 sudah menikah dan memiliki anak namun istrinya pergi 1tahun yang
lalu dan tidak kembali. Tn.M hidup bersama anaknya yang berusia 5 tahun dan saudara laki
lakinya. Keluarga Tn M membawa Tn M ke rumah sakit dengan keadaan sangat lemah pada
hari sabtu keluarga khawatir sebab Tn.M mengeluh nyeri hebat pada perut sudah satu
minggu. Tn M tampak meringgis dan sedih bila di suruh untuk makan di karenakan setiap
sebelum sehabis makan Tn M merasakan mual dan muntah yang hebat nampak muka muka
Tn M pucat bibir kering. Klien mengatakansewaktu BAB terasa sakit dan pada malam hari
susah untuk tidur.

I. BIODATA
A. Identitas Klien
Nama : Tn.M
Umur : 56 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Status Marital : Kawin
Pendidikan/Pekerjaan : SMA/Swasta
Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia
Alamat : Sungai Rangas
Kiriman dari : –
Tanggal Masuk RS : 2 Maret 2016 Jam 18.45 WITA
Tanggal Pengkajian : 2 Maret 2016 Jam 19.00 WITA
Nomor Register : 4285/11

B. Penanggung Jawab Klien


Nama : Tn.B
Hubungan dengan Klien : Keluarga
Umur : 40 tahun
Alamat : Sungai Rangas

15
II. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
A. Alasan Dirawat
Sejak seminggu yang lalu klien merasakan sakit di perut disertai mual dan muntah,
yang disebabkan oleh gastritis (maag). Keadaan klien semakin melemah dan tak kunjung
sembuh, akhirnya klien dibawa ke RS.

B. Keluhan Utama
Mengeluh nyeri hebat pada perut sudah satu minggu. Klien nampak meringgis dan
sedih bila di suruh untuk makan di karenakan setiap sebelum sehabis makan klien merasakan
mual dan muntah yang hebat
nampak muka muka klien pucat dan bibir kering Klien mengatakan sewaktu BAB terasa sakit
dan pada malam hari susah untuk tidur.

Provocative/Pallitive
Dari penuturan klien, seminggu yang lalu sebelum masuk Rumah Sakit, klien merasakan
nyeri disekitar perut, serta mual dan muntah. Penyebabnya dikarenakan kebiasaan klien
yang sering terlambat makan. Melihat keadaan klien yang merasakaan nyeri di perut
tepatnya di lambung dan keadaan klien yang semakin melemah, maka keluarga klien
membawa klien ke RS untuk mendapatkan perawatan.

Qualiti/Quantity
Klien merasa nyeri di perutnya serta klien terlihat pucat.

Regional
Klien merasakan nyeri bagian abdomen sebelah kiri.

Severity Scale
Skala nyeri klien adalah skala 3 yaitu nyeri berat.
0 : tidak nyeri
1: nyeri ringan
2 : nyeri sedang
3 : nyeri berat
4 : nyeri tak tertahankan

16
5. Timing
Klien mengatakan bahwa sakitnya kadang-kadang timbul.

III. RIWAYAT KESEHATAN


1. Riwayat Kesehatan Sebelum Sakit Ini
Dari penuturan klien, klien memang memiliki riwayat penyakit maag, tapi tidak
pernah separah ini, biasanya setelah minum obat yang dibeli di toko obat, sakit klien
sembuh.

2. Riwayat Kesehatan Sekarang


Sejak seminggu yang lalu klien mengalami sakit perut yang terus-menerus disertai
mual dan muntah, bahkan sebelum dibawa ke rumah sakit, klien sempat pingsan.
Akhirnya melihat keadaan klien yang semakin melemah, keluarga klien langsung
membawa klien ke RS pada tanggal 2 Maret 2016 jam 18.45 WITA untuk
mendapatkan perawatan.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga


Klien mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit
seperti yang dideritanya sekarang, dan di keluarga klien juga tidak ada yang
menderita penyakit keturunan seperti Hipertensi dan DM serta penyakit menular
seperti Hepatitis dan AIDS.

IV. AKTIVITAS SEHARI-HARI


A. Makan dan Minum
1. Nutrisi
Di rumah : Klien makan 2 kali sehari dengan nasi, ikan dan sayur, kadang-kadang
bisa sekali saja. Jenis makanan bervariasi dan tidak ada pantangan.
Di RS : Klien makan 3 kali sehari tetapi hanya sedikit-dikit. Klien tidak dapat
menghabiskan porsi yang disediakan, hanya 2-3 sendok saja yang dapat dihabiskan.
Makanan yang disediakan adalah bubur dengan lauk, sayur dan buah (pisang).

2. Minum
Di rumah : Klien minum 3-4 gelas per hari, jenis minuman air putih dan teh.
Di RS : Klien minum 5-6 gelas air per hari.

17
B. Eliminasi
1. BAK
Di RS : Klien tampak susah untuk BAK.
2. BAB
Di rumah : Frekuensi BAB klien 1 kali sehari.
Di RS : Frekuensi BAB klien 1 kali sehari.

C. Istirahat dan Tidur


Tidur klien terganggu karena sering merasa nyeri pada ulu hati. Dan tidur klien
selama kurang lebih 4-5 jam.

D. Aktivitas
Di rumah : Aktivitas klien terganggu karena klien perlu istirahat di tempat tidur
karena keadaan klien lemah dan klien beraktivitas dibantu oleh keluarganya.

E. Kebersihan Diri
Di rumah : Klien tidak pernah mandi karena kondisinya yang lemah. Karena itu klien
hanya diseka-seka oleh keluarganya.

V. PSIKOSOSIAL
A. Psikologis
Klien dapat menerima dengan sabar terhadap penyakit yang dideritanya dan klien
juga menganggap ini adalah cobaan dan teguran dari Tuhan. Klien juga dapat
beradaptasi dengan baik di lingkungan RS dan tim kesehatan.

B. Sosial
Klien dapat berkomunikasi dengan tim kesehatan lain.

C. Spiritual
Klien beragama Islam tetapi selama klien dirawat di Rumah Sakit klien tidak dapat
melakukan shalat, klien hanya berdo’a untuk minta kesembuhannya.

18
VI. PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal 2 Maret 2016A.

A. Keadaan umum
1) Kesadaran : Komposmentis
2) GCS : 4,5,6
3) Penampilan : Klien tampak lemah, pucat dan gelisah
4) Ciri-ciri tubuh : Badan kurus dan kulit sawo matang
5) Pols : 86 kali/menit
RR : 28 kali/menit
TD : 120 / 70 mmHg
T : 36,0 ° C
6) Gol darah : O

B. Head to toe
 Kepala
Bentuk simetris tidak terdapat kotoran atau ketombe, pergerakan tidak kaku dapat
digerakkan ke kiri dan ke kanan, tidak terdapat luka pada kulit kepala dan kulit kepala
cukup bersih.
 Rambut
Rambut klien pendek lurus, warna hitam dan rambut klien terlihat bersih.
 Mata
Bentuk mata simetris, fungsi penglihatan baik, konjungtiva tidak anemis, pupil dan
reflex cahaya baik, klien tidak memakai alat bantu penglihatan.
 Hidung ( Penciuman )
Bentuk dan posisi hidung simetris, fungsi penciuman baik, tidak terdapat secret atau
benda asing yang menempel, tidak terdapat epitaksis dan rhinorrhoe dan tidak ada
peradangan.
 Telinga ( Pendengaran )
Bentuk dan posisi simetris, ketajaman pendengaran baik, tidak terdapat serumen dan
cairan pada lubang telinga, tidak terdapat perdarahan dan klien tidak menggunakan
alat bantu pendengaran.

19
 Mulut dan gigi
Bentuk bibir simetris, warna bibir tampak kehitaman, mukosa bibir tampak kering,
fungsi pengecapan baik, tidak terdapat perdarahan dan peradangan, mulut cukup
bersih dank lien tidak menggunakan gigi palsu.
 Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid, tidak terdapat
peradangan dan leher dapat digerakkan secara anatomis.
 Thorax (fungsi pernapasan )
Bentuk simetris, tidak terdengar bunyi wheezing dan tidak ada penurunan ekspansi
paru kiri dan kanan.
 Abdomen
Bentuk simetris, abdomen terlihat bersih tidak terdapat luka. Abdomen klien kembung
saat diperkusi, nyeri tekan di ulu hati saat di palpasi, saat auskultrasi bising usus 16
kali/menit (Normal : 8-12 kali/menit).
 Reproduksi
Jenis kelamin klien adalah laki-laki.
 Ekstremitas
 Ekstremitas atas : dapat digerakkan dengan baik dan ekstremitas atas dekstra
terpasang infus.
 Ekstremitas bawah : keduanya dapat digerakkan dengan baik tapi keadaan klien
yang lemah terpaksa klien istirahat total di tempat tidur.
 Integumen
Warna kulit klien sawo matang, tidak terdapat lesi dan memar.

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG LABORATORIUM (3 Maret 2016)

Hasil Pemeriksaan Hematologi


Jenis Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 13,7 gram%; L : 12-16 gram%; P : 12-14 gram%
Lekosit 4630/mm3; L/P : 6.000-10.000 /mm3
Laju endap darah 26 mm/jam; L : 0-10 mm/jam; P : 0-15 mm/jam
Hematokrit 41 % L : 40-48 %; P : 37-43 %
Trombosit 256.000/mm3 L/P : 200.000-400.000 /mm3

20
Hitung Jenis Lekosit
EOS BASO STAB SEG LYMP MONO
0% 0% 0% 51% 41% 8%
Nilai normal : EOS : 1-3 % SEG : 50-70 %
BASO : 0-1 % LYMP : 20-40 %
STAB : 2-6 % MONO : 2-8 %

Widal
1/100 1/200 1/400 1/800
S. Typhi O + + – –
S. Typhi H + + + –
S. Paratyphi A – – – –
S. Paratyphi B + – – –

3.2 ANALISA DATA

Pre Operasi

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


DS : 5. Pols : 86 kali/menit  Gastristis Nyeri
RR : 28 kali/menit atrospik di gaster
TD : 120 / 70 mmHg  Perubahaan
S : 36,0 ° C mukosa abnormal
 Pertumbuhan sel
sel kanker
DO :  Terjadinya
– Klien tampak meringis kesakitan pembengkakan
– Skala nyeri 3 (berat)
– Klien merasa nyeri saat di palpasi

DS: 5. Pols : 86 kali/menit  Perubahan Anastesi


RR : 28 kali/menit jaringan tertentu
TD : 120 / 70 mmHg  Nyeri
S : 36,0 ° C

21
DO: pasien tampak lemas

Ekspresi wajah pasien tampak


meringgis

Pasien kadang kadang gelisah


DS 5. Pols : 86 kali/menit  Ketidak mampuan Perubahan nutrisi
RR : 28 kali/menit klien kurang dari
TD : 120 / 70 mmHg menggunakan kebutuhan tubuh
S : 36,0 ° C koping terhadap
stressor yang di
hadapinya
DO : BB mengalami penurunan  Pasien merasa
cemas
Nutrisi kurang dari kebutuhan  Sel kanker
tubuh membesar

DS : 5. Pols : 86 kali/menit  Pembengkakan Intoleransi aktivitas


RR : 28 kali/menit  Perut membesar
TD : 120 / 70 mmHg  Mudah merasa
S : 36,0 ° C kenyang
 Mual mutah jika
makan
DO : pasien tampak lemah  Intake nutrisi
kurang
 Kegagalan fuangsi
lambaung
 Sistem percernaan
menurun
 Penurunan suplai
makanan dengan
kebutuhan tubuh
 Ketidak
seimbangan sulpai
makanan dengan
kebutuhan tubuh
 Fisik
menurun/lemah
 Intoleransi
aktivfitas

22
POST OPERASI

DATA ETIOLOGI MASALAH


DS:  Pemberian obat Ketidak efektifan jalan nafas
anastesi
DO: Adanya suara nafas  Menghambat jalan
tambahan nafas
 Penurunan pola nafas

DS:  Ketidakefektifan pola Nyeri


nafas
DO: Pasien tampak meringis  Proses pembedahan
kesakitan skala nyeri  Trauma jaringan

DS:  Interfensi sekunder Ketidakefektifan jalan nafas


tubuh operasi
DO:- Dilaksanakan anastesi  Nyeri Nyeri
umum, Post Operasi, Berat  Post Operasi
badan menurun  Puasa Perubahan nutrisi kurang
 Tidak adanya asupan dari kebutuhan tubuh
DS: makanan
 Perubahan nutrisi Resiko tinggi infeksi
DO: Adanya luka operasi kurang dari
kebutuhan Ansietas
 Ca lambung
 Pembedahan Post Gangguan konsep diri
DS: Operasi
 Adanya luka operasi
DO:  Potensial jalan masuk
 Mikroorganisme
Klien tampak cemas  Peningkatan
kerentanan sekunder
Klien tampak gelisah terhadap prosedur
invasif
 Resiko infeksi post
pengobatan
DS:  Luka post operasi
oleh tim medis
DO: Klien tampak tidak  Pasien mengetahui
percaya diri hasil pengobatan
penyakitnya
 Cemas post operasi
 Ketidakpercayaan
klien bisa sembuh
dari penyakitnya
 Merasa terancam
dengan penyakitnya
 Gangguan konsep diri

23
24
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa Keperawatan
A. Pre-Op
1) Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker
2) Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan
3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah
dan tidak nafsu makan
4) Intoleransi beraktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
5) Ketidakefektifan pola nafas b.d adanya pengaruh anastesi.
6) Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau
intervensi operasi.
7) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
8) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap
prosedur invasive.
2. Rencana Keperawatan
A. Pre-Operasi
Dx 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker
Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria Hasil : Nyeri berkurang sampai dengan hilang
Rencana Tindakan:
1) Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfens
Alasan: mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya
2) Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas)
Alasan: dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk
mengurangi nyeri
3) Ajarkan tekhnik relaksasi tarik nafas dalam
Alasan: tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri
4) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik
Alasan: analgetik efektif untuk mengatasi nyeri

Dx 2. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan


Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan
Kriteria Hasil : Kecemasan pasien berkurang
Rencana Tindakan:

25
1) Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
Alasan: pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien
2) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya
Alasan: untuk mengurangi kecemasan
3) Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik
Alasan: memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat
4) Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Alasan: dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan
penyakit dan pengobatan

Dx 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan
muntah.
Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan
a) Kriteria Hasil : Nutrisi klien terpenuhi
b) Mual berkurang sampai dengan hilang.
Rencana tindakan :
 Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat.
Alasan: Makanan yang hangat menambah nafsu makan.
 Kaji kebiasaan makan klien.
Alasan: Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien.
 Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam.
Alasan: Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual.
 Timbang berat badan bila memungkinkan.
Alasan: Untuk mengetahui kehilangan berat badan.
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin
Alasan: Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak

Dx 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.


Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil :
Klien menunjukkan peningkatan toleransi dalam beraktivitas yang ditandai tidak mengeluh
lemas, klien beraktivitas secara bertahap.

Rencana Tindakan :

26
 Sediakan waktu istirahat yang cukup.
Alasan: Istirahat akan memberikan energi yang cukup dan membantu dalam proses
penyembuhan.
 Kaji keluhan klien saat beraktivitas
Alasan: Mengidentifikasi kelainan beraktivitas.
 Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas.
Alasan: Menentukan aktivitas yang boleh dilakukan.
 Bantu memenuhi kebutuhan klien.
Alasan: Terpenuhinya kebutuhan klien.

B. Post-Operasi
Dx 1. Ketidakefektifan pola nafas b.d adanya pengaruh anastesi.
Tujuan : Pola nafas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan.
a) Kriteria Hasil :Suara nafas vesikuler
b) Bunyi nafas bersih, tidak ada suara tambahan
Rencana tindakan :
 Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas misalnya mengi, krekels, ronchi.
Alasan : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan
dapat/tidak dimanifestasikan adanya bunyi nafas adventisius misalnya: penyebaran,
krekels basah (bronkitis), bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema) atau
tidak adanya bunyi nafas (asma berat).
 Kaji/pantau frekuensi pernafasan, catat radio inspirasi/ekspirasi.
Alasan: Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada
penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Pernafasan dapat melambat
dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.
 Catat adanya derajat dyspnea misalnya keluhan “lapar udara”, gelisah, ansietas, distress
pernafasan, penggunaan otot bantu.
Alasan: Disfungsi pernafasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses kronis
selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Misalnya infeksi, reaksi
alergi.

 Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misalnya peninggian kepala tempat tidur, duduk
pada sandaran tempat tidur.

27
Alasan: Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan
menggunakan gravitasi. Sokongan tangan/kaki dengan meja, bantal, dll membantu
menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.
 Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya: debu, asap dan bulu bantal yang
berhubungan dengan kondisi individu.
Alasan: Pencetus tipe reaksi alergi pernafasan yang dapat, mentriger episode akut.
 Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir.
Alasan: Memberikan pasien-pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol
dyspnea dan menurunkan jebakan udara.
 Observasi karakteristik batuk misalnya menetap, batuk pendek, basah. Bantu tindakan
untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk.
Alasan: Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya bila pasien lansia, sakit akut
atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk tinggi atau kepala di bawah
setelah perkusi dada.
 Tingkatkan masukan cairan antara sebagai pengganti makanan.
Alasan: Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret. Mempermudah pengeluaran.
Penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. Cairan selama makan
dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma.

Dx 2. Nyeri berhubungan dengan interupsi tubuh sekunder terhadap prosedur invasif atau
intervensi operasi.
Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil : Nyeri berkurang sampai dengan hilang
Rencana Tindakan :
 Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi
Alasan: mengetahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya
 Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas)
Alasan: dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk
mengurangi nyeri.
 Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam
Alasan: tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri

 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik


Alasan: analgetik efektif untuk mengatasi nyeri

28
Dx 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan keperawatan.
a) Kriteria Hasil :Nutrisi klien terpenuhi
b) Mual berkurang sampai dengan hilang.

Rencana tindakan :
 Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat.
Alasan: Makanan yang hangat menambah nafsu makan.
 Kaji kebiasaan makan klien.
Alasan: Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan
klien.
 Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam.
Alasan: Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual.
 Timbang berat badan bila memungkinkan.
Alasan: Untuk mengetahui kehilangan berat badan.
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin
Alasan: Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak

Dx 4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap


prosedur invasive.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan.
a) Kriteria Hasil :Tidak ada tanda-tanda infeksi.
b) Proses penyembuhan luka tepat waktu.
Rencana tindakan:
1. Observasi tanda-tanda vital, adanya demam, menggigil, berkeringat.
Alasan: Sebagai indikator adanya infeksi/terjadinya sepsis.
2. Observasi daerah luka operasi, adanya rembesan, pus, eritema.
Alasan: Deteksi dini terjadinya proses infeksi.
3. Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/orang terdekat.
Alasan: Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi,
membantu mengurangi ansietas.
4. Kolaborasi dengan medik untuk terapi antibiotik.
Alasan: Membantu menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri.

29
Dx 5. Kecemasan berhubungan dengan ketidakpastian tentang hasil pengobatan kanker
Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria Hasil : Kecemasan pasien berkurang
Rencana Tindakan:
a) Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien
Alasan: pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien
b) Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya
Alasan: Untuk mengurangi kecemasan
c) Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik
Alasan: Memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat
d) Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Alasan: Dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan
penyakit dan pengobatan

3.4 Implementasi
Keperawatan pelaksanan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan
untuk mencapai tujuan yang spesifik. (Nursalam,2001) dalam tahap pelaksanaan ini, perawat
berperan sebagai pelaksana keperawatan memberi support, pendidikan, advokasi,konselor
dan penghimpunan data.(carpenito 1999)

3.5 Evaluasi

Dx 1. mencapai peredaan gangguan rasa nyaman.

A. melaporkan peredaan rasa nyeri (skala nyeri o)


B. pasien tidak nampak meringis
C. pasien tampak lebih rileks

Dx2. Kebutuhan nutrisi tercukupi

A. klien akan mempertahankan masukan nutrisi untuk kebutuhan metabolisme


B. nafsu makan meningkat
C. tidak jadi penurunan berat badan

Dx3. memperlihatkan peningkatan sikap untuk menerima keadaan diri

A. klien sanggup menerima keadaannya


B. tidak menutup diri

30
C. mengkomunikasikan perasaanya dengan baik

Dx4. mencapai penurunan ansientas.

A. klien terlihat lebih rileks


B. nadi normal (60-100 x/menit untuk dewasa)
C. respirasi normal (12-20 x/menit)

Dx5. kebutuhan cairan terpenuhi.

A. klien tidak tampak lemah


B. turgo kulit baik
C. tidak terjadi penurunan berat badan secara mendadak

Dx6. tidak ada gejala infeksi

A. tidak timbul kemerahan


B. tidak adanya pembengkakan
C. tidak timbul nyeri
D. tidak ada peningkatan suhu
E. tidak kehilangan fungsi

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Jadi kanker lambung adalah bentuk neoplasma maligna dalam gastrointestinal.
Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui.
Kanker lambung dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu :
1. Karsinoma ulseratif merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan harus dibedakan dari
ulkus peptikum jinak.
2. Karsinoma polipoid, tampak seperti kembang kol yang menonjol ke dalam lumen dan dapat
berasal dari polip adenomatosa
3. Karsinoma infiltratif, dapat menembus seluruh ketebalan dinding lambung dan dapat
menyebabkan terbentuknya ” lambbung botol kulit ” (linitis plastica ) yan tidak lentur.
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat
tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung, pasien dapat sembuh.
Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak
dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti
obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.

31