Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH

“PENYAKIT ASMA PADA KEHAMILAN”

KELOMPOK 3

DIAN FITRAYANI

MARIA YASINTA DE ROSARI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BOROBUDUR
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Insiden asma dalam kehamilan adalah sekitar 0,5-1 % dari seluruh kehamilan.
Serangan asma biasanya timbul pada usia kehamilan 24-36 minggu, jarang pada akhir
kehamilan. Frekuensi dan beratnya serangan akan mempengaruhi hipoksia pada ibu
dan janin. Penegakan diagnosis serupa dengan asma diluar kehamilan.
Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering
dijumpai pada kehamilan dan persalinan, diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita
asma. Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Turner et al dalam suatu
penelitian yang melibatkan 1054 wanita hamil yang menderita asma menemukan
bahwa 29% kasus membaik dengan terjadinya kehamilan, 49% kasus tetap seperti
sebelum terjadinya kehamilan, dan 22% kasus memburuk dengan bertambahnya umur
kehamilan. Sekitar 60% wanita hamil yang mendapat serangan asma dapat
menyelesaikan kehamilannya dengan baik. Sekitar 10% akan mengalami eksaserbasi
pada persalinan. Mabie dkk (1992) melaporkan peningkatan 18 kali lipat resiko
eksaserbasi pada persalinan dengan seksio sesarea dibandingkan dengan pervaginam.

BAB II
TINJAUAN TEORI

I. Sistem Pernafasan Ibu hamil


A. Pengertian Sistem Pernafasan
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan
oksigen, pengeluaran karbondioksida hingga penggunaan energi di dalam tubuh.
Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang
karbondioksida ke lingkungan. Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan
atau saluran nafas dan paru- paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada
yang melindunginya.
Perubahan sistem respirasi pada masa kehamilan diperlukan untuk pertumbuhan janin
dan kebutuhan oksigen maternal. Perubahan sistem respirasi meliputi perubahan
kebutuhan oksigen, dyspnea (sesak nafas) dan peningkatan volume tidal.
Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan disebabkan oleh
perubahan hormonal dan faktor mekanik. Pengaruh hormonal (peningkatan kadar
estrogen) menyebabkan ligamen pada kerangka iga berelaksasi sehingga ekspansi
rongga dada meningkat. Sedangkan perubahan mekanis meliputi elevasi posisi istirahat
diafragma kurang lebih 4 cm, peningkatan 2 cm tranversal saat sudut subkostal dan iga
bawah melebar, serta lingkar toraks melingkar kurang lebih 6 cm. Semua perubahan ini
disebabkan oleh pembesaran uterus akibat tekanan keatas. Perubahan-perubahan ini
diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk
pertumbuhan janin, plasenta dan uterus. Adanya perubahan-perubahan ini juga
menyebabkan perubahan pola pernapasan dari pernapasan abdominal menjadi torakal
yang juga memberikan pengaruh untuk memenuhi peningkatan konsumsi oksigen
maternal selama kehamilan. Perubahan hormonal pembesaran mukosa saluran
respirasi. Pernafasan melalui hidung akan semakin sulit, sehingga wanita hamil
cenderung bernafas dengan mulut, terutama pada malam hari. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya xerostomia. Insidensi xerostomia pada wanita hamil adalah
sekitar 44%. Xerostomia ini akan meningkatkan frekuensi karies gigi. Selain itu,
peningkatan progesteron menyebabkan hiperventilasi. Hiperventilasi pada kehamilan
adalah hiperventilasi relatif, artinya kenaikan ventilasi alveolar diluar pengaruh CO2
sehingga PaCO2 menurun.

B. Pemenuhan kebutuhan oksigen


Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh peningkatan
konsumsi oksigen. Laju Metabolisme Basal (BMR) biasanya meningkat pada bulan ke-4
gestasi, meningkat 15% -20% pada akhir kehamilan, dan kembali ke nilai sebelum
hamil pada hari ke-5 atau ke-6 pascapartum. Peningkatan BMR mencerminkan
peningkatan kebutuhan O2 di unit janin-plasenta-uterus serta peningkatan konsumsi O2
akibat peningkatan kerja jantung ibu.
Kebutuhan O2 ibu meningkat sebagai respon terhadap percepatan laju metabolik
dan peningkatan kebutuhan O2 jaringan uterus dan payudara. Dengan semakin tuanya
kehamilan, pernafasan dada menggantikan pernafasan perut dan penurunan diafragma
saat inspirasi menjadi semakin sulit.
Namun karena adanya peningkatan kebutuhan O2, menyebabkan adanya
penurunan kadar CO2 yang menyebabkan alkalosis.
Seain itu, peningkatan vaskularisasi, sebagai respon peningkatan kadar
estrogen, membuat kapiler membesar sehingga terbentuklah edema dan hiperemia
pada traktus pernafasan atas. Kondisi ini meliputi sumbatan pada hidung dan sinus,
epistaksis, perubahan suara, dll. Peningkatan ini juga membuat membran timpani dan
tuba eustaki bengkak, nyeri pada telinga, atau rasa penuh di telinga.

C. Peningkatan Volume Tidal


Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas sebelum
hamil yaitu 3200 cc, akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari 450 cc menjadi
600 cc, yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi permenit selama kehamilan
antara 19-50 %. Peningkatan volume tidal ini disebabkan oleh efek progesteron
terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas pusat
pernapasan terhadap karbondioksida.
Dari faktor mekanis, terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah pertengahan
kedua kehamilan akibat membesarnya janin, menyebabkan turunnya kapasitas residu
fungsional, yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru, sebesar
20%. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi saluran napas sebesar
50%.
Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas
darah. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mm
Hg, sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg, sebagai penurunan pCO2 akan
terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18-22
mEq/L, sehingga pH darah tidak mengalami perubahan.
II. Asma Pada Kehamilan
A. Pengertian Asma pada Kehamilan

Asma adalah keadaan klinis yang ditandai oleh masa penyempitan bronkus
yang reversibel, dipisahkan oleh masa di mana ventilasi jalan nafas terhadap berbagai
rangsang. (Sylvia Anderson (1995 : 149)
Asma adalah radang kronis pada jalan nafas yang berkaitan dengan
obstruksi reversible dari spasme, edema, dan produksi mucus dan respon yang
berlebihan terhadap stimuli. (Varney, Helen. 2003)
The American Thoracic Society (1962): adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-
ubah, baik secara spontan maupun sebagai hasil suatu pengobatan.
Gibbs dkk (1992) mendefinisikan sebagai suatu gangguan inflamasi kronik
pada saluran napas yang banyak diperankan oleh terutama sel mast dan eosinofil
Beberapa pengertian Asma menurut beberapa sumber :
1. Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan heredites utama dimana
otot-otot bronchi (saluran udara pada paru) mengalami kontraksi penyimpitan sehingga
menyulitkan pernapasan.
2. Asma merupakan penyakit kronik dari saluran pernapasan yang hilang dan timbul
diduga mempunyai hubungan yang erat dengan sistem imun dari tubuh.
3. Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan
bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyimpitan jalan
nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil
dari pengobatan (The American Thorakic Society)
Jadi dapat disimpulkan bahwa Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi
kronik jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala
periodik berupa sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada
wanita hamil.
Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada
kehamilan dan persalinan, diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma. Efek
kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi.

B. Jenis-jenis Asma
Asma dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Asma interisik (berasal dari dalam)
Yang sebab serangannya tidak diketahui
2. Asma eksterisik (berasal dari luar)
Yang pemicu serangannya berasal dari luar tubuh (biasanya lewat pernafasan)
Serangan asma dapat berlangsung singkat atau berhari-hari. Bisanya serangan dimulai
hanya beberapa menit setelah timbulnya pemicu. Frekuensi asma berbeda-beda pada
tiap penderita. Serangan asma yang hebat dapat menyebabkan kematian

C. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronkhial.
1. Faktor Predisposisi
a. Genetik.
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya yang jelas penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat
mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor Prepisitas
Alergen
Dimana alergen dapat dibagai menjadi 3 jenis, yaitu :
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Ex : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2) Ingestan, yahg masuk melalui mulut
Ex : Makanan dan obat-obatan
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
Ex : perhiasan, logam, dan jam tangan
2. Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti : musim hujan, musim
kemarau, musim bunga,. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga danb
debu
3. Stress
Stress / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul
harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress / gangguan emosi perlu
diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum
diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
4. Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja dilaboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polusi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
libur atau cuti.
5. Olahraga / aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau olahraga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas.

Perubahan sistem pernafasan selama kehamilan disebabkan:

a. Perubahan hormonal
Volume tidal meningkat dari 450 cc menjadi 600 cc sehingga terjadi peningkatan
ventilasi per menit. Peningkatan volume tidal ini diduga disebabkan oleh efek
progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas
pusat pernafasan terhadap karbondioksida
b. Faktor Mekanik

Kehamilan membesar

Peningkatan diafragma terutama setelah TMT II

Turunnya kapasitas residu fungsional

Pola pernapasan berubah dari pernapasan abdomen menjadi torakal


sehingga kebutuhan O2 maternal meningkat

DRAJAT ASMA

• TINGKAT PERTAMA
secara klinis normal, tetapi asma timbul jika ada faktor pencetus
• TINGKAT KEDUA
penderita asma tidak mengeluh dan pada pemeriksaan fisik tanpa
kelainan tetapi fungsi parunya menunjukkan obstruksi jalan nafas
• TINGKAT KETIGA
penderita tidak ada keluhan tetapi pada pemeriksaan fisik maupun
maupun fungsi paru menunjukkan tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
• TINGKAT KEEMPAT
penderita mengeluh sesak nafas, batuk dan nafas berbunyi.Pada
pemeriksaan fisik maupun spirometri akan dijumpai tanda-tanda obstruksi jalan
napas.
• TINGKAT KELIMA
status asmatikus, yaitu suatu keadaan darurat medik berupa serangan
akut asma yang berat, bersifat refrakter terhadap pengobatan yang biasa
dipakai.
Modifikasi asma berdasarkan National Asthma Education Program (NAEPP)
• Asma Ringan
Singkat (< 1 jam ) eksaserbasi symptomatic < dua kali/minggu
Puncak aliran udara ekspirasi > 80% diduga akan tanpa gejala
• Asma Sedang
Gejala asma kambuh >2 kali / mingggu
Kekambuhan mempengaruhi aktivitasnya
Kekambuhan mungkin berlangsung berhari-hari
Kemampuan puncak ekspirasi /detik dan kemampuan volume ekspirasi
berkisar antara 60-80%.
• Asma Berat
Gejala terus menerus menganggu aktivitas sehari-hari
Puncak aliran ekspirasi dan kemampuan volume ekspirasi kurang dari
60% dengan variasi luas
Diperlukan kortikosteroid oral untuk menghilangkan gejala

D. Tanda / Gejala Asma


1. Mulai dari wheezing - bronkokonstriksi berat.
2. Hipoksia ringan dikompensasi dengan hiperventilasi. Jika bertambah berat
kelelaha retensi O2.
3. Tanda gagal napas : asidosis, hiperkapnea, adanya pernapasan dalam,
takikardi, pulsus paradoksus, ekspirasi memanjang, penggunaan otot asesoris
pernapasan, sianosis sentral, sampai gangguan kesadaran.
4. Manifestasi klinis asma yaitu dispnea, kesesakan dada, wheezing, dan batuk
malam hari. Pasien melaporkan gejala seperti gangguan tidur dan nyeri dada.
5. Batuk yang memicu spasme dapat BERBAHAYA.
6. Beberapa penderita asma hanya dimulai wheezing tanpa batuk.
7. Beberapa yang lain tidak pernah wheezing tetapi hanya batuk selama serangan
terjadi.
8. Selama serangan asma, mukus menjadi kering dan sukar.
Adapun tingkatan klinik asma dapat dilihat pada tabel berikut dibawah :
Tingkatan PO2 PCO2 pH FEVI (%
predicted)
Alkalosis respiratori Normal ↓ ↑ 65 – 80
ringan ↓ ↓ ↑ 50 – 64
Alkalosis respiratori ↓ Normal Normal 35 – 49
Tingkat waspada ↓ ↓ ↑ < 35
Asidosis respiratori

Pada kasus asma sedang, hipoksia pada awalnya dapat dikompensasi oleh
hiperventilasi sebagai refleksi dari PO2 arteri normal, menurunnya PO2 dan alkalosis
respiratori. Pada obstruksi berat, ventilasi menjadi berat karena Fatigue menjadikan
retensi CO2. pada hiperventilasi, keadaan ini hanya dapat dilihat sebagai PO 2 arteri
yang berubah menjadi normal. Akhirnya pada obstruksi berat yang diikuti kegagalan
pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asedemia

E. Patofisiologi

ALERGI
Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan herediter utama.
Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan berhubungan dengan gen pada
kromosom 5, 6,11, 12, 14 & 16 termasuk reseptor Ig E yang afinitasnya tinggi,
kelompok gen sitokin dan reseptor antigen Y –Cell sedangkan lingkungan yang menjadi
alergen tergantung individu masing-masing seperti influenza atau rokok.
Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible dari kontraksi otot
polos bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi peradangan di saluran
nafas dan menjadi responsive terhadap beberapa rangsangan termasuk zat iritan,
infeksi virus, aspirin, air dingin dan olahraga. Aktifitas sel mast oleh sitokin menjadi
media konstriksi bronkus dengan lepasnya histamine, prostalgladine D 2 dan
leukotrienes. Karena prostagladin seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma, maka
penggunaanya sebagai obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat dihindari jika
memungkinkan.
F. Komplikasi
1. Keguguran
2. Persalinan prematur
3. Pertumbuhan janin terhambat
Kompensasi yang terjadi pada fetus adalah :
1. Menurunnya aliran darah pada uterus
2. Menurunnya venous return ibu
3. Kurva dissosiasi oksi ttb bergeser ke kiri
Sedangkan pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
1. Menurunnya aliran darah ke pusat
2. Meningkatnya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
3. Menurunnya cardiac output
Perlu diperhatikan efek samping pemberian obat-obatan asma terhadap fetus,
walaupun tidak ada bukti bahwa pemakaian obat – obat anti asma akan
membahayakan asma.

G. Pengaruh Kehamilan terhadap Asma


Pengaruh kehamilan terhadap perjalanan klinis asma, bervariasi dan tidak
dapat disuga. Dispnea simtomatik yang terjadi selama kehamilan, yang mengenai 60%-
70% wanita hamil, bisa memberi kesan memperberat keadaan asma.
Wanita yang memulai kehamilan dengan asma yang berat, tampaknya akan mengalami
asma yang lebih berat selama masa kehamilannya dibandingkan dengan mereka yang
dengan asma yang lebih ringan. Sekitar 60% wanita hamil dengan asma akan
mengalami perjalanan asma yang sama pada kehamilan-kehamilan berikutnya.
Gluck& Gluck menyimpulkan bahwa peningkatan kadar IgE diperkirakan
akan memperburuk keadaan asma selama kehamilan, sebaliknya penderita dengan
kadar IgE yang menurun akan membaik keadaannya selama kehamilan.
Eksaserbasi serangan asma tampaknya sering terjadi pada trimester III atau pada saat
persalinan, hal ini menimbulkan pendapat adanya pengaruh perubahan faktor
hormonal, yaitu penurunan progesteron dan peningkatan prostaglandin, sebagai faktor
yang memberikan pengaruh.
Pada persalinan dengan seksio sesarea resiko timbulnya eksaserbasi serangan asma
mencapai 18 kali lipat dibandingkan jika persalinan berlangsung pervaginam.

H. Pengaruh Asma Terhadap Kehamilan


Pengaruh asma terhadap kehamilan bervariasi tergantung derajat berat
ringannya asma tersebut. Asma terutama jika berat bisa secara bermakna
mempengaruhi hasil akhir kehamilan, beberapa penelitian menunjukkan adanya
peningkatan insidensi abortus, kelahiran prematur, janin dengan berat badan lahir
rendah, dan hipoksia neonatus. Beratnya derajat serangan asma sangat mempengaruhi
hal ini, terdapat korelasi bermakna antara fungsi paru ibu dengan berat lahir janin.
Angka kematian perinatal meningkat dua kali lipat pada wanita hamil dengan asma
dibandingkan kelompok kontrol.
Asma berat yang tidak terkontrol juga menimbulkan resiko bagi ibu, kematian ibu
biasanya dihubungkan dengan terjadinya status asmatikus, dan komplikasi yang
mengancam jiwa seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, kor pulmonale akut,
aritmia jantung, serta kelemahan otot dengan gagal nafas. Angka kematian menjadi
lebih dari 40% jika penderita memerlukan ventilasi mekanik.
Asma dalam kehamilan juga dihubungkan dengan terjadinya sedikit
peningkatan insidensi preeklampsia ringan, dan hipoglikemia pada janin, terutama pada
ibu yang menderita asma berat.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan penanganan penderita secara
intensif, akan mengurangi serangan akut dan status asmatikus, sehingga hasil akhir
kehamilan dan persalinan dapat lebih baik.

I. Diagnosis Asma Bronchial


Diagnosis asma tidak sulit, terutama bila dijumpai gejala yang klasik seperti
sesak nafas, batuk dan mengi. Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan
masa remisi diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan, tetapi
kadang-kadang dapat pula menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus
menerus.
Adanya riwayat asma sebelumnya, riwayat penyakit alergik seperti rinitis alergik, dan
keluarga yang menderita penyakit alergik, dapat memperkuat dugaan penyakit asma.
Selain hal-hal di atas, pada anamnesa perlu ditanyakan mengenai faktor pencetus
serangan.
Penemuan pada pemerikasaan fisik penderita asma tergantung dari derajat
obstruksi jalan nafas. Ekspirasi memanjang, mengi, hiperinflasi dada, takikardi,
pernapasan cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada penderita asma dalam
serangan. Dalam praktek tidak sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan
diagnosis asma, tetapi banyak pula penderita yang bukan asma menimbulkan mengi
sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang

J. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya :
a. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinofil.
b. Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
c. Crede yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
d. Netrofil dan eosinofil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
2. Pemeriksaan darah
a. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis.
b. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH
c. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang diatas 15000 / mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi.
d. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu
serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

K. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah
dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila
terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut :
a. Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak dihilus akan bertambah
b. Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltratepada paru.
d. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
e. Bila terjadi penuomonia mediastinum, pneuomotoraks dan penuomoperi kardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
2. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
3. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjaid selama serangan dapat dibagi menjadi 3
bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru, yaitu :
a. Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock
wise rotation
b. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right
Bundle Branch Block)
c. Tanda – tanda hipoksemia, yakni sinus tachycardia, SVES dan VES atau terjadinya
depresi segmen ST negative.
4. Scanning Paru
Dengan scaning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama
serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru
5. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible, cara yang paling cepat dan
sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator.
Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator
aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC
sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol
bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidka saja penting untuk
menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk berat obstruksi dan efek pengobatan.
Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan
obstruksi
6. USG
Ibu hamil penderita asma sebaiknya rajin memeriksakan janinnya sejak awal.
Pemeriksaan denga USG dilakukan sejak usia kehamilan 12 – 20 minggu untuk
mengetahui pertumbuhan janin. USG dapat diulang pada TM II dan TM III terutama bila
derajat asmanya berada pada tingkat sedang – berat
7. Electronic Fetal Heart rate Monitoring
Untuk memeriksa detak jantung janin

L. a. Penalaksanaan asma pada kehamilan :

1. Penyesuaian terapi untuk mengatasi gejala.


2. Pengobatan untuk mencegah serangan dan penanganan dini bila terjadi
serangan.
3. Pemberian obat sebaiknya inhalasi, untuk menghindari efek sistemik pada
janin.
4. Pemeriksaan fungsi paru ibu.
5. Pada pasien yang stabil, NST dilakukan pada akhir trimester II/awal trimester
III.
b. Penatalaksanaan asma kronis pada kehamilan harus mencakup :

1. Penilaian obyektif fungsi paru dan kesejahteraan janin


2. Menghindari faktor pencetus asma
3. Edukasi
4. Terapi farmakologi selama kehamilan (asma intermiten, asma persisten
ringan, asma persisten sedang, dan asma persisten berat)
M. Hal-Hal Untuk Mencegah Agar Tidak Terjadi Serangan Asma Selama Hamil
1. Jangan merokok
2. Kenali faktor pencetus
3. Hindari flu, batuk, pilek atau infeksi saluran nafas lainnya. Kalu tubuh terkena flu
segera obati. Jangan tunda pengobatan kalu ingin asma kambuh.
4. Bila tetap mendapat serangan asma, segera berobat untuk menghindari terjadinya
kekurangan oksigen pada janin
5. Hanya makan obat-obatan yang dianjurkan dokter.
6. Hindari faktor risiko lain selama kehamilan
7. Jangan memelihara kucing atau hewan berbulu lainnya.
8. Pilih tempat tinggal yang jauh dari faktor polusi, juga hindari lingkungan dalam
rumah dari perabotan yang membuat alergi. Seperti bulu karpet, bulu kapuk, asap
rokok, dan debu yang menempel di alat-alat rumah tangga.
9. Hindari stress dan ciptakan lingkungan psikologis yang tenang
10. Sering – sering melakukan rileksasi dan mengatur pernafasan
11. Lakukan olahraga atau senam asma, agar daya tahan tubuh makin kuat sehingga
tahan terhadap faktor pencetus.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Data Sosial
Data sosial yang perlu dikaji pada klien antara lain : nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama, penangung jawab/suami, alamat, dll
2. Riwayat Penyakit
Dalam melakukan pengkajian riwayat kesehatan, hal yang perlu dinyatakan
antara lain :
a. Keluhan utama yaitu keluhan batuk, sesak nafas, mengi atau adanya dahak atau lendir
yang berlebihan. Mengkaji keadaan umum klien terutama tingkat kesadarannya adalah
untuk menentukan angka yang tepat.
b. Riwayat penyakit sekarang meliputi kapan munculnya gejala, lama terjadinya
serangan, bertanya keluhan yang dirasakan dan tindakan pertolongan yang sudah
dilakukan.disamping itu, perlu dikaji apa faktor yang mencetuskan terjadinya serangan,
apakah karena allergen, atau faktor intrinsik, misalnya stress, emosional. Perawat juga
hrus mengetahui apa pengaruh yang dirasakan klien pada kehamilannya akibat
serangan asthma yang dialami. Pengkajian pada semua sistem tubuh diperlukan untuk
mengetahui, kemungkinan adanya perubahan sistem yang tidak efektif, kemungkinan
perubahan sistem yang terjadi akibat serangan asthma antara lain :sistempernafasan,
sistem kardiovaskuler, sistem pencernaa dansistem persyarafan. Selain itu pola
kebiasaan klien sehari – hari yang perlu diketahui untuk menilai adanya perubahan pola
sehubungan denganadanya asthma.

B. Diagosa Keperawatan
a) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sekret pernafasan
yang meningkat
b) Kecemasan berhubungan dengan resiko gangguan kahamilan

C. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan
1 Bersihan nafas tidak -Jalan nafas -bersihkan -adanya
efektif berhubungan bersih jalan nafas peningkatan
dengan produksi produksi sekret
sekret pernafasan yang
yang meningkat mempegaruhi
jalan nafas
-terapi menjadi tidak
oksigen yaitu efektif
berikan -dengan
oksigen dan dipasangnya
monitoring oksigen
efektifitasnya mempermudah
2 Kecemasan -klien mampu pola jalan nafas
berhubungan dengan mengontrol -turunkan
resiko gangguan kecemasannya tingkat -tingkat
kehamilan kecemasan kecemasan yang
klien dapat
3 -klien mampu mempengaruhi
Tidak tolenransi dalam toleransi atau -terapi perkembagan
beraktifitas menyesuaikan aktivitas klien janin
berhubungan dengan denganaktifitasyang
ketidakseimbangan dilakukan -membantu klien
suplai dan kebutuhan dalam
O2 aktifitasnya
sehari - hari
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel
mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa sesak napas, dada
terasa berat, dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil.
Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada
kehamilan dan persalinan, diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma. Efek
kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi.
Pengaruh asma terhadap kehamilan bervariasi tergantung derajat berat ringannya
asma tersebut. Asma terutama jika berat bisa secara bermakna mempengaruhi hasil
akhir kehamilan, beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan insidensi
abortus, kelahiran prematur, janin dengan berat badan lahir rendah, dan hipoksia
neonatus

B. Saran
Kepada mahasisiwi kebidanan agar lebih dapat memahami jenis penyakit yang
menyertai kehamilan dan persalinan khususnya asma.
Bagi petugas kesehatan khususnya bidan dapat mengetahui tndak lanjut penanganan
penyakit yang menyertai kehamilan dan persalinan khususnya asma,dan bidan dapat
mengenali tanda dan gejala terjadinya asma dalam kehamilan dan persalinan

DAFTAR PUSTAKA :

 http://octarinimayyasari.blogspot.com/2013/05/makalah-asma-pada-
kehamilan.html
 http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-
pada-klien-dengan_07.html