Anda di halaman 1dari 13

SWAMEDIKASI SAKIT TENGGOROKAN (Faringitis)

Dosen Pengampu:

Prof. Dr.R.A. Oetari,SU., MM., M.Sc., Apt

Kelompok 4

Disusun oleh:
Eka Ary Ramadhani (1920374111)
Endah Novitasari (1920374113)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-
obatan tanpa resep oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999).
Dasar hukum swamedikasi adalah peraturan Menteri Kesehatan No.
919 Menkes/Per/X/1993. Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa
swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh
seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang
dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada
dokter. Namun penting untuk dipahami bahwa swamedikasi yang
tepat, aman,dan rasional tidak dengan cara mengobati tanpa terlebih
dahulu mencari informasi umum yang bisa diperoleh tanpa harus
melakukan konsultasi dengan pihak dokter. Adapun informasi
umum dalam hal ini bisa berupa etiket atau brosur. Selain itu,
informasi tentang obat bisa juga diperoleh dari apoteker pengelola
apotek, utamanya dalam swamedikasi obat keras yang termasuk dalam
daftar obat wajib apotek (Depkes RI., 2006; Zeenot, 2013).
Faringitis dalam bahasa latin; pharyngitis adalah suatu penyakit
peradangan yang menyerang tenggorokan atau faring yang
disebabkan oleh bakteri dan virus tertentu. Kadang juga disebut
radang tenggorokan (Rusmajono, et. Al, 2001).

1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk dijadikan pedoman, agar
mahasiswa mengetahui tentang penyakit faringitis, apa tanda dan
gejala penyakit faringitis, apa penyebab penyakit faringistis,
swamedikasi dari penyakit faringitis serta pencegahan dan
pengendalian penyakit faringitis.
1.3 Rumusan Masalah
Secara garis besar, masalah yang kami rumuskan adalah sebagai
berikut :
a. Apakah defenisi dari faringitis?
b. Apa sajakah tanda dan gejala penyakit faringitis?
c. Apa sajakah penyebab penyakit faringitis?
d. Bagaimana swamedikasi pada pasien faringitis ?
e. Apa sajakah pencegahan penyakit faringitis?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Faringitis


Faringitis dalam bahasa latin; pharyngitis, adalah suatu penyakit
peradangan yang menyerang tenggorokan atau faring yang
disebabkan oleh bakteri dan virus tertentu. Kadang juga disebut
radang tenggorokan. Faringitis adalah infeksi pada faring yang
disebabkan oleh virus dan bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri
tenggorokan, faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran
limfonodi leher dan malaise. Faringitis adalah imflamasi febris yang
disebabkan oleh infeksi virus yang tak terkomplikasi biasanya akan
menghilang dalam 3 sampai 10 setelah awitan (Vincent, 2004).

2.2 Tanda dan Gejala penyakit faringitis


Tanda dan gejala penyakit faringitis yang sering muncul pada
faring adalah nyeri tenggorok dan nyeri menelan, tonsil menjadi
berwarna merah dan membengkak, mukosa yang melapisi faring
mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput
yang berwarna keputihan atau mengeluarkan pus (nanah), demam
serta pembesaran kelenjar getah bening di leher.

2.3 Penyebab penyakit faringitis


Penyebab dari penyakit faringitis antara lain makanan,
berminyak, lingkungan misalnya udara yang kering, merokok dan
debu, minuman beralkohol dan minuman bersoda.

2.4 Swamedikasi penyakit faringitis


Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-
obatan tanpa resep oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri (FIP, 1999).
Dasar hukum swamedikasi adalah peraturan Menteri Kesehatan No.
919 Menkes/Per/X/1993. Secara sederhana, dapat dijelaskan bahwa
swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh
seseorang dalam mengobati gejala sakit atau penyakit yang sedang
dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan konsultasi kepada
dokter. Namun penting untuk dipahami bahwa swamedikasi yang
tepat, aman,dan rasional tidak dengan cara mengobati tanpa terlebih
dahulu mencari informasi umum yang bisa diperoleh tanpa harus
melakukan konsultasi dengan pihak dokter. Adapun informasi
umum dalam hal ini bisa berupa etiket atau brosur. Selain itu,
informasi tentang obat bisa juga diperoleh dari apoteker pengelola
apotek, utamanya dalam swamedikasi obat keras yang termasuk dalam
daftar obat wajib apotek (Depkes RI., 2006; Zeenot, 2013).
Apabila dilakukan dengan benar, maka swamedikasi
merupakan sumbangan yang sangat besar bagi pemerintah, terutama
dalam pemeliharaan kesehatan secara nasional (Depkes RI., 2008).
Ada beberapa faktor penyebab swamedikasi yang keberadaannya
hingga saat ini semakin mengalami peningkatan. Beberapa faktor
penyebab tersebut berdasarkan hasil penelitian WHO; antara lain
sebagai berikut :
a. Faktor sosial ekonomi
Seiring dengan meningkatnya pemberdayaan masyarakat, yang
berdampak pada semakin meningkatnya tingkat pendidikan,
sekaligus semakin mudahnya akses untuk memperoleh
informasi, maka semakin tinggi pula tingkat ketertarikan
masyarakat terhadap kesehatan. Sehingga hal itu kemudian
mengakibatkan terjadinya peningkatan dalam upaya untuk
berpartisipasi langsung terhadap pengambilan keputusan
kesehatan oleh masing-masing individu tersebut.
b. Gaya hidup
Kesadaran tentang adanya dampak beberapa gaya hidup yang
bisa berpengaruh terhadap kesehatan, mengakibatkan banyak
orang memiliki kepedulian lebih untuk senantiasa menjaga
kesehatannya daripada harus mengobati ketika sedang
mengalami sakit pada waktu-waktu mendatang.
c. Kemudahan memperoleh produk obat
Saat ini, tidak sedikit dari pasien atau pengguna obat lebih
memilih kenyamanan untuk membeli obat dimana saja bisa
diperoleh dibandingkan dengan harus mengantri lama di Rumah
Sakit maupun klinik.
d. Faktor kesehatan lingkungan
Dengan adanya praktik sanitasi yang baik, pemilihan nutrisi
yang benar sekaligus lingkungan perumahan yang sehat,
berdampak pada semakin meningkatnya kemampuan masyarakat
untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan kesehatannya
sekaligus mencegah terkena penyakit.
e. Ketersediaan produk baru
Semakin meningkatnya produk baru yang sesuai dengan
pengobatan sendiri dan terdapat pula produk lama yang
keberadaannya juga sudah cukup populer dan semenjak lama
sudah memiliki indeks keamanan yang baik. Hal tersebut
langsung membuat pilihan produk obat untuk pengobatan sendiri
semakin banyak tersedia (Zeenot, 2013).
Obat merupakan zat yang dapat bersifat sebagai obat atau
racun. Sebagaimana terurai dalam definisi obat bahwa obat dapat
bermanfaat untuk diagnosa, pencegahan penyakit, menyembuhkan
atau memelihara kesehatan, yang hanya didapatkan pada dosis dan
waktu yang tepat, namun dapat bersifat sebagai racun bagi manusia
apabila digunakan salah dalam pengobatan dengan dosis yang berlebih
atau tidak sesuai aturan yang telah ditetapkan, dan bahkan dapat
menimbulkan kematian. Pada dosis yang lebih kecil, efek pengobatan
untuk penyembuhan penyakit tidak akan didapatkan (Anief, 1997;
Ditjen POM, 1997).
Obat tanpa resep adalah obat untuk jenis penyakit yang
pengobatannya dianggap dan ditetapkan sendiri oleh masyarakat dan
tidak begitu membahayakan jika mengikuti aturan memakainya
(Anief, 1997).
Golongan obat yang dapat digunakan pada pengobatan
sendiri adalah golongan obat bebas dan obat bebas terbatas dan obat
wajib apotek (SK Menkes NO. 2380/1983).
a. Obat Bebas
Obat bebas yaitu obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter
dan bisa diperoleh di apotek, toko obat, toko dan pedagang
eceran. Pada kemasan obat ini ditandai dengan lingkaran hitam
dengan latar berwarna hijau. Contohnya Parasetamol (Pereda
nyeri dan demam), dan produk-produk vitamin.
b. Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas yaitu obat yang dapat diperoleh tanpa resep
dokter, namun dalam penggunaannya harus memperhatikan
peringatan-peringatan tertentu. Obat ini juga dapat diperoleh di
apotek, toko obat, toko dan pedagang eceran. Pada kemasan obat
ini ditandai dengan lingkaran hitam dengan latar berwarna biru,
juga disertai peringatan dengan latar belakang warna hitam.
Contoh obat bebas terbatas adalah obat-obat flu. Adapun
peringatan yang dicantumkan ada 6 macam sesuai dengan aturan
pemakaian masing-masing obatnya, yaitu :
1. Peringatan no.1: Awas! Obat Keras, Bacalah Aturan
Pakainya !
2. Peringatan no.2: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dikumur,
jangan ditelan c.
3. Peringatan no.3: Awas! Obat Keras. Hanya untuk bagian
luar dari badan
4. Peringatan no.4: Awas! Obat Keras. Hanya untuk dibakar
5. Peringatan no.5: Awas! Obat Keras. Tidak Boleh Ditelan
6. Peringatan no.6: Awas! Obat Keras. Obat wasir, jangan
ditelan.
c. Obat Wajib Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan NO. 347/
MENKES/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek yaitu obat
keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada pasien di
apotek tanpa resep dokter. Berikut beberapa ketentuan yang
harus dipatuhi apoteker dalam memberikan obat wajib apotek
kepada pasien.
1. Apoteker berkewajiban untuk melakukan pencatatan yang
benar mengenai data pasien, mencakup nama, alamat,
umur, dan penyakit yang sedang dideritanya.
2. Apoteker berkewajiban untuk memenuhi ketentuan jenis
sekaligus jumlah yang bisa diserahkan kepada pasien,
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yang diatur oleh
Keputusan Pemerintah Kesehatan tentang daftar obat
wajib apotek (OWA).
3. Apoteker berkewajiban memberikan informasi yang benar
tentang obat yang diserahkan, mencakup indikasi, kontra-
indikasi, cara pemakaian, cara penyimpanan, dan efek
samping yang tidak diinginkan yang paling dimungkinkan
akan timbul sekaligus tindakan yang disarankan apabila
hal itu memang benar-benar terjadi.

2.5 Swamedikasi faringitis


Swamedikasi yang dipilih dalam kasus sakit tenggorokan adalah
Degirol® yang setiap tablet hisapnya mengandung Dequalinium
Chloride 0,25 mg yang dimana aturan pakainya 1 tablet degirol
dibiarkan melarut perlahan-lahan didalam mulut, aturan pakainya
ulangi setiap 3 sampai 4 jam atau sesuai dengan petunjuk dokter
jangan melebihi 8 tablet sehari. Indikasi untuk sakit tenggorokan,
peradangan pada rongga mulut dan tenggorokan seperti gingivitis,
periodontitis, faringitis, laringitis dan angina serta infeksi selaput
lendir mulut seperti stomatitis. Kontra indikasi pada penderita
hipersensitifitas terhadap pemakaian dequalinium chloride. Hindari
pemakaian jangka panjang dan berulang. Simpan pada suhu ruang.

2.6 Pencegahan penyakit faringitis


Pencegahan penyakit faringitis cukup beristirahat, berkumur
dengan air hangat, berkumur dengan garam hangat beberapa kali
sehari, bagi perokok harus berhenti merokok, banyak minum dan
hindari makanan yang dapat menyebabkan iritasi dan jika diperlukan
dapat minum analgesik serta tindakan pencegahan dilakukan dengan
menghindari pemakaian pelembab udara yang berlebih.
BAB III

KESIMPULAN

Swamedikasi atau self medication adalah penggunaan obat-obatan


tanpa resep oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri. Faringitis dalam bahasa
latin; pharyngitis adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang
tenggorokan. Swamedikasi pada sakit tenggorokan menggunakan Degirol®
yang setiap tablet hisapnya mengandung Dequalinium Chloride 0,25 mg.
Daftar Pustaka

 Depkes RI. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas
Terbatas. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. Jakarta
 Zeenot, Stephen. 2013. Pengelolaan & Penggunaan Obat Wajib
Apotek. D-Medika
 Vincent. 2004. Production Planning and Inventory Control.Jakarta:
Gramedia Pustaka Umum.
 Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Dialog
Pasien : (Pasien datang)
Apoteker : (Memberikan salam dan memperkenalkan diri) Selamat
malam mbak, saya Eka Ary Ramadhani apoteker yang
bertugas pada malam ini. Ada yang bisa saya bantu?
(Mempersilahkan pasien duduk)
Pasien : (Pasien duduk) saya mau cari obat mbak
Apoteker : Obatnya buat mbak sendiri?
Pasien : Iya mba buat saya sendiri
Apoteker : Mohon maaf mbak, nama ibu siapa ya?
Pasien : Nama saya Endah
Apoteker : (Mencatat nama pasien) Baik mbak, keluhannya apa ya
mbak?
Pasien : Kalau buat menelan tenggorokkan saya sakit mba
Apoteker : Kalau boleh tau sakitnya seperti apa ya mbak?
Pasien : Sakit banget kalau menelan, sampai menelan air liur saja
sakit mbak
Apoteker : Setiap menelan apapun ya mbak sakitnya?
Pasien : Iya mba
Apoteker : Sejak kapan mbak sakitnya?
Pasien : Sejak 2 hari yang lalu mbak
Apoteker : Oh iya, ada gejala lain gak mbak seperti demam?
Pasien : Hari pertama saja mbak demamnya
Apoteker : Kalau boleh tau mbak beberapa hari yang lalu makan
makanan pedas dan berminyak?
Pasien : Iya mba beberapa hari yang lalu saya makan makanan
pedas dan berminyak
Apoteker : Selama sakit tenggorokkan bagaimana cara mbak
mengurangi rasa sakitnya
Pasien : Minum air hangat mbak
Apoteker : Mbak sudah ada periksa ke dokter dan minum obat?
Pasien : Belum ada minum obat dan periksa ke dokter mbak, apa ya
mbak obatnya?
Apoteker : Sebelumnya mbak ada riwayat alergi obat atau tidak?
Pasien : Tidak ada mbak
Apoteker : (Memikirkan obat yang harus dipilih) Ini mbak saya punya
rekomendasi obat degirol untuk sakit tenggorokkan, bisa di
konsumsi 3-4 kali sehari, cara penggunaannya dihisap saja
mbak, penyimpanannya bisa disimpan disuhu ruangan
mbak, ada yang bisa saya bantu lagi mbak?
Pasien : Tidak ada mbak
Apoteker : Bisa diulangi mbak informasi yang saya berikan tadi?
Pasien : 3-4 kali sehari, obatnya dihisap saja, disimpan disuhu
ruangan
Apoteker : Baiklah ibu sudah mengerti, oh iya bu harga obatnya 10
ribu
Pasien : Iya mbak
Apoteker : (Membungkus obat dan menyerahkan) Bayarnya dikasir ya
mbak, semoga lekas sembuh mbak
Pasien : Terimakasih mbak