Anda di halaman 1dari 5

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

Initial klien : Ny. S

Diagnosa medis : G2 P1 A0 (28 minggu)

No RM : ……………………………………………….....

1. Tindakan keperawatan yang dilakukan:

Antenatal care (palpasi leopold)

2. Diagnosa keperawatan:

Data subyektif :

Klien mengatakan “hari ini sudah merupakan pemeriksaan yang ke 4 kali saat
posyandu, umur kehamilan 6 bulan, mual dan muntah sudah tidak ada lagi, tetapi kadang –
kadang air liur masih terasa pahit. Klien mengatakan sering merasa sesak pada perut dan
terkadang kesulitan bernapas, perut terasa penuh, oleh sebab itu klien merasa cemas
dengan keadaan bayinya”.

Data obyektif

a. Klien tampak cemas


b. Klien banyak bertanya mengenai bayi yang ada didalam kandungannya
c. Tinggi fundus uteri 25 cm ( 3 jari diatas umbilicus)
d. Denyut jantung janin 134 x/m
e. Tekanan darah 110/70

Diagnosa keperawatan : Ansietas

3. Prinsip-prinsip tindakan dan rasional:

a. Persiapan alat :
- Tempat tidur
- Selimut/kain linen
- Bantal
- Pita ukur
- Doppler
- Pelumas
b. Bina hubungan saling percaya dengan klien
c. Jelaskan Prosedur dan tujuan dari pemeriksaan Leopold pada klien
d. Cuci tangan
e. Jaga privacy
f. Instruksikan ibu hamil untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pemeriksaan
dilakukan
g. Posisikan ibu pada posisi supinasi dan lutut ditekuk.
h. Buka Area abdominal mulai dari prosesus xipoideus sampai simfisis pubis, tutupi
bagian yang tidak dilakukan tindakan
i. Menghangatkan tangan dengan menggosok bersamaan
j. Menggunakan telapak tangan untuk palpasi bukan dengan menggunakan jari
k. Pemeriksaan Leopold I
1) Hitung tinggi fundus uteri. Lakukan pengukuran dengan menggunakan pita ukur
dimulai dari batas atas simfisis pubis hingga puncak fundus. Catat hasilnya.
2) Lengkungkan jari-jari kedua tangan, kelilingi bagian atas fundus dengan jari-jari.
3) Lakukan palpasi ringan pada fundus uteri. Bila posisi sungsang, maka di fundus
akan terasa kepala bulat keras dan melenting pada goyangan. Bila posisi normal,
pada fundus akan teraba bokong tidak keras dan tidak melenting. Pada posisi letak
lintang, fundus uteri tidak diisi oleh bagian- bagian janin.
l. Pemeriksaan Leopold II
1) Letakkan kedua tangan menelusuri tepi uteri.
2) Lakukan palpasi ringan dari atas menuju ke bawah
3) Pada letak membujur dapat ditetapkan punggung anak, yang teraba rata dengan
tulang iga seperti papan cuci. Pada letak lintang maka akan teraba kepala janin.
m. Pemeriksaan Leopold III
1) Tekan dengan ibu jari dan jari tengah pada salah satu tangan secara lembut dan
masuk ke dalam abdomen klien di atas simpisis pubis
2) Pegang bagian presentasi bayi. Bila teraba keras dan bulat, maka kepala. Bila lunak
dan tidak bulat maka bokong. Pada letak lintang simfisis pubis akan kosong.
n. Pemeriksaan Leopold IV
1) Posisikan Klien untuk meluruskan kakinya
2) Posisikan perawat menghadap ke arah kaki klien
3) Letakkan kedua tangan di sisi bawah uterus, lalu tekan ke dalam dan gerakkan jari-
jari ke arah rongga panggul, dimanakah tonjolan sefalik dan apakah bagian
presentasi telah masuk. Bila bagian terendah masuk PAP telah melampaui
lingkaran terbesarnya, maka tangan yang melakukan divergen sedangkan bila
lingkaran terbesarnya belum masuk PAP maka tangan pemeriksa konvergen.
4) Pemeriksaan leopold 4 tidak dilakukan bila kepala masih tinggi.
o. Melakukan pemeriksaan Denyut Jantung Janin (DJJ)
p. Bantu klien untuk mengenakan dan merapikan bajunya kembali
q. Sampaikan hasil pemeriksaan leopold pada klien
r. Cuci tangan
s. Dokumentasi

4. Bahaya-bahaya yang mungkin terjadi akibaat tindakan tersebut dan cara pencegahannya:

a. Pada pemeriksaan leopold dapat merangsang terjadinya kontraksi pada rahim ibu.
Sehingga pencegahannya adalah dengan melakukan pemeriksaan leopold
menggunakan seluruh permukaan tangan dan berusaha agar tangan tidak dilepaskan
dari perut ibu selama melakukan pemeriksaan leopold
b. Pada saat melakukan pemeriksaan darah, tidak boleh dilakukan terlalu lama karena
dapat penekanan dari manset tensimeter dapat menyebabkan tangan ibu kram bahkan
sakit, sehingga lakukan pemeriksaan tekanan darah dengan teliti dan berhati-hati agar
tidak perlu dilakukan berulang kali.
c. Pada saat melakukan imuniasi pada ibu hamil, dapat terjadi resiko tertusuk jarum
suntik bekas pasien dan dapat menimbulkan cidera dan penularan penyakit, sehingga
pada saat melakukan imunisasi lakukan dengan hati-hati serta usahakan menggunakan
teknik one-hand capping

5. Tujuan tindakan tersebut dilakukan:

a. Menentukan ukuran besarnya Rahim sesuai dengan usia kehamilan


b. Menentukan letak janin dalam rahim
c. Memantau denyut jantung janin
d. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin
e. Meningkatkan serta mempertahankan kesehatan fisik, mental, sosial ibu dan janin
f. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan
g. Mempersiapkan persalinan cukup bulan
h. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif
i. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal
j. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi

6. Hasil yang didapat dan maknanya:

S : Klien mengatakan rasa cemas sudah berkurang karena sudah mengetahui keadaan dan
posisi dalam bayi dalam kandungannya

O : Klien tampak rileks

Tinggi fundus uteri 25 cm (3 jari di atas umbilicus)

Denyut jantung jsnin 134x/m

Tekanan darah 110/70 mmhg

Hasil pemeriksaan leopold :

a. Leopold I
Teraba keras, bundar dan melenting dan mudah digerakkan . Kepala janin teraba di
bagian difundus
b. Leopold II
1) Teraba jelas, rata, cembung , kaku/tidak dapat digerakkan pada perut bagian kiri
(bagian punggung bayi).
2) Teraba bagian kecil-kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol (bagian
ekstremitas bayi)
c. Leopold III
Teraba tonjolan yang lunak dan tidak simetris. Bagian bokong bayi terdapat di
bagian bawah
d. Leopold IV
Kedua jari-jari tangan pemeriksa bertemu (konvergen) yang berarti bagian terendah
janin belum memasuki pintu atas panggul

A : Masalah keperwatan ansietas teratasi sebagian


P : Melakukan pemeriksaan ANC
Mengatur jadwal kontrol ulang saat posyandu bulan depan lagi, dan menyarankan
klien untuk kontrol kepukesmas setiap 2 minggu sekali

7. .Identifikasi tindakan keperawatan lainnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah/
diagnosa tersebut. (Mandiri dan kolaborasi):

a. Kolaborasi tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk diagnosa tersebut
dapat dilakukan dengan tindakan kolaborasi yaitu pemeriksaan USG, untuk
mengetahui lebih jelas tentang keadaan janin