Anda di halaman 1dari 262

http://facebook.

com/indonesiapustaka
BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN DI SEKOLAH
TEORI DAN PRAKTIK
http://facebook.com/indonesiapustaka

ii
UU No 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Fungsi dan Sifat hak Cipta Pasal 2
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul
secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hak Terkait Pasal 49


1. Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang
pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, atau
menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya.

Sanksi Pelanggaran Pasal 72


1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
http://facebook.com/indonesiapustaka

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,


atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

iii
BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN DI SEKOLAH
TEORI DAN PRAKTIK
http://facebook.com/indonesiapustaka

iv
Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman
Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581
Telp/Faks: (0274) 4533427
Website: www.deepublish.co.id
www.penerbitdeepublish.com
E-mail: deepublish@ymail.com

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

AZAM, Ulul
Bimbingan dan Konseling Perkembangan di Sekolah Teori dan Praktik/
oleh Ulul Azam.--Ed.1, Cet. 1--Yogyakarta: Deepublish, Juli 2016.
xv, 246 hlm.; Uk:14x20 cm

ISBN 978-602-401-384-4

1. Bimbingan dan Konseling I. Judul


371.4

Hak Cipta 2016, Pada Penulis

Desain cover : Unggul Pebri Hastanto


Penata letak : Ika Fatria Iriyanti

PENERBIT DEEPUBLISH
(Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)
Anggota IKAPI (076/DIY/2012)
Copyright © 2016 by Deepublish Publisher
All Right Reserved
http://facebook.com/indonesiapustaka

Isi diluar tanggung jawab percetakan


Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit.

v
KATA SAMBUTAN

Kemajuan ilmu dan teknologi pada era global sekarang ini


menuntut setiap profesi untuk dapat meningkatkan dan
memperkuat konsep dasar keilmuan yang menjadi pijakan
profesionalitasnya. Implementasi sebuah profesi yang didasarkan
pada keilmuan yang kuat akan mampu memfasilitasi
perkembangan individu secara optimal. Pada akhirnya
kepercayaan masyarakat (trust building) akan terbangun dengan
kokoh, sehingga profesi yang dimaksud akan semakin
berkembang.
Saya sebagai Rektor Universitas Slamet Riyadi Surakarta
menyambut baik diterbitkannya buku ajar mahasiswa Bimbingan
dan Konseling Perkembangan, mengingat bahwa buku ajar ini
sangat dibutuhkan oleh mahasiswa calon konselor (baik di
sekolah maupun di luar sekolah). Saat ini arah dan perspektif baru
bimbingan dan konseling sebagai upaya proaktif dan sistematik
untuk memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan
yang lebih tinggi, pengembangan perilaku efektif, pengembangan
lingkungan, dan peningkatan keberfungsian individu di dalam
lingkungannya. Kondisi inilah yang perlu disadari oleh semua
pegiat bidang bimbingan dan konseling agar nantinya tugas
pokok dan fungsi bimbingan dan konseling berada pada jalur
yang tepat.
Salah satu upaya paling strategis untuk meningkatkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

profesionalitas kinerja konselor dapat dilakukan melalui upaya


mempersiapkan mahasiswa calon konselor untuk menguasai
konsep dasar dan aplikasi bimbingan dan konseling
perkembangan. Melalui buku ajar ini mahasiswa tidak hanya
dibekali dengan konsep teoritik saja akan tetapi diberi

vi
pemahaman yang komprehensif tentang aplikasi layanan
bimbingan dan konseling dengan perspektif perkembangan.
Akhirnya saya berharap buku ajar ini bisa dimanfaatkan
sebaik-baiknya dan dapat dijadikan pegangan bagi dosen
pengampu mata kuliah Bimbingan dan Konseling Perkembangan.
Kepada penulis yang telah menyusun buku ajar ini saya
sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya.

Surakarta, Juni 2016


Rektor UNISRI

Prof. Dr. Ir. Kapti Rahayu Kuswanto


http://facebook.com/indonesiapustaka

vii
PENGANTAR

Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan


pemerintah mengusahakan serta menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
yang diatur dengan undang-undang (UUD Tahun 1945 Pasal 31
Ayat 1 dan 3). Lebih jauh dijelaskan bahwa pendidikan
merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1
Ayat 1).
Dalam pernyataan lain, dikemukakan bahwa fungsi
pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dua aspek penting tentang konsep dasar dan fungsi
pendidikan yang dikemukakan dalam UU No. 20 Tahun 2003
http://facebook.com/indonesiapustaka

memberikan peluang dan ruang yang sangat terbuka bagi peran


bimbingan dan konseling dalam keseluruhan sistem pendidikan
nasional. Peran bimbingan itu secara khusus tersurat dalam
pernyataan: “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau

viii
latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”. Ini berarti
bahwa keberadaan bimbingan dan konseling di lingkungan
pendidikan, baik formal non formal, maupun informal merupakan
konsekuensi logis yang dikuatkan dengan landasan hukum
sebagaimana aspek pendidikan seperti kurikulum pendidikan dan
manajemen pendidikan. Dengan kata lain, kedudukan atau posisi
bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari
keseluruhan program pendidikan.
Selain aspek hukum, keberadaan layanan bimbingan dan
konseling dalam sistem pendidikan secara umum dilatarbelakangi
oleh beberapa landasan. Untuk meningkatkatkan efektivitas
penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling profesional,
maka pekerjaan profesi itu harus ditata berlandaskan tuntutan riil
masyarakat pengguna juga mengacu pada rujukan teori-teori yang
berkenaan dengan landasan filosofis, sosiologis, psikologis,
sosiologis, psikologis, sosio-kultur dan sistem nilai baik yang
bersifat umum maupun keagamaan.

Surakarta, Juni 2016


Penulis

Ulul Azam, S.Pd., M.Pd.


http://facebook.com/indonesiapustaka

ix
DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN ................................................................ vi


PENGANTAR ........................................................................ viii
DAFTAR ISI ............................................................................. x
BAB I PERKEMBANGAN INDIVIDU .............................. 1
I. Kompetensi Dasar .................................................... 1
II. Indikator ................................................................... 1
III. Uraian Materi ........................................................... 1
A. Perkembangan Individu .................................. 1
1. Konsep Dasar Perkembangan ................ 1
2. Manifestasi dan Cara Pendekatan
terhadap Perkembangan Individu .......... 6
B. Proses Perkembangan Individu ....................... 7
1. Alur Perkembangan Individu ................ 7
2. Kecenderungan Arah
Perkembangan Individu ........................ 9
C. Tahap Perkembangan Individu ...................... 11
1. Tahapan Perkembangan Individu ........ 11
2. Tugas-tugas Perkembangan
lndividu .............................................. 15
http://facebook.com/indonesiapustaka

3. Beberapa Hukum Perkembangan


Perilaku dan Pribadi serta
Implikasinya bagi Pendidikan ............. 21
D. Variasi Individual Siswa ............................... 24
1. Pengertian Siswa................................. 24

x
2. Teori-Teori Psikologi tentang
Hakikat Siswa ..................................... 26
3. Siswa sebagai Makhluk
Individual ........................................... 37
4. Perbedaan Individual Siswa ................ 39
IV. Rangkuman ............................................................ 46
V. Latihan dan Tugas .................................................. 47
VI. Referensi ................................................................ 47
BAB II KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN
KONSELING PERKEMBANGAN ........................ 48
I. Kompetensi Dasar .................................................. 48
II. Indikator ................................................................. 48
III. Uraian Materi ......................................................... 48
A. Asumsi Dasar dan Kebutuhan
Bimbingan dan Konseling
Perkembangan .............................................. 48
B. Teori Bimbingan dan Konseling
Perkembangan .............................................. 52
C. Tujuan Bimbingan dan Konseling
Perkembangan .............................................. 55
1. Tujuan BK Perkembangan yang
Berkaitan dengan Aspek Pribadi-
Sosial: ................................................. 55
http://facebook.com/indonesiapustaka

2. Tujuan BK Perkembangan yang


Terkait dengan Aspek Akademik: ....... 57
3. Tujuan BK Perkembangan yang
Terkait dengan Aspek Karir: ............... 58

xi
D. Prinsip-prinsip Bimbingan dan
Konseling Perkembangan ............................. 59
E. Peran Personil Sekolah dalam
Bimbingan dan Konseling
Perkembangan .............................................. 61
1. Kepala Sekolah ................................... 62
2. Wakil Kepala Sekolah......................... 62
3. Wali Kelas .......................................... 63
4. Guru Mata Pelajaran ........................... 63
5. Staf Administrasi ................................ 64
6. Konselor/Guru BK .............................. 64
F. Manfaat Bimbingan dan Konseling
Perkembangan .............................................. 65
1. Manfaat bagi Siswa ............................. 66
2. Manfaat bagi Orang Tua ..................... 66
3. Manfaat bagi Guru .............................. 67
4. Manfaat bagi Kepala Sekolah .............. 67
5. Manfaat bagi Pengelola
Pendidikan .......................................... 68
6. Manfaat bagi Konselor Sekolah .......... 68
7. Manfaat bagi Pendidik Konselor ......... 69
8. Manfaat bagi Kelanjutan
Pendidikan Siswa ................................ 69
9. Manfaat bagi Layanan Personal
http://facebook.com/indonesiapustaka

Siswa .................................................. 70
10. Manfaat bagi Tenaga Kerja dan
Dunia Industri ..................................... 70
IV. Rangkuman ............................................................ 71

xii
V. Latihan dan Tugas .................................................. 72
VI. Referensi ................................................................ 73
BAB III BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN SEBAGAI
KERANGKA KONSEPTUAL BIMBINGAN
DAN KONSELING KOMPREHENSIF ................. 74
I. Kompetensi Dasar .................................................. 74
II. Indikator ................................................................. 74
III. Uraian Materi ......................................................... 74
A. Hakikat Bimbingan dan Konseling
Komprehensif ............................................... 74
B. Komponen Program Bimbingan dan
Konseling Komprehensif .............................. 82
1. Pelayanan Dasar ................................. 83
2. Pelayanan Responsif ........................... 85
3. Perencanaan Individual ....................... 89
4. Dukungan Sistem ................................ 91
C. Bidang Layanan Bimbingan dan
Konseling ..................................................... 93
1. Bimbingan dan Konseling
Pribadi ................................................ 93
2. Bimbingan dan Konseling Sosial ......... 94
3. Bimbingan dan Konseling
http://facebook.com/indonesiapustaka

Belajar ................................................ 96
4. Bimbingan dan Konseling Karir .......... 97
D. Penyusunan Program Bimbingan dan
Konseling Komprehensif .............................. 99

xiii
1. Mengkaji Kebijakan dan Produk
Hukum yang Relevan ........................ 101
2. Menganalisis Harapan dan
Kondisi Sekolah................................ 101
3. Menganalisis Karakteristik dan
Kebutuhan Siswa .............................. 102
4. Menganalisis Program,
Pelaksanaan, Hasil, Dukungan
serta Faktor-faktor Penghambat
Program Sebelumnya ........................ 103
E. Penyelenggara Layanan Bimbingan dan
Konseling dan Pihak yang Dilibatkan.......... 108
1. Penyelenggara Layanan
Bimbingan dan Konseling ................. 108
2. Pihak Lain yang Dilibatkan ............... 110
IV. Rangkuman .......................................................... 112
V. Latihan dan Tugas ................................................ 112
VI. Referensi .............................................................. 113
BAB IV STRATEGI LAYANAN DARI KOMPONEN
PROGRAM BIMBINGAN DAN
KONSELING PERKEMBANGAN ...................... 114
I. Kompetensi Dasar ................................................ 114
II. Indikator ............................................................... 114
III. Uraian Materi ....................................................... 114
http://facebook.com/indonesiapustaka

A. Pelayanan Dasar ......................................... 114


1. Layanan Orientasi ............................. 114
2. Layanan Informasi ............................ 121
3. Layanan Penguasaan Konten ............. 126

xiv
4. Layanan Bimbingan Kelompok ......... 134
5. Aplikasi Instrumentasi ...................... 144
B. Pelayanan Responsif ................................... 151
1. Layanan Konseling Individu ............. 151
2. Layanan Konseling Kelompok .......... 159
3. Referal (Alih Tangan atau
Rujukan) ........................................... 170
4. Layanan Konsultasi........................... 174
5. Konseling Teman Sebaya .................. 180
6. Konferensi Kasus .............................. 190
7. Kunjungan Rumah ............................ 194
C. Perencanaan Individual ............................... 200
1. Layanan Penempatan dan
Penyaluran ........................................ 200
2. Himpunan Data ................................. 207
D. Dukungan Sistem ........................................ 215
IV. Rangkuman .......................................................... 226
V. Latihan dan Tugas ................................................ 227
VI. Referensi ...............................................................227
DAFTAR PUSTAKA ............................................................ 230
BIODATA PENULIS ............................................................234
http://facebook.com/indonesiapustaka

xv
BAB I
PERKEMBANGAN INDIVIDU

I. Kompetensi Dasar
Menguasai konsep dan prinsip-prinsip perkembangan
individu.

II. Indikator
A. Mampu memahami hakikat perkembangan.
B. Mampu menjelaskan proses dan tahapan
perkembangan individu.
C. Mampu memahami variasi individual siswa.

III. Uraian Materi


A. Perkembangan Individu
1. Konsep Dasar Perkembangan
Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan
progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses
kematangan dan pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh
Van den Daele (Hurlock, 1980) bahwa perkembangan
adalah perubahan secara kualitatif. lni berarti bahwa
perkembangan bukan sekadar penambahan ukuran pada
tinggi dan berat badan seseorang atau kemampuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak


stuktur dan fungsi yang kompleks.
lndividu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah
siswa yang melakukan proses pembelajaran. Adapun

1
perkembangan adalah perubahan yang dialami oleh
individu menuju tingkat kematangannya yang berlangsung
secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik
mengenai fisik maupun psikisnya. Jadi perkembangan
individu di sini adalah perubahan yang dialami oleh siswa
menuju tingkat kematangannya yang berlangsung secara
sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik fisik
maupun psikisnya. Proses perkembangan pada diri
individu yang sedang mengalami proses pendidikan perlu
dipahami oleh para pendidik. Apakah siswa mengalami
perkembangan atau sebaliknya. Oleh karena itu tanggung
jawab terhadap perkembangan individu sebagai siswa
menjadi bagian dari kehidupan pendidik.
Dalam proses pendidikan seluruh aspek
perkembangan individu hendaknya dikembangkan
seoptimal mungkin. Oleh sebab itu, para pendidik
hendaknya memahami perkembangan siswa sehingga para
pendidik dapat berupaya secara optimal dalam
mengembangkan seluruh aspek perkembangan siswa.
Semakin banyak para pendidik mempelajari tentang
perkembangan siswa, diperkirakan akan semakin baik para
pendidik dalam membimbing mereka.
Terdapat beberapa istilah yang berhubungan dengan
konsep perkembangan, antara lain pertumbuhan,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kematangan, dan belajar. Pertumbuhan dapat diartikan


sebagai perubahan alamiah secara kuantitatif pada segi
jasmani atau fisik. Kematangan merupakan titik kulminasi
dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan

2
dari suatu fungsi psikofisik untuk menjalankan fungsinya.
Belajar adalah perubahan dalam pola sambutan atau
perilaku tertentu sebagai hasil usaha dalam batas waktu
setelah tiba masa pekanya. Dengan demikian, dapat
dibedakan bahwa perubahan perilaku sebagai hasil belajar
itu berlangsung secara disengaja dan bertujuan
(intensional) diusahakan oleh indvidu yang bersangkutan,
sedangkan perubahan dalam arti pertumbuhan dan
kematangan berlangsung secara alamiah menurut jalannya
pertambahan waktu atau usia yang ditempuh oleh yang
bersangkutan.
Candida Peterson (dalam Nurihsan dan Agustin, 2011)
menjelaskan bahwa perubahan yang dapat dikategorikan
sebagai perkembangan memenuhi empat kriteria berikut
ini:
a. Permanen. Perubahan yang terjadi dalam
perkembangan bersifat permanen, bukan
perubahan temporer atau yang disebabkan oleh
kejadian insidental. Contoh perubahan yang
permanen: Perkembangan kognitif anak usia 2
sampai 7 tahun.
1) Anak dapat mengklasifikasikan objek-objek
atas dasar satu ciri tertentu yang memiliki ciri
yang sama, mungkin pula memiliki perbedaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalam hal yang lainnya.


2) Anak dapat melakukan koleksi benda-benda
berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu.
3) Anak dapat menyusun benda-benda, tetapi

3
belum dapat menarik kesimpulan dari dua
benda yang tidak bersentuhan meskipun'
terdapat dalam susunan yang sama.
Contoh perubahan yang tidak permanen:
1) Anak tidak dapat berbicara, karena sakit
tenggorokan.
2) Anak tidak dapat melihat dengan jelas, karena
sakit mata.
3) Anak tidak mengantuk karena sudah minum
kopi.
b. Kualitatif. Perubahan yang terjadi dalam
perkembangan bersifat fungsional dan total, tidak
hanya bersifat peningkatan kemampuan yang
sudah dimiliki sebelumnya.
Contoh perubahan yang fungsional.
Perkembangan bahasa anak sekolah usia 6-8
tahun. Dengan dikuasainya keterampilan
membaca dan berkomunikasi dengan orang lain,
maka anak tersebut dengan senang hati sekali
membaca atau mendengar dongeng yang penuh
fantasi.
c. Progresif. Perubahan yang terjadi dalam
perkembangan merupakan perwujudan aktualisasi
seseorang. Perubahan itu terkait dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri


dengan berbagai situasi atau perubahan yang
terjadi di lingkungan.

4
d. Universal. Perubahan yang terjadi dalam
perkembangan bersifat umum dan dialami oleh
individu lain pada tahapan usia yang hampir
sama.
Dari uraian di atas, mengimplikasikan bahwa proses
perkembangan itu berlangsung secara bertahap.
Sehubungan dengan proses perkembangan ini,
Syamsuddin (2005) menjelaskan bahwa perubahan yang
terjadi dalam proses perkembangan bersifat maju
meningkat dan/atau mendalam dan/atau meluas, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif (prinsip progresif).
Perubahan yang terjadi antar bagian dan/atau fungsi
organisme itu terdapat interdependensi sebagai kesatuan
integral yang harmonis (prinsip sistematik). Perubahan
pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara
beraturan dan berurutan dan tidak secara kebetulan dan
meloncat-loncat (prinsip berkesinambungan).
Sehubungan dengan arti perubahan dan
perkembangan ini, Hurlock (1980) menjelaskan
perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif
yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan
pengalaman. Berbagai perubahan dalam perkembangan
bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri
dengan lingkungan di mana ia hidup. Untuk mencapai
http://facebook.com/indonesiapustaka

tujuan, maka realisasi diri atau biasanya disebut aktualisasi


diri adalah sangat penting.

5
2. Manifestasi dan Cara Pendekatan terhadap
Perkembangan Individu
Manifestasi perkembangan individu adalah
perwujudan perkembangan individu yang dapat
ditunjukkan dengan munculnya atau hilangnya, bertambah
atau berkurang bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat
psikofisis, baik secara kuantitatif maupu kualitatif, yang
sampai batas tertentu, dapat diamati dan diukur dengan
mempergunakan teknik dan instrumen yang sesuai
(appropriate).
Perubahan-perubahan aspek fisik dapat diidentifikasi
relatif lebih mudah manifestasinya, karena dapat dilakukan
pengamatan dan pengukuran secara langsung, seperti
perkembangan tinggi dan berat badan, tanggal dan
tumbuhnya gigi, dan sebagainya.
Lain halnya dengan segi-segi psikis yang relatif sulit
untuk identifikasinya, karena kita hanya dapat mengamati
dan sampai batas tertentu mengukur manifestasi
perkembangan tersebut secara tidak langsung dalam
bentuk atau wujud perilaku, yang sebenamya pula
bergantung dan dipengaruhi oleh tingkat-tingkat
perkembangan aspek fisiknya. Beberapa di antara bentuk
atau wujud perkembangan perilaku tersebut menurut
Nurihsan dan Agustin (2011) antara lain sebagai berikut:
http://facebook.com/indonesiapustaka

a. Perkembangan perseptual (pengamatan ruang,


pengamatan wujud, dan situasi).
b. Perkembangan penguasaan dan kontrol motorik
(koordinasi penginderaan dan gerak).
c. Perkembangan penguasaan pola-pola

6
keterampilan mental fisik (cerdas, tangkas dan
cermat).
d. Perkembangan pengetahuan bahasa dan berpikir.
Ada dua cara pendekatan utama dalam memahami
perkembangan perilaku dan pribadi individu yaitu
pendekatan longitudinal dan cross sectional. Pendekatan
longitudinal dipergunakan untuk memahami
perkembangan perilaku dan pribadi seseorang atau
sejumlah kasus tertentu (mengenai satu atau sejumlah
aspek perilaku atau pribadi tertentu) dengan mengikuti
proses perkembangan dari satu titik waktu atau fase
tertentu ke titik waktu atau fase yang berikutnya. Oleh
karena itu, tekniknya berbentuk case study (studi kasus),
case history, auto biografi, eksperimen, dan sebagainya.
Adapun pendekatan cross sectional biasanya digunakan
untuk memahami suatu aspek atau sejumlah aspek
perkembangan tertentu pada suatu atau beberapa
kelompok populasi tingkatan usia subjek tertentu secara
serempak pada saat yang sama. Oleh karena itu, teknik
yang sesuai dengan pendekatan ini adalah teknik survei.
Sudah tentu sampai batas-batas tertentu dapat digunakan
kombinasi atau eklektik dengan pendekatan longitudinal.

B. Proses Perkembangan Individu


http://facebook.com/indonesiapustaka

1. Alur Perkembangan Individu


Menurut Desmita (2009) berkenaan dengan proses
perkembangan ini, ada tiga hal yang secara esensial perlu
dipahami, yakni: (1) sejak kapan dimulai dan berakhimya?

7
(2) bagaimana kecenderungan arah perkembangannya?
dan (3) faktor-faktor apa yang memengaruhinya. Secara
faktual, perkembangan bukan dimulai sejak kelahiran
seseorang dari rahim ibunya, melainkan sejak terjadinya
konsepsi, yakni saat berlangsungnya pembuahan atau
perkawinan (pertemuan sperma dan sel telur atau ovum)
yang menghasilkan benih manusia (zygote) yang kemudian
berkembang menjadi organisme atau janin (embrio) sebagai
calon manusia yang dikenal sebagai fetus (bayi dalam
kandungan). Pada umumnya setiap fetus memerlukan
waktu sekitar sembilan bulan atau 266 hari sampai matang
atau lahir (Nurihsan dan Agustin, 2011).
Variasi perkembangan individual memang terjadi, ada
yang lebih awal (premature) dari waktu tersebut, dan ada
pula yang lebih lambat (late mature), bergantung
kondisinya. Mulai sejak lahir, bayi menjalani masa kanak-
kanak, remaja, dewasa sampai hari tuanya yang pada
umumnya memerlukan waktu sekitar 60 - 70 tahun, yang
sudah barang tentu bervariasi pula sesuai dengan kondisi
yang memungkinkannya.
Manusia tidak pemah statis. Semenjak pembuahan
hingga ajal tiba selalu terjadi perubahan, baik dalam
kemampuan fisik maupun kemampuan psikis. Organisme
yang matang selalu mengalami perubahan yang progresif.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Perubahan itu mengakibatkan terjadinya jaringan interaksi


yang majemuk dalam diri individu.
Proses perkembangan itu berkesinambungan (Hurlock,
1980) dalam arti bahwa perkembangan itu merupakan

8
proses siklus dengan berkembangnya kemampuan-
kemampuan dan kemudian menghilang, dan yang akan
muncul kembali pada usia berikutnya. Selanjutnya Hurlock
menjelaskan bahwa kesinambungan tidak berarti
senantiasa meningkat, tetapi merupakan serangkaian
gelombang dengan seluruh bagian perkembangan yang
terjadi lagi secara berulang.

2. Kecenderungan Arah Perkembangan Individu


Menurut Nurihsan dan Agustin (2011) ada tiga
kemungkinan kecenderungan arah garis perkembangan
hidup seseorang yang dapat digambarkan secara visual
sebagai berikut:

50,0 (c)
15,0
(b)

0,0
(a)

Pada individu-individu yang tergolong normal pada


umumnya perkembangan laju pesat sampai usia lima belas
tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual).


Kemungkinan perkembangan selanjutnya adalah sebagai
berikut:
a. Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak
memperoleh kesempatan untuk belajar atau

9
melatih fungsi-fungsinya (terutama segi
intelektual), maka kemampuannya cenderung
tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat
puluh tahunan, bahkan setelah mencapai usia
tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan
tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada
hari-hari tuanya.
b. Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bemasib
baik untuk memperoleh kesempatan belajar atau
melatih fungsi-fungsi psiko-fisiknya lebih lanjut,
maka perkembangan kemampuan fungsi-fungsi
masih ada, baik yang bersifat peningkatan atau
perluasannya sampai taraf usia sekitar empat
puluhan pula. Namun selanjutnya, setelah dijalani
usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar,
melainkan hanya bekerja, secara rutin dan
monoton, maka cenderung untuk berada pada titik
jenuh tersebut dan tidak berkembang lagi. Namun
bagi mereka yang terus berusaha belajar dan
menggumuli perkembangan informasi-informasi
mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi
meskipun hanya bersifat perluasan atau
pendalaman.
Perkembangan itu mengikuti pola tertentu yang dapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

diramalkan. Misalnya, pola-pola teratur dari


perkembangan fisik, motor, bicara, dan perkembangan
intelektual. Pola perkembangan fisik dan motor mengikuti
hukum arah perkembangn yang disebut hukum

10
cephalocaudal yang menetapkan bahwa perkembangan
menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki dan hukum
proximodistal yang menerangkan bahwa perkembangan
menyebar keluar dari titik poros sentral tubuh ke anggota-
anggota tubuh (Nurihsan dan Agustin, 2011).
Jika kondisi lingkungan tidak menghambat,
perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku umum.
Misalnya, bayi merangkak sebelum berjalan, minat
terhadap seks baru muncul setelah terjadi perubahan
pubertas. Tidak terdapat kejelasan yang menyatakan
bahwa individu memiliki pola perkembangannya sendiri,
walaupun temyata bahwa laju perkembangan berbeda dari
satu individu dengan individu lain.
Kondisi lingkungan penting karena kondisi
memungkinkan kita meramalkan apa yang akan dilakukan
orang pada usia tertentu dan merencanakan pendidikan
dan pelatihan mereka sesuai pola ini. Kalau perkembangan
tidak dapat diramalkan, tidak mungkin merencanakan
setiap periode rentang kehidupan. Misalnya, orang usia
pertengahan tidak akan mempunyai orientasi ke depan
untuk membuat rencana sehubungan dengan menurunnya
kesehatan dan berkurangnya penghasilan dengan
bertambahnya usia mereka.
http://facebook.com/indonesiapustaka

C. Tahap Perkembangan Individu


1. Tahapan Perkembangan Individu
Menurut Nurihsan dan Agustin (2011) proses
perkembangan itu berlangsung secara bertahap, dalam arti

11
sebagai berikut:
a. Bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju
meningkat dan atau mendalam dan/atau meluas,
baik secara kuantitatif maupun kualitatif (prinsip
progresif).
b. Bahwa perubahan yang terjadi antar bagian
dan/atau fungsi organisme itu terdapat
interdependensi sebagai kesatuan integral yang
harmonis (prinsip sistematik).
c. Bahwa perubahan pada bagian atau fungsi
organisme itu berlansung secara beraturan dan
berurutan dan tidak secara kebetulan dan
meloncat-loncat (prinsip bersinambungan).
Memperhatikan kompleksitas dari sifat perkembangan
perilaku dan pribadi individu itu maka untuk keperluan
studi yang saksama, para ahli telah mencoba
mengembangkan model pentahapan (stages) mengenai
proses perkembangan tersebut sehingga memungkinkan
pilihan fokus observasi pada aspek atau fase tertentu, baik
secara longitudinal maupun cross sectional. Beberapa contoh
model tersebut antara lain dikembangkan oleh beberapa
ahli berikut ini.
a. Aristoteles (384-233 SM)
la membagi masa perkembangan individu
http://facebook.com/indonesiapustaka

sampai menginjak dewasa dalam tiga tahapan


berdasarkan perubahan ciri fisik tertentu:

12
Nama Tahapan Waktu Indikator
Masa kanak-kanak 0,0 – 7,0 Pergantian gigi
Masa anak sekolah 7,0 – 14,0 Gejala pubertas
Masa remaja 14,0 – 21,0 Ciri-ciri primer
dan sekunder

b. Hurlock (1952)
la membagai fase-fase perkembangan
individu secara lengkap sebagai berikut ini:
Nama Tahapan Waktu Indikator
conception-280
Prenatal
days
Infancy 0-10 to 14 days
Babyhood 2 weeks-2 years
2 years-
Childhood Perubahan-
adolescence
perubahan
Adolescence 13 (girls)-21
Psikofisis
years
14 (boys)-21 years
Adulthood 27-25 years
Middle age 25-30 years
Old age 30 years-death

c. Piaget (1961)
Dengan mengobservasi aspek perkembangan
intelektual, Piaget mengembangkan model
pentahapan perkembangan individu sebagai
berikut ini:
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tahapan Waktu
Sensorimotor 0-2 years
Preoperational 2-7 years
 Preconceptual 2-4 years
 Intuitive 4-7 years

13
Tahapan Waktu
Concrete operations 7-11 years
Formal operations 11-15 years

d. Erikson (1963)
la mengamati beberapa segi perkembangan
kepribadian dan mengembangkan model
pentahapan perkembangan tanpa menunjukkan
batas umur yang jelas atau tegas, namun
menunjukkan komponen yang menonjol pada
setiap fase perkembangan:
Developmental stages Basic Components
Infancy Trust vs mistrust
Early childhood Autonomy vs shame, doubt
Preschool age Initiative vs guilt
Schoolage Industry vs inferionly
Identity vs identity
Adolescence
confusion
Young adulthood Intimacy vs isolation
Adulthood Generativity vs stagnation

e. Witherington (1952)
la mengobservasi penonjolan aspek
perkembangan psikofisik yang selaras dengan
jenjang praktik pendidikan, ia membagi tahapan
perkembangan yang lamanya masing-masing tiga
tahun sampai menjelang dewasa:
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tahapan Indikator
0,0-3,0 Perkembangan fisik yang pesat
3,0-6,0 Perkembangan mental yang
pesat
6,0-9,0 Perkembangan sosial yang

14
Tahapan Indikator
pesat
Perkembangan sikap
9,0-12,0
individualis
12,0-15,0 Awal penyesuaian sosial
15,0-18,0 Awal pilihan kecenderungan
pola hidup yang akan diikuti
sampai dewasa

2. Tugas-tugas Perkembangan lndividu


Terdapat harapan sosial untuk setiap tahap
perkembangan. Setiap kelompok budaya mengharapkan
anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting
dan memperoleh pola perilaku yang disetujui pada
berbagai usia sepanjang rentang kehidupan. Havighurst
menamakannya tugas-tugas dalam perkembangan.
Menurut Havighurst (Hurlock, 1980) tugas perkembangan
adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu
periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika
berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke
arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
berikutnya. Akan tetapi kalau gagal, akan menimbulkan
rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-
tugas berikutnya.
Beberapa tugas terutama muncul sebagai akibat dari
kematangan fisik, seperti belajar berjalan; yang lain
http://facebook.com/indonesiapustaka

terutama berkembang dari adanya tekanan-tekanan


budaya dari masyarakat, seperti belajar membaca; dan
yang lain lagi tumbuh dari nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi
individual, seperti memilih dan mempersiapkan suatu

15
pekerjaan. Tetapi pada umumnya, tugas-tugas dalam
perkembangan muncul dari ketiga macam kekuatan ini
secara serempak.
Untuk memahami perkembangan individu, pendidik
hendaknya mengetahui tugas-tugas perkembangan yang
harus dikuasai oleh individu. Dengan mengetahui tingkat
dan tugas-tugas perkembangan siswa, para pendidik dapat
merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program
pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan
siswa. Contoh apabila pendidik mengetahui ada tugas-
tugas perkembangan siswa yang belum tercapai, maka
kewajiban pendidik untuk membantu siswa tersebut
mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Pendidik berkewajiban untuk membahagiakan dan
menyejahterakan siswa. Salah satu faktor yang dapat
membahagiakan siswa yaitu apabila mereka mampu
menuntaskan tugas-tugas perkembanganya. Oleh sebab itu,
para pendidik perlu mempelajari perkembagan siswa
termasuk tugas-tugas perkembangannya.
Apabila tugas-tugas perkembangan dapat dikuasai
oleh siswa, maka mereka cenderung bahagia. Sehubungan
dengan kebahagiaan ini, Hurlock (1980) menjelaskan
bahwa kebahagiaan timbul dri pemenuhan kebutuhan atau
harapan, dan merupakan penyebab atau sarana untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

menikmati. Sebagaimana diterangkan oleh Alston dan


Dudley (Hurlock, 1980) bahwa kepuasan hidup merupakan
kemampuan seseorang untuk menikmati pengalaman-
pengalamannya yang disertai tingkat kegembiraan.

16
Kebahagiaan adalah keadaan sejahtera dan kepuasan hati,
yaitu kepuasan yang menyenangkah yang timbul bila
kebutuhan dan harapan tertentu individu terpenuhi.
Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga
macam tujuan yang sangat berguna:
a. Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk
mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari
mereka pada usia-usia tertentu. Misalnya, orang
tua dapat dibimbing dalam mengajari anak-anak
mereka yang masih kecil untuk menguasai
berbagai keterampilan. Dengan pengertian bahwa
masyarakat mengharapkan anak-anak menguasai
keterampilan-keterampilan tersebut pada usia-usia
tertentu dan bahwa penyesuaian diri mereka akan
sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka
berhasil melakukannya.
b. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap
individu untuk melakukan apa yang diharapkan
dari mereka oleh kelompok sosial pada usia
tertentu sepanjang kehidupan mereka.
c. Ketiga, menunjukkan kepada setiap individu
tentang apa yang akan mereka hadapi dan
tindakan apa yang diharapkan kalau sampai pada
tingkat perkembangan berikutnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Havighurst (Nurihsan dan Agustin, 2011) menyusun


fase-fase perkembangan kebutuhan secara hipotesis yang
harus dipenuhi atau dikuasai individu agar dapat
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tugas-tugas

17
perkembangan (developmental tasks) itu tersusun sebagai
berikut ini:
a. Masa Bayi dan Masa Kanak-kanak Awal (0 - 6
Tahun)
1) Belajar berjalan.
2) Belajar mengambil benda-benda padat.
3) Belajar berbicara.
4) Belajar menguasai benda.
5) Mempelajari perbedaan jenis dan perilakunya.
6) Mencapai stabilitas fisiologis.
7) Pembentukan konsep (pengertian) sederhana
tentang realitas fisik dan sosial.
8) Belajar menciptakan hubungan dirinya secara
emosional kepada orang tuanya, saudara-
saudaranya, dan orang lain.
9) Belajar membedakan salah-benar dan
pengembangan kata hati.
b. Masa Kanak-kanak Akhir dan Anak Sekolah (6 -
12 Tahun)
1) Belajar keterampilan fisik untuk pertandingan
biasa sehari-hari.
2) Membentuk sikap yang sehat terhadap
dirinya sebagai organisme yang sedang
tumbuh-kembang.
http://facebook.com/indonesiapustaka

3) Belajar bergaul dengan teman-teman


sebayanya.
4) Belajar peranan sosial yang sesuai sebagai pria
atau wanita.
5) Mengembangkan keterampilan dasar dalam

18
membaca, menulis, dan berhitung.
6) Mengembangkan konsep-konsep yang perlu
bagi kehidupan sehari-hari.
7) Mengembangkan kata hati, moralitas, dan
suatu skala nilai-nilai.
8) Mencapai kebebasan pribadi.
9) Mengembangkan sikap-sikap terhadap
kelompok-kelompok dan institusi-institusi
sosial.
c. Masa Remaja (12 – 21 Tahun)
1) Mencapai hubungan-hubungan yang baru dan
lebih matang dengan teman-teman sebaya
dari kedua jenis.
2) Mencapai suatu peranan sosial sebagai pria
atau wanita.
3) Menerima dan menggunakan fisiknya secara
efektif.
4) Mencapai kebebasan emosional dari orang tua
dan orang lainnya.
5) Mencapai kebebasan keterjaminan ekonomis.
6) Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu
pekerjaaan/jabatan.
7) Mempersiapkan diri bagi persiapan
perkawinan dan berkeluarga.
http://facebook.com/indonesiapustaka

8) Mengembangkan konsep-konsep dan


keterampilan intelektual yang diperlukan
sebagai warga negara yang kompeten.
9) Secara sosial menghendaki dan mencapai
kemampuan bertindak secara

19
bertanggungjawab.
10) Mempelajari dan mengembangkan
seperangkat sistem nilai-nilai dan etika
sebagai pegangan untuk bertindak.
d. Masa Dewasa Awal (21 – 40 Tahun)
1) Memilih pasangan.
2) Belajar hidup dengan pasangan.
3) Memulai suatu kehidupan berkeluarga.
4) Memelihara anak.
5) Mengelola rumah tangga.
6) Memulai bekerja.
7) Mengambil tanggung jawab sebagai warga
negara.
8) Menemukan suatu kelompok yang serasi.
e. Masa Setengah Baya (40 – 60 Tahun)
1) Mencapai tanggung jawab sosial dan
kewarganegaraan secara lebih dewasa.
2) Membantu anak-anak yang berusia belasan
tahun (khususnya anak kandungnya sendiri)
agar berkembang menjadi orang-orang
dewasa yang bahagia dan bertanggung jawab.
3) Mengembangkan aktivitas dan memanfaatkan
waktu luang sebaik-baiknya bersama orang-
orang dewasa lainnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

4) Menghubungkan diri sedemikian rupa


dengan pasangannya (dengan suami atau
istri) sebagai pribadi yang utuh.
5) Menerima dan menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan psikologis yang lazim

20
terjadi pada masa setengah baya.
6) Mencapai dan melaksanakan penampilan
yang memuaskan dalam karir (profesi dan
jabatannya).
7) Menyesuaikan diri dengan perikehidupan
(khususnya dalam hal cara bersikap dan
bertindak) orang-orang yang berusia lanjut.
f. Masa Usia Tua (60 Tahun sampai Meninggal)
1) Menyesuaikan diri dengan menurunnya
kekuatan dan kesehatan jasmaniahnya.
2) Menyesuaikan diri dengan keadaan pensiun
dan berkurangnya penghasilan.
3) Menyesuaikan diri dengan kematian
pasangannya (istri atau suaminya).
4) Membina hubungannya yang lugas dengan
para anggota kelompok seusianya.
5) Membina pengaturan jasmani sedemikian
rupa agar memuaskan dan sesuai dengan
kebutuhannya.
6) Menyesuaikan diri terhadap peranan-peranan
sosial dengan cara yang luwes.

3. Beberapa Hukum Perkembangan Perilaku dan


Pribadi serta Implikasinya bagi Pendidikan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Prinsip perkembangan itu di antaranya adalah bahwa


semua individu itu berbeda. Seperti yang ditekankan oleh
Dobzhansky (Hurlock, 1980) bahwa setiap orang secara
biologis dan genetis benar-benar berbeda satu dari yang
lainnya, bahkan dalam kasus bayi kembar. Terbukti bahwa

21
perbedaan-perbedaan itu semakin bertambah, bukannya
mengurang, semenjak anak-anak beranjak dari masa
kanak-kanak ke masa remaja dan akhimya ke usia lanjut.
Selanjutnya Neugarten (Hurlock, 1980) menjelaskan bahwa
orang dewasa tidak saja jauh lebih kompleks dari pada
anak-anak, tetapi mereka juga lebih berbeda antara satu
dan yang lainnya, dan perbedaan ini semakin meningkat
dengan beralihnya mereka dari usia muda ke usia lanjut.
Prinsip perkembangan selanjutnya adalah bahwa
setiap tahapan perkembangan mempunyai pola perilaku
yang khusus. Pola-pola itu ditandai dengan periode
equilibrium dan disequilibrium. Periode equilibrium ditandai
apabila individu dengan mudah menyesuaikan diri dengan
tuntutan lingkungan dan akhimya berhasil mengadakan
penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang baik.
Adapun periode disequilibrium ditandai apabila individu
mengalami kesulitan dalam penyesuaian yang
mengakibatkan penyesuaian pribadi dan penyesuaian
sosial menjadi buruk.
Syamsuddin (2005) menjelaskan beberapa prinsip atau
hukum perkembangan dan implikasinya dalam pendidikan
sebagai berikut ini:
Prinsip/Hukum Implikasi
a. Perkembangan a. Pengembangan (penyusunan,
dipengaruhi oleh faktor- pemilihan, penggunaan)
http://facebook.com/indonesiapustaka

faktor pembawaan, materi, strategi, metodologi,


lingkungan dan sumber, evaluasi belajar-
kematangan. mengajar hendaknya
memerhatikan ketiga faktor
tersebut.

22
Prinsip/Hukum Implikasi
b. Proses perkembangan itu b. Program (kurikulum) belajar
berlangsung secara mengajar disusun secara
bertahap (progresif, bertahap dan berjenjang:
sistematik, 1) dari sederhana menuju
berkesinambungan. kompleks;
2) dari mudah menuju sukar;
3) sistem belajar-mengajar
diorganisasikan agar
terlaksananya prinsip:
a) mastery leaming (belajar
tuntas).
b) continuous progress
(maju berkelanjutan).
c. Bagian-bagian dari fungsi- c. Sampai batas tertentu,
fungsi organisme program dan strategi belajar-
mempunyai garis mengajar seyogianya dalam
perkembangan dan bentuk:
tingkat kematangan 1) correlated, curriculum, atau
masing-masing. Meskipun 2) broadfield, atau
demikian, sebagai 3) subject matter oriented,
kesatuan organis dalam (sampai batas tertentu
prosesnya terdapat pula).
korelasi dan bahkan
kompensatoris antara
yang satu dengan yang
lainnya.
d. Terdapat variasi dalam d. Program dan strategi belajar-
tempo dan irama mengajar, sampai batas
perkembangan tertentu, seyogianya
http://facebook.com/indonesiapustaka

antarindividu dan diorgani-sasikan agar


kelompok tertentu memungkinkan belajar
(menurut latar belakang secara individual di samping
jenis, geografis dan secara kelompok (misalnya
kultural). dengan sistem pengajaran
modul atau SPM).

23
Prinsip/Hukum Implikasi
e. Proses perkembangan itu e. Program dan strategi belajar-
pada taraf awalnya lebih mengajar seyogianya:
bersifat diferensiasi dan diorganisasikan agar me-
pada akhimya lebih mungkinkan proses yang
bersifat integrasi bersifat:
antarbagian dan fungsi 1) deduktif-induktif
organisme. 2) analisis-sintesis
3) global-spefisik-global.
f. Dalam batas-batas masa f. Program dan strategi belajar-
peka, perkembangan mengajar seyogianya
dapat dipercepat atau dikembangkan dan
diperlambat oleh kondisi diorganisasikan agar
lingkungan. merangsang, mempercepat,
dan menghindari akses
memperlambat laju
perkembangan anak didik.
g. Laju perkembangan anak g. Lingkungan hidup dan
berlangsung lebih pesat pendidikan kanak-kanak (TK)
pada periode kanak-kanak amat penting untuk
dari periode-periode memperkaya pengalaman dan
berikutnya. mempercepat laju
perkembangannya.

D. Variasi Individual Siswa


1. Pengertian Siswa
Menurut Desmita (2009) dalam proses pendidikan,
siswa merupakan salah satu komponen manusiawi yang
menempati posisi sentral. Siswa menjadi pokok persoalan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan tumpuan perhatian dalam semua proses transformasi


yang disebut pendidikan. Sebagai salah satu komponen
penting dalam sistem pendidikan, siswa sering disebut
sebagai "raw material" (bahan mentah). Dalam perspektif

24
pedagogis, siswa diartikan sebagai sejenis makhluk "homo
educandum", makhluk yang menghajatkan pendidikan.
Dalam pengertian ini, siswa dipandang sebagai manusia
yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga
dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk
mengaktualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia
susila yang cakap. Dalam perspektif psikologis, siswa
adalah individu yang sedang berada dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis
menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang
tengah tumbuh dan berkembang, siswa memerlukan
bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah
titik optimal kemampuan fitrahnya.
Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “siswa (peserta
didik) diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada
jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”
Berdasarkan beberapa definisi tentang siswa yang
disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa
individu yang memiliki sejumlah karakteristik, di
antaranya:
a. Siswa adalah individu yang memiliki potensi fisik
dan psikis yang khas, sehingga ia merupakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

insan yang unik. Potensi-potensi khas yang


dimilikinya ini perlu dikembangkan dan
diaktualisasikan sehingga mampu mencapai taraf
perkembangan yang optimal.

25
b. Siswa adalah individu yang sedang berkembang.
Artinya, siswa tengah mengalami perubahan-
perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang
ditujukan kepada diri sendiri maupun yang
diarahkan pada penyesuaian dengan
lingkungannya.
c. Siswa adalah individu yang membutuhkan
bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
Sebagai individu yang sedang berkembang, maka
proses pemberian bantuan dan bimbingan perlu
mengacu pada tingkat perkembangannya.
d. Siswa adalah individu yang memiliki kemampuan
untuk mandiri. Dalam perkembangannya siswa
memiliki kemampuan untuk berkembang ke arah
kedewasaan. Di samping itu, dalam diri siswa juga
terdapat kecenderungan untuk melepaskan diri
dari kebergantungan pada pihak lain. Karena itu,
setahap demi setahap orang tua atau pendidik
perlu memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mandiri dan bertanggung jawab sesuai
dengan kepribadiannya sendiri.

2. Teori-Teori Psikologi tentang Hakikat Siswa


Karena siswa merupakan komponen manusiawi yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

terpenting dalam proses pendidikan, maka seorang guru


dituntut memiliki pemahaman yang mendalam tentang
hakikat siswa tersebut. Sebagai komponen manusiawi,
berarti pemahaman tentang hakikat siswa tidak terlepas
dan pemahaman tentang hakikat manusia secara umum.

26
Dalam kajian psikologi terdapat sejumlah teori yang
berupaya untuk menjelaskan tentang hakikat manusia,
terutama tentang bagaimana manusia berkembang dan
bertingkah laku, faktor-faktor apa yang mempengaruhi
manusia sehingga mampu mendinamisasikan dirinya
dalam berbagai perilaku kehidupan.
Berikut ini akan diuraikan beberapa teori psikologi
tentang hakikat manusia tersebut:
a. Pandangan Psikodinamika
Menurut pandangan psikoanalisis, tingkah
laku manusia hanya dapat dipahami melalui
pengkajian yang mendalam terhadap
ketidaksadaran. Freud meyakini bahwa tingkah
laku kita didorong oleh motif-motif di luar alam
sadar kita dan konflik-konflik yang tidak kita
sadari. Konflik-konflik itu didasari oleh hal-hal di
seputar instink-instink atau dorongan-dorongan
seksual dan agresif primitif serta kebutuhan untuk
mempertahankan impuls-impuls primitif tersebut
di luar kesadaran langsung kita.
Jadi, menurut pandangan ini, tingkah laku
manusia lebih ditentukan dan dikontrol oleh
kekuatan psikologis, naluri-naluri irrasional
(terutama naluri menyerang dan naluri seks) yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

memang sudah ada sejak semula pada setiap diri


individu. Menurut Freud, hanya sedikit ide-ide,
harapan-harapan, dan impuls-impuls yang ada
dalam diri individu dan yang menentukan tingkah
laku mereka. Sebaliknya, bagian dari pikiran yang

27
lebih besar, yang meliputi harapan-harapan,
kekuatan-kekuatan, dorongan-dorongan yang
bersifat instinktif kita yang terdalam, tetap berada
di bawah permukaan kesadaran (unconscious).
Berdasarkan keyakinan inilah maka para teoretisi
psikodinamika menganggap perkembangan
manusia (human development) sebagai suatu proses
aktif dan diriamis yang sangat dipengaruhi oleh
dorongan-dorongan atau impuls-impuls
individual yang dibawa sejak lahir.
Berdasarkan ide-ide pokok tentang tingkah
laku manusia tersebut, Freud kemudian
membedakan kepribadian manusia atas tiga unit
mental atau struktur psikis, yaitu id, ego, dan super-
ego. Struktur psikis tidak dapat dilihat atau diukur
secara langsung, tetapi keberadaannya ditandai
oleh perilaku yang dapat diamati dan
diekspresikan pada pikiran dan emosi. Meskipun
ketiga struktur psikis tersebut mempunyai fungsi,
sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamikanya
sendiri-sendiri, tetapi ketiganya saling
berhubungan, sehingga sulit untuk memisahkan
pengaruhnya satu sama lain dalam fenomena
tingkah laku manusia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Id merupakan aspek biologis kepribadian


karena berisikan unsur-unsur biologis, termasuk
di dalamnya dorongan-dorongan dan impuls--
impuls instinktif yang lebih dasar (lapar, haus,

28
seks, dan agresi). Id merupakan realitas psikis
yang sesungguhnya karena hanya merupakan
dunia batin/dunia subjektif manusia dan sama
sekali tidak berhubungan dengan dunia objektif.
Id, yang sepenuhnya beroperasi pada
ketidaksadaran dan telah ada sejak lahir, dan tidak
memperoleh campur tangan dari dunia luar. Id
bekerja mengikuti prinsip kesenangan (pleasure
principle), yang dioperasikan pada dua proses;
pertama, refleks dan reaksi otomatis (seperti:
bersin, berkedip); kedua, proses berpikir primer
(primary process thinking), yang merupakan proses
dalam berhubungan dengan dunia luar melalui
imajinasi dan fantasi, yakni mencapai pemuasan
dengan memanipulasi gambaran mental dan objek
yang diinginkan (seperti: orang lapar
membayangkan makanan). Karena mengikuti
prinsip kesenangan, id menuntut pemuasan dari
instink-instink tanpa memperhitungkan norma-
norma sosial atau kebutuhan orang lain.
Ego merupakan aspek psikologis kepribadian
karena timbul dari kebutuhan organisme untuk
berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan
menjadi perantara antara kebutuhan instinktif
http://facebook.com/indonesiapustaka

organisme dengan keadaan lingkungan. Ego


berkembang pada tahun pertama dan merupakan
aspek eksekutif kepribadian, karena fungsi utama
ego adalah: (1) menahan penyaluran dorongan, (2)

29
mengatur desakan dorongan-dorongan yang
sampai pada kesadaran, (3) mengarahkan suatu
perbuatan agar mencapai tujuan-tujuan yang
dapat diterima, (4) berpikir logis, dan (5)
mempergunakan pengalaman emosi-emosi
kecewa atau kesal sebagai tanda adanya sesuatu
yang salah, yang tidak benar, sehingga kemudian
dapat dikategorikan dengan hal-hal lain untuk
memutuskan apa yang akan dilakukan sebaik-
baiknya.
Ego terikat oleh proses berpikir sekunder,
yaitu proses berpikir realistis melalui perencanaan
pemuasan kebutuhan dan menimbang situasi yang
memungkinkan kompromi antara fantasi dari id
dan realitas dunia luar. Prinsip kerja ego diatur
oleh prinsip realitas (reality principle), yaitu
menghilangkan ketegangan dengan mencari objek
yang tepat di dunia nyata. Perbedaan pokok
antara id dan ego ialah bahwa id hanya mengenal
realitas subjektif-jiwa, sedangkan ego membedakan
antara hal-hal yang terdapat dalam batin dengan
hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.
Super-ego adalah aspek sosiologis kepribadian
karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

cita-cita masyarakat sebagaimana yang ditafsirkan


orang tua kepada anak-anaknya melalui berbagai
perintah dan larangan. Perhatian utama super-ego
adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau

30
salah, sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan
norma-norma moral yang diakui oleh masyarakat.
Super-ego mencerminkan nilai-nilai moral dan self
yang ideal, yang disebut "ego ideal" dan berfungsi:
(1) sebagai hati nurani atau penjaga moral intemal,
yang mengawasi ego dan memberikan penilaian
tentang benar atau salah; (2) merintangi impuls-
impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan
agresif; (3) mendorong ego untuk menggantikan
tujuan-tujuan realistis dengan tujuan-tujuan
moralistik; (4) menentukan cita-cita mana yang
akan diperjuangkan; dan (4) mengajar
kesempumaan.
Super-ego bekerja menurut prinsip moral, yaitu
menuntut kepatuhan yang ketat terhadap standar
moral. Karena mengikuti prinsip moral, super-ego
cenderung untuk menentang, baik id maupun ego,
dan membuat dunia menurut gambarannya
sendiri. Tetapi, super-ego sama seperti id, bersifat
tidak rasional, dan sama seperti ego, melaksanakan
kontrol atas instink-instink. Berbeda dengan ego,
super-ego tidak hanya menunda pemuasan instink,
tetapi tetap berusaha untuk merintanginya.
Dalam diriamika dan realitas kehidupan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pribadi, kalau id lebih cenderung pada nafsu,


sedangkan super-ego lebih cenderung pada hal-hal
yang moralis. Agar tercipta keseimbangan hidup,
id dan super-ego harus dijembatani oleh hal yang

31
bersifat realistis (ego). Artinya, agar manusia tidak
terlalu mengembangkan nafsu saja dan juga tidak
terlalu cenderung pada hal-hal yang idealis dan
moralis, perlu ada imbangan melalui dunia
kenyataan atau dijembatani oleh ego.
b. Pandangan Behavioristik
Behavioristik adalah sebuah aliran dalam
pemahaman tingkah laku manusia yang
dikembangkan oleh John B. Watson (1878-1958),
seorang ahli psikologi Amerika, pada tahun 1930,
sebagai reaksi atas teori psikodinamika. Perspektif
behavioral ini berfokus pada peran dari belajar
dalam menjelaskan tingkah laku manusia. Asumsi
dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini
adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya
ditentukan oleh aturan-aturan, bisa diramalkan,
dan bisa dikendalikan.
Watson dan teoretikus behavioristik lainnya,
seperti Skinner (1904-1990) meyakini bahwa
tingkah laku manusia merupakan hasil dari
pembawaan genetik dan pengaruh lingkungan
atau situasional. Kalau Freud melihat bahwa
tingkah laku kita dikendalikan oleh kekuatan-
kekuatan yang tidak rasional, teoretikus
http://facebook.com/indonesiapustaka

behavioristik melihat kita sebagai hasil pengaruh


lingkungan yang membentuk dan memanipulasi
tingkah laku kita. Menurut teoretikus
behavioristik, manusia sepenuhnya adalah
makhluk reaktif, yang tingkah lakunya dikontrol

32
oleh oleh faktor-faktor yang berasal dari luar.
Faktor lingkungan inilah yang menjadi penentu
terpenting dari tingkah laku manusia. Berdasarkan
pemahaman ini, maka kepribadian individu
menurut teori ini dapat dikembalikan kepada
hubungan antara individu dan lingkungannya.
Manusia datang ke dunia ini tidak dengan
membawa ciri-ciri yang pada dasamya “baik atau
buruk”, tetapi netral. Hal-hal yang mempengaruhi
perkembangan kepribadian individu selanjutnya
semata-mata bergantung pada lingkungannya.
Menurut teori ini, orang terlibat di dalam
tingkah laku tertentu karena mereka telah
mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman
terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut
dengan hadiah-hadiah. Orang menghentikan
suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku
tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat
hukuman. Semua tingkah laku, baik bermanfaat
ataupun merusak, merupakan tingkah laku yang
dipelajari (Desmita, 2009).
Gagasan utama dalam aliran behavioristik ini
adalah bahwa untuk memahami tingkah laku
manusia diperlukan pendekatan yang objektif,
http://facebook.com/indonesiapustaka

mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan


tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan
melalui upaya pengondisian. Dengan perkataan
lain, mempelajari tingkah laku seseorang

33
seharusnya dilakukan melalui pengujian dan
pengamatan atas tingkah laku yang tampak,
bukan dengan mengamati kegiatan bagian dalam
tubuh. Menurut Watson, adalah tidak
bertanggungjawab dan tidak ilmiah mempelajari
tingkah laku manusia semata-mata didasarkan
atas kejadian-kejadian subjektif, yakni kejadian-
kejadian yang diperkirakan terjadi di dalam
pikiran, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.
c. Pandangan Humanistik
Teori humanistik muncul pada pertengahan
abad ke-20 sebagai reaksi terhadap teori
psikodinamik dan behavioristik. Para teoretikus
humanistik, seperti Carl Rogers (1902-1987) dan
Abraham Maslow (1908-1970) meyakini bahwa
tingkah laku manusia tidak dapat dijelaskan
sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak
disadari maupun sebagai hasil pengondisian yang
sederhana. Teori ini menyiratkan penolakan
terhadap pendapat bahwa tingkah laku manusia
semata-mata ditentukan oleh faktor di luar
dirinya. Sebaliknya, teori ini melihat manusia
sebagai aktor dalam drama kehidupan, bukan
reaktor terhadap instink atau tekanan lingkungan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Teori ini berfokus pada pentingnya pengalaman


disadari yang bersifat subjektif dan self-direction.
Para teoretikus humanistik mempertahankan
bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan
untuk melakukan aktualisasi diri, untuk berjuang

34
menjadi apa yang mereka mampu. Menurut
Desmita (2009) setiap manusia memiliki
serangkaian perangai dan bakat-bakat yang
mendasari perasaan dan kebutuhan individual
serta memberikan perspektif yang unik dalam
hidup kita. Meskipun pada akhimya setiap
manusia akan mati, tetapi masing-masing dapat
mengisi kehidupan dengan penuh arti dan
bertujuan apabila kita mengenali dan menerima
kebutuhan dan perasaan terdalam. Kita hidup
secara autentik. Kesadaran diri terhadap perasaan-
perasaan autentik dan pengalaman subjektif dapat
membantu kita untuk membuat pilihan-pilihan
yang lebih bermakna.
Rogers, salah seorang tokoh aliran humanistik
menegaskan bahwa prasyarat yang terpenting bagi
aktualisasi diri adalah konsep diri yang luas dan
fleksibel, sesuatu yang memungkinkan kita untuk
menyerap secara luas seluruh pengalaman dan
mengekspresikan diri kita secara penuh. Konsep
diri sebagian besar merupakan hasil pengalaman
kita pada waktu kecil, terutama pengalaman
bersama orang tua kita sendiri. Semua anak secara
alamiah mendambakan kehangatan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

penerimaan.
Rogers meyakini bahwa orang tua
mempunyai peran yang besar dalam membantu
anak-anak mereka mengembangkan self esteem dan

35
menempatkan mereka pada jalur self actualization
dengan menunjukkan pada mereka unconditional
positive regard, memuji mereka berdasarkan nilai
dari dalam diri mereka, tanpa memandang
perilaku mereka pada saat itu. Dengan cara
pemberian penghargaan dan penilaian yang
bersifat positif inilah anak dapat mengembangkan
self actualization dan self concept yang positif.
Sebaliknya, penilaian yang bersifat negatif
terhadap anak akan memberikan pengalaman
yang tidak menyenangkan bagi mereka.
Pengalaman yang tidak menyenangkan ini
cenderung dikeluarkan anak dari konsep diri
mereka sehingga menghasilkan konsep diri yang
tidak selaras dengan organisme. Dengan konsep
diri yang demikian, anak akan berusaha menjadi
apa yang diinginkan oleh orang lain, dan tidak
berusaha menjadi apa yang sebenamya ia
inginkan.
Lebih jauh Rogers mengatakan bahwa orang
saling menyakiti satu sama lain atau menjadi anti
sosial dalam tingkah laku mereka sebenamya
adalah karena mereka frustrasi dalam usaha untuk
mencapai potensi unik mereka. Namun ketika
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang tua dan orang lain memperlakukan anak-


anak dengan cinta dan toleransi untuk perbedaan
mereka, anak-anak juga akan tumbuh menjadi
penuh cinta, sekalipun beberapa dari nilai dan

36
kesukaan mereka berbeda dengan pilihan orang
tua mereka.
Jadi, dalam teori humanistik manusia
digambarkan secara optimistik dan penuh
harapan. Di dalam diri manusia terdapat potensi-
potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara
kreatif. Manusia digambarkan sebagai individu
yang aktif, bertanggungjawab, mempunyai potensi
kreatif, bebas (tidak terihat oleh belenggu masa
lalu), berorientasi ke depan, dan selalu berusaha
untuk self fulfillment (mengisi diri sepenuhnya
untuk beraktualisasi). Kegagalan dalam
mewujudkan potensi-potensi ini lebih disebabkan
oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru
dari pendidikan dan latihan yang diberikan oleh
orang tua serta pengaruh-pengaruh sosial lainnya.

3. Siswa sebagai Makhluk Individual


Dilihat dari sudut pandang psikologis, siswa dapat
diartikan sebagai suatu organisme yang sedang tumbuh
dan berkembang. Ia memiliki berbagai potensi manusiawi,
seperti bakat, minat, kebutuhan sosial-emosional-personal,
dan kemampuan jasmaniah. Potensi-potensi tersebut perlu
dikembangkan melalui proses pendidikan dan pengajaran,
http://facebook.com/indonesiapustaka

sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara utuh


menjadi manusia dewasa atau matang.
Sebagai organisme yang sedang tumbuh dan
berkembang, siswa dipandang sebagai individu yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya. Secara etimologi,

37
istilah individu berasal dari kata Latin individuum, yang
berarti tidak dapat dibagi, perseorangan atau pribadi.
Dalam bahasa Inggris, individu berasal dari kata in dan
divided. Kata in salah satunya mengandung pengertian
tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu
artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan (Desmita, 2009).
Dari pengertian di atas dapat dipahami jika manusia
sebagai makhluk individual berarti bahwa manusia itu
merupakan keseluruhan atau totalitas yang tidak dapat
dibagi. Menurut pengertian ini, maka manusia tidak dapat
dipisahkan dari jiwa dan raganya, rohani dan jasmaninya.
Manusia tidak terdiri atas penjumlahan dari potensi-
potensi tertentu, yang masing-masing bekerja sendiri-
sendiri. Kegiatan jiwa dalam kehidupan sehari-hari tidak
lain merupakan kegiatan keseluruhan jiwa raganya, dan
bukan kegiatan alat-alat tubuh saja atau kemampuan-
kemampuan jiwa saja.
Proses perkembangan dan pengalaman masing-masing
individu tidak sama, maka pribadi yang terbentuk dalam
proses tersebut juga berbeda antara individu yang satu
dengan individu yang lainnya. Realitas ini
mengindikasikan bahwa dalam proses perkembangan
siswa yang wajar harus memperhatikan segi individualitas
kemanusiaannya, dalam artian bahwa setiap individu
http://facebook.com/indonesiapustaka

merupakan kesatuan jiwa raga, yang memiliki struktur dan


kecakapan yang unik.

38
4. Perbedaan Individual Siswa
Setiap anak adalah unik. Ketika kita memperhatikan
anak-anak di dalam ruang kelas, kita akan melihat
perbedaan individual yang sangat banyak. Bahkan anak-
anak dengan latar belakang usia hampir sama, akan
memperlihatkan penampilan, kemampuan, temperamen,
minat dan sikap yang sangat beragam.
Dalam kajian psikologi, masalah individu mendapat
perhatian yang besar, sehingga melahirkan suatu cabang
psikologi yang dikenal dengan individual psychology atau
differential psychology, yang memberikan perhatian besar
terhadap penelitian tentang perbedaan antar individu. Ini
didasarkan atas kenyataan bahwa di dunia ini tidak ada
dua orang yang persis sama. Bahkan anak kembar sekali
pun masih ditemukan adanya beberapa dimensi perbedaan
di antara keduanya. Jadi, setiap manusia, apakah ia berada
dalam suatu kelompok ataukah seorang diri, ia disebut
individu. Individu menunjukkan kedudukan seseorang
sebagai perseorangan atau persona. Sebagai orang
perorangan, individu memiliki sifat-sifat atau karakteristik
yang menjadikannya berbeda dengan individu lainnya.
Perbedaan inilah yang disebut dengan perbedaan
individual (individual differences).
Ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik individual ini
http://facebook.com/indonesiapustaka

dapat berupa karakteristik bawaan sejak lahir dan dapat


pula berupa karakteristik yang diperoleh dari hasil
pengaruh lingkungan. Seorang bayi yang baru lahir
misalnya, merupakan hasil perpaduan dari dua garis
keturunan, keturunan ayah dan keturunan ibu. Sejak masa

39
konsepsi awal di dalam kandungan ibu, secara
berkesinambungan ia dipengaruhi oleh bermacam-macam
faktor lingkungan yang merangsang. Masing-masing
perangsang tersebut, baik secara terpisah ataupun secara
bersama-sama dengan perangsang lain, mempengaruhi
perkembangan potensi-potensi biologis, yang pada
gilirannya menjelma menjadi suatu pola tingkah laku yang
dapat mewujudkan seseorang menjadi individu yang
berkarakteristik berbeda dengan individu-individu lain.
Secara umum, perbedaan individual dapat atas dua,
yaitu perbedaan secara vertikal dan perbedaan secara
horizontal. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu
dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi, besar,
kekuatan, dan sebagainya. Sedangkan perbedaan
horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental,
seperti: tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi,
temperamen, dan sebagainya (Desmita, 2009). Berikut ini
akan diuraikan beberapa aspek perbedaan individual siswa
tersebut:
a. Perbedaan Fisik Motorik
Perbedaan individual dalam fisik tidak hanya
terbatas pada aspek-aspek yang teramati oleh
panca indra, seperti: bentuk atau tinggi badan,
wama kulit, wama mata atau rambut, jenis
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelamin, nada suara, melainkan juga mencakup


aspek-aspek fisik yang tidak dapat diamati melalui
penca indra, tetapi hanya dapat diketahui setelah
diadakan pengukuran, seperti usia, kekuatan

40
badan atau kecepatan lari, golongan darah,
pendengaran, penglihatan, dan sebagainya.
Aspek fisik lain dapat dilihat dari kecakapan
motorik, yaitu kemampuan melakukan koordinasi
kerja sistem saraf motorik yang menimbulkan
reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau
kegiatan secara tepat, sesuai antara rangsangan
dan responnya. Dalam hal ini, akan ditemui ada
anak yang cekatan dan terampil, tetapi ada pula
anak yang lamban dalam mereaksi sesuatu.
Perbedaan aspek fisik juga dapat dilihat dari
kesehatan siswa, seperti kesehatan mata dan
telinga yang berkaitan langsung dengan
penerimaan materi pelajaran di kelas. Dalam hal
kesehatan mata misalnya, akan ditemui adanya
siswa yang mengalami gangguan penglihatan,
seperti: rabun jauh, rabun dekat, rabun malam,
buta wama, dan sebagainya. Sedangkan dalam hal
kesehatan telinga, akan ditemui adanya siswa
yang mengalami penyumbatan pada saluran hang
telinga, ketegangan pada gendang telinga,
terganggunya tulang-tulang pendengaran, dan
sebagainya.
b. Perbedaan Inteligensi
http://facebook.com/indonesiapustaka

Inteligensi adalah salah satu kemampuan


mental, pikiran atau intelektual dan merupakan
bagian dari proses-proses kognitif pada tingkatan
yang lebih tinggi. Secara umum inteligensi dapat
dipahami sebagai kemampuan untuk beradaptasi

41
dengan situasi yang baru secara cepat dan efektif,
kemampuan untuk menggunakan konsep yang
abstrak secara efektif, dan kemampuan untuk
memahami hubungan dan mempelajarinya
dengan cepat.
Dalam proses pendidikan di sekolah,
inteligensi diyakini sebagai unsur penting yang
sangat menentukan keberhasilan belajar siswa.
Namun inteligensi merupakan salah satu aspek
perbedaan individual yang perlu dicermati. Setiap
siswa memiliki inteligensi yang berlainan. Ada
anak yang memiliki inteligensi tinggi, sedang, dan
rendah. Untuk mengetahui tinggi rendahnya
inteligensi siswa, para ahli telah mengembangkan
instrumen yang dikenal dengan "tes inteligensi",
yang kemudian Iebih populer dengan istilah
Intelligence Quotient, disingkat IQ. Berdasarkan
hasil tes inteligensi ini, siswa dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Anak genius IQ di atas 140
Anak pintar 110-140
Anak normal 90-110
Anak kurang pintar 70-90
Anak debil 50-70
Anak dungu 30-50
http://facebook.com/indonesiapustaka

Anak idiot IQ di bawah 30

Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa


persentase orang yang genius dan idiot sangat

42
kecil, dan yang terbanyak adalah anak normal.
Genius adalah sifat pembawaan luar biasa yang
dimiliki seseorang, sehingga ia mampu mengatasi
kecerdasan orang-orang biasa dalam bentuk
pemikiran dan hasil karya. Sedangkan idiot atau
pandir adalah penderita lemah otak, yang hanya
memiliki kemampuan berpikir setingkat dengan
kecerdasan anak yang berumur tiga tahun (Mursal
dalam Desmita, 2009).
c. Perbedaan Kecakapan Bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan
individu yang sangat penting dalam proses belajar
di sekolah. Kemampuan berbahasa adalah
kemampuan seseorang untuk menyatakan buah
pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan
kalimat yang bermakna, logis, dan sistematis.
Kemampuan berbahasa anak berbeda-beda, ada
anak yang dapat berbicara dengan lancar, singkat,
dan jelas, tetapi ada pula anak yang gagap,
berbicara berbelit-belit dan tidak jelas.
Perbedaan individual dalam perkembangan
dan kecakapan bahasa anak ini telah menjadi
wilayah pengkajian dan penelitian yang menarik
bagi sejumlah psikolog dan pendidik. Banyak
http://facebook.com/indonesiapustaka

penelitian eksperimental telah dilakukan untuk


menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan dalam penguasaan
bahasa anak. Dan sejumlah hasil penelitian
tersebut diketahui bahwa faktor nature dan nurture

43
(pembawaan dan lingkungan) sangat
mempengaruhi perkembangan bahasa anak.
Berhubung faktor-faktor nature dan nurture
individu itu bervariasi, maka pengaruhnya
terhadap perkembangan bahasa juga bervariasi.
Karena itu, tidak heran kalau antara individu yang
satu dan individu lainnya berbeda dalam
kecakapan bahasanya. Perbedaan kecakapan
berbahasa anak ini sangat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, seperti faktor kecerdasan,
pembawaan, lingkungan, fisik, terutama organ
bicara, dan sebagainya.
d. Perbedaan Psikologis
Perbedaan individual siswa juga terlihat dari
aspek psikologisnya. Ada anak yang mudah
tersenyum, ada anak yang tampang marah, ada
yang berjiwa sosial, ada yang sangat egoistis, ada
yang cengeng, ada yang pemalas, ada yang rajin,
ada yang pemurung, dan sebagainya.
Dalam proses pendidikan di sekolah,
perbedaan aspek psikologis ini sering menjadi
persoalan, terutama aspek psikologis yang
menyangkut masalah minat, motivasi, dan
perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

disajikan guru. Dalam penyajian suatu materi


pelajaran guru sering menghadapi kenyataan
betapa tidak semua siswa yang mampu
menyerapnya secara baik. Realitas ini mungkin
disebabkan oleh cara penyampaian guru yang

44
kurang tepat atau menarik, dan mungkin pula
disebabkan oleh faktor psikologis siswa yang
kurang memperhatikan. Secara fisik mungkin
terlihat bahwa perhatian siswa terarah pada
pembicaraan guru. Namun secara psikologis,
pandangan mata atau kondisi tubuh mereka yang
terlihat duduk dengan rapi dan tenang belum
dapat dipastikan bahwa mereka memperhatikan
semua penjelasan guru. Bisa saja pandangan mata
anak hanya terarah pada gerak, sikap, dan gaya
mengajar guru, tetapi alam pikirannya terarah
pada masalah lain yang lebih menarik minat dan
perhatiannya.
Persoalan psikologis memang sangat
kompleks dan sangat sulit dipahami secara tepat,
sebab menyangkut apa yang ada di dalam jiwa
dan perasaan siswa. Meskipun demikian, bukan
berarti seorang guru mengabaikan begitu saja,
tanpa berusaha untuk memahaminya. Guru
dituntut untuk mampu memahami fenomena-
fenomena psikologis siswa yang rumit tersebut.
Salah satu cara yang mungkin dilakukan dalam
menyelami aspek psikologis siswa ini adalah
dengan melakukan pendekatan kepada siswa
http://facebook.com/indonesiapustaka

secara pribadi. Guru harus menjalin hubungan


yang akrab dengan siswa, sehingga mereka mau
mengungkapkan isi hatinya secara terbuka.
Dengan cara ini memungkinkan guru dapat

45
mengenal siapa sebenamya siswa sebagai
individu, apa keinginan-keinginannya, kebutuhan-
kebutuhan apa yang ingin dicapainya, masalah-
masalah apa yang tengah dihadapinya, dan
sebagainya. Dengan mendekati dan mengenal
siswa secara mendalam, guru pada gilirannya
dapat mencari cara-cara yang tepat untuk
memberikan bimbingan dan membangkitkan
motivasi belajar mereka.

IV. Rangkuman
A. Istilah perkembangan berarti serangkaian perubahan
progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses
kematangan dan pengalaman. Perkembangan adalah
perubahan secara kualitatif. lni berarti bahwa
perkembangan bukan sekadar penambahan ukuran
pada tinggi dan berat badan seseorang atau
kemampuan seseorang, melainkan suatu proses
integrasi dari banyak stuktur dan fungsi yang
kompleks.
B. Proses perkembangan itu berkesinambungan dalam
arti bahwa perkembangan merupakan proses siklus
dengan berkembangnya kemampuan-kemampuan dan
kemudian menghilang, dan yang akan muncul kembali
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada usia berikutnya. Kesinambungan tidak berarti


senantiasa meningkat, tetapi merupakan serangkaian
gelombang dengan seluruh bagian perkembangan
yang terjadi lagi secara berulang.

46
C. Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada
saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan
individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa
bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam
melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi,
kalau gagal, akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan
kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.

V. Latihan dan Tugas


A. Lakukan observasi terhadap anggota keluarga Anda
yang dikaitkan dengan tugas perkembangan individu
(observasi minimal 1 minggu)!
B. Buatlah laporan tentang hasil observasi tersebut,
apakah tugas perkembangan keluarga Anda sudah
sesuai dengan konsep ideal tugas perkembangan dari
para ahli!

VI. Referensi
Ahmad Juntika Nurihsan dan Mubiar Agustin. 2011.
Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja (Tinjauan
Psikologi, Pendidikan, dan Bimbingan). Bandung:
Refika Aditama.
Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Panduan bagi
Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak
Usia SD, SMP, dan SMA). Bandung: Remaja
http://facebook.com/indonesiapustaka

Rosdakarya.
Hurlock, E.B. 1980. Developmental Psychology: a Life Span
Approach. New York: McGraw-Hill Inc.
Syamsuddin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

47
BAB II
KONSEP DASAR
BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN

I. Kompetensi Dasar
Menguasai konsep dasar bimbingan dan konseling
perkembangan.

II. Indikator
A. Mampu memahami asumsi dasar dan kebutuhan
bimbingan dan konseling perkembangan.
B. Mampu menjelaskan teori bimbingan dan konseling
perkembangan.
C. Mampu memahami tujuan bimbingan dan konseling
perkembangan.
D. Mampu memahami prinsip bimbingan dan konseling
perkembangan.
E. Mampu menjelaskan peran personil sekolah dalam
bimbingan dan konseling perkembangan.

III. Uraian Materi


A. Asumsi Dasar dan Kebutuhan Bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Konseling Perkembangan
BK perkembangan merupakan orientasi baru layanan
BK yang didasarkan pada fungsi pengembangan. Selain
berfungsi sebagai pemecahan masalah atau penyembuhan,

48
BK perkembangan juga berfungsi sebagai pencegahan,
pendidikan, dan pengembangan. Ini berarti model BK
perkembangan memungkinkan konselor untuk
memfokuskan tidak sekedar terhadap gangguan emosional
konseli, melainkan lebih mengupayakan pencapaian tujuan
dalam kaitan penguasaan tugas-tugas perkembangan,
menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu
dan meningkatkan sumber daya dan kompetensi dalam
memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang
optimal dari konseli (Blocher, 1974).
Konsep BK perkembangan mengandung implikasi
bahwa target layanannya menjadi tidak sebatas individu
saja, melainkan akan tertuju kepada semua individu dalam
berbagai kehidupan di dalam masyarakat. Perkembangan
yang sehat atau optimal dalam pengembangan perilaku
efektif harus terjadi pada setiap diri individu dalam
berbagai tatanan lingkungan. Dengan demikian BK
perkembangan menjadi terarah kepada upaya membantu
indvidu untuk: (1) lebih menyadari dirinya dan cara-cara ia
merespon lingkungannya; (2) meningkatkan keefektifan
diri mereka dengan menguasai aspek-aspek perkembangan
yang dapat dimanfaatkan dan dapat mengendalikan
respon emosional terhadap situasi yang tidak dapat
dikuasai; (3) mengembangkan serta mengklasifikasi
http://facebook.com/indonesiapustaka

perangkat tujuan dan nilai-nilai perilaku pada masa yang


akan datang. Strategi layanan BK perkembangan menjadi
terarah kepada upaya menata dan menciptakan ekologi

49
perkembangan atau lingkungan belajar yang memfasilitasi
perkembangan individu.
Perbedaan antara BK konvensional dengan BK
pekembangan terdapat pada layanan dan prinsip yang
mengembangkan secara menyeluruh, kolektif, dan tidak
bersifat kasuistik secara pasif akan tetapi pelayanan
proaktif secara menyeluruh dengan asumsi bahwa individu
mempunyai keunikan dan cenderung untuk berkembang.
Artinya bahwa layanan BK perkembangan merupakan
layanan dasar yang resposif dan proaktif dalam tujuannya
mengembangkan dan mendorong individu untuk
berkembang secara optimal dan produktif. Blocher (1974)
menambahkan asumsi dasar BK perkembangan yaitu
perkembangan individu akan berlangsung dalam interaksi
yang sehat antara individu dengan lingkungannya. Untuk
tumbuh dan berkembang seorang individu membutuhkan
lingkungannya. Oleh karena itu, apabila menginginkan
pertumbuhan dan perkembangan yang positif pada diri
individu, maka lingkungannya pun harus lingkungan yang
sehat/positif. Ini berarti bahwa pengembangan lingkungan
perkembangan manusia merupakan wahana strategik
perkembangan siswa yang harus dikembangkan konselor.
Lingkungan ini adalah lingkungan belajar yang terstruktur
dan secara sengaja dirancang untuk memberi peluang
http://facebook.com/indonesiapustaka

kepada siswa mempelajari perilaku baru, membentuk


ekspektasi dan persepsi, memperbaiki dan bahkan
mengganti perilaku yang tidak sesuai.

50
Menurut Wibowo (2005) lingkungan belajar dapat
dikatakan memiliki pengaruh potensial karena beberapa
alasan, yaitu:
1. Pengaruhnya amat kuat disebabkan oleh faktor-faktor
dalam lingkungan yang dimanfaatkan atau tidak,
sehubungan dengan kebutuhan dan motivasi dasamya.
2. Lingkungan belajar menjadi potensial karena bersifat
intensif berkelanjutan. Orang cenderung untuk banyak
menggunakan waktu hidupnya di dalam lingkungan
belajamya serta memanfaatkannya di dalam ia
mengambil peran dari padanya.
3. Lingkungan belajar menjadi potensial karena
melibatkan waktu interaksi. Bentuk-bentuk interaksi
itu akan menentukan dan memberikan arti kepada
munculnya kontinuitas maupun diskontinuitas.
Secara lebih rinci, asumsi dasar dari BK perkembangan
diantaranya:
1. Watak dasar manusia mendorong individu ke arah
perkembangan diri secara positif dan berurutan.
2. Konseli bukanlah individu yang sakit.
3. Konseling dipusatkan pada situasi saat ini dan yang
akan datang.
4. Konseli bukanlah pasien.
5. Konselor/guru BK bukanlah individu yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

netral/bebas nilai-nilai.
6. Konseli adalah individu yang unik untuk
mengembangkan identitas dirinya dan
mengintegrasikannya ke dalam gaya hidupnya.

51
Asumsi tersebut kiranya membawa dua implikasi
pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah, yaitu:
1. Perkembangan adalah tujuan bimbingan, oleh karena
itu para petugas bimbingan di sekolah perlu memiliki
suatu kerangka berpikir konseptual untuk memahami
perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan
tujuan bimbingan.
2. Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim
perkembangan yang harus dikembangkan oleh
konselor. Oleh karena itu, konselor perlu menguasai
pengetahuan dan keterampilan khsusus untuk
mengembangkan interaksi yang sehat sebagai
pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah.

B. Teori Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Menurut Ahman (2011) teori perkembangan adalah
dasar layanan bimbingan dan konseling. Pemahaman
terhadap tugas-tugas perkembangan siswa sangat berguna
bagi pendidik. Havighurts (1961) mengajukan dua alasan
pentingnya pemahaman terhadap konsep tugas-tugas
perkembangan bagi pendidik, yaitu:
1. First, it helps in discovering and stating the purposes of
education in school. Education may be conceived as effort of
the society, through the school, to help the individual achieve
http://facebook.com/indonesiapustaka

certain of his developmental tasks.


2. Second, use of concept is in the timing of educational efforts.
When the body is ripe, and society requires, and the self is

52
ready to achieve a certain tasks, the teachable moment has
come.
Mengacu pada dua asumsi tersebut, dalam konsep
bimbingan dan konseling tugas-tugas perkembangan siswa
sangat berguna bagi pengembangan program bimbingan
dan konseling karena sangat membantu dalam: (1)
menemukan dan menentukan tujuan program bimbingan
dan konseling; (2) menentukan kapan waktu layanan dapat
dilakukan.
Proses perkembangan adalah proses yang
berkelanjutan. Ini berarti bahwa tahap perkembangan
berikut dilandasi oleh tahap perkembangan sebelumnya.
Untuk itu, individu-individu dikehendaki mampu
mengambil keputusan efektif dan mengambil tindakan
untuk perkembangan dirinya atas dasar pilihan sendiri.
Perkembangan adalah proses sepanjang hayat dan BK
dimaksudkan untuk membantu individu mencapai
perkembangan optimal. BK dikehendaki untuk
menyiapkan lingkungan perkembangan manusia yang
sehat dan membantu individu mempelajari serta
mengembangkan perilaku efektif-normatif melalui
interaksi yang sehat pula.
Ada empat pendekatan yang dapat dirumuskan
sebagai pendekatan dalam BK, yaitu pendekatan: (1) krisis,
http://facebook.com/indonesiapustaka

(2) remedial, (3) preventif, (4) perkembangan (Muro &


Kottman, 1995). Dalam pendekatan krisis konselor
menunggu munculnya krisis dan dia bertindak dalam
pendekatan ini adalah teknik-teknik yang secara pasti

53
dapat mengatasi krisis itu. Di dalam pendekatan remedial,
konselor akan memfokuskan tujuannya kepada upaya
menyembuhkan atau memperbaki kelemahan-kelemahan
yang tampak. Tujuan bantuan dan pendekatan ini adalah
menghindarkan tenjadinya krisis yang mungkin terjadi.
Pendekatan preventif mencoba mengantisipasi masalah-
masalah genetik dan mencegah terjadinya masalah.
Konselor yang menggunakan pendekatan perkembangan
beranjak dari pemahaman tentang keterampilan dan
pengalaman khusus yang dibutuhkan individu untuk
mencapai keberhasilan di sekolah dan di dalam kehidupan.
Pendekatan perkembangan dipandang sebagai pendekatan
yang tepat digunakan dalam tatanan pendidikan sekolah
kanena memberikan perhatian kepada tahap-tahap
perkembangan individu, kebutuhan dan minat, serta
membantu mempelajari individu keterampilan hidup
Menurut Suherman (2011) BK perkembangan sebagai
suatu rangkaian BK secara bertanggungjawab dalam
mefasilitasi perkembangan siswa pada semua aspek
kehidupannya, sehingga mereka dapat berfungsi dan
berperan efektif selama siklus kehidupannya terutama
menjamin eksistensi dirinya sebagai individu atau anggota
masyarakat yang bermartabat. Karena itu BK
perkembangan sering disebut juga dengan BK
http://facebook.com/indonesiapustaka

komprehensif karena menggarap semua aspek kehidupan


siswa (konseli). Sejalan dengan pendapat tersebut, Ahman
(2011) menjelaskan bahwa BK perkembangan adalah
pemberian bantuan kepada siswa yang dirancang dengan

54
memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-
isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan siswa
dan merupakan bagian penting serta integral dari
keseluruhan program pendidikan. Model ini melibatkan
guru kelas, kepala sekolah serta melibatkan orang tua
dalam kerjasama yang merupakan suatu tim bimbingan.

C. Tujuan Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Secara umum tujuan BK perkembangan adalah untuk
mengembangkan pemahaman diri, kesadaran akan potensi
diri dan metode untuk memberdayakan kapasitas individu.
Secara lebih rinci, tujuan BK perkembangan disesuaikan
dengan domain layanan konseling, yakni aspek pribadi
sosial, belajar dan karir (Suherman, 2011).
1. Tujuan BK Perkembangan yang Berkaitan dengan
Aspek Pribadi-Sosial:
a. Memiliki komitmen yang kuat dalam
mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam
kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan
teman sebaya, sekolah, tempat kerja, maupun
masyarakat pada umumnya.
b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama
lain dan saling menghormati, memelihara hak dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kewajibannya masing-masing.
c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan
yang bersifat fluktuatif antara yang
menyenangkan (anugerah) dan yang tidak

55
menyenangkan (musibah), serta mampu
meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran
agama yang dianut.
d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara
objektif dan kontruktif baik yang terkait dengan
keunggulan maupun kelemahan baik fisik
maupun psikis.
e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri
sendiri dan orang lain.
f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan
secara sehat.
g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati
atau menghargai orang lain, tidak melecehkan
martabat atau harga dirinya.
h. Memiliki rasa tangggung jawab, yang diwujudkan
dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau
kewajibannya.
i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human
relationship) yang diwujudkan dalam bentuk
hubungan persahabatan, persaudaraan atau
silaturahmi dengan sesama manusia.
j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan
konflik (masalah) baik bersifat intemal (dalam diri
sendiri) maupun dengan orang lain.
http://facebook.com/indonesiapustaka

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil


keputusan secara efektif.

56
2. Tujuan BK Perkembangan yang Terkait dengan
Aspek Akademik:
a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam
aspek belajar dan memahami berbagai hambatan
yang mungkin muncul dalam proses belajar yang
dialaminya.
b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif,
seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam
belajar, mempunyai perhatian terhadap semua
pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan
belajar yang diprogramkan.
c. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar
sepanjang hayat.
d. Memiliki keterampilan atau teknik belajar seperti
keterampilan membaca buku, menggunakan
kamus, mencatat pelajaran, dan mempersiapkan
diri menghadapi ujian.
e. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan
dan perencanaan pendidikan, seperti membuat
jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas,
memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran
tertentu, dan berusaha memperoleh informasi
tentang berbagai hal dalam rangka
mengembangkan wawasan yang lebih luas.
http://facebook.com/indonesiapustaka

f. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk


menghadapi ujian.

57
3. Tujuan BK Perkembangan yang Terkait dengan
Aspek Karir:
a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat
dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.
b. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan
informasi karir yang menunjang kematangan
kompetensi karir.
c. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja,
memahami relevansi kompetensi belajar
(kemampuan menguasai pelajaran) dengan
persyaratan keahlian atau keterampilan bidang
pekerjaan yang menjadi cita-cita karimya di masa
depan.
d. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas
karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan,
kemampuan (persyaratan) yang dituntut,
lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek
kerja dan kesejahteraan kerja.
e. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan,
yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk
memperoleh peran-peran yang sesuai dengan
minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial
ekonomi.
f. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu
http://facebook.com/indonesiapustaka

kecenderungan arah karir. Apabila seorang siswa


bercita-cita menjadi guru, maka dia senantiasa
harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-
kegiatan yang relevan dengan karir keguruan
tersebut.

58
g. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat.
Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir
amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat
yang dimiliki.
h. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk
mengambil keputusan karir.

D. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling


Perkembangan
Muro dan Kottman (1995) menyebutkan
penyelenggaraan BK perkembangan didasarkan pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Layanan BK perkembangan didasarkan pada asumsi
bahwa layanan tersebut dibutuhkan oleh semua siswa,
baik yang mengalami maupun yang tidak mengalami
hambatan dalam proses perkembangannya.
2. BK perkembangan memusatkan pada belajar siswa.
Konselor sekolah juga bekerja sebagai perancang dan
pengembang kurikulum dalam pengembangan
kognitif, afektif dan perkembangan serta pertumbuhan
fisik.
3. Konselor dan guru merupakan petugas bersama dalam
program BK perkembangan. Konselor dan guru
bekerjasama membantu menyelesaikan masalah siswa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Konselor sekolah membantu guru dalam menelusuri


permasalahan siswa, mendengarkan sungguh-sungguh
perasaan yang dicurahkan guru, memperjelas,
menentukan pendekatan yang akan digunakan dan

59
membantu mengevaluasi kegiatan pengajaran yang
baru.
4. Kurikulum yang diorganisasikan dan direncanakan
merupakan bagian yang pokok dalam BK
perkembangan. Seluruh program BK perkembangan
hendaknya berisi perencanaan dan pengorganisasian
kurikulum yang matang.
5. BK perkembangan peduli terhadap penerimaan diri,
pemahaman diri, dan pengembangan diri. Kegiatan
dalam BK perkembangan dirancang untuk membantu
siswa mengetahui lebih banyak tentang dirinya,
menerima dirinya serta memahami kekuatan pada
dirinya.
6. BK perkembangan memusatkan pada proses
pemberian dorongan.
7. BK perkembangan mengakui perkembangan yang
terarah daripada akhir yang definitif. Konselor BK
perkembangan memahami bahwa siswa berada dalam
proses menjadi yang berarti bahwa pertumbuhan fisik
dan psikologisnya akan mengalami berbagai
perubahan sebelum mencapai masa dewasa.
8. BK perkembangan yang berorientasi tim menuntut
pelayanan dari konselor profesional yang terlatih.
Keberhasilan program BK perkembangan memerlukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

upaya bersama seluruh staf di sekolah. Untuk


memperoleh keefektifan maksimum dari program,
sekolah hendaknya memiliki akses terhadap
pengetahuan dan keterampilan konselor yang terlatih

60
antara lain dalam konseling individual, konseling
kelompok, pengukuran dan perkembangan siswa.
9. BK perkembangan peduli terhadap identifikasi dini
kebutuhan khusus. Dalam pelaksanaannya, konselor
bekerjasama dengan guru menemukan kebutuhan-
kebutuhan tersebut yang apabila tidak diperhatikan
dapat menjadi masalah yang memerlukan layanan
remedial pada kehidupan anak selanjutnya.
10. BK perkembangan peduli terhadap penggunaan
psikologi. Konselor sekolah tidak sekedar perduli pada
asesmen kemampuan anak untuk belajar melainkan
pada bagaimana anak menggunakan kemampuannya.
11. BK perkembangan memiliki landasan dalam psikologi
anak, psikologi perkembangan dan teori belajar.
12. BK perkembangan bersifat lentur dan berurutan.
Lentur dalam arti program hendaknya disesuaikan
dengan perbedaan individual. Berurutan berarti bahwa
program bimbingan dirancang sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa.

E. Peran Personil Sekolah dalam Bimbingan dan


Konseling Perkembangan
Dalam pendidikan formal, tugas dan peran masing-
masing personil pendidikan dalam bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseling, seperti yang dikutip dalam buku Manajemen BK


(Suherman, 2011) bisa diperhatikan dalam uraian sebagai
berikut:

61
1. Kepala Sekolah
a. Penentuan staf personil bimbingan dan konseling.
b. Penyusunan program bimbingan dan konseling.
c. Sosialisasi dan penetapan program bimbingan dan
konseling kepada sivitas sekolah sebagai bagian
dari program pendidikan.
d. Penyediaan kelengkapan sarana dan prasarana
yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan
konseling.
e. Pemantauan dan supervisi terhadap pelaksanaan
bimbingan dan konseling.
f. Pengembangan kerjasama dengan instansi atau
profesi lain yang berkaitan dengan pelaksanaan
kegiatan bimbingan dan konseling.
g. Pengembangan program bimbingan dan konseling
termasuk pembinaan dan pelatihan personil
bimbingan dan konseling.

2. Wakil Kepala Sekolah


a. Pelaksanaan kebijakan pimpinan sekolah terutama
yang berkaitan dengan pelaksanaan layanan
bimbingan dan konseling.
b. Penyediaan informasi baik berkaitan dengan
aktivitas dan prestasi akademik, penyediaan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelengkapan sarana prasarana, kesiswaan maupun


sumber daya lain yang diperlukan dan dapat
mendukung dalam penyusunan program
bimbingan dan konseling.

62
c. Sosialisasi program bimbingan dan konseling
kepada seluruh personil dan komponen sekolah
sesuai dengan bidang dan kewenangannya.
d. Dukungan dan pemantauan pelaksanaan layanan
bimbingan dan konseling.

3. Wali Kelas
a. Menyediakan informasi tentang karakteristik dan
kebutuhan para siswa di kelasnya.
b. Mensosialisasikan keberaadaan layanan
bimbingan dan konseling, terutama tujuan, fungsi
dan mekanisme layanan kepada para siswa dan
orang tua siswa di kelasnya.
c. Memantau perkembangan dan kemajuan para
siswa di kelasnya terutama yang telah
memperoleh layanan bimbingan dan konseling.
d. Mengidentifikasi siswa yang membutuhkan la-
yanan responsif berkenaan dengan permasalahan
yang dihadapinya.
e. Melakukan kunjungan rumah.
f. Kegiatan konferensi kasus.

4. Guru Mata Pelajaran


a. Mensosialisasikan layanan bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseling kepada siswa terutama berkaitan


dengan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang
efektif.

63
b. Menyediakan informasi mengenai sikap dan
kebiasaan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran.
c. Mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling terutama berkenaan
dengan mata pelajaran yang diampunya.
d. Memantau perkembangan dan kemajuan para
siswa terutama yang telah memperoleh layanan
bimbingan dan konseling.
e. Melakukan upaya layanan bimbingan belajar
terutama pada program perbaikan dan pengayaan
mata pelajaran yang diampunya.
f. Pelaksanaan konferensi kasus.

5. Staf Administrasi
a. Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling.
b. Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan
dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling.
c. Membantu mengadministrasikan seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling.
d. Membantu menyampaikan informasi kepada
personil lain berkenaan dengan pelaksanaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

layanan bimbingan dan konseling.

6. Konselor/Guru BK
a. Mengorganisasikan seluruh aktivitas layanan
bimbingan dan konseling.

64
b. Melakukan analisis terhadap karakteristik dan
kebutuhan perkembangan siswa.
c. Melakukan analisis terhadap kondisi sekolah akan
layanan bimbingan dan konseling.
d. Mengkoordinasikan seluruh personil layanan
bimbingan dan konseling, mulai dari
penyusunan, pelaksanaan sampai dengan
penilaian terhadap layanan bimbingan dan
konseling.
e. Memberikan layanan dasar kepada seluruh siswa.
f. Melaksanakan layanan responsif kepada siswa
terutama dalam bentuk konseling.
g. Mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan
dan konseling.
h. Mengadakan tindak lanjut, terutama berkaitan
dengan alih tangan kepada ahli lain.
i. Mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan
layanan bimbingan dan konseling kepada kepala
sekolah.

F. Manfaat Bimbingan dan Konseling Perkembangan


Bimbingan dan konseling merupakan sub-sistem
pendidikan nasional. Oleh karena itu pengembangan
program bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa
http://facebook.com/indonesiapustaka

terlepas dari kebijakan dan sistem pendidikan yang berlaku


secara nasional. Program bimbingan dan konseling sekolah
hendaknya menyediakan sistem layanan yang bermanfaat
bagi seluruh sivitas akademik di sekolah, orang tua siswa,

65
dan masyarakat. Menurut Suherman (2011) manfaat
program bimbingan dan konseling untuk masing-masing
personil sekolah adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi Siswa
a. Memonitor data/informasi untuk memfasilitasi
pengembangan potensi siswa.
b. Menyediakan strategi untuk mengatasi prestasi
rendah.
c. Meningkatkan ketepatan kurikulum bagi setiap
siswa.
d. Meningkatkan kesepakatan untuk menentukan
strategi belajar.
e. Memastikan siswa mengikuti layanan program
bimbingan dan konseling.
f. Memastikan jalan yang tepat untuk memperoleh
kesempatan pendidikan lanjutan.
g. Membantu meningkatkan dukungan bagi siswa.
h. Memajukan teman sebaya dengan memfasilitasi
kemampuannya.
i. Membantu siswa untuk bertambah sukses.

2. Manfaat bagi Orang Tua


a. Memberikan dorongan dalam mendukung
kemampuan akademik, karir, pribadi atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

perkembangan sosial para siswa.


b. Membantu dalam kegiatan belajar dan
perencanaan karir siswa.

66
c. Memajukan hubungan antara orang tua dengan
sekolah dalam perencanaan akademik, karir, dan
sosial siswa.
d. Mengembangkan jaringan kerja sama dengan
berbagai sumber.
e. Memberikan pelatihan dan workshop yang bersifat
pemberian informasi.
f. Memberikan data kemajuan siswa.

3. Manfaat bagi Guru


a. Mengembangkan pendekatan untuk memenuhi
kebutuhan siswa dan tujuan pendidikan.
b. Meningkatkan kerjasama antar konselor sekolah
dan guru.
c. Mengembangkan kemampuan mengelola kelas.
d. Memberikan sistem penyediaan fasilitas bagi
pembimbingan pembelajaran di kelas.
e. Meningkatkan kerja kelompok dalam
meningkatkan prestasi siswa.
f. Menganalisa data untuk memperbaiki suasana
sekolah dan prestasi belajar siswa.

4. Manfaat bagi Kepala Sekolah


a. Meluruskan program bimbingan dan konseling
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan misi akademik sekolah.


b. Meningkatkan keberhasilan siswa.
c. Sebagai monitor data tentang kemajuan sekolah.
d. Proses artikulasi untuk mengevaluasi program
bimbingan dan konseling di sekolah.

67
e. Menggunakan data untuk bersama-sama
mengembangkan tujuan bimbingan dan konseling
dan responsibilitas konselor sekolah.
f. Menentukan besarnya anggaran dan sumber
pembiayaan.
g. Memberikan kurikulum bimbingan dan konseling
sekolah yang proaktif dengan mencantumkan
kebutuhan siswa dan suasana sekolah.

5. Manfaat bagi Pengelola Pendidikan


a. Memberikan dasara rasional dalam
mengimplementasikan program bimbingan dan
konseling di sekolah.
b. Menjamin kualitas program bimbingan dan
konseling sekolah.
c. Menggambarkan kebutuhan pembiayaan yang
tepat.
d. Memberikan kemudahan dalam penempatan staf.
e. Memberikan informasi tentang pelaksanaan
program bimbingan dan konseling sekolah.
f. Membantu menentukan standar program.
g. Memberikan data tentang prestasi siswa.

6. Manfaat bagi Konselor Sekolah


http://facebook.com/indonesiapustaka

a. Menegaskan tanggung jawab dalam konteks


program bimbingan dan konseling sekolah.
b. Memfokuskan pekerjaan profesional pada
kegiatan bimbingan dan konseling sekolah.

68
c. Mendorong bagi setiap siswa untuk
memanfaatkan program bimbingan dan konseling.
d. Memberikan kemudahan untuk menentukan
program, melaksanakan, dan mengevaluasinya.
e. Mengenalkan konselor sekolah sebagai pemimpin,
penyokong, dan agen perubahan.
f. Memastikan kontribusi program bimbingan dan
konseling terhadap visi dan misi sekolah.

7. Manfaat bagi Pendidik Konselor


a. Membangun kerjasama antara lembaga program
pendidikan konselor dan sekolah.
b. Memberikan gambaran kerja program bimbingan
dan konseling sekolah.
c. Meningkatkan koleksi data untuk kerjasama
penelitian dalam program bimbingan dan
konseling sekolah.
d. Membentuk gambaran pekerjaan bagi praktisi
konselor sekolah.
e. Memajukan kerja sama dengan pendidik lainnya
terutama dalam program pelatihan.

8. Manfaat bagi Kelanjutan Pendidikan Siswa


a. Mempertinggi kejelasan siswa dalam melanjutkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

pendidikan.
b. Menyiapkan setiap siswa untuk mempercepat
kesempatan pendidikan.
c. Mendorong setiap siswa untuk mencari peluang
memasuki perguruan tinggi.

69
d. Menganjurkan dan mendorong kesiapan
akademik siswa.
e. Meningkatkan kewajaran bagi setiap siswa dalam
melanjutkan pendidikan.

9. Manfaat bagi Layanan Personal Siswa


a. Menetapkan prioritas layanan program bimbingan
dan konseling.
b. Mengoptimalkan kesuksesan siswa secara
individu.
c. Memaksimalkan perkembangan siswa secara
individu.
d. Meningkatkan kerjasama untuk keperluan sekolah
dan masyarakat.

10. Manfaat bagi Tenaga Kerja dan Dunia Industri


a. Meningkatkan kesempatan bagi dunia industri
dan tenaga kerja secara aktif berpartisipasi dalam
program bimbingan dan konseling sekolah.
b. Membangun kerjasama dalam mendukung
kesuksesan karir siswa.
c. Menghubungkan pembisnis, industri, dan tenaga
kerja kepada siswa dan keluarga.
d. Menyediakan tenaga kerja dengan dasar akademik
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang kuat.

70
IV. Rangkuman
A. Pendekatan BK perkembangan mempertimbangkan
sifat alami perkembangan manusia, mencakup tahap-
tahap dan tugas-tugas umum yang sebagian besar
adalah pengalaman individu, seperti kematangan
mereka dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Fakta
menunjukkan bahwa perkembangan siswa tidak hanya
terdiri dari sifat bawaan saja, tetapi lebih banyak
dipengaruhi oleh lingkungan, terutama dari orang
tuanya, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu sifat
alami manusia itu terkondisi dengan lingkungannya,
sehingga konselor dalam memberikan layanan bantuan
harus memperhatikan sifat bawaan dan kondisi
lingkungan siswa (konseli).
B. Perkembangan siswa tidak bisa terlepas dari latar
belakang historis dan budaya mereka. Karena di dalam
masyarakat multikultural keanekaragaman dan
keunikan merupakan sesuatu yang “berharga”, maka
teori perkembangan harus dikemas dalam suatu
kerangka acuan yang praktis, suatu perkembangan
harus dipandang secara berkelanjutan, siklus,
progresif, dan aktif.
C. Tujuan dan sasaran hasil program BK perkembangan
diintegrasikan untuk memfasilitasi proses
http://facebook.com/indonesiapustaka

instruksional. Orang lebih banyak melihat sasaran hasil


perkembangan sebagai suplemen untuk hal-hal yang
bersifat akademis, oleh karena itu dalam
perkembangan harus mengintegrasikan dari

71
keseluruhan program pendidikan dalam bentuk
keterampilan dan pengalaman belajar.
D. Prinsip BK perkembangan untuk semua siswa, secara
fleksibel, efektif dan efisien yang diintegrasikan dari
keseluruhan proses pendidikan serta melibatkan
konselor yang menyediakan layanan konseling dan
intervensinya. Realita di sekolah banyak guru dan
orang tua cenderung mengembangkan domain aspek
kognitif dan psikomotor saja dan kurang
memperhatikan domain aspek afektif. Oleh karena itu
dalam memberi layanan konseling konselor harus
memperhatikan semua aspek yang mendukung
kegiatan perkembangan siswa, afektif-kognitif-
psikomotor.
E. Bimbingan yang baik adalah yang menyeluruh di
semua lingkungan sekolah, untuk membuat siswa dan
para guru menjadi individu yang lebih baik. Oleh
karena itu supaya tercapai efektifitas program
membutuhkan kerjasama dari semua personil sekolah
(stakeholders) tanpa terkecuali.

V. Latihan dan Tugas


A. Lakukan analisis kritis terhadap perbedaan mendasar
antara pendekatan BK konvensional dengan BK
http://facebook.com/indonesiapustaka

perkembangan!
B. Buatlah bagan kinerja personil sekolah dalam
pendekatan BK perkembangan!

72
VI. Referensi
Ahman. 2011. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling
Perkembangan. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Donald H. Blocher. 1974. Developmental Counseling. Secand
ed. New York: John Wiley & Sons.
Mungin Eddy Wibowo. 2005. Konseling Kelompok
Perkembangan. Semarang: UNNES Press.
Muro and Kottman. 1995. Guidance and Counseling in the
Elementary and Middle Schools: A Practical Approach.
Madison: Brown & Benchmark.
Uman Suherman. 2011. Manajemen Bimbingan dan
Konseling. Bandung: Rizqi Press.
http://facebook.com/indonesiapustaka

73
BAB III
BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN SEBAGAI KERANGKA
KONSEPTUAL BIMBINGAN DAN
KONSELING KOMPREHENSIF

I. Kompetensi Dasar
Mampu memahami dan mengaplikasikan pendekatan
bimbingan dan konseling perkembangan dalam layanan
bimbingan dan konseling yang komprehensif.

II. Indikator
A. Mampu memahami hakikat BK komprehensif.
B. Mampu menjelaskan komponen BK komprehensif.
C. Mampu menjelaskan proses penyusunan program BK
komprehensif.

III. Uraian Materi


A. Hakikat Bimbingan dan Konseling Komprehensif
Syarat agar pengelolaan program BK berorientasi
perkembangan adalah pengelolaan program dengan cara
komprehensif. Program BK sekolah yang komprehensif di
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalamnya akan tergambarkan visi, misi, tujuan, fungsi,


sasaran layanan, kegiatan, strategi, personil, fasilitas dan
rencana evaluasinya (Suherman, 2011). Dengan demikian
program BK sekolah yang komprehensif disusun untuk

74
merefleksikan pendekatan yang menyeluruh bagi dasar
penyusunan program, pelaksanaan program, sistem
manajemen dan sistem pertanggungjawabannya.
Comprehensive school guidance and counseling muncul
sebagai kerangka kerja utuh yang harus dipahami oleh
tenaga-tenaga ahli di bidang BK. Berikut lima premis dasar
yang menegaskan istilah tersebut (Gysbers & Henderson,
2006):
1. Tujuan BK bersifat kompatibel dengan tujuan
pendidikan. Artinya, dalam pendidikan ada standar
dan kompetensi tertentu yang harus dicapai oleh
siswa. Oleh karena itu, segala aktivitas dan proses
dalam layanan BK harus diarahkan pada upaya
membantu siswa dalam pencapaian standar
kompetensi dimaksud.
2. Program BK bersifat pengembangan (based on
developmental approach), yakni meskipun seorang
konselor dimungkinkan untuk mengatasi problem dan
kebutuhan psikologis yang bersifat krisis dan klinis
pada dasamya fokus layanan BK lebih diarahkan pada
usaha memfasilitasi pengalaman-pengalaman belajar
tertentu yang membantu siswa untuk tumbuh,
berkembang dan menjadi pribadi yang mandiri.
3. Program BK melibatkan kolaborasi antar staf (team
http://facebook.com/indonesiapustaka

building approach), yaitu program BK yang bersifat


komprehensif bersandar pada asumsi bahwa tanggung
jawab kegiatan bimbingan melibatkan seluruh
personalia yang ada di sekolah dengan sentral

75
koordinasi dan tanggung jawab ada di tangan konselor
yang bersertifikat. Konselor tidak hanya menyediakan
layanan langsung untuk siswa, melainkan juga bekerja
secara konsultatif dan kolaboratif dengan tim
bimbingan yang lain, staf personil sekolah yang lain
(guru dan tenaga administrasi) bahkan orang tua dan
masyarakat.
4. Program BK dikembangkan melalui serangkaian
proses sitematis sejak dari perencanaan, desain,
implementasi, evaluasi dan keberlanjutan. Melalui
penerapan fungsi-fungsi manajemen tersebut
diharapkan kegiatan dan layanan BK dapat
diselenggarakan secara tepat sasaran dan terukur.
5. Program BK ditopang oleh kepemimpinan yang kokoh.
Faktor kepemimpinan ini diharapkan dapat menjamin
akuntabilitas dan pencapaian kinerja program BK.
Bower dan Hatch (Rahman, 2008) bahkan menegaskan
bahwa program BK di sekolah tidak hanya bersifat
komprehensif dalam ruang lingkup, namun juga harus
bersifat preventif dalam desain dan bersifat pengembangan
dalam tujuannya.
1. Pertama, bersifat komprehensif berarti program BK
harus mampu memfasilitasi capaian-capaian
perkembangan psikologis siswa dalam totalitas aspek
http://facebook.com/indonesiapustaka

bimbingan (baik pribadi-sosial, akademik dan karir).


Layanan yang diberikanpun tidak hanya terbatas pada
siswa dengan karakter dan motivasi unggul serta siap
belajar saja. Layanan BK ditujukan untuk seluruh siswa

76
tanpa syarat apapun. Dengan harapan setiap siswa
dapat menggapai sukses di sekolah dan menunjukkan
kontribusi nyata dalam masyarakat.
2. Kedua, bersifat preventif dalam desain mengandung
arti bahwa pada dasamya tujuan pengembangan
program BK di sekolah hendaknya dilakukan dalam
bentuk yang bersifat preventif. Upaya pencegahan dan
antisipasi sedini mungkin hendaknya menjadi
semangat utama yang terkandung dalam kurikulum
bimbingan yang diterapkan di sekolah (kegiatan
klasikal). Melalui cara yang preventif tersebut
diharapkan siswa mampu memilah sikap dan tindakan
yang tepat serta mendukung pencapaian
perkembangan psikologis ke arah ideal dan positif.
Beberapa program yang dapat dikembangkan seperti
pendidikan multikulturalisme dan anti kekerasan,
mengembangkan keterampilan resolusi konflik,
pendidikan seksualitas, kesehatan reproduksi, dan
lain-lain.
3. Ketiga, bersifat pengembangan dalam tujuan didasari
oleh fakta di lapangan bahwa layanan BK sekolah
selama ini justru kontra produktif terhadap
perkembangan siswa itu sendiri. Kegiatan layanan BK
sekolah yang berkembang di Indonesia selama ini lebih
http://facebook.com/indonesiapustaka

terfokus pada kegiatan-kegiatan yang bersifat


administratif dan kasuistik, seperti mengelola
kehadiran dan ketidakhadiran siswa, mengenakan
sanksi disiplin pada siswa yang dianggap bermasalah.

77
Dengan demikian wajar apabila dalam masyarakat dan
siswa-siswa sendiri guru BK distigmakan sebagai
polisi sekolah. Konsekuensi dari kenyataan ini pada
akhimya menyebabkan layanan BK yang
diselenggarakan di sekolah akhimya terjebak dalam
pendekatan tradisional dan intervensi psikologis yang
berorientasi pada paradigma intrapsikis dan sindrom
klinis.
Pendekatan dan tujuan layanan BK pada dasamya
tidak hanya berkaitan dengan perilaku menyimpang dan
bagaimana mencegah perilaku tersebut, melainkan juga
berurusan dengan pengembangan perilaku efektif. Sudut
pandang perkembangan ini mengandung implikasi luas
bahwa pengembangan perilaku yang sehat dan efektif
harus dapat dicapai oleh setiap individu dalam konteks
lingkungannya masing-masing. Dengan demikian, BK
seharusnya perlu diarahkan pada upaya memfasilitasi
individu agar menjadi lebih sadar terhadap dirinya,
terampil dalam merespon lingkungan serta mampu
mengembangkan diri menjadi pribadi yang bermakna dan
berorientasi ke depan.
Secara lebih sederhana Nurihsan (2011) mengatakan
bahwa model BK komprehensif adalah suatu konsep dasar
bimbingan yang berasumsi sebagai berikut:
http://facebook.com/indonesiapustaka

1. Program bimbingan merupakan suatu kebutuhan yang


mencakup berbagai dimensi yang terkait dan
dilaksanakan secara terpadu, kerjasama antara

78
personal bimbingan dan personal sekolah lainnya,
keluarga serta masyarakat.
2. Layanan bimbingan ditujukan untuk seluruh siswa,
menggunakan berbagai strategi (pengembangan
pribadi dan dukungan sistem), meliputi ragam dimensi
(masalah, setting, metode dan lama waktu layanan).
3. Bimbingan bertujuan untuk mengembangkan seluruh
potensi siswa secara optimal, mencegah timbulnya
masalah dan menyelesaikan masalah siswa.
Model bimbingan ini berpandangan bahwa manusia
itu merupakan satu kesatuan. Pengaruh terhadap bagian
dari seorang manusia akan mempengaruhi
keseluruhannya. Pada diri setiap individu terdapat tenaga
yang mendorongnya untuk tumbuh dan berkembang
secara positif ke arah yang sebaik-baiknya sesuai dengan
kemampuan dasar individu tersebut. Setiap individu
mempunyai kebebasan untuk memilih yang diikuti oleh
tanggung jawab, yaitu bertanggungjawab atas akibat yang
timbul dari pilihannya itu. Tanggung jawab seseorang itu
tidak hanya bertumpu dan terpusat pada dirinya sendiri,
tetapi juga kepada orang lain secara seimbang. Manusia
tidak kaku terhadap pengelaman-pengalaman masa
lampaunya. Ia dapat mengolah pengalaman masa
lampaunya untuk memperbaiki pilihan-pilihannya dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

secara umum untuk memperbaiki arah, kecepatan serta


kematangan perkembangannya. Perilaku manusia adalah
hasil interaksi antara individu dan lingkungannya.

79
Menurut Erford (2007) program BK komprehensif
bersifat sistemik, bukan sekedar program yang sistematis.
Program BK yang sistematik merupakan program yang
pelaksanaannya sesuai dengan rencana, tertata baik sejak
perencanaan, pendataan, implementasi, dan evaluasi.
Sementara program BK yang sistemik adalah program BK
yang dirancang untuk menjangkau berbagai pihak, mulai
dari siswa sebagai individu maupun kelompok, komunitas
sekolah, keluarga dan masyarakat. Pendekatan sistemik
dalam program BK komprehensif menempatkan individu
sebagai pusat sistem dan menciptakan hubungan antar
subsistem yang mempengaruhi individu ke arah
perkembangan positif. Sifat sistemik dalam program BK
komprehensif tampak dalam beberapa hal sebagai berikut:
1. Asesmen dapat merumuskan kebutuhan siswa dan
stakeholder penting lain seperti orang tua, komunitas
sebaya, para guru, administrator sekolah, dan lain
sebagainya. Program BK yang sistemik haruslah
menjadi sebuah program yang data driven.
2. Layanan BK menjangkau siswa dan stakeholder yang
terkait.
3. Program BK dapat melibatkan stakeholder relevan tidak
saja sebagai penerima layanan tetapi juga sebagai
rekanan dalam memberi layanan yang yang relevan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

4. Evaluasi proses, hasil dan dampak yang menjangkau


siswa dan stakeholder relevan tersebut di atas.
Lebih lanjut Erford menambahkan bahwa program BK
komprehensif membutuhkan kebijakan pendidikan di

80
sekolah yang integratif yaitu adanya keselarasan antara
kebijakan dalam bidang pengajaran, bimbingan, pelatihan,
kegiatan ekstrakurikuler, kebijakan keuangan, sarana-
prasarana, personalia. Program BK komprehensif
membutuhkan dukungan yang adil dari pihak sekolah
(dengan payung kebijakan), sehingga sekolah memberikan
perhatian memadai dan setara kepada semua unsur yang
penting bagi jalannya proses pendidikan. Dukungan
finansial memadai, fasilitas memadai, pemberian waktu
yang memadai untuk guru bimbingan dan konselingan,
pengajaran dan kegiatan pendidikan lain di sekolah
merupakan bukti kebijakan pendidikan yang integratif di
sebuah lembaga pendidikan. Selain sebagai prasyarat,
kebijakan pendidikan yang terintegrasi juga merupakan
dampak dari program BK komprehensif yang terbukti
kualitasnya. Kualitas program dan hasil yang terbukti akan
melahirkan kepercayaan masyarakat sekolah. Kepercayaan
yang besar dari masyarakat sekolah pada akhimya akan
melahirkan dukungan optimal bagi program BK tersebut,
sehingga program BK menjadi semakin komprehensif.
Senada dengan paparan di atas, Santoadi (2010)
menyatakan bahwasanya program BK komprehensif
adalah program BK yang dirancang menjadi bagian
integral dari proses pendidikan di sekolah. Integrasi antara
http://facebook.com/indonesiapustaka

program bimbingan dan keseluruhan program pendidikan


di sekolah yang bertujuan mengembangkan aspek
intelektual dan skill diharapkan akan memberikan
pengaruh pada pembentukan kompetensi siswa yang lebih

81
utuh. Integrasi semacam ini membutuhkan kesamaan visi
pendidikan dalam diri lembaga dan semua komponen yang
terlibat dalam proses pendidikan sehingga BK yang
komprehensif bisa diciptakan. Adapun yang menjadi ciri
utama dari program BK komprehensif adalah sebagai
berikut:
1. Program BK sekolah merupakan kesatuan komponen
tujuan institusi sekolah.
2. Program BK memberikan kesempatan pelayanan
kepada semua siswa.
3. Program BK ditunjang dengan keberadaan konselor
yang profesional (keahlian, keterampilan, komitmen
dan pengembangan diri).
4. Memastikan bahwa program BK merupakan
rancangan yang dapat dilaksanakan dalam sebuah
gaya yang sistemik untuk semua siswa.
5. Program BK mampu menghasilkan pengetahuan, sikap
dan kemampuan-kemampuan siswa lainnya yang
dapat didemonstrasikan sebagai sebuah hasil dari
keikutsertaan mereka dalam sebuah program BK di
sekolah.

B. Komponen Program Bimbingan dan Konseling


Komprehensif
http://facebook.com/indonesiapustaka

Berdasarkan visi dan misi bimbingan, kebutuhan


siswa, serta tujuan bimbingan, maka komponen BK
komprehensif dirumuskan ke dalam tiga komponen utama,
yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif dan

82
layanan perencanaan individual (Nurihsan, 2011).
Sedangkan Gysbers (2007); Santoadi (2010); dan Suherman
(2011) menyebutkan komponen BK komprehensif ada
empat, yakni kurikulum BK, perencanaan individual,
layanan responsif, dan dukungan sistem. Keempat
komponen tersebut juga termuat dalam Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan No. 111 Tahun 2014 tentang
Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan
Pendidikan Menengah.
1. Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar diartikan sebgai proses pemberian
bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan
penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka
mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan
tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan
dalam pengembangan kemampuan memilih dan
mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.
Tujuan layanan ini dapat juga dirumuskan sebagai upaya
membantu siswa agar:
a. Memiliki kesadaran serta pemahaman tentang diri
dan lingkungan (pendidikan, pekerjaan, sosial
budaya dan agama).
b. Mampu mengembangkan keterampilan untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengidentifikasi tanggung jawab atau


seperangkat tingkah laku yang tepat bagi
penyesuaian diri dengan lingkungannya.

83
c. Mampu menangani atau mamanuhi kebutuhan
dan masalahnya, serta mengembangkan dirinya
dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang
dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial,
belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya
membantu siswa/konseli dalam upaya mencapai tugas-
tugas perkembangan dan tercapainya kemandirian dalam
kehidupannya. Strategi pelayanan untuk aplikasi
pelayanan dasar antara lain:
a. Bimbingan Klasikal
Program yang dirancang menuntut konselor
untuk melakukan kontak langsung dengan para
siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor
memberikan pelayanan bimbingan kepada siswa.
Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi
kelas atau brain stroming.
b. Pelayanan Orientasi
Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang
memungkinkan siswa memahami dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,
terutama lingkungan sekolah/madrasah, untuk
mempermudah atau memperlancar berperannya
mereka di lingkungan baru tersebut. Pelayanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal


program pelajaran baru. Materi pelayanan
orientasi di sekolah/madrasah biasanya mencakup
organisasi sekolah/madrasah, staf dan guru-guru,

84
kurikulum, program BK, program ekstrakurikuler,
fasilitas atau sarana-prasarana dan tata tertib
sekolah.
c. Pelayanan Informasi
Pemberian informasi tentang berbagai hal
yang dipandang bermanfaat bagi siswa melalui
komunikasi langsung maupun tidak langsung
(melalui media cetak maupun elektronik, seperti:
buku, brosur, leaflet, majalah dan intemet).
d. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan pelayanan bimbingan
kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5
s/d 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk
merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik
yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini
adalah masalah yang bersifat umum (common
problem) dan tidak rahasia, seperti: cara-cara
belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian
dan mengelola stres.
e. Aplikasi Instrumentasi
Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan
data atau informasi tentang pribadi siswa dan
lingkungan siswa. Pengumpulan data ini dapat
dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes
http://facebook.com/indonesiapustaka

maupun non-tes.

2. Pelayanan Responsif
Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada
peserta didik/konseli yang menghadapi masalah dan

85
memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta
didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses
pencapaian tugas-tugas perkembangannya.
Komponen layanan responsif dalam program BK
sekolah terdiri atas kegiatan-kegiatan untuk menemukan
kebutuhan dan persoalan yang tengah dihadapi siswa.
Penyelesaian kebutuhan atau persoalan ini memerlukan
konseling, konsultasi, pengalihan, fasilitasi maupun
informasi dari teman sebaya. Komponen ini disediakan
bagi seluruh siswa dan seringkali siswa diberi inisiasi
melalui self-referral. Bagaimanapun guru, orang tua/wali
dan orang lain bisa juga membantu siswa. Walaupun
konselor sekolah memiliki keterampilan dan pelatihan
khusus dalam merespon kebutuhan dan persoalan
semacam ini, kerjasama dan dukungan dari seluruh pihak
sekolah dan seluruh staf tetap diperlukan bagi suksesnya
implementasi program layanan responsif.
Hasil dari layanan ini, siswa/konseli diharapkan dapat
mengalami perubahan pikiran, perasaan, kehendak, atau
perilaku yang terkait dengan perkembangan pribadi, sosial,
belajar, dan karir. Layanan responsif disampaikan melalui
strategi-strategi seperti:
a. Konseling Individual dan Kelompok
Pemberian pelayanan konseling ini ditujukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan,


mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Melalui konseling, siswa
(konseli) dibantu untuk mengidentifikasi masalah,
penyebab masalah, penemuan altematif

86
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
secara tepat. Konseling ini dapat dilakukan secara
individu maupun kelompok.
b. Referal (Alih Tangan atau Rujukan)
Apabila konselor merasa kurang memiliki
kemampuan untuk menangani masalah konseli,
maka sebaiknya dia mereferal atau
mengalihtangankan konseli kepada pihak lain
yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikister,
dokter, dan kepolisian. Konseli yang sebeiknya
direferal adalah mereka yang memiliki masalah,
seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas),
kecanduan narkoba dan penyakit kronis.
c. Kolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran
Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali
kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang
siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran dan
pribadinya), membantu memecahkan masalah
siswa dan mengidentifikasi aspek-aspek
bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata
pelajaran.
d. Kolaborasi dengan Orang Tua
Konselor perlu melakukan kerjasama dengan
para orang tua siswa. Kerjasama ini penting agar
http://facebook.com/indonesiapustaka

proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya


berlangsung di sekolah/madrasah, tetapi juga oleh
orang tua di rumah. Melalui kerjasama ini
memungkinkan terjadinya saling memberi
informasi, pengertian dan tukar pikiran antara

87
konselor dan orang tua dalam upaya
mengembangkan potensi siswa atau memecahkan
masalah yang mungkin dihadapi siswa.
e. Kolaborasi dengan Pihak Terkait di Luar
Berkaitan dengan upaya sekolah/madrasah
untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur
masyarakat yang dipandang relevan dengan
peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Jalinan
kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak: (1)
instansi pemerintah; (2) instansi swasta; (3)
ABKIN; (4) para ahli dalam bidang terkait, seperti
psikolog, psikister dan dokter; (5) MGMP; (6)
Depnaker.
f. Konsultasi
Konselor menerima pelayanan konsultasi bagi
guru, orang tua atau pihak pimpinan
sekolah/madrasah yang terkait dengan upaya
membangun kesamaan persepsi dalam
memberikan bimbingan kepada siswa,
menciptakan lingkungan sekolah/madrasah yang
kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan
referal dan meningkatkan kualitas program
bimbingan dan konseling.
g. Bimbingan Teman Sebaya
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bimbingan teman sebaya ini adalah


bimbingan yang dilakukan oleh siswa terhadap
siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi guru
bimbingan dan konseling sebelumnya diberikan
latihan atau pembinaan konselor. Siswa yang

88
menjadi guru bimbingan dan konseling berfungsi
sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa
lain dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya baik akademik maupun non-
akademik.
h. Konferensi Kasus
Kegiatan untuk membahas permasalahan
siswa dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh
pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan,
kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya
permasalahan siswa itu. Pertemuan konferensi
kasus ini bersifat terbatas dan tertutup.
i. Kunjungan Rumah
Kegiatan untuk memperoleh data atau
keterangan tentang siswa tertentu yang sedang
ditangani, dalam upaya mengentaskan
masalahnya, melalui kunjungan ke rumahnya.

3. Perencanaan Individual
Konselor membantu siswa menganalisis kekuatan dan
kelemahan dirinya berdasarkan data atau informasi yang
diperoleh, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangan atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar,
dan karir. Melalui kegiatan penilaian diri ini, siswa akan
http://facebook.com/indonesiapustaka

memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan


dirinya secara positif dan konstruktif. Pelayanan
perencanaan individual ini dapat dilakukan juga melalui
pelayanan penempatan (penjurusan dan penyaluran) untuk
membentuk siswa menempati posisi yang sesuai dengan

89
bakat dan minatnya. Konseli menggunakan informasi
tentang pribadi, sosial, pendidikan, dan karir yang
diperolehnya untuk:
a. Merumuskan tujuan dan merencanakan kegiatan
yang menunjang pengembangan dirinya atau
kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki
kelemahan dirinya.
b. Melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan
atau perencanaan yang telah ditetapkan.
c. Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan.
Isi layanan perencanaan individual meliputi
memahami secara khusus tentang potensi dan keunikan
perkembangan dirinya sendiri. Dengan demikian
meskipun perencanaan individual ditujukan untuk seluruh
siswa/konseli, layanan yang diberikan lebih bersifat
individual karena didasarkan atas perencanaan, tujuan,
dan keputusan yang ditentukan oleh masing-masing
siswa/konseli.
Perencanaan individual bagi siswa diimplementasikan
melalui beberapa strategi sebagai berikut:
a. Penilaian individual/kelompok kecil: konselor
sekolah mengadakan analisis dan evaluasi
terhadap kemampuan, minat, keterampilan, dan
prestasi siswa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

b. Pemberian saran pada individual/kelompok kecil:


konselor sekolah memberi saran pada siswa
dengan menggunakan informasi pribadi, sosial,
karir dan pasar tenaga kerja dalam perencanaan

90
tujuan pribadi, edukasional, dan okupasional
siswa. Keterlibatan siswa, orang tua, dan pihak
sekolah dalam merencanakan program siswa yang
sesuai dengan kebutuhan mereka merupakan hal
yang penting.
c. Contoh topik dalam komponen ini adalah: review
skor tes, promosi dan retensi informasi, survei dan
interview dengan siswa senior dan alumni, seleksi
persoalan tahunan, bantuan finansial, perangkat
pengungkap minat, keterampilan sosial.

4. Dukungan Sistem
Dukungan sistem merupakan komponen pelayanan
dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur dan
pengembangan kemampuan profesional konselor secara
berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan
bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran
perkembangan konseli. Program ini memberikan
dukungan kepada konselor dalam memperlancar
penyelenggaraan pelayanan di atas (layanan dasar,
perencanan individual, dan responsif). Sedangkan bagi
personil pendidik lainnya adalah untuk memperlancar
penyelenggaraan program pendidikan di sekolah.
Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek pengembangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

jejaring, kegiatan manajemen, riset dan pengembangan.


Komponen program dukungan sistem bertujuan
memberikan dukungan kepada konselor atau guru
bimbingan dan konseling dalam memperlancar
penyelenggaraan komponen-komponen layanan

91
sebelumnya dan mendukung efektivitas dan efisiensi
pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Sedangkan
bagi personil pendidik lainnya adalah untuk memperlancar
penyelenggaraan program pendidikan pada satuan
pendidikan.
a. Pengembangan Profesi
Konselor secara terus menerus berusaha
untuk memperbaharui pengetahuan dan
keterampilannya melalui: (1) in service training; (2)
aktif dalam organisasi profesi; (3) aktif dalam
kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan
lokakarya atau; (4) melanjutkan studi ke program
yang lebih tinggi.
b. Manajemen Program
Program pelayanan BK tidak mungkin akan
tercipta, terselenggara, dan tercapai apabila tidak
memiliki suatu sistem manajemen yang bermutu,
dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis dan
terarah. Oleh karena itu, bimbingan dan konseling
harus ditempatkan sebagai bagian terpadu dari
seluruh program sekolah/madrasah dengan
dukungan wajar dalam aspek ketersediaan sumber
daya manusia (konselor) maupun sarana dan
pembiayaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

c. Riset dan Pengembangan


Melakukan penelitian, mengikuti kegiatan
profesi, dan mengikuti aktivitas peningkatan
profesi serta kegiatan pada organisasi profesi.

92
C. Bidang Layanan Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan
mencakup empat bidang layanan, yaitu bidang layanan
yang memfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, belajar,
dan karir. Pada hakikatnya perkembangan tersebut
merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat
dipisahkan dalam setiap diri siswa/konseli. Berikut adalah
penjabaran dari keempat bidang tersebut, Nurihsan (2005);
Sukardi (2008); Prayitno (2012); Tohirin (2013); dan
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 111
Tahun 2014:
1. Bimbingan dan Konseling Pribadi
a. Pengertian
Suatu proses pemberian bantuan dari konselor
atau guru bimbingan dan konseling kepada
siswa/konseli untuk memahami, menerima,
mengarahkan, mengambil keputusan, dan
merealisasikan keputusannya secara bertanggung
jawab tentang perkembangan aspek pribadinya,
sehingga dapat mencapai perkembangan
pribadinya secara optimal dan mencapai
kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan
dalam kehidupannya.
b. Tujuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bimbingan dan konseling pribadi


dimaksudkan untuk membantu siswa/konseli
agar mampu (1) memahami potensi diri dan
memahami kelebihan dan kelemahannya, baik

93
kondisi fisik maupun psikis; (2) mengembangkan
potensi untuk mencapai kesuksesan dalam
kehidupannya; (3) menerima kelemahan kondisi
diri dan mengatasinya secara baik; (4) mencapai
keselarasan perkembangan antara cipta-rasa-karsa;
(5) mencapai kematangan/kedewasaan cipta-rasa-
karsa secara tepat dalam kehidupanya sesuai nilai-
nilai luhur; dan (6) mengakualisasikan dirinya
sesuai dengan potensi diri secara optimal
berdasarkan nilai-nilai luhur budaya dan agama.
c. Ruang Lingkup
Secara garis besar, lingkup materi bimbingan
dan konseling pribadi meliputi pemahaman diri,
pengembangan kelebihan diri, pengentasan
kelemahan diri, keselarasan perkembangan cipta-
rasa-karsa, kedewasaan cipta-rasa-karsa, dan
aktualiasi diri secara bertanggungjawab. Materi
bimbingan dan konseling pribadi tersebut dapat
dirumuskan berdasarkan analisis kebutuhan
pengembangan diri peserta didik, kebijakan
pendidikan yang diberlakukan, dan kajian
pustaka.

2. Bimbingan dan Konseling Sosial


http://facebook.com/indonesiapustaka

a. Pengertian
Suatu proses pemberian bantuan dari konselor
kepada siswa/konseli untuk memahami
lingkungannya dan dapat melakukan interaksi
sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial,

94
mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang
dialaminya, mampu menyesuaikan diri dan
memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan
sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan
kebermaknaan dalam kehidupannya.
b. Tujuan
Bimbingan dan konseling sosial bertujuan
untuk membantu peserta didik/konseli agar
mampu: (1) berempati terhadap kondisi orang
lain; (2) memahami keragaman latar sosial budaya;
(3) menghormati dan menghargai orang lain; (4)
menyesuaikan dengan nilai dan norma yang
berlaku; (5) berinteraksi sosial yang efektif; (6)
bekerjasama dengan orang lain secara
bertanggung jawab; dan (7) mengatasi konflik
dengan orang lain berdasarkan prinsip yang saling
menguntungkan.
c. Ruang Lingkup
Secara umum, lingkup materi bimbingan dan
konseling sosial meliputi pemahaman keragaman
budaya, nilai-nilai dan norma sosial, sikap sosial
positif (empati, altruistis, toleran, peduli, dan
kerjasama), keterampilan penyelesaian konflik
secara produktif, dan keterampilan hubungan
http://facebook.com/indonesiapustaka

sosial yang efektif.

95
3. Bimbingan dan Konseling Belajar
a. Pengertian
Proses pemberian bantuan konselor atau guru
bimbingan dan konseling kepada siswa/konseli
dalam mengenali potensi diri untuk belajar,
memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil
merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan
menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar
teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal
sehingga dapat mencapai kesuksesan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan dalam
kehidupannya.
b. Tujuan
Bimbingan dan konseling belajar bertujuan
membantu peserta didik untuk: (1) menyadari
potensi diri dalam aspek belajar dan memahami
berbagai hambatan belajar; (2) memiliki sikap dan
kebiasaan belajar yang positif; (3) memiliki motif
yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat; (4)
memiliki keterampilan belajar yang efektif; (5)
memiliki keterampilan perencanaan dan
penetapan pendidikan selanjutnya; dan (6)
memiliki kesiapan menghadapi ujian.
c. Ruang Lingkup
http://facebook.com/indonesiapustaka

Lingkup bimbingan dan konseling belajar


terdiri atas sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang menunjang efisiensi dan keefektivan belajar
pada satuan pendidikan dan sepanjang
kehidupannya; menyelesaikan studi pada satuan

96
pendidikan, memilih studi lanjut, dan makna
prestasi akademik dan non-akademik dalam
pendidikan, dunia kerja dan kehidupan
masyarakat.

4. Bimbingan dan Konseling Karir


a. Pengertian
Proses pemberian bantuan konselor atau guru
bimbingan dan konseling kepada siswa/konseli
untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan,
eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan
karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional
dan realistis berdasar informasi potensi diri dan
kesempatan yang tersedia di lingkungan hidupnya
sehingga mencapai kesuksesan dalam
kehidupannya.
b. Tujuan
Bimbingan dan konseling karir bertujuan
menfasilitasi perkembangan, eksplorasi, aspirasi
dan pengambilan keputusan karir sepanjang
rentang hidup siswa/konseli. Dengan demikian,
peserta didik akan: (1) memiliki pemahaman diri
(kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait
dengan pekerjaan; (2) memiliki pengetahuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengenai dunia kerja dan informasi karir yang


menunjang kematangan kompetensi karir; (3)
memiliki sikap positif terhadap dunia kerja; (4)
memahami relevansi kemampuan menguasai
pelajaran dengan persyaratan keahlian atau

97
keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-
cita karirnya masa depan; (5) memiliki
kemampuan untuk membentuk identitas karir,
dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan,
persyaratan kemampuan yang dituntut,
lingkungan sosio-psikologis pekerjaan, prospek
kerja, dan kesejahteraan kerja; memiliki
kemampuan merencanakan masa depan, yaitu
merancang kehidupan secara rasional untuk
memperoleh peran-peran yang sesuai dengan
minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial
ekonomi; membentuk pola-pola karir; mengenal
keterampilan, kemampuan dan minat; memiliki
kemampuan atau kematangan untuk mengambil
keputusan karir.
c. Ruang Lingkup
Ruang lingkup bimbingan karir terdiri atas
pengembangan sikap positif terhadap pekerjaan,
pengembangan keterampilan menempuh masa
transisi secara positif dari masa bersekolah ke
masa bekerja, pengembangan kesadaran terhadap
berbagai pilihan karir, informasi pekerjaan,
ketentuan sekolah dan pelatihan kerja, kesadaran
akan hubungan beragam tujuan hidup dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

nilai, bakat, minat, kecakapan, dan kepribadian


masing-masing. Untuk itu secara berurutan dan
berkesinambungan, kompetensi karir peserta didik

98
difasilitasi bimbingan dan konseling dalam setiap
jenjang pendidikan dasar dan menengah.

D. Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling


Komprehensif
Suherman (2011) menjelaskan sehubungan dengan
sifat program BK komprehensif, ada tiga hal yang secara
mendasar perlu diperhatikan dalam penyusunan program
bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu:
1. Ruang Lingkup Layanan
Program BK sekolah yang komprehensif tidak saja
berfokus pada layanan bagi seluruh siswa tetapi juga
pada seluruh aspek kehidupan siswa. Artinya mulai
usia dini (Taman Kanak-kanak) sampai dengan usia
remaja (SMA/SMK) harus mengetahui, memahami,
dan dapat bekerja dalam tiga area kehidupan mereka,
yaitu kehidupan akademik, karir, dan pribadi-sosial.
Titik berat program BK sekolah adalah kesuksesan bagi
setiap siswa, artinya siswa tidak hanya dimotivasi,
didorong dan siap untuk belajar pengetahuan sekolah,
tetapi program BK sekolah membantu seluruh siswa
agar sukses berprestasi di sekolah dan kehidupannya
lebih berkembang serta mampu memberikan
kontribusi bagi kehidupan masyarakat sekitamya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

2. Dirancang sebagai Pencegahan


Tujuan program BK sekolah adalah untuk
memberikan kemampuan khusus dan sikap
pencegahan yang proaktif, serta memfasilitasi semua

99
siswa memperoleh keberhasilan akademik, karir, dan
pengembangan pengalaman pribadi-sosialnya. Oleh
karena itu, tugas konselor tidak dibatasi sebagai
penasihat dan pencari solusi tentang permasalahan
yang dihadapi para siswa tetapi melalui pelaksanaan
program bimbingan dan konseling sekolah konselor
lebih mengarahkan aktivitasnya pada pencegahan
risiko yang mungkin dihadapi para siswa.
3. Pengembangan Potensi Siswa
Program BK yang komprehensif dirancang tidak
hanya untuk pencegahan permasalahan siswa, tetapi
disusun sebagai pelayanan untuk menemukan
karakteristik dan kebutuhan siswa pada berbagai jenis
dan tahapan perkembangan. Dengan kata lain program
BK sekolah yang komprehensif harus mampu
membangun tujuan-tujuan, memprediksi hasil,
menentukan dukungan sistem dan kebijakan yang
tepat baik bagi siswa, konselor sekolah, guru, wali
kelas, pengawas BK, orang tua atau masyarakat
sehingga mempertinggi prestasi pembelajaran siswa
(akademik, karir, dan pribadi-sosial).
Landasan atau dasar program merupakan suatu
keputusan awal dan menentukan yang harus diambil oleh
pemegang kebijakan pendidikan di sekolah bagi
http://facebook.com/indonesiapustaka

terwujudnya suatu program BK sekolah. Merancang


keputusan dasar yang kuat memerlukan usaha kerjasama
semua unsur dan personil sekolah, termasuk dengan orang
tua dan masyarakat sehingga program BK bisa diterima

100
dan memberikan manfaat bagi semua siswa. Dengan
demikian, selama tahap pengembangan program BK, para
stakeholder hendaknya bermusyawarah untuk menentukan
filosofi, misi dan fungsi, serta isi keseluruhan program.
Dasar pengembangan program yang lengkap merupakan
hal yang sangat penting untuk memastikan bahwa
program BK sekolah menjadi suatu bagian utuh dari
seluruh program pendidikan untuk keberhasilan para
siswa. Proses penyusunan program BK di sekolah
dilakukan melalui delapan tahap aktivitas, yaitu:
1. Mengkaji Kebijakan dan Produk Hukum yang
Relevan
Mengkaji kebijakan dan produk hukum yang
relevan baik tingkat institusi (sekolah) maupun
nasional dimaksudkan agar pengembangan program
BK sekolah tidak bertentangan dengan kebijakan
umum yang berlaku dan ditentukan oleh
pemerintahan pusat, daerah maupun sekolah sebagai
tempat implementasi program. Karena itu sebelum
memulai melakukan penyusunan program konselor
perlu mengkaji terlebih dahulu produk-produk
kebijakan yang berlaku. Sebagai contoh dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan tidak mungkin
suatu sekolah menggunakan standar kurikulum selain
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang ditentukan dan diberlakukan secara nasional oleh


Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS).
2. Menganalisis Harapan dan Kondisi Sekolah
Menganalisis harapan dan kondisi
sekolah merupakan langkah yang harus dilakukan

101
konselor untuk mengetahui keadaan, kekuatan,
kelemahan, atau kekurangan sekolah. Sangat tepat jika
dilakukan analisis dengan teknik SWOT (strengt,
weakness, opportunity, treath) sehingga dapat diketahui
secara tepat kekuatan, kelemahan, peluang atau
kesempatan, dan ancaman yang dihadapi sekolah.
Dalam melakukan analisis ini, jika diperlukan sekolah
dapat meminta bantuan tenaga ahli. Merumuskan
tujuan yang ingin dicapai sekolah ditetapkan
berdasarkan atas kebijakan yang berlaku dan analisis
kondisi sekolah.
3. Menganalisis Karakteristik dan Kebutuhan Siswa
Program BK merupakan rancangan aktivitas dan
kegiatan yang akan memfasilitasi tercapainya tujuan
pendidikan nasional. Artinya, program BK di sekolah
harus menyediakan sistem layanan yang bermanfaat
bagi kemajuan akademik, karir, dan perkembangan
pribadi-sosial para siswa dalam menyiapkan dan
menghadapi tantangan masa depan dalam kehidupan
pribadi, masyarakat, dan bangsanya di masa depan.
Berdasarkan itu semua, maka semua pemegang
kebijakan pendidikan di sekolah lebih memahami
karakteristik dan kebutuhan siswa yang merupakan
subjek layanan BK di sekolah.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Data atau informasi tentang karakteristik dan


kebutuhan siswa merupakan komponen atau faktor-
faktor yang berkaitan dengan penentuan tujuan
layanan BK di sekolah. Data yang sudah
terkumpul perlu dianalisis secara cermat dan

102
komprehensif (menyeluruh), untuk kemudian
ditafsirkan dan diimplementasikan dalam beberapa
altematif rencana program BK di sekolah. Altematif
program tersebut harus dievaluasi dan dipilih mana
yang memiliki peluang paling besar untuk mencapai
tujuan, tetapi paling hemat dalam menggunakan
tenaga, waktu dan biayanya.
4. Menganalisis Program, Pelaksanaan, Hasil,
Dukungan serta Faktor-faktor Penghambat Program
Sebelumnya
Sebelum altematif program BK yang dipilih
dilaksanakan, konselor perlu menjabarkan secara rinci
program itu sampai dengan tahap-tahap
pelaksanaannya. Dalam setiap tahap pelaksanaan,
paling tidak harus jelas mengenai: (1) sasaran yang
ingin dicapai; (2) kegiatan yang akan dilakukan; (3)
siapa pelaksana dan penanggung jawabnya; (4) kapan
waktu pelaksanaanya; dan (5) sarana atau pra sarana
dan dana yang diperlukan. Dengan demikian sebelum
konselor melaksanakan tugas-tugas kegiatan layanan
BK di sekolah, mereka harus menyusun program
kegiatan BK yang dilengkapi dengan seperangkat
kelengkapan instrumen.
Secara berbeda, Rahman (2008) menjelaskan
http://facebook.com/indonesiapustaka

sistematika penyusunan dan pengembangan program BK


komprehensif pada dasamya terdiri dari dua langkah
besar, yakni: (1) pemetaan kebutuhan, masalah dan konteks
layanan; (2) desain program yang sesuai dengan

103
kebutuhan, masalah, dan konteks layanan. Adapun
penjabaran dari tiap-tiap langkah besar adalah sebagai
berikut:
1. Pemetaan Kebutuhan, Masalah, dan Konteks
Layanan
Penyusunan program BK di sekolah haruslah dimulai
dari kegiatan asesmen (pengukuran, penilaian) atau
kegiatan mengidentifikasi aspek-aspek yang dijadikan
bahan masukan bagi penyususnan program/layanan.
Kegiatan asesmen ini meliputi:
a. Asesmen konteks lingkungan program yang
terkait dengan kegiatan mengidentifikasi harapan
dan tujuan sekolah, orang tua, masyarakat, dan
stakeholder pendidikan terlibat, sarana dan
prasarana pendukung program bimbingan,
kondisi dan kualifikasi konselor, serta kebijakan
pimpinan sekolah.
b. Asesmen kebutuhan dan masalah siswa yang
menyangkut karakteristik siswa, seperti aspek fisik
(kesehatan dan keberfungsiannya), kecerdasan,
motivasi, sikap dan kebiasaan belajar, minat,
masalah-masalah yang dihadapi, kepribadian,
tugas perkembangan psikologis.
Melalui pemetaan ini diharapkan program dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

layanan BK yang dikembangkan oleh konselor benar-benar


dibutuhkan oleh seluruh segmen yang terlibat dan sesuai
dengan konteks lingkungan program. Dengan kata lain,
program dan kegiatan yang tertuang dalam rencana per

104
semester ataupun tahunan bukan sekedar tuntunan
administratif, melainkan tuntunan tanggung jawab yang
sungguh harus dilaksanakan secara profesional. Berikut ini
langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh konselor
dalam memetakan kebutuhan, masalah dan konteks
layanan:
a. Menyusun instrumen dan unit analisis penilaian
kebutuhan. Eksplorasi peta kebutuhan, masalah,
dan konteks membutuhkan instrumen asesmen
yang berfungsi sebagai alat bantu. Dalam
instrumen ini, konselor merumuskan aspek dan
indikator beserta item pemyataan atau pertanyaan
yang akan diukur dan jenis metode yang akan
digunakan untuk mengungkap aspek yang
dimaksud. Metode yang dapat digunakan seperti
observasi, wawancara, dokumentasi, dan
sebagainya.
b. Implementasi penilaian kebutuhan. Pada tahap ini
konselor sesegera mungkin mengumpulkan data
dengan menggunakan instrumen yang telah
dibuat sebelumnya dengan tujuan memperoleh
gambaran kebutuhan dan konteks lingkungan
yang akan dirumuskan ke dalam program lebih
lanjut.
http://facebook.com/indonesiapustaka

c. Analisis hasil penilaian kebutuhan. Setelah data


terkumpul, konselor mengolah, menganalisis, dan
menginterpretasi hasil penilaian yang diungkap

105
dengan tujuan kebutuhan, masalah dan konteks
program dapat teridentifikasi dengan tepat.
d. Pemetaan kebutuhan/permasalahan. Setelah hasil
dianalisis dan identifikasi masalah terungkap,
petugas BK dan konselor membuat peta
kebutuhan/masalah yang dilengkapi dengan
analisis faktor-faktor penyebab yang
memunculkan kebutuhan/permasalahan.
2. Desain Program BK dan Rencana Aksi (Action Plan)
Berikut ini adalah penjabaran rencana operasional
(action plan) yang diperlukan. Action plan yang disusun
paling tidak memenuhi unsur 5W + 1H (what, why, where,
who, when, and how). Dengan demikian konselor perlu
melakukan hal-hal berikut ini:
a. Identifikasikan dan rumuskan berbagai kegiatan
yang harus/perlu dilakukan. Kegiatan ini
diturunkan dari perilaku/tugas
perkembangan/kompetensi yang harus dikuasai
siswa.
b. Pertimbangan porsi waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan setiap kegiatan di atas. Apakah
kegiatan itu dilakukan dalam waktu tertentu atau
terus menerus. Berapa banyak waktu yang
diperlukan untuk melaksanakan pelayanan BK
http://facebook.com/indonesiapustaka

dalam setiap komponen program perlu dirancang


dengan cermat. Perencanaan waktu ini didasarkan
kepada isi program dan dukungan manajemen
yang harus dilakukan oleh konselor. Berikut ini
dikemukakan tabel alokasi waktu, sekedar

106
perkiraan atau pedoman relatif dalam
pengalokasian waktu untuk konselor dalam
pelaksanaan komponen pelayanan BK di sekolah.

Perkiraan Alokasi Waktu Pelayanan


No Komponen Jenjang Pendidikan
Pelayanan SD/MI SMP/MTS SMA/SMK
1 Pelayanan 45– 55% 35 – 45% 25 – 35%
Dasar

2 Pelayanan 20– 30% 25 – 35% 15 – 25%


Responsif

3 Perancanaan 5–10% 15 – 25% 25 – 35%


Individual
4 Dukungan 10– 15% 10 – 15% 10 – 15%
Sistem

c. Inventarisasi kebutuhan yang diperoleh dari need


assesment ke dalam tabel kebutuhan yang akan
menjadi rencana kegiatan. Rencana kegiatan
dimaksud dituangkan ke dalam rancangan jadwal
kegiatan untuk satu tahun. Rancangan ini bisa
dalam bentuk matrik, program tahunan, dan
program semesteran.
d. Program BK perlu dilaksanakan dalam bentuk
kontak langsung dan tanpa kontak langsung
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan siswa. Untuk kegiatan kontak langsung


yang dilakukan secara klasikal di kelas (pelayanan
dasar) perlu dialokasikan waktu terjadwal 2 jam
pelajaran per-kelas per-minggu. Adapun kegiatan

107
bimbingan tanpa kontak langsung dengan siswa
dapat dilaksanakan melalui tulisan (seperti e-mail,
buku-buku, brosur, atau majalah dinding),
kunjungan rumah, konferensi kasus, dan alih
tangan.

E. Penyelenggara Layanan Bimbingan dan Konseling


dan Pihak yang Dilibatkan
Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014, maka sebaran
pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dalam
jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah
adalah sebagai berikut:
1. Penyelenggara Layanan Bimbingan dan Konseling
a. Satuan Pendidikan SD/MI/SDLB
1) Penyelenggara layanan bimbingan dan
konseling di SD/MI/SDLB adalah konselor
atau guru bimbingan dan konseling.
2) Pada satu SD/MI/SDLB atau gugus/sejumlah
SD/MI/SDLB dapat diangkat konselor atau
guru bimbingan dan konseling untuk
menyelenggarakan layanan bimbingan dan
konseling.
3) Konselor atau guru bimbingan dan konseling
http://facebook.com/indonesiapustaka

dapat bekerja sama dengan guru kelas dalam


membantu tercapainya perkembangan
siswa/konseli dalam bidang layanan pribadi,

108
sosial, belajar, dan karir secara utuh dan
optimal.
b. Satuan Pendidikan SMP/MTs/SMPLB
1) Penyelenggara layanan bimbingan dan
konseling di SMP/MTs/SMPLB adalah
konselor atau guru bimbingan dan konseling.
2) Setiap satuan pendidikan di SMP/MTs/
SMPLB diangkat sejumlah konselor atau guru
bimbingan dan konseling dengan rasio 1 : (150
- 160) (satu konselor atau guru bimbingan dan
konseling melayani 150-160 orang
siswa/konseli).
3) Setiap SMP/MTs/SMPLB diangkat
koordinator bimbingan dan konseling yang
berlatar belakang Sarjana Pendidikan (S-1)
dalam bidang bimbingan dan konseling dan
telah lulus pendidikan profesi guru
bimbingan dan konseling/konselor.
c. Satuan Pendidikan SMA/MA/SMALB, SMK/
MAK
1) Penyelenggara layanan bimbingan dan
konseling di SMA/MA/SMALB, SMK/MAK
adalah konselor atau guru bimbingan dan
konseling.
http://facebook.com/indonesiapustaka

2) Setiap satuan pendidikan SMA/MA/


SMALB/SMK/MAK diangkat sejumlah
konseloratau guru bimbingan dan konseling
dengan rasio 1 : (150 sampai 160) (satu

109
konselor atau guru bimbingan dan konseling
melayani 150 sampai 160 orang
siswa/konseli).
3) Setiap satuan pendidikan SMA/MA/
SMALB/SMK/MAK, diangkat koordinator
bimbingan dan konseling yang berlatar
belakang minimal Sarjana Pendidikan (S-1)
dalam bidang bimbingan dan konseling dan
telah lulus pendidikan profesi guru
bimbingan dan konseling/konselor; atau
minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam
bidang bimbingan dan konseling.

2. Pihak Lain yang Dilibatkan


a. Dalam melaksanakan tugas layanan bimbingan
dan konseling konselor atau guru bimbingan dan
konseling dapat bekerjasama dengan berbagai
pihak di dalam satuan pendidikan (kepala sekolah,
wakil kepala sekolah, wali kelas, guru
matapelajaran, staf administrasi sekolah) dan di
luar satuan pendidikan (pengawas pendidikan,
komite sekolah, orang tua, organisasi profesi
bimbingan dan konseling, dan profesi lain yang
relevan).
http://facebook.com/indonesiapustaka

b. Keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung


pelaksanaan layanan bimbingan konseling dapat
dilakukan dalam bentuk kerjasama seperti: mitra
layanan, sumber data/informasi, konsultan, dan

110
narasumber melalui strategi layanan kolaborasi,
konsultasi, kunjungan, ataupun referal.

MEKANISME DAN KERANGKA KERJA LAYANAN BK


PERKEMBANGAN YANG KOMPREHENSIF

Buku Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan


Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Formal (2008)

111
IV. Rangkuman
A. Syarat agar pengelolaan program BK berorientasi
perkembangan adalah pengelolaan program dengan
cara komprehensif. Bimbingan dan konseling
komprehensif pada dasamya tidak hanya berkaitan
dengan perilaku menyimpang dan bagaimana
mencegah perilaku tersebut, melainkan juga berurusan
dengan pengembangan perilaku efektif.
B. Komponen dari BK komprehensif antara lain layanan
dasar, layanan responsif, dan dukungan sistem.
C. Sehubungan dengan sifat program BK
komprehensif, ada tiga hal yang secara mendasar
perlu diperhatikan dalam penyusunan program
bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu: (1) ruang
lingkup yang menyeluruh; (2) dirancang lebih
berorientasi pencegahan; dan (3) tujuannya
pengembangan potensi siswa.

V. Latihan dan Tugas


A. Lakukan observasi dan wawancara ke sekolah di
tingkat menengah (SMP/SMA/SMK/sederajat)
tentang program BK yang dikembangkan di sekolah
tersebut!
B. Buatlah analisis dan kesimpulan apakah sekolah
http://facebook.com/indonesiapustaka

tersebut sudah melaksanakan program BK dengan


pendekatan perkembangan (melaksanakan kurikulum
BK komprehensif)!

112
VI. Referensi
Achmad J. Nurihsan. 2011. Bimbingan dan Konseling dalam
Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pendidikan
Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan
Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.
Erford, Brandley T. 2007. Transforming the School Counseling
Profesion. New Jersey: Pearson Education Ltd.
Fajar Santoadi. 2010. Manajemen Bimbingan dan Konseling
Komprehensif. Yogyakarta: Penerbit Universitas
Sanata Dharma.
Fatur Rahman. 2008. Penyusunan Program BK di Sekolah;
(Bahan Diklat Profesi Guru Rayon 11 DIY dan
Jateng). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Gysbers, N. C. & Henderson, P. 2006. Developing &
Managing Your School Guidance and Counseling
Program. Alexandria: American Counseling
Association.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111
Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Uman Suherman. 2011. Manajemen Bimbingan dan Konseling.
Bandung: Rizqi Press.
http://facebook.com/indonesiapustaka

113
BAB IV
STRATEGI LAYANAN DARI KOMPONEN
PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
PERKEMBANGAN

I. Kompetensi Dasar
Mampu mengaplikasikan strategi layanan dari
komponen program bimbingan dan konseling
perkembangan.

II. Indikator
A. Mampu memahami dan membedakan berbagai
strategi layanan dari komponen program BK
perkembangan.
B. Mampu menganalisis berbagai strategi layanan dari
komponen program BK perkembangan.

III. Uraian Materi


A. Pelayanan Dasar
1. Layanan Orientasi
a. Hakikat Layanan Orientasi
Menurut Prayitno (2012) orientasi berarti
http://facebook.com/indonesiapustaka

tatapan ke depan ke arah dan tentang sesuatu


yang baru. Berdasarkan arti ini, layanan orientasi
bisa bermakna suatu layanan terhadap siswa di
sekolah yang berkenaan dengan tatapan ke depan
ke arah dan tentang sesuatu yang baru. Situasi

114
atau lingkungan yang baru bagi individu
merupakan sesuatu yang "asing". Dalam kondisi
keterasingan, individu akan mengalami kesulitan
untuk bersosialisasi. Dengan perkataan lain
individu akan sulit melakukan hal-hal yang sesuai
dengan tuntutan lingkungan. Ketidakmampuan
bersosialisasi juga bisa menimbulkan perilaku
maladaptif (perilaku menyimpang) bagi individu.
Layanan orientasi berusaha menjembatani
kesenjangan antara individu dengan suasana
ataupun objek-objek baru. Layanan ini juga akan
mengantarkan individu (siswa) memasuki suasana
ataupun objek baru agar ia dapat mengambil
manfaat berkenaan dengan situasi atau objek yang
baru tersebut.
b. Tujuan Layanan Orientasi
Layanan orientasi bertujuan untuk membantu
individu agar mampu menyesuaikan diri terhadap
lingkungan atau situasi yang baru. Dengan
perkataan lain agar individu dapat memperoleh
manfaat sebesar-besamya dari berbagai sumber
yang ada pada suasana atau lingkungan baru
tersebut. Layanan ini juga akan mengantarkan
individu untuk memasuki suasana atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

lingkungan baru.
Tohirin (2013) menjabarkan secara lebih
khusus, tujuan layanan orientasi berkenaan
dengan fungsi-fungsi tertentu pelayanan
bimbingan dan konseling. Dilihat dari fungsi

115
pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk
membantu individu agar memiliki pemahaman
tentang berbagai hal yang penting dari suasana
yang baru saja dijumpainya. Hal-hal yang baru
dijumpai, diolah oleh individu, dan digunakan
untuk sesuatu yang menguntungkan. Dilihat dari
fungsi pencegahan, layanan orientasi bertujuan
untuk membantu individu agar tertiindar dari hal-
hal negatif yang dapat timbul apabila individu
tidak memahami situasi atau lingkungannya yang
baru. Dilihat dari fungsi pengembangan, apabila
individu mampu menyesuaikan diri secara baik
dan mampu memanfaatkan secara konstruktif
sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru,
maka individu akan dapat mengembangkan dan
memelihara potensi dirinya. Pemahaman tentang
situasi yang baru dan kemampuan konstruktif
memasuki suasana baru, merupakan jalan bagi
pengentasan dan dalam membela hak-hak pribadi
sendiri (fungsi advokasi).
c. Peserta Layanan Orientasi
Peserta layanan orientasi adalah individu
(siswa) yang memerlukan akses terhadap suasana,
lingkungan dan atau objek-objek baru. Individu
http://facebook.com/indonesiapustaka

(siswa) yang sedang dan akan berada pada


suasana baru dimungkinkan akan mengalami
masalah, baik dialami sekarang maupun dalam
konteks tertentu di masa mendatang. Masalah-

116
masalah inilah yang diantisipasi dan ditangani
melalui layanan orientasi.
d. Materi Layanan Orientasi
Materi layanan orientasi adalah berbagai hal
berkenaan dengan suasana, lingkungan, dan
objek-objek yang baru bagi individu. Hal-hal
tersebut melingkupi:
1) Bidang pengembangan pribadi.
2) Bidang pengembangan hubungan sosial.
3) Bidang pengembangan kegiatan belajar.
4) Bidang pengembangan persiapan karir.
5) Bidang pengembangan kehidupan
berkeluarga.
6) Bidang pengembangan kehidupan beragama.
7) Bidang kehidupan berkewarganegaraan.
Materi-materi tersebut masih merupakan tema
utama/bersifat luas sehingga bisa dijabarkan
menjadi sub-tema secara lebih terperinci sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan siswa.
e. Seting dan Teknik Layanan Orientasi
Layanan orientasi bisa dilaksanakan melalui
berbagai seting, antara lain sebagai berikut:
1) Seting lapangan. Seting ini ditempuh apabila
siswa melakukan kegiatan ke luar kelas atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

ruangan dalam rangka mengakses objek-objek


tertentu yang menjadi isi layanan.
2) Seting klasikal. Dengan seting ini, kegiatan
layanan orientasi dilaksanakan di dalam kelas

117
atau ruangan yang representatif. Peserta
layanan dalam seting ini biasanya berjumlah
lebih dari 15 siswa, bahkan seringkali seluruh
siswa di dalam suatu kelas.
3) Seting kelompok. Peserta layanan dalam
seting ini terbatas, biasanya 5 sampai 11 siswa.
Melalui seting ini lebih memungkinkan
dilakukannya akses yang lebih intensif
terhadap objek layanan. Selain itu, layanan ini
juga dapat memanfaatkan dinamika kelompok
sehingga hasil layanan dapat lebih efektif.
4) Seting individual. Berbeda dengan seting
kelompok, seting ini merupakan seting khusus
yang diberikan terhadap individu-individu
tertentu. Isi layanan juga bersifat khusus
disesuaikan dengan kebutuhan individu yang
bersangkutan.
Penentuan seting layanan disesuaikan dengan
tingkat kebutuhan siswa dan jenis materi yang
akan diberikan. Seting layanan orientasi bisa
berdiri sendiri atau kombinasi dari beberapa
seting. Misalnya kebutuhan siswa yang tidak
terakomodasi melalui seting klasikal bisa
ditindaklanjuti melalui layanan dalam seting
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelompok.
Berdasarkan seting layanan di atas, layanan
orientasi bisa dilaksanakan dengan berbagai
teknik, antara lain (Tohirin, 2013):

118
1) Penyajian, yaitu melalui ceramah, tanya
jawab, dan diskusi.
2) Pengamatan yaitu melihat langsung objek-
objek yang terkait dengan isi layanan.
3) Partisipasi, yaitu dengan melibatkan diri
secara langsung dalam suasana dan kegiatan,
mencoba, dan mengalami sendiri.
4) Studi dokumentasi, yaitu dengan membaca
dan mempelajari berbagai dokumen yang
terkait.
5) Kontemplasi, yaitu dengan memikirkan dan
merenungkan secara mendalam tentang
berbagai hal yang menjadi isi layanan.
f. Pelaksanaan Layanan Orientasi
Proses atau tahap pelaksanaan layanan
orientasi cukup kompleks, antara lain sebagai
berikut:
1) Perencanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menetapkan objek orientasi yang akan
dijadikan isi layanan.
b) Menetapkan peserta layanan.
c) Menetapkan jenis kegiatan, termasuk
format kegiatan.
d) Menyiapkan fasilitas termasuk penyaji,
http://facebook.com/indonesiapustaka

nara sumber, dan media.


e) Menyiapkan kelengkapan administrasi.

119
Semua unsur perencanaan tersebut dikemas
ke dalam satuan layanan (satlan) atau rencana
pemberian layanan (RPL).
2) Pelaksanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Mengorganisasikan kegiatan layanan.
b) Mengimplementasikan pendekatan
tertentu termasuk implementasi seting
layanan dan penggunaan media.
3) Penilaian. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menyusun alat penilaian.
b) Menilai pemahaman siswa terhadap isi
dari materi layanan. Pemahaman ini
ditunjukan melalui wawasan, aspirasi,
perasaan, sikap, dan tindakan yang akan
dilakukan pasca layanan.
c) Mengolah dan menganalisis hasil
penilaian.
4) Tindak lanjut dan laporan. Hal-hal yang
dilakukan adalah:
a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
b) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut
kepada berbagai pihak yang terkait.
c) Melaksanakan rencana tindak lanjut.
d) Menyusun laporan hasil layanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kemudian menyampaikannya kepada


pihak yang terkait.
e) Mendokumentasikan laporan.

120
2. Layanan Informasi
a. Hakikat Layanan Informasi
Layanan informasi merupakan suatu layanan
yang berupaya memenuhi kekurangan individu
akan informasi yang mereka perlukan. Layanan
informasi juga bermakna usaha-usaha untuk
membekali siswa dengan pengetahuan serta
pemahaman tentang lingkungan hidupnya dan
tentang proses perkembangan anak muda.
Dalam menjalani kehidupan dan
perkembangan dirinya, individu memerlukan
berbagai informasi baik untuk keperluan
kehidupannya sehari-hari, sekarang, maupun
untuk perencanaan kehidupannya ke depan.
Individu bisa mengalami masalah dalam
kehidupannya sehari-hari maupun dalam
memenuhi kebutuhannya di masa depan, akibat
tidak menguasai dan tidak mampu mengakses
informasi. Melalui layanan bimbingan dan
konseling individu dibantu memperoleh atau
mengakses informasi.
b. Tujuan Layanan Informasi
Menurut Tohirin (2013) layanan informasi
bertujuan agar siswa mengetahui dan menguasai
http://facebook.com/indonesiapustaka

informasi yang selanjutnya dimanfaatkan untuk


keperluan hidupnya sehari-hari dan
perkembangan dirinya. Selain itu, apabila merujuk
kepada fungsi pemahaman, layanan informasi
bertujuan agar siswa memahami berbagai

121
informasi dengan segala seluk beluknya.
Penguasaan akan berbagai informasi dapat
digunakan untuk mencegah timbulnya masalah,
pemecahan suatu masalah, untuk memelihara dan
mengembangkan potensi individu serta
memungkinkan siswa (peserta layanan) yang
bersangkutan membuka diri dalam
mengaktualisasikan hak-haknya.
Layanan informasi juga bertujuan untuk
pengembangan kemandirian. Pemahaman dan
penguasaan individu terhadap informasi yang
diperlukannya akan memungkinkan individu: (1)
mampu memahami dan menerima diri dan
lingkungannya secara objektif, positif, dan
dinamis; (2) mengambil keputusan; (3)
mengarahkan diri untuk kegiatan-kegiatan yang
berguna sesuai dengan keputusan yang diambil;
dan (4) mengaktualisasikan secara terintegrasi.
c. Peserta Layanan Informasi
Pada dasamya individu (siswa) bebas untuk
mengikuti layanan informasi sepanjang isi layanan
bersifat terbuka dan tidak menyangkut pribadi-
pribadi tertentu. Kriteria individu (siswa) menjadi
peserta layanan informasi pertama-tama
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyangkut pentingnya isi layanan bagi calon


peserta yang bersangkutan. Apabila individu
(siswa) tidak memerlukan informasi yang menjadi
isi layanan, ia tidak perlu menjadi peserta layanan.

122
d. Materi Layanan Informasi
Jenis-jenis informasi yang menjadi isi layanan
bersifat variatif. Demikian juga keluasan dan
kedalamannya. Hal itu tergantung kepada
kebutuhan siswa yang menjadi peserta layanan.
Informasi yang menjadi isi layanan harus
mencakup seluruh bidang pelayanan bimbingan
dan konseling.
Menurut Prayitno (2012) informasi yang
menjadi isi layanan bimbingan dan konseling di
sekolah adalah:
1) Informasi tentang perkembangan diri.
2) Informasi tentang hubungan antar pribadi,
sosial, nilai-nilai, dan moral.
3) Informasi tentang pendidikan, kegiatan
belajar, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) Informasi tentang dunia karir dan ekonomi.
5) Informasi tentang sosial budaya, politik, dan
kewarganegaraan.
6) Informasi tentang kehidupan berkeluarga.
7) Informasi tentang agama dan kehidupan
beragama beserta seluk-beluknya.
e. Seting dan Teknik Layanan Informasi
Layanan informasi dapat diselenggarakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

secara langsung dan terbuka oleh guru bimbingan


dan konseling kepada seluruh siswa di sekolah.
Seting yang biasa digunakan dalam pelaksanaan
layanan informasi adalah seting klasikal dan
kelompok. Seting mana yang akan digunakan

123
tentu tergantung jenis informasi dan karakteristik
siswa yang menjadi peserta layanan. Menurut
Tohirin (2013) beberapa teknik yang biasa
digunakan untuk layanan informasi adalah:
1) Ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Teknik ini
paling umum digunakan dalam pelaksanaan
layanan informasi. Melalui teknik ini siswa
menerima penjelasan yang disampaikan oleh
guru bimbingan dan konseling, selanjutnya
diikuti dengan tanya jawab dan diskusi multi
arah.
2) Penguunaan media. Penyampaian informasi
bisa dilakukan melalui media tertentu seperti
alat peraga, media tertulis, media gambar,
poster, dan media elektronik seperti radio, tape
recorder, dan lain-lain. Ini berarti bahwa
penyampaian informasi bisa melalui media
nonelektronik dan elektronik.
3) Pemanfaatan acara khusus. Layanan informasi
melalui cara ini dilakukan berkenaan dengan
acara khusus di sekolah, misalnya dalam
rangka perayaan kemerdekaan untuk
memberikan informasi tentang sikap
nasionalisme di kalangan remaja.
http://facebook.com/indonesiapustaka

4) Mendatangkan nara sumber. Layanan


informasi juga bisa diberikan kepada peserta
layanan dengan mengundang nara sumber.
Misalnya informasi tentang kesehatan

124
reproduksi remaja bisa mengundang nara
sumber dari Dinas Kesehatan, dan atau
lembaga lain yang terkait.
f. Pelaksanaan Layanan Informasi
1) Perencanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Identifikasi kebutuhan akan informasi
bagi calon peserta layanan.
b) Menetapkan materi informasi sebagai isi
layanan.
c) Menetapkan subjek sasaran layanan.
d) Menetapkan nara sumber.
e) Menyiapkan prosedur, perangkat, dan
media layanan.
f) Menyiapkan kelengkapan administrasi.
Semua unsur perencanaan tersebut dikemas
ke dalam satuan layanan (satlan) atau rencana
pemberian layanan (RPL).
2) Pelaksanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Mengorganisasikan kegiatan layanan.
b) Mengaktifkan peserta layanan.
c) Mengoptimalkan penggunaan metode
dan media.
3) Penilaian. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menyusun alat penilaian.
http://facebook.com/indonesiapustaka

b) Menilai pemahaman siswa terhadap isi


dari materi layanan. Pemahaman ini
ditunjukan melalui wawasan, aspirasi,

125
perasaan, sikap, dan tindakan yang akan
dilakukan pasca layanan.
c) Mengolah dan menganalisis hasil
penilaian.
4) Tindak lanjut dan laporan. Hal-hal yang dilakukan
adalah:
a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
b) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut
kepada berbagai pihak yang terkait.
c) Melaksanakan rencana tindak lanjut.
d) Menyusun laporan hasil layanan kemudian
menyampaikannya kepada pihak yang terkait.
e) Mendokumentasikan laporan.

3. Layanan Penguasaan Konten


a. Hakikat Layanan Penguasaan Konten
Menurut Prayitno (2012) layanan penguasaan
konten merupakan suatu layanan bantuan kepada
individu (siswa) baik sendiri maupun dalam
kelompok untuk menguasai kemampuan atau
kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.
Kemampuan atau kompetensi yang dipelajari
merupakan satu unit konten yang di dalamnya
terkandung fakta dan data, konsep, proses, hukum
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan aturan, nilai, persepsi, afeksi, sikap, dan


tindakan. Dengan penguasaan konten, individu
(siswa) diharapkan mampu memenuhi
kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah
yang dialaminya. Oleh sebab itu, layanan konten

126
juga bermakna suatu bantuan kepada individu
(siswa) agar menguasai aspek-aspek konten
tersebut di atas secara terintegrasi.
Dalam perkembangan dan kehidupannya,
setiap siswa perlu menguasai berbagai
kemampuan atau kompetensi. Dengan
kemampuan atau kompetensi itulah siswa hidup
dan berkembang. Umumnya kemampuan atau
kompetensi tertentu harus dipelajari. Dengan
perkataan lain kepemilikan kemampuan atau
kompetensi tertentu oleh siswa harus melalui
proses belajar. Dalam rangka ini, sekolah harus
bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa.
b. Tujuan Layanan Penguasaan Konten
Di dalam penjelasan tentang hakikat layanan
penguasaan konten, secara implisit telah
ditegaskan tujuan layanan konten yaitu agar siswa
menguasai aspek-aspek konten (kemampuan atau
kompetensi) tertentu secara terintegrasi. Dengan
penguasaan konten (kemampuan atau
kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk
menambah wawasan dan pemahaman,
mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai
cara-cara tertentu, dalam rangka memenuhi
http://facebook.com/indonesiapustaka

kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya.


Tujuan layanan konten secara lebih khusus
dapat dijabarkan sesuai fungsi-fungsi bimbingan
dan konseling sebagai berikut:

127
1) Fungsi pemahaman. Layanan penguasaan
konten bertujuan agar siswa memahami
berbagai konten tertentu yang mencakup
fakta-fakta, konsep, proses, hukum dan
aturan, nilai-nilai, persepsi, afeksi, sikap, dan
tindakan.
2) Fungsi pencegahan. Layanan konten
bertujuan untuk membantu siswa agar
tercegah dari masalah-masalah tertentu,
terlebih apabila kontennya terarah kepada
terhindamya individu dari suatu masalah.
3) Fungsi pengentasan. Layanan penguasaan
konten bertujuan untuk mengentaskan atau
mengatasi masalah yang sedang dialami oleh
siswa.
4) Fungsi pengembangan dan pemeliharaan.
Tujuan layanan penguasaan konten adalah
untuk mengembangkan potensi diri siswa
sekaligus memelihara potensi-potensi yang
telah berkembang pada diri siswa.
5) Fungsi advokasi. Penguasaan konten yang
tepat dan terarah memungkinkan individu
membela diri sendiri terhadap ancaman
ataupun pelanggaran terhadap hak-haknya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

c. Peserta Layanan Penguasaan Konten


Peserta layanan penguasaan konten adalah
seorang atau sejumlah siswa yang memerlukan
penguasaan atas konten yang menjadi materi
layanan yang diberikan oleh guru bimbingan dan

128
konseling demi pemenuhan tuntutan tugas
perkembangannya.
d. Isi Layanan Penguasaan Konten
Konten yang merupakan isi layanan ini dapat
merupakan satu unit materi yang menjadi pokok
bahasan atau materi latihan yang dikembangkan
oleh guru bimbingan dan konseling kemudian
diikuti oleh sejumlah siswa. Isi layanan
penguasaan konten dapat mencakup:
1) Pengembangan kehidupan pribadi.
2) Pengembangan kemampuan hubungan sosial.
3) Pengembangan kegiatan belajar.
4) Pengembangan dan perencanaan karir.
5) Pengembangan kehidupan berkeluarga.
6) Pengembangan kehidupan bermasyarakat.
7) Pengembangan kehidupan beragama.
Berkenaan dengan semua bidang pelayanan di
atas dapat diambil dan dikembangkan berbagai
hal yang kemudian dikemas menjadi topik atau
pokok bahasan, bahan latihan, dan atau kegiatan
lain. Konten dalam layanan penguasaan konten itu
sangat bervariasi, baik dalam bentuk, materi,
maupun acuhannya.
e. Seting dan Teknik Layanan Penguasaan Konten
http://facebook.com/indonesiapustaka

Layanan penguasaan konten umumnya


diselenggarakan secara langsung (bersifat direktif)
dan tatap muka melalui format klasikal,
kelompok, atau individual. Guru bimbingan dan

129
konseling secara aktif menyajikan bahan, memberi
contoh, memotivasi, mendorong, dan
menggerakkan siswa untuk berpartisipasi secara
aktif mengikuti materi dan kegiatan layanan.
Tohirin (2013) menegaskan jika ada dua nilai
proses dalam layanan penguasaan konten, yakni:
1) Pertama, melakukan sentuhan-sentuhan
tingkat tinggi (high touch) yang menyangkut
aspek-aspek kepribadian dan kemanusiaan
siswa terutama aspek-aspek afektif, semangat,
nilai-nilai, dan moral. Untuk itu, guru
bimbingan dan konseling harus bisa
mewujudkan: kewibawaannya yang
didasarkan pada kualitas kepribadian dan
keilmuan, kasih sayang dan kelembutan,
keteladanan, pemberian penguatan, dan
tindakan tegas yang mendidik (bukan
hukuman).
2) Kedua, pemanfaatan teknologi tinggi (high
tech) guna menjamin kualitas penguasaan
konten. Kualitas penguasaan konten hanya
bisa diwujudkan melalui penyajian materi
pembelajaran (konten) yang berkualitas,
penggunaan atau penerapan metode
http://facebook.com/indonesiapustaka

pembelajaran yang tepat, penggunaan alat


bantu yang berkualitas, penciptaan
lingkungan pembelajaran yang kondusif, dan
penilaian basil pembelajaran yang tepat.

130
Dalam memberikan layanan penguasaan
konten, guru bimbingan dan konseling harus
menguasai konten dengan berbagai aspeknya yang
menjadi isi layanan. Penguasaan konten oleh guru
bimbingan dan konseling akan memengaruhi
kewibawaannya di hadapan peserta layanan
(siswa). Guru bimbingan dan konseling perlu
memiliki daya improvisasi yang baik dalam
membangun konten yang dinamis dan kaya
makna.
Setelah konten dikuasai, guru bimbingan dan
konseling dapat mengimplementasikannya dalam
kegiatan layanan penguasaan konten melalui
teknik-teknik sebagai berikut:
1) Penyajian materi pokok konten setelah siswa
disiapkan sebagaimana mestinya.
2) Tanya jawab dan diskusi. Guru bimbingan
dan konseling harus bisa mendorong siswa
untuk berpartisipasi secara aktif guna
meningkatkan wawasan dan pemahamannya
berkenaan dengan konten tertentu yang
menjadi isi layanan.
3) Melakukan kegiatan lanjutan, misalnya
melalui diskusi kelompok, penugasan, dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

latihan terbatas, survei lapangan atau studi


kepustakaan, percobaan (termasuk kegiatan
laboratorium, bengkel, dan studio), latihan

131
tindakan (dalam rangka pengubahan tingkah
laku).
f. Pelaksanaan Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten terfokus pada
dikuasainya konten tertentu oleh siswa yang
memperoleh layanan. Oleh karena itu layanan
penguasaan konten perlu direncanakan,
dilaksanakan, serta dievaluasi secara tertib dan
akurat.
1) Perencanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menetapkan subjek (siswa) yang akan
diberi layanan.
b) Menetapkan dan menyiapkan konten
yang akan dipelajari secara rinci.
c) Menetapkan proses dan langkah-langkah
layanan.
d) Menetapkan dan menyiapkan fasilitas
layanan, termasuk media dengan
perangkat keras dan lunaknya.
e) Menyiapkan kelengkapan administrasi.
Semua unsur perencanaan tersebut dikemas
ke dalam satuan layanan (satlan) atau rencana
pemberian layanan (RPL).
2) Pelaksanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
http://facebook.com/indonesiapustaka

a) Melaksanakan kegiatan layanan melalui


pengorganisasian proses penguasaan
konten.

132
b) Mengimplementasikan high touch dan high
tech dalam proses pemberian layanan.
3) Penilaian. Hal-hal yang dilakukan adalah:
Menurut Prayitno (2012) secara umum
penilaian terhadap layanan penguasaan
konten diorientasikan kepada diperolehnya
kelima dimensi belajar (tahu, bisa, mau, biasa,
dan ikhlas) terkait dengan konten yang
dipelajari.
Dalam implementasinya penilaian
terhadap layanan penguasaan konten dapat
dilakukan melalui tiga cara yaitu: (a) penilaian
segera yang dilakukan menjelang diakhirinya
setiap kegiatan layanan; (b) penilaian jangka
pendek; yang dilaksanakan beberapa waktu
setelah kegiatan layanan berakhir; (c) evaluasi
atau penilaian jangka panjang yang
dilaksanakan setelah semua program layanan
selesai dilaksanakan. Waktunya relatif,
tergantung luas dan sempitnya program
layanan.
4) Tindak Lanjut. Hal-hal yang dilakukan
adalah:
a) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
http://facebook.com/indonesiapustaka

b) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut


kepada siswa dan pihak-pihak lain yang
terkait.
c) Melaksanakan rencana tindak lanjut.

133
5) Laporan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menyusun laporan pelaksanaan layanan
penguasaan konten.
b) Menyampaikan laporan kepada pihak-
pihak terkait (khususnya kepala sekolah)
sebagai penanggung jawab utama
layanan bimbingan dan konseling di
sekolah.
c) Mendokumentasikan laporan layanan.

4. Layanan Bimbingan Kelompok


a. Hakikat Layanan Bimbingan Kelompok
Rusmana (2009) menegaskan, dalam
pelaksanaannya kegiatan bimbingan dapat
dilakukan secara individu dan kelompok. Pada
situasi tertentu dimana suatu masalah tidak dapat
ditangani secara individu, situasi kelompok dapat
dimanfaatkan untuk menyelenggarakan layanan
bimbingan bagi siswa. Dalam terminologi
bimbingan dan konseling, layanan bimbingan
yang diselenggarakan dalam setting kelompok
disebut sebagai layanan bimbingan kelompok.
Nurihsan (2005) menjelaskan layanan
bimbingan kelompok sebagai usaha yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dilakukan untuk mencegah berkembangnya


masalah atau kesulitan pada diri konseli. Isi dari
kegiatan ini terdiri atas penyampaian informasi
yang berkenaan dengan masalah pendidikan,
pekerjaan, pribadi dan masalah sosial yang

134
disajikan dalam bentuk pelajaran. Penjelasan ini
senada dengan definisi layanan bimbingan
kelompok oleh Gazda (1978 dalam Prayitno dan
Amti, 2004), layanan bimbingan kelompok di
sekolah merupakan kegiatan pemberian informasi
kepada sekelompok siswa untuk membantu
mereka menyusun rencana dan keputusan yang
tepat. Gazda juga menyebutkan layanan
bimbingan kelompok diselenggarakan untuk
memberikan informasi yang bersifat personal,
vokasional, dan sosial.
Prayitno (2012) mendefinisikan layanan
bimbingan kelompok sebagai kegiatan pemberian
informasi dalam suasana kelompok dan adanya
penyusunan rencana untuk pengambilan
keputusan yang tepat dengan adanya dinamika
kelompok sebagai wahana untuk pencapaian
tujuan kegiatan bimbingan dan konseling. Definisi
lain dikemukakan oleh Sukardi (2008) yang
menyatakan layanan bimbingan kelompok sebagai
layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah
peserta didik secara bersama-sama memperoleh
berbagai bahan dari nara sumber tertentu
(terutama dari guru bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseling/konselor) yang berguna untuk


menunjang kehidupannya sehari-hari baik
individu maupun pelajar, anggota keluarga dan

135
masyarakat serta untuk pertimbangan dalam
pengambilan keputusan.
b. Tujuan Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok merupakan
layanan yang diberikan konselor kepada
sekelompok konseli dengan berbagai tujuan yang
ingin dicapai. Winkle dan Hastuti (2010)
menyebutkan tujuan dari layanan bimbingan
kelompok adalah menunjang perkembangan
pribadi dan perkembangan sosial masing-masing
anggota kelompok serta meningkatkan mutu
kerjasama dalam kelompok guna mencapai aneka
tujuan yang bermakna bagi para partisipan.
Secara lebih rinci Prayitno (2012)
mengkategorikan tujuan layanan bimbingan
kelompok menjadi 2, yaitu tujuan umum dan
tujuan khusus.
1) Tujuan umum: Tujuan umum layanan
bimbingan kelompok adalah berkembangnya
kemampuan sosialisasi siswa, khususnya
kemampuan komunikasi anggota kelompok.
2) Tujuan khusus: membahas topik-topik
tertentu yang mengandung permasalahan
aktual yang menjadi perhatian semua anggota
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelompok. Dengan terciptanya dinamika yang


intensif, maka dari pembahasan topik-topik
itu akan dapat mendorong pengembangan
perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, sikap
yang menunjang diwujudkannya tingkah laku

136
yang lebih efektif. Selain itu, kemampuan
komunikasi verbal maupun non verbal juga
ditingkatkan.
c. Materi Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok membahas
materi atau topik-topik umum baik topik tugas
maupun topik bebas. Namun demikian, dalam
layanan bimbingan kelompok topik yang lebih
sering diberikan adalah topik tugas. Yang
dimaksud topik tugas adalah topik atau pokok
bahasan yang diberikan oleh guru bimbingan dan
konseling (pimpinan kelompok) kepada anggota
kelompok untuk dibahas. Sedangkan topik bebas
adalah suatu topik atau pokok bahasan yang
dikemukakan secara bebas oleh anggota
kelompok. Secara bergiliran anggota kelompok
mengemukakan topik secara bebas, selanjutnya
dipilih mana yang akan dibahas terlebih dahulu
dan seterusnya.
Topik-topik yang dibahas dalam layanan
bimbingan kelompok baik topik bebas maupun
topik tugas dapat mencakup bidang-bidang
pengembangan kepribadian, hubungan sosial,
pendidikan, karir, kehidupan berkeluarga,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kehidupan beragama, dan lain sebagainya. Topik


pembahasan bidang-bidang tersebut dapat
diperluas ke dalam sub-sub bidang yang relevan.

137
d. Bentuk dan Teknik Layanan Bimbingan
Kelompok
Bentuk-bentuk khusus bimbingan kelompok
menurut Romlah (2006); Tohirin (2013) antara lain
sebagai berikut:
1) Home room program, adalah suatu kegiatan
yang diadakan oleh guru bimbingan dan
konseling bersama-sama dengan siswa di
sekolah yang situasinya dibuat seperti suasana
di rumah, sehingga guru bimbingan dan
konseling dapat berperan sebagai ayah, ibu
atau kakak dari siswa. Tujuannya adalah agar
dengan situasi yang tidak formal tersebut
guru bimbingan dan konseling dapat lebih
mengenal siswa dan siswa merasa akrab, lebih
lanjut siswa akan menjadi lebih terbuka dalam
mengemukakan masalah-masalah yang
dihadapi.
2) Karyawisata, dilaksanakan dengan
mengadakan peninjauan pada objek-objek
yang menarik dan berkaitan dengan materi
tertentu. Dari peninjauan tersebut akan
didapati informasi dan pengamatan yang
lebih baik dari objek tersebut. Hal ini akan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mendorong aktivitas penyesuaian diri,


kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri
serta menggembangkan bakat dan cita-cita.
Karyawisata ini sekaligus juga berfungsi

138
sebagai kegiatan rekreasi maka apabila
dilaksanakan akan sangat menarik bagi siswa.
3) Diskusi kelompok, di dalam diskusi kelompok
siswa mendapat kesempatan untuk
memecahkan masalah bersama-sama dengan
saling memberikan saran dan pertimbangan
untuk memecahkan masalah.
4) Kegiatan kelompok, ada banyak jenis kegiatan
kelompok yang dapat dilaksanakan sebagai
salah satu teknik bimbingan, misalnya
kelompok belajar, kelompok bermain dan
sebagainya. Dengan kegiatan ini kesempatan
untuk berpartisipasi dan mengembangkan diri
menjadi lebih luas.
5) Organisasi siswa, aktivitas dalam organisasi
siswa dapat mengembangkan bakat
kepemimpinan, tanggung jawab dan harga
diri, berbagai aspek kehidupan sosial dapat
dipelajari melalui oraganisasi siswa ini.
Bentuk-bentuk organisasi siswa dapat
bermacam-macam seperti OSIS, PMR, dan
sebagainya.
6) Sosiodrama, sebagai salah satu kegiatan
bermain peran (role playing). Sesuai dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

namanya teknik ini dipergunakan untuk


memecahkan masalah-masalah sosial. Siswa
atau kelompok individu yang diberi
bimbingan, sebagian diberi peran sesuai

139
dengan jalan cerita yang disiapkan.
Sedangkan yang lain bertindak sebagai
pengamat. Selesai permainan dilaksanakan,
diadakan diskusi tentang pemeranan, jalan
cerita dan ketepatan pemecahan masalah
dalam cerita tersebut.
7) Psikodrama, sama dengan sosiodrama,
psikodrama juga merupakan kegiatan
bermain peran. Perbedaannya terletak pada
jenis masalahnya, psikodrama dimaksudkan
untuk memecahkan masalah-masalah psikis
yang dialami individu. Dengan memainkan
peran-peran tertentu diharapkan konflik-
konflik psikologis yang dialami oleh individu
dapat terpecahkan. Dengan demikian
psikodrama mempunyai fungsi pedagogis
maupun diagnostik.
Bentuk-bentuk layanan bimbingan kelompok
tersebut di atas dilaksanakan dengan
menggunakan beberapa teknik umum layanan
bimbingan kelompok yang oleh Prayitno (2012)
dijabarkan sebagai berikut:
1) Komunikasi multi arah secara efektif dinamis
dan terbuka.
http://facebook.com/indonesiapustaka

2) Pemberian rangsangan untuk menimbulkan


inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis,
dan pengembangan argumentasi.

140
3) Dorongan minimal untuk memantapkan
respons dan aktivitas anggota kelompok.
4) Penjelasan, pendalaman, dan pemberian
contoh untuk lebih memantapkan analisis,
argumentasi, dan pembahasan.
5) Pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku
baru yang dikehendaki
e. Tahapan Layanan Bimbingan Kelompok
Ada 4 tahapan yang harus dilalui dalam
penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok,
yaitu:
1) Tahap Pembentukan
a) Menerima anggota kelompok secara
terbuka dan mengucapkan terima kasih
atas kehadirannya, dilanjutkan do’a
pembuka.
b) Saling mengenalkan diri antara pemimpin
kelompok dan sesama anggota kelompok
(jika belum saling mengenal).
c) Menjelaskan tujuan pelaksanaan layanan
bimbingan kelompok.
d) Mengadakan kesepakatan waktu dengan
anggota kelompok.
e) Menciptakan permainan pembentukan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelompok (ice breaking untuk


menghangatkan suasana kelompok).
2) Tahap Peralihan
a) Mendorong dibahasnya suasana perasaan
yang dirasakan oleh anggota kelompok.

141
b) Menanyakan kesiapan anggota kelompok
secara keseluruhan. Jika anggota
kelompok sudah siap, maka bisa
dilanjutkan ke tahap kegiatan.
3) Tahap Kegiatan
a) Implementasi bentuk dan teknik layanan
bimbingan kelompok (jika ada). Sebagai
contoh: layanan bimbingan kelompok
dengan home room program.
b) Membawa anggota kelompok pada topik
bahasan. Pemimpin kelompok
menstimulasi anggota kelompok dengan
pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana
untuk mengaktifkan dinamika kelompok,
difokuskan kepada materi layanan.
c) Membahas materi layanan secara
mendalam dan tuntas. Pemimpin
kelompok terus mengaktifkan dinamika
kelompok dan mengkontrol peran
anggota kelompok sehingga masing-
masing diantara mereka memiliki
kesempatan yang sama untuk
menyampaikan pendapatnya.
4) Tahap Pengakhiran
http://facebook.com/indonesiapustaka

a) Anggota kelompok menyampaikan


kesimpulan hasil kegiatan secara lugas
dan baik agar tidak menimbulkan konflik
di dalam kelompok.

142
b) Pemimpin kelompok mengatur anggota
kelompok dalam menyampaikan
kesimpulannya, agar masing-masing
anggota kelompok memiliki kesempatan
yang sama.
c) Pemimpin kelompok memberikan
penilaian melalui pengungkapan pesan
dan kesan baik secara lisan maupun
tertulis (laiseg) dengan memfokuskan
pada kondisi UCA (understanding, comfort,
action).
d) Mengajak anggota kelompok untuk
membahas kegiatan/pertemuan lanjutan
(jika diperlukan).
e) Mengakhiri kegiatan layanan bimbingan
kelompok dengan do’a serta ucapan
salam.
Penilaian atau evaluasi dan hasil dari kegiatan
layanan bimbingan kelompok ini bertitik tolak
bukan pada kriteria benar atau salah, tapi
berorientasi pada perkembangan, yakni mengenali
kemajuan atau perkembangan positif yang terjadi
pada diri anggota kelompok. Prayitno (2012)
mengemukakan penilaian terhadap layanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bimbingan kelompok bersifat “dalam proses”, hal


ini dapat dilakukan melalui: (1) mengamati
partisipasi dan aktivitas peserta selama kegiatan
berlangsung; (2) mengungkapkan pemahaman

143
peserta atas materi yang dibahas; (3)
mengungkapkan kegunaan layanan bagi anggota
kelompok dan perolehan anggota anggota sebagai
hasil dari keikutsertaan mereka; (4)
mengungkapkan minat dan sikap anggota
kelompok tentang kemungkinan kegiatan lanjutan;
(5) mengungkapkan tentang kelancaran proses
dan suasana penyelenggaraan layanan.

5. Aplikasi Instrumentasi
a. Makna Aplikasi Instrumentasi
Aplikasi instrumentasi dapat bermakna upaya
pengungkapan melalui pengukuran yang
dilakukan dengan menggunakan alat ukur atau
instrumen tertentu. Atau kegiatan menggunakan
instrumen untuk mengungkapkan kondisi tertentu
atas diri siswa (Tohirin 2013).
Kondisi dalam diri konseli (siswa) perlu
diungkap melalui aplikasi instrumentasi dalam
rangka pelayanan bimbingan dan konseling untuk
memperoleh pemahaman tentang konseli (siswa)
secara lebih tepat. Upaya pengungkapan sebagai
aplikasi instrumentasi dapat dilakukan melalui tes
dan non-tes. Hasil aplikasi instrumen selanjutnya
http://facebook.com/indonesiapustaka

dianalisis dan ditafsirkan serta disikapi dan


digunakan untuk memberikan perlakuan secara
tepat kepada konseli dalam bentuk layanan
bimbingan dan konseling.

144
b. Tujuan Aplikasi Instrumentasi
Menurut Prayitno (2012) secara umum, tujuan
aplikasi instrumentasi adalah supaya diperolehnya
data tentang kondisi tertentu atas diri konseli
(siswa). Data yang diperoleh melalui aplikasi
instrumentasi selanjutnya digunakan sebagai
bahan pertimbangan untuk penyelenggaraan
bimbingan dan konseling. Dengan data tersebut,
penyelenggaraan layanan bimbingan dan
konseling khususnya di sekolah akan lebih efektif
dan efisien.
Secara khusus, apabila dikaitkan dengan
fungsi-fungsi bimbingan dan konseling terutama
fungsi pemahaman, data hasil aplikasi
instrumentasi bertujuan untuk memahami kondisi
konseli (siswa) seperti potensi dasamya, bakat dan
minatnya, kondisi diri dan lingkungannya,
masalah-masalah yang dialami, dan lain
sebagainya. Pemahaman yang baik tentang konseli
melalui aplikasi instrumentasi dapat dijadikan
oleli konselor sebagai bahan pertimbangan dalam
rangka memberikan bantuan kepada konseli
sesuai dengan kebutuhan dan masalah-masalah
yang dialami konseli. Lebih lanjut, tentu dapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

mencegah dan mengentaskan konseli dari


masalah-masalah yang dialaminya.
c. Komponen Aplikasi Instrumentasi
Komponen-komponen yang terkait dan
sinergi dengan aplikasi instrumentasi adalah:

145
1) Instrumen
Terkait dengan instrumen, ada dua sub
komponen yang tidak bisa dipisahkan, yaitu
materi yang akan diungkapkan melalui
instrumen dan bentuk instrumen itu sendiri.
Yang dimaksud dengan materi yang akan
diungkapkan di sini adalah hal-hal yang
menyangkut konseli yang akan diungkapkan
melalui instrumen tertentu. Sedangkan bentuk
instrumen yang dimaksud adalah alat yang
digunakan untuk mengungkapkan data
konseli (siswa) apakah tes atau non-tes seperti
angket dan lain sebagainya.
Untuk instrumen tes bisa dalam bentuk
tes psikologis seperti tes inteligensi, bakat dan
minat, dan tes hasil belajar. Tes bisa
dilaksanakan secara tertulis, lisan, secara
individual maupun kelompok. Instrumen
non-tes digunakan untuk melihat gambaran
tentang kondisi konseli (siswa) sebagaimana
adanya. Yang termasuk ke dalam instrumen
non-tes adalah angket, daftar isian, daftar
pilihan, sosiometri.
2) Responden
http://facebook.com/indonesiapustaka

Yang dimaksud responden di sini adalah


individu-individu yang mengerjakan
instrumen baik tes maupun non-tes melalui
pengadministrasian yang dilakukan oleh

146
konselor (guru bimbingan dan konseling). Di
lingkungan sekolah, respondennya adalah
siswa. Tidak semua instrumen cocok untuk
semua responden. Kadang-kadang instrumen
tertentu hanya dapat digunakan untuk
kelompok renponden tertentu saja. Oleh sebab
itu, seperti ditegaskan di atas, konselor (guru
bimbingan dan konseling) harus secara cermat
memilih instrumen mana yang akan
digunakan sesuai dengan kondisi responden.
3) Pengguna Instrumen
Yang dimaksud pengguna instrumen
adalah pihak-pihak yang dapat menggunakan
instrumen-instrumen tertentu sesuai dengan
kewenangannya. Misalnya, instrumen tes
psikologis untuk mengungkapkan kondisi
kepribadian individu (siswa) yang cukup
pelik hanya diselenggarakan dan hasil-
hasilnya hanya digunakan oleh para psikolog
yang memiliki kewenangan khusus
berdasarkan kaidah profesional. Konselor
(guru bimbingan dan konseling) bisa
menyelenggarakan tes psikologis yang lebih
sederhana seperti tes inteligensi dan tes bakat
http://facebook.com/indonesiapustaka

setelah mengikuti pelatihan khusus dan


memperoleh sertifikat kewenangan untuk
menyelenggarakan tes dimaksud.
Kewenangan menyelenggarakan administrasi

147
instrumen non-tes pada umumnya lebih
terbuka. Namun, penyelenggara harus
terlebih dahulu berlatih diri sehingga benar-
benar mampu menyelenggarakannya sesuai
dengan syarat-syarat pengukuran yang baik.
d. Teknik Aplikasi Instrumentasi
Tohirin (2013) menjelaskan beberapa teknik
dalam himpunan data, yakni sebagai berikut:
1) Penyiapan Instrumen
Kesesuaian antara jenis instrumen
tertentu dengan siswa harus benar-benar
tepat, maknanya instrumen tertentu harus
benar-benar cocok digunakan untuk
mengungkapkan apa yang ada dalam diri
siswa. Untuk itu, konselor (guru bimbingan
dan konseling) perlu melakukan hal-hal
sebagai berikut: mempelajari manual
instrumen, mengidentifikasi karakteristik
siswa, melihat kesesuaian antara instrumen
dan siswa, menyiapkan diri untuk mampu
mengadministrasikan instrumen, menyiapkan
aspek teknik dan administrasi.
2) Pengadministrasian Instrumen
Pengadministrasian instrumen harus
http://facebook.com/indonesiapustaka

sesuai dengan petunjuk yang telah


dikemukakan dalam manual instrumen.
Untuk keperluan pelayanan bimbingan dan
konseling dalam arti luas, pengadministrasian
instrumen berkenaan dengan pertanyaan apa,

148
mengapa, bagaimana, dan untuk apa
instrumen tertentu diaplikasikan kepada
siswa. Guna memberikan penjelasan atau
jawaban atas pertanyaan di atas, konselor
mengemukakan: (1) pokok isi, bentuk, tujuan,
dan kegunaan instrumen bagi responden
(siswa); (2) bagaimana bekerja dengan
instrumen tertentu, termasuk alokasi waktu
yang disediakan; (3) bagaimana mengolah
jawaban responden; (4) bagaimana hasil
pengolahan itu disampaikan kepada
responden (siswa); (5) bagaimana basil
tersebut digunakan, dan apa yang perlu atau
diharapkan dilakukan oleh responden.
3) Pengolahan dan Pemaknaan Jawaban
Responden
Pengolahan jawaban responden (siswa)
dapat dilakukan secara manual dan dapat
menggunakan peralatan elektronik seperti
program komputer. Data atau jawaban
responden yang sudah diolah baik secara
manual maupun komputer, selanjutnya
dianalisis atau dimaknai dengan
menggunakan kriteria tertentu yang telah
http://facebook.com/indonesiapustaka

ditetapkan. Terakhir data tersebut siap


digunakan dalam rangka pelayanan
bimbingan dan konseling.

149
4) Penyampaian Hasil Instrumen
Hasil instrumen harus disampaikan
secara cermat dan hati-hati. Asas kerahasiaan
harus-benar diterapkan. Hasil aplikasi
instrumen tidak boleh diumumkan secara
terbuka dan tidak boleh dijadikan konsumsi
atau pembicaraan umum, apalagi apabila di
dalamnya terdapat nama siswa. Hasil
instrumen boleh menjadi konsumsi umum
atau didiskusikan secara terbuka, misalnya
disajikan atau didiskusikan di dalam kelas,
tetapi tidak satu nama pun disebutkan dan
tidak satu data pun dikaitkan dengan pribadi
tertentu. Hasil instrumen tertentu, dapat
dijadikan sebagai pertimbangan untuk
memanggil individu (siswa) dalam rangka
pelayanan bimbingan dan konseling. Sesuai
dengan hakikat dan prinsip bimbingan dan
konseling, yang dipanggil bukan hanya para
siswa yang diindikasikan bermasalah seperti
sekor rendah; mereka yang memiliki sekor
menengah dan tinggi juga perlu mendapat
pelayanan.
5) Penggunaan Hasil Instrumen
http://facebook.com/indonesiapustaka

Hasil-hasil instrumentasi dapat


digunakan bagi perencanaan program
bimbingan, penetapan peserta layanan,

150
sebagai isi layanan, tindak lanjut, dan bagi
upaya pengembangan.

B. Pelayanan Responsif
1. Layanan Konseling Individu
a. Hakikat Layanan Konseling Individu
Layanan konseling individu bermakna
layanan konseling yang diselenggarakan oleh
seorang guru bimbingan dan konseling (konselor)
terhadap seorang konseli dalam rangka
pengentasan masalah pribadi konseli (Prayitno,
2012). Konseling individu berlangsung dalam
suasana komunikasi atau tatap muka secara
langsung antara konselor dengan konseli (siswa)
yang membahas berbagai masalah yang dialami
konseli. Pembahasan masalah dalam konseling
peorangan bersifat holistik dan mendalam serta
menyentuh hal-hal penting tentang diri konseli
(sangat mungkin menyentuh rahasia pribadi
konseli), tetapi juga bersifat spesifik menuju ke
arah pemecahan masalah.
Dalam layanan konseling individu, konselor
memberikan ruang dan suasana yang
memungkinkan konseli membuka diri
http://facebook.com/indonesiapustaka

setransparan mungkin. Melalui konseling


individu, konseli akan memahami kondisi dirinya
sendiri, lingkungannya, permasalahan yang
dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya, serta

151
kemungkinan upaya untuk mengatasi
masalahnya.
b. Tujuan Layanan Konseling Individu
Secara umum tujuan utama yang ingin dicapai
dari layanan konseling individu adalah
terselesaikannya masalah yang dialami oleh
konseli, baik masalah bidang pengembangan
pribadi, bidang pengembangan sosial, bidang
pengembangan pendidikan atau kegiatan belajar,
dan bidang pengembangan karir. Oleh karena itu
fungsi pengentasan sangat dominan dalam
layanan ini.
Secara lebih khusus, tujuan layanan konseling
individu adalah merujuk kepada fungsi-fungsi
bimbingan dan konseling.
1) Merujuk kepada fungsi pemahaman, maka
tujuan layanan konseling adalah agar konseli
memahami seluk-beluk yang dialami secara
mendalam dan komprehensif, positif, dan
dinamis.
2) Merujuk kepada fungsi pengembangan dan
pemeliharaan, tujuan layanan konseling
individu adalah untuk mengembangkan
potensi-potensi konseli dan memelihara
http://facebook.com/indonesiapustaka

unsur-unsur positif yang ada pada dirinya.


Bahkan secara tidak langsung layanan
konseling individu sering kali menjadikan
pengembangan potensi konseli sebagai fokus
sasaran layanan.

152
3) Merujuk kepada fungsi pencegahan, dengan
terentaskannya masalah konseli akan
merupakan kekuatan bagi tercegah
menjalamya masalah yang sekarang sedang
dialami itu, serta diharapkan tercegah pula
masalah-masalah baru yang mungkin timbul.
4) Merujuk kepada fungsi advokasi, apabila
masalah yang dialami konseli menyangkut
dengan pelanggaran hak-hak konseli sehingga
konseli mengalami perlakuan yang tidak baik
dan atau tidak adil.
c. Peserta Layanan Konseling Individu
Layanan konseling individu diberikan kepada
siswa yang sedang mengalami masalah, sehingga
ia membutuhkan pihak lain (dalam hal ini
konselor) untuk mendapatkan suasana pikiran dan
perasaan yang lebih ringan, memperoleh nilai
tambah, merasa hidup lebih berarti, dan hal-hal
positif lainnya. Apapun latar belakang dan kondisi
konseli yang datang menemui konselor, semuanya
itu perlu mendapatkan perhatian dan penanganan
secara optimal.
d. Isi Layanan Konseling Individu
Berbeda dengan layanan bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseling yang lain, isi layanan konseling individu


tidak ditentukan oleh konselor (guru bimbingan
dan konseling) sebelum proses konseling
dilaksanakan. Persoalan atau masalah
sesungguhnya baru dapat diketahui setelah

153
dilakukan identifikasi melalui proses konseling.
Setelah dilakukan identifikasi baru ditetapkan
masalah mana yang akan dibicarakan dan
dicarikan altematif pemecahannya melalui proses
konseling dengan berpegang pada prinsip skala
prioritas pemecahan masalah. Masalah yang akan
dibicarakan (yang menjadi isi layanan konseling
individu) sebaiknya ditentukan oleh konseli
(siswa) sendiri dengan mendapat pertimbangan
dari konselor.
e. Teknik Layanan Konseling Individu
Dalam layanan konseling individu pada
umumnya digunakan pendekatan eklektik (Willis,
2010). Pendekatan konseling individu
mensinergikan un unsur pendekatan direktif-non
direktif, kognitif-emosional-afektif, melalui
penerapan berbagai teknik dalam spektrum yang
luas sesuai dengan permasalahan yang dialami
oleh konseli (Prayitno, 2012). Melalui perpaduan
teknik tersebut, konselor (guru bimbingan dan
konseling) dapat mewujudkan konseling yang
efektif sehingga dapat pula mengembangkan dan
membina konseli (siswa) agar memiliki
kompetensi yang berguna bagi mengatasi
http://facebook.com/indonesiapustaka

masalah-masalah yang dialaminya.


Konselor perlu menguasai kerterampilan
dasar konseling dalam melaksanakan layanan
konseling individu agar masalah konseli bisa
terentaskan secara optimal. Ada beberapa jenis

154
keterampilan yang lazim digunakan dalam proses
konseling. Merangkum beberapa pendapat ahli
seperti Corey (2012), Willis (2010), Lubis (2011),
Lesmana (2011) basic counseling skill meliputi:
Attending a. Memberikan perhatian pada
komunikasi verbal dan non
verbal konseli melalui kontak
mata, postur, bahasa tubuh, dan
mendengarkan.
b. Mendorong konseli untuk
berbicara.
c. Menerima konseli apa adanya.
Bertanya a. Bertanya secara efektif dengan
konseli untuk memulai
percakapan, memperdalam
penekanan-poin penting,
mengecek persepsi, dan
memperjelas informasi.
b. Menggali lebih dalam untuk isu
atau jawaban yang diberikan
subyek.
Klarifikasi Mengajak konseli untuk memperjelas
informasi yang masih samar-samar
Mengarahkan Mengarahkan konseli ke arah atau
instruksi tertentu.
Refleksi a. Merefleksikan ide-ide penting.
b. erefleksikan perasaan sebagai
penegas atau respon konseli.
Empati Merasakan seperti apa yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dirasakan konseli dari perspektifnya


(biasanya digunakan melalui refleksi,
paraprase, dan kesimpulan).
Parafrase a. Menyatakan arti yang diucapkan
dan dirasakan konseli dengan
kata-kata lain.

155
b. Menafsirkan apa yang
diucapkan, dirasakan, direspon,
atau dilakukan konseli.
Mendengarkan Untuk mendengarkan respon verbal
konseli termasuk ceritanya tentang
peristiwa, isu-isu dan masalah
Pemfokusan a. Membantu konseli untuk
menfokuskan pada isu atau
masalah konseli, hubungan antar
pemyataan, perasaan, dan
kemungkinan penyelesaian.
b. Tidak memperhatikan perilaku
dan respon yang lain dari konseli
yang tidak relevan atau
berhubungan dengan proses
konseling (pengabaian).
Konfrontasi a. Memperlihatkan konseli untuk
menghadapi dari
ketidakberfungsian dan pola
perilaku dan gaya hidup yang
tidak produktif dari sesi
konseling (memberikan umpan
balik).
b. Memperlihatkan kepada konseli
dengan menanyakan
ketidakkonsistenan
jawaban dari konseli tentang
perasaan dan perilakunya.
Reframing Menawarkan pada konseli altematif
persepsi atau konsep dari masalah
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseli.
Memberi Memberikan konseli umpan balik
feedback yang spesifik dalam hal sikap,
perilaku, perasaan, dan isu-isu yang
relevan
Interprestasi Memberikan interpretasi tentang

156
peristiwa kehidupannya, sehingga ia
dapat memfokuskan masalah-
masalahnya dalam cara yang lebih
baru dan lebih mendalam.
Memberikan Memberikan dukungan emosi dan
dukungan dan psikologis kepada konseli dengan
pengukuhan menggunakan keterampilan
attending, kontak fisik,
mendengarkan, menenangkan, dan
memberikan sugesti.
Membuka diri Memberikan informasi yang
berkaitan dengan perasaan, pikiran,
pengalaman konselor saat ini selama
sesi konseling atau aspek
pengalaman kehidupan konselor
sendiri yang penting.
Memberikan Mendorong konseli untuk
dorongan pada melanjutkan untuk menyampaikan
konseli informasi tertentu atau respon-
respon lain.
Pemecahan Mengajarkan konseli proses
Masalah pemecahan masalah yang efektif
dengan menggunakan beragam
keterampilan kecil seperti
memberikan nasehat, mengarahkan,
menjelaskan, memberikan informasi,
dan memberikan sugesti.
Meringkas/ Menarik tema-tema yang bersamaan
merangkum dari wilayah yang berbeda; isi,
perasaan, pemikiran, proses dan lain-
http://facebook.com/indonesiapustaka

lain.
Menutup Menyimpulkan dan mengakhiri sesi
konseling.

157
f. Pelaksanaan Layanan Konseling Individu
Sebagai layanan yang unik dan khas,
pelaksanaan konseling individu juga melewati
beberapa tahapan secara runtut. Menurut
Gladding (2004) langkah-langkah proses konseling
adalah sebagai berikut:

Gladding (2004) menekankan bahwa struktur


sangat penting. Sebelum memulai konseling,
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseli harus tahu betul apa yang akan


dihadapinya secara mendetail, karena hal itu akan
memberikan rasa aman kepada konseli.
Diperlukan adanya masukan dari luar

158
(alloanamnesis), selain mendapat keterangan dari
konseli sendiri (autoanamnesis).
Guna melihat tingkat efektivitas layanan
konseling individu, maka diperlukan proses
penilaian.
1) Penilaian segera, dilaksanakan pada setiap
akhir sesi layanan.
2) Penilaian jangka pendek, dilakukan setelah
konseli berada pada masa pasca layanan (1
minggu sampai 1 bulan).
3) Penilaian jangka panjang, dilakukan setelah
beberapa bulan.
Menurut Prayitno (2012) fokus penilaian
konseling individu diarahkan kepada
diperolehnya pemahaman konseli berkenaan
dengan: Acuan (A) yang perlu digunakan konseli
untuk mengatasi masalahnya. Kompetensi (K)
yang perlu dikuasai konseli untuk pengentasan
masalahnya, arah Usaha (U) konseli yang perlu
diwujudkan, kondisi perasaan (R) pada diri
konseli, dan kesungguhan (S) konseli dalam upaya
pengentasan masalah pribadinya itu.

2. Layanan Konseling Kelompok


http://facebook.com/indonesiapustaka

a. Hakikat Layanan Konseling Kelompok


Menjelaskan makna konseling kelompok tidak
dapat lepas dari makna konseling itu sendiri. Dari
berbagai definisi yang diberikan oleh para ahli

159
mengenai makna konseling, terdapat banyak
variasi yang jika diteliti mereka berbeda dalam
memberikan definisi karena perbedaan dalam
penekanan (Wibowo, 2005).
Gazda (1984) dan Shertzer & Stone (1980)
mendefinisikan konseling kelompok sebagai suatu
proses antar pribadi yang dinamis yang terpusat
pada pemikiran dan perilaku yang disadari. Proses
itu mengandung ciri terapeutik seperti
pengungkapan pikiran dan perasaan secara
leluasa, orientasi pada kenyataan, pembukaan diri
mengenai perasaan, saling percaya, saling
perhatian, saling pengertian dan saling
mendukung.
Natawidjaja (2009) mengemukakan bahwa
konseling kelompok merupakan upaya bantuan
kepada individu dalam suasana kelompok yang
bersifat pencegahan dan penyembuhan dan
diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam
rangka perkembanga dan pertumbuhannya.
Konseling kelompok adalah proses konseling
yang dilakukan dalam situasi kelompok, dimana
konselor berinteraksi dengan konseli dalam
bentuk kelompok yang dinamis untuk
http://facebook.com/indonesiapustaka

memfasilitasi perkembangan individu dan atau


membantu individu dalam mengatasi maslaah
yang dihadapinya secara bersama-sama. Melalui
konseling kelompok, individu akan mampu

160
meningkatkan kemampuan mengembangkan
pribadi, mengatasi masalah-masalah pribadi,
terampil dalam mengambil altematif dalam
memecahkan masalah, serta memberi kemudahan
dalam pertumbuhan dan perkembangan individu
untuk melakukan tindakan yang selaras dengan
kemampunannya.
Dengan memperhatikan definisi konseling
kelompok sebagaimana telah dijelaskan di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa konseling
kelompok memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi
kuratif yang berarti jika layanan yang diberikan
diarahkan untuk mengentaskan masalah yang
dialami konseli, serta fungsi preventif yang berarti
jika layanan yang diberikan diarahkan untuk
mencegah terjadinya persoalan (baru) pada diri
konseli.
Masalah yang dibahas dalam konseling
kelompok, menurut Corey lebih berpusat pada
masalah pendidikan, pekerjaan, sosial dan pribadi.
Sedangkan Gazda menyebutkan konseling
kelompok dapat digunakan untuk membantu
individu dalam menyelesaikan tugas-tugas
perkembangan dalam tujuh bidang, yaitu
http://facebook.com/indonesiapustaka

psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual,


moral dan afektif (Wibowo, 2005).
Di dalam layanan konseling kelompok,
dinamika kelompok harus dapat dikembangkan

161
secara baik, sehingga mendukung pencapaian
tujuan layanan secara efektif. Sebagaimana halnya
bimbingan kelompok, konseling kelompok pun
harus dipimpin oleh seorang guru bimbingan dan
konseling (konselor) yang terlatih dan berwenang
menyelenggarakan praktik konseling profesional.
b. Tujuan Layanan Konseling Kelompok
Secara umum tujuan layanan konseling
kelompok adalah berkembangnya kemampuan
sosialisasi siswa, khususnya kemampuan
berkomunikasinya. Melalui layanan konseling
kelompok, hal-hal dapat menghambat atau
mengganggu sosialisasi dan komunikasi siswa
diungkap dan didinamikakan melalui berbagai
teknik, sehingga kemampuan sosialisasi dan
berkomunikasi siswa berkembang secara optimal.
Melalui layanan konseling kelompok juga dapat
dientaskan masalah konseli (siswa) dengan
memanfaatkan dinamika kelompok (Prayitno,
2012).
Lebih lanjut Prayitno (2012) menandaskan jika
secara khusus, oleh karena fokus layanan
konseling kelompok adalah masalah pribadi
individu peserta layanan, maka layanan konseling
http://facebook.com/indonesiapustaka

kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan


masalah tersebut, para peserta memperoleh dua
tujuan sekaligus yaitu:
1) Pertama, terkembangnya perasaan, pikiran,
persepsi, wawasan, dan sikap terarah kepada

162
tingkah laku khususnya dan bersosialisasi dan
berkomunikasi.
2) Kedua, terpecahnya masalah individu yang
bersangkutan dan diperolehnya imbasan
pemecahan masalah tersebut bagi individu-
individu lain yang menjadi peserta layanan.
c. Materi Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok membahas
masalah-masalah pribadi yang dialami oleh
masing-masing anggota kelompok. Secara
bergiliran anggota kelompok mengemukakan
masalah pribadinya secara bebas, selanjutnya
dipilih mana yang akan dibahas dan dientaskan
terlebih dahulu dan seterusnya.
d. Pendekatan dan Teknik dalam Konseling
Kelompok
Dunia konseling memiliki berbagai macam
pendekatan yang dapat dijadikan acuan dasar
pada semua praktik konseling. Masing-masing
teori tentu saja dikemukakan oleh ahli yang
berbeda sehingga penerapan dari pendekatan
yang digunakan juga akan terlihat berbeda.
Memahami berbagai pendekatan yang ada dalam
konseling adalah kewajiban bagai tenaga
http://facebook.com/indonesiapustaka

profesional yang mengatasnamakan dirinya


konselor. Karena tidak dapat disangkal lagi bahwa
teori konseling merupakan landasan dasar
terbentuknya konseling yang efektif.

163
Menurut Lesmana (2011) fungsi sebuah teori
dalam pengembangan layanan konseling adalah
sebagai berikut:
1) Teori menjelaskan apa yang terjadi dalam
proses konseling.
2) Konselor terbantu dalam membuat prediksi,
evaluasi, dan menilai hasil konseling.
3) Teori berguna sebagai kerangka kerja dalam
membuat observasi ilmiah tentang konseling.
4) Melalui teori tercipta koherensi ide tentang
konseling dan mendorong munculnya ide-ide
baru.
5) Teori dapat memberi arti pada observasi yang
dilakukan konselor.
Tidak semua teori dapat digunakan untuk
menangani masalah konseli. Konselor harus
mempertimbangkan pula standar kelayakan yang
berlaku. Pendekatan yang selama ini masih
digunakan adalah creative-synthesis-analytic (CSA).
Ivey (Willis, 2010) mengatakan jika pendekatan
CSA sebagai bentuk eclectic approach yaitu memilih
secara selektif bagian teori yang berbeda
kemudian disesuaikan dengan masalah yang
dialami oleh konseli.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Menurut Lubis (2011) pendekatan eklektik


bersifat ilmiah, sistematik, dan logis. Melalui
pendekatan ini konselor dapat melihat kecocokan
antara teori yang digunakan dan masalah yang

164
dihadapi konseli. Karena sifatnya yang fleksibel
pendekatan eklektik tidak terikat pada salah satu
teori bahkan pendekatan ni terus berkembang dan
berubah menyesuiakan diri dengan ide, konsep,
dan hasil-hasil penelitian.
Adapun beberapa pendekatan yang dapat
membantu konselor dalam proses konseling
menurut Natawidjaja (2009); Lesmana (2011);
Willis (2010); Lubis (2011); dan Corey (2012) antara
lain sebagai berikut: pendekatan psikoanalisis,
pendekatan eksistensial humanistik, pendekatan
client centered, pendekatan gestalt, pendekatan
perilaku, pendekatan rasional emotif, pendekatan
realitas, pendekatan eklektik. Masing-masing
pendekatan tersebut memiliki teknik-teknik
tersendiri sesuai dengan dasar teori yang
dikembangkan. Sebagai contoh dalam pendekatan
psikoanalisis memiliki teknik asosiasi bebas,
analisis mimpi, analisis resistensi, analisis
transferensi, dan penafsiran.
e. Pelaksanaan Layanan Konseling Kelompok
Terdapat keragaman dalam
mengklasifikasikan dan menamai tahapan-tahapan
konseling kelompok. Corey (1985)
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengelompokkan tahapan proses konseling


kelompok menjadi empat tahap, yaitu tahap
orientasi, tahap transisi, tahap kerja dan tahap
konsolidasi. Jacobs, Harvill & Masson (1994)
mengelompokkan tahapan proses konseling

165
kelompok menjadi tiga tahap, yaitu: tahap
permulaan, tahap pertengahan atau tahap kerja,
dan tahap pengakhiran atau tahap penutupan.
Gibson & Mitchel (1995) mengklasifikasikan
proses konseling kelompok ke dalam lima tahap,
yakni tahap pembentukan, tahap identifikasi,
tahap produktifitas, tahap realisasi, dan tahap
terminasi. Sedangkan Gladding
mengklasifikasikan proses konseling kelompok
menjadi empat tahap, yaitu tahap permulaan
kelompok, tahap transisi dalam kelompok, tahap
bekerja dalam kelompok dan tahap terminasi
kelompok (Wibowo, 2005).
Meskipun para ahli berbeda dalam
mengklasifikasikan tahapan proses konseling
kelompok, penjelasan mereka tentang tahap-tahap
tersebut menunjukan adanya kesamaan, yaitu
menggambarkan kemajuan dinamika proses
kelompok yang dialami oleh kelompok konseling,
yaitu mulai dari suasana yang umumnya penuh
kekauan, kebekuan, keraguan dalam interaksi
menuju ke kerja sama dan saling berbagi
pengalaman sampai pada akhimya sama-sama
berupaya menggembangkan perilaku baru yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

lebih tepat berkenaan dengan persoalan masing-


masing (Wibowo, 2015).

166
Ada 4 tahapan yang harus dilalui dalam
penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok,
yaitu:
1) Tahap Pembentukan
a) Menerima anggota kelompok secara
terbuka dan mengucapkan terima kasih
atas kehadirannya, dilanjutkan do’a
pembuka.
b) Saling mengenalkan diri antara pemimpin
kelompok dan sesama anggota kelompok
(jika belum saling mengenal).
c) Menjelaskan tujuan pelaksanaan layanan
konseling kelompok.
d) Mengadakan kesepakatan waktu dengan
anggota kelompok.
e) Menciptakan permainan pembentukan
kelompok (ice breaking untuk
menghangatkan suasana kelompok).
2) Tahap Peralihan
a) Menjelaskan kegiatan yang akan
ditempuh pada tahap berikutnya.
b) Menawarkan atau mengamati apakah
anggota kelompok sudah siap menjalani
kegiatan pada tahap selanjutnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

c) Membahas suasana yang terjadi.


d) Meningkatkan kemampuan keikutsertaan
anggota kelompok.

167
3) Tahap Kegiatan
a) Membawa anggota kelompok pada topik
bahasan. Dalam konseling kelompok
topik yang dibahas lebih cenderung
kepada topik bebas.
b) Implementasi pendekatan dan teknik
(setelah disepakati topik apa yang akan
dibahas di dalam kelompok).
c) Pemimpin kelompok menstimulasi
anggota kelompok dengan pertanyaan
apa, mengapa, dan bagaimana untuk
mengaktifkan dinamika kelompok,
difokuskan kepada topik bahasan.
d) Membahas topik secara mendalam dan
tuntas. Pemimpin kelompok terus
mengaktifkan dinamika kelompok dan
mengkontrol peran anggota kelompok
sehingga masing-masing diantara mereka
memiliki kesempatan yang sama untuk
menyampaikan pendapatnya.
4) Tahap Pengakhiran
a) Anggota kelompok menyampaikan
kesimpulan hasil kegiatan secara lugas
dan baik agar tidak menimbulkan konflik
http://facebook.com/indonesiapustaka

di dalam kelompok.
b) Pemimpin kelompok mengatur anggota
kelompok dalam menyampaikan
kesimpulannya, agar masing-masing

168
anggota kelompok memiliki kesempatan
yang sama.
c) Pemimpin kelompok memberikan
penilaian melalui pengungkapan pesan
dan kesan baik secara lisan maupun
tertulis (laiseg) dengan memfokuskan
pada kondisi UCA (understanding, comfort,
action).
d) Mengajak anggota kelompok untuk
membahas kegiatan/pertemuan lanjutan
(jika diperlukan).
e) Mengakhiri kegiatan layanan bimbingan
kelompok dengan do’a serta ucapan
salam.
Penilaian atau evaluasi dan hasil dari kegiatan
layanan konseling kelompok hampir sama dengan
penilaian atau evaluasi dan hasil dari kegiatan
layanan bimbingan kelompok (lihat pembahasan
penilaian dan evaluasi layanan bimbingan
kelompok). Adapun yang membedakan penilaian
diantara kedua layanan tersebut menurut Prayitno
(2012) dan Rusmana (2009) bahwa dalam layanan
bimbingan kelompok keterlibatan, pemahaman isi,
dan dampak terhadap anggota kelompok.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sedangkan dalam layanan konseling kelompok


keterlibatan, kedalaman, dan dampak terhadap
ketuntasan pemecahan masalah konseli.

169
3. Referal (Alih Tangan atau Rujukan)
a. Makna Alih Tangan
Pada dasamya konselor atau guru bimbingan
dan konseling adalah manusia biasa yang selain
memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan.
Tidak semua masalah siswa bisa diselesaikan oleh
konselor atau guru bimbingan dan konseling.
Demikian juga tidak semua kasus atau masalah
siswa berada dalam kewenangan konselor atau
guru bimbingan dan konseling untuk
pemecahannya baik secara keilmuan maupun
profesi. Adakalanya kasus-kasus tertentu berada
dalam kewenangan keilmuan psikologi, dan
penanganannya merupakan kewenangan psikolog
atau psikiater.
Untuk kasus-kasus tertentu yang
penanganannya merupakan kewenangan psikolog
atau psikiater, konselor atau guru bimbingan dan
konseling tidak boleh memaksakan diri untuk
memecahkannya. Konselor atau guru bimbingan
dan konseling harus menyerahkan atau
mengalihkan tanggung jawab pemecahannya
(merujuknya) kepada psikolog atau psikiater.
Prinsip seperti inilah yang disebut dengan alih
http://facebook.com/indonesiapustaka

tangan kasus (layanan referal). Dengan demikian,


alih tangan kasus dapat dimaknai dengan upaya
mengalihkan atau memindahkan tanggung jawab
memecahkan masalah atau kasus-kasus tertentu
yang dialami siswa kepada orang lain (petugas

170
bimbingan lain) yang lebih mengetahui dan
berwenang. Alih tangan kasus sering juga disebut
layanan rujukan (Tohirin, 2013).
b. Tujuan Alih Tangan
Secara umum alih tangan kasus atau layanan
rujukan bertujuan untuk memperoleh pelayanan
yang optimal dan pemecahan masalah klien secara
lebih tuntas. Sedangkan secara lebih khusus, alih
tangan khusus, tujuan alih tangan kasus terkait
dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling.
Apabila merujuk kepada fungsi pengentasan, alih
tangan kasus bertujuan untuk memperoleh
pelayanan yang lebih spesifik dan menuntaskan
masalah siswa. Apabila merujuk kepada fungsi
pencegahan, tujuan alih tangan kasus adalah
tercegahnya siswa dari masalah-masalah lain yang
lebih parah. Apabila tujuan-tujuan sesuai fungsi di
atas tercapai, maka pencapaian tujuan berdasarkan
fungsi-fungsi lain akan mengiringinya (Prayitno,
2013).
c. Komponen Alih Tangan
Menurut Winkel dan Hastuti (2010); Tohirin
(2013); Prayitno (2013) ada tiga komponen pokok
dalam alih tangan kasus, yakni:
http://facebook.com/indonesiapustaka

1) Konseli (Siswa) dan Masalahnya


Dalam rangka alih tangan kasus, harus
dikenali masalah-masalah apa yang
merupakan kewenangan konselor (guru
bimbingan dan konseling) untuk

171
memecahkannya dan masalah-masalah apa
saja yang bukan kewenangan konselor (guru
bimbingan dan konseling) untuk
memecahkannya. Beberapa masalah yang
bukan kewenangan konselor (guru bimbingan
dan konseling) untuk memecahkannya
adalah: (a) penyakit baik fisik maupun
kejiwaan yang merupakan kewenangan
dokter dan psikiater; (b) kriminilitas dalam
sebagai bentuk yang merupakan kewenangan
polisi; (c) psikotropika yang di dalamnya
dapat terkait dengan masalah kriminalitas dan
psikotropika merupakan kewenangan
psikiater, dokter, serta polisi; (d) guna-guna
dalam segala bentuknya dan merupakan
kondisi yang berada di luar akal sehat
sehingga merupakan kewenangan
paranormal, dan tokoh-tokoh keagamaan
lainnya; (e) keabnormalan akut, yaitu kondisi
fisik dan mental yang bersifat luar biasa
(dalam arah bawah normal) yang biasanya
juga merupakan kewenangan psikiater.
2) Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling
Konselor sangat dituntut untuk mampu
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengenali secara langsung keadaan ke-


abnormalan siswa dan substansi masalah
siswa. Konselor bekerja dengan orang-orang
yang sehat, oleh sebab itu hanya siswa-siswa

172
yang normal saja yang ditangani konselor.
Mereka yang tidak normal baik secara fisik,
mental, dan ke-abnormalan akut harus
dialihtangankan kepada ahlinya (petugas lain
yang lebih berwenang). Sebelum melakukan
alih tangan kasus, konselor harus mengetahui
dan mengidentifikasi ahli-ahli lain yang
terkait, misalnya nama, keahlian atau
spesifikasi alamat, dan lain-lain yang terkait
dengan ahli tersebut.
3) Ahli Lain
Konselor (guru bimbingan dan konseling)
bekerja juga atas prinsip kerja sama baik
dengan sesama kolega (sesama konselor lain
dan juga ahli-ahli lain yang terkait). Dengan
prinsip kerja tersebut, pemecahan masalah
konseli dapat dilakukan secara tuntas. Untuk
itu, konselor harus mengenali ahli-ahli lain
seperti: (a) dokter (ahli yang menangani
masalah-masalah penyakit jasmaniah); (b)
psikiater (ahli yang menangani masalah-
masalah psikis); (c) psikolog (ahli yang
mendiskripsikan masalah-masalah psikis); (d)
guru (ahli dalam mata pelajaran tertentu atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

bidang keilmuan tertentu); (e) ahli bidang


tertentu (yaitu mereka yang menguasai
bidang-bidang tertentu seperti adat, agama,
budaya tertentu, dan hukuman, serta ahli

173
pengembangan pribadi tertentu yang
memerlukan kekhususan). Ahli-ahli yang
terakhir ini bisa mencakup: tokoh adat, ulama,
kyai, hakim, jaksa, pengacara, polisi,
paranormal, dan lain sebagainya).

4. Layanan Konsultasi
a. Hakikat Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan layanan
konseling yang dilaksanakan oleh konselor (guru
bimbingan dan konseling) terhadap seorang siswa
(konseli) yang memungkinkannya memperoleh
wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu
dilaksanakannya dalam menangani kondisi atau
permasalahan pihak ketiga. Prayitno (2012)
menyatakan bahwa konsultasi pada dasamya
dilaksanakan secara perorangan dalam format
tatap muka antara konselor (sebagai konsultan)
dengan konseli. Konsultasi juga dapat
dilaksanakan terhadap dua orang konseli atau
lebih, terutama apabila konseli-konseli itu
menghendakinya.
Dalam layanan konsultasi, ada tiga pihak
yang tidak bisa dipisahkan, yaitu konselor,
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseli, dan pihak ketiga. Konselor merupakan


tenaga ahli konseling (tenaga profesional) yang
memiliki kewenangan melakukan pelayanan
konseling sesuai dengan bidang tugasnya. Konseli
adalah individu yang meminta bantuan kepada

174
konselor agar dirinya mampu menangani kondisi
atau masalah yang dialami pihak ketiga yang
setidak-tidaknya sebagian menjadi tanggung
jawabnya. Sedangkan pihak ketiga adalah
individu-individu yang kondisi atau
permasalahannya dipersoalkan oleh konseli.
b. Tujuan Layanan Konsultasi
Menurut Prayitno (2012) secara umum
layanan konsultasi bertujuan agar konseli dengan
kemampuannya sendiri dapat menangani kondisi
atau permasalahan yang dialami oleh pihak ketiga.
Pihak ketiga adalah orang yang mempunyai
hubungan baik dengan konseli, sehingga
permasalahan yang dialami oleh pihak ketiga
setidak-tidaknya sebagian menjadi tanggung
jawab konseli. Secara lebih khusus, tujuan layanan
konsultasi adalah agar konseli memiliki
kemampuan diri yang berupa: wawasan,
pemahaman, dan cara-cara bertindak yang terkait
langsung dengan suasana atau permasalahan
pihak ketiga. Dengan kemampuan dini yang
dimiliki konsuleli, ia akan melakukan sesuatu
(menerapkan hasil-hasil konsultasi dengan
konsultan) terhadap pihak ketiga. Proses
http://facebook.com/indonesiapustaka

konsultasi yang dilakukan oleh konseli terhadap


konselor dan proses pemberian bantuan oleh
konseli kepada pihak ketiga, bertujuan untuk
mengentaskan masalah yang dialami oleh pihak
ketiga.

175
c. Peserta Layanan Konsultasi
Di lingkungan sekolah yang bisa menjadi
konseli adalah kepala sekolah, guru-guru, dan
orang tua siswa. Apabila yang menjadi konseli
adalah kepala sekolah, maka pihak ketiganya bisa
guru dan siswa. Apabila yang menjadi konseli
adalah guru, maka pihak ketiganya adalah siswa.
Sedangkan apabila yang menjadi konseli adalah
orang tua, maka pihak ketiganya adalah anak
(terutama yang berstatus sebagai siswa di sekolah
atau madrasah yang bersangkutan).
d. Materi Layanan Konsultasi
Isi layanan konsultasi dapat mencakup
berbagai bidang pengembangan. Layanan
konsultasi dapat menyangkut pengembangan
bidang pribadi, hubungan sosial, pendidikan,
karir, kehidupan berkeluarga, dan kehidupan
beragama. Dengan perkataan lain, isi layanan
konsultasi dapat menyangkut berbagai bidang
kehidupan yang luas yang dialami oleh individu-
individu (pihak ketiga). Terhadap siswa di
sekolah, masalah-masalah yang dikonsultasikan
hendaknya lebih diprioritaskan pada hal-hal yang
berkaitan dengan status siswa sebagai pelajar.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dalam proses layanan konsultasi biasanya


tidak langsung mengarah pada permasalahan
yang dialami oleh pihak ketiga, seringkali materi
layanan justru tertuju kepada diri konseli yang
nantinya akan menyelesaikan masalah dari pihak

176
ketiga. Materi yang diberikan oleh konselor
kepada konseli antara lain:
1) Wawasan: konseli perlu memiliki wawasan
secara umum tentang pihak ketiga.
2) Pengetahuan: konseli perlu memiliki perlu
memiliki pengetahuan yang cukup memadai
tentang hal-hal yang spesifik berkenaan
dengan kaitan antara diri pihak ketiga,
lingkungan, dan permasalahannya.
3) Keterampilan: untuk menangani
permasalahan pihak ketiga, konseli
memerlukan sejumlah keterampilan yang
disesuaikan dengan permasalahan pihak
ketiga.
4) Nilai: nilai-nilai yang perlu dikembangkan
oleh konseli adalah kemanusiaan serta sosial
dan moral.
5) Sikap: konseli perlu memiliki sikap dinamis
dan positif terhadap permasalahan yang
dialami pihak ketiga.
e. Seting dan Teknik Layanan Konsultasi
Pada dasamya seting dan teknik layanan
konsultasi adalah sama dengan layanan konseling
individu (dilakukan hanya antara konselor dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseli secara langsung dan face to face). Perbedaan


pokok antara kedua layanan tersebut adalah
bahwa pada layanan konseling individu
penanganan masalah langsung dilakukan oleh
konselor, sedangkan pada layanan konsultasi

177
penanganan maslaah pihak ketiga dilakukan oleh
konseli setelah berkonsultasi dengan konselor.
f. Pelaksanaan Layanan Konsultasi
Pelaksanaan layanan konsultasi menempuh
beberapa tahap kegiatan, antara lain sebagai
berikut:
1) Perencanaan yang meliputi kegiatan:
a) Mengidentifikasi konseli.
b) Mengatur pertemuan, menetapkan
fasilitas layanan, dan menyiapkan
kelengkapan administrasi.
2) Pelaksanaan yang mencakup kegiatan:
a) Menerima konsulti.
b) Menyelenggarakan penstrukturan
konsultasi.
c) Membahas masalah pihak ketiga yang
dibawa oleh konseli.
d) Mendorong dan melatih konsuleli untuk:
mampu menangani masalah yang dialami
oleh pihak ketiga, memanfaatkan sumber-
sumber yang ada berkenaan dengan
pembahasan masalah pihak ketiga,
membina komitmen konsulti untuk
menangani masalah pihak ketiga dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bahasa dan cara-cara konseling,


melalukan penilaian segera.
3) Ketiga, evaluasi. Penilaian atau evaluasi
layanan konsultasi mencakup tiga aspek atau
tiga ranah, yaitu:

178
a) Penilaian segera berkenaan dengan:
pemahaman (understanding) yang
diperoleh konseli, perasaan (comfort) yang
berkembang pada diri konseli, dan
kegiatan (action) apa yang akan konseli
laksanakan setelah proses konsultasi
berakhir.
b) Penilaian jangka pendek berkenaan
dengan bagaimana konseli melaksanakan
hasil konsultasinya.
c) Penilaian jangka panjang sasaran
utamanya adalah perubahan yang terjadi
pada pihak ketiga, khususnya berkenaan
dengan permasalahan yang sejak awalnya
dibawa oleh konseli dalam berkonsultasi
dengan konselor.
4) Tindak lanjut. Pada tahap ini kegiatan yang
dilakukan adalah melakukan konsultasi
lanjutan antara konseli dengan konselor guna
membicarakan hasil evaluasi serta
menentukan arah dan kegiatan lebih lanjut.
5) Laporan. Memuat keseluruhan aspek kegiatan
layanan konselor terhadap konseli dan
kegiatan pelayanan konseli kepada pihak
http://facebook.com/indonesiapustaka

ketiga.

179
5. Konseling Teman Sebaya
a. Hakikat Konseling Teman Sebaya
Pada dasarnya konseling teman sebaya
merupakan suatu cara bagi para siswa (remaja)
belajar bagaimana memperhatikan dan membantu
anak-anak lain, serta menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Tindall dan Gray (1985)
mendefinisikan konseling teman sebaya sebagai
suatu ragam tingkah laku membantu secara
interpersonal yang dilakukan oleh individu non-
profesional yang berusaha membantu orang lain.
Konseling teman sebaya mencakup hubungan
membantu yang dilakukan secara individual (one-
to-one helping relationship), kepemimpinan
kelompok, kepemimpinan diskusi, pemberian
pertimbangan, tutorial, dan semua aktivitas
interpersonal manusia untuk membantu atau
menolong.
Definisi lain menekankan konseling teman
sebaya sebagai suatu metode, seperti
dikemukakan Kan (1996) “Peer counseling is the use
problem solving skills and active listening, to support
people who are our peers”. Meskipun demikian, Kan
mengakui bahwa keberadaan konseling teman
http://facebook.com/indonesiapustaka

sebaya merupakan kombinasi dari dua aspek yaitu


teknik dan pendekatan. Berbeda dengan Tindall
dan Gray, Kan membedakan antara konseling
teman sebaya dengan dukungan teman sebaya
(peer support). Kan menambahkan bahwa peer

180
support lebih bersifat umum (bantuan informal;
saran umum dan nasihat diberikan oleh dan untuk
teman sebaya); sementara peer counseling
merupakan suatu metode yang terstruktur.
Menurut Depdiknas (2007) bimbingan teman
sebaya adalah bimbingan yang dilakukan oleh
siswa terhadap siswa yang lainnya, dimana siswa
yang menjadi pembimbing sebelumnya diberikan
latihan atau pembinaan oleh konselor.
Sebagaimana yang diungkapkan Taryadi (2004)
bahwa pendidik sebaya (peer educator) merupakan
sekelompok siswa yang berasal dari berbagai
kelas, yang telah diberi bekal pengetahuan dan
keterampilan yang berkaitan dengan
permasalahan-permasalahan remaja pada
umumnya, dan mengemban tugas membantu
guru BK sebagai pendidik bagi teman-teman di
sekelilingnya.
Konseling teman sebaya merupakan suatu
bentuk pendidikan psikologis yang disengaja dan
sistematik. Konseling teman sebaya
memungkinkan siswa untuk memiliki
keterampilan-keterampilan guna mengimplemen-
tasikan pengalaman kemandirian dan kemampuan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mengontrol diri yang sangat bermakna bagi


remaja. Secara khusus konseling teman sebaya
tidak memfokuskan pada evaluasi isi, namun lebih
memfokuskan pada proses berpikir, proses-proses

181
perasaan dan proses pengambilan keputusan.
Dengan cara yang demikian, konseling teman
sebaya memberikan kontribusi pada dimilikinya
pengalaman yang kuat yang dibutuhkan oleh para
remaja yaitu respect.
Terdapat delapan area dasar yang memiliki
sumbangan penting terhadap perlunya
dikembangkan konseling teman sebaya (Carr,
1981) yakni sebagai berikut:
1) Hanya sebagian kecil siswa yang
memanfaatkan dan bersedia berkonsultasi
langsung dengan konselor. Para siswa lebih
sering menjadikan teman-teman mereka
sebagai sumber yang diharapkan dapat
membantu pemecahan masalah yang mereka
hadapi, mempertimbangkan pengambilan
keputusan pribadi, perencanaan karir, dan
bagaimana melanjutkan pendidikan formal
mereka.
2) Berbagai keterampilan yang terkait dengan
pemberian bantuan yang efektif dapat
dipelajari oleh orang awam sekalipun,
termasuk oleh para profesional (Carkhuff,
1969), dapat dikuasai oleh para siswa SMP
http://facebook.com/indonesiapustaka

(Carr, Mc Dowell and Mc Kee, 1981), para


siswa SMA (Carr and Saunders, 1979), bahkan
oleh para siswa Sekolah Dasar (Bowman and
Myrick, 1981). Pelatihan konseling teman

182
sebaya itu sendiri juga dapat merupakan
suatu bentuk treatment bagi para konselor
sebaya dalam membantu perkembangan
psikologis mereka.
3) Berbagai penelitian secara konsisten
menunjukkan bahwa di kalangan remaja,
kesepian atau kebutuhan akan teman
merupakan salah satu di antara lima hal yang
paling menjadi perhatian remaja. Hubungan
pertemanan bagi remaja sering kali menjadi
sumber terbesar bagi terpenuhinya rasa
senang, dan juga dapat menjadi sumber
frustrasi yang paling mendalam. Kenyataan
ini menunjukkan bahwa teman
memungkinkan untuk saling membantu
dengan cara yang unik dan tidak dapat
diduga oleh para orang tua dan para
pendidik.
4) Dasar keempat penggunaan siswa untuk
membantu siswa lainnya muncul dari
penekanan pada usaha preventif dalam
gerakan kesehatan mental dan penerapan
konseling preventif di setting sekolah.
5) Siswa perlu memiliki kompetensi (menjadi
http://facebook.com/indonesiapustaka

kuat), perlu kecerdasan (bukan akademik,


tetapi memahami suasana), pengambilan
peran tanggung jawab (menjadi terhormat)
dan harga diri (menjadi bermakna dan dapat

183
dipahami). Para siswa memahami bagaimana
kuatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Sebagian orang tua kurang memahami
keadaan ini, sehingga remaja sering kali
mencari sesama remaja yang memiliki
perasaan sama, mencari teman yang mau
mendengarkan, dan bukan untuk
memecahkan atau tidak memecahkan
masalahnya, tetapi mencari orang yang mau
menerima dan memahami dirinya.
6) Secara umum, penelitian-penelitian yang
dilakukan tentang pengaruh tutor sebaya
(Allen, 1976; Gartner, Kohler and Reissman,
1971) menunjukkan bahwa penggunaan
teman sebaya (tutor sebaya) dapat
memperbaiki prestasi dan harga diri siswa-
siswa lainnya. Beberapa siswa lebih senang
belajar dari teman sebayanya.
7) Peningkatan kemampuan untuk dapat
membantu diri sendiri (self help) atau
kelompok yang saling membantu juga
merupakan dasar bagi perlunya konseling
teman sebaya. Pada dasarnya, kelompok ini
dibentuk oleh sesama teman (sebaya) yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

saling membutuhkan dan sering tidak


terjangkau atau tidak mau menggunakan
layanan-layanan yang disediakan oleh
lembaga. Di antara teman sebaya mereka

184
berbagi dan memiliki perhatian yang sama,
serta bersama-sama memecahkan masalah,
menggunakan dukungan dan katarsis sebagai
intervensi pemecahan masalah.
8) Landasan terakhir dari konseling teman
sebaya didasarkan pada suplai dan biaya kerja
manusia. Layanan-layanan profesional dari
waktu ke waktu terus bertambah, dengan
biaya layanan yang semakin tak terjangkau
oleh sebagian remaja. Sementara itu masalah
remaja terus meningkat dan tidak semua
dapat terjangkau oleh layanan formal.
Berbagai masalahyang dialami remaja perlu
disikapi dengan membentuk layanan yang
dapat saling bantu di antara remaja itu sendiri.
Konseling teman sebaya secara kuat
menempatkan keterampilan-keterampilan
komunikasi untuk memfasilitasi eksplorasi diri
dan pembuatan keputusan. Konselor sebaya
bukanlah konselor profesional atau ahli terapi.
Konselor sebaya adalah para siswa (remaja) yang
memberikan bantuan kepada siswa lain di bawah
bimbingan konselor ahli. Dalam konseling teman
sebaya, peran dan kehadiran konselor ahli tetap
http://facebook.com/indonesiapustaka

diperlukan. Dalam penelitian ini, guru BK


bertindak sebagai pelatih konselor teman sebaya
sekaligus sebagai pengamat kegiatan konseling
teman sebaya.

185
b. Karakteristik Konselor Teman Sebaya
Konselor teman sebaya dapat membantu
siswa lain dalam meningkatkan kebermaknaan
program bimbingan di sekolah. Konselor teman
sebaya dalam membantu kelompok peserta didik
akan mengalami kesulitan jika tidak didampingi
guru BK atau guru-guru yang lain. Persayaratan
konselor sebaya adalah sebagai berikut:
1) Berpengalamn sebagai pendidik sebaya (tidak
mutlak).
2) Memiliki minat, kemauan, dan perhatian
untuk membantu klien.
3) Terbuka untuk pendapat orang lain.
4) Menghargai dan menghormati klien.
5) Peka terhadap perasaan orang dan mampu
berempati.
6) Dapat dipercaya dan mampu memegang
rahasia.
7) Pendidikan minimal setingkat SLTA (lebih
diutamakan).
Senada dengan hal tersebut, menurut Suwarjo
(2012) pemilihan calon konselor sebaya perlu
didasarkan hangat, memiliki minat di bidang
pemberian bantuan, dapat diterima orang lain,
http://facebook.com/indonesiapustaka

toleran terhadap perbedaan nilai, dan energik.


Selain itu, bersedia secara sukarela membantu
orang lain, memiliki emosi yang stabil, dan

186
memiliki prestasi belajar atau minimal rerata, serta
mampu menjaga rahasia.
Sedangkan menurut Arado (2008) dalam
menyeleksi konselor teman sebaya, mereka tidak
harus sempurna, tetapi memiliki beberapa kriteria
diantaranya mampu bersosialisasi, memiliki
disiplin yang baik, memiliki prestasi akademik
atau minimal rerata, mampu menjadi pendengar
yang baik, mampu menjaga rahasia, dan mampu
menjadi contoh atau model yang baik bagi teman-
temannya.
c. Pelaksanaan Konseling Teman Sebaya
Suwarjo (2008) menjelaskan bahwa konseling
teman sebaya dibangun melalui langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Pemilihan calon konselor teman sebaya.
Meskipun keterampilan pemberian bantuan
dapat dikuasai oleh siapa saja, faktor
kesukarelaan dan faktor kepribadian pemberi
bantuan (konselor sebaya) ternyata sangat
menentukan keberhasilan pemberian bantuan.
Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan
calon konselor teman sebaya. Pemilihan
didasarkan pada karakteristik-karakteristik
http://facebook.com/indonesiapustaka

hangat, memiliki minat untuk membantu,


dapat diterima orang lain, toleran terhadap
perbedaan sistem nilai, energik, secara
sukarela bersedia membantu orang lain,
memiliki emosi yang stabil, memiliki prestasi

187
belajar yang cukup baik atau minimal rerata,
dan mampu menjaga rahasia.
2) Pelatihan calon konselor teman sebaya.
Tujuan utama pelatihan konselor teman
sebaya adalah untuk meningkatkan jumlah
remaja yang memiliki dan mampu
menggunakan keterampilan-keterampilan
pemberian bantuan. Pelatihan ini tidak
dimaksudkan untuk menghasilkan personal
yang menggantikan fungsi dan peran
konselor. Materi-materi pelatihan yang
meliputi keterampilan konseling dikemas
dalam modul-modul yang disajikan secara
berurutan. Calon konselor teman sebaya
dibekali kemampuan untuk membangun
komunikasi interpersonal secara baik. Sikap
dan keterampilan dasar konseling yang
meliputi kemampuan berempati, kemampuan
melakukan attending, keterampilan bertanya,
keterampilan merangkum pembicaraan,
asertifitas, genuineness, konfrontasi, dan
keterampilan pemecahan masalah, merupakan
kemampuan-kemampuan yang dibekalkan
dalam pelatihan konseling teman sebaya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Penguasaan terhadap kemampuan membantu


diri sendiri dan kemampuan untuk
membangun komunikasi interpersonal secara

188
baik akan memungkinkan seorang remaja
memiliki sahabat yang cukup.
3) Pelaksanaan dan pengorganisasian konseling
teman sebaya. Dalam praktiknya, interaksi
konseling teman sebaya lebih banyak bersifat
spontan dan informal. Spontan dalam arti
interaksi tersebut dapat terjadi kapan saja dan
dimana saja, tidak perlu menunda. Meskipun
demikian prinsip-prinsip kerahasiaan tetap
ditegakkan.
Interaksi triadik terjadi antara konselor
sebaya dengan konseli sebaya, konselor
dengan konselor sebaya, dan konselor dengan
konseli.

Konselor
Ahli

Konselor Konseli
Teman Teman
Sebaya Sebaya

Hubungan Triadik Antara konselor ahli,


konselor sebaya, dan konseli (Suwarjo, 2008)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Keterangan : Interaksi antara konselor


ahli dengan konseli
melalui konselor teman
sebaya

189
Interaksi langsung antara
konselor ahli dengan
konseli atas rujukan
konselor teman sebaya
4) Evaluasi dan rencana tindak lanjut. Evaluasi
meliputi evaluasi proses dan hasil. Titik tekan
dari evaluasi proses adalah action dari
konseling teman sebaya. Hal-hal yang
sekiranya dapat menghambat perlu
diminimalisir, begitu pula sebaliknya, hal-hal
yang bisa mendukung proses konseling teman
sebaya perlu untuk dikembangkan.
Sedangkan evaluasi hasil lebih terkait dari
tujuan yang telah dicapai. Tindak lanjut perlu
dilaksanakan untuk meningkatkan
kemampuan konselor sebaya dalam
memberikan layanan konseling kepada
konseli. Bahan/materi untuk kegiatan ini
didasarkan atas tingkat kebutuhan konselor
sebaya setelah mereka melaksanakan
konseling teman sebaya.

6. Konferensi Kasus
a. Makna Konferensi Kasus
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kasus bisa bermakna kondisi yang


mengandung permasalahan tertentu. Dikatakan
kasus karena kondisi-kondisi yang mengandung
masalah tertentu, hanya terjadi pada individu atau
sekelompok individu tertentu saja dan tidak

190
terjadi pada individu atau sekelompok individu
lain. Konferensi kasus merupakan forum terbatas
yang dilakukan oleh konselor atau guru
bimbingan dan konseling guna membahas suatu
permasalahan dan arah pemecahannya.
Konferensi kasus direncanakan dan dipimpin oleh
konselor atau guru bimbingan dan konseling,
dihadiri oleh pihak-pihak tertentu yang terkait
dengan kasus dan upaya pemecahannya. Pihak-
pihak yang terkait diharapkan memiliki komitmen
yang tinggi untuk teratasinya kasus secara baik
dan tuntas.
Menurut Tohirin (2013) sesuai dengan sifatnya
yang kasus, pertemuan konferensi kasus bukan
pertemuan formal, dalam arti berdasarkan surat
keputusan tertentu. Penyelenggaraan kasus tidak
terikat pada jumlah peserta tertentu, waktu dan
jadwal pertemuan tertentu, serta keharusan
membuat surat keputusan tertentu. Konferensi
kasus merupakan pertemuan terbuka dalam arti
terbuka untuk kasus yang dibahas, terbuka dari
segi pihak-pihak yang diundang, terbuka dalam
waktu penyelenggaraan, terbuka dalam dinamika
kegiatan, dan terbuka dalam hasil-hasilnya,
http://facebook.com/indonesiapustaka

namun tetap menjunjung tinggi norma-norma dan


kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan asas-asas
pelayanan bimbingan dan konseling.

191
b. Tujuan Konferensi Kasus
Secara umum konferensi kasus bertujuan
untuk mengumpulkan data secara lebih luas dan
akurat serta menggalang komitmen pihak-pihak
yang terkait dengan kasus (masalah tertentu)
dalam rangka pemecahan masalah. Secara khusus
tujuan konferensi kasus berkenaan dengan fungsi-
fungsi tertentu layanan bimbingan dan konseling.
Berkenaan dengan fungsi pemahaman, semakin
lengkap dan akurat data tentang permasalahan
yang dibahas, maka akan semakin dipahami
secara mendalam permasalahan itu oleh konselor
dan pihak-pihak lain yang hadir dalam konferensi
kasus. Selanjutnya, pemahaman tersebut
digunakan untuk menangani permasalahan baik
dalam arah pencegahan kemunikinan-
kemungkinan terjadi hal-hal yang lebih merugikan
(fungsi pencegahan) maupun arah pengentasan
masalah yang dialami oleh konseli (siswa) fungsi
pengentasan (Tohirin, 2013).
Prayitno (2012) menjelaskan bahwa tujuan
konferensi kasus adalah untuk pengembangan dan
pemeliharaan potensi-potensi individu (siswa)
atau pihak-pihak yang terkait dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

permasalahan yang dibahas dalam konferensi


kasus (fungsi pengembangan dan pemeliharaan).
Dengan tercegah dan terentaskannya
permasalahan serta berkembang dan
terpeliharanya berbagai potensi, berarti hak-hak

192
konseli (siswa) dapat terjaga dan terpelihara
aktualitasnya (fungsi advokasi).
c. Teknik Konferensi Kasus
Implementasi konferensi kasus dapat
menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1) Kelompok nonformal. Konferensi kasus
menggunakan teknik ini bersifat tidak resmi,
artinya tidak menggunakan cara-cara tertentu
yang bersifat instruksional. Atau tidak ada
instruksi atau perintah dari siapa pun.
2) Pendekatan normatif. Penerapan teknik ini
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(a) Penyebutan nama seseorang harus disertai
penerapan asas kerahasiaan (apabila
memungkinkan penyebutan nama dihindari);
(b) pengungkapan sesuatu dan
pembahasannya harus didasarkan pada
tujuan positif yang menguntungkan semua
pihak yang terkait; (c) pembicaraan dalam
suasana bebas dan terbuka, objektif tanpa
pamrih, dan tidak didasarkan atas kriteria
kalah menang; diminta kelompok diwamai
semangat memberi dan menerima; bahasa dan
cara-cara yang digunakan diwamai oleh asas
http://facebook.com/indonesiapustaka

kenormatifan.
3) Pembicaraan terfokus. Semua peserta
konferensi kasus bebas mengembangkan apa
yang diketahui, dipikirkan, dirasakan,
dialami, dan dibayangkan akan terjadi

193
berkaitan dengan kasus yang dibicarakan,
namun jangan sampai pembicaraan meluas di
luar konteks, mengada-ada, apalagi sampai
menyentuh daerah yang menyinggung
pribadi-pribadi tertentu. Untuk itu, konselor
harus mampu: membangun suasana nyaman
bagi seluruh peserta dalam mengikuti
pembicaraan, (b) mendorong para peserta
untuk berperan optimal dalam pembahasan
kasus, (c) mengambil inti pembicaraan dan
menyimpulkan seluruh isi pembicaraan.

7. Kunjungan Rumah
a. Makna Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah bisa bermakna upaya
mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya
dengan permasalahan individu atau siswa yang
menjadi tanggung jawab guru bimbingan dan
konseling atau konselor dalam pelayanan
bimbingan dan konseling (Prayitno, 2012).
Kunjungan rumah dilakukan apabila data siswa
untuk kepentingan pelayanan bimbingan dan
konseling belum atau tidak diperoleh melalui
wawancara dan angket. Selain itu, kunjungan
http://facebook.com/indonesiapustaka

rumah juga perlu dilakukan untuk melakukan cek


silang berkenaan dengan data yang diperoleh
melalui angket dan wawancara.

194
b. Tujuan Kunjungan Rumah
Secara umum, kunjungan rumah bertujuan
untuk memperoleh data yang lebih lengkap dan
akurat tentang siswa berkenaan dengan masalah
yang dihadapinya. Selain itu, kunjungan rumah
juga bertujuan untuk menggalang komitmen
antara orang tua dan anggota keluarga lainnya
dengan pihak sekolah, khususnya berkenaan
dengan pemecahan masalah konseli. Menurut
Winkel dan Hastuti (2010) kunjungan rumah
bertujuan untuk mengenal lebih dekat lingkungan
hidup siswa sehari-hari.
Secara lebih khusus, Prayitno (2012)
menyebutkan tujuan kunjungan rumah berkenaan
dengan fungsi-fungsi bimbingan. Misalnya dalam
kaitannya dengan fungsi pemahaman, kunjungan
rumah bertujuan untuk lebih memahami kondisi
siswa, kondisi rumah dan keluarga. Dengan
memahami siswa secara lebih luas dan komitmen
orang tua serta anggota keluarga lainnya, maka
pelayanan bimbingan dan konseling akan dapat
terwujud secara efektif dan efisien. Dan pada
gilirannya dapat mengentaskan siswa dari kondisi
bermasalah kepada kondisi yang lebih baik.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kunjungan rumah dilakukan dalam rangka


mengumpulkan data atau melengkapi data siswa
yang terkait dengan keluarga. Dengan data yang
lebih lengkap dan terbinanya komitmen orang tua,
maka upaya pencegahan masalah terutama yang

195
disebabkan oleh faktor-faktor keluarga, lebih
memungkinkan untuk dapat dilaksanakan.
Dengan demikian, berkaitan dengan fungsi
pencegahan, kunjungan rumah bertujuan untuk
mencegah timbulnya atau memecahkan masalah
siswa terutama yang disebabkan oleh faktor-faktor
keluarga. Melalui kunjungan rumah, akan terbina
kerja sama yang baik antara konselor dengan
orang tua siswa, sehingga akan terwujud situasi
yang kondusif bagi pengembangan dan
pemeliharaan potensi siswa. Dengan demikian,
dalam kaitannya dengan fungsi pengembangan,
dan pemeliharaan, kunjungan rumah bertujuan
untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif
bagi pengembangan dan pemeliharaan potensi
siswa. Apabila tujuan-tujuan berkaitan dengan
fungsi-fungsi di atas tercapai, maka berkenaan
dengan fungsi advokasi, melalui kunjungan akan
lebih memungkinkan tegaknya hak-hak siswa
(Tohirin, 2013).
c. Teknik Kunjungan Rumah
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan
dalam pelaksanaan kunjungan rumah. Winkel dan
Hastuti (2010); Prayitno (2012); dan Tohirin (2013)
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyebutkan teknik-teknik dalam pelaksanaan


kunjungan rumah, antara lain:
1) Format
Kunjungan rumah dapat dilakukan
mengikut format lapangan dan politik.

196
Melalui kunjungan rumah, konselor (guru
bimbingan dan konseling) memasuki
lapangan permasalahan konseli (siswa) yang
menjangkau kehidupan keluarga konseli
(siswa). Dengan jangkauan yang lebih luas,
diharapkan penanganan masalah konseli
(siswa) dapat dilakukan secara lebih
komprehensif dan intensif. Selain itu, strategi
politik pun dapat dilakukan, yaitu
menghubungi pihak-pihak lain yang terkait
dalam keluarga. Peran positif pihak-pihak lain
yang terkait dibangkitkan untuk penuntasan
pengentasan (pemecahan masalah) konseli
(siswa) serta optimalisasi pengembangan
potensi-potensinya.
2) Materi
Dalam merencanakan kunjungan rumah,
konselor mempersiapkan berbagai informasi
umum dan data tentang konseli (siswa) yang
layak diketahui oleh orang tua dan anggota
keluarga lainnya dengan catatan: (1) tidak
melanggar asas kerahasiaan konseli (siswa);
(2) semata-mata untuk pendalaman masalah
dan penuntasan penanganannya. Selain itu,
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak merugikan konseli (siswa) dalam


kaitannya dengan kedudukan dan hubungan
kekeluargaan dalam keluarga yang
bersangkutan, hubungan sosio-emosional,

197
pemberian kesempatan dan fasilitas, serta
keterkaitan kerja.
3) Peran Konseli (Siswa)
Keikutsertaan (peran) siswa dalam
kegiatan kunjungan rumah, diwujudkan
melalui persetujuannya terhadap
penyelenggaraan kunjungan rumah. Konselor
atau guru bimbingan dan konseling perlu
mempertimbangkan secara matang apakah
siswa akan dilibatkan atau tidak dalam
pembicaraan antara konselor (guru bimbingan
dan konseling) dengan anggota keluarga yang
dikunjungi. Keterbukaan, objektivitas,
kenyamanan, suasana, kelancaran kegiatan,
serta dampak positif bagi siswa dan
keluarganya, menjadi pertimbangan dan
kriteria keterlibatan siswa.
4) Kegiatan
Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh
konselor (guru bimbingan dan konseling)
dalam melakukan kunjungan rumah adalah
melakukan pembicaraan (wawancara) dengan
anggota keluarga kunci dan anggota keluarga
lainnya sesuai dengan permasalahan siswa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Selain itu juga melakukan pengamatan


(observasi) terhadap berbagai objek dalam
keluarga (rumah) yang dikunjungi dan
lingkungan sekitamya tentunya atas izin

198
pemilik rumah. Konselor atau guru bimbingan
dan konseling tidak diperbolehkan memeriksa
berbagai dokumen yang dimiliki keluarga,
kecuali keluarga yang bersangkutan
menghendakinya. Format atau teknik layanan
kelompok dapat diselenggarakan oleh
konselor (guru bimbingan dan konseling)
dengan mengikutsertakan sejumlah anggota
keluarga dalain pembicaraan tentang masalah
siswa.
5) Undangan terhadap Keluarga
Apabila tidak memungkinkan untuk
dilakukan, kunjungan rumah dapat diganti
dengan undangan terhadap keluarga. Orang
tua dan atau anggota keluarga lainnya dapat
diundang misalnya ke sekolah atau madrasah
atau tempat-tempat lainnya sesuai dengan
permasalahan siswa. Undangan terhadap
keluarga bukan pemanggilan. Oleh karena itu,
konteksnya sebagai pelayanan bimbingan dan
konseling, maka harus dilakukan atas izin
konseli, dan dipersiapkan data dan materi
yang akan dibicarakan (sama dengan
kunjungan rumah) serta ditentukan peran
http://facebook.com/indonesiapustaka

siswa.

199
C. Perencanaan Individual
Pelayanan perencanaan individual ini dapat dilakukan
juga melalui pelayanan penempatan (penjurusan dan
penyaluran) untuk membentuk siswa menempati posisi
yang sesuai dengan bakat dan minatnya, serta pelaksanaan
himpunan data.
1. Layanan Penempatan dan Penyaluran
a. Hakikat Layanan Penempatan dan Penyaluran
Individu dalam proses perkembangannya
sering dihadapkan pada kondisi yang di satu sisi
kondusif mendukung perkembangannya dan di
sisi lain tidak kondusif mendukung
perkembangannya (mismatch). Kondisi yang tidak
kondusif tersebut berpotensi menimbulkan
masalah pada individu (siswa). Oleh sebab itu,
layanan penempatan dan penyaluran diupayakan
untuk membantu individu yang mengalami
mismatch.
Ini berarti bahwa layanan penempatan dan
penyaluran adalah upaya membantu siswa untuk
dapat terhindar dari kondisi lingkungan yang
tidak kondusif (mismatch), agar siswa bisa berada
dalam lingkungan yang lebih serasi sehingga
potensi yang dimilki dapat berkembang secara
http://facebook.com/indonesiapustaka

optimal. Secara lebih lanjut layanan penempatan


dan penyaluran merupakan usaha membantu
siswa merencanakan masa depannya selama
masih di sekolah dan sesudah menyelesaikan

200
sekolah, memilih program studi lanjutan sebagai
persiapan untuk memangku jabatan tertentu di
kemudian hari.
b. Tujuan Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran
bertujuan supaya siswa bisa menempatkan diri
dalam program studi akademik dan lingkup
kegiatan nonakademik yang menunjang
perkembangannya serta semakin merealisasikan
rencana masa depan. Dengan perkataan lain,
layanan penempatan dan penyaluran bertujuan
agar siswa memperoleh tempat yang sesuai untuk
pengembangan potensi dirinya. Tempat yang
dimaksud adalah lingkungan baik fisik maupun
psikis atau lingkungan sosio-emosional termasuk
lingkungan budaya yang secara langsung
berpengaruh terhadap kehidupan dan
perkembangan siswa (Prayitno, 2012).
Merujuk kepada fungsi-fungsi bimbingan dan
konseling, yang mencerminkan tujuan secara lebih
khusus, tujuan layanan penempatan dan
penyaluran adalah sebagai berikut:
1) Fungsi pemahaman. Tujuan layanan
penempatan dan penyaluran adalah agar
http://facebook.com/indonesiapustaka

siswa memahami potensi dan kondisi dirinya


sendiri serta kondisi lingkungannya.
2) Fungsi pencegahan. Tujuan layanan
penempatan dan penyaluran adalah untuk
mencegah semakin parahnya masalah,

201
hambatan, dan kerugian yang dialami
individu (siswa). Atau mencegah berlarut-
larutnya masalah yang dialami individu.
3) Fungsi pengentasan. Tujuan layanan
penempatan dan penyaluran adalah untuk
mengangkat individu dari kondisi yang tidak
baik kepada kondisi yang lebih baik. Fungsi
ini berkaitan dengan fungsi pencegahan di
mana layanan ini berupaya mengatasi
masalah siswa dengan menempatkannya pada
kondisi yang sesuai (kondusif) dengan
kebutuhannya. Apabila upaya ini berhasil,
maka fungsi pencegahan akan terangkatkan.
4) Fungsi pengembangan dan pemeliharaan.
Tujuan layanan penempatan dan penyaluran
adalah untuk mengembangkan potensi-
potensi individu dan memeliharanya dari hal-
hal yang dapat menghambat dan merugikan
perkembangannya.
c. Peserta Layanan Penempatan dan Penyaluran
Menurut Prayitno (2012) subjek layanan
penempatan dan penyaluran adalah siapa saja
yang memerlukan kondisi lingkungan yang lebih
sesuai dengan kebutuhan kehidupan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

perkembangannya, baik di sekolah, di rumah,


dalam organisasi, lingkungan kerja, dan lain
sebagainya. Untuk itu kondisi yang mengandung
dua sisi, yaitu sisi potensi diri siswa dan kondisi
lingkungan perlu mendapat perhatian.

202
1) Sisi potensi diri siswa, mencakup: (a) potensi
inteligensi, bakat, minat, dan kecenderungan-
kecenderungan pribadi; (b) kondisi psikofisik
seperti terlalu banyak bergerak (hiperaktif),
cepat lelah, alergi terhadap kondisi
lingkungan tertentu; (c) kemampuan
berkomunikasi dan kondisi hubungan sosial;
(d) kemampuan pancaindra; dan (e) kondisi
fisik seperti jenis kelamin, ukuran badan, dan
keadaan jasmaniah lainnya.
2) Kondisi lingkungan, mencakup: (a) kondisi
fisik, kelengkapan dan tata letak serta
susunannya; (b) kondisi udara dan cahaya; (c)
kondisi hubungan sosio-emosional; (d)
kondisi dinamis suasana kerja dan cara-cara
bertingkah laku; dan (e) kondisi statis seperti
aturan-aturan dan pembatasan-pembatasan.
d. Bentuk Layanan Penempatan dan Penyaluran
Beberapa hal yang perlu dilakukan guru
bimbingan dan konseling sebelum melaksanakan
layanan penempatan dan penyaluran adalah
sebagai berikut:
1) Mengkaji potensi dan kondisi diri subjek
layanan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

2) Mengkaji kondisi lingkungan dari lingkungan


yang paling dekat dan mengacu kepada
permasalahan subjek layanan.
3) Mengkaji kesesuaian antara potensi dan
kondisi diri siswa dengan kondisi

203
lingkungannya serta mengidentifikasi
permasalahan yang secara dinamis
berkembang pada diri siswa.
4) Mengkaji kondisi dan prospek lingkungan
lain yang mungkin ditempati.
5) Menempatkan subjek ke lingkungan baru.
Guna mengkaji potensi dan kondisi diri subjek
seperti disebutkan di atas, dapat dilakukan hal-hal
sebagai berikut:
1) Studi dokumentasi terhadap hasil-hasil
aplikasi instrumentasi dan himpunan data.
2) Studi dokumentasi terhadap kesempatan yang
ada yang dapat dipilih oleh peserta layanan.
3) Observasi terhadap kondisi jasmaniah,
kemampuan berkomunikasi, dan tingkah laku
siswa, suasana hubungan sosioemosional
siswa dengan siswa lainnya, dan kondisi fisik
lingkungan.
4) Studi terhadap aturan, baik tertulis maupun
tidak tertulis yang diberlakukan.
5) Studi kondisi lingkungan yang prospektif dan
kondusif bagi perkembangan siswa.
6) Wawancara dengan pihak-pihak yang terkait.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bentuk kegiatan layanan penempatan dan


penyaluran sangat tergantung pada arah
pengembangan diri dan atau masalah siswa serta
hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh guru

204
bimbingan dan konseling. Beberapa bentuk
diantaranya adalah:
1) Penempatan duduk siswa di dalam kelas.
2) Penempatan siswa dalam kelompok belajar.
3) Penempatan/penyaluran siswa ke
jurusan/program studi lanjutan.
4) Penempatan dan penyaluran siswa dalam
kelompok kegiatan bakat dan minat khusus
atau ekstrakurikuler.
5) Penempatan dan penyaluran siswa pada
posisi tertentu dalam organisasi kesiswaan
atau organisasi lainnya di lingkungan sekolah.
6) Pemindahan siswa ke sekolah atau lembaga
pendidikan yang lebih sesuai.
7) Penggantian mata pelajaran tertentu yang
sesuai dengan pilihannya.
8) Pemindahan anak asrama ke ruangan atau
kamar yang lain.
9) Pemindahan tempat tinggal.
e. Pelaksanaan Layanan Penempatan dan
Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran
diselenggarakan secara terencana dan tertib
mengikuti prosedur. Adapun tahapan pelaksanaan
http://facebook.com/indonesiapustaka

layanan penempatan dan penyaluran adalah


sebagai berikut:
1) Perencanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Identifikasi kondisi yang menunjukkan
adanya permasalahan pada diri siswa.

205
b) Menetapkan siswa yang akan menjadi
sasaran layanan.
c) Menyiapkan prosedur, langkah-langkah
dan perangkat serta fasilitas layanan.
d) Menyiapkan kelengkapan administrasi.
Semua unsur perencanaan tersebut
dikemas ke dalam satuan layanan (satlan) atau
rencana pemberian layanan (RPL).
2) Pelaksanaan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Melakukan analisis terhadap berbagai
kondisi yang terkait dengan
permasalahan siswa sesuai prosedur dan
langkah-langkah yang telah ditetapkan.
b) Melaksanakan layanan penempatan dan
penyaluran.
3) Penilaian. Hal-hal yang dilakukan adalah:
Layanan penempatan dan penyaluran
diselenggarakan secara bertahap, artinya tidak
selesai dalam satu kali pelaksanaan (Prayitno,
2012). Hal ini berarti bahwa penilaian segera
yang biasanya dilaksanakan pada setiap sesi
layanan, tidak dilaksanakan. Penilaian hasil
layanan dilakukan setelah beberapa waktu
subjek berada pada lingkungan yang baru.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Fokus penilaian adalah kenyamanan subjek


terhadap lingkungan barunya. Lebih jauh
perlu ditinjau sampai berapa jauh potensi
subjek dapat tersalurkan sebagai dampak

206
layanan penempatan dan penyaluran yang
dijalani.
4) Tindak lanjut. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Mengidentifikasi masalah yang perlu
ditindaklanjuti.
b) Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut.
c) Mengomunikasikan rencana tindak lanjut
kepada siswa dan kepada pihak-pihak
lain yang terkait apabila diperlukan.
d) Melaksanakan rencana tindak lanjut.
5) Laporan. Hal-hal yang dilakukan adalah:
a) Menyusun laporan layanan penempatan
dan penyaluran.
b) Menyampaikan laporan kepada pihak
terkait (kepala sekolah) sebagai
penanggung jawab utama layanan
bimbingan dan konseling di sekolah.
c) Mendokumentasikan laporan.

2. Himpunan Data
a. Makna Himpunan Data
Data merupakan deskripsi atau gambaran
keterangan atau catatan tentang sesuatu. Dikaitkan
dengan siswa, data bisa berarti deskripsi atau
http://facebook.com/indonesiapustaka

gambaran, keterangan atau catatan tentang siswa.


Himpunan data dapat bermakna suatu upaya
penghimpunan, penggolongan-penggolongan, dan
pengemasan data dalam bentuk tertentu.
Himpunan data juga bermakna usaha-usaha untuk

207
memperoleh data tentang peserta didik,
menganalisis dan menafsirkan, serta
menyimpannya.
b. Tujuan Himpunan Data
Menurut Tohirin (2013) penyelenggaraan
himpunan data bertujuan untuk memperoleh
pengertian yang lebih luas, lebih lengkap, dan
lebih mendalam tentang masing-masing peserta
didik dan membantu siswa memperoleh
pemahaman diri sendiri. Penyelenggaraan
himpunan data juga bertujuan untuk menyediakan
data yang berkualitas dan lengkap guna
menunjang penyelenggaraan pelayanan
bimbingan dan konseling. Dengan adanya
himpunan data yang berkualitas dan lengkap,
diharapkan pelaksanaan berbagai jenis layanan
dan kegiatan bimbingan dan konseling dapat
terselenggara secara efektif dan efisien.
Secara lebih khusus, penyelenggaraan
himpunan data terkait dengan fungsi-fungsi
tertentu dalam layanan bimbingan dan konseling
terutama fungsi pemahaman. Merujuk kepada
fungsi pemahaman, penyelenggaraan himpunan
data (bagi konselor atau guru bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

konseling) bertujuan untuk memperoleh


pemahaman secara baik tentang masing-masing
pribadi siswa dan (bagi siswa) bertujuan untuk
membantu siswa memperoleh pemahaman
tentang diri sendiri. Apabila pemahaman tentang

208
diri sendiri telah terpenuhi oleh siswa, maka
diharapkan mereka akan dapat tercegah dari
masalah-masalah yang mungkin dialami. Selain
itu, apabila siswa telah memperoleh pemahaman
diri secara baik dan tercegah dari masalah-
masalah yang dialami sangat mungkin siswa
terentaskan masalahnya.
c. Komponen Himpunan Data
Penyelenggaraan himpunan atau
pengumpulan data terkait dengan tiga komponen
pokok, yaitu:
1) Jenis data. Data yang dihimpun dari siswa
dapat mencakup: (a) data psikologis seperti
kemampuan intelektual, bakat khusus, arah
minat, cita-cita hidup, dan sifat-sifat
kepribadian; (b) data sosial seperti: latar
belakang keluarga siswa, status sosial siswa di
sekolah, dan lingkungan sosial siswa.
2) Bentuk himpunan data. Semua data yang
terhimpun dalam himpunan data dapat
berupa rekaman: tulisan, angka, gambar pada
lembaran kertas, slide, film, serta rekaman
audio, dan video. Semua rekaman data itu
dapat terhimpun secara menyeluruh dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

bentuk: (a) buku data pribadi; (b) himpunan


lembaran dengan format yang didesain secara
khusus; (c) kumpulan data kelompok dan
laporan kegiatan; (d) program komputer; dan
(e) kumpulan data umum.

209
3) penyelenggaraan himpunan data. Guru
bimbingan dan konseling (konselor) di
sekolah atau madrasah merupakan
penyelenggara himpunan data yang memiliki
tiga tugas utama yaitu: (a) menghimpun data
yang mencakup data pribadi, kelompok dan
data umum, (b) mengembangkan sumber data
yang bersifat langsung, luas, lugas, luwes, dan
lancar, dan (c) menggunakan data untuk
keperluan layanan bimbingan dan konseling
seperti: (1) untuk perencanaan pelayanan
yang mencakup: penetapan konseli atau
peserta layanan, mengarahkan isi pokok
layanan, mengarahkan jenis dan format
layanan, dan kegiatan pendukung layanan, (2)
isi layanan, dan (3) laporan kegiatan layanan.
d. Teknik Himpunan Data
Menurut Tohirin (2013) untuk memperoleh
data yang lengkap, teratur, dan efektif sehingga
dapat menunjang pelayanan bimbingan dan
konseling secara efektif pula, guru bimbingan dan
konseling atau konselor perlu menerapkan
beberapa teknik seperti:
1) Aplikasi Instrumen
http://facebook.com/indonesiapustaka

Teknik ini dilaksanakan untuk


memperoleh data dari sumber-sumber yang
relevan, terutama dari individu-individu yang
menjadi tanggung jawab konselor. Penerapan
teknik ini harus benar-benar memperhatikan

210
prosedur dan persyaratan aplikasi
instrumentasi seperti telah dikemukakan di
atas.
2) Penyusunan dan Penyimpanan Data
Di dalam bentuk-bentuk himpunan data,
telah terintegrasikan hal-hal yang dikehendaki
dalam penyusunan dan penyimpanannya.
Sebaiknya data dikelompokan dan disusun
secara sistematis sesuai dengan jenis datanya.
Penyimpanan dan penyusunan data yang baik
akan mempermudah penggunaan,
pengembangan, dan penghapusannya.
3) Penggunaan Perangkat Komputer
Munculnya teknologi komputerisasi
banyak membantu dalam pengumpulan,
pengolahan dan penyimpanan sekaligus data
tertentu dalam layanan bimbingan dan
konseling. Dengan bantuan program
komputer, data tertentu seperti alamat, cita-
cita, bakat, pilihan program, dan sebagainya
dapat segera dilacak untuk digunakan secara
tepat dan tepat.
4) Tenaga Administrasi
Adakalanya konselor atau guru
http://facebook.com/indonesiapustaka

bimbingan dan konseling di sekolah tidak


mampu menyelenggarakan sendiri himpunan
data; terutama untuk sekolah-sekolah yang
jumlah siswanya banyak. Dalam kondisi

211
demikian, guru bimbingan dan konseling atau
konselor akan memerlukan pembantu (tenaga
tata usaha atau administrasi). Tenaga
administrasi yang membantu konselor atau
guru bimbingan dan konseling dalam
pengumpulan, pengolahan, penggunaan dan
pengadministrasian data harus benar-benar
mengetahui mekanisme penyusunan,
penyimpanan dan penggunaan data. Selain
itu, ia juga harus bisa menyimpan rahasia.
Selain teknik-teknik di atas, secara umum
teknik pengumpulan data dapat dilakukan secara
tes dan non-tes (Prayitno, 2012):
1) Teknik Tes
Alat tes yang digunakan untuk
pengumpulan data (himpunan data) harus
distandardisasikan (standardizet test) dalam
arti cara penyelenggaraan tes, cara
pemeriksaannya, dan penentuan norma
penafsirannya seragam. Selain itu, juga harus
memiliki validitas dalam arti ada kesesuaian
antara apa yang diukur (diteliti) dalam tes
dengan aspek yang direncanakan untuk
diukur melalui tes tersebut. Alat tes yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

digunakan dalam himpunan data juga harus


memiliki reliabilitas dalam arti ada keajegan
dalam hasil yang diperoleh apabila seseorang
mengerjakan suatu tes pada waktu yang

212
berlainan. Tes yang digunakan dalam
himpunan data ada beberapa macam: tes hasil
belajar, tes bakat dan minat, tes kepribadian,
tes perkembangan vokasional, dan lain
sebagainya.
2) Teknik Non-Tes
Yang termasuk alat-alat non-tes dalam
himpunan data antara lain adalah sebagai
berikut:
a) Angket tertulis: merupakan pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau
pemyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya.
b) Wawancara: merupakan pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara
komunikasi secara lisan (dialog atau
tanya jawab secara lisan).
c) Observasi: dilakukan dengan
mengadakan pengamatan secara saksama
baik secara langsung maupun tidak
langsung terhadap berbagai aktivitas
siswa di lingkungan sekolah maupun di
luar lingkungan sekolah dan madrasah
http://facebook.com/indonesiapustaka

termasuk di rumah.
d) Otobiografi: merupakan karangan yang
ditulis oleh siswa sendiri tentang riwayat
hidupnya. Dengan perkataan lain

213
otobiografi adalah riwayat hidup atau
catatan-catatan harian yang dibuat sendiri
oleh siswa.
e) Catatan anekdot: merupakan laporan
singkat tentang berbagai kejadian atau
perilaku tentang siswa dan memuat
deskripsi objektif tentang perilaku siswa
pada saat tertentu. Atau merupakan suatu
bentuk catatan peristiwa yang dianggap
penting dalam suatu situasi tentang siswa
baik bersifat individual maupun
kelompok.
f) Skala penilaian: merupakan sebuah daftar
yang menyajikan sejumlah sifat atau sikap
yang dijabarkan dalam bentuk skala.
Hampir sama dengan daftar cek, tetapi
dalam skala penilaian aspek yang dicek
ditempatkan dalam bentuk skala. Teknik
ini sangat tepat apabila digunakan untuk
mengobservasi situasi tertentu secara
kualitatif.
g) Sosiometri: merupakan alat (instrumen)
untuk mengumpulkan data tentang
hubungan-hubungan sosial dan laku
http://facebook.com/indonesiapustaka

sosial siswa.

214
D. Dukungan Sistem
Dukungan sistem terdiri atas aktivitas manajemen
yang membentuk, memelihara, dan meningkatkan
efektivitas serta efisiensi bimbingan dan konseling sekolah
secara keseluruhan. Suatu program layanan bimbingan dan
konseling tidak mungkin akan terselenggara dan tujuannya
tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan yang
bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan
terarah.
Aktivitas manajemen dalam pelayanan bimbingan dan
konseling perlu berpijak pada fungsi manajemen itu
sendiri. Implementasi fungsi manajemen yang dimaksud
(minimal) mencakup kegiatan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Perencanaan adalah pondasi untuk keberhasilan
pelaksanaan manajemen secara keseluruhan. Untuk
membuat program BK yang efektif dan efisien diperlukan
perencanaan yang matang, sehingga tujuan yang ingin
dicapai sesuai dengan harapan dari pendidikan dan
individu. Kegiatan penyusunan program BK di sekolah
merupakan seperangkat kegiatan yang dilakukan melalui
berbagai bentuk survey untuk menginventarisasi tujuan,
kebutuhan, kemampuan sekolah serta persiapan sekolah
untuk melaksanakan program BK. Karena program BK
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang efektif dan efisien adalah program yang terencana


secara kontinyu dan sesuai dengan tujuan serta visi dan
misi BK sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas
dan mutu dari layanan BK (Lapan, 2001). Selanjutnya

215
Nurihsan (2011) menjelaskan bahwa untuk tercapainya
program perencanaan bimbingan yang efektif dan efisien,
maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya:
a. Analisis kebutuhan dan permasalahan peserta
didik.
b. Penentuan tujuan program layanan BK yang ingin
dicapai.
c. Analisis situasi dan kondisi sekolah.
d. Penentuan jenis-jenis kegiatan yang akan
dilakukan.
e. Penetapan metode dan teknik yang akan
dilakukan dalam kegiatan.
f. Penetapan personil-personil yang akan
melaksanakan kegiatan.
g. Persiapan fasilitas dan biaya pelaksanaan kegiatan
bimbingan yang direncanakan.
h. Perkiraan tentang hambatan-hambatan yang akan
ditemui dan usaha-usaha apa yang dilakukan
dalam menangani hambatan-hambatan.
2. Pengorganisasian
Program BK tidak dapat dilaksanakan secara jelas dan
sistematis apabila tidak diimbangi dengan organisasi yang
baik. Pengorganisasian BK secara tepat dapat membantu
seluruh personil sekolah dalam mengoptimalkan peran
http://facebook.com/indonesiapustaka

masing-masing dan setiap personil pun akan mengetahui


seberapa besar fungsi dan peranannya tersebut dapat
dikontribusikan bagi sekolah. Lebih dari pada itu peran
setiap personil mudah untuk dipertanggungjawabkan.
Agar pengorganisasian kegiatan BK dapat terkoordinasi

216
secara integral melalui kegiatan-kegiatan BK yang baik,
maka beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya
adalah:
a. Semua personil sekolah harus dihimpun dalam
satu wadah, sehingga terwujud satu kesatuan cara
bertindak dalam usaha membantu memberikan
layanan BK di sekolah.
b. Mekanisme kerja, pola kerja atau prosedur kerja
BK di sekolah harus tunggal, sehingga siswa tidak
menjadi bingung karena adanya berbagai bentuk
layanan BK atau layanan lainnya yang serupa
yang dilaksanakan oleh petugas-petugas yang
berbeda.
c. Tugas-tugas, tanggung jawab, dan wewenang dari
masing-masing petugas yang terlibat dalam
pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah harus
dirinci dengan jelas, sehingga masing-masing
petugas bimbingan akan dapat memahami dan
mengerti kewajiban dan tanggung jawab masing-
masing.
3. Supervisi
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan mutu
pelaksanaan layanan BK, maka konselor perlu memiliki
sikap akuntabilitas, komitmen, dan pertanggungjawaban
http://facebook.com/indonesiapustaka

atas seluruh tugas profesinya. Salah satu aspek yang


penting dalam mewujudkan sikap akuntabilitas konselor
adalah dengan kesediaan dirinya untuk melakukan
supervisi secara konsisten, baik supervisi secara
administratif, supervisi klinis mengenai kelemahan-

217
kelemahan yang masih dimiliki, maupun supervisi
pengembangan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Supervisi bagi seorang konselor penting untuk dilakukan
karena:
a. Merupakan cara untuk menjaga akuntabilitas
konselor terhadap konselinya.
b. Menjamin bahwa konselor bekerja secara
bertanggung jawab dan sebaik mungkin.
c. Sebagai persyaratan bagi semua konselor, baik
konselor pemula maupun yang sudah
berpengalaman.
d. Konseling pada umumnya bersifat pribadi dan
dinamis.
Ini berarti bahwa supervisi dalam BK akan memiliki
fungsi edukatif, memulihkan atau mendukung
kemampuan yang dimiliki konselor dan sebagai norma
penjaminan mutu konselor dalam menjalankan pekerjaan
profesinya. Sedangkan tujuan supervisi dalam BK adalah:
a. Memfasilitasi kegiatan BK yang efektif.
b. Mengembangkan ketrampilan profesional.
c. Mengolah reaksi emosional konseli terhadap tugas
konselor.
d. Menjaga kode etik.
e. Merangsang gagasan dan ketrampilan baru.
http://facebook.com/indonesiapustaka

f. Memberikan layanan yang berkualitas sesuai


dengan kode etik profesi.

218
4. Penilaian
Penilaian kegiatan BK adalah segala upaya, tindakan
atau proses untuk menentukan derajat kualitas kemajuan
kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program BK
dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan
tertentu sesuai dengan program BK yang dilaksanakan.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai
keberhasilan pelaksanaan program layanan BK adalah
mengacu pada terpenuhi atau tidaknya kebutuhan-
kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat,
baik langsung maupun tidak langsung berperan membantu
peserta didik dalam memperoleh perubahan perilaku dan
pribadi ke arah yang lebih baik.
Dalam keseluruhan kegiatan layanan BK, penilaian
diperlukan untuk memperoleh umpan balik terhadap
keefektivan layanan BK yang telah dilaksanakan. Dengan
informasi ini dapat diketahui sampai sejauh mana derajat
keberhasilan kegiatan layanan bimbingan. Berdasarkan
informasi ini dapat ditetapkan langkah-langkah tindak
lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program
selanjutnya. Ada dua macam kegiatan penilaian program
BK, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai sejauh
mana keefektivan layanan BK dilihat dari prosesnya,
http://facebook.com/indonesiapustaka

sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk


memperoleh informasi keefektivan layanan BK dilihat dari
produknya. Aspek yang dinilai, baik proses maupun hasil
antara lain:

219
a. Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan.
b. Keterlaksanaan program.
c. Hambatan-hambatan yang dijumpai.
d. Dampak layanan BK terhadap kegiatan belajar
mengajar.
e. Respon siswa, personil sekolah, orang tua dan
masyarakat terhadap layanan bimbingan.
f. Perubahan kemajuan siswa dilihat dari pencapaian
tujuan layanan bimbingan, pencapaian tugas-tugas
perkembangan dan hasil belajar.
g. Keberhasilan siswa setelah menyelesaikan sekolah,
baik pada studi lanjutan maupun pada kehidupan
di masyarakat.
5. Evaluasi
Evaluasi program BK bukan merupakan kegiatan
akhir. Artinya, kegiatan evaluasi merupakan suatu
kegiatan yang berkesinambungan atau lebih tepat bila
dikatakan siklus, sebab tidak berhenti sampai
terkumpulnya data atau informasi, tetapi data atau
informasi itu digunakan sebagai dasar kebijakan atau
keputusan dalam pengembangan program BK selanjutnya.
Karena itu, kegiatan evaluasi program BK hendaknya
memperhatikan prosedur dan langkah-langkah serta
metoda atau strategi yang harus digunakan. Prosedur
http://facebook.com/indonesiapustaka

evaluasi yaitu meliputi serangkaian kegiatan yang berurut


sebagai berikut:
a. Identifikasi tujuan yang akan dicapai. Melakukan
identifikasi terhadap tujuan yang ingin dicapai
sangat penting karena memberikan arah pekerjaan

220
yang akan dilakasanakan. Artinya selama
melakukan evaluasi tetap mengacu pada tujuan
yang telah ditetapkan.
b. Pengembangan rencana evaluasi. Komponen-
komponen rencana evaluasi program BK yang
perlu dikembangkan antara lain: (1) data atau
informasi yang dibutuhkan; (2) alat pengumpulan
data yang digunakan; (3) sumber dan atau
informasi yang dapat dihubungi; (4) personil
pelaksanaan; (5) waktu pelaksanaan; (6) kriteria
penilaian; (7) bagaimana pelaporan dan pada siapa
laporan itu disampaikan.
c. Pelaksanaan evaluasi. Prinsip pelaksanaan
evaluasi perlu memperhatikan faktor-faktor yang
telah direncanakan sehingga terjadi interaksi
antara faktor yang satu dengan lainnya dan dapat
membantu pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.
d. Pelaporan dan pemanfaatan hasil evaluasi.
Pelaporan dan pemanfaatan hasil evaluasi
dianggap sangat penting sebab langkah ini
merupakan bentuk konkrit sikap akuntabilitas atas
program dan hasil kegiatan yang telah dilakukan
seorang konselor bersama staf lainnya. Hasil
http://facebook.com/indonesiapustaka

kegiatan evaluasi yang baik adalah yang dapat


memberikan sumbangan pertimbangan dalam
membuat kebijakan dan keputusan selanjutnya.
Program BK itu diganti, diubah atau

221
dikembangkan semata-mata berdasarkan hasil
evaluasi.
Bentuk konkrit dari sebuah dukungan sistem salah
satunya adalah tersedianya sarana dan prasarana yang
representatif serta pembiayaan yang memadai.
1. Ruang Bimbingan dan Konseling
Ruang kerja bimbingan dan konseling disiapkan
dengan ukuran yang memadai, dilengkapi dengan
perabot/perlatannya, diletakan pada lokasi yang mudah
untuk akses layanan dan kondisi lingkungan yang sehat.
Ukuran ruang bimbingan dan konseling harus disesuaikan
dengan kebutuhan jenis dan jumlah ruangan. Di dalam
ruangan hendaknya juga dapat disimpan segenap
perangkat instrumen bimbingan dan konseling, himpunan
data peserta didik, dan berbagai data serta informasi
lainnya. Adapun contoh minimal ruang bimbingan dan
konseling seperti tertera pada gambar berikut:
http://facebook.com/indonesiapustaka

222
Alternatif contoh penataan ruang kerja profesi
bimbingan dan konseling:
6000 5000 5000
4000

4000

RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING

RUANG BK KELOMPOK RUANG BK KELOMPOK


10000
2000

3000
http://facebook.com/indonesiapustaka

R. TAMU RUANG KERJA


DAN RUANG KONSELING

RUANG KERJA
DAN RUANG KONSELING
4000

RUANG BIBLIOTERAPI RUANG DATA


R. STAFF

3000

3000 3000 5000 1000 4000

16000

223
2. Fasilitas Penunjang
Selain ruangan, fasilitas lain yang diperlukan untuk
penyelenggaraan bimbingan dan konseling antara lain:
a. Dokumen program bimbingan dan konseling yang
disiman dalam almari.
b. Instrumen pengumpul data dan kelengkapan
administrasi seperti:
1) Alat pengumpul data berupa tes.
2) Alat pengumpul data teknik non-tes, format
satuan layanan, format-format surat
(panggilan, referal, kunjungan rumah), format
pelaksanaan pelayanan, dan format evaluasi.
c. Alat penyimpan data, dapat berbentuk kartu, buku
pribadi, map dan file dalam komputer.
d. Kelengkapan penunjang teknis, seperti data
informasi, paket bimbingan, alat bantu bimbingan
perlengkapan administrasi, seperti alat tulis
menulis, blanko surat, kartu konsultasi, kartu
kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat,
buku-buku panduan, buku informasi tentang studi
lanjutan atau kursus-kursus, modul bimbingan,
atau buku materi pelayanan bimbingan, buku hasil
wawancara, laporan kegiatan pelayanan, data
kehadiran peserta didik, leger Bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Konseling, buku realisasi kegiatan Bimbingan dan


Konseling, bahan-bahan informasi pengembangan
keterampilan pribadi, sosial, belajar maupun karir,
dan buku/bahan informasi pengembangan
keterampilan hidup, perangkat elektronik

224
Dalam kerangka pikir dan kerangka kerja BK terkini,
para konselor atau guru bimbingan dan konseling pada
satuan pendidikan perlu terampil menggunakan perangkat
komputer, perangkat komunikasi dan berbagai software
untuk membantu mengumpulkan data, mengolah data,
menampilkan data maupun memaknai data sehingga dapat
diakases secara cepat dan secara interaktif.

3. Pembiayaan
Perencanaan anggaran merupakan komponen penting
dari pengelolaan bimbingan dan konseling. Perlu
dirancang dengan cermat berapa anggaran yang
diperlukan untuk mendukung implementasi program
(Suherman, 2011). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No. 111 Tahun 2014 disebutkan bahwa
kebijakan satuan pendidikan setiap satan pendidikan harus
memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan layanan
bimbingan dan konseling. Pelaksanaan program bimbingan
dan konseling harus diperlakukan sebagai kegiatan yang
utuh dari seluruh program pendidikan. Adapun komponen
anggaran meliputi:
a. Anggaran untuk semua aktivitas yang tercantum
pada program bimbingan dan konseling.
b. Anggaran untuk aktivitas pendukung (seperti
http://facebook.com/indonesiapustaka

untuk asesmen kebutuhan, kunjungan rumah,


pengadaan pustaka terapi/buku pendukung,
mengikuti diklat/seminar/workshop atau kegiatan
profesi bimbingan dan konseling, studi lanjut,
kegiatan musyawarah guru bimbingan dan

225
konseling, pengadaan instrumen bimbingan dan
konseling, dan lainnya yang relevan untuk
operasional layanan bimbingan dan konseling.
c. Anggaran untuk pengembangan dan peningkatan
kenyamanan ruang atau pemberian layanan
bimbingan dan konseling (seperti pembenahan
ruangan, pengadaan buku-buku untuk konseling
pustaka, penyiapan perangkat konseling
kelompok).
Sumber biaya selain dari RKAS (rencana kegiatan dan
anggaran Sekolah/Madrasah), dengan dukungan kebijakan
Kepala Sekolah/Madrasah jika memungkinkan dapat
mengakses dana dari sumber-sumber lain melalui
kesepakatan lembaga dengan pihak lain, atau
menggunakan sumber yang dialokasikan oleh komite
Sekolah/Madrasah.

IV. Rangkuman
A. Komponen program BK perkembangan yang
komprehensif meliputi pelayanan dasar, pelayanan
responsif, perencanaan individual, dan dukungan
sistem.
B. Strategi layanan yang dilaksanakan dalam program BK
perkembangan yang komprehensif antara lain layanan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bimbingan klasikal, layanan bimbingan kelompok,


layanan orientasi, layanan informasi, layanan
konseling individu, layanan konseling kelompok,
layanan konseling teman sebaya, referal,

226
pengembangan media, instrumentasi, penilaian
individual dan kelompok, layanan penempatan dan
penyaluran, layanan penguasaan konten, kunjungan
rumah, konferensi kasus, kolaborasi dengan orang tua
dan ahli yang terkait, sistem manajemen,
pengembangan profesi.

V. Latihan dan Tugas


A. Buatlah sebuah konsep implementasi pelaksanaan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah
(SMP/SMA/SMK/sederajat) yang meliputi: (1) satuan
layanan; (2) proses pelaksanaan layanan; (3) laporan.
Pilih salah satu dari strategi layanan yang ada!
B. Lakukan observasi dan wawancara ke sekolah
(SMP/SMA/SMK/sederajat) tentang strategi layanan
bimbingan dan konseling yang dikembangkan di
sekolah tersebut!

VI. Referensi
Achmad Juntika Nurihsan. 2005. Strategi Layanan Bimbingan
dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
______. 2011. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar
Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.
Carr, R. A. 1981. Theory and Practice of Peer Counseling.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ottawa: Canada Employment and Immigration


Commision.
Dewa Ketut Sukardi dan Desak P.E. Nila Kusmawati. 2008.
Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.

227
Gerald Corey. 2012. Theory and Practice of Group Counseling
(Eighth Edition). Brooks/Cole Publishing Company:
USA.
Gladding, S.T. 2004. Counseling, a Comprehensive Profession.
Fifth Ed. Upper Saddle River, NJ: Perason.
Jeanette Murad Lesmana. 2011. Dasar-dasar Konseling.
Jakarta: UI-Press.
Kan, P. V. 1996. Peer Counseling in Explanation. [online].
Tersedia: http://www.peercounseling.com.
(diunduh desember 2014).
Mungin Eddy Wibowo. 2005. Konseling Kelompok
Perkembangan. Semarang: UPT UNNES Press.
Namora Lumongga Lubis. 2011. Memahami Dasar-dasar
Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Nandang Rusmana. 2009. Bimbingan dan Konseling Kelompok
di Sekolah (Metode, Teknik, dan Aplikasi). Bandung:
Rizqi.
Prayitno. 2012. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung
Konseling. Padang: Program Pendidikan Profesi
Konselor Jurusan Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Padang.
Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.


Richard T. Lapan. 2001. Result-Based Comprehensive Guidance
and Counseling Programs: A Framework for Planning
and Evaluation. Profesional School Counseling.

228
Rochman Natawidjaja. 2009. Konseling Kelompok: Konsep
Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi.
Sofyan Willis. 2010. Konseling Individual Teori dan Praktek.
Bandeung: Alfabetha.
Suwarjo. 2008. Model Konseling Teman Sebaya untuk
Pengembangan Daya Lentur (Resilience): Studi
Pengembangan Model Konseling Teman Sebaya
untuk Mengembangkan Daya Lentur Remaja Panti
Sosial Asuhan Anak Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Disertasi. UPI. Tidak Diterbitkan.
Tatiek Romlah. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Tindall, J. D. dan Gray, H. D. 1985. Peer Counseling: In-Depth
Look At Training Peer Helpers. Muncie: Accelerated
Development Inc.
Tohirin. 2013. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan
Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Winkel W. S. & Sri Hastuti. 2005. Bimbingan dan Konseling di
Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

229
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Juntika Nurihsan. 2005. Strategi Layanan Bimbingan


dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya.
______. 2011. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar
Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.
Ahmad Juntika Nurihsan dan Mubiar Agustin. 2011.
Dinamika Perkembangan Anak dan Remaja (Tinjauan
Psikologi, Pendidikan, dan Bimbingan). Bandung:
Refika Aditama.
Ahman. 2011. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling
Perkembangan. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Brandley T. Erford. 2007. Transforming the School Counseling
Profesion. New Jersey: Pearson Education Ltd.
Carr, R. A. 1981. Theory and Practice of Peer Counseling.
Ottawa: Canada Employment and Immigration
Commision.
Dewa Ketut Sukardi dan Desak P.E. Nila Kusmawati. 2008.
Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pendidikan


Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan
Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia.

230
Desmita. Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Panduan bagi
Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak
Usia SD, SMP, dan SMA). Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Donald H Blocher. 1974. Developmental Counseling. Secand
ed. New York: John Wiley & Sons.
Fajar Santoadi. 2010. Manajemen Bimbingan dan Konseling
Komprehensif. Yogyakarta: Penerbit Universitas
Sanata Dharma.
Fatur Rahman. 2008. Penyusunan Program BK di Sekolah;
(Bahan Diklat Profesi Guru Rayon 11 DIY dan
Jateng). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Gerald Corey. 2012. Theory and Practice of Group Counseling
(Eighth Edition). Brooks/Cole Publishing Company:
USA.
Gladding, S.T. 2004. Counseling, a Comprehensive Profession.
Fifth Ed. Upper Saddle River, NJ: Perason.
Gysbers, N. C. & Henderson, P. 2006. Developing &
Managing Your School Guidance and Counseling
Program. Alexandria: American Counseling
Association.
Hurlock, E.B. 1980. Developmental Psychology: a Life Span
http://facebook.com/indonesiapustaka

Approach. New York: McGraw-Hill Inc.


Jeanette Murad Lesmana. 2011. Dasar-dasar Konseling.
Jakarta: UI-Press.

231
Kan, P. V. 1996. Peer Counseling in Explanation. [online].
Tersedia: http://www.peercounseling.com.
(diunduh desember 2014).
Mungin Eddy Wibowo. 2005. Konseling Kelompok
Perkembangan. Semarang: UPT UNNES Press.
Muro and Kottman. 1995. Guidance and Counseling in the
Elementary and Middle Schools: A Practical Approach.
Madison: Brown & Benchmark.
Namora Lumongga Lubis. 2011. Memahami Dasar-dasar
Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Nandang Rusmana. 2009. Bimbingan dan Konseling Kelompok
di Sekolah (Metode, Teknik, dan Aplikasi). Bandung:
Rizqi.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111
Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Prayitno. 2012. Jenis Layanan dan Kegiatan Pendukung
Konseling. Padang: Program Pendidikan Profesi
Konselor Jurusan Bimbingan dan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Padang.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan


Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

232
Rochman Natawidjaja. 2009. Konseling Kelompok: Konsep
Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi.
Sofyan Willis. 2010. Konseling Individual Teori dan Praktek.
Bandeung: Alfabetha.
Suwarjo. 2008. Model Konseling Teman Sebaya untuk
Pengembangan Daya Lentur (Resilience): Studi
Pengembangan Model Konseling Teman Sebaya
untuk Mengembangkan Daya Lentur Remaja Panti
Sosial Asuhan Anak Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta. Disertasi. UPI. Tidak Diterbitkan.
Syamsuddin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Tatiek Romlah. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Tindall, J. D. dan Gray, H. D. 1985. Peer Counseling: In-Depth
Look At Training Peer Helpers. Muncie: Accelerated
Development Inc.
Tohirin. 2013. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan
Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Winkel W. S. & Sri Hastuti. 2005. Bimbingan dan Konseling di
Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

233
BIODATA PENULIS
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap (dengan Ulul Azam, S.Pd .M.Pd.
gelar)
2 Jenis Kelamin Laki-laki
3 Jabatan Fungsional Tenaga Pengajar
4 NIP/NIK/Identitas 0414.0094
lainnya
5 NIDN 0612078703
6 Tempat dan Tanggal Batang, 12 Juli 1987
Lahir
7 E-mail ululazamunisri@gmail.com
9 Nomor Telepon/HP 085640034520/085327033003
10 Alamat Kantor Jalan Sumpah Pemuda No. 18
Kadipiro Solo
11 Nomor Telepon/Faks (0271) 851147
12 Lulusan yang Telah S-1 = 255 orang
Dihasilkan
1. Dasar-dasar Bimbingan dan
13. Mata Kuliah yang Konseling
Diampu 2. Bimbingan dan Konseling
Perkembangan
3. Penelitian Pendidikan dalam BK

Dst.
http://facebook.com/indonesiapustaka

B. Riwayat Pendidikan
S1 S2
Bidang Ilmu Pendidikan Pendidikan
(Bimbingan dan (Bimbingan dan
Konseling) Konseling)

234
S1 S2
Judul Upaya Model Layanan
Skripsi/Tesis/Disertasi Meningkatkan Bimbingan
Kecakapan Kelompok
Interpersonal Berbasis Life Skills
melalui Layanan untuk
Bimbingan Meningkatkan
Kelompok Teknik Entrepreneurship
Permainan dan Siswa SMK (Studi
Diskusi pada Pengembangan di
Siswa SMK PGRI SMK N 1 Batang)
Batang
Nama 1. Dra. Banun Sri 1. Prof. Dr.
Pembimbing/Promotor Haksasi, M.Pd. Mungin Eddy
2. Dra. DAK Wibowo,
Handayani, M.Pd., Kons.
M.Pd. 2. Dr. Imam
Tadjri, M.Pd.

C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir


(Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta
Rp)
1 2010 Upaya Peningkatan Dinas Rp.
Kecakapan Pendidikan 3.000.000
Interpersonal Propinsi
melalui Layanan Jawa
Bimbingan Tengah
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kelompok Teknik
Permainan dan
Diskusi pada Siswa
SMK PGRI Batang
2 2012 Pemberantasan Buta SMK PGRI Rp.
Aksara Usia Batang 1.000.000

235
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta
Rp)
Produktif Berbasis
Tutorial Terpadu di
Daerah Wisata
Pantai Sigandu
Batang
3 2013 Upaya Peningkatan MGBK Kab. Rp.
Keterampilan Batang 2.000.000
Konseling melalui
Metode Simulasi
Bertingkat pada
Guru Bimbingan
dan Konseling di
Kabupaten Batang
4 2014 Model Layanan UNISRI Rp.
Bimbingan 2.000.000
Kelompok Berbasis
Kecakapan Hidup
untuk
Meningkatkan
Entrepreneurship
Siswa SMK
Muhammadiyah
Surakarta
5 2015 Upaya UNISRI Rp.
Meningkatkan 2.000.000
Resiliensi melalui
Layanan Bimbingan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kelompok Teknik
Home Room Program
pada Mahasiswa
Semester VI
Program Studi BK
FKIP UNISRI

236
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta
Rp)
6 2015 Upaya
Meningkatkan
Kedisiplinan
Kerapian
Berseragam melalui
Konseling
Behavioristik Teknik
Life Modeling pada
Siswa SMP N 8
Surakarta
7 2015 Model Layanan Mandiri Rp.
Bimbingan 3.000.000
Kelompok Teknik
Simulasi Bertingkat
untuk
Meningkatkan
Kecakapan
Interpersonal Siswa
SMK (Studi
Pengembangan di
SMK PGRI Batang)
8 2015 Efektivitas Layanan Mandiri Rp.
Penguasaan Konten 3.000.000
dengan Multimedia
dalam
Meningkatkan
Pemahaman Bidang
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan Jenis Layanan


Bimbingan dan
Konseling pada
Dewan Pembina di
Balai Rehabilitasi
Sosial Anak Jalanan

237
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber* Jml (Juta
Rp)
Kartini
Tawangmangu
9 2015 Upaya Mandiri Rp.
Meningkatkan 3.000.000
Konsep Diri Positif
melalui Layanan
Bimbingan
Kelompok Teknik
Simulasi Bertingkat
dan Diskusi pada
Anak Asuh di Balai
Rehabilitasi Sosial
Anak Jalanan Kartini
Tawangmangu
10 2016 Efektivitas Layanan UNISRI Rp.
Penguasaan Konten 2.000.000
Seting Kelompok
dengan Media Film
dalam
Meningkatkan
Konsep Diri Positif
Mahasiswa Semester
IV Program Studi
BK FKIP UNISRI
http://facebook.com/indonesiapustaka

238
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5
Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Pendanaan
Pengabdian Sumber* Jml (Juta
Kepada Rp)
Masyarakat
1 2011 Peer Counseling Mandiri Rp.
sebagai 2.000.000
Pendampingan
Kesehatan
Reproduksi Anak
Jalanan di
Rumah Singgah
2 2012 Pelatihan Dinas Sosial Rp.
Program Propinsi Jawa 21.000.000
Pendidikan Tengah
Kecakapan
Hidup (PKH)
Siswa Sekolah
Menengah
Kejuruan (SMK)
3 2013 Pelatihan IGTKI Rp.
Penelitian Kradenan 1.000.000
Tindakan Kelas
bagi Guru PAUD
4 2013 Menjadi Orang IGTKI Kab. Rp.
Tua Ideal: Peran Kendal 750.000
dan Fungsi
Ayah-Ibu di
Dalam Keluarga
http://facebook.com/indonesiapustaka

5 2013 Pelatihan MGBK Kab. Rp.


Penelitian Batang 1.000.000
Tindakan
Bimbingan dan
Konseling

239
No. Tahun Judul Pendanaan
Pengabdian Sumber* Jml (Juta
Kepada Rp)
Masyarakat
6 2014 Pelatihan IGTKI Kab. Rp.
Penelitian Kendal 1.000.000
Tindakan Kelas
bagi Guru PAUD
7 2014 Pelatihan IGTKI Kab. Rp.
Penelitian Pati 1.000.000
Tindakan Kelas
bagi Guru PAUD
8 2014 Pembinaan Universitas Rp.
Program Tunas 1.000.000
Kecakapan Pembangunan
Hidup bagi Surakarta
Penerima
Manfaat di Balai
Rehabilitasi
Sosial Anak
Jalanan “Kartini”
Tawangmangu
9 2014 Layanan UNISRI Rp.
Bimbingan 1.000.000
tentang Soft
Skills untuk
Memperkokoh
Karakter Remaja
Masjid Ar-
Rahman
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kadipiro
Banjarsari Solo
Tahun 2014
10 2015 Layanan UNISRI Rp.
Bimbingan 1.000.000
Kelompok

240
No. Tahun Judul Pendanaan
Pengabdian Sumber* Jml (Juta
Kepada Rp)
Masyarakat
Teknik Outbond
untuk
Meningkatkan
Kecerdasan
Interpersonal
Anak Asuhan
Pondok
Pesantren Yatim
Al-Ikhsan
Surakarta
11 2016 Pelatihan UNISRI Rp.
Keterampilan 1.000.000
Dasar Konseling
bagi Dewan
Pembina Utama
di Panti
Rehabilitasi
Sosial Anak
Jalanan “Kartini”
Tawangmangu

E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun


Terakhir
Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/ Nama Jurnal
Tahun
2014 Pengembangan 2014 Prosiding
http://facebook.com/indonesiapustaka

Model Layanan Konvensi


Bimbingan Nasional BK
Kelompok untuk XVIII
Peningkatan
Aspirasi Karir Siswa

241
Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/ Nama Jurnal
Tahun
Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK)
2014 Bimbingan dan 2014 Prosiding
Konseling Lintas Seminar
Budaya sebagai Nasional
Sarana Membangun ABKIN
Karakter Bangsa
2015 Profesionality of 2015 Prosiding
Counselor (Between Seminar dan
Ideal and Reality) Workshop
Internasional
BK
2015 Model Layanan 2015 Jurnal
Bimbingan Widya
Kelompok Berbasis Wacana
Kecakapan Hidup
untuk
Meningkatkan
Entrepreneurship
Siswa SMK
Muhammadiyah
Surakarta
2015 Upaya 2015 Jurnal
Meningkatkan Widya
Resiliensi melalui Wacana
Layanan Bimbingan
Kelompok Teknik
Home Room
http://facebook.com/indonesiapustaka

Program pada
Mahasiswa Semester
VI Program Studi
BK FKIP UNISRI
2015 Model Layanan 2015 Jurnal
Bimbingan Eksplorasi

242
Tahun Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/ Nama Jurnal
Tahun
Kelompok Teknik
Simulasi Bertingkat
untuk
Meningkatkan
Kecakapan
Interpersonal Siswa
SMK (Studi
Pengembangan di
SMK PGRI Batang)
2016 Efektivitas Layanan 2016 Jurnal
Penguasaan Konten Eksplorasi
Seting Kelompok
dengan Media Film
dalam
Meningkatkan
Konsep Diri Positif
Mahasiswa Semester
IV Program Studi
BK FKIP UNISRI

F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam


5 Tahun Terakhir
No Nama Pertemuan Judul Artikel Waktu dan
Ilmiah/Seminar Ilmiah Tempat
1 Desiminasi Upaya 2010: LPMP
Pemenang Lomba Peningkatan Jawa Tengah
Karya Ilmiah Kecakapan
Inovatif Interpersonal
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pembelajaran Guru melalui Layanan


SMA/MA/SMALB Bimbingan
dan SMK Dinas Kelompok Teknik
Pendidikan Propinsi Simulasi (Menata,
Jawa Tengah Membuat, dan

243
No Nama Pertemuan Judul Artikel Waktu dan
Ilmiah/Seminar Ilmiah Tempat
Memasarkan
Produk) pada
Siswa SMK PGRI
Batang
2 Musyawarah Guru Workshop 2012:
Bimbingan dan Pembuatan Kabupaten
Konseling Penelitian Batang
Kabupaten Batang Tindakan
Bimbingan dan
Konseling
3 Publikasi Hasil Pengembangan 2013:
Penelitian Tesis dan Model Layanan Program
Disertasi pada Jurnal Bimbingan Pascasarjana
Ilmiah Terakreditasi Kelompok Universitas
Berbasis Life Skills Negeri
untuk Semarang
Meningkatkan
Sikap
Kewirausahaan
Siswa SMK N 1
Batang
4 Seminar dan Bimbingan dan 2014: LPMP
Workshop Nasional Konseling Lintas Jawa Tengah
Bimbingan dan Budaya sebagai
Konseling Sarana
Membangun
Karakter Bangsa
5 International Seminar Profesionality of 2015:
http://facebook.com/indonesiapustaka

and Workshop Counselor (Between Universitas


Guidance and Ideal and Reality) PGRI
Counseling Yogyakarta

244
G. Penghargaan dalam 10 Tahun Terakhir (dari
Pemerintah, Asosiasi, atau Institusi Lainnya)
Pemberi
Jenis Penghargaan Tingkat Tahun
Penghargaan
Juara II Lomba
Universitas
Karya Tulis Bidang
Fakultas Negeri 2007
Pendidikan Tahun
Yogyakarta
2007
Juara I Kompetisi
Universitas
Karya Ilmiah
Universitas Negeri 2008
Bidang Ilmu
Yogyakarta
Pengetahuan Sosial
Juara IV Kompetisi
Karya Tulis Wilayah Universitas
Wilayah
B (DIY, Kalimantan, Tanjungpura 2008
Jawa Barat dan Jawa Pontianak
Tengah) Bidang IPS
Direktorat
Kelembagaan,
Direktorat Jendral
Pendidikan
Peringkat III
Tinggi,
Nasional Dialog Nasional 2008
Departemen
Kebangsaan
Pendidikan
Nasional
Republik
Indonesia
Desiminasi
Pemenang Lomba
Karya Ilmiah
http://facebook.com/indonesiapustaka

Dinas Pendidikan
Inovatif
Propinsi Propinsi Jawa 2010
Pembelajaran Guru
Tengah
SMK Tingkat
Propinsi Jawa
Tengah

245
Pemberi
Jenis Penghargaan Tingkat Tahun
Penghargaan
Penerima Dana
Hibah Pelaksanaan
Pendidikan Dinas Sosial
Kecakapan Hidup Propinsi Propinsi Jawa 2011
untuk Siswa Tengah
Sekolah Menengah
Kejuruan
Penerima dan Program Daftar Isian
Pelaksana Dana Pascasarjana Pelaksanaan
Hibah Bersaing Universitas Anggaran 2013
untuk Tesis dan Negeri (DIPA)Universitas
Desertasi Semarang Negeri Semarang
Pemakalah dalam Indonesia, Panitia
International Seminar Malaysia, International
and Workshop Australia Seminar and 2015
Guidance and Workshop Guidance
Counseling and Counseling
http://facebook.com/indonesiapustaka

246
http://facebook.com/indonesiapustaka

247