Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUTORIAL

KEPERAWATAN KELUARGA
KASUS I

Disusun oleh:

TUTOR H
Olivia Rizki Khaerani 220110160090
Ricky Simbolon 220110160091
Jihan Salimah 220110160092
Annisa Rahmafillah 220110160093
Aulia Nurhanifa 220110160094
Dylla Iztiazahra 220110160095
Via Fauziati 220110160096
Astriani Nur Afifah 220110160097
Luciana Tasya 220110160098
Naomi Sella Aprilia 220110160099
Andreas Leonando 220110160100
Ghilbran Fathurido 220110160101
Astrie Grace D’olivia N 220110160103
Lisa Noviana 220110160104

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
JATINANGOR
2018
LAPORAN TUTORIAL KEPERAWATAN KELUARGA
KASUS 1
Keluarga Tn A (40 tahun) terdiri dari istri (Ny B-33 tahun), dua anak perempuan (AnC-15
tahun & An D-4 tahun), dua anak lelaki (An E-8 tahun & An F-7 tahun) telah dikunjungi oleh
perawat komunitas Y. Dalam family folder di sentra keperawatan, keluarga ini memiliki
masalah stress marital, kesulitan keuangan, nutrisi keluarga yang kurang, anak yang sering
bolos sekolah, dan seringnya kejadian penyakit infeksi pada anak. An C dan An E adalah bukan
anak kandung Ny B, tetapi mereka adalah hasil perkawinan Tn A dengan istri sebelumnya (Ny.
H-35 tahun). An C dan An E akan tinggal bersama dengan Ny H hanya pada saat liburan
sekolah. Masalah yang dialami keluarga saat ini kemungkinan disebabkan oleh tidak
terpenuhinya tugas perkembangan keluaga Tn A dan lumrah terjadi pada jenis keluarga ini.
Keluarga ini memang terhubung oleh ikatan darah dan perkawinan, tetapi struktur keluarga Tn
A cukup unik dalam hal pola komunikasi, struktur kekuasaan, struktur peran, dan nilai
keluarga. Perawat komunitas akan melakukan pengkajian mendalam untuk fungsi keluarga,
stress dan koping keluarga, dan tidak lupa untuk membuat genogram keluarga. Dengan
pengkajian yang lengkap akan membantu perawat komunitas dalam memberikan asuhan
keperawatan keluarga yang optimal.

STEP 1
Klarifikasi istilah yang belum diketahui dalam kasus dan mencari istilah yang belum
diketahui.
1. Genogram: silsilah keluarga, dari kata gen dan diagram.
2. Struktur kekuasaan : hirarki dalam keluarga.
3. Stuktur peran: sebuah tanggung jawab, hak dan kewajiban setiap individu di dalam
keluarga.
4. Stres Marital: stres yang disebabkan masalah pernikahan.
5. Stres dan Koping Keluarga: adaptasi yang sesuai terhadap masalah yang terjadi di
dalam keluarga.
6. Nilai Keluarga: cara memandang antara sesama anggota keluarga atau bagaimana cara
pandang anggota keluarga terhadap lingkungan sosial sesuai dengan yang diajarkan di
dalam keluarga.
7. Fungsi keluarga: arti keluarga untuk setiap individu di dalamnya.
8. Tugas perkembangan keluarga: targetan yang harus dipenuhi untuk menjamin
meningkatnya kualitas hidup setiap individu anggota keluarga.
9. Family Folder: rekap medis keluarga.
STEP 2
Mendefiniskan masalah berdasarkan kasus dari berbagai pandangan terhadap skenario
dengan bentuk pertanyaan.
1. Apa yang menyebabkan kurang terpenuhinya nutrisi keluarga?
2. Apa yang menyebabkan keluarga mengalami kesulitan keluarga?
3. Mengapa tugas keluarga tidak terpenuhi?
4. Apa yang dimaksud dengan pola unik komunikasi pada keluarga tersebut?
5. Apa yang menyebabkan anak E dan C tinggal bersama nyonya H saat liburan saja?
6. Apa yang menyebabkan anak sering bolos sekolah?
7. Apa yang menyebabkan keluarga mengalami stres marital?
8. Apa hal yang perlu diperbaiki dalam keluarga untuk menghadapi stres marital?
9. Mengapa fungsi dan peran keluarga belum berjalan dengan baik?
10. Mengapa anak sering mengalami penyakit infeksi?
11. Tugas perkembangan keluarga apa yang belum terpenuhi?

STEP 3
Mendiskusikan masalah yang telah teridentifikasi dalam step 2 dengan jawaban singkat dari
pertanyaan pada step 2 berdasarkan pengetahuan dasar mahasiswa tanpa referensi.
1. Nutrisi keluarga tidak terpenuhi karena eterbatasan finansial sehingga keluarga tidak
mampu memenuhi kebutuhan nutrisi setiap anggota keluarganya.
2. Keluarga mengalami kesulitan karena:
- Banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.
- Tidak seimbangnya antara pemasukan dan pengeluaran keuangan keluarga.
- Tidak mampu mengelola keuangan.
- Tidak optimal dalam melakukan peran dalam keluarga.
3. Tugas keluarga tidak terpenuhi karena:
- Keluarga memiliki struktur dan peran keluarga yang unik
- Fungsi dan peran keluarga yang tidak baik
- Proses adaptasi antar keluarga masih kurang
4. Pola unik dalam komunikasi keluarga tersebut terjadi karena alur komunikasi yang
berbeda dari keluarga lainnya.
5. Penyebab anak E dan C tinggal bersama nyonya H saat liburan saja adalah:
- Hak asuh anak ada pada ayahnya.
- Anak tetap menjalin komunikasi dengan ibunya.
- Anak merasa tidak nyaman dengan keluarga barunya.
6. Penyebab anak sering bolos sekolah adalah kurangnya pantauan dan dukungan
motivasi dari keluarga.
7. Penyebab keluarga mengalami stres marital adalah komunikasi yang kurang efektif,
ekonomi yang tidak mendukung, kesehatan yang kurang baik, psikologis yang
tertekan, masalah anak, fungsi anggota keluarga yang tidak berjalan sesuai dengan
perannya, kekuasaan yang tidak seimbang, lemahnya koping stres keluarga, dan
perbedaan prinsip antara sesama anggota keluarga.
8. Hal yang perlu diperbaiki dalam keluarga untuk menghadapi stres marital adalah:
- Mempererat komunikasi antara sesama anggota keluarga.
- Melakukan mediasi antara sesama anggota keluarga.
- Memperbaiki spiritual keluarga.
9. Fungsi dan peran keluarga belum berjalan dengan baik karena keluarga mengalami
stres marital dan problematika keluarga.
10. Anak sering mengalami penyakit infeksi karena:
- Kondisi psikologis terganggu.
- Kebutuhan nutrisi anak kurang terpenuhi.
- Kurangnya pengetahuan keluarga mengenai penyakit.
11. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan peran dalam keluarga yang mendukung fisik dan
psikologis dari anggota individu keluarga.

STEP 4
Analisis masalah, review step 2 dan 3 dengan diskusi interaktif membuat peta konsep yang
berisi kesimpulan keseluruhan.
Definisi

Stres dan
Jenis
Koping

KELUARGA
Fungsi dan Tugas
Peran Perkembangan

Genogram Struktur

STEP 5
Merumuskan learning objective berdasarkan kesepakatan kelompok dengan persetujuan
dosen tutor. Minimal tujuan khusus harus dicapai.
1. Pengertian keluarga dan keperawatan keluarga.
2. Jenis-jenis keluarga.
3. Tugas dan perkembangan keluarga.
4. Struktur keluarga.
5. Genogram keluarga.
6. Fungsi dan peran keluarga.
7. Stres dan koping keluarga.
8. Aspek legal etik keperawatan keluarga.
9. Tugas dan perkembangan yang belum terpenuhi.

STEP 6
Self study, mahasiswa belajar mandiri dengan mencari sumber berdasarkan tujuan belajar
yang sudah disepakati kelompok
STEP 7
Hasil Reporting berdasarkan Lerning Objective :
1. Pengertian Keluarga dan Keperawatan Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Menurut Duvall & Logan (1986) dalam Friedman (1998), keluarga merupakan
sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan
untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, dan sosial, dari tiap anggota keluarga.
Menurut Hanson (2001) dalam Doane & Vercoe (2005), keluarga merupakan
orang yang punya hubungan resmi (ikatan darah, adopsi, perkawinan atau perwalian,
hubungan sosial dan hubungan psikologi).
Keluarga adalah sistem sosial yang terdiri dari dua atau lebih yang dihubungkan
karena hubungan darah perkawinan atau adopsi, tinggal Bersama untuk menciptakan
budaya tertentu (Setiawan, 2016).
Di lain sisi, Broom & Selznik (1973) dalam Logan & Dawkins (1986)
mendefinisikan keluarga sebagai unit berbasis persaudaraan (kin-based cooperative
unit). Keluarga terbagi ke dalam dua tipe:
1. Consanguine Family
Terbentuk berdasarkan hubungan darah
Contoh: orang tua dan anak
2. Conjugal Family
Terbentuk akibat adanya ikatan pernikahan
Contoh: suami dan istri

b. Pengertian Keperawatan Keluarga


Keperawatan Keluarga adalah rangkaian kegiatan yang diberikan melalui
praktik keperawatan dengan sasaran keluarga dan tujuannya untuk menyelesaikan
masalah keluarga berdasarkan pendekatan proses keperawatan keluarga (Setiawan,
2016).

2. Jenis Keluarga
 Secara Tradisional
a. Keluarga inti, yaitu terdiri dari ayah, ibu, dan anak.
b. Keluarga besar, yaitu keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih
mempunyai hubungan darah
 Secara Modern
a. Traditional nuclear, yaitu keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dalam
suatu ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
b. Reconstituted nuclear, yaitu pembentukan baru dari keluarga inti melalui
perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam satu rumah dengan anak-
anaknya.
c. Middle age/aging couple, yaitu suami sebagai pencari uang, istri di rumah
keduanya bekerja di rumah, dan anak bepergian.
d. Dyadic nuclear, yaitu suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai
anak.
e. Single parent, yaitu satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian
f. Dual carrier, yaitu suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak
g. Commuter married, yaitu suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal
terpisah
h. Single adult, yaitu wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dan tidak
menikah
i. Three generation, yaitu tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah
j. Institusional, yaitu anak-anak atau dewasa tinggal dalam suatu panti
k. Communal, yaitu satu rumah terdiri dari dua/lebih pasangan monogamy
l. Group marriage, yaitu satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya
di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain
dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
m. Unmarried parent and child, yaitu ibu dan anak dimana perkawinan tidak
dikehendaki dan anaknya diadopsi
n. Cohibing couple, yaitu dua orang (sepasang) yang tinggal bersama tanpa kawin
o. Gay and lesbian couple, yaitu keluarga yang dengan pasangan jenis kelamin
sama

3. Tahap dan Perkembangan Keluarga


Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Miller (Friedman, 1998)

a) Tahap 1 : Pasangan baru

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan


membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan masing-masing.
Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan
fungsi. Masing-msing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan setia
pasanganya. Adapun tugas perkembangan, yaitu:
a. Membina hubungan intim dan memuaskan
b. Mebina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak

b) Tahap II: keluarga “child bearing” kelahiran anak pertama dimulai sejak hamil
sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5
tahun. Tugas perkembangannya, yaitu:

a. Persiapan menjadi orangtua


b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
seksual dan kegiatan
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan. Peran perawat
adalah mengkaji perang orang tua ; bagaimana orang tua berinteraksi dan
merawat bayi. Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang
positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat
tercapai.

c) Tahap III: Keluarga dengan anak pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia
5 tahun. Tugas perkembangan:

a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga


b. Membantu anak untuk bersosialisasi
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak ain juga
harus terpenuhi
d. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun
dimasyarakat
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang

d) Tahap IV: Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun dan berakhir pada saat anak berumur 12
tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga
sangat sibuk. Tugas perkembangan keluarga, yaitu:

a. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah, dan lingkungan


b. Mempertahankan keitniman pasangan
c. Memenuhi kebuuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk
kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
e) Tahap V: Keluarga dengan anak remaja

Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian.
Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk
mempersiapkan diri menjadi orang dewasa. Tugas perkembangan keluarga, yaitu:

a. Membrikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab


b. Mempertahankan hubugan yang intim dengan keluarga
c. Mempertahankan komunikasi yang terbuka atara anak dan orang tua. Hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan
d. Perubahan system peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan
membimbing anak untuk bertanggung jawab.

f) Tahap VI: Keluarga dengan anak dewasa

Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak
terkhir meningalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan atau
tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas
perkembangannya:

a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar


b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Membantu orangtua memasuki masa tuanya
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

g) Tahap VII: Usia pertengahan

Tahap ini dimulai saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pension
atau salah satu pasangan meninggal. Fase dianggap paling sulit karena masa usia lanjut,
perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Tugas
perkembangannya:

a. Mempertahankan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-
anak
c. Meningkatkan keakraban pasangan. Fokus mempertahankan kesehatan pada
pola hidup sehat, diet seimbang, olahraga rutin, menikmati hidup, pekerjaan
dan lain sebagainya.

h) Tahap VIII: Keluarga usia lanjut

Dimulai pada saat pension sampai salah satu pasangan meninggal dan keduanya
meninggal. Tugas perkembangan:

a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan


b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasanga, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
c. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
e. Melakukan life review
f. Mempertahankan penataan yang memuaska merupakan tugas utama keluarga
pada tahap ini.

4. Struktur Keluarga

Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi


keluarga di masyarakat sekitarnya.

1. Dominasi jalur hubungan darah


- Patrilineal : keluarga yang berhubungan atau disusun melalui jalur garis keturunan
ayah.
- Matrilineal : keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis keturunan
ibu.
2. Dominasi keberadaan tempat tinggal
- Patrilokal : keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga
sedarah dari pihak suami
- Matrilokal : keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga
sedarah dari pihak istri
3. Dominasi pengambilan keputusan
- patriakal : dominasi pengambilan keputusan ada di pihak suami
- maritriakal : dominasi pengambilan keputusan ada di pihak istri

Sementara itu terdapat empat elemen struktur keluarga, :

1. Struktur dan peran keluarga, menggambarkan peran masing masing anggota keluarga
dalam keluarga sendiri dan perannya di lingkungan masyarakat atau peran formal dan
informal
2. Nilai atau norma keluarga, menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan
diyakini oleh keluarga, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan
3. Pola komunikasi keluarga, menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi
ayah-ibu (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan anak, dan anggota keluarga
lain (pada keluarga besar) dengan keluarga inti
4. Struktur kekuatan keluarga, menggambarkan kemampuan anggota keluarga untuk
memengaruhi dan mengandalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang
mendukung kesehatan.

5. Genogram
Genogram adalah struktur atau kerangka dari beberapa generasi keluarga. Ini
termasuk struktur dan komposisi keluarga, menggunakan simbol untuk menggambarkan
keanggotaan keluarga, hubungan biologis, emosional, dan hukum, dan ketergantungan
antar anggota. (McGoldrick et al., 1999).

6. Fungsi dan Peran Keluarga


Berdasarkan UU No.10 tahun 1992 PP No. 21 tahun 1994 tertulis fungsi keluarga
dalam delapan bentuk yaitu:
a) fungsi keagamaan
Fungsi keagamaan dalam keluarga dan anggotanya didorong dan dikembangkan agar
kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian nilai-nilai agama dan nilai-nilai
luhur budaya bangsa untuk menjadi insan-insan agamis yang penuh iman dan taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b) fungsi sosial budaya
Fungsi sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam
dalam satu kesatuan.
c) Fungsi cinta kasih
Fungsi cinta kasih dalam keluarga akan memberikan landasan yang kokoh terhadap
hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta
hubungan kekerabatan antar generasi sehingga keluarga menjadi wadah utama
bersemainya kehidupan yang penuh cinta 'kasih lahir dan batin.
d) Fungsi melindungi
Fungsi melindungi dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa aman dan kehangatan.
e) Fungsi reproduksi
Fungsi reproduksi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan keturunan yang
direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan manusia di dunia yang
penuh iman dan taqwa.
f) Fungsi sosialisasi dan pendidikan
Fungsi sosialisasi dan pendidikan memberikan peran kepada keluarga untuk
mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di
masa depan.
g) Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi menjadi unsur pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
h) Fungsi pembinaan lingkungan
Fungsi pembinaan lingkungan memberikan pada setiap keluarga kemampuan
menempatkan diri secara serasi, selaras, dan seimbang sesuai daya dukung alam dan
lingkungan yang berubah secara dinamis.

7. Stres dan Koping Keluarga


Menurut Haber dan Runyon (1984) mendefinisikan stres sebagai konflik yang
berupa tekanan eksternal dan internal serta permaslahan lainnya dalam kehidupan. Dalam
hal ini, stres dalam keluarga adalah konflik atau segala permasalahan yang melibatkan
seluruh anggota yang ada dalam suatu keluarga yang dipicu oleh munculnya tekanan baik
dari eksternal maupun internal sehingga mengakibatkan adanya perubahan-perubahan
sesuai dengan pandangan atau persepsi keluarga.
Coping stress merupakan suatu proses dimana individu mencoba untuk mengelola
jarak yang ada antara tuntutan-tuntutan, baik itu tuntutan yang berasal dari individu
maupun yang berasal dari lingkungan dengan sumber-sumber daya yang mereka gunakan
yang dimaksudkan dalam menghadapi stress. (Lazarus & Folkman, 1994)
Maka dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa koping keluarga merupakan proses
manajemen untuk melindungi diri dan menangani kejadian stres yang dilakukan oleh
keluarga dan oleh tiap individu dalam keluarga dimana stres dapat muncul akibat adanya
tuntutan-tuntutan situasi yang dianggap membebani atau melebihi kemampuan diri tiap
individu dalam keluarga.
Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Bowman dan Stern, 1995), secara umum
strategi coping dibagi ke dalam dua kategori utama yaitu:
a. Problem Focused Coping,
Problem Focused Coping merupakan salah satu bentuk coping yang lebih berorientasi
pada pemecahan masalah (problem solving), meliputi usaha-usaha untuk mengatur atau
merubah kondisi objektif yang merupakan sumber kecemasan atau melakukan sesuatu
untuk merubah sumber kecemasan tersebut dan merupakan strategi yang bersifat eksternal.
b. Emotion Focused Coping
Emotion Focused Coping merupakan usaha-usaha untuk mengurangi atau mengatur emosi
dengan cara menghindari berhadapan langsung dengan stresor dan merupakan strategi
yang bersifat internal. Dalam emotional focused coping terdapat kecenderungan untuk
lebih memfokuskan diri dan melepaskan emosi yang berfokus pada kekecewaan ataupun
distres yang dialami dalam rangka melepaskan emosi atau perasaan tersebut (focusing on
and venting of emotion).
8. Aspek Legal Etik
Etik merupakan sekumpulan nilai dan aksi moral. Nilai didasarkan pada prinsip
yang dimiliki oleh perorangan atau kelompok. Aspek etik berhubungan dengan prinsip dan
konsep moral mana yang baik dan mana yang buruk.
Prinsip etik (Mauk, 2006) :
1. Advokasi
2. Otonomi
3. Beneficience (melakukan kebaikan)
4. Confidentiality (menjaga kerahasiaan)
5. Fidelity (kesetiaan)
6. Fiduciary responsibility (melakukan yang terbaik untuk klien dan institusi tempat
bekerja)
7. Justice (keadilan)
8. Quality and sanctity of life (kualitas dan kesucian hidup)
9. Reciprocity (kemampuan seseorang untuk jujur pada dirinya sendiri)
10. Veracity (kejujuran)

Aspek legal adalah hukum. Didasarkan pada peraturan dan regulasi yang ada pada
masyarakat dan bersifat mengikat pada setiap anggotanya. Dua istilah legal yang wajib
dipahami oleh perawat adalah kelalaian dan malprktik. Kelalaian diartikan sebagai
kegagalan sesesorang dalam melakukan perawatan dan melindungi orang lain dari bahaya.
Malpraktik diartikan sebagai kelalaian yang dilakukan oleh seorang profesional dalam
memberikan perawatan bagi orang lain.

9. Tugas dan Perkembangan Yang Belum Terpenuhi


Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi pada keluarga Tn. A adalah
dari tahap perkembangan keluarga menurut Duval (1985), keluarga Tn. A termasuk ke
dalam keluarga dengan anak usia sekolah dan keluarga dengan anak remaja.
Untuk keluarga dengan anak usia sekolah, tugas perkembangan yang belum
terpenuhi adalah kurangnya membantu sosialisasi anak terhadap di lingkungan luar
rumah , sekolah dan lingkungan lebih luas dan ini ditunjukkan dengan anak yang sering
bolos sekolah. Mungkin ini disebabkan kurangnya bantuan sosialisasi kepada anak
sehingga kurang nyaman berada di lingkungan sekolah dan menyebabkan anak sering
bolos. Anak bolos sekolah juga akan berdampak pada belum terpenuhinya tugas
perkembangan keluarga dalam mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya
intelektual. Selain itu juga, tugas dalam hal memenuhi kebutuhan yang meningkat
termasuk kehidupan dan kesehatan anggota keluarga juga belum terpenuhi. Hal ini
ditunjukan dengan kesulitan keuangan, kebutuhan nutrisi yang kurang, serta sering
terjadinya kejadian penyakit infeksi pada anak.
Untuk keluarga dengan anak remaja pada kasus ini, tugas perkembangan yang
berlum terpenuhi adalah keluarga belum memelihara komunikasi terbuka terlebih pada
mencegah terjadinya gap komunikasi, ini ditunjukan bahwa pola komunikasi pada
keluarga ini cukup unik dan menjadi sorotan dalam kasus ini. Selain itu juga, keluarga
belum memenuhi tugas dalam memelihara hubungan intim dalam keluarga. Terakhir,
tugas perkembangan keluarga yang belum dipenuhi oleh keluarga ini adalah keluarga ini
belum maksimal dalam melakukan pengembangan terhadap anak remaja mereka,
terlebih dalam hal memberikan kebebasan yang bertanggung jawab. Ini terlihat dengan
anak yang sering bolos sekolah. Upaya pemenuhan pendidikan sudah diberikan, namun
tidak dilaksanakan dengan bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA

Setiawan, Ridwan. (2016). Teori dan Praktek Keperawatan Keluarga. Semarang : Unnes Press
Harnilawati, 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Pustaka As Salam: Sulawesi
Selatan
Efendy, F., & Makhfudli. (Ed.). (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktik Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika

Suprajitno. (Ed.). (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga, Jakarta: EGC

Frame. M . W. 2000. 'The Spiritual Genogram In Family Therapy': Journal of Marital and
Family Therapy. Vol. 26, No. 2,211-216
Maryam, 2016, ‘Stres Keluarga: Model dan Pengukurannya’, Jurnal Psikoislamedia, Vol. 1,
No 2, hh. 335-336.
Bowman, G. D & Stern, M. (....). ‘Adjustment to occupational stress: The relationship of
perceived control to affectiveness of coping strategies’. Jurnal of Counseling
Psychology. V 42 No 2.
Sudiharto. 2014. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan
Transkultural. Jakarta: EGC