Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Sejalan dengan proses tumbuh kembang, rambut akan mengalami fase

kerontokan. Kerontokan sering menyebabkan masalah, khususnya bagi seseorang

yang mengutamakan penampilan. Pada manusia kerontokan rambut dapat terjadi di

salah satu bagian saja, misalnya di kepala atau dapat terjadi pada bagian tubuh lain.

Rata-rata pada kulit kepala manusia terdapat ± 100.000 helai rambut. Secara normal

setiap hari ± 100 rambut di kepala akan rontok.1,2

Kerontokan rambut terjadi karena fisiologis normal dari tubuh tetapi dapat

juga terjadi karena adanya kelainan atau penyakit di dalam tubuh. Kerontokan rambut

bisa menyebabkan kebotakan atau dapat disebut alopesia. Alopesia dibagi menjadi 2

macam, yaitu alopesia nonsikatrik yang bersifat reversible dan alopesia sikatrik yang

bersifat nonreversibel. Salah satu jenis alopesia nonsikatrik adalah telogen effluvium.3

Telogen effluvium atau kerontokan rambut telogen merupakan jenis

kerontokan terbanyak yang bisa terjadi di daerah vertex maupun temporal, namun

kerontokan juga bisa tersebar sehingga tidak terlihat. Kerontokan rambut dapat

menyebabkan stres pada beberapa orang khususnya wanita, sehingga penanganan

serta edukasi tentang telogen effluvium ini penting untuk dilakukan.1-3

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI

Telogen effluvium merupakan kerontokan rambut berlebih yang disebabkan

karena peningkatan dari folikel rambut fase telogen. Telogen effluvium adalah bentuk

alopesia nonsikatrik yang berkarakteristik dengan adanya kerontokan rambut telogen.

Kerontokan rambut pada telogen effluvium bersifat self-limiting, reversible,

nonsikatrik dan kerontokan rambut yang luas pada kulit kepala sering berlangsung

selama 3-6 bulan atau lebih serta diikuti dengan penyakit berat atau faktor pemicu

lain.1-3

2.2 FISIOLOGI SIKLUS PERTUMBUHAN RAMBUT

Pada mamalia, folikel rambut memiliki fase pertumbuhan berulang dan fase

istirahat. Secara umum, siklus normal pertumbuhan folikel rambut terbagi menjadi 3

fase) yaitu fase anagen, katagen, dan telogen.1,3,4

1. Fase anagen berlangsung selama 2 sampai 8 tahun. 1 Pada fase ini sel – sel

matriks melalui mitosis membentuk sel- sel baru, mendorong sel- sel yang lebih

tua ke atas.4 Pada kulit kepala normal, 90 – 95% folikel rambut berada pada fase

anagen.1 Pada fase anagen terbagi atas 7 tahap yaitu:1

a) Tahap I, terjadi pertumbuhan pada daerah papilla dermis dan peningkatan

aktivitas mitosis pada bagian atas epitel.

2
b) Tahap II, sel-sel matriks pada tunas yang baru menyelimut papilla dermal

dan memulai diferensiasi.

c) Tahap III, sel-sel matriks pada tunas rambut menunjukan tanda-tanda

diferensiasi ke dalam komponen folikel rambut.

d) Tahap IV, terjadi reaktivasi dari sel matriks melanosit.

e) Tahap V, batang rambut muncul dan mendorong rambut telogen keluar

f) Tahap VI, batang rambut yang baru muncul dari permukaan kulit.

g) Tahap VII, terjadi pertumbuhan rambut yang stabil.

2. Fase katagen merupakan masa peralihan yang didahului oleh penebalan jaringan

ikat di sekitar folikel rambut.1,4 Pada fase ini folikel rambut mengalami

pengurangan dan merupakan sinyal berakhirnya fase anagen.1 Kurang dari 1%

dari kulit kepala berada dalam fase ini. 1,3 Bagian tengah akar rambut menyempit,

bagian bawahnya melebar, dan mengalami pertandukan sehingga berbentuk gada

(club). Fase peralihan ini berlangsung selama 4 sampai 6 minggu.4

3. Fase telogen merupakan masa istirahat dimulai dengan memendeknya sel epitel

dan berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga rambut gada akan

terdorong keluar. Fase telogen berlangsung selama 2 sampai 3 bulan. Jumlah

rambut dalam fase telogen berkisar 5-10% berada pada fase telogen. 1,4 Fase

telogen banyak terdapat pada daerah alis mata, bulu mata, badan dan pada

rambut kaki.1

3
Pada keadaan normal sekitar 100-150 rambut mengalami kerontokan tiap hari.

Hal ini merupakan kondisi yang normal sampai folikel rambut memasuki kembali

fase anagen.1

Gambar 1. Siklus Pertumbuhan Rambut3

4
2.3 ETIOLOGI DAN PATOGENESIS TELOGEN EFFLUVIUM

Telogen effluvium dapat dipicu oleh stres metabolik, perubahan hormone

ataupun karena penggunaan obat-obatan.5,6 Beberapa hal yang dapat menyebabkan

terjadinya Telogen effluvium (TE) antara lain:

a) Hormonal, seperti hipo atau hipertiroidisme, paska melahirkan, aborsi,

penghentian konsumsi obat yang mengandung estrogen. Beberapa wanita akan

mengalami TE 2-3 bulan setelah berhenti mengkonsumsi obat kontrasetif.1,3,4


b) Nutrisi, yaitu penurunan berat badan pada individu yang melakukan diet ketat,

malnutrisi kalori protein, defisiensi zat besi.1,4

c) Stress fisik atau emosional, seperti penyakit sistemik akut maupun kronik (SLE,

sifiliss, penyakit ginjal dan hepar) , malnutrisi, infeksi berat, operasi besar,

demam tinggi, kecemasan, depresi. 1,2

d) Intoksikasi. Thalium, merkuri, dan arsenik.1,3

e) Obat – obatan yang diketahui menyebabkan TE yaitu: antikoagulan, ß blocker,

captopril, colhicine, cimetidine, lithium. 1

Gambar 2. Obat-Obatan yang mengakibatkan Telogen Effluvium3

5
Patofisiologi penyebab terjadinya telogen efluvium dikaraterisik oleh perubahan

secara prematur rambut yang berada pada fase anagen menjadi fase katagen dan fase

telogen.1,3 Meskipun begitu, terdapat beberapa variasi dalam proses terjadinya, yaitu

dapat berupa pemanjangan fase anagen dan fase telogen yang terlalu pendek atau

memanjang.3 Kerontokan rambut akan mulai terjadi dalam waktu 2-3 bulan setelah

terpapar faktor pemicu.1-3

2.4 KLASIFIKASI

Klasifikasi dari telogen effluvium terbagi atas 2 yaitu berdasarkan waktu

perjalanan penyakit dan berdasarkan patomekanismenya.1,7-9

Berdasarkan waktu perjalanan penyakit, telogen effluvium terbagi menjadi

akut dan kronik.7,8,9

a) Telogen effluvium akut apabila terjadi dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan

dengan awitan 2 – 3 bulan setelah adanya faktor pemicu. 7,8,9

b) Telogen effluvium kronik pertama kali dideskripsikan oleh David A. Whiting

pada tahun 1996. 2,10 Tellogen effluvium kronik terjadi dengan durasi lebih dari 6

bulan, bersifat idiopatik dan resolusinya lambat. Telogen efluvium (TE) kronik

biasanya terjadi pada usia 40-50 tahun.10

Gambar 3. Penipisan difus pada pasien perempuan dengan telogen efluvium akut1

6
Berdasarkan patomekanisme yang terjadi pada siklus rambut, Headington

membagi TE menjadi 5 tipe fungsional, yaitu 1,7,9

a. Immediate anagen release, onset effluvium singkat, terjadi stimulasi folikel

untuk meninggalkan fase anagen dan masuk fase telogen secara premature disertai

terjadinya peningkatan rambut yang lepas pada akhir fase, berlangsung sekitar 2-3

bulan kemudian. Terjadi setelah stress fisiologis, sakit berat, maupun penggunaan

obat-obatan. 7

b. Delayed anagen release, folikel rambut bertahan lama pada fase anagen, ketika

masuk fase telogen rambut dilepaskan dalam jumlah besar. biasanya terjadi pasca

melahirkan. Juga disebut sebagai telogen gravidarum. 1,7,9

c. Immediate telogen release, program folikel rambut normal untuk selanjutnya

akan melepaskan club hair 100 hari setelah akhir fase anagen. Pada tipe ini, fase

telogen berakhir lebih cepat diikuti pelepasan rambut telogen yang kemudian

7
menstimulasi folikel untuk memulai kembali fase anagen. Tipe ini dapat terjadi

pada penggunaan minoksidil topikal, yang dapat menstimulasi folikel segera

masuk pada fase anagen.1,9

d. Delayed telogen release, terjadi fase telogen yang memanjang diikuti proses

transisi ke fase anagen.1,7

e. Short anagen phase, terjadi pemendekan fase anagen yang signifikan dan

mengakibatkan pelepasan rambut telogen yang meningkat dan memendeknya

panjang rambut.7

2.5. Diagnosis

Pendekatan diagnostik Telogen Effluvium dapat dilakukan dengan cara menggali

anamnesis lebih rinci, pemeriksaan skalp dan rambut, analisis mikroskopik, biopsi

dan pemeriksaan laboratorium.9

2.5.1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Dalam anamnesis terhadap telogen efluvium harus ditanyakan durasi terjadinya

kerontokan rambut. Faktor yang mungkin menjadi pemicu dalam 2 -5 bulan sebelum

munculnya kerontokan rambut haarus diidentifikasi. Hal – hal mengenai riwayat

melahirkan, operasi, stress psikososial, serta penggunaan obat – obatan yang menjadi

pemicu terjadinya TE harus ditanyakan. Sebagai tambahan, dapat juga ditanyakan,

siklus menstruasi yang tidak teratur, jerawat, yang dapat menyingkirkan penyebab

lain kerontokan rambut yaitu Female pattern hair loss.9

Pada telogen effluvium akut, kebanyakan wanita akan datang dengan „bag

sign“: membawa tas berisi rambut yang mereka kumpulkan setiap hari atau selama

8
beberapa hari. Lebih dari 300 rambut telogen yang gugur setiap hari.3 pemeriksaan

fisik menyeluruh terhadap kulit kepala dapat menunjukan adanya penurunan densitas

rambut khususnya pada bagian temporal.3

Pada telogen effluvium kronik, pasien akan datang dengan keluhan kerontokan

rambut yang masif atau episode kerontokan yang berulang. Kerontokan rambut yang

terjadi lebih dari 6 bulan setelah terpapar faktor pemicu, atau gejala yang muncul

setelah putus pengobatan yang diduga sebagai penyebab, harus dipikirkan sebagai

telogen effluvium kronik. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan densitas rambut

yang normal atau berkurang. 3

Gambar 4. Sistematika Evaluasi Kerontokan Rambut3


2.5.2. Pemeriksaan Penunjang

9
Diagnosis telogen efluvium memerlukan beberapa pemeriksaan diantaranya tes

tarikan rambut, pemeriksaan darah rutin, kimia darah, pemeriksaan TSH,

histopatologi, serologi dan status nutrisi( serum zink dan besi). Pemeriksaan tersebut

dilakukan apabila terdapat gejala yang mengarah ke kondisi tersebut. Dua penyebab

utama terjadinya TE yaitu anemia defisiensi besi dan gangguan hormon tiroid.1

Selain itu, beberapa pemeriksaan penunjang pada rambut untuk mendiagnosis

secara tepat telogen effluvium, antara lain:

a. Tes Tarik Rambut (Hair pull test)

Uji penarikan rambut (hair pull test) dengan mengambil sekelompok

rambut (50–100 helai) pada suatu area, kemudian menarik ke arah distal dengan

tekanan yang lembut dilakukan pada beberapa area rambut kepala. Pada

keadaan normal rambut yang tercabut 2–6 helai. Hasil negatif tidak dapat

menyingkirkan diagnosis TE. Pada androgenetik alopesia didapatkan hasil

negatif, pada TE hasil positif dan berupa rambut telogen, dan pada Alopesia

Aerata hasil positif selain berupa rambut telogen juga didapatkan distrofik

anagen.5,7,9

10
Gambar 4. Tes Tarik Rambut5

b. Forcible hair pluck/trichogram

Forcible hair pluck/trichogram adalah pemeriksaan dengan cara rambut

dijepit dengan alat hemostat dekat dengan kulit kepala, sejumlah 50–60 helai

rambut akan tercabut menurut arah pertumbuhan rambut. Kemudian gambaran

folikel rambut dilihat dengan mikroskop cahaya. Dalam keadaan normal

sejumlah 10–15% rambut berada dalam fase telogen, dan terbanyak di daerah

frontal dan vertex. Diagnosis TE bila didapatkan hitung telogen lebih dari

25%.5,9

c. Pemeriksaan Mikroskopik

Analisis mikroskopik rambut dilakukan untuk menentukan rambut

telogen atau anagen yang didapat dari hair pull test atau forcible hair pluck.

Rambut telogen normal ditemukan, sebaliknya rambut anagen

menunjukkan adanya proses patologik.3,9

11
2.6. Diagnosis Banding

Diagnosis banding termasuk alopesia aerata, anagen effluvium, androgenetik

alopesia.3,6

Pada alopesia areata difus kulit kepala tampak normal, dengan pola kerontokan

difus3, hair pull test positif bermakna (< 10 helai tiap traksi) dan terdapat peningkatan

rambut telogen serta secara mikroskopik dapat ditemukan infiltrat inflamatory

peribulbar.3,8

Pada alopesia androgenetika rambut rontok berlebihan dan menipis terutama di

bagian crown, vertex atau frontal dan pada pemeriksaan histologis terdapat

pengecilan folikel pangkal rambut menjadi folikel yang menyerupai velus dan pada

pemeriksaan hair pull test didapatkan hasil negatif.3,8

Sementara pada anagen efluvium ditandai dengan pelepasan atau patahnya

rambut anagen yang berlebihan, pada dermoskopi didapatkan yellow dots, dengan

persentase kerontokan rambut 80-90% dibandingkan telogen effluvium yang sekitar

20-50%, 2,3

Gambar 5. Diagnosis differensial telogen effluvium dan anagen effluvium3

12
Gambar 6. Diagnosis Diferensial alopecia nonsikatrik3
2.7. TERAPI

Penatalaksanaan TE bersifat kausatif yaitu dengan mengeliminasi faktor

etiologi atau pemicu yang telah diidentifikasi.1,4 Pada TE akut dapat terjadi resolusi

setelah faktor etiologinya disingkirkan dan akan memberikan hasil perbaikan

penurunan jumlah kerontokan rambut dan densitas rambut kembali normal yang

berlangsung dalam waktu antara 6 bulan hingga 1 tahun. 2,7,8 Namun pada TE kronik

sulit karena faktor etiologi sulit diidentifikasi dan proses berlangsung lama sehingga

resolusi lambat.10

13
Pemberian suplemen zat besi direkomendasikan jika kadar feritrin dibawah

70ng/mL.3 Pemberian topikal minoxidil solution 2% atau 5% 1 ml sebanyak 2 kali

sehari dapat dilakukan untuk terapi telogen effluvium,3,8,10 terutama pada perempuan

dengan kerontokan rambut yang berkepanjangan dengan faktor pemicu yang tidak

diketahui.3

2.8. PROGNOSIS

Prognosis untuk telogen effluvium adalah baik jika penyebab utamanya diketahui dan

terapi yang diberikan adekuat.1,6 Mortalitas akibat telogen effluvium belum pernah

dilaporkan.1,6-8

DAFTAR PUSTAKA

14
1. Cotsarelis G, Botchkarev, Katz SI, Gilchrest AB, Paller SA, Leffel JD, Wolff K.
Fitzpatrick’s Dermatology in general medicine. 8th ed. New York: McGraw-Hill
Inc; 2012.p.964, 988-90.
2. Bolognia JL, Jorizzo JL, Schaffer JV. Dermatology. 3rd ed. Philadelphia:
Elsevier Saunders;2012. p.1098-99
3. Habif TP. Clinical Dermatology. 5th ed. Mosby Elsevier;2010. p.920-21
4. Soepardiman L. Kelainan rambut. Dalam: Djuanda A, editor. Ilmu penyakit kulit
dan kelamin. Edisi 7. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. p. 361
5. Liyanage D, Sinclair R. Telogen Effluvium. A review oft he Literature.
Cosmetics MDPI: 2016 Mar;3(13):p.1-8
6. Hughes C. E, Taneja A. Telogen Effluvium. National Institute of
Health:StatPearls Publishing; 2018 Jan
7. Griffits E. M. C, Barker J, Bleiker T, Chalmers R, Creamer D. Rook´s Textbook
of Dermatology.9th edition. United Kingdom: Wiley_Blackwell;2016.p.89.24-28
8. Busam K.J. Dermatopathology. 2nd Ed. Philadelphia: Elesevier Saunders;
2016.p. 285-86
9. Ozlu E, Karadag S. A. Hair and Scalp Disorder. Chapt.8: Tellogen Effluvium.
INTECh: 2017p.125-138
10. Shashikant, Dyavannanavar V, Warad R S. Chronic Telogen Effluvium- A Short
Review. Int J Cur Res Rev: 2015 July; Vol 7(13)p.22-4

15