Anda di halaman 1dari 22

BARISAN DAN DERET BILANGAN KOMPLEKS

Di Susun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Analisa Kompleks

Dosen Pengampu : Indah Mayasari, M.Pd

Disusun oleh :

Yuliana Dwi Wijayanti 20158300097


Santi Yulianti 20158300119
Nur’Amalia 20158300044
Runia 20148300008
Nurmelinda 20158300203

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


STKIP KUSUMA NEGARA JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya
maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pendekatan Kooperatif”.
Penulisan ini merupakan salah satu tugas dan syarat untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah Strategi Pembelajaran Matematika. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih
banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Jakarta, 24 Oktober 2018

Kelompok XII

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................ i

Daftar Isi ................................................................................................................................. ii

Bab I Pendahuluan

1. Latar Belakang ............................................................................................................ 1


2. Rumusan Masalah ....................................................................................................... 1
3. Tujuan ......................................................................................................................... 1

Bab II Pembahasan

1. Materi Pendukung ....................................................................................................... 2


A. Pengertian Barisan dan Deret ................................................................................. 2
B. Barisan dan Deret dalam Aljabar ........................................................................... 2
C. Bilangan Kompleks ................................................................................................ 4
2. Barisan Bilangan Kompleks ........................................................................................ 5
3. Kekonvergenan Barisan Bilangan Kompleks ............................................................. 6
4. Deret Bilangan Kompleks ........................................................................................... 8
A. Deret Konvergen .................................................................................................... 9
B. Uji Konvergensi pada Deret Bilangan Kompleks ................................................10

Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bilangan adalah salah satu bagian terpenting dalam ilmu matematika. Bilangan
tidak hanya sesuatu yang bisa dan terlihat dalam kehidupan yang kita sebut bilangan
real namun ada juga bilangan yang tidak terlihat ada niainya yang kita kenal sebagai
bilangan imajiner. Bilangan kompleks adalah kumpulan dari semua bilangan. Bilangan
kompleks terdiri dari bilangan real dan bilangan imajiner atau dapat ditulis dengan x +
iy, dimana x dan y adalah bilangan real, dan i adalah bilangan imajiner yang nilainya
√−1. Bilangan ini juga dapat di operasikan seperti halnya bilangan real, dapat diintegral
, dideferensial, dapat disajikan dalam bentuk geometris dan dapat diurutkan sesuai
dengan aturan tertentu.
Pengurutan suatu bilangan dengan aturan tertentu disebut dengan barisan,
sedangkan penjumlahan bilangan dari suatu barisan disebut deret. Untuk lebih
mengetahui mengenai barisan dan deret bilangan kompleks, akan dibahas dalam
makalah ini.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah barisan dan deret bilangan kompleks itu?
3. Tujuan
a. Untuk mengetahui mengenai barisan dan deret bilangan kompleks.

1
BAB II

PEMBAHASAN

1. Materi Pendukung
A. Pengertian Barisan dan Deret
Barisan bilangan adalah sekumpulan bilangan yang telat diurutkan menurut suatu
aturan tertentu. Masing-masing bilangan tersebut dinamakan suku barisan. Suku
berikutnya dari suatu bilangan dapat ditentukan apabila telah diketahui paling sedikit
tiga buah suku atau rumus suku ke-n dari barisan bilangan itu.
Contoh :
2 5 8 11
Tentukan tiga suku berikutnya dari barisan bilangan 3 , 7 , 11 , 15 , ….

Jawab :
Karena barisan tersebut agak sulit dikerjakan secara langsung maka kita bagi menjadi
2 bagian, yakni barisan pembilang dan barisan penyebut.
1) Barisan untuk pembilang
𝑈1 = 2
𝑈2 = 5 = 2 + 3
𝑈3 = 8 = 5 + 3
𝑈4 = 11 = 8 + 3
Maka 𝑈5 = 11 + 3 = 14, 𝑈6 = 14 + 3 = 17 𝑑𝑎𝑛 𝑈7 = 17 + 3 = 20
2) Barisan untuk penyebut
𝑈1 = 3
𝑈2 = 7 = 3 + 4
𝑈3 = 11 = 7 + 4
𝑈4 = 15 = 11 + 4
Maka 𝑈5 = 15 + 4 = 19, 𝑈6 = 19 + 4 = 23 𝑑𝑎𝑛 𝑈7 = 23 + 4 = 27
2 5 8 11 14 17 20
Dengan demikian diperoleh barisan 3 , 7 , 11 , 15 , 19 , 23 , 27

B. Barisan dan Deret dalam Aljabar


1) Barisan dan deret aritmatika
Kita ketahui bahwa untuk menentukan rumus suku ke-n barisan aritmatika, yaitu :
𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏
𝑎 = 𝑈1
𝑏 = 𝑈2 − 𝑈1

2
Sama halnya dengan barisan aritmatika, bentuk umum dari deret aritmatika yaitu:
𝑛 𝑛
𝑆𝑛 = [2𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏] 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑆𝑛 = (𝑎 + 𝑈𝑛 )
2 2
Contoh :
Tentukanlan penjumlahan bilangan bulat antara 4 dan 99 yang habis dibagi 5 !
Jawab :
Karena diketahui bilangan bulat antara 4 dan 99 yang habis dibagi 5, maka
deretnya 5 + 10 + 15 + 20 + ... + 95
Dari penjelasan barisan dan deret dapat kita tentuka suku-suku dan bedanya,
yakni 𝑈1 = 5, 𝑈2 = 10, 𝑏 = 5. Selanjutnya kita harus mengetahui banyak suku
bilangan yang berada antara 4 dan 99.
𝑈𝑛 = 𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏
95 = 5 + (𝑛 − 1)5
95 = 5 + 5𝑛 − 5
95 = 5𝑛
95
𝑛= = 19
5

Karena banyaknya suku adalah 19, maka jumlah bilangan antara 4 dan 99 yaitu,
𝑛
𝑆𝑛 = [2𝑎 + (𝑛 − 1)𝑏]
2
19
𝑆19 = [2. 5 + (19 − 1)5]
2
19
𝑆19 = [10 + 90]
2

𝑆19 = 950
2) Barisan dan deret geometri
Barisan geometri adalah barisan yang setiap sukunya didapat dengan
membagi atau mengalikan dengan suatu bilangan tetap. Sama halnya seperti
barisan dan deret aritmatika, barisan dan deret geometri juga memiliki suku
tetap yang namanya rasio. Bedanya, pada aritmatika suku tetap didapat dari
selisih suatu suku dengan suku sebelumnya, sedangkan geometri didapat dari
perkalian atau pembagian suatu suku dengan suku sebelumnya.
Didapat rumus suku ke-n barisan geometri adalah : 𝑈𝑛 = 𝑎𝑟 𝑛−1 maka
𝑈𝑛
𝑟=𝑈 .
𝑛−1

Contoh :
1
Tentukan suku ke delapan dari barisan 3 , 1,3,9, …

3
Jawab :
1 1
Dari barisan tersbeut diketahui 𝑎 = 3 𝑑𝑎𝑛 𝑟 = 1 ∶ = 1𝑥3 = 3
3
1 1 1
𝑈8 = 𝑥(3)8−1 = 𝑥(3)7 = 𝑥2187 = 729
3 3 3
Dan untuk mencari deret geometri menggunakan rumus :
𝑎(1 − 𝑟 𝑛 ) 𝑎(𝑟 𝑛 − 1)
𝑆𝑛 = , 𝑟 < 1𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑆𝑛 = ,𝑟 > 1
1−𝑟 𝑟−1
Contoh :
Tentukan julah delapa suku pertama dari deret 3 + 6 + 12 + ....
Jawab :
6
𝑈1 = 3, 𝑈2 = 6, 𝑟 = = 2, 𝑛 = 8
3

Karena r > 1, maka :


3(28 −1)
𝑆8 = = 3(255) = 765
2−1

C. Bilangan Kompleks
1. Pengertian Bilangan Kompleks
Bilangan kompleks dapat diartikan sebagai kombinasi bilangan imajiner
dan bilangan real . selain itu bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk
a + bi dimana a,b ∈ R dan i = √−1.
Hal ini juga sependapat dengan Jalinus yang mengatakan bahwa
Bilangan kompleks adalah bilangan yang berbentuk z = x + iy atau z = x + yi,
dengan x, y ∈ 𝑅 dan 𝑖 2 = −1. Penulisan bilangan kompleks dengan bentuk
notasi himpunan, dapat dinyatakan 𝐶 = {𝑧 = 𝑥 + 𝑖𝑦|𝑥, 𝑦 ∈ 𝑅, 𝑖 2 = −1}, maka
x dinamakan baian real dari zdan y bagian imajiner dari z atau dapat ditulis x
= Re(z) dan y = lm(z).
Jika lm(z) = 0 maka bilangan z menjadi bilangan real, atau dengan kata
lain bilangan z sama dengan bilangan real. Dan jika Re(z) = 0, maka bilangan
z menjadi iy (y ≠ 0, y = 1) dinamakan bilangan imajiner murni.
2. Operasi hitung pada Bilangan Kompleks
Defisini : bilangan kompleks 𝑧1 = 𝑥1 + 𝑖𝑦1 dan 𝑧2 = 𝑥2 + 𝑖𝑦2 dikatakan sama
dan dinyatakan 𝑧1 = 𝑧2 ↔ 𝑥1 = 𝑥2 𝑑𝑎𝑛 𝑦1 = 𝑦2.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dua bilangan kompleks dikatakan
sama jika dan hanya jika bilangan real dan bilangan imajiner dari kedua

4
bilangan kompleks itu sama. Sedangkan jika bilangan-bilangannya tidak sama
maka dapat dikatakan bahwa bilangan kompleksnya juga tidak sama.
Jika ada dua bilangan kompleks yakni 𝑧1 = 𝑥1 + 𝑖𝑦1 dan 𝑧2 = 𝑥2 + 𝑖𝑦2
dilakukan operasi hitung maka :
a. Penjumlahan
𝑧1 + 𝑧2 = (𝑥1 + 𝑖𝑦1 ) + (𝑥2 + 𝑖𝑦2 ) = (𝑥1 + 𝑥2 ) + 𝑖(𝑦1 + 𝑦2 )
b. Pengurangan
𝑧1 − 𝑧2 = (𝑥1 + 𝑖𝑦1 ) − (𝑥2 + 𝑖𝑦2 ) = (𝑥1 − 𝑥2 ) + 𝑖(𝑦1 − 𝑦2 )
c. Perkalian
𝑧1 . 𝑧2 = (𝑥1 + 𝑖𝑦1 )(𝑥2 + 𝑖𝑦2 ) = (𝑥1 𝑥2 − 𝑦1 𝑦2 ) + 𝑖(𝑥2 𝑦2 + 𝑥2 𝑦1 )
d. Pembagian
𝑧1 (𝑥1 + 𝑖𝑦1 ) (𝑥1 + 𝑖𝑦1 ) (𝑥2 − 𝑖𝑦2 ) (𝑥1 + 𝑖𝑦1 )(𝑥2 − 𝑖𝑦2 )
= = 𝑥 =
𝑧2 (𝑥2 + 𝑖𝑦2 ) (𝑥2 + 𝑖𝑦2 ) (𝑥2 − 𝑖𝑦2 ) (𝑥2 + 𝑖𝑦2 )(𝑥2 − 𝑖𝑦2 )
(𝑥1 𝑥2 + 𝑦1 𝑥2 ) + 𝑖(𝑥2 𝑦1 − 𝑥1 𝑦2 )
=
𝑥22 + 𝑦22
e. Identitas
𝑧 + 0 = (𝑥 + 𝑖𝑦) + (0 + 𝑖0) = 𝑥 + 𝑖𝑦 = 𝑧 (penjumlahan)
𝑧. 1 = (𝑥 + 𝑖𝑦)(1 + 𝑖0) = (𝑥. 1 − 𝑦. 0) + 𝑖(𝑥. 0 + 1. 𝑦) = 𝑥 + 𝑖𝑦 = 𝑧
(perkalian)
2. Barisan Bilangan Kompleks
Definisi 1
Suatu barisan bilangan kompleks adalah suatu fungsi yang menetapkan setiap
bagian bulat positif n dengan suatu bilangan kompleks. Jadi jika f merupakan suatu
fungsi, maka nilai-nilainya dapat didaftarkan sebagai
𝑓(1), 𝑓(2), … , 𝑓(𝑛), …
Namun, karena domain setiap fungsi demikian itu merupakan himpunan bilangan
bulat positif, kita dapat menyederhanakan notasinya dan menggunakan notasi yang
lazim, yakni :
𝑧1 , 𝑧2 , 𝑧3 , … 𝑎𝑡𝑎𝑢 {𝑧1 , 𝑧2 , 𝑧3 , … } 𝑎𝑡𝑎𝑢 {𝑧𝑛 }, bilangan-bilangan dari barisan tersebut
dinamakan suku barisan. Dua barisan {𝑧𝑛 } dan {𝑤𝑛 } dikatakan sama jika dan hanya jika
suku-suku yang bersesuaian sama .
𝑧𝑛 = 𝑤𝑛 , ∀𝑛 = 1,2,3, …
Barisan yang suku-sukunya adalah satu dan merupakan bilangan sama, yaitu 𝑧𝑘 =
𝑧𝑘+1 untuk semua k = 1,2,3, ..., dinamakan barisan konstan.

5
Bilangan-bilangan 𝑧1 , 𝑧2 , 𝑧3 , …. Disebut suku-suku barisan dan suku 𝑧𝑛 disebut
suku umum (suku ke-𝑛) barisan sebagai contoh, fungsi 𝑓 dengan 𝑓(𝑛) = 𝑖 𝑛 untuk
setiap 𝑛 ∈ ℕ adalah suatu barisan yang dinotasikan dengan
{𝑧𝑛 } = {𝑖, 𝑖 2 , 𝑖 3 , 𝑖 4 , … . } = {𝑖, − 1, − 𝑖, 1, … . }
Yang sering pula dinyatakan dengan {𝑖 𝑛 }.
Pada barisan dan deret kompleks kita hanya melihat kekonvergenan dan divergen
barisan dan deret tersebut. Konvergen adalah salah satu fungsi yang nilainya tidak
berubah atau hampir tidak berubah. Sednagkan divergen adalah fungsi yang mengalami
perubahan.
Definisi 2
Diberikan barisan bilangan kompleks {zn }. Barisan {zn } dikatakan konvergen ke z
jika dan hanya jika untuk setiap bilangan ε > 0 terdapat bilangan asli n0 sehingga jika
n > n0 berlaku |zn − z| < ε.
Bilangan kompleks 𝑧 yang memenuhi definisi diatas disebut limit barisan {𝑧𝑛 }.
Notasi barisan {𝑧𝑛 } konvergen ke 𝑧 adalah
𝑧𝑛 → 𝑧 atau lim 𝑧𝑛 = 𝑧
𝑛→∞
3. Kekonvergenan Barisan Bilangan Kompleks
Teorema 1 ( Ketunggalan Limit )

Jika suatu barisan bilangan kompleks konvergen,


maka barisan tersebut mempunyai limit tunggal.
Bukti :
Andaikan lim 𝑧𝑛 = 𝑧1 dan lim 𝑧𝑛 = 𝑧2 dengan 𝑧1 ≠ 𝑧2 . Diambil bilangan 𝜀 =
𝑛→∞ 𝑛→∞
1
|𝑧1 − 𝑧2 | > 0 sembarang, terdapat bilangan asli 𝑛0 sehingga jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku
2
1 1
|𝑧𝑛 − 𝑧1 | < |𝑧1 − 𝑧2 | dan |𝑧𝑛 − 𝑧2 | < |𝑧1 − 𝑧2 |.
2 2

Diperoleh
|𝑧1 − 𝑧2 | = |(𝑧1 − 𝑧𝑛 ) + (𝑧𝑛 − 𝑧2 )|
≤ |𝑧1 − 𝑧𝑛 | + |𝑧𝑛 − 𝑧2 |
1 1
< |𝑧1 − 𝑧2 | + |𝑧1 − 𝑧2 | = |𝑧1 − 𝑧2 |
2 2
Hal ini mustahil terjadi. Ini berarti pengandaian 𝑧1 ≠ 𝑧2 salah. Jadi haruslah 𝑧1 = 𝑧2
dengan kata lain lim 𝑧𝑛 tunggal.
𝑛→∞

Contoh :
Selidiki kekonvergenan barisan berikut ini:

6
𝑧
a. {1 + }
𝑛
2𝑛−𝑖
b. { }
𝑛+2𝑖

Penyelesaian :

a. Diberikan bilangan 𝜀 > 0 sembarang. Diperoleh


𝑧 𝑧 |𝑧| |𝑧|
|1 + 𝑛 − 1| = |𝑛| = < 𝜀 untuk 𝑛 > .
𝑛 𝜀
|𝑧|
Jadi terdapat bilangan asli 𝑛0 > sehhingga jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku
𝜀

𝑧 𝑧 |𝑧| 𝜀
|1 + − 1| = | | = < . |𝑧| = 𝜀
𝑛 𝑛 𝑛 |𝑧|
𝑧
Jadi barisan {1 + 𝑛} konvergen ke 1.

b. Diberikan bilangan 𝜀 > 0 sembarang. Diperoleh


2𝑛 − 𝑖 2𝑛 − 𝑖 − 2𝑛 − 4𝑖
| − 2| = | |
𝑛 + 2𝑖 𝑛 + 2𝑖

−𝑖 − 4𝑖 |−5𝑖|
=| |=
𝑛 + 2𝑖 |𝑛 + 2𝑖|

5 5
= < < 𝜀 (𝑠𝑒𝑏𝑎𝑏 √𝑛2 + 4 > 𝑛)
√𝑛2 + 4 𝑛

5 5
Untuk 𝑛 > 𝜀 Jadi terdapat bilangan asli 𝑛0 > 𝜀 sehingga jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku

2𝑛 − 𝑖 2𝑛 − 𝑖 − 2𝑛 − 4𝑖 −𝑖 − 4𝑖 |−5𝑖|
| − 2| = | |=| |=
𝑛 + 2𝑖 𝑛 + 2𝑖 𝑛 + 2𝑖 |𝑛 + 2𝑖|

5 5 𝜀
= < < 5. = 𝜀
√𝑛2 + 4 𝑛 5

2𝑛−𝑖
Jadi, barisan { } konvergen ke 2.
𝑛+2𝑖

Teorema 2

Diberikan 𝑧𝑛 = 𝑥𝑛 + 𝑖𝑦𝑛 untuk setiap 𝑛 ∈ 𝑁 dan 𝑧 = 𝑥 + 𝑖𝑦.


𝑙𝑖𝑚 𝑧𝑛 = 𝑧 jika dan hanya jika 𝑙𝑖𝑚 𝑥𝑛 = 𝑥 dan 𝑙𝑖𝑚 𝑦𝑛 = 𝑦 .
𝑛→∞ 𝑛→∞ 𝑛→∞

Bukti :

7
Diberikan bilangan 𝜀 > 0 diketahui lim 𝑧𝑛 = 𝑧 , berarti terdapat bilangan asli 𝑛0
𝑛→∞

sehingga 𝑛 > 𝑛0 berlaku

|𝑧𝑛 − 𝑧| = |(𝑥𝑛 + 𝑖𝑦𝑛 ) − (𝑥 + 𝑖𝑦)|

= |(𝑥𝑛 − 𝑥) + 𝑖(𝑦𝑛 − 𝑦)| < 𝜀

Dengan demikian untuk sebarang bilangan 𝜀 > 0 diatas, didapat bilangan 𝑛0


sehingga 𝑛 > 𝑛0 berlaku :

|𝑥𝑛 − 𝑥| ≤ |(𝑥𝑛 − 𝑥) + 𝑖(𝑦𝑛 − 𝑦)| < 𝜀 dan

|𝑦𝑛 − 𝑦| ≤ |(𝑥𝑛 − 𝑥) + 𝑖(𝑦𝑛 − 𝑦)| < 𝜀

Jadi terbukti bahwa

𝑙𝑖𝑚𝑛→∞ 𝑥𝑛 = 𝑥 dan 𝑙𝑖𝑚𝑛→∞ 𝑦𝑛 = 𝑦

Contoh :

2𝑛2 −2 5𝑛
Periksa kekonvergenan barisan {𝑧𝑛 } = { 𝑛2 +4 − 𝑖 𝑛2 +4}

Penyelesaian :

2𝑛2 −2 5𝑛
Namakan 𝑧𝑛 = 𝑥𝑛 + 𝑖𝑦𝑛 dengan 𝑥𝑛= dan 𝑦𝑛= − 𝑛2 +4 , sehingga diperoleh
𝑛2 +4
2𝑛2 −2
lim 𝑥𝑛 = lim =2
𝑛→∞ 𝑛→∞ 𝑛2 +4

5𝑛
lim 𝑦𝑛= lim − 𝑛2 +4 = 0
𝑛→∞ 𝑛→∞

Akibatnya

lim 𝑧𝑛 = lim 𝑥𝑛 + lim 𝑦𝑛 = 2 + 𝑖. 0 = 2


𝑛→∞ 𝑛→∞ 𝑛→∞

2𝑛2 −2 5𝑛
Jadi barisan {𝑧𝑛 } = { 𝑛2 +4 − 𝑖 𝑛2 +4} konvergen ke 2.

4. Deret Bilangan Kompleks


Deret bilangan kompleks merupakan penjumlahan suku-suku pada barisan bilangan
kompleks. Deret bilangan kompleks dinotasikan

z
n 1
n  z1  z 2  z 3  ...  z n  ...

8
dengan suku-suku deret yaitu z1 , z 2 , z3 ,.

Misalkan,

S1  z1 merupakan jumlah suku pertama

S 2  z1  z 2 merupakan jumlah dua suku pertama

S3  z1  z 2  z3 merupakan jumlah tiga suku pertama

S n  z1  z2    z n merupakan jumlah n suku pertama

Jika barisan S n  mempunyai limit diperoleh jumlah tak berhingga

z1  z2  z3  ...  zn  ...

Jadi dalam symbol dituliskan


lim S n =  z n
n 
n 1

A. Deret konvergen
Kekonvergenan suatu deret ditentukan oleh ada atau tidak adanya limit barisan
jumlah bagiannya. Kekonvergenan deret tersebut disajikan pada definisi berikut ini :

Definisi 1 :

- Deret  zn konvergen ke S jika dan hanya jika lim S n  S
n 
n 1

- Deret  zn divergen ke S jika dan hanya jika lim S n tidak ada.
n 
n 1

Contoh :


 5i  5i 5i 5i 5i
Dari barisan  n  = , , ,... dibentuk deret
2  2 4 8
2
n 1
n
. Tentukanlah apakah deret

tersebut konvergen atau divergen!

Penyelesaian :

9
 
5i 1 1 1 1 
lim S n =  =  5i 2   3  ...  ...

n  n 1 2
n 1 2 n 1 2 2 2n

Bagian ruas kanan yang didalam kurung merupakan deret geometri dengan suku
1 1 a
pertama a  dan r  dan jumlah tak hingganya adalah =1.
2 2 1 r

5i
Maka diperoleh limit lim S n = 5i . Jadi deret
n 
2
n 1
n
konvergen ke 5i .

B. Uji konvergensi pada deret bilangan komplek


1) Teorema konvergensi
Diberikan deret bilangan kompleks ∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 dengan 𝑧𝑛 = 𝑥𝑛 + 𝑖𝑦𝑛 ;

𝑥𝑛 , 𝑦𝑛 ∈ 𝑅
(a) ∑∞ ∞ ∞
𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen jika dan hanya jika ∑𝑛=1 𝑥𝑛 dan ∑𝑛=1 𝑦𝑛

konvergen.
(b) 𝑗𝑖𝑘𝑎 ∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen, maka lim 𝑧𝑛 = 0.
𝑛→∞

(c) 𝑗𝑖𝑘𝑎 ∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen mutlak, maka ∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen, artinya

jika ∑∞ ∞
𝑛=1|𝑧𝑛 | maka ∑𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen.

Teorema di atas hanya akan dibuktikan bagian (a) dan (b), sedangkan
bagian (c) diberikan kepada para pembaca sebagai latihan.

Bukti (a):

(⇒) misalkan deret ∑∞ ∞


𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen ke 𝑎 + 𝑖𝑏, sehingga ∑𝑛=1 𝑧𝑛 =

𝑎 + 𝑖𝑏. Akan ditunjukan bahwa deret ∑∞


𝑛=1 𝑥𝑛 konvergen ke 𝑎 dan deret

∑∞
𝑛=1 𝑦𝑛 konvergen ke 𝑏. Menurut definisi diperoleh,

𝑛 𝑛
∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 = lim 𝑆𝑛 = lim (∑𝑘=1 𝑥𝑘 + ∑𝑘=1 𝑦𝑘 ) = 𝑎 + 𝑖𝑏
𝑛→∞ 𝑛→∞

Akibatnya diperoleh,

lim ∑𝑛𝑘=1 𝑥𝑘 = 𝑎 dan lim ∑𝑛𝑘=1 𝑦𝑘 = 𝑏


𝑛→∞ 𝑛→∞

Karena ∑𝑛𝑘=1 𝑥𝑘 dan ∑𝑛𝑘=1 𝑦𝑘 berturut-turut merupakan jumlah


bagian dari ∑𝑛𝑛=1 𝑥𝑛 dan ∑𝑛𝑛=1 𝑦𝑛 , maka ∑𝑛𝑛=1 𝑥𝑛 dan ∑𝑛𝑛=1 𝑦𝑛 konvergen.

(⇐) misalkan ∑𝑛𝑛=1 𝑥𝑛 konvergen ke 𝑎 dan ∑𝑛𝑛=1 𝑦𝑛 konvergen ke 𝑏.


Akan tunjukan ∑𝑛𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen ke 𝑎 + 𝑖𝑏. Karena 𝑆𝑛 = ∑𝑛𝑘=1 𝑥𝑘 +

10
∑𝑛𝑘=1 𝑦𝑘 , menurut teorema diperoleh lim 𝑆𝑛 = 𝑎 + 𝑖𝑏. Karena
𝑛→∞

lim 𝑆𝑛 = ∑∞ ∞
𝑛=1 𝑧𝑛 , diperoleh ∑𝑛=1 𝑧𝑛 = 𝑎 + 𝑖𝑏.
𝑛→∞

Jadi terbukti bahwa ∑∞


𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen.

Bukti (b):

Diberikan bilangan 𝜀 > 0 sebarang. Akan dibuktikan lim 𝑧𝑛 = 0, berarti


𝑛→∞

terdapat bilangan asli 𝑛0 sehingga jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku |𝑧𝑛 | < 𝜀

Diketahui ∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 konvergen, berarti terdapat bilangan kompleks 𝑧

sehingga berlaku

∑∞
𝑛=1 𝑧𝑛 = lim 𝑆𝑛 = 𝑧
𝑛→∞

Jadi untuk setiap bilangan 𝜀 > 0terdapat bilangan asli 𝑛0 sehingga jika
𝜀 𝜀
𝑛 > 𝑛0 berlaku |𝑆𝑛−1 − 𝑧| < 2 dan |𝑆𝑛 − 𝑧| < 2

Menurut ketaksamaan segitiga, diperoleh

|𝑧𝑛 | = |𝑆𝑛−1 − 𝑆𝑛 | = |(𝑆𝑛−1 − 𝑧) + (𝑧 − 𝑆𝑛 )|


≤ |𝑆𝑛−1 − 𝑧| + |𝑧 − 𝑆𝑛 |
𝜀 𝜀
<2+2=𝜀

Jadi terbukti bahwa lim 𝑧𝑛 = 0


𝑛→∞

2) Uji Rasio
Teorema 6.2.4 (Uji Ratio):
𝑍𝑛+1
Diberikan deret dengan suku-suku tak negative ∑∞
𝑛=1 𝑍𝑛 dan lim | | = 𝐿.
𝑛→∞ 𝑍𝑛

(a) Jika L < 1, maka ∑∞


𝑛=1 𝑍𝑛 konvergen

(b) Jika L > 1, maka ∑∞


𝑛=1 𝑍𝑛 divergen

(c) Jika L = 1, maka pengujian gagal (deret dapat konvergen atau divergen)
Bukti:
(a) Diberikan bilangan 𝜀 > 0 sebarang. Karena |𝑍𝑛 | ≥ 0 untuk setiap n, maka L >
0.
Diketahui L < 1. Dipilih bilangan real r sehingga L < 2 < 1.
Kemudian diambil 𝜀 = 𝑟 − 𝐿 < 1.

11
𝑍𝑛+1
Karena lim | | = 𝐿, terdapat bilangan asli 𝑛0 sehingga jika𝑛 > 𝑛0 berlaku
𝑛→∞ 𝑍𝑛

𝑍𝑛+1
|| | − 𝐿| < 𝜀
𝑍𝑛

Diperoleh jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku


𝑍𝑛+1
| | < 𝜀 + 𝐿 = 𝑟 − 𝐿 + 𝐿 = 𝑟 atau |𝑍𝑛+1 |< 𝑟|𝑍𝑛 | ………………… (*)
𝑍𝑛

Diambil 𝑛 = 𝑛0 , 𝑛0 + 1, 𝑛0 + 2, …. sehingga dari (*) diperoleh

|𝑍𝑛0 +1 |< 𝑟|𝑍𝑛0 |

|𝑍𝑛0 +2 | < 𝑟 2 |𝑍𝑛0 |

|𝑍𝑛0 +3 | < 𝑟 3 |𝑍𝑛0 |

………………….

|𝑍𝑛0 +𝑘 | < 𝑟 𝑘 |𝑍𝑛0 |, 𝑘 ∈ 𝑁…………………… (**)

Deret ∑∞ 𝑘
𝑘=1 𝑟 |𝑍0 | adalah deret konvergen, karena merupakan deret geometri

dengan ratio r < 1.


Dari (**) dan menggunakan uji banding, diperoleh bahwa deret ∑∞
𝑘=1 |𝑍𝑛0 +𝑘 |

konvergen.
Deret ∑∞ ∞
𝑘=1 |𝑍𝑛0 +𝑘 | berbeda dari deret ∑𝑘=1 |𝑍𝑛 | dalam 𝑛0 suku pertama.

Jadi deret ∑∞
𝑘=1 |𝑍𝑛 | konvergen sehingga deret yang diberikan konvergen

mutlak.
𝑍𝑛+1 𝑍𝑛+1
(b) Karena lim | | = 𝐿, dan L > 1, maka lim | | = + ∞.
𝑛→∞ 𝑍𝑛 𝑛→∞ 𝑍𝑛

Hal ini berarti untuk setiap bilangan 𝜀 > 0 terdapat bilangan 𝑛0 ∈ 𝑁 sehingga
𝑍𝑛+1
jika 𝑛 > 𝑛0 berlaku lim | | < 𝜀.
𝑛→∞ 𝑍𝑛
𝑍𝑛+1
Perhatikan bahwa 1 < | | < 𝜀 jika dan hanya jika |𝑍𝑛 | < |𝑍𝑛+1 | < 𝜀
𝑍𝑛

Diambil 𝑛 = 𝑛0 , 𝑛0+1 , 𝑛0+2 , … ., sehingga diperoleh


|𝑍𝑛0 | < |𝑍𝑛0 +1 |
|𝑍𝑛0 | < |𝑍𝑛0 +1 | < |𝑍𝑛0 +2 |

……………………………

Jadi jika 𝑛 > 𝑛0 , berlaku |𝑍𝑛 | > |𝑍𝑛0 |. Akibatnya lim 𝑍𝑛 ≠ 0.


𝑛→∞

12
Karena lim 𝑍𝑛 ≠ 0, diperoleh deret ∑∞
𝑛=1 𝑍𝑛 divergen.
𝑛→∞

1
(c) Misalkan deret ∑∞ ∞
𝑛=1 𝑍𝑛 = ∑𝑛=1 𝑛𝑝 , diperoleh

𝑍𝑛+1 1 𝑛𝑝 𝑛𝑝 𝑛 𝑝
lim | | = lim | . | = lim | | = lim |( ) |=1
𝑛→∞ 𝑍𝑛 𝑛→∞ (𝑛 + 1)𝑝 1 𝑛→∞ (𝑛 + 1)𝑝 𝑛→∞ 𝑛 + 1

1
Deret ∑∞
𝑛=1 𝑛𝑝 konvergen untuk p > 1 dan divergen untuk 𝑝 ≤ 1.

Jadi deret ∑∞
𝑛=1 𝑍𝑛 dapat konvergen dan dapat juga divergen, sedangkan yang
𝑍𝑛+1
divergen memenuhi lim | | = 1.
𝑛→∞ 𝑍𝑛

Contoh :
(2+2𝑖)𝑛
Tunjukkan bahwa deret ∑∞
𝑛=1 konvergen dengan menggunakan uji ratio.
𝑛!

Penyelesaian:
(2+2𝑖)𝑛 (2+2𝑖)𝑛+1
Misalkan 𝑍𝑛 = , maka 𝑍𝑛+1 = (𝑛+1)!
𝑛!

Diperoleh,
(2+2𝑖)𝑛+1
𝑍𝑛+1 (𝑛+1)! 2+2𝑖 √8
Lim | | = lim | (2+2𝑖)𝑛 | = lim | 𝑛+1 | = lim =0
𝑛→∞ 𝑍𝑛 𝑛→∞ 𝑛→∞ 𝑛→∞ 𝑛+1
𝑛!

Jadi menurut uji ratio, diperoleh bahwa deret tersebut konvergen mutlak.
3) Uji Akar
Diberikan deret dengan suku-suku tak negative ∑∞
𝑛=1 𝑍𝑛 dan

lim n zn  L .
n 

 

 L  1 ,  z n konvergen mutlak
 
n 1

lim n zn L
 L  1,  z n divergen
n 
 n 1
 L  1, uji gagal


Contoh :

n 1
Tunjukkan bahwa deret  2 .n
n 1
n
konvergen dengan menggunakan uji akar .

Penyelesaian :
Berikut akan dipaparkan menggunakan uji akar. Kesimpulan dari uji akar ini sama
dengan uji rasio.

13
1
n 1 1  n 1 n
  lim n = lim  
n  2 .n n 2  n 
n

n 1 n 1
Perhatikan bentuk di atas, jika n   maka = 1. Perhatikan juga
n n
1 1
bentuk Jika n   maka = , sehingga limit diatas memiliki bentuk :
n n

1
1  n 1 n 1 0 1
lim   = x1 =
n  2
 n  2 2


n 1
Karena nilai limitnya < 1, maka deret  2 .n
n 1
n
konvergen.

4) Uji Integral

Andaikan z
n 1
n adalah deret suku-suku tak negative dan andaikan bahwa fungsi

y  f x  didapat dari pengganti n pada suku umum deret dengan peubah kontinu x,
 
maka deret  z n akan konvergen jika hanya jika
n 1
 f x dx juga konvergen.
1

Dari kalkulus :
 b

 f xdx = lim  f x dx


a
b 
a

Apabila limit pada ruas kanan bernilai terhingga, maka integral tak wajar tersebut
konvergen dan memiliki nilai yang sama dengan limit tadi. Jika tidak maka integral
tersebut divergen.
Contoh :

1
Tunjukanlah bahwa deret n
n 1
2
merupakan deret konvergen dengan melakukan

uji integral.

Penyelesaian :

Coba lakukan pengujian dengan uji rasio, maka akan diperoleh hasil perhitungan
L  1 , dengan demikian kita tidak dapat menentukan apakah deret tersebut
konvergen atau divergen dengan uji rasio. Inilah saatnya menggunakan uji integral.
Lihat penjelasan teori diatas mengenai uji integral. Kita ubah notasi n menjadi

14
peubah kontinu x sehingga diperoleh f  x  
1
. Kita lakukan pengintegralan
x2
terhadap fungsi kontinu ini

 
 1 1
1 x 2 dx   x 1     1   0  1  1
1 1


1
Integral fungsi ini bersifat konvergen (ada hasilnya) dengan demikian deret n
n 1
2

konvergen.

5) Uji Deret berganti tanda


  1 z n , dengan z n  0
n
Diketahui suatu deret
n 1

Andaikan : lim z n  0
n 

z n 1  z n

Untuk setiap n yang lebih besar dari suatu bilangan bulat M tertentu, maka deret
yang diketahui tersebut konvergen.

Contoh


in
Tunjukanlah bahwa deret 
n 1 n  i
2
merupakan deret konvergen dengan

melakukan uji deret berganti tanda.

Penyelesaian :

Kita lakukan uji rasio pada deret diatas

L  lim
i n 1 n2  i
x n  lim
i n2  i 
 lim 2

in 2  1
i
n  n  12  i i n  n  12  i n  n  2 n  1  i

Berarti L  i  1 . Karena L  1 , maka kita tidak dapat mengetahui apakah deret

tersebut konvergen atau divergen. Dengan demikian kita harus menggunakan uji
lain. Kita uji dengan pembanding sekali lagi, syaratnya harus hati-hati dalam
memilih deret pembanding.

15

in
- Untuk kasus ini kita pilih 
n 1 n
2
sebagai deret pembanding.

Namun bagaimana kita menguji deret ini ? coba kita uraikan deret ini


in i 1  l 1

n 1 n
2
 
1 4
   ...
9 16

Tempat pada bagian pembilang berubah tanda dari i,1,i,1 . Dengan demikian uji
deret berganti tanda merupakan uji yang paling tepat untuk deret ini. Lihat lagi
teorema untuk deret berganti tanda.


in
Pada deret  2 yang membuat berganti tanda adalah i n , dengan demikian
n 1 n

1
pemeriksaan dilakukan terhadap bagian .
n2


1 1 1 in
Ternyata lim 2  0 dan
n  n n  1 n
2
 2  
n 1 n
2
konvergen.

   
in in in in
Karena 
n 1 n
2
konvergen, sementara 
n 1 n  i
2
 
n 1 n
2
, maka deret 
n 1 n  i
2
juga

konvergen.

6) Uji Banding
Teorema 6.2.3 (Uji Banding)
Diberikan |𝑧𝑛 | ≤ |𝑤𝑛 | untuk setiap 𝑛 ∈ 𝑁

(a) Jika ∑∞ ∞
𝑛=1|𝑤𝑛 | konvergen, maka ∑𝑛=1|𝑧𝑛 | konvergen (mutlak)

(b) Jika ∑∞ ∞
𝑛=1|𝑧𝑛 | divergen, maka ∑𝑛=1|𝑤𝑛 | divergen.

Bukti:

(a) Diketahui |𝑧𝑛 | ≤ |𝑤𝑛 | dan ∑∞ ∞


𝑛=1|𝑤𝑛 | konvergen. Akan dibuktikan ∑𝑛=1|𝑧𝑛 |

konvergen mutlak. Misalkan {𝑆𝑛 } adalah barisan jumlah bagian untuk deret
∑∞ ∞
𝑛=1|𝑧𝑛 | dan {𝑇𝑛 } adalah barisan jumlah bagian untuk deret ∑𝑛=1|𝑤𝑛 |. Karena

∑∞
𝑛=1|𝑤𝑛 | konvergen, berarti terdapat bilangan real M sehingga |𝑇𝑛 | ≤ 𝑀.

Karena |𝑧𝑛 | ≤ |𝑤𝑛 |, diperoleh 𝑆𝑛 ≤ 𝑇𝑛 ≤ 𝑀 untuk setiap 𝑛 ∈ 𝑁.

16
Karena barisan {𝑆𝑛 } sebagai jumlah bagian dari deret ∑∞
𝑛=1|𝑧𝑛 |, sehingga

berlaku |𝑆𝑛 | ≤ 𝑀 untuk suatu bilangan real 𝑀. Akibatnya ∑∞


𝑛=1|𝑧𝑛 | konvergen.

(b) Diketahui |𝑧𝑛 | ≤ |𝑤𝑛 | dan ∑∞ ∞


𝑛=1|𝑧𝑛 | divergen. Akan dibuktikan ∑𝑛=1|𝑤𝑛 |

divergen. Andaikan deret ∑∞


𝑛=1|𝑤𝑛 | konvergen. Karena |𝑧𝑛 | ≤ |𝑤𝑛 | sehingga

dari (a) diperoleh barisan deret ∑∞


𝑛=1|𝑧𝑛 | konvergen. Hal ini bertentangan

dengan hipotesis yang diketahui jadi pengandaian di atas salah, haruslah deret
∑∞
𝑛=1|𝑤𝑛 | divergen.

Contoh :

1 1 1 1 1
Ujilah kekonvergenan deret + 5 + 10 + 17 + ⋯ + 𝑛2 +1 + ⋯ dengan
2

menggunakan uji banding.

Penyelesaian:

Diketahui:

1 1
Bentuk umum deret di atas adalah , = 𝑧𝑛
𝑛2 +1 𝑛2 +1

1
Kita buat fungsi pembandingnya yaitu = 𝑤𝑛
𝑛2

1 1
Sehingga berdasarkan definisi adalah 𝑛2 +1 < 𝑛2 .

1
Kemudian deret ∑∞
𝑛=1 𝑛2 konvergen.

Bukti:

1 1 1
∑∞
𝑛=1 = lim gunakan integral, maka: 𝑓(𝑥) = 𝑥 2
𝑛2 𝑛→∞ 𝑛2

∞ 1 ∞ 1 1
∫1 dx = ∫1 𝑥 −2 𝑑𝑥 = − (∞ − 1) = −(0 − 1) = 1 (terbukti)
𝑥2

1
Karena ∑∞
𝑛=1 𝑛2 konvergen, maka berdasarkan uji banding diperoleh bahwa

1
deret ∑∞
𝑛=1 𝑛2 +1 juga konvergen

17
Latihan soal-soal :

1. Tentukanlah apakah deret bilangan kompleks dibawah ini konvergen


atau divergen :

1  2i n
a. 
n 1 n!

1
b.  nn  1
n 1


3  i 2n
c. 
n 1 2n !
  n 1
i
d.   
n 1  2 


i 2n
e. 
n 1 n

18
DAFTAR PUSTAKA

Paliouras, John D. 1987. Peubah Kompleks untuk Ilmuwan dan Insinyur. Jakarta: Erlangga.

Ekowati. CK 2010. Bahan Ajar Mandiri Kompleks. Kupang: Universitas Nusa Cendana.

http//:diktat-anakom.pdf

https://www.slideshare.net/ismyamierossa/barisan-dan-deret-bilangan-kompleks diakses 22
November 2018