Anda di halaman 1dari 31

KONSEP DAN BEBERAPA GAYA KEPEMIMPINAN

( Konsep Dan Beberapa Gaya Kepemimpinan )

OLEH
MM. PRAYOGA NASIR
SIA 117 244

JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga telah dapat berhasil
menyelesaikan Makalah “Besarnya Konsep Gaya Kepemimpinan dan
Beberapa Gaya Pemimpinan”Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini
jauh dari kata sempurna, baik dalam hal penyajian maupun yang lainnya.
Oleh karena itu saya sangat membutuhkan saran dan pendapat yang
membangun demi kesempurnaan makalah ini dari semua pihak.
Akhir kata
saya berharap semoga makalah tentang proses penciptaan alam semesta
dalam enam masa ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca

Kendari, 27Maret 2019


Penulis

MM. PRAYOGA NASIR

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1
1.1 Latar Belakang .........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................4
1.3 Tujuan ......................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................6


2.1 Konsep Kepemimpinan ...........................................................................6
2.2 Definisi Gaya Kepemimpinan Menurut Para Ahli............................. 16
2.3 Beberapa Gaya Kepemimpinan.......................................................... 26

BAB III PENUTUP ............................................................................................30


3.1 Kesimpulan .............................................................................................30
3.2 Saran ........................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... iv

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang
dipergunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba
mempengaruhi perilaku orang lain. Gaya kepemimpinan banyak
mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi
perilaku bawahannya. Kepemimpinan di suatu organisasi perlu
mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang
menghasilkan tingkat kinerja yang tinggi, sehinggapemimpin perlu
memikirkan gaya kepemimpinannya.Gaya kepemimpinan seorang
pemimpin diduga akan sangat mempengaruhi kondisi kerja, dimana
akan berhubungan dengan bagaimana karyawanmenerima suatu gaya
kepemimpinan, senang atau tidak, suka atau tidak. Di satu sisi gaya
kepemimpinan tertentu diduga dapat menyebabkan peningkatan kinerja
disisi lain dapat menyebabkan penurunan kinerja.Suatu perilaku
seseorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu group
ke arah pencapaian tertentu.Teori gaya kepemimpinan menurut
studyOhio State Universitydalam Thoha(2012:279).Ada dua
dimensikepemimpinan yang muncul bila ditinjau dari sisi
kepemimpinanyaitu Initiating structure(Struktur inisiatif) dan
consideration(perhatian). Struktur inisiatifmerupakan perilaku
pemimpin di dalam menentukan hubungan kerja antara dirinya dengan
yang dipimpin, dan usahanya di dalam menciptakan pola organisasi,
mematuhi aturandan prosedur kerja yang jelas.Sedangkan perhatian
menyangkut perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan
timbal balik, saling menghormati, kehangatan, dan hubungan antara
pemimpin dan pengikut.

1
Secara harfiah kepemimpinan atau leadership berarti adalah sifat,
kapasitas dan kemampuan seseorang dalam memimpin. Arti dari
kepemimpinan sendiri sangat luas dan bervariasi berdasarkan para ilmuwan
yang menjelaskannya. Menurut Charteris-Black (2007), definisi dari
kepemimpinan adalah “leadership is process whereby an individual
influence a group of individuals to achieve a common goal”.
Kepemimpinan adalah sifat dan nilai yang dimiliki oleh seorang leader.
Teory kepemimpinan telah berkembang sejak puluhan tahun yang lalu dan
sudah banyak berbagai referensi dalam bentuk beraneka macam mengenai
topic ini yang dihasilkan dari berbagai penelitian. Fungsi kepemimpinan
dalam sebuah organisasi atau kelompok sangat penting karena fungsi
kepemimpinanlah sebuah organisasi dapat mencapai tujuannya melalui
jalan dan cara yang benar. Memahami dengan baik mengenai konsep
kepemimpinan sangat membantu seseorang dan organisasi bekerja lebih
efektif dan efisien dalam mencapai tujuan dan kondisi yang diinginkan,
democratic leadership, dan delegative leadership. Masing – masing
kategorie ini mempunyai karakteristik dan ciri khas yang membedakan
antara satu dengan yang lainnya.
Beberapa pendapat para ahli tentang kepemimpinan mengandung
pengertian dan makna yang sama. Antara lain dikemukakan oleh:
1. Sutarto
Kepemimpinan adalah rangkaian kegiatan penataan berupa
kemampuan
mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar
bersedia
bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Sondang P. Siagian
Kepemimpinan adalah suatu kegiatan mempengaruhi orang lain agar
melaksanakan pekerjaan bersama menuju suatu tujuan tertentu.

2
3. Ordway Tead
Kepemimpinan adalah aktifitas mempengaruhi orang-orang
agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
4. George Terry
Kepemimpinan adalah hubungan yang erat ada dalam diri
orang atau pemimpin, mempengaruhi orang-orang lain untuk
bekerja sama secara sadar dalam hubungan tugas untuk mencapai
keinginan pemimpin.
5. Franklin G. Mooore
Kepemimpinan adalah kemampuan membuat orang-orang
bertindak sesuai dengan keinginan pemimpin
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang sudah dimuat, maka penulis
merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini.
Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep gaya kepemimpinan?
2. Apa-apa defenisi gaya kepemimpinan

1.3 TUJUAN MAKALAH


Adapun tujuan ditulisnya makalah ini dari dasar latar belakang
dan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Menjelaskankonsep gaya kepemimpinan!
2. Menjelaskan defense dari kepemimpian!

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep kepemimpian


Teori Otoriter (Otokratis, Dominator)
Dalam tipe ini, pemimpin bertindak diktaktor pada bawahannya.
Cenderung melakukan pemaksaan dalam menggerakkan kelompoknya.
Disini kewajiban dari bawahan adalah untuk mengikuti dan menjalankan
perintah. Tak boleh ada saran dan bantahan dari bawahan. Mereka
diharuskan patuh dan setia secara mutlak kepada pemimpinnya. Kendali
penuh ada pada pemimpin (bersifat satu arah)Gaya kepemimpinan
Otokratis pada dasarnya adalah gaya kepemimpinan dimana pemimpin
banyak mempengaruhi atau menentukan perilaku bawahannya. Dalam gaya
ini pemimpin banyak memperhatikan pencapaian tujuan, oleh karena ini
gaya ini lebih banyak menentukan apa yang harus dicapai dan bagaimana
mencapainya. Gaya ini biasanya digunakan oleh Pemimpin yang memiliki
status yang tinggi, seorang yang berkuasa dan memiliki kemampuan untuk
membuat keputusan.

Contoh pemimpin diktaktor Adolf Hitler, Muammar Khadafi,


Saddam Husein, Husni Mubarak dan lain-lain

Kelebihan :

 Keputusan akan dapat diambil dengan cepat karena mutlak hak


pemimpin, tak ada bantahan dari bawahan
 Pemimpin yang bersifat otoriter pasti bersifat tegas, sehingga apabila
terjadi kesalahan dari bawahan maka pemimpin tak segan untuk
menegur
 Mudah dilakukan pengawasan

4
Kelemahan :

 Suasana kaku, mencekam dan menakutkan karena sifat keras dari


pemimpin
 Menimbulkan permusuhan, keluhan dan rawan terjadi perpindahan
karena bawahan tidak merasa nyaman
 Bawahan akan merasa tertekan karena apabila terjadi perbedaan
pendapat, pemimpin akan menganggapnya sebagai pembangkangan
dan kelicikan
 Kreativitas dari bawahan sangatlah minimkarena tidak diberikan
kesempatan mengajukan pendapat.
 Mudahnya melahirkan kubu oposisi karena dominasi pemimpin yang
berlebihan
 Disiplin yang terjadi seakan-akan karena ketakutan dan hukuman
bahkan pemecatan dari atasan
 Pengawasan dari pemimpin hanya bersifat mengontrol, apakah
perintah yang diberikan sudah dijalankan dengan baik oleh
anggotanya

Teori Bebas
Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan pemimpin yang
secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan
dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara
yang menurut karyawannya paling sesuai (Robbins dan Coulter, 2002).
Menurut Sukanto (1987) ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas :

1. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan


partisipasi minimal dari pemimpin.

5
2. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin
yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi
pada saat ditanya.
3. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan
tugas.
4. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan
anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur
suatu kejadian.

Ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (Handoko dan


Reksohadiprodjo, 1997:

1. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri.


2. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum.
3. Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai
tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok.

Teori Situasional
Teori ini mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki
seorang pemimpin adalah berbeda – beda, tergantung dari situasi yang
sedang dihadapi. Hersey dan Blanchard dalam Sutikno (2014:27), terfokus
pada karakterisitik kematangan bawahan sebagai kunci pokok situasi yang
menentukan keefektifan perilaku seorang pemimpin. Menurut mereka,
bawahan memiliki tingkat kesiapan dan kematangan yang berbeda – beda
sehingga pemimpin harus mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya,
agar sesuai dengan situasi kesiapan dan kematangan bawahan. Faktor
situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu adalah:
-Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas -Bentuk dan sifat teknologi yang
digunakan -Norma yang dianut kelompok -Ancaman dari luar organisasi -
Tingkat stress -Iklim yang terdapat dalam organisasi Menurut Fread Fiedler

6
dalam Sutikno (2014:27), “Kepemimpinan yang berhasil bergantung
kepada penerapan gaya kepemimpinan terhadap situasi tertentu. Sehingga
suatu gaya kepemimpinan akan efektif apabila gaya kepemimpinan tersebut
digunakan dalam situasi yang tepat. Perilaku pemimpin yang tinggi
pengarahan dan rendah dukungan dirujuk sebagai instruksi karena gaya ini
dicirikan dengan komunikasi 1 arah, pemimpin memberikan batasan
peranan penngikutnya dan memberitahu mereka tentang apa, bagaimana,
bilamana, dan dimana melaksankan berbagai tugas.

Kelebihan :

 Pemimpin memiliki sifat yang tegas dan cepat


 Pemimpin memberikan pengarahan yang jelas untuk melaksanakan
tugas

Kekurangan :

 Bawahan cenderung bersifat pasif karena keputusan diambil


sepenuhnya oleh pemimpin
 Bawahan merasa diawasi dengan ketat dalam pelaksanaan tugas
sehingga dapat menimbulkan ketakutan apabila melakukan
kesalahan.

7
Teori Perilaku Kepemimpinan
Selama tahun 1950an, ketidakpuasan dengan pendekatan teori
tentang kepemimpinan mendorong ilmuan perilaku untuk memusatkan
perhatiannya pada perilaku pemimpin tentang apa yang diperbuat dan
bagaimana ia melakukannya. Dasar dari pendekatan gaya kepemimpinan
diyakini bahwa pemimpin yang efektif menggunakan gaya (style) tertentu
mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.
Berbeda dengan teori sifat, pendekatan perilaku dipusatan pada efektifitas
pemimpin, bukan pada penampilan dari pemimpin tersebut (Gitosudarmo:
2000, 132). Pertama-tama peneliti penguji bagaimana manajer
menggunakan waktunya dan pola aktififtas, tanggung jawab dan fungsi
sepesifik dari pekerjaan manajerial.Sebagian peneliti juga menyelidiki
bagaimana para manajer menanggulangi permintaan, keterbatasan dan
konflik peran dalam pekerjaan mereka.Sebagian besar penelitian terhadap
pekerjaan manajerial menggunakan metode deskriptif untuk pengumpulan
data seperti observasi langsung, catatan-catatan, kuesioner deskripsi
pekerjaan, dan anekdot yang diperoleh dari wawancara.Meskipun penelitian
ini tidak didesain untuk langsung menilai keefektifitas kepemimpinan,
namun sangat bermanfaat sebagai pengetahuan dalam subyek ini.Efektifitas
kepemimpinan sebagian tergantung pada kemampuan pemimpin
menyelesaikan masalah konflik peran, menanggulangi permintaan,
mengenali kesempatan dan menanggulangi keterbatasan.
Sub kategori lainnya dari pendekatan perilaku adalah perhatian
utama dalam mengidentifikasi perilaku kepemimpinan yang efektif. Dalam
50 tahun terakhir terhadap ratusan studi survei yang telah menguji korelasi
antara perilaku kepemimpinan dan berbagai indikator efektivitas
kepemimpinan sebagian kecil studi menggunakan eksperimen
dilaboratorium, eksperimen dilapangan, atau peristiwa-peristiwa penting

8
untuk menentukan bagaimana perilaku pemimpin yang efektif berbeda
dengan pemimpin yang tidak efektif (Yukl: 2009).
Teori perilaku disebut juga dengan teori sosial dan merupakan
sanggahan terhadap teori genetis. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan
dibentuk tidak dilahirkan begitu saja (leaders are made, not born). Setiap
orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan
serta dorongan oleh kemauan sendiri. Teori ini tidak menekankan pada
sifat-sifat atau kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin tetapi
memusatkan pada bagaimana cara aktual pemimpin berperilaku dalam
mempengaruhi orang lain dan hal ini dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan
masing-masing. Dasar pemikiran pada teori ini adalah kepemimpinan
merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan
pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.Teori ini
memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku,
dan bukan dari sifat-sifat (traits) soerang pemimpin.Alasannya sifat
seseorang relatif sukar untuk diidentifikasikan.
Beberapa pandangan para ahli, antara lain James Owen (1973)
berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari. Hal ini berarti bahwa orang
yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat
memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah
membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi
belum tentu sesuai dengan situasi yang lain. Akan tetapi, perilaku
kepemimpinan ini keefektifannya bergantung pada banyak variabel.Robert
F. Bales (Stoner, 1986) mengemukakan hasil penelitian, bahwa kebanyakan
kelompok yang efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared
leadership), seumpama satu oramg menjalankan fungsi tugas dan anggota
lainnya melaksanakan fungsi sosial. Pembagian fungsi ini karena seseorang
perhatian akan terfokus pada satu peran dan mengorbankan peran lainnya.

9
Pendekatan perilaku ini lebih memfokuskan kepada beberapa
tindakan yang dilakukan oleh pemimpin, seperti bagaimana mereka
melakukan delegasi, begaimana mereka berkomunikasi dengan orang-
orang, serta bagaimana mereka memotivasi para pegawai, dan seterusnya.
Perilaku, tidak seperti faktor personal, dapat dipelajari sehingga mereka
yang mendapatkan pendidikan atau pelatihan yang memadai mengenai
kepemimpinan akan mampu menjadi pemimpin yang efektif. Para teoritisi
yang melakukan pendekatan perilaku kepemimpinan pada dasarnya
memfokuskan pada dua aspek dari perilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-
fungsi kepemimpinan (leadership functions) dan gaya kepemimpinan
(leadership styles).
1. Fungsi-fungsi kepemimpinan
Aspek ini terkait fungsi-fungsi yang akan mendukung tercapainya tim
yang efektif sehingga manajemen dapat dijalankan secara efektif dalam
mencapai tujuan. Terdapat dua fungsi yang terkait dengan hal ini, yaitu
fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan (task-related
functions), dan fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau
pemeliharaan kelompok (group-mantenance functions).
a) fungsi yang terkait dengan tugas atau pekerjaan (task-related
functions), fungsi ini memfokuskan fungsi kepemimpinan dalam
menjalankan berbagai pekerjaan atau tugas yang telah direncanakan
dalam suatu organisasi. Dengan demikian kepemimpinan yang efektif
adalah ketika pemimpin mampu mempengaruhi orang-orang untuk
dapat melakukan tugas-tugas yang telah dipercayakan kepada mereka.
b) fungsi yang terkait dengan hubungan sosial atau pemeliharaan
kelompok (group-mantenance funtions), fungsi ini memfokuskan
fungsi kepemimpinan dalam hal upaya untuk senantiasa memelihara
kesatuan diantara sesama pekerja, pengertian dengan dan dan sesa,a
mereka. Dengan demikian pemimpin yang efektif adalah ketika

10
pemimpin tersebut mampu berkomunikasi dengan baik dengan tim
kerja, mengajak mereka untuk senantiasa memelihara kebersamaan dan
saling pengertian sehingga tim kerja yang ada senantiasa terpelihara
dengan baik.
Organisasi-organisasi bisnis umumnya lebih memfokuskan pada
fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala organisasi pelajar atau
nonprofit lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait dengan relasi
sosial.
2. Indikator Perilaku Kepemimpinan
Sebagai konsekuensi dari adanya dua fungsi kepemimpinan
tersebut di atas, maka terdapat dua indikator perilaku kepemimpinan
yang dapat diidentifikasi, yaitu:
a) Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan (task-oriented
or job-style), gaya kepemimpinan ini cenderung untuk memberikan
fokus pada penyelesaian tugas (pekerjaan) dan prosedur yang harus
dilakukan dalam pekerjaan.
b) Gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada pegawai atau orang-
orang (employee-oriented style), gaya kepemimpinan ini fokus pada
upaya pembinaan personil yang melaksanakan tugas atau pekerjaan
tersebut. Gaya kepemimpinan ini cenderung memberikan perhatian
pada pemeliharaan tim dan memastikan bahwa seluruh karyawan
mendapatkan kepuasan dalam setiap pekerjaannya.
Setiap pemimpin memiliki kecenderungan yang berbeda-beda
dalam gayakepemimpinan ini. Ada yang cenderung pada penyelesaian
pekerjaaan, namun juga ada yang lebih kepada membangun relasi
sosial.Pemimpin dalam organisasi-organisasi bisnis umumnya lebih
memfokuskan pada fungsi yang terkait pada pekerjaan, manakala
pemimpin di organisasi-organisasi kemahasiswaan atau organisasi

11
nonprofit umumnya lebih memfokuskan pada fungsi yang terkait
dengan relasi sosial.
Gaya kepemimpinan akan ditentukan oleh berbagai faktor, yaitu dari
segi latar belakang, pendahuluan, nilai, dan pengalaman dari
pemimpin tersebut. Pemimpin yang menilai bahwa kepentingan
organisasi harus lebih didahulukan dari kepentingan individu akan
memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya kepemimpinan yang
berorientasi pada pekerjaan. Demikian pula sebaliknya, pemimpin yang
dibesarkan pada lingkungan yang menghargai perbedaan dan relasi
antar manusia akan memiliki kecenderungan untuk bergaya
kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan. Namun, selain
keempat faktor tersebut karakteristik dari bawahan atau orang-orang
yang dipimpin juga perlu untuk dipertimbangkan sebelum memutuskan
gaya kepemimpinan apa yang sebaiknya digunakan. Jika orang-orang
yang dipimpin cenderung untuk menyukai keterlibatan dalam berbagai
hal, memiliki inisiatif tinggi, barangkali gaya yang perlu dilakukan
lebih cenderung memajukan kedua gaya kepemimpinan yang ada
melalui apa yang dinamakan sebagai manajemen partisipatif, dimana
dalam pendekatan manajemen partisipatif ini faktor orientasi sosial
diakomodasi melalui keterlibatan orang-orang (apakah dalam
penyusunan tujuan, penyelesaian masalah, dan lain sebagainya) dalam
menyelesaikan pekerjaan (Sule: 2005).
Lewin, Lippitt, dan White (Dunford:1995), pada tahun 30-an
melakukan studi terkait dengan tingkat keketatan pengendalian, dan
melahirkan terminologi gaya kepemimpinan autocratic, democratic, dan
laissez-faire.

12
1. Kepemimpinan otokratis merujuk kepada tingkat pengendalian yang
tinggi tanpa kebebasan dan partisipasi anggota dalam pengambilan
keputusan. Pemimpin bersifat otoriter, tidak bersedia mendelegasikan
wewenang dan tidak menyukai partisipasi anggota.
2. Kepemimpinan demokratis merujuk kepada tingkat pengendalian
yang longgar, Namun pemimpin sangat aktif dalam menstimulasi
diskusi kelompok dan pengambilan keputusan kelompok, kebijakan
atau keputusan diambil bersama, komunikasi berlangsung timbal balik,
dan prakarsa dapat berasal dari pimpinan maupun dari anggota.
3. Kepemimpinan laissez-faire, menyerahkan atau membiarkan anggota
untuk mengambil keputusan sendiri, pemimpin memainkan peran pasif,
dan hampir tidak ada pengendalian/pengawasan, sehingga keberhasilan
organisasi ditentukan oleh individu atau orang per orang.

Selanjutnya House & Mitchell (Gibson, Ivancevich, dan


Donnelly, 2000) mengembangkan Path Goal Theory.Menurut teori ini,
pemimpin harus meningkatkan ketersediaan jumlah dan jenis
penghargaan bagi pegawai; dan selanjutnya memberikan petunjuk dan
bimbingan untuk menjelaskan cara-cara untuk mendapatkan
penghargaan tersebut. Berdasarkan tindakan pimpinan dalam
memotivasi dan memberikan penjelasan kepada pegawai maka dikenal
adanya kepemimpinan directive, supportive, participative, dan
achievement oriented.
1. Kepemimpinan direktif, yakni pemimpin memberikan arahan
tentang sasaran, target dan cara-cara untuk mencapainya secara rinci
dan jelas; tidak ada ruang untuk diskusi dan partisipasi pegawai.
2. Kepemimpinan suportif, menempatkan pemimpin sebagai
“sahabat” bagi bawahan, dengan memberikan dukungan material,
finansial, atau moral; serta peduli terhadap kesejahteraan pegawai.

13
3. Kepemimpinan partisipatif, dalam mengambil keputusan dan/atau
bertindak meminta dan menggunakan masukan atau saran dari pegawai,
namun keputusan dan kewenangan tetap dilakukan oleh pimpinan.
4. Kepemimpinan berorientasi prestasi, menunjukkan pemimpin yang
menuntut kinerja yang unggul, merancang tujuan yang menantang,
berimprovisasi, dan menunjukkan kepercayaan bahwa pegawai dapat
mencapai standar kinerja tinggi.

Secara lebih spesifik, Indikator perilaku kepemimpinan dapat dilihat


dari cara pemimpin dalam bertindak, diantaranya dalam:
1.Memberi perintah
2.Membagi tugas dan wewenang
3.Berkomunikasi dengan bawahan
4.Mendorong semangat kerja bawahan
5.Memberi bimbingan dan pengawasan
6.Membina disiplin kerja bawahan
7.Menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota
8.Tindakan dalam Mengambil keputusan.
Penerapan Teori Perilaku Kepemimpinan
Para peneliti ingin mengetahui sesuatu yang unik dari cara para
pemimpin efektif berperilaku. Misalnya apakah mereka cenderung bersikap
demokratis atau otoriter? Para peneliti berharap bahwa pendekatan teori
perilaku akan memberikan jawaban yang lebih pasti tentang sifat
kepemimpinan dari pada teori ciri perilaku.
Sejumlah studi mengacu kepada gaya perilaku. Kita sekilas melihat
kembali dua studi yang sangat popular: yaitu, kelompok Ohio State dan
Universitas Michigan. Kemudian kita melihat bagaimana perkembangan
konsep-konsep studi ini mampu digunakan untuk menciptakan gambaran
dalam melihat dan menilai gaya-gaya kepemimpinan.

14
Studi Ohio State
Studi Ohio State mengenali dua dimensi penting perilaku
pemimpin.Dimulai dengan daftar lebih dari 1.000 dimensi perilaku, para
peneliti sering menyempitkannya menjadi hanya dua yang menyambung ke
kebanyakan perilaku pemimpin yang digambarkan oleh para anggota
kelompok. Dimensi yang pertama disebut pengusulan struktur, yaitu
mengacu pada seperti apa pemimpin mendefinisikan dan menyusun
perannya dan peran anggota kelompok untuk mencapai sasaran. Dimensi itu
meliputi perilaku yang mencangkup usaha mengorganisasi pekerjaan,
hubungan kerja, dan sasaran.Dimensi yang kedua disebut pertimbangan,
yang didefinisikan sebagai seberapa jauh hubungan kerja pemimpin
bercirikan saling percaya dan hormat terhadap ide dan perasaan para
anggota kelompok. Pemimpin yang pertimbangannya tinggi akan
membantu anggota kelompok menangani masalah pribadi, ramah, mudah
dihubungi, dan memperlakukan semua anggota kelompok sama. Ia
menunjukkan perhatian (mempertimbangkan) kenyamanan, kesejahteraan,
status, dan kepuasan para pengikutnya.
Apakah dimensi itu memadahi untuk menggambarkan perilaku
pemimpin?Riset menemukan bahwa pemimpin yang tinggi dalam
menyusun struktur permulaan dan pertimbangan (pemimpin tinggi-tinggi)
mencapai kinerja dan kepuasan tugas kelompok yang lebih sering daripada
yang berperingkat rendah dalam salah satu atau kedua dimensi itu. Akan
tetapi, gaya tinggi-tinggi itu tidak selalu memberikan hasil yang positif.
Perkecualian cukup banyak ditemukan yang menunjukkan bahwa mungkin
faktor-faktor situasi perlu diintegrasikan kedalam teori kepemimpinan.

15
2.2 DEFENISI KEPEMIMPIAN
Menurut House dalam Gary Yukl, (2009:4) mengatakan bahwa :
Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi,
memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya
demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Jadi dari pendapat House
dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan cara mempengaruhi dan
memotivasi orang lain agar orang tersebut mau berkontribusi untuk
keberhasilan organisasi. Terry Wahjosumidjo, (1994:25)
menyatakan bahwa“Leadershipis the activity of infuencing exercised to
strive willingly for group objectives” (Kepemimpinan adalah kegiatan
dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh
kemauan untuk tujuan kelompok). Dari pendapat Terry dapat diartikan
bahwa kepemimpinan itu adalah merupakan kemampuan untuk
mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan.
Dubin dalam Wahjosumidjo, (1994:21) “Leadership is the
exercises of authority and the making of decisions” (Kepemimpinan adalah
aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputusan). Dari
pendapat Dubin dapat diartikan bahwa kepemimpinan itu adalah merupakan
aktivitas yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan dalam membuat
suatu keputusan. Stogdill dalam Stonner, (2003:161) “Kepemimpinan
adalah suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang
berkaitan dengan pekerjaan dan anggota kelompok”. dari pendapat
Stogdill dapat ditarik suatu pendapat bahwa kepemimpinan itu
merupakan upaya dalam mempengaruhi dan mengarahkan suatu kelompok.
Menurut Edward Deming dalam Margono Slamet
(1999:1)adalah melembagakan kepemimpinan yang membantu setiap orang
dalam organisasi untuk dapat melakukan pekerjaan dengan baik melalui
kegiatan-kegiatan pembinaan, memfasilitasi, membantu mengatasi kendala,
dan lain sebagainya

16
Menurut Thoha(2013:49) bahwa Gaya Kepemimpinan merupakan
norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut
mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.Sedangkan
Rivai (2014:42) menyatakan Gaya Kepemimpinan adalah sekumpulan ciri
yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran
organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan
adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh
seorang
pemimpinootz&O’donnel(1984),mendefinisikankepemimpinansebagaiprose
s mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja sungguh-
sungguh untuk meraih tujuan kelompoknya.
GeorgerR.Terry(1960),kepemimpinanadalah kegiatan
mempengarui orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan bersama.
Mumfrrord (1906-1907) : “kepemimpinan adalah keunggulan
seseorang atau bebrapa individu dalam kelompok, dalam mengontrol
gejala-gejala sosial “. Cooley (1902) : “pemimpin selalu
merupakan inti dari tendensi dan di lain pihak, seluruk gerakan sosial bila
diuji secara teliti akan terdiri atas berbagai tendensi yang mempunyai inti
tersebut”.
Redl (1942) : “pemimpin adalah figur sentral yang mempersatukan
kelompok”
Brown (1936) : “pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok,
akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di
lapangan”. Knickerbocker (1948) : “kepemimpinan adalah fungsi dari
kebutuhan yang muncul pada situasi tertentu dan terdiri atas hubungan
antara individu dengan kelompoknya
Bowden (1926), mempersamakan kepemimpinan dengan kekuatan
kepribadian.

17
Tead (1929), kepemimpinan sebagai perpaduan dari berbagai sifat
yang memungkinkan individu mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan
beberapa tugas tertentu.
Bogarus (1928), kepemimpinan sebagai bentukan dan keadaan pola
tingkah laku yang dapat membuat orang lain berada di bawah pengaruh
nymimpinan
Munson (1921) : ”kepemimpinan sebagai kemampuan menghendle
orang lain untuk memperoleh hasil maksimal dengan friksi sedikit mungkin
dan kerja sama yang besar. Kepeadalah kekuatan semangat/moral yang
kreatif dan terarah”.
Stuart : “kepemimpinan sebagai kemampuan yang memberi kesan
tentang keinginan pemimpin, sehingga dapat menimbulkan kepatuhan, rasa
hormat, loyalitas dan kerjasama”.
Bundel (1930) : “ “memandang kepemimpinan sebagai seni untuk
mempengaruhi orang lain mengerjakan apa yang diharapkan supaya orang
lain mengerjakan”.
Hilips (1939) : “kepemimpinan adalah pembenahan, pemeliharaan
dan pengarahan dari kesatuan moral untuk mencapai tujuan akhir.
Hartle (1951) : “pemimpin dapat dianggap sebagi seorang individu
yang menggunakan pengaruh positif melalui tindakannya terhadap orang
lain”.Tannenbaum, Weschler dan Massank (1961) : “kepemimpinan sebagai
pengaruh interpersonal, dipraktekan dalam suatu situasi dan diarahkan
melalui proses komunikasiuntukmencapaitujuan.
Hemphill(1949):“kepemimpinan didefinisikan sebagi tingkah laku
seorang individu yang mengatakan aktivitas kelompok”
Schenk (1928) : “kepemimpinan adalah pengelolaan manusia
melalui persuasi dan interprestasi dari pada melalui pemaksaan langsung”.

18
Meson (1934) : “kepemimpinan mengindikasikan adanya
kemampuan mempengaruhi manusia dan menghasilkan rasa aman dengan
melalui pendekatan secara emosional dari pada melalui penggunaan
otoriter”.
Copeland (1942) : “kepemimpinan adalah seni berhubungan dengan
orang lain, merupakan seni mempengaruhi orang melalui persuasi dengan
contoh konkrit”.
Anda (1960) : “kepemimpinan sebagai tipe hubungan kekuasaan
yang berciri persepsi anggota kelompok tentang hak anggota kelompok
untuk menentukan pola tingkah laku yang sesuai dengan aktivitas
kelompok”.
Warriner (1955) : “kepemimpinan sebagai bentuk hubungan antara
manusia/individu yang mempersyaratkan konformitas dengan tindakan
masing-masing individu”.
Cowley (1928): “pemimpin adalah individu yang memiliki program,
rencana dan bersama anggota kelompok bergerak untuk mencapai tujuan
dengan cara yang pasti”.
Bellow (1959): “kepemimpinan sebagai proses menciptakan situasi
sehingga para anggota kelompok, termasuk pemimpin dapat mencapai
tujuan bersama dengan hasil maksimal dlam waktu yang singkat.
Borgardus (1929) : “kepemimpinan tidak sebagi penyebab atau
pengendali, melainkan sebagai aklibat dari tindakan kelompok”
Sherif (1956): “menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
peranan di dalam suatu skema hubungan dan ditentukan oleh harapan
timbal-balik antara pemimpin dengan anggota lainnya”.
Stogdill(1955): “kepemimpinan sebagai permulaan dan
pemeliharaan struktur harapan dan interaksi”.
Martinis Yamin dan Maisah (2010: 74) kepemimpinan adalah
suatu proses mempengaruhi yang dilakukan oleh seseorang dalam

19
mengelola anggota kelompoknya untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan merupakan bentuk strategi atau teori memimpin yang
tentunya dilakukan oleh orang yang biasa kita sebut sebagai pemimpin.
Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya
mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya
dalam mencapai tujuan.
Menurut Sudarwan Danim (2004: 56) kepemimpinan adalah setiap
perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk
mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok yang
tergabung di dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Dale Timple (2000: 58), kepemimpinan merupakan proses pengaruh
sosial di dalam mana manajer mencari keikutsertaan sukarela dari bawahan
dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Dengan kepemimpinan yang
dilakukan seorang pemimpin juga menggambarkan arah dan tujuan yang
akan dicapai dari sebuah organisasi. Sehingga dapat dikatakan
kepemimpinan sangat berpengaruh bagi nama besar organisasi.
C. Turney (1992) dalam Martinis Yamin dan Maisah (2010: 74)
mengemukakan pengertian kepemimpinan sebagai suatu group proses yang
dilakukan oleh seseorang dalam mengelola dan menginspirasikan sejumlah
pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi melalui aplikasi teknik- teknik
manajemen.
Menurut Iqbal, 2015, kepemimpinan adalah sebuah proses dimana
seorang pemimpin dapat secara langsung membimbing dan mempengaruhi
perilaku dan pekerjaan lainnya untuk menuju pencapaian dalam situasi
tertentu.
Adair (2002) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
untuk membujuk orang lain untuk mencari tujuan yang telah ditetapkan.

20
James MacGregor Burns mengidentifikasi terdapat dua jenis
kepemimpinan politis yaitu transaksional dan transformasional.
Kepemimpinan transaksional mencakup pada hubungan pertukaran antara
pemimpin dan pengikut, tetapi kepemimpinan transformasional lebih
mendasarkan pada pergeseran nilai dan kepercayaan pemimpin serta
kebutuhan pengikutnya. Kenry Pratt Fairchild dalam “Dictionary of
Sociologi and Related Sciences”. Pemimpin dapat dibedakan dalam 2 arti;
Pertama, pemimpin arti luas, sesorang yang memimpin dengan cara
mengambil inisiatif tingkah laku masyarakat secara mengarahkan,
mengorganisir atau mengawasi usaha-usaha orang lain baik atas dasar
prestasi, kekuasaan atau kedudukan. Kedua, pemimpin arti sempit,
seseorang yangmemimpin dengan alat-alat yang meyakinkan, sehingga para
pengikut menerimanya secara suka rela.
Dr. Phil. Astrid S. Susanto. Pemimpin adalah orangyang dianggap
mempunyai pengaruh terhadap sekelompok orang banyak.
JohnPfiffner, kepemimpinan adalah kemampuan mengkoordinasikan
dan memotivasi orang-orang dan kelompok untuk mencapai tujuan yang di
kehendaki
P. Pigors (1935),Kepemimpinan adalah proses mendorong dan
mendorong melalui interaksi yang berhasil dari perbedaan individu,
pengendalian kekuatan seseorang dalam mengejar tujuan bersama
Theo Haiman, Kepemimpinan sebagai proses beberapa orang,
dipimpin dalam pemilihan dan pencapaian tujuan.
C. Schenk “Leadership” : Infantry Journal. 1928, Kepemimpinan
adalah untuk mengetahui orang dengan cara persuasi dan inspirasi daripada
melalui briefing, ataupun ancaman terselubung.
James M. Black (1961), Kepemimpinan adalah kemampuan yang
mampu meyakinkan orang lain yang bersedia bekerja di bawah arahannya
dalam kesatuan tim untuk mencapai suatu tujuan tertentu. r.k.

21
merton “ the social nature of leadership”, american journal of nuns, 1969
kepemimpinan adalah sebagai suatu hubungan antar pribadi dalam mana
pihak lain mengadakan penyesuaian karena mereka berkeinginan untuk itu,
bukannya karena mereka harus berbuat demikian.
cleeton dan c.w mason (1934) kepemimpinan menunjukan
kemampuan mempengaruhi orang-orang dan mencapai hasil melalui
himbauan emosional dan ini lebih baik dibandingkan dengan penggunaan
kekuasaan .
2.3 BEBERAPA GAYA KEPEMIMPINAN

1. Gaya Kepemimpinan Teori Perilaku


Teori perilaku disebut juga dengan teori sosial dan merupakan
sanggahan terhadap teori genetis. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan
dibentuk tidak dilahirkan begitu saja (leaders are made, not born). Setiap
orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta
dorongan oleh kemauan sendiri. Teori ini tidak menekankan pada sifat-sifat
atau kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin tetapi memusatkan pada
bagaimana cara aktual pemimpin berperilaku dalam mempengaruhi orang lain
dan hal ini dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan masing-masing. Dasar
pemikiran pada teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah
pencapaian tujuan. Teori ini memandang bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) soerang
pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasikan.

Beberapa pandangan para ahli, antara lain James Owen (1973)


berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari. Hal ini berarti bahwa orang
yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin
secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa
perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai
dengan situasi yang lain. Akan tetapi, perilaku kepemimpinan ini

22
keefektifannya bergantung pada banyak variabel. Robert F. Bales (Stoner,
1986) mengemukakan hasil pemelitian, bahwa kebanyakan kelompok yang
efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared leadership),
seumpama satu oramg menjalankan fungsi tugas dan anggota lainnya
melaksanakan fungsi sosial. Konsiderasi dan struktur inisiasi

Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan


memiliki ciri-ciri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela,
mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Disamping itu, terdapat kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas orientasi.

2. Gaya Kepemimpinan Situasional


Teori kepemimpinan situasional atau the situational leadership theory
adalah teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey, penulis
buku Situational Leader dan Ken Blanchard, pakar dan penulis The Minute
Manager, yang kemudian menulis pula buku Management of Organizational
Behavior.
Teori ini pada awalnya diintrodusir sebagai “Life Cycle Theory of
Leadership”. Sampai kemudian pada pertengahan 1970an “Life Cycle Theory
of Leadership” berganti dengan sebutan “Situational Leadership Theory“. Di
akhir 1970an dan awal 1980an, masing-masing penulis mengembangkan teori
kepemimpinannya sendiri-sendiri. Hersey mengembangkan Situational
Leadership Model dan Blancard mengembangkan Situational Leadership
Model II.
Hersey dan Blanchard terus bersepakat dengan teori aslinya hingga
1977. Ketika mereka sepakat untuk menjalankan pemahaman masing-masing
pada akhir 1970-an, Hersey merubah nama dari kepemimpinan situasional
menjadi teori kepemimpinan situasional dan Blanchard menawarkan Teori
Kepemimpinan Situasional sebagai Pendekatan Situasional untuk Mengelola
Orang. Blanchard dan rekan-rekannya terus merevisi pendekatan situasional

23
untuk mengelola orang, dan pada tahun 1985 diperkenalkan Kepemimpinan
Situasional II (SLII).
Pada tahun 1979, Ken Blanchard mendirikan Blanchard Training &
Development Inc, (kemudian menjadi The Ken Blanchard Companies)
bersama-sama dengan istrinya Margie Blanchard dan dewan pendiri. Seiring
waktu, kelompok ini membuat perubahan konsep dari teori kepemimpinan
situasional awal pada beberapa bidang utama, termasuk penelitian dasar, gaya
kepemimpinan, dan kontinum tingkat perkembangan individu.
Model penelitian kepemimpinan situasional II (SLII) mengakui
penelitian yang ada dari teori kepemimpinan situasional dan merevisi konsep
berdasarkan umpan balik dari klien, manajer, dan karya peneliti terkemuka
pada bidang pengembangan kelompok. Kepemimpinan situasional menurut
Harsey dan Blanchard adalah didasarkan pada saling berhubungannya diantara
hal-hal berikut: Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh
pimpinan, jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
dan tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam
melaksankan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu (Thoha, 1983).
Model ini didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan diagnosis
bagi seorang manajer tidak bisa diabaikan, seperti terlihat pada “Manajer yang
berhasil harus seorang pendiagnosis yang baik dan dapat menghargai
semangat mencari tahu”. Apabila kemampuan motif serta kebutuhan bawahan
sangat bervariasi, seorang pemimpin harus mempunyai kepekaan dan
kemampuan mendiagnosis agar mampu membaca dan menerima perbedaan-
perbedaan itu.
Teori kepemimpinan situasional atau the situational leadership theory
adalah teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey, penulis
buku Situational Leader dan Ken Blanchard, pakar dan penulis The Minute
Manager, yang kemudian menulis pula buku Management of Organizational
Behavior. Definisi kepemimpinan situasional adalah “a leadership
contingency theory that focuses on followers readiness/maturity”. Inti dari
teori kepemimpinan situational adalah bahwa gaya kepemimpinan seorang

24
pemimpin akan berbeda-beda, tergantung dari tingkat kesiapan para
pengikutnya..
Apa yang dimaksud dengan Teori kepemimpinan situasional ?
Kepemimpinan situasional adalah “ a leadership contingency theory
that focuses on followers readiness/maturity ”. Inti dari teori kepemimpinan
situational adalah bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan
berbeda- beda, tergantung dari tingkat kesiapan para pengikutnya.

25
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Seperti yang telah dijelaskan diatas, Kehidupan manusia tidak lepas


dari masalah. Serangkaian masalah tidak lah boleh di diamkan. Setiap
masalah yang muncul haruslah diselesaikan. Dengan memiliki jiwa
kepemimpinan, seseorang akan mampu menaggulangi setiap masalah yang
muncul.Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap,
berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi
orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda-beda atas dasar
motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.
Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan
negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka
memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi
ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun
nonekonomis) berartitelah digunakan gaya kepemimpinan yang positif.
Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau
punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif.
Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam
banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.

26
3.2 SARAN
Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia.
Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak
untuk memimpin diri sendiri.Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat
tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada
pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak
bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti.
Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang
memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.

27
DAFTAR PUSTAKA

https://yunit4m4l1aa.wordpress.com
https://journal.ugm.ac.id
ttps://www.seputarpengetahuan.co.id
http://journal.um.ac.id
ejournal.iainpurwokerto.ac.id
https://journal.unnes.ac.id
https://rizqiyahratna.wordpress.com
https://www.academia.edu

Diambil pada tanggal 27 November 2017

iv