Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertia Sabun Cair

Sabun merupakan senyawa kimia yang dihasikan dari reaksi lemak atau
minyak dengan alkali. Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam
karboksilat dengan rumus umunya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis)
panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12 – C18 dan M adalah
kation dari kelompok alkali atau ion amonium (Austin, 1984).
Sabun adalah garam logam dari asam lemak.
- Pada prinsipnya sabun dibuat dengan cara mereaksikan asam lemak dan alkali
sehingga terjadi reaksi penyabunan
- Reaksi pertama :
Hidrolisa mendidih
Lemak + NaOH Gliserol + Asam lemak
- Reaksi kedua :
Penyabunan
3RCOOH + NaOH RCOONa + H2O
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus
ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut
dalam zat-zat non-polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam
air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan
tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air
karena membentuk misel (micelles), yakni segerombol (50-150) molekul sabun
yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujung ionnya
menghadap ke air (Austin, 1984).
Kegunaan sabun ialah kemempuannya mengemulsi kotoran berminyak
sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua
sifat sabun. Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat-zat
non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak. Kedua, ujung anion molekul sabun,
yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang
menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes
sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap
tersuspensi (Austin, 1984).
Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan, yakni
senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa
saja mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai molekul atau lebih) dan
suatu ujung hidrofilik. Porsi hidrokarbon suatu molekul surfaktan harus
mengandung 12 atom karbon atau lebih agar efektif (Austin, 1984).
Larutan encer sabun selalu terionkan membentuk anion dari alkil
karboksilat, yang aktif sebagai pencuci sehingga sabun alkil natrium karboksilat
disebut azt aktif anion. Gugus RCOO mempunyai sifat ganda, gugus alkil R
bersifat hidrofob (menolak air) sedangkan gugus karboksilat – COO bersifat
hidrofil (Harold. 1982).
Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin,
garam dan impurity lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat
digunakan untuk membuat sabun. Lemak dan minyak nabati merupakan dua tipe
ester. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari alcohol dan asam
karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat
mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti
minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat. Bahan pembuatan sabun
terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Bahan baku, seperti : minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa)).
b. Bahan pendukung, yang bertujuan untuk menambah kualitas produk sabun,
baik dari nilai guna maupun dari daya tarik, seperti : natrium klorida, natrium
karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.

1.2 Macam - Macam Sabun

a. Shaving Cream
Shaving Cream disebut juga dengan sabun Kalium. Bahan dasarnya adalah
campuran minyak kelapa dengan asam stearat dengan perbandingan 2:1.
b. Sabun Cair
Sabun cair dibuat melalui proses saponifikasi dengan menggunakan
minyak jarak serta menggunakan alkali (KOH). Untuk meningkatkan
kejernihan sabun, dapat ditambahkan gliserin atau alcohol.
c. Sabun kesehatan
Sabun kesehatan pada dasarnya merupakan sabun mandi dengan kadar
parfum yang rendah, tetapi mengandung bahan-bahan antiseptic dan bebas
dari bakteri adiktif. Bahan-bahan yang digunakan dalam sabun ini adalah
tri-salisil anilida, tri-klor carbanilyda, irgassan Dp 300 dan sulfur.
d. Sabun Chip
Pembutan sabun chip tergantung pada tujuan konsumen didalam
menggunakan sabun yaitu sebagai sabun cuci atau sabun mandi dengan
beberapa pilihan komposisi tertentu. Sabun chip dapat dibuat dengan
berbagai cara yaitu melalui pengeringan, atau menggiling atau
menghancurkan sabun yang berbentuk batangan.
e. Sabun Bubuk untuk mecuci
Sabun bubuk dapat diproduksi melalui dry-mixing. Sabun bubuk
mengandung bermacam-macam komponen seperti sabun, sodasah, sodium
metaksilat, sodium karbonat, sodium sulfat, dan lain-lain.
Berdasarkan ion yang dikandungnya, sabun dibedakan atas :
a. Cationic Sabun
Sabun yang memiliki kutub positif disebut sebagai kationic detergents.
Sebagai tambahan selain adalah bahan pencuci yang bersih, mereka juga
mengandung sifat antikuman yang membuat mereka banyak digunakan
pada rumah sakit. Kebanyakan sabun jenis ini adalah turunan dari
ammonia.
b. Anionic Sabun
Sabun jenis ini adalah merupakan sabun yang memiliki gugus ion negatif.
c. Neutral atau Non Ionic Sabun
Non ionic sabun banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring.
Karena sabun jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, sabun
jenis ini tidak beraksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Non ionic
sabun kurang mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic sabun.

1.3 Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun


Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah
trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi
dengan gliserol. Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam
lemak dengan rantai karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam
stearat) pada lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran
trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan
natrium hidroksida membebaskan gliserol. Sifat sifat sabun yang dihasilkan
ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam asam lemak yang
digunakan.
Komposisi asam-asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi
panjang rantai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya, panjang rantai yang kurang
dari 12 atom karbon dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada
kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun
yang sukar larut dan sulit menimbulkan busa.
Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh menghasilkan sabun yang
mudah teroksidasi bila terkena udara. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan
rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang
tidak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih
lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.

1.4 Jenis-jenis Minyak atau Lemak


Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun
harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi
produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan
lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses
pembuatan sabun di antaranya :

a. Tallow
Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan
dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan
FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas
baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow
dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan
stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow.
Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow
umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan
nama grease.
b. Lard
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam
lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti
stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus
dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi
ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan
mudah berbusa.
c. Palm Oil (minyak kelapa sawit)
Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow.
Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit.
Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya
kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun
yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit
berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku
pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan
lainnya.
d. Coconut Oil (minyak kelapa)
Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam
industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan
diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak
kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam
laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan
bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat,
kaprilat, dan kaprat
e. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit)
Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti
sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa
sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti
sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam
lemak rantai pendek lebih rendah, daripada minyak kelapa.
f. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin)
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-
asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana.
Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.
g. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil
memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga
harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai
bahan baku.
h. Castor Oil (minyak jarak)
Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat
sabun transparan.
i. Olive oil (minyak zaitun)
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan
kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari
minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
j. Campuran minyak dan lemak
Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari
campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering
dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi.
Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi
dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat
dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.

1.5 Bahan Baku Utama : Alkali


Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH,
KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal
dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak
digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam
pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu
soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan
asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa
tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang
dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan
kesadahan air.
Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan
sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun
industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali
yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk
mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.

1.6 Bahan Pendukung Pembuatan Sabun


Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan
sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai
sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl
(garam) dan bahan-bahan aditif.
a. NaCl.
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun.
Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl
yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun.
NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan
(kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin.
Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya
yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari
besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.
b. Bahan aditif.
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun
yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga
menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders,
Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.
 Builders (Bahan Penguat)
Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat
mineral mineral yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang
berfungsi untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan dapat
berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu
menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan
dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan
mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan
sebagai builder adalah senyawa senyawa kompleks fosfat, natrium
sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit.
 Fillers Inert (Bahan Pengisi)
Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku.
Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar
volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun
semata mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai
bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan
sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan
mudah larut dalam air.
 Pewarna
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini
ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk
mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik.
Biasanya warna-warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau
maupun orange.
 Parfum
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang
peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun.
Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang ditawarkan bagus, tetapi
bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya.
Parfum untuk sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan
dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram
(g) dapat dikonversikan ke mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum =
1,1ml.
Pada dasarnya, jenis parfum untuk sabun dapat dibagi ke dalam dua
jenis, yaitu parfum umum dan parfum ekslusif. Parfum umum
mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat seperti
aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen sabun
menggunakan jenis parfum yang ekslusif. Artinya, aroma dari parfum
tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang
menggunakannya.

BAB II

DATA PREFORMULASI

Monografi Zat .
1. Olive oil ( minyak zaitun)
Pemerian : cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan;
bau lemah, tidak tengik; rasa khas. Pada
suhu rendah sebagian atau seluruhnya
Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95%) P; larut
dalam kloroform, dalam eter P dan dalam
eter minyak tanah P
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terisi penuh
Khasiat : zat tambahan
2. KOH
Pemeriaan : Putih berbentuk batang/bongkahan putih
serbuk kasar
Kelarutan : Larut dalam air
Khasiat : Pelarut, zat tambahan
3. Asam Stearat (FI Ed III Hal 57-58)
Pemerian : keras, putih atau kuning samar, mengkilat,
kristal padat, atau serbuk putih atau putih
kekuningan, agak berbau, rasa seperti lemak
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20
bagian etanol (95%), dalam 2 bagian
kloroform dan dalam 3 bagian eter
Stabilitas : merupakan material stabil, antioksidan
dapat ditambahkan ke dalam sediaan,
simpan dalam tempat tertutup, kering, sejuk
pH : 5,5
Khasiat : Agen pengemulsi, agen pelumas, lubrikan
tablet dan kapsul
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
4. Na-CMC
Pemerian : serbuk/granul, putih sampai krem,
higroskopis
Kelarutan : mudah terdispersi dalam air membentuk
larutan koloid, tidak larut dalam etanol, eter
dan pelarut organik lain.
Khasiat : suspending agent, peningkat viskositas
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat

5. Na. Lauril Sulfat


Sinonim : Natrii lauryl sulphate
Rumus molekul : C12 H25 NaO 4
Berat molekul : 288.38
Pemerian : serbuk putih, atau cream sampai Kristal
kuning
Fungsi : surfaktan anionic, emulsifying agent (0.5-
2,5%)
pH : 7.0-9,5
kelarutan : sangat larut dalam air, praktis tidak larut
dalam eter dan kloroforom
OTT : garam alkaloid, dan mengendap dengan
garam potassium.
6. BHA
Pemerian : Putih hampir putih, serbuk Kristal atau
kekuningan berbau aromatic
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air,mmudah larut
dalam etanol 50%, propilenglikol,
kloroform, eter, dan heksan
Stabilitas : paparan dari cahaya menyebabkan
perubahan warna dan kehilangan aktivitas
Wadah : dalam wasah tertutup terlindung dari sinar
cahaya matahari.
7. Aqua dest
Rumus Molekul : H2O
Berat molekul : 18,0158 g/mol
Nama kimia : aquadestillata
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
dan tidak mempunyai rasa.
Fungsi : sebagai pelarut universal
Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, ditempat sejuk.

BAB III

FORMULASI

1. Rancangan Formulasi
Dalam Sediaan tiap 10 g mengandung
R/ Minyak zaitun 30 ml
KOH 16
CMC 1
Na Lauril Sulfat 1
Asam Stearat 0.5
BHA 1
Pengaroma 1
Aqua dest ad 100
Master Formula
a. Nama Produk : Tiant Soap
b. Tanggal Formulasi : 7 Januari 2019
c. BPOM RI NO : NA18190700011

2. Alasan Pemilihan Zat Tambaha


a. Minyak zaitun (olive oil)
Fungsinya untuk memadatkan sabun, menghasilkan busa yang banyak,
melembabkan dan melembutkan kulit.
b. KOH
KOH merupakan alkali yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat
sbun cair yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat sabun cair
sehingga sabun berbusa
c. CMC
Berfungsi sebagai pensuspensi sediaan sabun cair
d. Asam stearat
Berfungsi sebagai pengemulsi dan pelicin sediaan sabun
e. BHA
berfungsi untuk mengatasi kekusaman kulit.
f. Na Lauril Sulfat
Na.lauril sulfat berfungsi untuk membantu aksi agen polishing
3. Alasan pemilihan bentuk sediaan
Alasan bahan obat diformulasikan dalam bentuk sediaan sabun cair adalah
secara efektif dapat mengikat partikel dalam suspensi yang mudah dibawa
oleh air. Sehingga mudah digunakan dan sediaan sabun cair juga lebih praktis
dan tidak mudah terjadi penyebaran kontaminasi mikroba.

BAB IV
PENIMBANGAN BAHAN

a. Minyak zaitun
= 30 ml
b. KOH
= 16
= 16000 mg
c. CMC
=1
= 1000 mg
d. Na Lauril Sulfat
=1
= 1000 mg
e. Asam Stearat
= 0.5
= 500 mg
f. BHA
=1
= 1000 mg
g. Pengaroma
= 1 ml
h. Aqua dest
= 100 – (30 + 16 + 1 + 1 + 0.5 + 1 + 1)
= 49.5 ml

BAB V
CARA KERJA

Prosedur Pembuatan
i. Alat dan Bahan

Alat Bahan

1. Spatel 1. Minyak zaitun


2. Beaker glass 2. KOH
3. Sendok 3. CMC
4. Na Lauril Sulfat
4. Sudip
5. Asam Stearat
5. Timbangan 6. BHA
6. Perkamen 7. Pengaroma
7. Wadah Sabun 8. Aqua dest

ii. cara kerja

a) Siapkan alat dan bahan


b) Setarakan timbangan
c) Timbang semua bahan
d) CMC dikembangkan dengan air panas selama 15 menit
e) Minyak zaitu masukan kedalam beaker gelas + KOH sedikit demi
sedikit aduk panas pada suhu 50O C hingga mendapatkan sabun pasta +
15 ml Aq dest + Na CMC tadi aduk hingga homogeny + asam stearate
aduk + Na Lauril + BHA aduk + pengaroma aduk homogen
f) Masukan kedalam wadah

BAB VI
EVALUASI SEDIAAN

1. Uji Organoleptis
Dalam praktikum kali ini dilakukan evaluasi dari sediaan sabun
cair yang telah dibuat. Evaluasi yang dilakukan yaitu uji organoleptis yang
meliputi warna, bentuk, dan bau

Uji Hasil
Bentuk Semi padat
Warna Kecoklatan
Bau Khas
Rasa -
BAB VII
PEMBAHASAN

Pada praktikum teknologi farmasi sediaan cair dan semisolid kali ini
membuat sediaan sabun cair. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun
keras adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakn pada
sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH).
Sediaan sabun cair yang dibuat tidak menggunakan zat aktif, melainkan
hanya menggunakan zat tambahan yang akan dijadikan base sabun cair. Zat
tambahan yang digunakan adalah, minyak zaitun, KOH, CMC, asam stearat, Na
Lauril, BHA, dan aquadest. Minyak zaitun (olive oil) berfungsi untuk
memadatkan sabun, menghasilkan busa yang banyak, melembabkan dan
melembutkan kulit. KOH merupakan alkali yang dapat digunakan sebagai bahan
pembuat sbun cair yang dapat digunakan sebagai bahan pembuat sabun cair
sehingga sabun berbusa. CMC berfungsi sebagai pensuspensi sediaan sabun cair
dan asam stearat berfungsi sebagai pengemulsi dan pelicin sediaan sabun.
Na.lauril sulfat berfungsi untuk membantu aksi agen polishing, serta BHA
berfungsi untuk mengatasi kekusaman kulit.
Sediaan sabun cair dibuat dengan Pertama CMC dikembangkan dengan air
panas selama 15 menit lalu selanjutnya minyak zaitu masukan kedalam beaker
gelas + KOH sedikit demi sedikit aduk panas pada suhu 50O C hingga
mendapatkan sabun pasta ditambah 15 ml Aq dest selanjutnya tambah Na CMC
tadi aduk hingga homogeny lalu tambah asam stearate aduk tambahkan Na
Lauril , BHA diaduk terakhir tambahkanpengaroma aduk homogeny.
Setelah sediaan sabun cair selesai diformulasi, selanjutnya dilakukan
evaluasi yang mencakup uji organoleptis dengan mengamati bentuk, bau, dan
warna dari sediaan. Dari pengamatan yang dilakukan, bentuk sediaan berupa
semisolid, bau khas, dan berwarna kecoklatan.

BAB VIII
KESIMPULAN

Sediaan sabun cair yang dibuat tidak menggunakan zat aktif, melainkan
hanya menggunakan zat tambahan yang akan dijadikan base sabun cair. Zat
tambahan yang digunakan adalah minyak zaitun, Na Lauril Sulfat, KOH, NMC,
asam stearat, gliserin, BHA, pengaroma, dan aquadest. Setelah sediaan sabun cair
selesai diformulasi, selanjutnya dilakukan evaluasi yang mencakup uji
organoleptis dengan mengamati bentuk, bau, dan warna dari sediaan. Dari
pengamatan yang dilakukan, bentuk sediaan berupa semisolid, bau khas, dan
berwarna kecoklatan.
LAMPIRAN

1. Desain Etiket Sediaan

2. Sediaan Sabun Cair


DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh .1997 .Ilmu Meracik Obat .Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas
Press

Departemen Kesehatan Republik Indonesia .1979 .Farmakope Indonesia Edisi


III. Jakarta: Dekpes RI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia .1995 .Farmakope Indonesia Edisi


IV. Jakarta : Dekpes RI

Dr. Retno Iswari Traggono, SpKK, Dra Fatwa Latifah, Apt. Buku Pegangan Ilmu
Pengetahuan Kosmetik. 2007. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama

Eddy Tano, Dipl, Chem. Eng. Teknik Membuat Kosmetik dan Tip Kecantikan.
1996 Jakarta. Penerbit Rineka Cipta

Karo, A.Y.K. (2011). Pengaruh penggunaan kombinasi jenis minyak terhadap


mutu sabun transparan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rowe J, Raymond. Sheskey J, Paul. Quinin E, Marian. 1986. Handbook of


Pharmaceutical Excipients. London.
SB, Srivasta. 1998. Soap Detergent and Perfume Industry. Small Industry
Research. Institute Roop Nagar. Delhi:Journal of Soap.
Sjarif M. Wasitaatmadja. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. 1997. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI FARMASI SEDIAAN CAIR DAN


SEDIAAN SEMI SOLID

Sabun Cair

Oleh :
Intania Pertiwi
(2016.01.00.02.011)

Dosen Pengampu : Widyastuti, S.Si, M.Farm., Apt.


PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR
BUKITTINGGI
2019

Anda mungkin juga menyukai