Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

INOVASI PROGRAM PENGAJARAN BIOLOGI


(AKPC2802)

“EFEK DARI MEDIA MOBILE-APLIKASI PADA MOTIVASI BIOLOGI


SISWA DAN PRESTASI DALAM IDENTIFIKASI SPESIES”

Disusun oleh :
Farah Annisa (A1C215207)
Jauhar Fikri (A1C215211)
Kartika Maharani (A1C215212)

Dosen pengasuh :
Dr. H. Aminuddin Prahatama Putra, M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
MARET
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dari mata
kuliah Inovasi Program Pengajaran Biologi dalam waktu yang telah ditentukan.
Dalam makalah ini penulis sampaikan informasi mengenai inovasi media berbasis
m-learning dengan berpacu literatur dari sumber jurnal internasional.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada salah
satunya yaitu dosen pengampu mata kuliah Inovasi Program Pengajaran
Biologi.Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk
sekarang dan masa yang akan datang.

Banjarmasin, 9 Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
BAB II ..................................................................................................................... 2
BAHAN DAN METODE ....................................................................................... 2
2.1 Bahan ........................................................................................................ 2
2.2 Metode ...................................................................................................... 3
BAB III ................................................................................................................... 5
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... 5
3.1 Tabel Perbandingan Hasil Rata-rata Antara Kondisi Eksperimental ....... 5
3.2 Pembahasan .............................................................................................. 6
BAB IV ................................................................................................................... 8
PENUTUP ............................................................................................................... 8
4.1 Kesimpulan ............................................................................................... 8
4.2 Saran ......................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 9

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemampuan untuk mengidentifikasi tumbuhan atau hewan spesies
tertantu adalah dasar ilmu pengetahuan keanekaragaman hayati. Penelitian
keanekaragaman hayati semakin kritis dalam sebuah topik dunia dengan tingkat
belum pernah terjadi sebelumnya dari perubahan iklim, hilangnya habitat, dan
lainnya. Tekanan lingkungan sangat dibutuhkan untuk memahami dampak dari
lingkungan pada keanekaragaman hayati dan ekosistem kita.
Menyediakan tenaga kerja masa depan dengan keterampilan dan
kompetensi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini
adalah penyampaian kunci dari sistem pendidikan, dan oleh karena itu sebuah
paradoks yang ada sekarang fokus pada pembelajaran taksonomi hewan dan
tumbuhan di semua tingkatan pendidikan. Pengetahuan keanekaragaman hayati
terutama keterampilan mengidentifikasi spesies didasari pada hafalan dan proses
kognitif sederhana. Faktor yang meningkatkan pengetahuan secara umum, motivasi
untuk mengidentifikasi spesies tumbuhan dan hewan, dan pentingnya mengetahui
jenis spesies.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh alat
aplikasi mobile untuk identifikasi spesies dikalangan mahasiswa biologi dengan
menilai bagaimana penggunaan aplikasi mobile mempengaruhi prestasi mahasiswa,
prediktor motivasi mereka untuk berprestasi, dan nilai mereka yang dirasakan dari
identifikasi spesies. Beberapa laporan menyatakan STEM bahwa daerah
pendidikan dan penelitian (Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika) adalah
domain yang sangat penting untuk berinvestasi di masa depan, baik di seluruh dunia
dan di Norwegia pada khususnya (Departemen Pendidikan dan Penelitian). Namun,
di antara negara-negara OECD, Norwegia skor yang terendah dalam motivasi
mahasiswa dan persepsi kegunaan dalam pendidikan mereka (OECD, 2014).
Dengan peningkatan jumlah kemungkinan elektronik sebagai metode pengajaran,
buku teks dapat dikatakan sudah kuno, dan menggunakan aplikasi mobile bisa
menjadi cara untuk meningkatkan motivasi dan prestasi mahasiswa.

1
BAB II
BAHAN DAN METODE
2.1 Bahan
Norwegia flora dikenal relatif miskin akan spesies, tetapi dengan beberapa
pengecualian, seperti rumput teki (Latin: Carex) ada lebih dari 2000 spesies yang
berbeda dari alang-alang di seluruh dunia: 97 dari mereka ditemukan di daratan
Norwegia. Untuk mahasiswa biologi sarjana baru, sedges mungkin terlihat seperti
rumput dan graminoids lain tapi setelah dipelajari mudah untuk membedakan
mereka. Banyak mahasiswa berusaha untuk mengidentifikasi sedges sampai
spesies, dan kurang memiliki motivasi bahkan untuk mencoba mengidentifikasi
kelompok ini. Secara tradisional, pengajaran dan mengidentifikasi teki tahunan
telah dilakukan dengan menggunakan identifikasi klasikfi kunci kation di Norwegia
standar identifikasi tanaman buku kation “Lid Flora”.
Identifikasi yang diproses kation di Lid Flora adalah hier-archical dan
memanfaatkan dikotomis “kunci-kunci”. Hal ini memerlukan siswa untuk pertama
mengidentifikasi keluarga tanaman, maka berdasarkan karakteristik individu,
mahasiswa harus memilih antara dua kemungkinan sebelum pindah ke identifikasi
berikutnya. Untuk spesies yang tepat di antara 104 spesies Norwegia, mahasiswa
biasanya harus melalui pertanyaan, sering melibatkan mikroskopis dan sulit
membedakan karakteristik sebelum akhirnya menemukan spesies yang tepat.
Tahapan ini seringkali memerlukan pengetahuan yang luas mengenai istilah teknis
dan morfologi. Selain menjadi komprehensif dan kompleks, sehingga tidak cocok
bagi mahasiswa untuk mengerjakannya dilapangan atau kerja praktek lainnya.
Sebuah alternatif untuk metode buku teks tradisional ini yaitu “ArtsApp”,
Yang dikembangkan bersama oleh bioCEEDeCenter of Excellence di Pendidikan
Biologi, Norwegia Pusat Informasi Keanekaragaman Hayati, dan Pusat Pendidikan
Sains. ArtsApp tersedia untuk smartphone Android dan dapat didownload secara
bebas di Google Store (bioCEED 2015). ArtsApp adalah aplikasi mobile yang
memungkinkan mahasiswa untuk mengidentifikasi spesies alang-alang lebih
dinamis dengan kemampuan untuk memilih semua karakteristik spesies untuk
menentukan pertama, dan dengan demikian dapat memulai dengan karakteristik

2
lebih mudah daripada harus bergerak ke bawah dalam urutan tertentu. ArtsApp
berisi gambar dari karakteristik tersebut, selain deskripsi tekstual (Gambar. 1 a dan
b). ArtsApp juga melacak kemajuan pengguna dalam hal berapa banyak spesies
yang telah dikeluarkan dan berapa banyak yang tersisa untuk memilih sebelum
berakhir dengan identifikasi. ArtsApp juga memiliki geografis “smart” dalam hal
ini dapat mengecualikan spesies yang tidak ditemukan, dan karena itu tidak relevan,
di daerah studi pengguna.

Gambar. 1. Screenshot dari ArtsApp: a) struktur alang, b) cara yang berbeda


untuk mengidentifikasi spesies dan menunjukkan di bagian bawah berapa banyak
spesies yang tersedia, berapa banyak yang kiri sesuai dengan lokasi geografis, dan
berapa banyak spesies telah dieliminasi.

2.2 Metode
Mahasiswa Tahun kedua siswa sarjana di sebuah universitas besar di
Norwegia, 35 % laki-laki dan 65% perempuan, dengan rata-rata usia kelas 21-22
tahun. Para mahasiswa direkrut sebagai bagian dari kursus biologi wajib. 94
mahasiswa diminta untuk berpartisipasi. Informasi tertulis tentang tujuan penelitian
ini diberikan kepada siswa sebelum memulai percobaan. Semua siswa diberitahu

3
bahwa studi ini telah memperoleh persetujuan dari Norwegia Ilmu Sosial Data
Services untuk penelitian (NSD). Metode ini, kami memperoleh tingkat respon
75%. Semua siswa memberi jawaban yang benar untuk identifikasi yang ditanyakan
dilapangan. Penelitian dilakukan selama tiga hari.
Prosedur percobaan adalah sebagai berikut: peserta diperkenalkan secara
umum untuk mengidentifikasi spesies pada hari pertama kursus. Metode buku teks
dan baru “ArtsApp”. Metode digital pada smartphone atau tablet. Setelah
pengenalan umum ini peneliti melakukan percobaan. Seorang asisten penelitian
yang terlatih kemudian menilai peserta secara acak pada kondisi eksperimental
(ArtsApp e-aplikasi mobile) dan kondisi kontrol (Lid Flora buku pelajaran).
Para peserta kemudian diberi amplop yang berisi informasi tentang studi,
tes, dan angket pasca-eksperimental. Para peserta yang ditugaskan untuk kondisi
kontrol kemudian diberi petunjuk berikut: “Mohon menjawab semua pertanyaan
dengan menggunakan buku teks Lids Flora. Anda dapat menggunakan waktu
selama Anda inginkan. Jika Anda tidak mampu menjawab pertanyaan, hanya
pindah ke berikutnya. Ketika Anda selesai dengan pertanyaan-pertanyaan Anda
bisa mulai dengan bagian 2, kuesioner. Silakan menanggapi semua pertanyaan dan
menjadi seperti yang tulus mungkin”.
Peserta yang ditugaskan untuk kondisi eksperimental diberi petunjuk
berikut: “Mohon menjawab semua pertanyaan dengan menggunakan smartphone
atau tablet dan aplikasi ArtsApp. Anda dapat menggunakan waktu selama Anda
inginkan. Jika Anda tidak mampu menjawab pertanyaan, silahkan pindah ke
berikutnya. Ketika Anda selesai dengan pertanyaan-pertanyaan Anda bisa mulai
dengan bagian 2, kuesioner. Silakan menanggapi semua pertanyaan dan menjadi
seperti yang tulus mungkin”. Semua peserta dalam kondisi kontrol disediakan
dengan buku teks sedangkan peserta dalam kondisi eksperimental yang tidak
memiliki smartphone mereka sendiri atau tablet diberi tablet agar mereka bisa
menggunakan aplikasi selama percobaan.

4
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Tabel Perbandingan Hasil Rata-rata Antara Kondisi Eksperimental

Gambar. 2. Perbandingan hasil rata-rata antara kondisi eksperimental (aplikasi


mobile) dan kondisi kontrol (buku teks) pada dependent variabel.

5
3.2 Pembahasan
Analisis deskriptif variabel penelitian sebagian besar siswa (71,8%) tidak
memiliki pengalaman sebelumnya dengan mengidentifikasi spesies sebelum
percobaan dan sangat sedikit siswa (4,2%) memiliki pengalaman. Sebagian besar
peserta lebih memilih aplikasi mobile untuk buku pelajaran sebagai identifikasi
primer (aplikasi mobile 71,8%, buku teks 19,7%). Peneliti membandingkan efek
relatif dari aplikasi mobile dan buku teks pada motivasi intrinsik, kompetensi yang
dirasakan, dan nilai prestasi. Beberapa sample t-tes independen dilakukan. Gambar.
2 menyajikan hasil perbandingan bersama dengan nilai rata-rata dan standar
deviasi.
Perbedaan cant-tween peserta dalam percobaan (aplikasi mobile) dan
kondisi kontrol (buku teks) untuk semua variabel: peserta menggunakan aplikasi
mobile memiliki motivasi intrinsik yang lebih tinggi (M ¼ 5.44, SD ¼ 1,23)
dibandingkan dengan menggunakan buku teks (M ¼ 3.24, SD ¼1,31; t (69)¼ 7.24,
p < 0,001), dirasakan kompetensi (aplikasi mobile; M ¼ 3,41, SD ¼1,19, buku teks;
M¼ 2,54, SD ¼0,89; t (69)¼ 3,44, p < 0,001), dan skor prestasi (aplikasi mobile;
M ¼ 7.78, SD ¼3.21, buku teks; M¼ 5.95, SD ¼3,46; t (69)¼ 3,41, p <0,05). Hasil
menunjukkan bahwa percobaan-kondisi (penggunaan aplikasi mobile), relatif
terhadap kontrol-kondisi (penggunaan buku teks), memiliki ukuran efek yang kuat
(keluarga Cohen d) pada motivasi intrinsik (d¼ 1,73) dan kompetensi yang
dirasakan (d ¼ 0.82), dan media untuk efek yang kuat pada prestasi (d ¼ 0,54).
Penelitian ini meneliti efek relatif dari aplikasi mobile vs identifikasi
tradisional. Media pada prestasi siswa dan motivasi dalam identifikasi spesies
menggunakan pendekatan Teori Penentuan Nasbi. Perbedaan tidak bisa di motivasi
intrinsik dan kompetensi yang dirasakan antara mahasiswa dengan menggunakan
aplikasi mobile dibandingkan dengan siswa menggunakan buku teks, baik dengan
ukuran efek yang cukup besar. Siswa juga memperoleh nilai jauh lebih tinggi pada
tes prestasi saat menggunakan aplikasi mobile dibandingkan dengan buku teks,
dengan ukuran efek media. Jadi pertama hipotesis penelitian, ArtsApp
berkontribusi untuk skor yang lebih tinggi prestasinya, kompetensi dirasakan, dan
motivasi intrinsik dibandingkan dengan identifikasi tradisional. Media didukung

6
beberapa interpretasi dapat dibuat untuk memperhitungkan efek ini. Pertama, hasil
mungkin akibat dari fungsi ArtsApp, yang memungkinkan siswa mendapat umpan
balik lebih banyak pilihan dan effectance-relevan.
Guru (dan pengembangan solusi teknologi) dengan demikian didorong
untuk memberikan para siswa dengan berbagai pilihan, tantangan tugas yang
optimal, dan umpan balik effectance-relevan (Deci et al., 1994). Yang penting, m-
learning memberikan aspek informal untuk belajar, sehingga melanjutkan belajar
siswa di luar konteks kelas (Sandberg, Maris, & Geus, 2011), Dan juga bisa
meningkatkan pembelajaran dan motivasi intrinsik, hasil penelitian menunjukkan
beberapa sarjana membantah implementasi teknologi dalam pendidikan tinggi,
menyoroti paradoks dan konsekuensi dari teknologi dalam pendidikan (Guri-
Rosenblit 2005).
M-learning dapat menimbulkan beberapa permasalahan, misalnya, mungkin
ada kesalahan dalam perangkat, konsumsi waktu, dan antipati terhadap guru (Gikas
& Grant, 2013). Kekurangan lain dari penggunakan aplikasi seperti keypad kecil,
masalah jaringan, dan menggunakan smartphone untuk tujuan selain pendidikan,
kekhawatiran penting yang dapat mengganggu belajar. Namun, dengan
menggunakan smartphone difield memiliki beberapa keunggulan bagi siswa, studi
yang dilakukan oleh Gikas dan Grant (2013) dan Mouza dan Barrett-Greenly (2015)
menemukan bahwa siswa melaporkan bahwa m-learning memiliki keuntungan
untuk dapat mengakses informasi dengan cepat, membuat komunikasi dengan
kedua teman dan guru lebih mudah, menyediakan cara belajar yang berbeda, dan
pembelajaran yang lebih terstruktur, smartphone memungkinkan kemungkinan
yang lebih besar untuk berinteraksi lebih dinamis dengan dunia nyata dan dengan
guru. Kesadaran tentang penggunaan teknologi dan keterbatasan penting ketika
mengintegrasikan teknologi dalam pengaturan pendidikan.

7
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Makalah ini menyajikan hasil media aplikasi mobile baru untuk ahli biologi.
Penelitian ini menambah literatur m-learning dalam beberapa hal penting. Pertama
media aplikasi mobile meningkatkan motivasi dan belajar siswa. Dibandingkan
dengan buku teks, alat aplikasi mobile meningkatkan persepsi siswa tentang
pentingnya belajar tentang identifikasi.

4.2 Saran
Selain itu, penelitian ini telah menemukan hasil yang tidak langsung penting
sejalan dengan SDT. Studi masa depan harus memperluas desain dan termasuk
otonomi mendukung dan mengendalikan kondisi untuk lebih menilai validitas SDT
dalam kaitannya dengan m-learning. Terakhir, beberapa studi telah meneliti efek
dari m-learning dalam SDT-pendekatan; Penelitian ini menyempit kesenjangan ini.
Penelitian selanjutnya diperlukan untuk lebih memahami bagaimana SDT-konsep
berhubungan dengan e-learning dalam pendidikan tinggi, dan mengapa mahasiswa
lebih termotivasi secara intrinsik ketika menggunakan aplikasi mobile.

8
DAFTAR PUSTAKA

Lucas M. Jeno, John Arvid Grytnes b, Vigdis Vandvik. 2017. The effect of a mobile-
application tool on biology students' motivation and achievement in species
identification: A Self-Determination Theory perspective. bioCEED- Centre
of Excellence in Biology Education Department of Biology University of
Bergen: Norway