Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM XI

EKOLOGI TUMBUHAN
(ABKC 2601)

“STRUKTUR POPULASI”

Oleh :
Kelompok III
Artika Fitri J. (A1C215203) Husnul Khatimah (A1C215046)
Aufa Nabila (A1C215041) Helman Khusyu A. (A1C215015)

Asisten Dosen :
1. Adelita Indria Putri, S. Pd 5. Bukhairi
2. Atika Rahmawati, S. Pd 6. Muhammad Rizki Anwar
3. Ayatul Fajrin 7. Muhammad Refka Isnadi
4. Bimo Aji Nugroho, S. Pd 8. Rakhmani Mulkan

Asisten Lapangan :
1. Antung Fitriani, S. Pd 6. Nur Abdi Suga. S
2. Dini Puspitawati 7. Noor Sahdi, S. Pd
3. Disyacitta Camelia, S. Pd 8. Rizky Ary Septian, S. Pd
4. Elfa Rahmi 9. Shella Sugiarti
5. Musliha, S. Pd 10. Venna Martha I., S. Pd

Dosen Pengasuh :
Dr. Dharmono, M. Si
Drs. H. Hardiansyah, M. Si
Mahrudin, S. Pd, M. Pd
Maulana Khalid Riefani, S. Si., M. Sc

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
APRIL
2018
PRAKTIKUM
Topik : Epifit
Tujuan : Untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan epifit
Hari/Tanggal : Minggu/18 Februari 2018
Tempat : Desa Gedambaan, Kec. Pulau Laut Utara, Kab. Kotabaru,
Provinsi Kalimantan Selatan

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Plastik sampel 5. Altimeter
2. Alat tulis 6. Anemometer
3. Termometer 7. Luxmeter
4. Hygrometer 8. Soil tester

B. Bahan
1. Epifit yang menempel pada pohon.

II. CARA KERJA


1. Menentukan pohon tegakan.
2. Mengamati sekitar pohon tersebut untuk melihat jenis epifit yang
menempel.
3. Mengambil sampel epifit.
4. Memasukkan hasil pengamatan dalam tabel pengamatan.

III. TEORI DASAR


Tumbuhan epifit merupakan tumbuhan khas hutan tropika basah,
seperti paku epifit, anggrek, lumut-lumut pohon, dan lain-lain, tumbuh
melekat pada batang atau cabang tumbuhan lain (tumbuhan inang).
Pada umumnya, tumbuhan epifit tidak memberikan kerugian bagi
tumbuhan inangnya. (Suharini & Palangan, 2006)
Epifit adalah tumbuhan yang hidup menempel pada tumbuhan lain,
tidak berakar di tanah, memiliki ukuran yang lebih kecil di bandingkan
dengan tumbuhan inangnya. (Indriyanto, 2006)
Epifit menggunakan tanaman lain seperti pohon, untuk mendukung
fisiknya, tetapi tidak mengambil nutrisi dari tanaman lain tersebut.
(Allaby, 1992)
Tumbuhan epifit banyak tumbuh di bagian cabang-cabang pohon
dibandingkan di ranting-ranting yang horizontal, hal ini disebabkan
oleh kesempatan epifit lebih besar untuk mendapatkan hara dari
deposit yang berasal dari aliran batang atau cabang karena tumbuhan
epifit sangat bergantung pada prespitasi dan depost hara yang terbawa
presipitasi. (Indriyanto, 2006)
Habitat memberikan definisi khusus satu set kondisi yang cocok
untuk kelangsungan hidup organisme, atau dimana saja suatu
kehidupan organisme. Tingkatan habitat, seperti mikrohabitat yang
mengacu pada entitas yang lebih besar seperti hutan, danau, dan
padang rumput. Konsep mikrohabitat, seperti lapisan serasah, atau
kanopi pohon, identik untuk tempat fisik yang lebih spesfik. (Lederer,
1984)
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Hasil Pengamatan
Mangifera Cocus Durio K F
No. Nama Spesies ∑Ind KR (%) FR (%) NP (%)
indica nucifera zibethinus (Ind/Titik) (Cup/Titik)
1 Piper betle 2 0 0 2 0,67 25,00 0,33 16,50 41,50
2 Cayratia trifolia 1 1 1 3 1,00 37,50 1,00 50,00 87,50
3 Drygmoglossum pilloselloides 0 2 1 3 1,00 37,50 0,67 33,50 71,00
∑ 3 3 2 8 2,67 100,00 2,00 100,00 200,00

Contoh perhitungan Piper betle


∑ 𝐼𝑛𝑑 2
K = ∑ 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 = 3 = 0,67 Ind/Titik

𝐾 0,67
KR = ∑ × 100% = × 100% = 25,00%
𝐾 2,67

𝐶𝑢𝑝 1
F = ∑ 𝑇𝑖𝑡𝑖𝑘 = 3 = 0,33 Cup/Titik

𝐹 0,33
FR = ∑ 𝐹 × 100% = 2,00 × 100% = 16,50%

FR = 𝐾𝑅 + 𝐹𝑅 = 25,00 + 16,50 = 41,50%


B. Parameter Lingkungan
PENGULANGAN
No NAMA ALAT KEGUNAAN ALAT SATUAN KISARAN
I II III
1 Termometer (Udara) mengukur suhu udara C0 30 29 30 29-30
2 Hygrometer mengukur kelembaban udara % 87 85 85 85-87
3 Soiltester Mengukur pH tanah pH 6,4 5,2 5 5-6,4
Mengukur Kelembaban tanah Kelembaban 69 50 60 50-69
4 Anemometer Mengukur kecepatan angin m/s 0,4 0,4 0,5 0,4-0,5
5 Lux meter Mengukur Intesitas cahaya Lux max >20000 >20000 >20000 >20000
6 Alti meter mengukur ketinggian suatu tempat mdpl 5 6 6 5-6
V. ANALISIS DATA
Jenis-jenis pohon yang berbeda-beda seringkali menunjukkan
kekhususan dalam flora epifitnya, yang diduga karena adanya beda
susunan kimiawi air hujan yang mengalir maupun karena adanya sebab
yang lebih jelas yang bertalian dengan naungan atau tekstur kulit
batang pohon.
Faktor-faktor edafik adalah faktor-faktor yang bergantung pada
tanah dalam keadaannya sebagai tanah pada konstitusinnya,
kandungan air dan udara, organisme yang hidup di dalamnya dan
seterusnya. Faktor-faktor iklim, seperti suhu dan curah hujan,
merupakan faktor-faktor yang begitu penting dalam menentukan sifat
umum vegetasi dalam wilayah yang luas. (Polunin, 1990)
Berdasarkan pada pengamatan dan perhitungan yang telah
dilakukan pada 3 jenis tanaman epifit yang ditemukan yakni Piper
betle, Cayratia trifolia, dan Drygmoglossum pilloselloides. Diketahui
bahwa Cayratia trifolia memiliki nilai penting tertinggi yakni 87,50%.
Tanaman Cayratia trifolia merupakan tanaman yang berasa dari
famili vitaceae umumnya dikenal sebagai fox grape. Tanaman ini
biasanya ditemukan di dataran rendah baik di daerah tropis maupun
subtropis di kawasan Asia, India, dan Australis (Purushothama, 2001).
Tanaman ini merupakan jenis tanaman herba lemah. Tanaman ini
memiliki daun trifoliated dengan panjang 2-3 cm, tangkai daun
panjang dan bulat telur sampai lonjong. Bunga-bunga kecil putih
kehijauan dan coklat dalam warna. Buah berdaging, ungu gelap atau
hitam, hampir bulat dengan diameter sekitar 1 cm. (Vardana, 2008)
VI. KESIMPULAN
1. Epifit adalah adalah tumbuhan yang hidup menempel pada
tumbuhan lain, tidak berakar di tanah, memiliki ukuran yang lebih
kecil di bandingkan dengan tumbuhan inangnya.
2. Spesies yang memiliki nilai penting tertinggi adalah Cayratia
trifolia dengan angkat 87,50%.
3. Faktor-faktor iklim, seperti suhu dan curah hujan, merupakan
faktor-faktor yang begitu penting dalam menentukan sifat umum
vegetasi dalam wilayah yang luas.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Allaby, M. 1992. The Concise Oxford Dictionary of Botany. New
York: Oxford University Press.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara.
Lederer, R. G. 1984. Ecology and Field Biology. California:
Cummings Publishing Company, Inc.
Suharini, E., & Palangan, A. 2006. Geomorfologi: Gaya, Proses dan
Bentuk Lahan. Semarang: Widya Karya.