Anda di halaman 1dari 8

PRAKTIKUM XIII

Topik : Tumbuhan Epifit


Tujuan : Untuk mendeskripsikan keanekaragaman tumbuhan epifit.
Hari / tanggal : Minggu / 18 Februari 2018
Tempat : Desa Gedambaan Kec. Pulau Laut Utara Kab. Kotabaru Provinsi
Kalimantan selatan

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Rol meter
2. Kertas label
3. Plastik sampel
4. Tali rapia
5. Patok
6. Parameter Lingkungan
7. Alat tulis

II. CARA KERJA


1. Membuat plot 10 m x 10 m.
2. Mencatat semua spesies tumbuhan epifit yang ada dalam plot.
3. Membuat tabel untuk menentukan jumlah total spesies dari plot-plot
tersebut.
4. Melakukan pengambilan data parameter lingkungan dan mencatat hasil
pengamatan.
5. Mengidentifikasi tumbuhan yang didapatkan dan menentukan nama
ilmiahnya.
6. Menghitung Kerapatan, Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi, Frekuensi
Relatif, Dominansi, Dominansi Relatif, dan Nilai Penting dari setiap
spesies yang ditemukan.
III. TEORI DASAR
Tumbuhan epifit adalah tumbuhan yang tumbuh dengan cara
menumpang pada tumbuhan lain sebagai tempat hidupnya. Namanya
dibentuk dari bahasa Yunani: epi-, permukaan atau tutup, dan
phyton, tumbuhan atau pohon.Tentunya tumbuhan epifit ini nantinya akan
selalu menempel pada tumbuhan lainnya. Ketergantungan tumbuhan epifit
tersebut pada tumbuhan inangnya akan senantiasa menjadi pengganggu bagi
tumbuhan tersebut.
Tumbuhan epifit sangat banyak dijumpai dalam hutan hujan dan
pohon-pohon hutan dapat ditumbuhi oleh tumbuhan epifit ini. Umumnya
tumbuhan epifit menambatkan diri pada tangkai, batang, dan cabang pohon,
bahkan daun tumbuhan lainnya. Tumbuhan epifit tidak mengambil air atau
makanan dari tumbuhan inangnya. Tumbuhan epifit memanfaatkan tumbuhan
inang sekedar untuk mendapatkan cahaya. Daun-daunnya memilki lapisan
luar tebal, berlilin, dan kedap air untuk mengurangi penguapan. Biji-bijinya
dipencarkan oleh angin, burung-burung dan beberapa oleh semut. Beberapa
tumbuhan epifit memanjat dengan akarnya sepanjang batang dan dahan
tumbuhan inang.
Gilbert M. Smith membedakan epifit berdasarkan ukuran tubuhnya
menjadi mikroepifit dan makroepifit. Mikroepifit adalah epifit yang
mempunyai ukuran daun yang kecil di mana bagian-bagiannya (akar, batang,
dan daun) sukar dibedakan karena daunnya berbentuk seperti sisik, contohnya
Lumut, Lichenes, dan Alga, sedangkan makroepifit adalah epifit yang
mempunyai ukuran daun yang lebih besar dari pada mikroepifit dimana
bagian-bagiannya (akar, batang dan daun) dengan nyata dapat dibedakan
dengan jelas, contohnya dari familia Orchidaceae, Ericaceae,
Melastomataceae, dan tumbuhan Paku.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Perhitungan
Mahang 1 Sungkai Mahang 2
K KR F FR NP
No Nama Sp (Macaranga (Peronema (Macaranga ∑ind
(ind/titik) (%) (cup/titik) (%) (%)
sp) cenescens ) sp)
Cayratia
1 3 1 3 7 2,33 100 1 100 200
trifolia
Jumlah 3 1 3 7 2,33 100 1 100 200

B. Perhitungan
K = ∑ind / ∑plot = 7 / 3 = 2,33
KR = ∑ K ind / ∑ K x 100 % = 2,33 / 2,33 x 100 = 100 %
F = ∑cup / ∑plot = 3 / 3 = 1
FR = ∑ F ind / ∑ F x 100 % = 1 / 1 x 100 = 100 %
NP = KR + FR = 100 + 100 = 200

C. Parameter Lingkungan
Parameter Pengulangan
No Nama Alat Satuan Kisaran
I II III
Menugkur
1 Termometer C0 29 29 29 29
suhu udara
Mengukur
2 kelembaban Hygrometer % 90 89 89 89-90
udara
Menukur
derajat
- 6,5 6 6,5 6-6,5
keasaman
3 tanah Soiltester
Mengukur
kelembaban Kelembaban 35 35 35 35
tanah
Mengukur
4 kecepatan Anemometer m/s 0 0 0 0
angin
Mengukur
4179-
5 intensitas Lux meter Lux 5720 7721 4179
7721
cahaya
Mengukur
ketinggian
6 Alti meter mdpl 5 6 6 5-6
suatu
tempat
V. ANALISIS DATA
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman
tumbuhan epifit. Tumbuhan epifit adalah tumbuhan yang tumbuh dengan
cara menumpang pada tumbuhan lain sebagai tempat hidupnya. Tumbuhan
epifit sangat banyak dijumpai dalam hutan hujan dan pohon-pohon hutan
dapat ditumbuhi oleh tumbuhan epifit ini.
Umumnya tumbuhan epifit menambatkan diri pada tangkai, batang,
dan cabang pohon, bahkan daun tumbuhan lainnya. Tumbuhan epifit tidak
mengambil air atau makanan dari tumbuhan inangnya. Tumbuhan epifit
memanfaatkan tumbuhan inang sekedar untuk mendapatkan cahaya. Daun-
daunnya memilki lapisan luar tebal, berlilin, dan kedap air untuk
mengurangi penguapan.
Berdasarkan hasil pengamatan hanya ditemukan 1 spesies tumbuhan
epifit (Cayratia trifolia) pada plot yang telah dibuat, dari perhitungan
diketahui nilai penting dari spesies ini sebesar 200 %, sehingga dapat
disimpulkan bahwa spesies ini dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan
tersebut karena faktor abiotik dilingkungannya mendukung untuk proses
pertumbuhan.
Dilihat dari parameter lingkungan yaitu pada pengamatan suhu udara
menggunakan termometer, menunjukkan bahwa suhu udara disekitar area
tersebut berkisar antara 29oC. Menurut Leopold (1964) suhu optimum untuk
fotosintesa berkisar antara 10-30oC diatas atau di bawah suhu tersebut laju
fotosintesa berkurang, tetapi juga tergantung pada jenis tanaman.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu udara
suatu daerah adalah lama penyinaran matahari, sebab lamanya penyinaran
matahari membuat tinggi temperatur. Dengan begitu, dapat diketahui bahwa
area tersebut mendapatkan penyinaran yang cukup untuk tumbuhan epifit.
Pada pengamatan terhadap keasaman tanah menggunakan soil tester,
menunjukkan bahwa tingkat keasaman tanah disekitar area tersebut berkisar
antara 6-6,5. Hal ini menujukkan bahwa pH nya cenderung asam-normal
karena mendekati pH 7. Ini menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di
area tersebut adalah tanaman yang menyukai hidup pada habitat dengan pH
yang normal.
Pada pengamatan terhadap kelembapan tanah menggunakan soil
tester, menunjukkan bahwa kelembapan tanah disekitar area tersebut
berkisar antara 35%. Sehingga dapat dikategorikan bahwa kelembapan
tanah rendah. Kelembaban tanah adalah banyaknya kandungan air yang
terdapat dan terkandung dalam suatu tanah di alam. Kelembaban tanah
ditunjukkan sebagai potensial air tanah yang sangat penting untuk
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Apabila suplai air kurang memadai
maka akan mengakibatkan metabolisme terganggu dan tumbuhan akan layu
(Hardiansyah, 2018).
Pada pengamatan terhadap kelembapan udara menggunakan
hygrometer, menunjukkan bahwa kelembapan udara disekitar area tersebut
berkisar antara 89-90%. Sehingga dapat dikategorikan bahwa kelembapan
udara tinggi, kelembaban udara yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan
epifit karena akar-akar pada tumbuhan epifit lebih mudah menyerap air dari
udara sebab akarnya tidak langsung berada ditanah. Pada pengamatan
terhadap kecepatan angin menggunakan 4 in 1 (anemometer), menunjukkan
bahwa kecepatan angin disekitar area tersebut berkisar antara 0 m/s. Jadi,
diketahui bahwa tempat di tersebut angin tidak berhembus, hal ini disebab
karena angin yang masuk terhalang oleh rimbunnya pepohonan dikawasan
ternaung.
Pada pengamatan terhadap intensitas cahaya menggunakan 4 in 1
(lux meter), menunjukkan bahwa intensitas cahaya disekitar area tersebut
berkisar 4179-7721 lux. Jadi, diketahui bahwa tempat tersebut memiliki
intensitas cahaya yang sangat tinggi. Menurut Hardiansyah (2018), panjang
gelombang maupun intensitas cahaya sangat berperan dalam fotosintesis,
sebab kualitas cahaya merupakan faktor pembatas dalam proses fotosintesis
pada tumbuhan. Adapun intensitas cahaya dapat menetukan jumlah energi
yang sampai pada permukaan daun dan menetukan jumlah energi yang
dapat digunakan dalam proses fotosintesis.
Pada pengamatan terhadap kelembapan udara menggunakan 4 in 1
(hygrometer), menunjukkan bahwa kelembapan udara disekitar area tersebut
berkisar antara 89-90 %. Jadi, diketahui bahwa tempat tersebut memiliki
kelembapan udara yang tinggi. Kecepatan dan efesiensi fotosintesis
tergantung pada berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor
eksternal. Faktor internal meliputi : struktur dan komposisi komunitas, jenis
dan umur tumbuhan, dan peneduhan. Sedangkan faktor eksternal meliputi :
cahaya, karbondioksida, nutrisi dan suhu.
VI. KESIMPULAN
1. Umumnya tumbuhan epifit menambatkan diri pada tangkai, batang, dan
cabang pohon, bahkan daun tumbuhan lainnya. Tumbuhan epifit tidak
mengambil air atau makanan dari tumbuhan inangnya
2. Berdasarkan hasil pengamatan hanya ditemukan 1 spesies tumbuhan
epifit pada plot yang telah dibuat, dari perhitungan diketahui nilai
penting dari spesies ini sebesar 200 %.
3. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan
epifit yaitu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal
meliputi : struktur dan komposisi komunitas, jenis dan umur tumbuhan,
dan peneduhan. Sedangkan faktor eksternal meliputi : cahaya,
karbondioksida, nutrisi, kelembaban dan suhu.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Dharmono, Hardiansyah dan Mahruddin. 2018. Penuntun praktikum Ekologi
Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM. Banjarmasin.

Hardiansyah. 2018. Pengantar Ekologi Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM.


Banjarmasin

Hardjosuwarno.S., 1994, Metode Ekologi Tumbuhan, Universitas Gadjah


Mada Fakultas Biologi. Yogyakarta.

Leopold, L. B. 1978. Water in Environtmental Planning. W. H. Freeman


and Company. San Fransisco