Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIKUM V

Topik : Teknik Sampling Tanpa Plot Dengan Point Frequency Frame


Tujuan : Untuk menentukan parameter vegetasi frekuensi, dominansi dan
nilai penting tanpa menggunakan plot.
Hari / tanggal : Minggu / 18 Februari 2018
Tempat : Desa Gedambaan Kec. Pulau Laut Utara Kab. Kotabaru Provinsi
Kalimantan selatan

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Point Frequency frame
2. Kawat
3. Soil tester
4. Anemometer
5. Hygrometer
6. Termometer
7. Lux meter
8. Altimeter
9. Alat tulis
B. Bahan :
1. Komunitas Rumput di Gunung Gedambaan Kota Baru
2. Kertas Label
3. Kantong Plastik

II. CARA KERJA


1. Memilih stand/lokasi yang ditumbuhi herba yang cukup lebat atau pada
lokasi yang representatif.
2. Menarik garis transek sepanjang 100 meter dan meletakkan frame
sebanyak 50 kali.
3. Mencatat setiap spesies yang tersentuh oleh kawat pertama kali.
4. Membuat tabel pengamatan dari seluruh spesies tumbuhan yang terpegat
dan menghitung penutupan, frekuensi dan nilai pentingnya masing-
masing.

III. TEORI DASAR


Point frequency frame adalah suatu metode yang menggunakan alat
yang dapat terbuat dari kayu, dengan panjang satu meter dan diberi lobang 10
buah dengan interval jarak yang sama. Alat-alat kayu tersebut dapat diberi
tiang penyangga 2 buah agar dapat berdiri tegak bila dipakai untuk plotting di
lapangan (lihat gambar).
Dengan bantuan kawat yang dimasukkan melalui lubang tersebut ke
arah bawah, maka akan menyentuh/memegat tumbuhan yang ada di
bawahnya.
Bila dalam suatu stand/lokasi/transek diletakkan alat tersebut
sebanyak 20 kali, dan tiap peletakkan dilakukan 10 kali penusukan, maka
dapat diketahui nilai penutupan suatu spesies dalam persen. Perhitungannya
yaitu dengan menghitung berapa jumlah sentuhan per spesies dibagi seluruh
jumlah tusukan dikali seratus. Misalnya suatu spesies tersentuh seratus kali,
jumlah tusukan seluruhnya 200, maka penutupan spesies tersebut = 100/200 x
100 % = 50 %. Nilai frekuensi ditentukan dengan menghitung berapa kali
suatu spesies hadir dari seluruh peletakkan frame. Misalnya peletakkan frame
ada 20 kali, sedangkan suatu spesies hanya hadir 20 kali, maka frekuensinya
= 5/20 x 100 = 25 %.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Perhitungan

No Nama spesies ∑Ind ∑Cup F FR% D DR% NP%

1 Cyperus 2 2 0,02 0,83 0,002 0,25 1,08


2 Paspalum 5 14 6 0,06 2,50 0,01 1,74 4,24
3 Sitoria 9 2 0,02 0,83 0,01 1,12 1,95
Imperata
4 58 14 0,14 5,83 0,06 7,20 13,04
silindrica
5 Panicum 11 5 0,05 2,08 0,01 1,37 3,45
6 Paspalum 4 72 19 0,19 7,92 0,07 8,94 16,86
7 Eliusin 4 34 14 0,14 5,83 0,03 4,22 10,06
8 paspalum 3 87 23 0,23 9,58 0,09 10,81 20,39
9 Linderina 29 9 0,09 3,75 0,03 3,60 7,35
10 Comelina 116 29 0,29 12,08 0,12 14,41 26,49
11 Eliusin 3 89 29 0,29 12,08 0,09 11,06 23,14
12 Brasica 1 7 3 0,03 1,25 0,01 0,87 2,12
13 Paspalum 2 8 2 0,02 0,83 0,01 0,99 1,83
14 Brasica 2 1 1 0,01 0,42 0,001 0,12 0,54
15 Oderotum 10 5 0,05 2,08 0,01 1,24 3,33
16 Avorhoa 88 20 0,2 8,33 0,09 10,93 19,27
17 Haforhoa 5 3 0,03 1,25 0,01 0,62 1,87
18 Caesalfinia 41 10 0,1 4,17 0,04 5,09 9,26
19 Caccarum 23 8 0,08 3,33 0,02 2,86 6,19
20 Cleome 2 31 5 0,05 2,08 0,03 3,85 5,93
21 Amaranthus 27 7 0,07 2,92 0,03 3,35 6,27
22 Tegtama 14 6 0,06 2,50 0,01 1,74 4,24
Cleome
23 20 10 0,1 4,17 0,02 2,48 6,65
varigatum
24 Ipomea aquatica 4 4 0,04 1,67 0,004 0,50 2,16
25 Cyperus cilinga 5 4 0,04 1,67 0,01 0,62 2,29
∑ 805 240 2,40 100 0,81 100 200

B. Contoh Perhitungan
1. Cyperus
∑ 𝑐𝑢𝑝 2
F =∑ = 100 = 0,02
𝑓𝑟𝑎𝑚𝑒
F individu 0,02
FR = ∑ F individu = × 100 % = 0,83 %
2,40
∑𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢 2
D =∑ = = 0,002
𝑓𝑟𝑎𝑚𝑒 ×10 1000
D individu 0,002
DR = ∑ D individu = × 100 % = 0,25 %
0,81

NP = FR + DR = 0,83 + 0,25 = 1,08 %


C. Parameter Lingkungan
1. Sisi Kanan Jalan
Pengulangan
No. Parameter Nama Alat Satuan Kisaran
I II III
1. Menugkur suhu Termometer
ᵒC 27 29 31 27-31
udara Udara
2. Mengukur
Anemometer m/s 0 0 0 0
kecepatan angin
3. Mengukur
kelembaban Hygrometer % 89 90 71 71-90
udara
4. Mengukur 15482 -
intensitas Lux meter Lux 15482 19827 >20000 >
cahaya 20000
5. Menukur
derajat - 6 6,8 6,6 6 - 6,8
keasaman tanah
Soil tester
Mengukur
kelembaban % 89 100 84 84-100
tanah

2. Sisi Kiri Jalan


Pengulangan
No. Parameter Nama Alat Satuan Kisaran
I II III
1. Menugkur suhu Termometer
ᵒC 27 29 31 27-31
udara Udara
2. Mengukur
Anemometer m/s 0 0 0 0
kecepatan angin
3. Mengukur
kelembaban Hygrometer % 89 90 75 75-90
udara
4. Mengukur 11206 -
intensitas Lux meter Lux 11206 19826 >20000 >
cahaya 20000
5. Menukur
derajat - 6,3 7 6,7 6,3 - 7
keasaman tanah
Soil tester
Mengukur
kelembaban % 100 92 100 92-100
tanah
V. ANALISIS DATA
Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel herba yakni
menggunakan metode Point frequency frame, dimana dengan menggunakan
metode ini nantinya diharapkan praktikan dapat menentukan parameter
vegetasi frekuensi, dominansi dan nilai penting tanpa menggunakan plot
dari suatu vegetasi herba (Coulloudon, 1996).
Point frequency frame adalah suatu metode yang menggunakan alat
yang dapat terbuat dari kayu, dengan panjang satu meter dan diberi lobang
10 buah dengan interval jarak yang sama. Metode Point frequency frame ini
merupakan salah satu metode dalam sampling vegetasi tanpa menggunakan
plot, dalam metode ini tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan dalam
melakukan kegiatan sampling. Berikut merupakan beberapa kelebihan dan
kelemahan menggunakan metode Point frequency frame dalam mengkaji
suatu vegetasi :
Kelebihan metode Point frequency frame:
1. Metode Point frequency frame ini sangat efektif untuk sampling pada
vegetasi yang rendah, seperti herba.
2. Metode ini cukup baik untuk menentukan penutup tanah dan sampul
spesies yang lebih dominan
3. Dalam metode ini para peniliti tidak perlu lagi membuat plot atau
kuadran dalam pengambilan sampel, sehingga akan lebih memudahkan
kegiatan sampling.

Kekurangan metode Point frequency frame:


1. Tidak dapatnya melakukan pengukuran kerapatan, yang di ukur hanya
dominansi dan frekuensi suatu vegetasi herba
2. Cara ini terbatas, hanya pada vegetasi rendah.
3. Salah satu keterbatasan yang khusus untuk penggunaan Point frequency
frame adalah bahwa sejumlah tertentu poin/titik dikelompokkan dalam
frame yang memberikan perkiraan yang kurang tepat dari penutup dari
jumlah yang sama poin didistribusikan secara individual.
Berdasarkan hasil pengamatan dengan peletakan point frekuency
frame yang telah dilakukan sebanyak 100 kali oleh 2 kelompok yang
masing-masing kelompok sebanyak 50 kali didapatkan 25 spesies yaitu
Cyperus, Paspalum 5, Sitoria, Imperata silindrica, Panicum, Paspalum 4,
Eliusin 4, Paspalum 3, Linderina, Comelina, Eliusin 3, Brasica 1, Paspalum
2, Brasica 2, Oderotum, Avorhoa, Haforhoa, Caesalfinia, Caccarum,
Cleome 2, Amaranthus, Tegtama, Cleome varigatum, Ipomea aquatica dan
Cyperus cilinga.
Berdasarkan jumlah sentuhan per spesies dapat dihitung penutupan
spesies, sehingga bisa dihitung nilai dominansinya dan nilai kerapatan yang
paling tinggi. Pada tabel perhitungan diketahui nilai dominansi paling tinggi
terdapat pada Comelina, yang berarti jenis herba ini yang paling
mendominasi pada tempat tersebut. Comelina merupakan jenis tumbuhan
C4 yang mampu beradaptasi di daerah panas dengan intensitas cahaya tinggi
dan dilingkungan seperti inilah tumbuhan C4 sering muncul dan tumbuh
subur (Widaryanto, 2010).
Berdasarkan perhitungan nilai penting, diperoleh hasil bahwa ada 1
jenis spesies yang mempunyai nilai penting terbesar dari jenis tumbuhan
yang ditemukan yaitu Comelina. Hal ini menunjukkan bahwa spesies-
spesies ini mendominasi atau yang paling dominan pada habitat tersebut.
Sedangkan spesies yang mempunyai nilai penting terkecil adalah Brasica 2,
tumbuhan yang memiliki nilai penting rendah dipengaruhi oleh kompetisi
atau faktor-faktor abiotik yang tidak mendukung dalam proses pertumbuhan
(Sugito, 1994).
Untuk spesies dengan nilai yang paling besar, yakni Comelina atau
merupakan jenis tumbuhan paling banyak ditemukan di daerah penelitian, hal
ini dikarenakan sifat tumbuhan tersebut yang pada umumnya dapat bertahan
hidup lama dan dalam keadaan tanah dan lingkungan yang bermacam-
macam tanpa memerlukan banyak syarat untuk tumbuh.
Dari intensitas cahaya di kawasan tempat penilitan berkisar antara
11206-20000 lux. dalam hal ini intensitas pada kawasan tersebut cukup
cerah. Cahaya sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan tumbuhan
herba terdedah. Penempatan protoplasma secara langsung terhadap sinar
berkaitan dengan kematian, tetapi sinar itu merupakan sinar itu merupakan
sumber pokok, tanpa itu tak ada kehidupan (Hardjosuwarno, 1994).
Kecepatan angin yang berhembus di kawasan tempat penelitian 0
m/s, artinya angin tidak berhembus dan di daerah tersebut kadang-kadang
sedikit berangin. Pada pengukuran ketinggian tempat didapatkan hasil
pengukuran berkisar antara 75-90 mdpl. Kelembaban tanah di wilayah ini
adalah 84-100% yang berarti kondisinya sudah sangat lembab. Sedangkan
kelembaban tanah ideal untuk pertumbuhan berkisar antara 40-80%. Suhu
udara berkisar antara 27-31 0C. Suhu memiliki arti yang vital karena suhu
menentukan kecepatan reaksi dan kegiatan-kegiatan kimiawi yang
menyangkut kehidupan. Tanaman daerah tropik memiliki suhu maksimum
untuk fotosintesis antara 30-40°C (Hardjosuwarno, 1994).
Suhu dan kelembaban lingkungan sangat dipengaruhi oleh intensitas
cahaya matahari, semakin tinggi intensitas cahaya, maka suhu meningkat
dan kelembaban udara menurun, pengaruh curah hujan tinggi, dapat
menyebabkan kelembaban naik.
Dilihat dari parameter lingkungan yaitu dengan pH tanah yang
berkisar dari 6-7 ini menandakan kondisi tanah tempat tumbuhan ini tumbuh
tergolong asam-netral. pH berhubungan dengan nutrisi yang berasal dari
tanah serta pada kondisi yang demikian senyawa organik yang diperlukan
oleh tanaman dapat terpenuhi. pH yang telalu tinggi atau terlalu rendah
dapat merupakan suatu faktor pembatas bagi pertumbuhan suatu tanaman.
VI. KESIMPULAN
1. Point frequency frame adalah suatu metode yang menggunakan alat yang
dapat terbuat dari kayu, dengan panjang satu meter dan diberi lobang 10
buah dengan interval jarak yang sama.
2. Jumlah spesies tumbuhan yang didapatkan ada 25 spesies yaitu Cyperus,
Paspalum 5, Sitoria, Imperata silindrica, Panicum, Paspalum 4, Eliusin
4, Paspalum 3, Linderina, Comelina, Eliusin 3, Brasica 1, Paspalum 2,
Brasica 2, Oderotum, Avorhoa, Haforhoa, Caesalfinia, Caccarum,
Cleome 2, Amaranthus, Tegtama, Cleome varigatum, Ipomea aquatica
dan Cyperus cilinga.
3. Spesies yang paling tinggi nilai pentingnya adalah Comelina, yang
berarti spesies ini yang paling dominan pada habitat. Sedangkan, Spesies
yang paling rendah nilai pentingnya adalah Brasica 2.
4. Tinggi rendahnya nilai penting atau peran suatu tanaman tergantung dari
kerapatan dan frekuensi tanaman tersebut dalam menempati suatu
kawasan.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Coulloudon, Bill .1996 Sampling Vegetation Attributes. U.S. Department of
Agriculture Natural Resource Conservation Service, Grazing Land
Technology Institute

Dharmono dan Hardiansyah dan Mahruddin. 2018. Penuntun praktikum


Ekologi Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM. Banjarmasin.

Hardjosuwarno.S., 1994, Metode Ekologi Tumbuhan, Universitas Gadjah


Mada Fakultas Biologi. Yogyakarta.

Sugito, Y. 1994. Dasar - Dasar Agronomi. Fakultas Pertanian Universitas


Brawijaya. Malang

Widaryanto, 2010. Simulasi Peningkatan Suhu Malam dan Pemberian


Pyraclostrobin Pada Tanaman. Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya. Malang