Anda di halaman 1dari 11

PRAKTIKUM X

Topik : Menentukan Pola Penyebaran Spesies


Tujuan : Untuk menentukan pola distribusi suatu spesies.
Hari / tanggal : Senin / 19 Februari 2018
Tempat : Desa Gedambaan Kec. Pulau Laut Utara Kab. Kotabaru Provinsi
Kalimantan selatan

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Meteran
2. Pipa paralon
3. Patok
4. Kertas
5. Alat tulis
6. Hygrometer
7. Anemometer
8. Soil tester
9. Altimeter
10. Termometer
11. Lux meter
12. Plastik sampel

II. CARA KERJA


1. Menentukan area stand secara subjektif, yaitu pada vegetasi herba yang
cukup homogen.
2. Membuat area seluas 100 x 100 m dan menentukan sisi-sisi yang menjadi
sumbu X dan Y.
3. Mengambil plot sebanyak 100 buah plot ukuran 1 x 1 m2 secara acak
(sistem undian) pada stand kajian tersebut.
4. Perhitungan kerapatan individu untuk tiap spesies dimulai dari 0,1,2,3,4
dan 5 individu. Bila jumlah individu suatu spesies dalam satu plot lebih
dari 5 individu maka dianggap 5 individu.
5. Menyusun data yang didapat, untuk mengetahui apakah tumbuhan
terdistribusi acak atau non acak dengan menggunakan rumus analisis
poison dengan rumus :

(Pengamatan  Harapan ) 2
X2 
Harapan
Pada taraf signifikan tertentu apabila hitung lebih besar dari X2 tabel maka
spesies tumbuhan tersbut pola distribusinya adalah secara tidak acak, dan
sebaliknya bila X2 hitung <X2 maka pola distribusinya adalah secara acak.
6. Untuk mengetahui yang tersebar secara tidak acak tersebut apakah
mengelompok atau reguler, dilakukan penghitungan perbandingan varian
mean. Menurut Blackman (1942) dalam Smith (1984), bila perhitungan
rasio varian : mean hasilnya kurang dari 1, maka tumbuhan tersebut
terdistribusi secara regular dan sebaliknya bila hasilnya lebih dari 1, maka
tumbuhan tersebut terdistribusi secara mengelompok.

III. TEORI DASAR


Menurut Crawlay (1986), bahwa lingkungan akan berubah dari suatu
tempat ke tempat lain. Bersamaan dengan itu terjadi pula perubahan vegetasi,
baik komposisi spesies penyusunnya maupun frekuensinya. Perbedaan
kondisi lingkungan tersbut juga akan mempengaruhi pola distribusi suatu
spesies. Disamping itu, pola penyebaran tersebut juga di pengaruhi oleh cara
dispersal dari spesies tumbuhan.
Pola distribusi spesies di alam secara garis besar dibedakan atas 3 pola
yaitu pola acak, pola mengelompok dan teratur atau reguler :
1. Pola penyebaran secara acak
Pola ini menggambarkan penyebaran tumbuhan secara sembarang
atau acak, artinya setiap spesies tidak mempunyai arah dan posisi terhadap
lokasi tertentu, serta spesies yang sama.
2. Pola mengelompok
Pola ini terjadi dalam satu area yang cukup sempit dipermukaan
bumi oleh beberapa spesies. Artinya dalam suatu wilayah tertentu hadirnya
suatu spesies akan di ikuti oleh spesies yang sama.
Barbour et al (1987) menyatakan bahwa ada dua alasan yang
menyebabkan timbulnya pola distribusi tumbuhan mengelompok, yaitu :
Pertama apabila suatu tumbuhan perkembangbiakannya dengan
menggunakan biji atau buah yang ada kecenderungan untuk jatuh didekat
induknya. Kedua, adalah berhubungan dengan lingkungan mikro, dimana
habitat yang homogen pada lingkungan makro terdiri atas beberapa
mikrositus yang berbeda yang memungkinkan tumbuhan tersebut dapat
tumbuh pada lingkungan yang sesuai. Pada mikrositus yang paling sesuai
kerapatan populasi spesies akan menjadi lebih tinggi.
3. Teratur atau reguler
Pola distribusi tumbuhan secara teratur jarang terjadi di alam. Pola
distribusi secara teratur artinya jarak antara satu individu dengan individu
lain pada spesies yang sama dalam satu wilayah adalah sama. Keadaan ini
hanya terjadi pada ekosistem buatan seperti persawahan dan perkebunan.
Untuk mengetahui pola penyebaran dapat digunakan metode acak
ataupun stratified random. Pengacakan dilakukan untuk memperoleh plot-
plot pengamatan. Cara pengacakan plot dilakukan dengan pencatatan
nomor-nomor (undian) acakan yang dibuat untuk sumbu X dan Y,
kemudian ditarik garis lurus pada kedua sumbu tersebut sehingga didapat
titi tertentu. Pengamatan yang dilakukan berdasarkan densitas dari tiap-
tiap spesies dapat digunakan metode B-B.
IV. HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Perhitungan
Σ individu pada titik/plot
No Spesies Σ
0 1 2 3 4 ≥5
Fimbristylis
1 70 6 4 4 2 14 100
cymosa
Arrhentherum
2 44 1 3 2 1 49 100
elatius
Paspalum
3 62 1 8 8 5 16 100
conjugatum
Imperata
4 33 0 1 1 4 61 100
cylindrical

Fimbristylis cymosa
Tabel 1
No X 0 1 2 3 4 5 Σ
1 O 70 6 4 4 2 14 100
2 XO 0 6 8 12 8 70 104
3 X2O 0 6 16 36 32 350 440

M = ΣXO/ΣO = 104/100 = 1,04

Tabel 2
X2
No X O H X2 tabel
hitung
1 0 70 35,35 33,97
2 1 6 36,76 25,74
3 2 4 19,12 11,95
11,07
4 3 4 6,63
5 4 2 1,72 14,76
6 5 14 0,36

X2 tabel = 5% = 0.05
Df =n–1
=6–1=5
X2 tabel = 11,07

Perhitungan Asas Black Man


V = [(ΣXO2)-((ΣXO)2/n)]/n-1
= [(440)-(104)2/100]/100-1
= 331.84/99
= 3,35
V/M = 3.35/1.04= 0.03
Jadi pola distribusi Sp1 menyebar karena nilai V/M < 1 yaitu 0.03

Arrhentherum elatius
Tabel 1
No X 0 1 2 3 4 5 Σ
1 O 44 1 3 2 1 49 100
2 XO 0 1 6 6 4 245 262
3 X2O 0 1 12 18 16 1225 1272

M = ΣXO/ΣO = 262/100 = 2,62

Tabel 2
No X O H X2 hitung X2 tabel
1 0 44 7,28 185,13
2 1 1 19,07 17,12
3 2 3 24,97 19,33
11,07
4 3 2 21,82 18,00
5 4 1 14,29 12,36
6 5 49 7,49 230,05

X2 tabel = 5% = 0.05
Df =n–1
=6–1=5
X2 tabel = 11,07

Perhitungan Asas Black Man


V = [(ΣXO2)-((ΣXO)2/n)]/n-1
= [(1272)-(262)2/100]/100-1
= 585.56/99
= 5,91

V/M = 5.91/2.62= 2.26


Jadi pola distribusi Sp2 mengelompok karena nilai V/M > 1 yaitu 2.26

Paspalum conjugatum
Tabel 1
No X 0 1 2 3 4 5 Σ
1 O 62 1 8 8 5 16 100
2 XO 0 1 16 24 20 80 141
3 X2O 0 1 32 72 80 400 585
M = ΣXO/ΣO = 141/100 = 1,41

Tabel 2
No X O H X2 hitung X2 tabel
1 0 62 24,42 57,84
2 1 1 34,43 32,46
3 2 8 24,27 10,91
11,07
4 3 8 11,41 1,02
5 4 5 4,02
48,78
6 5 16 1,13

X2 tabel = 5% = 0.05
Df =n–1
=6–1=5
X2 tabel = 11,07

Perhitungan Asas Black Man


V = [(ΣXO2)-((ΣXO)2/n)]/n-1
= [(585)-(141)2/100]/100-1
= 386,19/99
= 3,9

V/M = 3.90/1.41= 2.77


Jadi pola distribusi Sp3 mengelompok karena nilai V/M < 1 yaitu 2.77

Imperata cylindrical
Tabel 1
No X 0 1 2 3 4 5 Σ
1 O 33 0 1 1 4 61 100
2 XO 0 0 2 3 16 305 326
3 X2O 0 0 4 9 64 1525 1602

M = ΣXO/ΣO = 326/100 = 3,26

Tabel 2
No X O H X2 hitung X2 tabel
1 0 33 3,84
16,92
2 1 0 12,52
3 2 1 20,41 18,45
11,07
4 3 1 22,17 20,22
5 4 4 18,07 10,96
6 5 61 11,78 205,58
X2 tabel = 5% = 0.05
Df =n–1
=6–1=5
X2 tabel = 11,07

Perhitungan Asas Black Man


V = [(ΣXO2)-((ΣXO)2/n)]/n-1
= [(1602)-(326)2/100]/100-1
= 539.24/99
= 5,45

V/M = 5.45/3.26= 5.45


Jadi pola distribusi Sp4 mengelompok karena nilai V/M > 1 yaitu 5.45

B. Parameter Lingkungan
Pengulangan
No. Parameter Nama Alat Satuan Kisaran
I II III
Menugkur Termometer o
1. C 29 30 30 29 - 30
suhu udara Udara
Menukur
derajat
- 7 7 6,8 6,8-7
keasaman
2. tanah Soil tester
Mengukur
kelembaban % 74 82 53 53 - 82
tanah
3. Mengukur
kelembaban Hygrometer % 74 74 74 74
udara
4. Mengukur
ketinggian
Altimeter mdpl 23 22 22 22 - 23
suatu
tempat
5. Mengukur
kecepatan Anemometer m/s 1,7 1,6 0,2 0,2 - 1,7
angin
Mengukur
> 13751 -
6. intensitas Lux meter Lux 13751 17249
20000 >20000
cahaya
V. ANALISIS DATA
Distribusi semua tumbuhan di alam dapat disusun dalam tiga pola
dasar yaitu acak, teratur dan mengelompok (Odum, 1993). Pola distribusi
digunakan untuk menjelaskan keadaan suatu populasi tumbuhan yang
terdapat dalam suatu komunitas. Pola distribusi demikian erat hubungannya
dengan kondisi lingkungan. Organisme pada suatu tempat bersifat saling
bergantung, sehingga tidak terikat berdasarkan kesempatan semata, dan bila
terjadi gangguan pada suatu organisme atau sebagian faktor lingkungan
akan berpengaruh terhadap keseluruhan komunitas.
Untuk menentukan pola distribusi spesies dapat dilakukan dengan
metode plot acak dengan sumbu x dan y. Pengamatan dilakukan dengan
membuat 100 plot pada sumbu x dan y. Berdasarkan perhitungan Poison
sampel Fimbristylis cymosa mempunyai pola penyebaran non acak karena
nilai mean kurang dari 1. Sedangkan untuk Arrhentherum elatius, Paspalum
conjugatum dan Imperata cylindrical memiliki pola distribusi mengelompok
karena nilai varian/mean yang lebih dari 1. Sifat umum penyebaran secara
acak adalah bahwa varians (V) sama dengan rata-rata/ mean (m) varians
lebih besar dari pada mean menunjukkan penyebaran berkelompok, dan
kurang daripada mean pola penyebarannya adalah seragam atau teratur
(Odum, 1993).
Menurut Odum (1993) penyebaran secara acak relatif jarang terjadi
di alam. Bila faktor yang mempengaruhi kehadiran spesies pada suatu
tempat relatif kecil, maka ini merupakan kesempatan semata sehingga
menghasilkan pola distribusi spesies secara acak (Greig-Smith, 1983).
Adapun penyebaran teratur dapat terjadi dimana persaingan diantara
individu sangat keras dimana terdapat antagonisme positif yang mendorong
pembagian ruang yang sama. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk
mendapatkan nutrisi dan ruang (Odum, 1993). Penyebaran mengelompok
terjadi karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang tergolong sebagai
faktor bioekologi pada masing-masing ketinggian. Pola penyebaran
mengelompok merupakan pola penyebaran yang sering terjadi di alam
(Indriyanto, 2008 dalam Abubakar Sidik Kastili).
Berdasarkan hasil pengukuran parameter lingkungan didapatkan
kisaran suhu udara, intensitas cahaya, kelembaban tanah, kelembaban udara,
keasaman tanah, ketinggian tempat, dan kecepatan angin.
Suhu udara pada tempat pengambilan sampel berkisar antara 29 - 30
o
C. Suhu mempengaruhi proses pertumbuhan, tumbuhan dapat tumbuh pada
suhu antara 28°C-33°C (Soerianegara, 2013). Dapat diketahui bahwa suhu
udara pada tempat pengambilan sampel sesuai dengan teori yang ada.
Pada saat pengukuran pH pada tempat pengambilan sampel
didapatkan kisarannya antara 6,8-7. Hal ini menunjukkan bahwa sudah
sesuai dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap pH
tanah dapat diketahui bahwa tanah tersebut cenderung kearah netral.
Berdasarkan hasil pengamatan ketinggian tempat pada lokasi
pengambilan sampel adalah berkisar antara 22-23 mdpl. Berdasarkan
pengukuran pada saat pengambilan sampel, kecepatan angin berkisar antara
0,2-1,7 m/s. Kecepatan angin mempengaruhi pola penyebaran tumbuhan
karena angin berperan dalam penyerbukan bunga, penyebaran biji, buah,
dan mikroorganisme (Lubis (2009).
Intensitas cahaya pada tempat pengambilan sampel adalah berkisar
antara 13751 - >20000 lux. Hal tersebut menunjukkan bahwa intensitas
cahayanya berkisar antara rendah sampai tinggi, karena saat pengukuran
parameter lingkungan dilakukan pada pagi hari menjelang tengah hari serta
cuaca saat pengambilan sampel cukup terik. Kisaran intensitas cahaya
optimum pada banyak tanaman tidak dapat diketahui (Usman dan Warkoyo,
1993 dalam Widaryanto, Eko, 2005).
Menurut Lubis (2009) menyatakan bahwa pola penyebaran suatu
organisme bergantung pada faktor lingkungan dari kawasan tersebut. Pola
distribusi mengelompok yang diperoleh pada saat pengamatan dikarenakan
kondisi lingkungan pada saat pengukuran parameter lingkungan diketahui
sesuai dengan kondisi hidupnya.
VI. KESIMPULAN
1. Distribusi semua tumbuhan di alam dapat disusun dalam tiga pola dasar
yaitu acak, teratur dan mengelompok.
2. Berdasarkan perhitungan Blackman (1942) dalam Smith (1984), ketiga
jenis tumbuhan Arrhentherum elatius, Paspalum conjugatum dan
Imperata cylindrical diketahui pola distribusinya secara mengelompok
sedangkan jenis tumbuhan Fimbristylis cymosa terdistribusi secara
menyebar.
3. Pola distribusi digunakan untuk menjelaskan keadaan suatu populasi
tumbuhan yang terdapat dalam suatu komunitas.
4. Perhitungan Poison pada praktikum ini adalah keempat jenis tumbuhan
tersebut memiliki pola penyebaran secara non acak.
5. Pola distribusi pada tumbuhan disebabkan oleh faktor lingkungan
seperti, intensitas cahaya, kelembaban udara, suhu udara, pH tanah, dan
kelembaban tanah.
VII. DAFTAR PUSTAKA
Greig-Smith, P. 1984. Quantitative Plant Ecology. Iowa: University Press

Hardiansyah. 2010. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Keguruan dan


Ilmu Pendidikan. Banjarmasin: FKIP UNLAM.

Hardiansyah, dkk. 2016. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan.


Banjarmasin: FKIP UNLAM.

Holtum, R.E. 1989. A Rivised Flora of Malaya, Fern of Malaya. Singapore:


Government Printing Office

Irwanto. 2006. Penggunaan Tanaman Actinorhizal Casuarina equisetifolia


L. Pada Rehabilitasi Lahan Alang-Alang Dengan Sistem
Agroforestri. Yogyakarta

Odum, Eugene P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press