Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH

EKOLOGI TUMBUHAN
(ABKC 2601)

“PERTUMBUHAN POPULASI”

Disusun oleh :
Kelompok II
1. Dieo Oktaviani (A1C215009)
2. Farah Annisa (A1C215207)
3. Kartika Maharani (A1C215212)
4. Rina Erliani (A1C215034)

Dosen pengasuh :
Dr. Dharmono, M.Si
Drs. H. Hardiansyah, M.Si
Mahrudin, S.Pd., M.Pd
Maulana Khalid Riefani, S.Si., M.Sc

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
MARET
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dari
mata kuliah Ekologi Hewan dalam waktu yang telah ditentukan.
Dalam makalah ini penulis sampaikan informasi mengenai hewan dan
lingkungan dengan berpacu literatur dari sumber buku, artikel atau jurnal dan
sumber terpercaya lainnya.
Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada salah
satunya yaitu dosen pengampu mata kuliah Ekologi Tumbuhan.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan lainnya
untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Banjarmasin, 06 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
2.1 Pertumbuhan Eksponensial ...........................................................................
2.2 Pertumbuhan Sigmoid ...................................................................................
2.3 Kerapatan Populasi........................................................................................
BAB III PENUTUP ...........................................................................................
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................
3.2 Saran .............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada lingkungan
tertentu dan pada waktu tertentu. Populasi merupakan satuan ekologi yang
ditentukan secara arbiter dan dibatasi secara fisik oleh beberapa keadaan
lingkungan yang kriterianya ditentukan oleh ahli ekologi atau peneliti yang
bersangkutan. Ukuran populasi sering dinyatakan dalam kerapatan yang
sangat sering menggunakan N untuk simbol kerapatan populasi.
Pertumbuhan populasi merupakan proses sentral di dalam ekologi. Karena
tidak ada populasi yang tumbuh secara terus menerus maka kita mengetrahui
adanya pengaturan populasi. Interaksi spesies seperti predator, kompetisi,
herbivory dan penyakit berdampak terhadap pertumbuhan, dan pertumbuhan
populasi menghasilkan perubahan dalam struktur komunitas. Oleh karena itu
sangat penting untuk mengetahui bagaimana suatu populasi tumbuh.
Pengetahuan yang lengkap tentang dinamika populasi tumbuhan perlu
diketahui, diantaranya informasi tentang jumlah individu secara genetik,
jumlah individu reproduksi secara vegetatif,dan jumlah pertumbuhan pada
individu. Mode waktu kontuniu dipakai untuk populasi dengan pertumbuhan
kontinu di mana angka kelahiran, kematian, dan ukuran dikorelasikan dengan
umur. Namun, ada tumbuhan yang menghasilkan pertumbuhan dalam periode
singkat selama setahun, dan tidak semua tumbuhan mencapai dewasa pada
skala waktu yang tidak dapat diramal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pertumbuhan populasi secara Eksponensial ?
2. Bagaimana pertumbuhan populasi secara Sigmoid ?
3. Bagaimana kerapatan populasi tumbuhan ?

1
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :
1. Mengetahui pertumbuhan populasi secara Eksponensial
2. Mengetahui bagaimana pertumbuhan populasi secara Sigmoid
3. Mengetahui Kerapatan populasi tumbuhan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pertumbuhan Eksponensial dan Sigmoid


Pertumbuhan Populasi
Suatu populasi akan mengalami pertumbuhan, apabila laju kelahiran di
dalam populasi itu lebih besar dar laju kematian, dengan mengasumsikan bahwa
laju emigrasi. Dikenal dua macam bentuk pertumbuhan populasi, yakni bentuk
pertumbuhan eksponensial (dengan bentuk kurva J) dan bentuk pertumbuhan
sigmoid (dengan bentuk kurva S).
1. Pertumbuhan Eksponensial
Pertumbuhan populasi bentuk eksponensial ini terjadi apabila populasi
ada dalam sesuatu lingkungan ideal baik, yaitu ketersediaan makanan, ruang
dan kondisi lingkungan lainnya tidak beroperasi membatasi, tanpa ada
persaingan dan lain sebagainya. Pada pertumbuhan populasi yang demikian
kerapatan bertambah dengan cepat secara eksponensial dan kemudian
berhenti mendadak saat berbagai faktor pembatas mulai berlaku mendadak.
Model paling sederhana tentang populasi adalah model pertumbuhan
eksponensial. Model ini merupakan model klasik dalam pemodelan
matematika dengan persamaan difer-ensial. Model ini dituliskan dalam:

dx

= ax
d
t

dimana x adalah jumlah populasi pada sepanjang t 0, dan a adalah laju


pertumbuhan intrinsik dari populasi tersebut. Model ini adalah model
sederhana dengan solusi berupa kurva eksponensial (gambar 1) yang dapat
dituliskan:

x(t) = x0eat

3
dengan x0 = x(0) adalah kondisi awal dari populasi. Spesies yang
diasumsikan tumbuh secara eksponensial seperti bakteri dan sebagainya.
Salah satu aplikasinya yaitu analisis perkembangbiakan bakteri [1].
Dalam penelitian tersebut dia mempelajari pertumbuhan bakteri dengan
model eksponensial.

Gambar 1: Potret Fase Model Pertumbuhan Eksponensial

Selanjutnya dalam perkembangannya ada beberapa populasi yang


dapat diberikan pe-manenan h(x) seperti pemanenan konstan (h),
pemanenan proposional (hx) dan pemanenan kuadratik (hx2). Modi kasi
ini diterapkan kepada model (1) kemudian dipelajari pengaruh dari
pemanenan tersebut terhadap eksistensi dari populasi dengan model
exponensial.

1. Model Pertumbuhan Eksponensial dengan Pemanenan Konstan


Perhatikan model eksponensial dengan pemanenan konstan
berikut:

dx
dt = axh

4
dimana x(t) > 0 adalah jumlah populasi sepanjang t 0 dengan pemanenan
konstan h > 0 dan laju pertumbuhan intrinsik a > 0. Model ini memiliki solusi:

x(t)
= x0 a eat a
h h

dengan x0 = x(0). Model ini memiliki titik ekuilibrium:


h

x=a:

Untuk mempelajari kestabilan titik ekuilibrium x maka dilakukan pelinearan


yang men-dapatkan Dx(f(x)) = a dengan f(x) = ax h sehingga titik ekuilibrium
x merupakan titik ekuilibrium tidak stabil, dimana semua solusi akan
menjauhi titik ekuilibrium ini. Perhatikan plot dari potret fase berikut:

Gambar 2: Potret Fase Model Eksponensial dengan Pemanenan Konstan


Perhatikan bahwa pada saat:

2 x(0) > ha maka solusi akan menjauhi titik ekuilibrium x ke arah positif.
Hal ini mengindikasikan populasi akan tumbuh secara positif menjauhi
kepunahan.

5
h
3 x(0) = a maka solusi akan bersifat konstan (karena merupakan titik
ekuilibrium). Dengan demikian jumlah populasi tidak akan bertambah
maupun berkurang. Kon-disi ini tetap menjamin eksistensi dari populasi.
h
4 x(0) < a maka solusi akan bergerak menjauhi titik ekuilibrium ke arah
negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa populasi akan mengalami
peluruhan sehingga akan terjadi kepunahan jika kondisi ini terjadi.

1 Model Pertumbuhan Eksponensial dengan Pemanenan


Proposional Perhatikan model eksponensial dengan pemanenan proposional
berikut:

dx
dt = ax hx
dimana x(t) > 0 sepanjang t 0 dengan pemanenan proposional h > 0
terhadap populasi x(t) dan laju pertumbuhan intrinsik a > 0. Model ini
dapat dituliskan:

dx
dt = (a h)x

Model (7) memiliki solusi:


x(t) = x0e(a h)t

dengan x0 = x(0) dan titik ekuilibrium x = 0. Pelinearan pada model (7)


memberikan Dx(f(x)) = a h. Dari pelinearan tersebut maka kestabilan dari titik
ekuilibrium x yaitu bergantung dari nilai a h sehingga ada tiga kasus
kestabilan dari model ini yaitu:

Jika a h > 0 atau h < a maka x merupakan titik ekuilibrium tidak stabil.
Hal ini berarti jika laju pemanenan proposional lebih kecil dari laju
pertumbuhan intrinsik maka populasi akan menjauhi kepunahan.
(gambar 3 kiri)
Jika a h = 0 atau h = a maka x solusi dari model (7) merupakan solusi
konstan atau dengan kata lain, jika laju pemanenan proposional sama

6
dengan laju pemanenan proposional jumlah populasi tidak akan
bertambah ataupun berkurang sepanjang t 0. Kondisi ini juga menjamin
eksistensi dari populasi, walaupun tidak terjadi pertumbuhan dari
populasi. (gambar 3 tengah)
Jika a h < 0 atau h > a maka x merupakan titik ekuilibrium stabil. Hal ini
berarti jika laju pemanenan proposional lebih besar dari laju pertumbuhan
ekstrinsik maka populasi akan berangsur-angsur punah. (gambar 3 kanan)
Perhatikan bahwa eksistensi dari populasi akan terjaga apabila h a, dengan
kata lain laju pemanenan proposional lebih kecil atau sama dengan laju
pertumbuhan intrinsik. Namun apabila h > a mengakibatkan populasi akan
berangsur-angsur punah.

3. Model Pertumbuhan Eksponensial dengan Pemanenan Kudratik


Perhatikan model eksponensial dengan pemanenan kuadratik berikut:
dx
d
t = ax hx
dimana x(t) > 0 sepanjang t 0 dengan pemanenan kuadratik h > 0 dan laju
pertumbuhan intrinsik a > 0. Dengan metode reduksi variabel terpisah
didapatkan:

dx

= dt

ax hx2
1
dx h dx

+ = dt (metode fraksi parsial)


ax a a hx
aZ x + a Z a hx = Z dt + c;
1
dx h dx

7
sehingga solusinya menjadi:

x(t) = (10)
e at + h
a
dengan x0 = x(0). Solusi ekuilibrium model (9) adalah:
x1 = 0

a
x2 = h
Pelinearan disekitar titik ekuilibrium x memberikan Dx(f(x)) = a 2hx.
Kestabilan titik ekuilibrium dari model (9) adalah sebagai berikut:

Untuk titik ekuilibrium x1 = 0 memberikan Dx(f(x1)) = a > 0 sehingga


titik ekui-librium ini adalah titik ekuilibrium tidak stabil, atau dengan
kata lain, semua solusi akan menjauhi titik ekuilibrium x1.

Untuk titik ekuilibrium x2 = ha memberikan Dx(f(x2)) = a < 0 sehingga


titik ekuilibrium ini adalah titik ekuilibrium stabil,a atau dengan kata
lain, semua solusi akan mendekati titik ekuilibrium x2.

Perhatikan simulasi berikut:

Gambar 4: Potret fase model eksponensial dengan pemanenan kuadratik

8
Analisis dan simulasi pada gambar (4) memperlihatkan bahwa model ini
akan selalu mempertahankan eksistensi dari populasi dimana jumlah
a
populasi tidak akan mengalami kepunahan dan mendekati h sepanjang t 0.
a
Namun secara biologis hal ini tercapai apabila h > 1 dengan kata lain
perbandingan antara laju pertumbuhan intrinsik dengan laju pemanenan
kuadratik harus lebih besar dari satu.

2. Pertumbuhan Sigmoid
Pada pertumbuhan populasi yang berbentuk sigmoid, populasi mula-mula
meningkat sangat lambat (fase akselerasi positif). Kemudian makin capet
sehingga mencapai laju peningkatan secara logaritmik (fase logaritmik),
namun segera menurun lagi secara perlahan dengan makin meningkatnya
pertahanan lingkungan, misalnya yang berupa persaingan intra spesies (fase
akselerasi negatif) sehingga akhirnya mencapai suatu tingkat yang kurang
lebih seimbang (fase keseimbangan). Tingkat populasi yang merupakan
asimptot atas dari kurva sigmod, yang menandakan bahwa populasi tidak
dapat meningkat lagi di sebut daya dukung (K= suatu konstanta). Jadi daya
dukung suatu habitat adalah tingkat kelimpahan populasi maksimal (kerapatan
jumlah atau biomasa) yang kelulus hidupannya dapat di dukung oleh habitat
tersebut.
2.2 Kerapatan Populasi
Setiap organisme di permukaan bumi selalu dan terus berusaha agar
jenisnya lestari. Hubungan organisme dengan lingkungannya sebenarnya tidak
lain adalah pemanfaatan sunber daya lingkungan. Kelangsungan hidup bagi
organisme menyangkut kelangsungan hidup individu, kelangsungan hidup
jenis (populasi) dan kelangsungan hidup komunitas. Agar tetap lestari
organisme mengeksploitasi lingkungan tetapi mereka juga dipengaruhi oleh
factor lingkungan (Ewusi, 1990).
Kerapatan populasi adalah ukuran besar populasi yang berhubungan dengan
satuan ruang (area), yang umumnya diteliti dan dinyatakan sebagai jumlah (cacah)

9
individu dan biomasa persatuan luas, persatuan isi (volume) atau persatuan berat
medium lingkungan yang ditempati. Misalnya, 50 individu tikus sawah per hektar,
300 individu keratela sp (zooplankton) per meter kubik air, 3 ton udang per hektar
luas permukaan tambak, atau 50 individu afik (kutu daun) per daun.

Pengaruh populasi terhadap komunitas dan ekosistem tidak hanya


tergantung kepada jenis apa dari organisme yang terlibat tetapi tergantung kepada
jumlahnya atau kerapatan populasinya kadang kala penting untuk membedakn
kerapatan kasar dari kerapatan ekologi (kerapatan spesifik).

Kerapatan kasar adalah kerapatan yang didasarkan atas kesatuan ruang


total, sedangkan kerapatan ekologi adalah kerapatan yang didasarkan atas ruang
yang benar-benar (sesungguhnya) ditempati (mikrohabitat). Contoh : kerapatan
afik (kutu daun) per pohon dibandingkan dengan kerapatan afik per daun,

Lebih lanjut, kerapatan populasi suatu hewan dapat dinyatakan dalam


bentuk kerapatan mutlak (absolut) dan kerapatan nisbi (relatif). Pada
penafsiran kerapatan mutlak diperoleh jumlah hewan per satuan area,
sedangkan pada penafsiran kerapatan nisbi nisbi hal itu tidak diperoleh,
melainkan hanya akan menghasilkan suatu indeks kelimpahan (lebih banyak
atau sedikit, lebih berlimpah atau kurang berlimpah).
Densitas atau kerapatan atau kepadatan populasi suatu spesies disuatu
tempat tidak pernah tetap. Kelahiran menyebabkan bertambahnya anggota
populasi sedangkan kematian menyebabkan berkurangnya anggota populasi.
Kelahiran ditentukan oleh kapasitas organisme secara genetic untuk
menghasilkan keturunan yang terkait dengan fekunditas dan fertilitas. Selain
itu juga ditentukan oleh lingkungan biotis (parasit dan predator) dan
ketersediaan bahan makanan serta tempat berlindung. Juga ditentukan oleh
factor kesanggupan bertemunya spesies organisme jantan dan betina (Odum,
1983).
Menghitung kerapatan (k) tumbuhan menggunakan rumus dari Odum
(1993:69):

10
Banyaknya anggota suatu populasi di suatu daerah merupakan
karakteristik dasar dari suatu populasi yang dikenal dengan kepadatan populasi.
Yang ditentukan oleh natalitas (kelahiran), mortalitas (kematian), imigrasi
(masuknya anggota populasi dari daerah yang lain), dan emigrasi (keluarnya
anggota populasi ke daerah lain). Kepadatan populasi merupakan besarnya
ukuran populasi pada areal tertentu yang dinyatakan sebagai jumlah individu,
biomassa populasi persatuan luas atau volume (Odum, 1983).
Pertumbuhan berbentuk eksponensial menghendaki factor lingkungan
yang konstan dan optimal sebagai pendukung pertumbuhan. Dialam jarang
terjadi pertumbuhan secara eksponensial dalam waktu yang panjang karena
factor pendukung pertumbuhan populasi tidak pernah cukup tersedia dialam.
Musuh alami baik berupa predator maupun bibit penyakit akan makin
beroperasi dalam menekan pertumbuhan populasi bila kepadatan populasi
cukup tinggi sehingga pertumbuhan populasi tidak berbentuk eksponensial
(Odum, 1983).
Pengukuran kerapatan populasi kebanyakan dilakukan dengan sensus atau metode
menggunakan sample (sampling).

a. Kerapatan mutlak
Pengukuran kerapatan mutlak dapat dilakukan dengan cara:
1. Pencacahan Total (perhitungan menyeluruh)
Metode ini disebut juga sensus yang digunakan untuk mengetahui
jumlah nyata dari individu yang hidup dari suatu populasi. Metode ini
biasanya diterapkan kepada daerah yang sempit pada hewan yang hidupnya
menetap,misalnya porifera dan binatang karang. Metode ini juga dapat
digunakan untuk menentukan populasi hewan yang berjalan lambat,
misalnya jenis hewan dari coelenterata, siput air dan lain-lain
2. Metode Sampling (cuplikan)

11
Pada metode ini, pencacahan dilakukan pada suatu cuplikan
(sample), yaitu suatu proporsi kecil dari populasi dan menggunakan hasil
cuplikan tersebut untuk membuat taksiran kerapatan (kelimpahan) populasi.
Pemakaian metode ini bersangkut paut dengan masalah penentuan ukurann
dan jumlah cuplikan, oleh karena itu bersangkut paut pula dengan metode-
metode statistik. Beberapa metode pencuplikan yang digunakan antara lain:
a. Metode kuadrat
Pencuplikan dilakukan pada suatu luasan yang dapat berbentuk
bujur sangkar, persegi enam, lingkaran dan sebagainya. Prosedur yang
umum dipakai disini adalah menghitung semua individu dari beberapa
kuadrat yang diketahui ukurannya dan mengekstrapolasikan harga rata-
ratanya untuk seluruh area yang diselidiki.
b. Metode menangkap – menandai – menangkap ulang
Metode ini dinamakan juga dengan “mark-recapture”, metode
ini mengambil tiga asumsi pokok, yaitu: 1. individu- individu yang
tidak bertanda maupun yang bertanda ditangkap secara acak 2.
individu- individu yang diberi tanda mengalami laju mortalitas yang
sama seperti yang tidak bertanda 3. tanda- tanda yang dikenakan pada
individu tidak hilang ataupun tidak tampak.
c. Metode removal (pengambilan)

Metode ini umum digunakan untuk menaksir besar populasi mamalia


kecil. Asumsi- asumsi dasar yang digunakan dalm metode pengambilan adalah
sebagai berikut: 1. populasi tetap stasioner selama periode penangkapan 2.
peluang setiap individu populasi untuk tertangkap pada setiap perioda
panangkapan adalah sama 3. probabilitas penangkapan individu dari waktu
selama perioda penangkapan adalah sama.
Menurut Odum (1971) populasi akan memperlihatkan suatu
peningkatan atau penyusutan secara terus menerus, kecuali jika lingkungannya
berubah dengan sangat cepat atau terjadi perubahan populasi secara drastis.
Pada umumnya populasi akan menunjukkan perubahan yang stabil, apabila
lingkungan yang mendukung untuk kehidupan organisme.

12
Dengan demikian dialam bentuk pertumbuhan bukan eksponensial tapi
ada batasnya dimana anggota populasi mencapai maksimum pada batas daya
dukung. Hal ini menyebabkan berkurangnya laju pertumbuhan populasi
sampai akhirnya berhenti tumbuh. Dan kurva dalam kondisi ini disebut
sigmoid yang serupa huruf S. Pada kurva dikenal fase tersendat (liog), fase
pertumbuhan menanjak naik (accelerating growth), fase pertumbuhan
melambat (diaccelerating growth) dan perioda keseimbangan (equilibrium
period). (Suin, 2002).

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pertumbuhan populasi bentuk eksponensial ini terjadi apabila populasi ada
dalam sesuatu lingkungan ideal baik, yaitu ketersediaan makanan, ruang
dan kondisi lingkungan lainnya tidak beroperasi membatasi, tanpa ada
persaingan dan lain sebagainya.
2. Pada pertumbuhan populasi yang berbentuk sigmoid, populasi mula-mula
meningkat sangat lambat (fase akselerasi positif). Kemudian makin capet
sehingga mencapai laju peningkatan secara logaritmik (fase logaritmik),
namun segera menurun lagi secara perlahan dengan makin meningkatnya
pertahanan lingkungan.
3. Kerapatan populasi adalah ukuran besar populasi yang berhubungan
dengan satuan ruang (area), yang umumnya diteliti dan dinyatakan sebagai
jumlah (cacah) individu dan biomasa persatuan luas, persatuan isi
(volume) atau persatuan berat medium lingkungan yang ditempati.
b. Saran
Setelah mempelajari tentang pertumbuhan populasi diharapkan agar
mahsiswa lebih mengerti tentang pertumbuhan populasi tumbuhan .

14
DAFTAR PUSTAKA

Ewusi, J.Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. PT. Bumi Aksara. Jakarta
Krebs, S.J. 1989. Ekofarming. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Lestari, P. 2001. Fraksional POOL Bahan Organik Tanah Labil Pada Lahan
Hutan dan Lahan Deforestasi. Jurnal Ilmu – Ilmu Pertanian Indonesia
Volume 3 No 2, 2001. Hal 75 – 83.
Margian, Wolf. 1988. General Ecology. Saunders College Pub. New York.

Odum, E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

Odum, E.P .1971. Fudamental Of Ecology. W.B.Sounder Company London


Odum, EP. 1983. Fundamentals of Ecology third Edition. Saunders
College Publishing. Georgia.
Suin, N.M. 2002. Metoda Ekologi. Andalas University Press. Padang.
Panigoro S.H. 2012. Variasi Pemanenan Terhadap Model Dinamik Pertumbuhan
Eksponensial. Jurusan Matermatika. Universitas Negeri Gorontalo.

15