Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN DIABETES MELITUS JUVENIL


( DM TIPE I )
Dosen Pengampu: Ruti Wiyati, S Kep, Ns

Disusun Oleh:
RETNO RIANINGSIH
P10220206031
II A

POLITEKNIK KESEHATAN
DEPARTEMEN KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PURWOKERTO
2008
KONSEP DASAR
DIABETES MELITUS JUVENIL
( DM TIPE I )

A. PENGERTIAN
Diabetes Melitus ialah suatu penyakit metabolik yang menyebabkan
gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat
kekurangan insulin yang efektif. (FKUI, 1988).
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit yang disebabkan
berkurangnya sekresi atau penggunaan insulin yang mengakibatkan
hiperglikemia, glikosuria dan ketosin. (John Rendle, 1994).
Diabetes Melitus adalah gangguan yang melibatkan metabolisme
karbohidrat primer dan ditandai dengan defisiensi (relatif/absolute) dari
hormon insulin. (Dona L. Wong, 2003)
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit gangguan pada endokrin
yang merupakan hasil dari proses destruksi sel pankreas sehingga insulin
mengalami kekurangan. (Suriadi. 2001).
Diabetes Melitus Juvenilis adalah diabetes melitus yang
bermanifestasi sebelum umur 15 tahun. (FKUI, 1988)

B. ETIOLOGI
1. Faktor Hereditas/keturunan
Dabetes melitus juvenilis merupakan suatu penyakit keturunan yang
diturunkan secara resesif, dengan kekerapan gen kira-kira 0,30 dan
penetrasi umur kira-kira 70% untuk laki-laki dan 90% untuk wanita.
2. Umur
Jarang pada masa kanak-kanak awal dan jarang sebelum umur 3 tahun.
3. Faktor Lingkungan
(misalnya infeksi, terutama Coxackie B4) atau stress misalnya kehamilan
dapat mencetuskan timbulnya diabetes melitus.
(FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. 1988:259)

C. KLASIFIKASI
Menurut American Diabetes Association, diabetes melitus dibagi menjadi:
1. Diabetes melitus nyata
2. Diabetes melitus kimia atau laten
Tidak ada gejala diabetes melitus, kadar gula darah normal tetapi pasca
prandial tampak kenaikan GTT (Glukosa Tolerance Test) seperti pada
diabetes.
3. Tersangka diabetes melitus
Terdapat Intolerans terhadap karbohidrat pada keadaan tertentu seperti
trauma, infeksi, pemakaian obat-obat (kortikosteroid) stress dan
sebagainya.
4. Prediabetes
Prediabetes adalah masa sebelum timbulnya diabetes melitus yang nyata
(FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. 1988:260)

D. PATOFISIOLOGI
Insulin dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang dibutuhkan untuk
pemanfaatan glukosa sebagai bahan energi seluler dan diperlukan untuk
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.
Insulin membantu transportasi glukosa ke dalam sel dan membantu
pergerakan senyawa-senyawa keton ke dalam sel sebagai sumber energi
sekunder.
Apabila insulin tidak dihasilkan maka akan mengalami gangguan
metabolisme, karbohidrat, protein dan lemak yang mana bila tanpa insulin
Glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan tetap dalam kompartemen
vaskular yang kemudian terjadilah hiperglikemi dengan demikian akan
meningkatkan konsentrasi dalam darah.
Terjadinya hiperglikemi akan menyebabkan osmotik diuresis yang
kemudian menimbulkan perpindahan cairan tubuh dari rongga intraseluler ke
dalam rongga interstisial kemudian ke ekstrasel. Terjadinya osmotik diuretik
menyebabkan banyaknya cairan yang hilang melalui urine (polyuria) sehingga
sel akan kekurangan cairan dan muncul gejala Polydipsia (kehausan).
Terjadinya polyuria mengakibatkan hilangnya secara berlebihan potasium dan
sodium dan terjadi ganggunag elektrolit. Dengan tidak adanya glukosa yang
mencapai sel, maka sel akan mengalami “starvation” (kekurangan makanan
atau kelaparan) sehingga menimbulkan gejala polyphagia, fatigue dan berat
badan menurun.
Dengan adanya peningkatan glukosa dalam darah, glukosa tidak
dapat difiltrasi oleh glomerulus karena melebihi ambang renal sehingga
menyebabkan lolos dalam urine yang disebut glikosuria.
(Suriadi. Askep Pada Anak Edisi I. 2001:75)

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Onset
Biasanya cukup cepat, gejala menjadi semakin jelas dalam 1-6 minggu.
Jika hal ini tidak dikenali, maka anak dapat jatuh ke dalam koma diabetes.
2. Simptom
a. Anak minum dan makan berlebihan (polidipsi) dan (polifagi)
b. Mengeluarkan urine dalam jumlah banyak (poliuri)
c. Kelemahan umum
d. Cepat lelah dan lesu
e. Berat badan menurun
f. Nyeri abdomen
Sering terjadi pada ketoasidosis
g. Kulit kering dan tidak elastis karena dhidrasi
(Behram. Ilmu Kesehatan Anak. 1998)
F. KOMPLIKASI
1. Gangren (jarang)
2. Gangguan pertumbuhan dan pubertas
3. Katarak
4. Arteriosklerosis (sesudah 10-15 tahun)
5. Hepatomegali
6. Gangguan mikrovaskuler dalam ginjal (nephropathy) retina
(Retinopathy), dan intestinal yang dapat menyebabkan gagal ginjal,
kebutuhan dan sindroma malabsorbsi.
7. Koma
(FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. 1988:261)

G. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan ialah mengembalikan anak kepada kesehatan dan
pertumbuhan yang mendekati normal. Hal yang penting ialah pertumbuhan
dan perkembangan dengan memperhatikan kekuatan jasmani yang sebaiknya.
1. Diet
Makanan harus adekuat untuk pertumbuhan dan aktivitas normal
sebaiknya makanan tidak banyak berbeda dengan makanan anak lain dan
disesuaikan dengan makanan keluarga. Diet bebas berarti bahwa anak
boleh makan sesukanya pada waktu makan, tetapi tidak boleh berlebihan
dan harus menjauhkan diri dari makanan yang manis (gula) dan banyak
mengandung karbohidrat.
Prinsip diet ini, yaitu:
a. Kalori cukup untuk pertumbuhan dan aktivitas
b. Protein tidak kurang dari 2-3 gram/kg bb/hari
c. 40-50% daripada kalori terdiri dari karbohidrat
d. Cukup vitamin dan mineral
2. Pengobatan Insulin
Penderita diabetes melitus Juvenilis tidak dapat diobati tanpa Insulin,
pengobatan oral dengan SULFONUREAS atau biguanides tidak
memuaskan dan banyak menyebabkan gejala sampingan pada anak.
Dengan pemberian insulin dapat menjadikan kadar gula yang normal atau
hampir normal tanpa menyebabkan timbulnya serangan hipoglikemia dan
tanpa terlalu membatasi makanan.
Daya kerja bermacam-macam sediaan insulin
Mulai Lamany
Macam Puncak
Daya Kerja Bekerja a
Insulin (jam)
(jam) (jam)
Cepat dan Insulin ½ 2-4 6-8
sebentar regular ½ 2-4 10-12
semilente
Sedang dan agak WPH 2 8-10 28-30
lama Lente 2 8-10 28-30
Lamban dan PZI 4-8 14-20 24-36
Lama Ultralente 4-8 14-24 >36

Cara pemberian insulin adalah dimulai dengan insulin regular dalam dosis
dosis kecil, misalnya 4 unit, tiga kali sehari sebelum makan. Berangsur-
angsur dinaikkan sampai dosis tepat yang dapat diketahui dari
pemerikasaan urin dan gula darah. Kalau dosis sudah tercapai, maka
sebagian dari insulin regular dapat diganti dengan lente atau PZI (25%
insulin regular dan 75% lente) dan disuntikkan 1 kali sehari
Komplikasi pengobatan insulin adalah hipoglikemia dan terjadinya
somogji effect yaitu anak jatuh dalam keadaan hipoglikemia, kemudian
dalam keadaan hiperglikemia, kadar gula darah normal sukar dicapai.
3. Pediatri Sosial
Orang tua penderita harus dibimbing mengenai penyakit, diet dan
pengobatan, misalnya cara menyuntik insulin.
(FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. 1988:261)

.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN DIABETES MELITUS JUVENIL
( DM TIPE I )

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat penyakit, terutama yang berhubungan dengan penyakit
yang berbahaya.
2. Riwayat keluarga
Terutama yang berkaitan dengan anggota keluarga lain yang menderita
diabetes melitus.
3. Riwayat Kesehatan
Terutama yang berhubungan dengan penurunan berat badan, frekuensi
minum dan berkemih. Peningkatan nafsu makan, penururan tingkat
kesadaran, perubahan perilaku dan manifestasi dari diabetes melitus
tergantung insulin, sebagai berikut:
a. Polifagi
b. Poliuria
c. Polidipsi
Hal-hal lain yang perlu dikaji:
a. Kaji hiperglikemia dan hipoglikemia
b. Kaji tumbuh kembang anak
c. Satus hidrasi
d. Tanda dan gejala ketoasidosis, nyeri abdomen, mual muntah,
pernapasan kusmaul menurunnya kesadaran.
e. Kaji tingkat pengetahuan
f. Mekanisme koping
g. Kaji nafsu makan
h. Status berat badan
i. Frekuensi berkemih
j. Fatigue
k. Irirtabel
(Donna L. Wong : 590)
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Glikosuria
Diketahui dari uji reduksi yang dilakukan dengan bermacam-macam
reagensia seperti benedict, clinitest, dan sebagainya.
b. Hiperglikemia
Pemeriksaan kadar gula darah puasa. Gula darah puasa meningkat
dapat berkisar antara 8-20 mmol/L (130-800 mg%) atau lebih
tergantung beratnya keadaan penyakit. Biasanya diatas 14 mmol/L dan
sesudah makan, gula darah meningkat lebih tinggi dibandingkan anak
normal dan penurunan kadar ke kadar sebelumnya membutuhkan
waktu lebih lama.
c. Ketonuria
d. Kolestrol dapat meningkat
Normalnya di bawah 5,5 mmol/L. Tidak selalu nilainya paralel dengan
gula darah, tetapi kadar kolestrol darah yang tetap tinggi (yaitu diatas
10 mmol/L) menunjukkan prognosis jangka panjangnya buruk karena
komplikasi seperti oterosklerosis lebih sering terjadi.
e. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit, PaCO2 menurun, pH
merendah. Bila penyakit berat maka bisa terjadi asidosis metabolik dan
perubahan biokimiawi karena dehidrasinya.
(FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. 1988:261)
B. PATHWAY KEPERAWATAN
Kekurangan Insulin

Gangguan Metabolisme
Karbohidrat, Lemak dan protein

Menurunnya penggunaan Ketidakseimbangan


glukosa oleh sel Nutrisi Kurang dari
kebutuhan tubuh
Hiperglikemi

Glikosuria dengan Osmolalitas cairan dari


Osmotik diuresis Intrasel

Kurang
Hilangnya cairan dan Pengetahuan Dehidrasi
Elektrolis dalam urine

Hipertermi
Kekurangan
Volume Cairan

Kerusakan
Integritas Kulit

(Suriadi. Askep Pada Anak Edisi I. 2001:77)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ketidakseimbangan insulin dan makanan.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
volume cairan aktif (poliuria)
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hipertermi
4. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan
D. INTERVENSI
1. Diagnosa I
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakseimbangan insulin dan makanan.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan berat badan
pasien akan ideal.
NOC: Status nutrisi: Intake makanan dan cairan
Kriteria Hasil:
a. Asupan nutrisi
b. Berat badan ideal
c. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
d. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
Indikator Skala:
1 = Tidak cukup
2 = Sedikit
3 = Sedang
4 = Kuat
5 = Total
NIC: Manajemen Nutiri
1) Kaji berat badan pasien
2) Tingkatkan pemberian makanan yang mengandung protein,
vitamin, dan besi (apabila dianjurkan)
3) Berikan makanan tinggi natrium
4) Berikan makanan yang sedikit mengandung gula (glukosa)
5) Seleksi jenis makanan yang tepat

2. Diagnosa II
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
aktif (poliuria)
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan
cairan dan elektrolit terpenuhi.
NOC: Fluid Balance
Kriteria Hasil:
a.Mempertahankan urine output sesuai dengan usia
Umur (tahun) Output urine (ml)
1-3 500-600
3-5 600-700
5-8 700-1000
8-14 800-1400
14-18 1500
b. Berat jenis urine normal (20-40 mg/dl)
c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit
baik, dan tidak ada rasa haus yang berlebihan.
Indikator Skala:
1 = Kompromi yang ekstrem
2 = Sangat kompromi
3 = Cukup Kompromi
4 = Sedikit Kompromi
5 = Tidak kompromi
NIC: Fluid Management
1) Timbang popok atau pembalut jika diperlukan
2) Monitor status hidrasi
3) Monitor tanda-tanda vital
4) Kolaborasi pemberian cairan IV
5) Anjurkan keluarga untuk membantu pasien makan

3. Diagnosa III
Kerusakan Intergritas Kulit berhubungan dengan hipertermia
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi
kerusakan integritas kulit.
NOC: Tissue Integrity skin
Kriteria Hasil:
a. Integritas Kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi,
elastisitas, temperatur, hidrasi)
b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
Indikator Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Pressure Management
1) Jaga kebersihan kulit agar tetap kering dan bersih
2) Monitor kulit adanya kemerahan
3) Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat.

4. Diagnosa IV
Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu badan
normal
NOC: Thermoregulator
Kriteria Hasil:
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Tidak ada perubahan warna kulit
c. Nadi dan rata-rata pernapasan dalam rentang normal
Indikator Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Temperature Regulation
1) Monitor tekanan darah, RR,dan nadi
2) Monitor tanda-tanda hipertermi
3) Tingkatkan intake cairan
4) Monitor suhu minimal tiap 2 jam
5) Berikan anti piretik jika perlu

5. Diagnosa V
Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan informasi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan
pasien dan keluarga tentang penyakit pasien bertambah.
NOC: Pengetahuan: Proses Penyakit
Kriteria Hasil:
a. Mengenal nama penyakit
b. Deskripsi proses penyakit
c. Deskripsi tanda dan gejala
d. Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit
e. Deskripsi tindakan pencegahan terhadap komplikasi
Indikator Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Pembelajaran Proses Penyakit
1) Kaji pengetahuan klien tentang penyakit
2) Jelaskan proses penyakit
3) Jelaskan tanda dan gejala penyakit
4) Berikan informasi mengenai kondisi klien
5) Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah
E. EVALUASI

DX Kriteria Hasil Ket Skala


I a. Asupan nutrisi 4
b. Berat badan ideal 4
c. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 4
d. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti 4
II a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia 2
b. Berat jenis urine normal (20-40 mg/dl) 2
c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor 2
kulit baik, dan tidak ada rasa haus yang berlebihan.
III a. Integritas Kulit yang baik bisa dipertahankan 4
(sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi)
b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit 4
IV a. Suhu tubuh dalam rentang normal 4
b. Tidak ada perubahan warna kulit 4
c. Nadi dan rata-rata pernapasan dalam rentang 4
normal
V a. Mengenal nama penyakit 3
b. Deskripsi proses penyakit 2
c. Deskripsi tanda dan gejala 3
d. Deskripsi cara meminimalkan perkembangan 2
penyakit
e. Deskripsi tindakan pencegahan terhadap 2
komplikasi
DAFTAR PUSTAKA

Beth, Cecyl & Sowden, Linda. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC.
Behrman,Richard E.1998. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
FKUI. 1998. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Info Medika.
Jhonson, Marion, dkk. 2000. NOC. Jakarta: Morsby.

McCloskey, Cjoane, dkk. 1995.NIC. Jakarta: Morsby.

NANDA.2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan

Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Sacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.


Short, John Rendle. 1994. Ikhtisar Penyakit Anak, ed 6. Jakarta: Bina rupa Aksara.
Suriadi, dkk. Askep Pada Anak Edisi I. 2001. Jakarta : PT Fajar Interpratama.