Anda di halaman 1dari 11

STRUKTUR DAN

KONSTRUKKSI
BANGUNAN I

BATA RINGAN

CYNTHIA FIDELIN.
F 221 18 011
STRUKTUR DAN KONSTRUKKSI
BATA RINGAN
 Mengenal Bata Ringan

Bata ringan adalah batu bata yang memiliki berat paling ringan daripada bahan pada umumnya dan
ukurannya lebih besar. Bata ringan juga merupakan bahan bangunan yang sedang trendy saat ini. Bata
ringan dipakai dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat bahkan juga rumah tinggal. Ini
menunjukkan adanya pergeseran dari penggunaan bata merah ke bata ringan sebagai bahan baku utama
pembuat dinding atau tembok, serta karena ukurannya lebih besar sehingga bata ringan cepat dalam
pemasangannya.

Bata ringan pertama kali disempurnakan di Swedia pada pertengahan 1920-an oleh Dr. Johan Axel
Eriksson, seorang arsitek dan penemu, bekerjasama dengan Profesor Henrik Kreüger dari KTH Institut
Teknologi Kerajaan Swedia. Hebel adalah merek dagang dari bata ringan yang diproduksi oleh Josef
Hebel, yang membuka pabriknya yang pertama di Jerman pada 1943.

Bata ringan disebut hebel karena salah kaprah pengartian nama benda dengan merek dagangnya. Sama
seperti jika kita beli air minum dalam kemasan di warung. Apapun merek dagangnya, tetap saja disebut
‘aqua’, karena Aqua memang merek dagang dari air minum dalam kemasan yang pertama di Indonesia.

Bata ringan baru mulai ramai dipergunakan di Indonesia pada 1995. Harga yang masih cukup tinggi dan
ketersediaan yang terbatas menyebabkan bata ringan kurang diminati masyarakat pada masa-masa itu.

Bahan baku bata ringan sendiri biasa disebut beton ringan jenis AAC (Autoclaved Aerated concrete), yang
merupakan perpaduan dari pasir silica, semen, alumunium pasta dan bahan lainnya. Proses produksi
bata ringan menerapkan teknologi yang mengacu pada standar DIN dari Jerman, sehingga produk yang
dihasilkan memiliki standar kualitas yang cukup baik.

 Dua jenis Bata RIngan

Di Indonesia, setidaknya terdapat dua jenis bata ringan yang biasa digunakan untuk membuat dinding
bangunan. Di antaranya meliputi bata ringan AAC (Autoclaved Aerated Concrete) dan bata ringan CLC
(Cellular Lightweight Concrete). Nah, pada kesempatan kali ini mari kita bersama mengenal lebih jauh
tentang masing-masing bata ringan tersebut dan perbandingannya.

1. Bata Ringan AAC (Autoclaved Aerated Concrete)

Bata ringan berjenis AAC terbuat dari pasir silika,


semen, kapur, dan air. Bahan-bahan tersebut lantas
dicampurkan sedemikian rupa, lalu dimasukkan ke dalam
mesin autoclaved. Pemrosesan dengan mesin ini
dilakukan menggunakan uap bertekanan tinggi yang
bersuhu 200 derajat celcius sehingga memicu terjadinya
reaksi antara pasir silika dan kapur. Hasilnya berupa bata
yang memiliki pori-pori udara di dalamnya sehingga
berbobot lebih ringan.Berat jenis bata ringan AAC kurang lebih sekitar 650 kg/m3. Walaupun
mempunyai pori-pori di dalamnya, material ini tidak menyerap air karena pori-porinya tidak saling
berhubungan. Bahkan bata ringan AAC termasuk bahan bangunan yang memiliki daya serap air yang
rendah. Lebih lanjut bata ringan AAC juga mempunyai densitas terendah, rasio kepadatan yang baik,
dan kuat tekannya tinggi.

2. Bata Ringan CLC (Cellular Lightweight Concrete)

Bahan baku yang dipakai untuk membuat bata


ringan CLC yaitu semen, pasir, foam (busa organik),
dan air. Kebanyakan produsen memanfaatkan
semen portland, meski penggunaan semen lain
pun tidak terlalu bermasalah. Untuk pasirnya, pilih
pasir sungai yang berukuran 4, 6, atau 8 mm
tergantung tingkat kepadatan bata ringan yang
diharapkan. Penambahan foam berfungsi sebagai
media untuk membungkus gelembung-gelembung
udara agar terjebak di dalam bata ringan.

Kualitas suatu hasil produksi bata ringan CLC bisa


disesuaikan dengan mudah, mulai dari tingkat masa jenisnya 350-1.800 kg/m3 hingga berat jenisnya 1,5-
30 N/m2. Namun tingkat kepadatan yang umum digunakan ialah 1.200 kg/m3. Karena daya serapnya
terhadap air sangat minim, baja yang dipasang di dalam bata ringan ini pun tidak perlu dilapisi cat
antikarat. Selain itu bata ringan CLC juga mempunyai beberapa kelebihan seperti bisa dipaku, mudah
dipotong, daya isolasinya lebih tinggi, dan tahan terhadap api.

 Perbandingan Bata Ringan AAC dan CLC

Di bawah ini merupakan perbandingan antara bata ringan AAC dan CLC, antara lain :

 Bata ringan AAC memiliki warna putih karena bahan bakunya berasal dari pasir silika dan kapur.
Sedangkan bata ringan CLC berwarna abu-abu sebab adanya penambahan pasir sungai atau pasir
tambang.
 Dalam ukuran dimensi yang sama, bata ringan AAC mempunyai bobot yang lebih ringan daripada
bata ringan CLC. Penyebabnya terletak pada material penyusun yang berbeda dan proses
pengolahannya pun berbeda pula.
 Pembuatan bata ringan CLC umumnya dibuat menggunakan sarana dan prasarana yang
berteknologi modern sehingga kapsaitas produksinya dapat dijaga dengan baik. Di sisi lain, bata
ringan AAC yang biasanya dibuat oleh industri rumahan memakai peralatan yang seadanya,
maka kapasitas produksinya pun tidak begitu besar dan tidak stabil.
 Untuk memasang bata ringan AAC dan CLC membentuk dinding bangunan membutuhkan bahan
perekat yang tidak sama. Pemasangan bata ringan AAC harus menggunakan semen khusus yakni
mortar/thinbed. Sementara bata ringan CLC bisa dipasang memakai semen biasa.
 Dari segi harga, banderol yang melabeli bata ringan AAC dan bata ringan CLC sebenarnya tidak
terlalu jauh. Kebetulan saat ini harga bata ringan AAC berkisar antara Rp750 ribuan/m3 dan
harga bata ringan CLC kurang lebih sekitar Rp760 ribuan/m3. Namun bisa saja suatu saat harga
AAC bisa lebih mahal ketimbang CLC, begitupun sebaliknya.

Kedua tipe tersebut memiliki konsep yang sama yaitu menambahkan gelembung udara kedalam mortar
sehingga akan mengurangi berat beton secara signifikan. Perbedaan bata ringan AAC dan CLC terlihat
dari segi proses pengeringan, yaitu AAC mengalami pengerngan dalam oven autoclaf bertekanan tinggi
sedangkan bata ringan tipe CLC mengalami proses pengeringan secara alami menggunakan tenaga
matahari. Nama lain dari bata ringan CLC adalah Non – Autoclaved Aerated Concrete (NAAC).

 keunggulan dari bata ringan:

1. Lebih kuat dan ringan. Beton ringan memiliki kekuatan yang lebih baik tetapi sekaligus lebih
ringan karena di dalamnya terdapat banyak rongga udara yang terikat di dalam campurannya.
Struktur beton ringan AAC menyebabkan bangunan yang dihasilkan lebih tahan guncangan saat
terjadi gempa bumi.

2. Karena bobotnya ringan, secara keseluruhan beban struktur bangunan jadi lebih rendah. Karena
ringan, transportasi dan pengangkutan jadi lebih mudah.

3. Lebih presisi dan seragam baik ukuran maupun bentuknya. Bata ringan tidak dibentuk dengan
dicetak satu persatu seperti bata merah ataupun batako. Bata ringan dipotong dengan menggunakan
mesin potong khusus sehingga ukuran dan bentuknya presisi.

4. Karena presisi, maka pengerjaan bangunan juga jadi lebih mudah dan lebih cepat, sehingga biaya
jadi lebih efisien.

5. Karena presisi, bata ringan tidak memerlukan siar yang tebal sehingga lebih hemat penggunaan
semen mortar sebagai pengikat.

6. Karena presisi, bata ringan membuat hasil akhir dinding yang lebih rapi permukaannya.

7. Karena rapi, tidak memerlukan plesteran yang terlalu tebal sehingga menghemat biaya belanja
semen dan pasir serta memperpendek waktu pengerjaan.

8. Karena ukuran per satuannya lebih besar, proses pengerjaan bangunan jadi lebih cepat
dibandingkan menggunakan bata merah yang ukurannya lebih kecil.
9. Beton ringan AAC adalah campuran beton yang tahan terhadap suhu tinggi, sehingga bata ringan
menjadi tahan api. Bangunan yang dihasilkan pun menjadi lebih sulit untuk terbakar jika terjadi
bencana kebakaran. Otomatis, area yang terbakar akan terbatas dan tidak meluas ke seluruh rumah
atau bangunan.

10. Lebih kedap suara karena adanya rongga-rongga udara di dalam material bata ringan dan juga
lebih tahan rembesan air.

 Kekurangan yang dimiliki bata ringan di antaranya :

1. Memerlukan bahan perekat khusus yakni semen instan.

2. Ukurannya yang besar dapat menimbulkan pemborosan jika dipakai untuk mendirikan dinding yang
tanggung.

3. Tekstur permukaannya yang halus kadang-kadang menyebabkan kesulitan dalam merekatkannya.

4. Pemasangannya harus dilakukan oleh tukang yang terampil dan berpengalaman.

5. Selama pemasangan tidak boleh terkena air sedikitpun karena dapat memperlambat pengeringan.

6. Harga batu ringan terbilang mahal dan pembeliannya harus dilakukan secara massal.

7. Jika salah dalam pemasangannya akan timbul bercak berwarna kekuning-kuningan di plesteran.

8. Relatif sulit mendapatkannya karena hanya toko bangunan berskala besar yang menjual batu ringan
ini.
 Bahan baku pembuatan Bata Ringan Block ini antara lain :

1. Semen (segala jenis semen dengan kandungan yang memenuhi persyaratan teknis)
2. Kapur (Kapur atau gamping yang dihaluskan)
3. Pasir Silika (adalah pasir khusus yang mempunyai kandungan bahan silica)
4. Alumunium powder (bubuk alumunium yang diimpor khusus dari China)
5. Bahan baku tersebut diatas (kecuali alumunium powder) didapat di dalam negeri dan merupakan
bahan baku yang mudah didapat.
6. Air, Tidak kalah pentinya bahan baku berupa air mendominasi bentuk campuran sebagai bahan baku
yang menentukan. Kualitas air yang diperlukan adalah standar umum dengan nilai kejernihan 95% aie
tanah yang tidak mengandung garam.

 BAHAN PEMBANTU :

1. Pallet 3. Cutting Wire


2. Steel Shapping 4. Bahan Grinda

 PROSES PRODUKSI

1. Proses pertama adalah penggilingan pasir silica agar dapat dijadikan “Slurry” tepung silica.
2. Slurry dimasukan dalam tempayan pengaduk luluh slurry dimana slurry dicampur dengan air dan
diaduk menjadi adonana luluh/permik.
3. Adonan luluh dituangkan dalam tangki penyimpan luluh/permik.
4. Luluh permik dimasukan dalam bejana dimana diadakan pencampuran luluh permik dengan semen
dan kapur setelah itu dituangkan Alumuinium Powder.
5. Setelah memenuhi waktu pencampuran yang cukup maka campuran tersebut melalui saluran-saluran
khusus menuju kotak-kotak cetakan silicon.
6. Diperlukan waktu sejenak untuk pengukuhan/pengerasan balok-balok silicon.
7. Balok silicon dikirim ke ruang pemotongan untuk dipotong-potong sesuai ukuran yang ditentukan.
8. Agar memenuhi ukuran yang tepat/akurat, diadakan pemotongan ke dua untuk menjadi Bata Ringan
Block dan bersihkan sisa-sisa/bekas-bekas pemotongan.
9. Selanjutnya Bata Ringan Block dimasukan ke dalam Auto Claved selama 12 jam diberi tekanan uap
dengan tekanan 12 BAM dan temperatur 193OC. Dalam tekanan uap tersebut akan mebentuk reaksi
pembakaran sampai produk Bata Ringan matang dengan sempurna.
10. Bata Ringan Blocks dinyatakan “Jadi” dan di tumpuk dalam gudang penumpukan yang siap untuk
dikirim. Bahan Pembuiatan Bata Ringan :

 KEBUTUHAN ALAT DAN MESIN:

1. AUTOCLAVE
2. BOILER
3. SAND MILL
4. MIXER
5. CUTTING MACHINE
6. SILLO
7. MOULD
8. LIME SLAKING TUB BAK.

Catatan :
Penggunaan semen bisa diantara 4 sak samai 6 sak tergantung dari kualitas pasir yang digunakan.

Harga material yang digunakan merupakan perhitungan berdasarkan harga standar, dan Hitungan diatas
bisa berbeda, tergantung harga material, pekerja dan lahan dimasing-masing daerah.

 Bata Ringan sebagai bahan pennganti konvensional


Untuk membuat suatu bangunan yang berkualitas kuat dan tahan lama maka diperlukan pula bahan
banguanan yang bagus. Salah satu material bangunan untuk membuat bangunan adalah batu bata.
Hampir di tiap daerah bisa kita jumpai produsen batu bata karena cara pembuatan yang sederhana,
bahan bakunya juga berlimpah, cukup dari tanah. Nah, Seiring dengan waktu perkembangan teknologi
yang terus berkembang serta meningkatnya kebutuhan bahan material tepat guna dan ramah lingkungan
untuk perumahan. Terutama tuntutan terhadap efektifitas dan efisiensi baik waktu maupun biaya untuk
menyelesaikan sebuah proyek konstruksi khususnya di kota kota besar yang padat penduduknya, maka
dibuatlah batu bata ringan sebagai material bahan bangunan
UKURAN BATA RINGAN