Anda di halaman 1dari 8

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka

Terjemahan Matan kerjakan , lalu kami jadikan amal itu


(bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS
Syuruthu Ash- Al Furqan: 23)

Shalah
Syarat Kedua: Berakal

(Karya Syaikh Muhammad At Tamimiy Lawan kata darinya adalah gila. Orang gila
rahimahullah) terangkat darinya catatan amal sampai dia
sadar. Dalilnya hadits Rasulullah
Syarat-syarat sahnya sholat ada sembilan: shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Diangkat
Islam, berakal, tamyiz, mengangkat hadats, catatan amal atas tiga: orang yang tidur
menghilangkan dari najis, menutup aurat, sampai dia bangun, orang yang gila sampai
masuknya waktu sholat, menghadap kiblat, dia sadarkan diri, anak kecil sampai dia
dan niat. baligh.”

Syarat Pertama:Islam Syarat Ketiga: Tamyiz

Lawan katanya adalah kekufuran. Adapun Lawan katanya adalah shighar (kecil).
orang yang kafir, amalnya tertolak walaupun Batasnya adalah usia tujuh tahun. Setelah
dia beramal dengan amal apapun. lewat tujuh tahun diperintahkan untuk
sholat. Berdasarkan sabda Beliau
Dalilnya firman Allah ta’ala shollallahu ‘alaihi wa sallam,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk
َ‫لماَ لكاَلنَ لدالرماشدردكيِلن لأنَ يِلاعرمرروُاا لملساَدجلد ا لشاَدهدديِلن لعللى‬ sholat pada saat usianya tujuh tahun dan
َ‫ت ألاعلماَلرهرام لوُدفيِ النناَدر هرام لخاَلدردوُلن‬
‫ط ا‬ ‫لأنَفردسدهام دباَالركافدر أراوُللئد ل‬
‫ك لحبد ل‬ pukullah karena melalaikannya ketika telah
berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu tempat tidur mereka.”
memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang
mereka mengakui bahwa mereka sendiri
kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia
pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Syarat Keempat: Mengangkat Hadats
neraka.” (QS At Taubah: 17)
Yaitu dengan berwudhu yang sudah kita
Dan firman Allah ta’ala, kenal. Muujib (penyebab diwajibkan)nya
wudhu adalah hadats. Syarat-syarat wudhu
‫لوُقلدداملناَ إدللىَ لماَ لعدمرلوُا دمان لعلملل فللجلعاللناَهر هللباَء نمنرثوُراا‬ ada sepuluh: Islam, berakal, tamyiz, niat,
istishhaabul hukm yaitu dengan tidak berniat Dan dalilnya muwaalah adalah hadits
membatalkannya sampai sempurna thaharah, sohibul lum’ah dari Nabi shollallahu ‘alaihi
terputusnya penyebab diwajibkannya, wa sallam bahwasanya beliau melihat
istinja’ atau istijmar sebelumnya, sucinya seorang laki-laki yang kakinya belum
air, dan mubahnya (air tersebut), terbasuh air wudhu sebesar dirham maka
menghilangkan apa yang menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sampainya air pada kulit, dan masuknya memerintahkannya untuk mengulangi
waktu bagi orang yang hadatsnya terus wudhunya.
menerus.

Adapun yang fardhu dalam wudhu ada


enam: membasuh wajah, termasuk Kewajiban dalam wudhu: membaca
berkumur-kumur dan beristinsyaq, dan bismillah kalau ingat.
batasnya memanjang dari tempat tumbuhnya
rambut sampai dagu dan melebar diantara
dua daun telinga, kemudian membasuh
kedua tangan sampai siku, lalu mengusap Pembatal wudhu ada delapan: keluar
seluruh kepala termasuk di dalamnya kedua sesuatu dari dua jalur (qubul dan dubur),
telinga, lalu membasuh kedua kaki sampai keluar sesuatu yang kotor/najis dari badan,
mata kaki, lalu melakukannya dengan tertib, hilangnya akal, menyentuh wanita dengan
dan muwaalah (bersabung satu dengan yang syahwat, menyentuh kemaluan dengan
lainya). Dalilnya adalah firman Allah ta’ala tangan baik itu qubul atau dubur, memakan
daging onta , memandikan mayit, dan
‫صلَّدة فاَاغدسرلوُاا روُرجوُهلركام‬‫ليِاَ أليَيِلهاَ الندذيِلن آلمرنوُاا إدلذا قرامترام إدللىَ ال ن‬ murtad -semoga Allah melindungi kita
َ‫ق لوُااملسرحوُاا بدرررؤوُدسركام لوُألاررجللركام إدللى‬ darinya-.
‫لوُألايِدديِلركام إدللىَ االلملرافد د‬
‫االلكاعلبيِدن‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila


kamu hendak mengerjakan shalat, maka Syarat Kelima: Menghilangkan Najis
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan,
dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
pakaian, dan tempat (untuk sholat). Dalilnya
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata
firman Allah ta’ala
kaki.” (QS Al Maidah: 6)
‫ك فل ل‬
‫طههار‬ ‫لوُثدليِاَبل ل‬

“Dan pakaianmu bersihkanlah” (Al


Dan dalil dari tertib adalah hadits,
Mudatstsir: 4)
“Mulailah dengan apa yang Allah memulai
darinya.”
Syarat Keenam: Menutup Aurat َ‫ق اللنايِدل لوُقرارآلنَ االفلاجدر إدنن‬ ‫ألقددم ال ن‬
‫صلَّلةل لدردرلوُدك النشام د‬
‫س إدللىَ لغلس د‬
‫قرارآلنَ االفلاجدر لكاَلنَ لماشرهوُداا‬
Telah bersepakat ahlul ilmi atas rusaknya
sholat dengan telanjang sedangkan dia “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari
mampu menutupinya. Batas dari aurat laki- tergelincir sampai gelap malam dan
laki adalah dari pusar sampai lutut. Batas (dirikanlah pula shalat) subuh .
aurat budak perempuan juga seperti itu. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan
Adapun perempuan merdeka maka auratnya (oleh malaikat).” (QS Israa’: 78)
adalah seluruh tubuh kecuali wajahnya di
dalam sholat. Dalilnya firrman Allah ta’ala Syarat kedelapan: Menghadap kiblat

‫ليِاَ بلدنيِ آلدلم رخرذوُاا دزيِنلتلركام دعنلد ركهل لماسدجلد‬ Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang ‫ك قدابللةا تلار ل‬


‫ضاَلهاَ فللوُهل‬ ‫ك دفيِ النسلماَء فلللنرلوُلهيِلنن ل‬ ‫ب لوُاجده ل‬‫قلاد نَللرىَ تلقلليَ ل‬
indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS Al ‫ث لماَ ركنترام فللوُيَلوُاا روُرجدوُهلركام‬ ‫طلر االلماسدجدد االلحلرادم لوُلحايِ ر‬‫ك لش ا‬ ‫لوُاجهل ل‬
A’raf: 31) ‫ا‬
‫لشطلرهر‬

(Setiap memasuki masjid) yaitu maksudnya “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu
setiap mau sholat. menengadah ke langit , maka sungguh Kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang
kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu
Syarat Ketujuh: Masuknya Waktu Sholat berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.”
(QS Al Baqarah: 144)
Dalilnya dari sunnah adalah hadits Jibril
‘alaihissalaam bahwasanya dia mengimami
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal
dan di akhir waktu, lalu berkata, “Hai Syarat Kesembilan: Niat
Muhammad, sholat itu di antara kedua
waktu ini.” Dan juga firman Allah ta’ala, Tempatnya adalah di hati. Melafalkannya
adalah bid’ah. Dalilnya adalah hadits,
‫ت لعللىَ االرماؤدمدنيِلن دكلتاَباَ ا نماوُرقوُتاَ ا‬
‫صلَّلةل لكاَنَل ا‬
‫إدننَ ال ن‬ “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung
pada niatnya dan setiap orang akan dibalas
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu tergantung dari apa yang dia niatkan.”
yang ditentukan waktunya atas orang-orang
yang beriman.” (QS An Nisa’: 103)

Yaitu diwajibkan pada waktu-waktu tertentu. Rukun sholat ada empat belas: Berdiri jika
Dalil tentang waktu-waktu sholat adalah mampu, kemudian takbiratul ihram,
firman Allah ta’ala, membaca Al Fatihah, ruku’ dan berdiri
darinya, sujud atas tujuh anggota badan, dan
bangkit darinya, duduk di antara dua sujud,
thuma’ninah pada seluruh rukun, dan tertib, di sembah di bumi dan di langit selain
lalu tasyahud akhir, duduk tasyahud akhir, Engkau ya Allah. (Kemudian membaca)
kemudian sholawat atas Nabi shallallahu {A’uudzubillaahi minasy syaithaanirrajiim.
‘alaihi wa sallam, dan dua salam. Maknanya {a’uudzu} yaitu saya berlindung,
bersandar dan berpegang teguh kepadaMu
ya Allah. {minasy syaithaanirrajiim} yaitu
makhluk yang disingkirkan dan dijauhi dari
Rukun pertama: Berdiri jika mampu rahmat Allah, tidak membahayakanku pada
urusan agama dan duniaku.
Dalilya firman Allah ta’ala,
[Rukun Ketiga: Al Fatihah]
‫طىَ لوُرقوُرموُاا دللد لقاَنَددتيِلن‬
‫صلَّلدة االروُاس ل‬ ‫ظوُاا لعللىَ ال ن‬
‫صلللوُا د‬
‫ت وُال ن‬ ‫لحاَفد ر‬
Bacaan Al-Fatihah merupakan rukun dalam
“Peliharalah semua shalat(mu), dan setiap rakaat seperti dalam hadis:
(peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah
untuk Allah (dalam shalatmu) dengan ‫ل صلَّة لمن لم يِقرأ بفاَتحة الكتاَب‬
khusyu’.” (QS Al Baqarah: 238)
“Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca
Al-Fatihah”.

Rukun kedua: Takbiratul Ihram Al-Fatihah adalah merupakan induknya Al-


Qur’an.
Dalilnya adalah hadits, “Awalnya adalah
takbiratul ihram dan akhirnya adalah [Makna Bacaan Al Fatihah:]
salam.”
‫بسم ا الرحمن الرحيِم‬
Yang dilakukan setelah takbiratul ihram
adalah membaca doa istiftah. Hukumnya Memohon keberkahan dan pertolongan.
adalah sunnah. Bacaannya adalah
{Subhaanakallahumma wabihamdik, ‫الحمد ل‬
watabaarakasmuk, wata’aala jadduk, walaa
ilaaha ghairuk} Alhamdu merupakan pujian. Alif dan lam
disini menunjukkan istighraaq (mencangkup
Adapun makna {subhaanakallaahumma} semua) bentuk puji-pujian. Adapun sekedar
yaitu saya mensucikanMu dengan pensucian keindahan semata seperti kecantikan maka
yang sesuai kemuliaanMu. Makna pujian atasnya disebut madh (pujian semata)
{wabihamdika} yaitu pujian atasMu. Makna bukan hamd (yang disertai pengagungan dan
{watabaarakasmuk} yaitu tekeberkahan syukur).
tercapai dengan mengingatmu. Makna
{wata’aala jadduk} yaitu sangat besar ‫رب العاَلميِن‬
keagunganMu. Makna {walaa ilaaha
ghairuk} yaitu tidak ada yang berhak untuk
Rabb (Tuhan) adalah yang berhak disembah, urusan pada hari itu dalam kekuasaan
Dia adalah pencipta, pemberi rezeki, raja, Allah.” (Al-Infithor: 17-19)
yang melakukan sesuatu atas keinginanNya,
yang memelihara semua ciptaanNya dengan Dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi
berbagai macam kenikmatan. wa sallam:

Al ‘alamin, semua yang selain Allah disebut ‫الكيِس من دانَ نَفسه وُعمل لماَ بعد الموُت وُالعاَجز من اتبع‬
alam. Dia adalah rabb seluruh alam. ِ‫نَفسه هوُاهاَ وُتمنىَ علىَ ا الماَنَي‬

‫الرحمن‬ “Orang yang pandai ialah siapa saja yang


menundukkan hawa nafsunya dan beramal
Ar Rahman merupakan rahmat yang umum untuk hari setelah kematian (hari akhirat).
yang meliputi seluruh makhluk. Sedangkan orang yang lemah (bodoh) ialah
siapa saja yang senantiasa mengikuti hawa
‫الرحيِم‬ nafsunya dan banyak berangan-angan
kepada Allah (tapi tanpa beramal).”
Ar Rahim merupakan rahmat yang khusus
untuk orang-orang yang beriman. Dalilnya ‫ايِاَك نَعبد‬
adalah firman Allah ta’ala:
Bermakna kami tidak beribadah kepada
َ‫وُكاَنَ باَلمؤمنيِن رحيِما‬ selainMu. Ini adalah bntuk perjanjian antara
hamba dengan Rabbnya untuk tidak
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang- menyembah kecuali hanya kepadaNya.
orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
‫وُايِاَك نَستعيِن‬
‫ماَلك يِوُم الدبن‬
Adalah perjanjian antara hamba dan
Yaitu hari pembalasan dan perhitungan. Hari RabbNya untuk tidak meminta pertolongan
pembalasan atas segala amal. Jika amalnya kepada siapapun selain Allah.
baik, maka baik pula balasannya. Namun,
jika buruk amalnya, maka akan mendapat ‫اهدنَاَ الصراط المستقيِم‬
balasan yang buruk. Dalilnya dalah firman
Allah: Ihdina bermakna beri kami petunjuk, taufiq,
dan keistiqomahan.
‫وُماَ أدراك ماَ يِوُم الديِن ثم ماَ أدراك ماَ يِوُم الديِن يِوُم ل‬
‫تملك نَفس لنفس شيِئاَ وُالمر يِوُمئذ ل‬ As shiroot bermakna Islam. Ada yang
mengartikan Rasulullah atau Al-Qur’an.
“Tahukah kamu apakah hari pembalasan Ketiga penafsiran tersebuat semua benar.
itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari
pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) Al mustaqiim adalah sesuatu yang tidak ada
seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk kebengkokan padanya.
menolong satu sama lainnya. Dan segala
‫صراط الذيِن أنَعمت عليِهم‬ perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa
Yaitu adalah jalan orang-orang yang Allah mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi:
beri nikmat. Dalilnya adalah firman Allah: 103-104)

‫وُمن يِطع ا وُالرسوُل فأوُلئك مع الذيِن أنَعم ا عليِهم من‬ Dan hadits dari Rasulullah shallallahu
‫النبيِيِن وُالصديِقيِن وُالشهداء وُالصاَلحيِن وُحسن أوُلئك‬ ‘alaihi wa sallam:
َ‫رفيِقا‬
‫ حتىَ لوُ دخلوُا‬،‫لتتبعن سنن من كاَنَ قبلكم حذوُ القذة باَلقذة‬
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan ‫ اليِهوُد‬،‫ يِاَ رسوُل ا‬:‫ قاَلوُا‬،‫جحر ضب لدخلتموُه‬
RasulNya, mereka itu akan bersama-sama ‫ فمن؟ أخرجاَه‬:‫وُالنصاَرىَ؟ قاَل‬
dengan orang-orang yang dianugerahi
nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para “Sungguh kalian akan mengikuti (meniru)
shiddiiqiin (yang membenarkan para nabi), tradisi umat-umat sebelum kalian sejengkal
orang-orang yang mati syahid dan orang- demi sejengkal sampai kalaupun mereka
orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik masuk ke dalam liang biawak niscaya
teman dekat.” (An-Nisa: 69) kalian akan masuk ke dalamnya pula.“ para
sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-
‫غيِر المغضوُب عليِهم‬ orang Yahudi dan Nasranikah?” beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
Yaitu Yahudi, mereka memiliki ilmu, namun “siapa lagi?”
tidak beramal dengan ilmunya. -Kita
meminta pertolongan kepada Allah untuk Dan hadits kedua:
menjauhkan kita dari jalan mereka-.
‫ وُافترقت‬،‫افترقت اليِهوُد علىَ دإحدىَ وُسبعيِن فرقة‬
‫وُل الضاَليِن‬ ‫ وُستفترق هذه المة‬،‫النصاَرىَ علىَ اثنيِن وُسبعيِن فرقة‬
‫ من‬:َ‫ قلنا‬،‫ كلهاَ فيِ الناَر دإل وُاحدة‬،‫علىَ ثلَّثا وُسبعيِن فرقة‬
Yaitu kaum Nashara, mereka menyembah ‫ من كاَنَ علىَ مثل ماَ أنَاَ عليِه‬:‫هيِ يِاَ رسوُل ا؟ قاَل‬
Allah di atas kebodohan dan kesesatan. ِ‫وُأصحاَبي‬
-Kita meminta pertolongan kepada Allah
untuk menjauhkan kita dari jalan mereka.- “Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71
golongan, dan Nashara telah berpecah
Dan dalil orang-orang yang sesat, adalah belah menjadi 72 golongan. Dan akan
firman Allah dalam surat Al-Kahfi: berpecah belah umat ini menjadi 73
golongan, semuanya di neraka kecuali satu.
ِ‫قل هل نَنبئكم باَلخسريِن أعماَل الذيِن ضل سعيِهم في‬ Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah
َ‫الحيِاَة الدنَيِاَ وُهم يِحسبوُنَ أنَهم يِحسنوُنَ صنعا‬ siapa mereka itu?” beliau berkata: “Mereka
adalah yang berada di atas jalanku dan
“Katakanlah: “apakah akan kami
para sahabatku.”
beritahukan kepadamu tentang orang-orang
yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu [Rukun Sholat Berikutnya]
orang-orang yang telah sia-sia
Ruku’, bangkit dari ruku’, sujud dengan Dan tasyahud akhir adalah rukun yang
tujuh anggota badan, bangkit dari sujud, termasuk faridhah, sebagaimana di dalam
duduk diantara dua sujud. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud,
firman Allah: “Hai orang-orang yang sebelum tasyahud diwajibkan bagi kami,
beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu.” kami mengatakan: Assalaamu ‘ala Allahi
(QS Al-Hajj: 77). Dan juga dalam hadits: min ibadihi, assalaamu ‘ala Jibril wa
“Aku diperintahkan sujud di atas tujuh Mikail. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa
anggota badan.” sallam berkata: “Jangan katakan
‘assalaamu ‘ala Allahi’ karena
Dan thuma’ninah dalam seluruh perbuatan, sesungguhnya Allah adalah As-Salaam.
dan tertib antara rukun-rukun tersebut, dan Namun katakanlah: “Attahiyaatu Lillahi
dalilnya adalah hadits mengenai seorang was Salawatu wat Thayyibaat. As-Salamu
laki-laki yang buruk shalatnya, diriwayatkan ‘alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi
oleh Abu Hurairah: “Suatu hari kami duduk wabarakatuh. As-Salamu ‘alaina wa ‘ala
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ibaadillahi shalihin. Asyhadu an Laa ilaaha
ketika datang seorang laki-laki yang Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan
kemudian shalat dan (setelah itu) kemudian abduhu wa Rasuuluhu.
memberi salam kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Lalu Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: Kembali dan
shalatlah karena sesungguhnya engkau Makna (‫ )التحيِاَت‬adalah segalah
belum shalat. Hal itu terjadi tiga kali, penghormatan hanya milik Allah, yang
kemudian orang itu berkata, Demi Yang memiliki dan berhak mendapatkannya,
Mengutusmu dengan haq, aku tidak dapat seperti ketundukan, ruku’, sujud, tetap dan
melakukan yang lebih baik dari ini, maka terus-menerus (mendiami suatu tempat).
ajarkanlah kepadaku.” Maka Nabi Segala sesuatu yang karenanya Rabb
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: semesta alam diagungkan, maka itu adalah
Jika engkau berdiri untuk shalat, maka milik Allah semata. Maka barangsiapa yang
bertakbirlah, kemudian bacalah yang mengarahkan bagian mana saja dari
mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian pengagungan kepada selain Allah, dia adalah
ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam musryikin kafir.
keadaan ruku’, kemudian angkatlah hingga
engkau beridri lurus, kemudian sujudlah Makna (‫ )وُالصلوُات‬adalah seluruh doa, dan
hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan dikatakan juga maknanya adalah shalat lima
sujud, kemudian angkatlah hingga engkau waktu. (At Thayyibat), Allah adalah Dzat
thuma’ninah dalam keadaan duduk, dan yang indah/baik, yang tidak menerima
kerjakanlah yang demikian itu dalam amalan baik perkataan maupun perbuatan
shalatmu seluruhnya.” kecuali yang baik.

(‫ ) السلَّم عليِك أيِهاَ النبيِ وُ رحمة ا وُ بركاَته‬artinya


engkau mendoakan Nabi atas keselamatan,
rahmat dan berkah. Yang didoakan baginya bahwa maknanya adalah berarti rahmat.
maka tidak boleh berdoa kepadanya Namun pengertian pertama lebih benar.
bersamaan dengan Allah. Adapun shalawat dari malaikat, maka ia
berarti memohon ampunan. Dan dari
(‫ )السلَّم عليِناَ وُ علىَ عباَد ا الصاَلحيِن‬berarti manusia, ia berarti doa. Adapun ucapan
engkau mengirimakn salam atas dirimu dan wabaarik dan yang setelahnya maka hal
atas setiap hamba yang shalih di langit dan tersebut hukumnya sunnah dari perkataan
di bumi. Dan salam adalah doa. Orang-orang dan perbuatan.
shalih didoakan, bukan berdoa kepada
mereka bersama berdoa kepada Allah.

(‫ )أشهد أنَ ل إله إل ا وُ حده ل شريِك له‬engkau Kewajiban-kewajiban shalat ada


bersaksi dengan persaksian penuh keyakinan delapan: Seluruh takbir kecuali takbiratul
bahwa tidak ada yang berhak diibadahi di ihram, perkataan ‫ سبحاَنَ ربيِ العظيِم‬dalam
langit dan di bumi kecuali Allah. Dan ruku’, perkataan ‫سمع ا لمن حمده‬bagi imam
engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah dan yang shalat sendirian, perkataan ُ‫ربناَ و‬
Rasul Allah. Beliau adalah hamba yang ‫لك الحمد‬bagi setiap orang, perkataan َ‫سبحاَن‬
tidak boleh diibadahi, dan rasul yang tidak َ‫ربيِ العلى‬dalam sujud, perkataan ‫رب اغفر‬
boleh didustakan. Melainkan beliau harus ِ‫لي‬di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk
diitaati dan diikuti. Allah memuliakannya pada tasyahud awal.
dengan ubudiyyah dan risalah. Dalilnya
adalah firman Allah Ta’ala: “Maha suci [Definisi Rukun dan Wajib]
Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan
(Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia Rukun adalah hal-hal yang jika terlewat baik
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh karena lupa atau sengaja maka batal
alam.“ (QS Al Furqan: 1) shalatnya karena meninggalkannya. Adapun
kewajiban adalah hal-hal yang jika terlewat
( َ‫اللهم صل علىَ محمد وُ علىَ آل محمد كماَ صليِت على‬ dengan sengaja maka shalatnya batal karena
‫ )إبراهيِم إنَك حميِد مجيِد‬artinya Ya Allah meninggalkannya. Namun jika terlewat
limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan karena lupa, maka diganti dengan sujud
atas keluarga Muhammad sebagaimana sahwi di akhir shalat. Wallahu a’lam.
Engkau limpahkan shalawat atas Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi —
Maha Mulia. Sholawat dari Allah
maksudnya adalah pujian-Nya kepada [Diterjemahkan oleh peserta halaqah bahasa
hamba-Nya di mala’il a’la (tempat yang Arab: Hamdan Latif, Muh. Dian, Umar
tinggi), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syarif. Dimurajaah oleh Abu Zakariya
al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abul Sutrisno. Riyadh, 9 Mei 2015]
‘Aliyah yang berkata: “Shalawat dari Allah
maksudnya adalah pujian-Nya kepada
hamba-Nya di malail a’la”. Dikatakan juga