Anda di halaman 1dari 138

PENERAPAN PENDEKATAN INQUIRY SEBAGAI UPAYA UNTUK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM


PEMBELAJARAN KIMIA PADA MATERI POKOK TATA NAMA
SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK SEDERHANA
KELAS X MAN 1 PATI

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan dalam Ilmu Pendidikan Kimia

Oleh Ummi
Hanifah NIM:
063711009

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010
KEMENTERIAN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERIWALISONGO
FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Prof. DR. Hamka (Kampus II) Ngaliyan Telp. (024) 7601295 Semarang
50185 '

PERSETUJUAN PEMBIMBING Tanda Tangan

Pembimbing I Tanggal

Atik Rahmawati. S.Pd. M.Si 2. - <1 - 2016 NIP. 19750516


200604 2 002

Pembimbing II

Drs. Widodo Supriyono. M.A


NIP. 19591025 198703 1 003
KEMENTERIAN AGAMA INSTITI T
AGAMA ISLAM NEGERIWALISONGO
SEMARANG FAKULTAS TARBIYAH
Jl. Prof. Dr. Hamka KM 1 Ngaliyan Telp. (024)7601291 Semarang 50185

PENGESAHA
N a m a NIM
N : Ummi Hanifah :
Fakultas/J urusan
063711009
Judul Skripsi
: Tarbiyah / Tadris Kimia
: Penerapan Pendekatan Inquiry Sebagai Upaya Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Dalam
Pembelajaran Kimia Pada Materi Pokok Tata Nama
Senyawa Organik Dan Anorganik Sederhana Kelas X MAN 1 Pati

Telah Dimunaqosahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam
Negeri Walisongo Semarang, pada tanggal:

17 Desember 2010

Dan dapat diterima sebagai kelengkapan ujian akhir dalam rangka menyelesaikan
studi Program Sarjana Strata I (S.l) tahun akademik 2010/2011 guna memperoleh gelar
sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.
Semarang, 17 Desember 2010

Dewan Penguji
Ketua Sidang Sekretaris Sidang

MiswarK M.Ag k Rahmawati, S.Pd. M.Si


NIP.19690418199503 P. 19750516 200604 2 002

Penguji I Penguji II

Hi. Nur Kluisanah, S.Pd, M.Kes Wentv DwrYiiniarti, S.Pd. M.Kom


NIP. 19791113 200501 2 001 NIP. 19770622200604 2 005

Pembimbing I Pembimbing II

Atik Rahmawati, S.Pd, M.Si Drs. Widodo Suprivono, MA


NIP.19750516200604 2 002 NIP. 19591025 198703 1 003
MOTTO

• • ! • • • • • • • •••• • ••••••• ••• ••• • • • • ••••••

Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali


kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (Ali Imron: 102)1
PERSEMBAHAN

Dengan penuh kerendahan hati dan iringan doa, sebuah karya sederhana ini
penulis persembahkan kepada:

1. Bapak Drs. H. Asjhari Umar (alm.) dan Ibu Hj. Muti’ah hatur nuwun atas
perhatian, ketulusan kasih sayang, nasehat dan tak henti- hentinya do’a untuk
keberhasilan saya, yang selalu membangkitkan semangat saya di saat saya
lemah.
2. Kakak-kakakku yang selalu memberikan semangat, do’a, dan
dukungannya.
3. Keponakan-keponakanku.
4. Teman-teman kimia ’06 terima kasih atas persahabatan dan persaudaraan
kita yang tak akan terlupakan
5. Keluarga kos tanjung sari, terima kasih karena telah menampung keluh dan
kesahku selama ini.

1
Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Kudus: Mubarokatan Toyyibah, 2006), hlm.
63.
DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab penulis menyatakan bahwa skripsi
ini tidak berisi materi yang pernah ditulis orang lain atau diterbitkan. Demikian juga
skripsi ini tidak berisi satu pun pikiran orang lain, kecuali informasi dalam referensi yang
penulis jadikan bahan rujukan.

Semarang, 20 November 2010


Deklarator,

Ummi Hanifah
NIM. 063711009
ABSTRAK

Ummi Hanifah (NIM: 063711009), Penerapan Pendekatan Inquiry Sebagai Upaya Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Dalam Pembelajaran Kimia Pada Materi Pokok
Tata Nama Senyawa Organik Dan Anorganik Sederhana Kelas X MAN 1 Pati.

Mata pelajaran kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam atau sains
(physical science) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis. Salah satu alternatif mengatasi permasalahannya dengan menggunakan
pendekatan inquiry. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik mata pelajaran kimia menggunakan
pendekatan inquiry pada pokok bahasan tata nama senyawa organik dan anorganik
sederhana dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik dan hasil
belajar peserta didik mencapai ketuntasan belajar individual maupun klasikal.

Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research).


Penelitian tindakan merupakan suatu proses yang memberikan kepercayaan kepada
pengembangan kekuatan reflektif, diskusi dan berfikir. Adapun pengumpulan datanya
dengan cara: observasi, dokumentasi dan tes. Sedangkan analisisnya menggunakan
deskriptif analitis.

Penelitian dilaksanakan di kelas X 1 MAN 1 Pati. Semeseter Ganjil tahun


pelajaran 2010-2011. Penelitian atas dua siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi dan refleksi. Pada tahap perencanaan disusun skenario pembelajaran dan
menyiapkan perangkat pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan inquiry. Hasil observasi dipresentasikan dalam diskusi. Pada
tahap observasi, dilakukan pengamatan aktifitas peserta didik dan tes hasil akhir belajar.
Indikator kinerja pada penelitian berupa tercapainya ketuntasan belajar secara individual dan
klasikal sebesar 88,46%.

Hasil pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa indikator kinerja belum tercapai


karena hasil belajar peserta didik hanya mencapai rerata nilai 62,69 dan 61,53% peserta
didik yang tuntas belajar. Perbaikan pada peningkatan keaktifan peserta didik pada siklus
II menunjukkan ketuntasan hasil belajar peserta didik yaitu dengan nilai rerata 71,71 dan
ketuntasan hasil belajar 88,46%.

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan


masukan bagi mahasiswa, tenaga pengajar, peneliti, dan semua pihak terutama di lingkungan
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT. Karena dengan
izin dan ridhanya, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa
sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang
telah membawa kedamaian dan rahmat untuk semesta alam, yang kepada beliau
diturunkan wahyu illahi Al-Quran, dan ditugasi untuk menjelaskan serta menauladaninya.
Semoga tercurah pula kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta seluruh umatnya
yang setia.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi yang berjudul ”PENERAPAN
PENDEKATAN INQUIRY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA PADA MATERI
POKOK TATA NAMA SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK SEDERHANA
KELAS X MAN 1 PATI”, tidak mampu peneliti selesaikan dengan baik tanpa bimbingan
dan pengarahan dari berbagai pihak. Tanpa mengurangi rasa hormat, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dr. Sudja’i M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo


Semarang
2. Atik Rahmawati, S.Pd, M.Si, selaku pembimbing I, Drs. Widodo Supriyono, M.A
selaku pembimbing II, yang dengan keikhlasan hati telah banyak meluangkan
waktu untuk peneliti guna kepentingan skripsi ini.
3. Segenap dosen beserta karyawan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang,
yang telah membekali ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan
perkuliahan dengan baik.
4. Kepala MAN 1 Pati beserta seluruh tenaga pengajar, karyawan, dan peserta didik
MAN 1 Pati yang telah membantu pengumpulan data penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Drs. H. Asjhari Umar (alm) dan Ibu Hj. Muti’ah atas segala doa,
pengorbanan, motivasi, cinta, dan kasih sayangnya.
6. Kakak-kakakku yang selalu hadir disaat penulis membutuhkan bantuan.
7. Semua saudara yang ada di Pati yang tidak mungkin penulis sebutkan satu
persatu.
8. Teman, sahabat, terima kasih atas cinta, kasih sayang, motivasi dan hari- hari
yang indah.
9. Teman-teman tadris kimia 2006, semoga kebersamaan dan kekeluargaan kita
tetap terjaga selamanya.
10. Keluarga besar kos tanjung sari yang telah menemani perjalananku selama ini.
11. Teman-teman PPL SMA 8, KKN Desa Teluk, bersama kalian, kenangan terindah
yang tak pernah ku lupakan.
Kepada semua pihak yang telah penulis sebutkan di atas, penulis merasa tidak dapat
memberikan apa-apa kecuali ucapan terima kasih yang tulus debgan diiringi do’a semoga
allah SWT membalas semua amal kebaikan mereka dengan sebaik-baiknya balasan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik
dari segi bahasa, isi, maupun analisisnya. Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Semarang, 20 November 2010 Peneliti,


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii

HALAMAN DEKLARASI................................................................................. iv

HALAMAN ABSTRAK..................................................................................... v

HALAMAN MOTTO ......................................................................................... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................... vii

KATA PENGANTAR ........................................................................................ viii


DAFTAR ISI ....................................................................................................... x

DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiii

DAFTAR GAMB AR ......................................................................................... xiv

DAFTAR L AMPIRAN ...................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1


B. Rumusan Masalah.................................................................... 4
C. Penegasan Istilah ..................................................................... 4
D. Tujuan Penelitian..................................................................... 5
E. Manfaat Penelitian................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori ....................................................................... 7

1. Pendekatan Pembelajaran .............................................. 7


2. Pendekatan Inquiry ....................................................... 8
3. Belajar........................................................................... 11
a. Pengertian Belajar..................................................... 11
b. Hasil Belajar ............................................................. 13
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 16
4. Tata Nama Senyawa Organik dananorganik Sederhana 18
a. Tata Nama Senyawa Anorganik ............................................. 19
b. Tata Nama Senyawa Organik ................................... 24
5. Pembelajaran dengan Pendekatan Inquiry dalam
Meningkatkan Hasil Belaj ar Peserta Didik .................................. 25
6. Penelitian yang Relevan ............................................................ 26
B. Hipotesis Tindakan ................................................................. 27

BAB III METODE PENELITIAN

A. Subyek Penelitian .............................................................................. 28


B. Lokasi Penelitian ............................................................................... 28
C. Kolaborator ......................................................................................... 28
D. Jadwal Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 28
E. Desain Penelitian ............................................................................... 29
F. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 34
G. Analisis Data ..................................................................................... 35
H. Indikator Keberhasilan ...................................................................... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian .......................................................... 38


1. Persiapan Penelitian ....................................................................... 38
2. Kondisi Sebelum Penelitian .......................................................... 38
3. Perlakuan Penelitian...................................................................... 41
B. Hasil Penelitian ................................................................................... 42
C. Pembahasan ........................................................................................ 50

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................... 60
B. Saran .................................................................................................. 61
C. Penutup .............................................................................................. 61

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 62

LAMPIRAN ........................................................................................................ 64

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... 97


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Contoh Rumus Molekul Dan Tata Nama Asam .................................... 23
Tabel 2.2 : Tata Nama Senyawa Basa ...................................................................... 23
Tabel 2.3 : Nama-nama Senyawa Alkana ................................................................ 24
Tabel 2.4 : Perbandingan Nama-nama Senyawa Organik Sederhana ............ 25
Tabel 3.1 : Jadwal Pelaksanaan Penelitian ............................................................... 29
Tabel 4.1 : Hasil Belajar Peserta Didik Sebelum Pembelajaran Dengan
Pendekatan Inquiry ................................................................................ 39
Tabel 4.2 : Hasil Belajar Kognitif Siklus 1 ......................................................... 44
Tabel 4.3 : Hasil Belajar Kognitif Siklus II ......................................................... 48
Tabel 4.4 : Hasil Belajar Siklus 1 ........................................................................... 53
Tabel 4.5 : Hasil Belajar Siklus II ........................................................................... 55
Tabel 4.6 : Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik........................................... 59
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 : Bagan Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas 32


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Daftar Nama Peserta Didik ...................................................................... 64


Lampiran 2 : Silabus Pembelajaran ............................................................................... 65
Lampiran 3 : RPP Siklus I ............................................................................................. 67
Lampiran 4 : RPP Siklus II............................................................................................ 70
Lampiran 5 : Kisi-kisi Soal Siklus 1.............................................................................. 73
Lampiran 6 : Kisi-kisi Soal Siklus II ............................................................................. 75
Lampiran 7 : Soal Evaluasi Siklus 1.............................................................................. 78
Lampiran 8 : Soal Evaluasi Siklus II ............................................................................. 79
Lampiran 9 : Jawaban Soal Siklus 1.............................................................................. 81
Lampiran 10 : Jawaban Soal Siklus II ........................................................................... 83
Lampiran 11 : Daftar Nilai Hasil Ulangan Siklus 1 ...................................................... 85
Lampiran 12 : Daftar Nilai Hasil Ulangan Siklus II ...................................................... 86
Lampiran 13 : Daftar Ketuntasan Belajar Peserta Didik Siklus 1 ......................... 87
Lampiran 14 : Daftar Ketuntasan Belajar Peserta Didik Siklus II......................... 88
Lampiran 15 : Daftar Kelompok Diskusi ................................................................ 89
Lampiran 16 : Daftar Nilai Peserta Didik Pra Siklus.............................................. 90
Lampiran 17 : Lembar Kerja Siswa Pada Pembelajaran Siklus 1 ......................... 91
Lampiran 18 : Lembar Kerja Siswa Pada Pembelajaran Siklus II......................... 93
Lampiran 19 : Kisi-kisi Penilaian Hasil Belajar Peserta didik ................................ 95
Lampiran 19 : Dokumentasi .................................................................................... 96
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang
sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang
dengan lingkungan.2 Menurut Clifford T. Morgan, “Learning is any relatively
permanent change in behavior that is the result of past experience” artinya, Belajar
adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan pengalaman masa
lalu.3
Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan
tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik
perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor)
maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).4
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan
kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh
peserta didik sebagai anak didik.5 Penggunaan metode dan strategi pembelajaran yang
kurang tepat dan menonton dalam proses belajar mengajar membuat materi pelajaran
yang disampaikan oleh guru sulit untuk dicerna oleh peserta didik. Sehingga peserta
didik menganggap materi yang disampaikan hanya sekedar informasi, akibatnya
pengetahuan itu tidak bermakna dalam kehidupan sehari-hari.6

2
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm.1.
3
Clifford T. Morgan, Introduction to Psychology, (New York: The University Of Wisconsin,
1961), hlm. 219.
4
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), hlm. 2.
5
hlm. 6. Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),
Edisi Revisi, hlm.1.
6
Conny Semiawan, dkk, Pendekatan Keterampilan Proses, (Jakarta: Gramedia, 1990),
Guru merupakan komponen pengajar yang memegang peranan penting dan
utama, karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor
guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik melalui
interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan
guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi
komunikasi antara guru dengan peserta didiknya. Ketidaklancaran komunikasi
membawa akibat terhadap pesan yang diberikan guru.7 Belajar merupakan usaha untuk
mengubah tingkah laku dalam berpikir, bersikap dan berbuat. Supaya tujuan belajar
dapat optimal, maka diperlukan penerapan strategi belajar mengajar yang tepat. Agar
proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal, maka guru perlu membuat strategi,
yaitu “strategi belajar mengajar”. Kata strategi sendiri dapat diartikan sebagai suatu
rencana kegiatan yang dirancang secara seksama untuk mencapai tujuan. Strategi belajar
mengajar atau strategi pembelajaran adalah suatu rencana kegiatan pembelajaran
yang dirancang secara seksama sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah untuk
mencapai hasil belajar peserta didik yang optimal.
Belajar mengajar adalah suatu istilah yang mengandung makna kegiatan
interaksi antara guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dikatakan belajar mengajar karena dalam interaksi tersebut akan terjadi pengaruh timbal
balik, artinya bukan hanya peserta didik yang belajar dari gurunya tetapi guru juga akan
banyak belajar dari kegiatan itu. Dengan kata lain guru dan peserta didik adalah dua
komponen yang menentukan dalam kegiatan belajar mengajar. Di dalam proses belajar
mengajar, guru harus memiliki strategi, agar peserta didik dapat belajar secara efektif
dan efisisen, mengena pada tujuan yang diharapkan. 8 Metode mengajar yang baik
adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar peserta didik.9
Mata pelajaran kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam atau sains
(physical science) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara
sistematis. Salah satu pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dapat
dilakukan dengan cara menyelidikinya sendiri. Pendekatan dengan cara penyelidikan
7
M. Basyiruddin Usman, Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),
hlm.l.
8
Roestijah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hlm.1.
9
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2009), Cet.10, hlm.76.
dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama “Inquiry’. Pada pendekatan ini apa yang kita
peroleh sebagian besar didasarkan oleh hasil usaha kita sendiri atas dasar-dasar yang kita
miliki. Pengajaran melalui pendekatan inquiry seperti ini tentunya akan membawa
dampak besar bagi perkembangan mental yang positif bagi peserta didik. Sebab melalui
pengajaran ini peserta didik mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan
menemukan sendiri apa yang dibutuhkan.
Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha
meletakkan dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah. Pendekatan ini
menempatkan peserta didik lebih banyak belajar sendiri, mengemukakan kekreatifan
dalam memecahkan masalah. Peserta didik betul-betul ditempatkan sebagai subyek yang
belajar. Peran guru dalam pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator
belajar. Tugas utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas
untuk dipecahkan oleh peserta didik sendiri.
Dalam materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana, peserta
didik dapat mendiskusikan dan menamai antara senyawa organik dan anorganik
sederhana. Dengan pendekatan inqury peserta didiklah yang diberi kesempatan untuk
mencari dan menemukan sendiri konsep- konsep tentang penamaan tata nama senyawa
organik dan anorganik sederhana. Karena dengan pendekatan inquiry guru hanya
berperan sebagai fasilitator, motivator, dan menciptakan suasana kondusif.
Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, maka peneliti merasa
terdorong melakukan penelitian dengan judul : PENERAPAN PENDEKATAN
INQUIRY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA PADA MATERI POKOK
TATA NAMA SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK SEDERHANA KELAS
X MAN 1 PATI.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana upaya meningkatan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran
kimia dengan pendekatan Inquiry pada materi pokok tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana kelas X MAN 1 Pati tahun ajaran 2010/2011?

C. Penegasan Istilah
Untuk mengetahui perbedaan penafsiran istilah terhadap judul skripsi ini, maka
berikut ini akan penulis paparkan maksud dari judul skripsi ini:
1. Upaya
Upaya adalah sebagai usaha, akal, ihtiar (untuk mencapai suatu maksud,
memecahkan persoalan, mencari jalan keluar dan sebagainya.10
2. Peningkatan
Peningkatan adalah sebagai proses, cara perbuatan meningkatkan (usaha
kegiatan dan sebagainya). Meningkatkan adalah menaikkan, mempertinggi,
memperhebat (derajat, tarap dan sebagainya).11
3. Pendekatan Inquiry

10
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2005), hlm. 1250.
11
Ibid, hlm.1198.
Pendekatan Inquiry adalah pendekatan yang mempersiapkan peserta didik
pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar mencari
jawabannya sendiri. Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang
berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pendekatan
ini menempatkan peserta didik lebih banyak belajar sendiri dan mengembangkan
kekreatifan peserta didik dalam memecahkan masalah. Peserta didik betul-betul
ditempatkan sebagai subjek belajar.12
4. Hasil belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar.13 Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam
belajar adalah peserta didik. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar, atau
proses pembelajaran. Pelaku aktif pembelajaran adalah guru.14 Hasil belajar yang
dinilai dalam penelitian ini adalah aspek kognitif.
5. Tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana
Materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana adalah
menentukan tata nama senyawa anorganik, penamaan senyawa biner, penamaan
senyawa poliatom, tata nama senyawa organik.
Jadi tegasnya dalam judul penelitian ini, peneliti akan meningkatkan hasil
belajar peserta didik dengan pendekatan inquiry pada materi pokok tata nama
senyawa organik dan anorganik sederhana kelas X MAN 1 Pati.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil
belajar peserta didik kelas X MAN 1 Pati dengan

12
Nana Sudjana, op. cit., hlm.154.
13
him.200. Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,

2003), Cet.2, hlm.37.


14
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999),
pendekatan Inquiry pada materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik
sederhana.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peserta didik
a. Dapat meningkatkan peran aktif peserta didik dalam pembelajaran dengan
pendekatan Inquiry.
b. Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dalam menemukan
tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana serta menumbuhkan sikap
positif mereka terhadap bidang studi kimia
2. Bagi guru
a. Memberikan wacana tentang pendekatan Inquiry
b. Sebagai bahan pertimbangan guru dalam pembuatan program pembelajaran
c. Dapat memberikan gambaran proses pembelajaran sains sehingga dapat
merangsang dan mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan Inquiry
3. Bagi sekolah
a. Memberikan landasan dan argumentasi bagi kebijaksanaan yang akan diambil
guna meningkatkan mutu hasil belajar
b. Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan pembelajaran untuk
semua pelajaran
4. Bagi peneliti
Menambah pengetahuan khususnya di bidang pendidikan, yaitu
penerapan pendekatan dalam pembelajaran dalam proses belajar
mengajar. Dalam penelitian ini peneliti menerapkan pendekatan inquiry..
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teori
1. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan dan
penggunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi
(pengajaran). Dalam pendekatan terdapat metode belajar mengajar, yaitu cara atau
jalan untuk mencapai tujuan pengajaran.15 Antara metode dan pendekatan dibedakan,
pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode
lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran juga berarti
meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan keterampilan peserta
didik. Dengan menghadapi sejumlah pembelajar, berbagai pesan yang terkandung
dalam bahan ajar, peningkatan kemampuan pembelajar, dan pemerolehan
pengalaman, maka setiap guru memerlukan pengetahuan tentang pendekatan
pembelajaran.16
Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha
meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta
didik dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar. Penerapan
pendekatan dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan dasar dalam diri peserta didik supaya mampu
menemukan dan mengelola perolehannya.

15
Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam System Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Rineka Cipta,
1991), Cet.1, hlm.90.
16
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm.

159.
7
2. Pendekatan Inquiry
Inquiry berasal dari bahasa Inggris “inquiry”, yang secara harfiah berarti
penyelidikan. Carin dan Sund (1975) mengemukakan bahwa inquiry adalah the
process of investigating a problem11 Pendekatan inquiry merupakan pendekatan
mengajar yang berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah.
Pendekatan ini menempatkan peserta didik lebih banyak belajar sendiri dan
mengembangkan kekreatifan peserta didik dalam memecahkan masalah. Peserta
didik betul-betul ditempatkan sebagai subjek belajar.17 18
Peranan guru dalam
pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Sehingga
tugas utama bagi guru adalah mempersiapkan strategi pembelajaran inquiry.
Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan peserta
didik. Sedangkan peranan guru dalam pendekatan inquiry adalah sebagai
pembimbing dan fasilitator. Sasaran utama kegiatan kegiatan pembelajaran Inquiry
adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar.19
Pendekatan inquiry di dalam kelas dapat berhasil apabila guru memperhatikan
kriteria sebagai berikut:
a. Membentuk kelompok-kelompok dengan memperhatikan keseimbangan aspek
akademik dan aspek sosial
b. Menjelaskan tugas dan menyediakan umpan balik kepada kelompok dengan
cara yang responsif dan tepat waktu
c. Intervensi untuk meyakinkan terjadinya interaksi antara pribadi secara sehat
dan terdapat dalam kemajuan pelaksanaan tugas
d. Melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan berbagai
kelompok dan hasil yang dicapai20

17
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), hlm.108.
18
Nana Sudjana, Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2009), Cet.10, hlm.154.
19
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta: Prestasi
Pustaka, 2007), hlm. 135.
20
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 2009), Cet.2, hlm.
Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan modern yang
sangat didambakan untuk dilaksanakan disetiap sekolah. Adapun tuduhan bahwa
sekolah menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila pendekatan ini
digunakan. Hal ini dikarenakan:
a. Dengan diterapkannya pendekatan inquiry dalam proses belajar mengajar
seorang guru tidak lagi menjadi sumber informasi yang secara tradisional
bisa diberitahukan atau diceramahkan saja, tetapi peserta didik
diperkenankan untuk belajar sendiri sesuai dengan potensinya.21
b. Pembelajaran dengan pendekatan inquiry peserta didik melakukan suatu
proses mental intelektual dan sosial emosional yang tinggi dan kadar
kreatifan peserta didik dalam belajar akan cukup tinggi pula.22 Tujuan
diterapkannya pendekatan inquiry dalam pembelajaran
adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau
mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan
demikian, dalam pendekatan inquiry peserta didik memiliki keunggulan yang dapat
dikemukakan sebagai berikut:
a. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan
tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses
belajar yang baru.

274.
21
Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), Cet.6, hlm. 75.
22
Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,
2002), Cet.12, hlm. 87.
c. Mendorong peserta didik untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri,
bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
d. Situasi belajar lebih merangsang.23
Pendekatan inquiry menurut Sund and Trowbridge (1973) dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu:
a. Inquiry terbimbing (guide inquiry); peserta didik memperoleh pedoman
sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa
pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Pendekatan ini digunakan
terutama bagi para peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan
metode inquiry, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan
yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan, dan
sedikit demi sedikit dikurangi, sesuai dengan perkembangan pengalaman
peserta didik. Dalam pelaksanaannya sebagian besar perencanaan dibuat oleh
guru. Peserta didik tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup
luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru.
b. Inquiry bebas (free inquiry); pada inquiry bebas peserta didik melakukan
penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Pada pengajaran ini peserta didik
harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik
permasalahan yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiry role
approach yang melibatkan pesrta didik dalam kelompok tertentu, setiap
anggota kelompok memiliki tugas sebagai koordinator kelompok,
pembimbing teknis, pencatat data, dan pengevaluasi proses.
c. Inquiry bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry); pada inquiry ini
guru memberikan permasalahan atau problem dan

2
3
Roestiyah N.K, op. cit., hlm. 77.
kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut
melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.24
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan inquiry terbimbing,
karena peserta didik di MAN 1 Pati belum berpengalaman melakukan
pembelajaran dengan pendekatan inquiry, sehingga peserta didik masih
memerlukan bimbingan dari guru selama dalam pembelajarannya. Dalam tahap
awal pembelajaran bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit
dikurangi. Hal ini dilakukan sesuai dengan kemampuan peserta didik.

3. Belajar
a. Pengertian Belajar
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud
dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi:
1) Skinner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat
orang belajar, maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila
ia tak belajar maka responnya menurun.25
2) Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan
bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan
isi ingatan mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga
perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke
waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”26
3) Menurut Piaget, pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu
melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan.27
Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata,
proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. 28
Belajar juga merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.
Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas lagi dari itu, yakni

24
E Mulyasa, op. cit., hlm.109.
25
Dimyati dan Mudjiono, op. cit., hlm.9.
26
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1997),
him.84.
27
Dimyati, Mudjiono, op. cit., hlm. 13.
28
Ngalim Purwanto, op. cit, hlm.85.
mengalami.29
Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu
saja memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didiklah yang
harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Belajar
menurut teori konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi
sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah
yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.30
Belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk
memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam
kegiatan belajar yang terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan
pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih
dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional.31
Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu rangkaian
interaksi antara peserta didik dan guru dalam rangka mencapai tujuan.32
Peserta didik perlu dibiasakan untuk memcahkan masalah,

29
Oemar Hamalik, op. cit., hlm 27.
30
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Arruz Media,
2008), hlm 116.
31
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,
1999), hlm.37-38.
32
Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002),
Cet.5, hlm.156.
menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Guru tidak akan mampu
memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus
mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar
merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dan dalam
keagamaan pun (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi
setiap muslim dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat
kehidupannya meningkat. Hal ini dinyatakan dalam surat al Mujadilah ayat
11:

Yang artinya: Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat


kepada orang-orang beriman dan berilmu33

Sebelum melakukan proses belajar mengajar seorang guru menentukan


pendekatan yang akan digunakan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun
dapat tercapai. Pemilihan suatu pendekatan tentu harus disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran dengan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran.

b. Hasil Belajar
Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil belajar
adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh
mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan

33
Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya, (Kudus: Mubarokatan Toyyibah, 2006),
hlm.543.
nilai tes atau angka yang diberikan guru.33 Berikut ini beberapa pengertian
tentang hasil belajar atau prestasi belajar, antara lain: Menurut Nana Syaodih
Sukmadinata, hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari
kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.34
Menurut Nana Sudjana, Hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan
yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 35
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar.36 37 Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak
belajar dan tindak mengajar.
Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil
belajar. Dari sisi peserta didik, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan
puncak proses belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindak
guru, suatu pencapaian tujuan
38
pengajaran.
Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada
peserta didik. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.38
Hasil belajar merupakan suatu parameter yang dapat digunakan dalam
menentukan berhasil atau tidaknya tujuan suatu pendidikan yang telah
dilaksanakan dalam satuan pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional
rumusan tujuan pendidikan, baik kurikuler maupun tujuan instruksional,
menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis
besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu:
1) Ranah kognitif

33
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), hlm.895.
34
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2003), Cet. I, hlm. 102.
35
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991),
Cet. 6., hlm. 22.
36
Mulyono Abdurrahman, op. cit., hlm.37.
37
Dimyati, Mudjiono, op. cit., hlm.3-4.
38
Nana Sudjana, Penilaian, op. cit., hlm. 3.
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam
aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, dan evaluasi.
2) Ranah afektif
Berkenaan dengan sikap dan nilai. Pada ranah afektif terdapat
beberapa jenis kategori, yaitu: penerimaan, jawaban atau reaksi,
penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3) Ranah psikomotorik
Ranah psikomotorik ini merupakan ranah yang berkenaan dengan
hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek
ranak psikomotorik, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan
keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.39
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara
ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di
sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para peserta didik dalam
menguasai bahan pengajaran.
Jadi, hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh
pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Tingkah laku sebagai
pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Perubahan sebagai hasil proses dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
perubahan pengertian, pemahaman, keterampilan, kecakapan serta aspek-aspek
lain yang ada pada individu yang belajar.
Hasil belajar yang dinilai dalam penelitian ini adalah ranah kognitif.
Hasil belajar kognitif diperoleh dari tes evaluasi tiap akhir siklus.
Ranah kognitif (Bloom, dkk) terdiri dari enam jenis perilaku
sebagai berikut:
1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah
dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan
dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.

39
Ibid, him 22-23
2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna
tentang hal yang dipelajari.
3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah
untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan
baik.
5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.40

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
dibedakan atas dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal 1)
Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam
individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu, seperti:
a) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan
dengan kondisi fisik individu.
b) Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang
dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang
utama mempengaruhi proses belajar adalah motivasi, minat, dan
sikap.
Faktor fisiologis seperti kondisi fisik yang sehat dan bugar akan
memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya,
jika kondisi lemah akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
Maka perlu ada usaha untuk menjaga kondisi fisik, karena di dalam tubuh
yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Faktor psikologis seperti motivasi, minat,

40
Dimyati, Mudjiono, op. cit., hlm.26-27.
dan sikap juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Motivasi sebagai
proses di dalam diri individu yang aktif, motivasilah yang mendorong peserta
didik ingin melakukan kegiatan belajar. Minat juga memberi pengaruh
terhadap hasil belajar, karena jika peserta didik tidak mempunyai minat, maka
tidak semangat belajar. Dalam proses belajar, sikap juga mempengaruhi hasil
belajar karena sikap gejala internal yang bereaksi relatif tetap terhadap objek
baik positif maupun negatif 2) Faktor-faktor eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar dapat
digolongkan menjadi dua golongan yaitu: a) Lingkungan sosial
(1) Lingkungan sosial sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-
teman sekelas.
(2) Lingkungan sosial masyarakat, kondisi lingkungan sosial
masyarakat tempat tinggal peserta didik akan mempengaruhi
belajar peserta didik.
(3) Lingkungan sosial keluarga, hubungan antara anggota keluarga,
orang tua, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu peserta
didik melakukan aktivitas belajar dengan baik.
b) Lingkungan non sosial
(1) Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara disekitarnya.
(2) Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat
digolongkan dua macam, pertama, hardware, seperti gedung
sekolah, alat-alat belajar. Kedua, software seperti kurikulum
sekolah, peraturan-peraturan sekolah.
(3) Faktor materi pelajaran, guru dapat memberikan kontribusi yang
positif terhadap aktivitas belajar peserta didik. 41 Faktor
lingkungan juga dapat mempengaruhi hasil belajar
peserta didik, karena pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya
sistem lingkungan belajar yang kondusif. Lingkungan sosial seperti sosial
sekolah, sosial masyarakat, dan juga keluarga dapat memberi dampak
terhadap aktivitas belajar. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat

41
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, op. cit., hlm.19-28.
menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik di sekolah,
begitupun juga lingkungan nonsosial seperti kondisi lingkungan yang tidak
mendukung juga akan mempengaruhi proses belajar peserta didik.

4. Tata Nama Senyawa Organik dan Anorganik Sederhana


Komunikasi diantara para ilmuwan adalah hal yang esensial. Tanpa
komunikasi tidak ada artinya sama sekali penelitian-penelitian yang telah dilakukan.
Untuk ahli kimia, komunikasi yang terpenting adalah
penjelasan tentang penggunaan bahan kimia dalam penelitian-penelitian dan
untuk ini kita membutuhkan suatu cara memberi nama senyawa kimia. Pada
penelitian ini akan dipelajari bagaimana menulis rumus kimia (formula) untuk
bermacam-macam senyawa kimia dan selanjutnya akan dijelaskan bagaimana
terbentuknya senyawa tersebut. a. Tata Nama Senyawa Anorganik
1) Penamaan senyawa biner
Persenyawaan kimia biner terdiri dari dua macam unsur. Senyawa
biner dapat terbentuk dari unsur logam dan unsur nonlogam, atau
terbentuk dari unsur-unsur nonlogam.43 Misalnya, senyawa NaCl, SrO,
Al2S3, Mg3P244 a) Tata nama senyawa biner yang terbentuk dari unsur
logam dan nonlogam (Biner Ionik)
Persenyawaan kimia biner terdiri dari atom-atom dari dua
macam unsur yang berbeda. Jika yang satu logam, maka unsur
lainnya adalah bukan logam. Maka penamaannya adalah:
(1) Senyawa yang unsur logamnya memiliki satu bilangan oksidasi
(yaitu atom unsur golongan IA, IIA, dan IIIA), nama logam
ditulis terlebih dahulu diikuti dengan nama nonlogam, dan

Contoh :
NaCl = natrium klorida
KH = kalium hidrida

Na2O = natrium oksida


Li3N = litium nitrida

Na2S = natrium sulfida


43
James E Brady, Kimia
Universitas Asas & Unsur, Terj.
Sukmariah Maun dkk, (Jakarta:
Binarupa Aksara, 1999), hlm.154.
44
Ibid.
45
Ibid.

diberi akhiran ida.45


Al2S3 = aluminium sulfida
(2) Senyawa yang unsur logamnya memiliki bilangan oksidasi
lebih dari satu, muatan logamnya dituliskan menggunakan
angka romawi dalam tanda kurung.
Contoh:

FeSO4 = besi (II) sulfat


FeCl3 = besi(III) klorida
CuCl = tembaga(I) klorida

CuCl2 = tembaga(II) klorida


SnO = timah(II) oksida
Fe O
2 3 = besi(III) oksida

b) Tata nama senyawa biner yang terbentuk dari unsur-unsur nonlogam


(Biner Kovalen)
Untuk memberi nama senyawa yang mengandung dua
komponen yang terdiri dari dua nonlogam (binary compound),
maka dipakai dengan aturan sebagai berikut:
(1) Nama nonlogam yang memiliki bilangan oksidasi positif
dituliskan terlebih dahulu. Bilangan oksidasinya ditulis dengan
menggunakan angka Romawi dalam tanda kurung. Kemudian,
diikuti dengan nama nonlogam yang memiliki biloks negatif
dengan menambahkan akhiran ida.
Contoh :
N2O = nitrogen(I) oksida
NO = nitrogen(II) oksida
SO3 = belerang(VI) oksida
SO2 = belerang(IV) oksida
PCl5 = fosfor(V) klorida
P2O5 = fosfor(V) oksida
(2) Jumlah unsur pertama ditulis terlebih dahulu, diikuti dengan nama
unsur nonlogam pertama. Kemudian, menuliskan jumlah unsur
kedua, diikuti dengan nama unsur nonlogam kedua dengan diberi
akhiran ida.42 Jumlah unsur dinyatakan dalam bahasa Yunani
sebagai berikut:
1 = mono
2 = di
3 = tri
4 = tetra
5 = penta
6 = heksa
7 = hepta
8 = okta
9 = nona
10 = deka43 Contoh :
N2O = dinitrogen oksida NO
= nitrogen oksida P2O3 =
difosfor trioksida CCl4 =
karbon tetraklorida
502 = belerang dioksida
503 = belerang trioksida

2) Penamaan senyawa poliatom


Senyawa poliatom adalah senyawa yang disusun oleh lebih dari
dua jenis unsur. Pada umumnya, anion suatu senyawa poliatom
terbentuk dari dua jenis atom yang berbeda. Nama

42
Ibid, hlm.76-77.
43
Muchtaridi, Sandri Justiana, Kimia 1, (Jakarta: Yudhistira, 2006), hlm.117.
kation disebut lebih dahulu, diikuti nama anion. Anion poliatom yang
mengandung oksigen sebagai atom pusatnya dan memiliki biloks besar,
diberi akhiran at. Adapun anion poliatom yang memiliki bilangan
oksidasi lebih kecil diberi akhiran it.
Contoh :
K2SO4 = kalium sulfat
K2SO3 = kalium sulfit
Na3PO4 = natrium fosfat
Na3PO3 = natrium fosfit

3) Tata Nama Asam dan Basa


Teori asam-basa yang paling sederhana pada awalnya
dikemukakan oleh Svante Arrhenius pada 1884. Menurut teori
Arrhenius, asam adalah spesies yang mengandung ion-ion hidrogen, H+
atau H3O+, dan basa mengandung ion-ion hidroksida, OH-.44
Pendekatan yang lebih umum untuk asam dan basa diusulkan
secara terpisah oleh ahli kimia Denmark J. N. Bronsted dan ahli kimia
Inggris T. M. Lowry. Definisi asam-basa dari Bronsted-Lowry adalah
swebagai berikut:
Asam adalah suatu zat yang memberikan proton (ion hidrogen H+)
pada zat lain.
Basa adalah suatu zat yang menerima proton dari asam.45 a) Tata
Nama Asam
Senyawa asam dapat melepaskan ion hidrigen (H+) ketika
dilarutkan dalam air. Senyawa asam terdiri atas molekul biner (HCl,
HF, HBr, dan H2S) dan molekul poliatom (HNO2,

92.

44
Kristian H. Sugiyarto, Kimia Anorganik I, (Yogyakarta: UNY, edisi revisi, 2004), hlm.
45
James E. Brady, op. cit., hlm. 439-440.
HNO3, H2SO3, dan H2SO4). Senyawa asam memiliki penamaan
khusus, yaitu senyawa asam biner diberi nama dengan menyebut asam
sebagai pengganti hidrogen. Kemudian, menyebut nama atom
berikutnya dengan diakhiri kata ida.
Contoh: HF (asam fluorida), HCl (asam klorida), HBr (asam bromida),
HI (asam iodida), dan H2S (asam sulfida).
Adapun asam poliatom, terbentuk dari oksida nonlogam (oksida
asam) yang bereaksi dengan air.
Contoh:
N2O3 + H2O -
->■ 2HNO2 (bilangan oksidasi N =+3)
N2O5 + H2O -
->■ 2HNO3 (bilangan oksidasi N =+5)
SO3 + H2O ^
H2SO4 (bilangan oksidasi S = +6)
P2O3 + 3H2O
2H3PO3 (bilangan oksidasi P =+3)
P2O5 + 3H2O
2H3PO4 (bilangan oksidasi P =+5)

Asam yang mengandung unsur nonlogam dengan bilangan oksidasi


kecil diberi akhiran it. Adapun asam yang mengandung unsur
nonlogam dengan bilangan oksidasi besar diberi akhiran at. Contoh
rumus molekul dan tata nama asam dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Beberapa Rumus Molekul dan Tata Nama Asam
Rumus Nama
Molekul Bilangan Oksidasi Logam
HNO2 N = +3 Asam nitrit
HNO3 N = +5 Asam nitrat
H2SO3 S = +4 Asam sulfit
H2SO4 S = +6 Asam sulfat

b) Tata Nama Basa


Senyawa basa termasuk senyawa poliatom yang terbentuk dari
oksida logam (oksida basa) dengan air.
Contoh :
Na2O + H2O ^ 2NaOH K2O + H2O ^
2KOH BaO + H2O ^ Ba(OH)2
Penamaan senyawa basa, yaitu dengan cara menyebut nama
logamnya, diikuti dengan kata hidroksida.46 Contoh penulisan
senyawa basa dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Tata Nama Senyawa Basa
Basa Nama
LiOH Litium hidroksida
NaOH Natrium hidroksida
Mg(OH)2 Magnesium hidroksida
Ba(OH)2 Barium hidroksida
Al(OH)3 Aluminium hidroksida

b. Tata Nama Senyawa Organik


Senyawa organik jauh lebih banyak dan lebih kompleks
dibandingkan dengan senyawa anorganik. Oleh sebab itu, diperlukan
penggolongan senyawa karbon secara sistematika selain nama lazim (nama
trivial), yaitu berdasarkan kekhasan senyawa- senyawanya. Misalnya
senyawa-senyawa organik yang hanya terdiri dari unsur karbon (C) dan
hidrogen disebut senyawa hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon juga masih
diklasifikasikan. Salah satu pengklasifikasian tersebut adalah pembagian
senyawa menjadi alkana, alkena, dan alkuna. Pembagian senyawa tersebut
didasarkan pada ada tidaknya ikatan rangkap dalam senyawa hidrokarbon.
Senyawa-senyawa alkana memiliki beberapa nama tergantung jumlah atom
karbon yang terdapat pada senyawa tersebut. Pada Tabel 2.3 berikut
dijelaskan nama-nama senyawa alkana yang sederhana:
Tabel 2.3 Nama-nama Senyawa Alkana

46
Ibid, hlm. 79-80.
Jumlah atom C Rumus Senyawa Nama

1 CH4 Metana

2 C2H6 Etana
3 C3H8 Propana
4 C4H10 Butana
5 C5H12 Pentana

6 C6H14 Heksana
7 C7H16 Heptana

8 C8H18 Oktana
9 C9H20 Nonana

10 C10H22 Dekana

Tata nama IUPAC untuk senyawa yang lain didasarkan pada tata
nama alkana dengan jumlah atom C yang bersesuaian dengan mengubah
akhiran sesuai dengan nama masing-masing senyawa. Perbandingan nama-
nama senyawa organik sederhana dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Perbandingan Nama-nama Senyawa Organik Sederhana
Jumlah Nama Nama Nama Nama
Atom Alkana Alkena Alkuna Alkohol
1 Metana - - Metanol

2 Etana Etena Etuna Etanol


3 Propana Propena Propuna Propanol
4 Butana Butena Butuna Butanol
5 Pentana Pentena Pentuna Pentanol

6 Heksana Heksena Heksuna Heksanol

7 Heptana Heptena Heptuna Heptanol

8 Oktana Oktena Oktuna Oktanol


9 Nonana Nonena Nonuna Nonanol

10 Dekana Dekena Dekuna Dekanol


5. Pembelajaran dengan Pendekatan Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Peserta didik
Salah satu komponen dalam proses pembelajaran kimia adalah penerapan
suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berlangsung
secara efektif dan efisien. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
dapat memberikan nilai tambah pengetahuan atau informasi baru pada peserta
didik, sedangkan pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang dengan
pemanfaatan daya yang tidak terlalu boros tetapi mendapatkan hasil yang
maksimal.
Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiry, diharapkan
peserta didik sendiri yang harus aktif menemukan dan mentransfer atau
membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Peran guru dalam mengajar
lebih sebagai mediator dan fasilitator. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan
inquiry akan lebih membekas dalam ingatan peserta didik.

6. Penelitian yang Relevan


a. Skripsi Novita Fardhilah (4314000044) Jurusan Kimia, Fakultas Ilmu Pendidikan
Alam dan Matematika, UNNES, 2005, yang berjudul “Efektivitas Penggunaan
Strategi Belajar Mengajar Inkuiri Berbasis Eksperimen Terhadap Prestasi
Belajar Kimia Peserta didik SMA Kelas XI Semester I Pokok Bahasan Laju
Reaksi”. Strategi belajar mengajar inkuiri berbasis eksperimen yaitu suatu
rangkaian kegiatan belajar mengajar yang melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,
kritis, logis, analitis dengan cara eksperimen, sehingga peserta didik dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
b. Skripsi Andi Fitrianto (043811034) Tadris Biologi, Fakultas Tarbiyah IAIN
Walisongo Semarang, 2009, dengan judul “Pengaruh Pendekatan Inquiry
Terhadap Hasil Belajar Biologi Materi Pokok Fotositesis pada Peserta didik
Kelas VIII MTS NU 01 Kramat Tegal. Dalam penelitian ini didapatkan hasil
bahwa penggunaan pendekatan Inquiry sangat berpangaruh terhadap hasil
belajar peserta didik.
c. Skripsi Istianah (073111582) jurusan PAI, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Semarang yang berjudul “ Efektifitas Pendekatan Inquiry dalam Pelajaran
Fiqih Kelas IV MI Nurul Huda Muryolobo Nalumsari Jepara.” Pada penelitian
ini, peneliti menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Inquiry pada
MI Nurul Huda Muryolobo Nalumsari Jepara dapat meninglatkan efektifitas
peserta didik dalam kegiatan pembelajarannya.

B. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru
didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris
yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan
sebagai jawaban teoretis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban
yang empirik.47
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti
yang dirumuskan atas dasar terkaan atau conjecture peneliti. Jawaban sementara ini
selanjutnya akan diuji dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian, dan hasil
pengujian itu adalah kesimpulan dan/atau generalisasi yang juga merupakan
temuan-temuan penelitian yang bersangkutan.48
Berdasarkan pada paparan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini
adalah: Melalui pembelajaran kimia dengan pendekatan Inquiry maka hasil belajar
peserta didik kelas X MAN 1 Pati pada materi pokok Tata nama senyawa organik
dan anorganik sederhana dapat ditingkatkan.

47
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008),
Cet.4, hlm.64.
48
Mohammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 1993), hlm.31.
BAB III METODE

PENELITIAN

A. Subjek Penelitian
Penelitian ini di lakukan di MAN 1 Pati. Subjek pelaku tindakan adalah guru
kimia kelas X MAN 1 Pati dan peneliti menjadi pengamat. Sedangkan subjek penerima
tindakan adalah peserta didik kelas X 1 MAN 1 Pati yang berjumlah 26 peserta didik.

B. Lokasi Penelitian
Lokasi tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti adalah MAN 1 Pati yang berada
di kabupaten Pati.

C. Kolaborator
Salah satu ciri PTK adalah kolaborasi (kerja sama) antara praktisi dan peneliti
dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang
akhirnya melahirkan kesamaan tindakan. Dalam pelaksanan tindakan di dalam kelas,
maka kerjasama (kolaborasi) antara guru dengan peneliti menjadi hal yang sangat
penting. Melalui kerjasama, mereka secara bersama menggali dan mengkaji
permasalahan nyata yang dihadapi guru dan peserta didik di sekolah.53
Dalam pelaksanaannya peneliti akan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran
kimia. Guru mata pelajaran sebagai pelaku penelitian dan peneliti menjadi pengamat.
Pada pelaksanaannya terdapat beberapa kegiatan yang terangkum dalam beberapa
siklus.

5
Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),
3
him. 63
D. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober - 4
November 2010. Rancangan jac 2g laksanaan penelitian tindakan kelas tertera dalam
Tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Waktu (Minggu) ke -
No Rencana Kegiatan
2 3 4 5 1 2 3 4

1 Observasi Awal X

2 Persiapan
a. Menyusun konsep pelaksanaan
X
pembelajaran
X
b. Menyusun instrument penelitian
c. Menyepakati jadwal dan tugas
X
penelitian
X X
d. Diskusi konsep pelaksaan penelitian
3 Pelaksanaan
a. Mempersiapkan bahan
X
pembelajaran
b. Pelaksanaan Siklus I X
X
c. Melakukan refleksi tindakan siklus I
X

d. Pelaksanaan Siklus II X X
e. Melakukan refleksi tidakan siklus II
X

4 Pembuatan Laporan
a. Menyusun konsep laporan
X
penelitian
b. Penyelesaian laporan X
E. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam
49
bahasa Inggris sering disebut Classroom Action Research, disingkat CAR
Penelitian tindakan kelas adalah riset tindakan (action research) yang dilakukan
dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK
merupakan proses pengkajian berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran. PTK
menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja melalui pemecahan
masalah-masalah pembelajaran (teaching-learning problems solving), sebab
pendekatan penelitian ini menempatkan guru sebagai peneliti sekaligus sebagai
agen perubahan.50 Penelitian tindakan kelas ini didasarkan atas empat konsep
pokok yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing),
dan refleksi (reflection).
1. Perencanaan (planning)
Perencanaan yaitu merencanakan waktu penelitian dan menyusun
instrumen penelitian yang meliputi kisi-kisi dan butir soal. Rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS) dan observasi
kerja peserta didik.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan yaitu melakukan penelitian tindakan kelas sesuai
dengan rencana yang sudah ditetapkan dan prosedur yang akan diterapkan.
Pada tahap ini dilaksanakan pendekatan inquiry dalam pembelajaran kimia
dengan langkah-langkah yang sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), dan para peserta didik mengikuti pembelajaran dengan
panduan lembar kerja siswa (LKS).

hlm. 649
Ibid, hlm. 58.
50
Masnur Muslih, Melaksanakan PTK itu Mudah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet.3,
3. Pengamatan
Pengamatan yaitu urutan tentang hasil pengamatan dan penafsiran
data mengenai proses dan hasil tindakan yang telah diperoleh. Pengamatan
dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tujuan
pengamatan ini adalah untuk mengamati dan menilai kinerja peserta didik
dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.
4. Analisis dan refleksi
Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh
tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, dan
kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.51
Dalam tahap ini diuraikan tentang hasil observasi dan evaluasi yang
berkaitan dengan proses pelaksanaan. Data yang berupa hasil belajar dan
kinerja peserta didik dalam mengikuti proses ini dianalisis. Hasil refleksi
kegiatan digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuan penelitian, yakni
mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didik.
Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian
terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah
dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui
siklus berikutnya yang meliputi kegiatan perencanaan ulang,
tindakan ulang dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.

5
6
Suharsimi Arikunto, dkk, op. cit., hlm. 80.
Prosedur penelitian tersebut secara garis besar dapat dijelaskan dengan
Gambar 3.1 berikut.52

Permasalahan Rencana . -----------------


Pelaksanaan

1
Tindakan I ----- Tindakan I
Refleksi I

Permasalahan
Rencana Pelaksanaa
Baru hasil
Tindakan n Tindakan
Refleksi
II II

Permasalahan ■q
Refleksi
Terselesaikan II Pengamatan
Pengumpulan Data

Pengamatan Pengumpulan Data I


Gambar 3.1 Bagan Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas Dalam
pelaksanaannya peneliti akan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran. Guru mata
pelajaran sebagai pelaku penelitian dan peneliti menjadi pengamat. Pada
pelaksanaannya terdapat beberapa kegiatan yang terangkum dalam beberapa siklus.
Adapun siklus yang akan dilaksanakan adalah siklus I, dan siklus II yang akan
dijabarkan sebagai berikut.
6. Siklus I
a. Perencanaan (Planning)
Dalam tahap perancanaan peneliti bersama kolaborator mempersiapkan.
1) Peneliti mempersiapkan materi yang akan diajarkan.
2) Peneliti menyiapkan RPP yang akan dipakai dalam proses penelitian.

52
Ibid, hlm. 16.
3) Peneliti menyiapkan materi yang akan didiskusikan sebagai sumber belajar
dan LKS sebagai reverensi.
4) Peneliti menyiapkan instrument penelitian, pendokumentasian, dan
evaluasi.
b. Pelaksanaan (Action)
Tahap pelaksanaan dilaksanakan di dalam kelas dengan melakukan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun. Adapun
pembelajaran pada materi tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana
adalah sebagai berikut.
1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana, memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah.
2) Guru mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut dan membagi LKS yang telah disediakan.
3) Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi tata nama
senyawa organik dan anorganik sederhana dari LKS yang telah disiapkan
untuk melaksanakan penemuan dan pemecahan masalahnya.
4) Guru membantu peserta didik merencanakan dan menyiapkan resume
tentang tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana.
5) Guru dan peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka lakukan.
c. Pengamatan ( Observing)
Peneliti dan kolaborator melakukan pengamatan.
1) Selama proses pembelajaran untuk mengetahui keaktifan siswa dalam melakukan
kegiatan .
2) Pemahaman konsep dan hasil/ tes akhir.
3) Keberhasilan dan hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran yang belum sesuai
dengan harapan penelitian. d. Refleksi (Reflecting)
Dalam tahap ini merupakan kegiatan menganalisa, mensintesa dari
hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus I berlangsung dan
diadakan ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar baik
secara individu maupun klasikal.
Bila ternyata pada tahap ini seluruh peserta didik belum mencapai
standar ketuntasan minimal, maka langsung dilanjutkan dengan siklus II.
7. Siklus II
Pada siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan memperhatikan
hasil observasi, hasil diskusi dengan kolaborator, serta hasil belajar peserta didik juga
mengetahui ketuntasan belajar peserta didik secara individu maupun klasikal, maka
peneliti bersama kolaborator merencanakan proses pembelajaran selanjutnya.
Adapun langkah - langkah pada siklus II adalah sebagai berikut.
a. Perencanaan
Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus
II dengan melakukan revisi sesuai dengan hasil refleksi siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan
Peserta didik melaksanakan kegiatan belajar sesuai dengan
perencanaan pembelajaran yang telah ditentukan. Pada siklus II pelaksanaan
pembelajaran perlu dimodifikasi, sehingga diharapkan akan lebih memberi
motivasi dan semangat peserta didik dalam belajar.
c. Pengamatan ( Observasi )
Guru dan kolaborator melakukan pengamatan yang sama pada siklus I.
d. Refleksi
Refleksi pada siklus kedua ini dilakukan untuk melakukan
penyempurnaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry
yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana kelas X
MAN 1 Pati tahun ajaran 2010/1011.

F. Metode Pengumpulan Data


1. Tes
Instrumen yang berupa tes dapat digunakan untuk mengukur kemampuan
dasar dan pencapaian atau prestasi.53 Metode ini digunakan untuk memperoleh data
hasil belajar peserta didik yang bersumber dari serentetan pernyataan-pernyataan atau
latihan soal. Tes yang digunakan adalah ulangan dengan bentuk soal essay dengan
jumlah soalnya 10 butir yang diberikan setiap akhir siklus. Tes ini bertujuan untuk
mengetahui hasil belajar peserta didik setelah dilakukan pembelajaran dengan
pendekatan inquiry.
2. Metode dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang- barang tertulis.
Dalam metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda- benda tertulis.54
Metode ini digunakan untuk mendapatkan daftar peserta didik dan nilai mata
pelajaran kimia pada kelas X.
3. Metode observasi
Observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek
dengan menggunakan alat indra.55 Metode ini digunakan dalam rangka mengamati
proses belajar mengajar, termasuk sistem dan metode

53
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik), Edisi Revisi, (Jakarta:
5
Rineka Cipta,
9 2006), Cet.13, hlm.223
Ibid. 158
6
0 Ibid. 156
pembelajaran yang digunakan dan kelengkapan sarana prasarana serta pengaturan
kelas dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penelitian.

G. Analisis Data
Penelitian ini mengunakan metode deskriptif analitis dengan menggunakan
daftar nilai kognitif peserta didik. Selanjutnya, data tersebut diperoleh pada tiap siklus
dianalisis secara deskriptif dengan menghitung percentages correction. Menurut
Sugiyono deskriptif analitis adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data
dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum
atau generalisasi.56 Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, digunakan daftar nilai
kognitif. Dalam menganalisis data digunakan rumus sebagai berikut:
Hasil belajar kognitif peserta didik dihitung sebagai berikut

Nilai
Rata-rata hasil belajar peserta didik dihitung sebagai berikut:

Keterangan:

X = Nilai rata-rata hasil belajar XX = Jumlah


nilai seluruh peserta didik N = Banyaknya
peserta didik 57
Ketuntasan belajar klasikal peserta didik dihitung sebagai berikut: T n1
P = x 100%
Tn
Keterangan:

56
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008),
hlm.147
57
Sudjana, Metoda Statistik, (Bandung: Tarsito, 2005), edisi ke-6, hlm.423
P = Prosentase ketuntasan belajar klasikal
£n1 = Jumlah peserta didik yang tuntas belajar (nilai > 6,5)
£n = Jumlah seluruh peserta didik
H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
1. Meningkatnya hasil belajar peserta didik kelas X MAN 1 Pati pada materi
pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana.
2. Tercapainya ketuntasan belajar klasikal yang menurut guru mata pelajaran
dapat dilihat pada nilai belajar peserta didik minimal 85% peserta didik mendapat
nilai lebih besar atau sama dengan 65.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian


1. Persiapan Penelitian
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengadakan persiapan penelitian
sebagai berikut:
a. Peneliti meminta persetujuan Kepala MAN 1 Pati untuk mengadakan
penelitian
b. Peneliti melakukan kunjungan ke sekolah, melihat kondisi langsung peserta
didik di dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung
c. Menentukan kelas X 1 yang dipilih sebagai subyek penelitian berdasarkan
pertimbangan dari guru kimia di kelas X MAN 1 Pati
d. Merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pedoman dalam
proses pembelajaran di kelas
e. Menyusun soal tes siklus I, beserta kunci jawaban dan kisi-kisinya f.
Menyusun soal tes siklus II, beserta kunci jawaban dan kisi-kisinya

2. Kondisi Sebelum Penelitian


MAN 1 Pati merupakan salah satu Madrasah Aliyah Negeri yang ada di
Pati. Dari hasil observasi, peserta didik MAN 1 Pati dalam kegiatan pembelajaran
kimia sebelum tindakan menunjukkan bahwa guru lebih aktif sebagai pemberi
pengetahuan kepada peserta didik. Keaktifan guru ini tidak diimbangi dengan
aktifnya peserta didik akibatnya peserta didik memiliki banyak pengetahuan
tetapi tidak dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep sendiri. Metode
yang digunakan dalam pembelajaran kimia kebanyakan adalah metode ceramah
sehingga peserta didik dalam kegiatan belajar menjadi bosan dan cenderung pasif.
Disamping itu, peserta didik akan lebih cepat lupa dengan materi yang diajarkan
dan aktivitas peserta didik seakan terbatasi,
akhirnya potensi peserta didik kurang tergali secara optimal. Hasil belajar

38
peserta didik sebelum pembelajaran dengan pendekatan Inquiry dapat dilihat
pada Tabel 4.1
Tabel 4.1. Hasil Belajar Peserta Didik Sebelum Pembelajaran
Dengan Pendekatan Inquiry
No. Nama Nilai
1 Achmad Ridwan Sanusi 70
2 Afinda Alfian Nisa 65
3 Aqif Muttaqin 50
4 Deviana Rachmawati 65
5 Dwi Budi Jumarno 65
6 Efrina Fitriyani 60
7 Galih Bintang Mulia 65
8 Harni 65
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 45
11 Kukuh Yogi Hermawan 40
12 Mar’atus Sholihah 60
13 Moh. Alamsyah 60
14 Moh. Ulin Nuha 65
15 Nensiana Lestari 60
16 Nur Halimah 50
17 Nur Sekha Ulya 55
18 Putri Novita Sari 65
19 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 55
21 Siti Afifatun Ni’mah 60
22 Sri Ayu Lestari 55
23 Tana Bagus Septiawan 65
24 Yuyun lutfiana 60
25 Zainal Arif 45
26 Zainal Mahasin 60
Jumlah 1525
Rata-rata 58,65

Berdasarkan hasil nilai ulangan harian materi kimia peserta didik kelas
X MAN 1 Pati sebelum penelitian diperoleh bahwa peserta didik yang
mencapai standar ketuntasan hanya 9 peserta didik yaitu dengan nilai 65.
Banyaknya peserta didik yang belum mencapai standar
ketuntasan menunjukkan rendahnya pemahaman peserta didik terhadap
materi kimia.
Mencermati masalah di atas, peserta didik memerlukan suatu
pendekatan yang dianggap cocok dengan materi tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana. Pendekatan yang dapat membantu peserta didik dalam
memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila peserta didik
mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya.
Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha
meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik
peserta didik dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar.
Penerapan pendekatan dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk
mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri peserta didik
supaya mampu menemukan dan mengelola perolehannya.
Berdasarkan kondisi peserta didik sebelum penelitian maka peneliti
tertarik meningkatkan keaktifan peserta didik, membuat pembelajaran menjadi
tidak membosankan dan meningkatkan hasil belajar yaitu ranah kognitif dengan
pendekatan inquiry.
Langkah yang diambil peneliti yaitu menerapkan pendekatan
pembelajaran yang efektif, yang dapat membantu para peserta didik untuk
mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar
yaitu dengan pendekatan inquiry. Strategi dalam pembelajaran inquiry adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara
kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan
melalui tanya jawab antara guru dan peserta didik. Sedangkan peranan guru dalam
pendekatan inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.
Tujuan diterapkannya pendekatan inquiry dalam pembelajaran adalah
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau
mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental. Dengan demikian, dalam pendekatan inqury peserta didik
tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana
mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.

3. Perlakuan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam
bahasa Inggris sering disebut Classroom Action Research, disingkat CAR.58
Penelitian tindakan kelas adalah riset tindakan (action research) yang
dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya.
Strategi pembelajaran dengan pendekatan inquiry bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, kritis atau
mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Strategi pembelajaran dengan pendekatan inquiry tidak hanya menuntut peserta
didik agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan inquiry
terbimbing, karena peserta didik di MAN 1 Pati belum berpengalaman melakukan
pembelajaran dengan pendekatan inquiry, sehingga peserta didik masih
memerlukan bimbingan dari guru selama dalam pembelajarannya. Dalam tahap
awal pembelajaran bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit
dikurangi.
Karena penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK),
bila setelah dilakukan perlakuan pada siklus I dan hasil belajar peserta didik
belum mencapai standar ketuntasan minimal, maka kegiatan pembelajaran
dapat dilanjutkan dengan siklus selanjutnya.

63

Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 58.
B. Hasil Penelitian
Penelitian penerapan pembelajaran dengan pendekatan inquiry telah
dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X 1 materi pokok
tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana pada MAN 1 PATI semester
gasal tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini dilaksanakan melalui model penelitian
tindakan kelas menggunakan dua siklus tindakan. Setiap siklus terdiri
atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
1. Siklus I
Penelitian tindakan kelas siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan ibu
Herlina Susilowati sebagai guru mitra atau kolaborator peneliti sekaligus sebagai
pengampu mata pelajaran kimia di kelas X 1. Materi pembelajaran pada siklus I
meliputi tata cara penulisan nama senyawa biner dan senyawa poliatomik. Tahapan-
tahapan dari siklus I diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
1) Daftar nilai, data keadaan kelas dan hasil pembelajaran sebelum
penelitian sudah tersusun.
2) Peneliti mempersiapkan Silabus dan RPP pembelajaran siklus I
3) Peneliti menyiapkan materi yang akan didiskusikan sebagai sumber
belajar dan LKS sebagai reverensi
4) Alat evaluasi (soal tes) untuk melihat keberhasilan peserta didik dalam
penguasaan kompetensi, Soal terdiri dari 10 soal esay
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana, memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah
2) Guru mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut dan membagi LKS yang telah disediakan.
3) Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi tata nama
senyawa organik dan anorganik sederhana dari LKS yang telah disiapkan
untuk melaksanakan penemuan dan pemecahan masalahnya
4) Peserta didik mendiskusikan materi tata cara penulisan nama senyawa
biner dan senyawa poliatomik
5) Guru membantu peserta didik merencanakan dan menyiapkan resume
tentang tata cara penulisan nama senyawa biner dan senyawa poliatomik
6) Guru dan peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka lakukan
7) Guru membagikan soal tes siklus I kepada peserta didik
8) Guru memberikan waktu kepada peserta didik untuk mengerjakan soal tes
siklus I
9) Peserta didik mengerjakan soal yang diberikan oleh guru
c. Pengamatan (Observing)
Peneliti dan kolaborator melakukan pengamatan.
1) Selama proses pembelajaran masih banyak peserta didik yang malu-malu
bertanya pada kelompok lain
2) Dalam satu kelompok hanya satu peserta didik yang aktif mengemukakan
pendapatnya dan mengembangkan kemampuan- kemampuan dasar dalam
diri mereka
3) Peserta didik belum dapat mengkondisikan waktu dengan baik
4) Penjelasan dari guru masih kurang dalam memberikan bimbingan pada
peserta didik
d. Refleksi (Reflecting)
Setelah melakukan pengamatan terhadap semua tindakan pada
pembelajaran siklus I, diperoleh hasil refleksi sebagai berikut:
1) Kerjasama peserta didik dalam kelompok masih kurang, sehingga diskusi
belum berjalan sebagaimana mestinya.
2) Diskusi masih berjalan satu arah, yaitu hanya satu kelompok satu peserta
didik yang menguraikan pendapatnya.
3) Masih banyak peserta didik yang tidak mendengarkan pendapat
temannya.
4) Pengkondisian waktu belum tertata dengan baik, sehingga peserta didik
merasa batas waktu yang diberikan kurang.
5) Penjelasan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik masih kurang,
sehingga peserta didik belum cukup paham dengan materi yang diberikan.
Adapun rincian hasil tes siklus I adalah:

a. Hasil belajar kognitif peserta didik


Hasil belajar kognitif peserta didik dihitung sebagai berikut

Nilai
^ jawabanbenar x 100%
^ soal
Sesuai dengan cara perhitungan di atas didapatkan hasil belajar kognitif peserta
didik pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.2. Hasil Belajar Kognitif Siklus I
No. Nama Nilai
1 Achmad Ridwan Sanusi 80
2 Afinda Alfian Nisa 65
3 Aqif Muttaqin 60
4 Deviana Rachmawati 70
5 Dwi Budi Jumarno 65
6 Efrina Fitriyani 65
7 Galih Bintang Mulia 55
8 Harni 65
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 50
11 Kukuh Yogi Hermawan 65
12 Mar’atus Sholihah 65
13 Moh. Alamsyah 50
14 Moh. Ulin Nuha 70
15 Nensiana Lestari 65
16 Nur Halimah 55
17 Nur Sekha Ulya 65
18 Putri Novita Sari 70
\9 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 65
2\ Siti Afifatun 60
22 Sri Ayu Lestari 60
23 Tana Bagus 65
24 Yuyun lutfiana 65
25 Zainal Arif 50
26 Zainal Mahasin 65
Jumlah \630
Rata-rata 62,69
b. Rata-rata hasil belajar kognitif peserta didik
Rata-rata hasil belajar peserta didik dihitung
sebagai berikut:

Keterangan:
X = Nilai rata-rata hasil belajar
XX = Jumlah nilai seluruh
peserta didik N =
Banyaknya peserta didik
Sesuai dengan cara perhitungan di atas
didapatkan rata-rata hasil belajar kognitif
peserta didik didapatkan hasil:
X=
c 1630 26 62,
. Ketunta 69
san
belajar klasikal peserta didik
Ketuntasan belajar klasikal peserta didik
dihitung sebagai berikut: T n\
P = 4^— x \00%

Keterangan:
P = Prosentase ketuntasan belajar klasikal
Xn\ = Jumlah peserta didik yang tuntas
belajar (nilai > 6,5)
Xn = Jumlah seluruh peserta didik
Sesuai dengan cara perhitungan di atas
didapatkan ketuntasan belajar klasikal peserta
didik didapatkan hasil:
P = — x 100% = 61,53 %
26
Setelah melakukan pembelajaran pada siklus I didapatkan hasil bahwa jumlah
ketuntasan belajar klasikal peserta didik dengan nilai > 6,5 hanya 16 peserta didik.
Jumlah ini belum memenuhi indikator keberhasilan karena hanya mencapai
ketuntasan belajar klasikal sebesar 61,53%.

2. Siklus II
Siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I, pembelajaran pada siklus II
masih mencakup materi pokok tata nama senyawa sederhana dengan pokok bahasan
menuliskan nama senyawa organik sederhana, tata nama senyawa asam dan tata nama
senyawa basa. Tahapan-tahapan siklus II diuraikan sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
1) Peneliti mempersiapkan Silabus dan RPP pembelajaran siklus II
2) Peneliti menyiapkan materi yang akan didiskusikan sebagai sumber belajar
dan LKS sebagai reverensi
3) Alat evaluasi (soal tes) untuk melihat keberhasilan peserta didik dalam
penguasaan kompetensi. Soal terdiri dari 10 soal esay
b. Pelaksanaan Tindakan (Action)
1) Guru menjelaskan tujuan nama senyawa organik sederhana, tata nama
senyawa asam dan tata nama senyawa basa, memotivasi peserta didik terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah
2) Guru mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan membagi LKS yang telah disediakan.
3) Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi nama
senyawa organik sederhana, tata nama senyawa asam dan tata nama senyawa
basa dari LKS yang telah disiapkan untuk melaksanakan penemuan dan
pemecahan masalahnya
4) Peserta didik mendiskusikan nama senyawa organik sederhana, tata nama
senyawa asam dan tata nama senyawa basa
5) Guru membantu peserta didik merencanakan dan menyiapkan resume tentang
nama senyawa organik sederhana, tata nama senyawa asam dan tata nama
senyawa basa
6) Guru dan peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka lakukan
7) Guru membagikan soal tes siklus II kepada peserta didik
8) Guru memberikan waktu kepada peserta didik untuk mengerjakan soal tes
siklus II
9) Peserta didik mengerjakan soal yang diberikan oleh guru
c. Pengamatan (Observing)
Hasil dari pengamatan selama pembelajaran pada Siklus II:
1) Peran serta peserta didik dalam kelompoknya lebih aktif, kerjasama peserta
didik dalam kelompoknya meningkat sehingga banyak ide-ide yang
diungkapkan untuk menyelesaikan permasalahan
2) Proses tanya jawab yang dalam kegiatan pembelajaran berlangsung lebih baik
3) Hasil presentasi yang dilakukan peserta didik dianalisis dengan baik oleh
guru sehingga peserta didik mampu menyimpulkan materi dengan baik dan
benar
d. Refleksi (Reflecting)
Setelah melakukan pengamatan terhadap semua tindakan pada
pembelajaran siklus II, diperoleh hasil refleksi sebagai berikut:
1) Kerjasama peserta didik dalam kelompok sudah baik, sehingga diskusi bisa
berjalan sebagaimana mestinya.
2) Tidak ada peserta didik yang ramai sendiri dan sudah banyak peserta didik
yang berani berpendapat dan bertanya pada guru.
3) Pengkondisian waktu sudah tertata dengan baik.
4)Hasil belajar peserta didik sudah mencapai
indikator keberhasilan yang ditetapkan
yaitu ketuntasan belajar klasikal peserta
didik minimal 85% peserta didik
mendapat nilai > 65.
Adapun rincian dari hasil pembelajaran
pada siklus II adalah:
a. Hasil belajar kognitif peserta didik
Hasil belajar kognitif peserta didik
dihitung sebagai berikut
V jawabanbenar
Nilai = ^-------- x 100%
V soal
Sesuai dengan cara perhitungan di atas
didapatkan hasil belajar kognitif peserta
didik pada siklus I dapat dilihat pada Tabel
4.2.
Tabel 4.3. Hasil Belajar Kognitif Siklus II
No Nama Nila
1 Achmad Ridwan 90
2 Afinda Alfian 75
3 Aqif Muttaqin 65
4 Deviana 75
5 Dwi Budi 70
6 Efrina Fitriyani 65
7 Galih Bintang 75
8 Harni 85
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 80
11 Kukuh Yogi 75
12 Mar’atus 75
13 Moh. Alamsyah 65
14 Moh. Ulin Nuha 80
15 Nensiana Lestari 75
16 Nur Halimah 80
17 Nur Sekha Ulya 85
18 Putri Novita Sari 75
19 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 65
21 Siti Afifatun 65
22 Sri Ayu Lestari 70
23 Tana Bagus 65
24 Yuyun lutfiana 60
25 Zainal Arif 65
26 Zainal Mahasin 65
Jumlah 1865
Rata-rata 71,73

b. Rata-rata hasil belajar kognitif peserta didik


Rata-rata hasil belajar peserta didik dihitung sebagai berikut:

-T x

X=
N
Keterangan:
X = Nilai rata-rata hasil belajar
XX = Jumlah nilai seluruh peserta didik N =

Banyaknya peserta didik


Sesuai dengan cara perhitungan di atas didapatkan rata-rata hasil belajar
kognitif peserta didik didapatkan hasil:
X = 1865 26 71,73
c. Ketuntasan
belajar klasikal peserta didik
Ketuntasan belajar klasikal peserta didik dihitung sebagai berikut: T n1
P = 4^— x 100%

Keterangan:
P = Prosentase ketuntasan belajar klasikal
Xn1 = Jumlah peserta didik yang tuntas belajar (nilai > 6,5)
Xn = Jumlah seluruh peserta didik
Sesuai dengan cara perhitungan di atas didapatkan ketuntasan belajar
klasikal peserta didik didapatkan hasil:

— x 100% = 88,46 % 26
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan pengamatan yang diperoleh dari
penelitian menunjukkan bahwa pada siklus II pembelajaran sudah cukup baik dari siklus
sebelumnya. Meningkatnya hasil belajar peserta didik yang ditandai dengan rata-rata
hasil belajar peserta didik dan
ketuntasan belajar klasikal peserta didik
sudah mencapai indikator keberhasilan yang
dicapai yaitu mendapatkan nilai > 6,5.
Sehingga peneliti dan guru memutuskan
tidak perlu diadakan siklus berikutnya.
C. Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas, dengan subjek satu kelas yang
berjumlah 26 peserta didik. Penelitian
dilakukan dalam dua siklus yaitu siklus I dan
siklus II. Sebelum penelitian, terlebih dahulu
diadakan observasi untuk mengetahui kondisi
awal peserta didik sebelum memperoleh
penerapan pembelajaran dengan pendekatan
inquiry. Pada observasi tersebut didapati peserta
didik kurang antusias dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran kimia karena guru
masih menggunakan metode ceramah yang
membosankan dan hasil belajar kimia peserta
didik belum mencapai KKM. Hasil
pengamatan pada tiap siklusnya didapatkan
hasil sebagai berikut:
1. Siklus I
Proses pembelajaran pada siklus I
merupakan pembelajaran dengan materi
pokok tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana yang meliputi tata cara
penulisan nama senyawa biner dan nama
senyawa poliatomik. Pendekatan Inquiry mulai
diperkenalkan pada peserta didik dalam
pembelajaran ini.
Penerapan pendekatan inquiry pada
kegiatan pembelajaran siklus I kurang
optimal. Kegiatan pembelajaran hanya
didominasi oleh beberapa peserta didik.
Keaktifan peserta didik dalam
mengungkapkan pendapat belum merata.
Hanya sebagian peserta didik saja yang mau
mengembangkan kemampuan-kemampuan
dasar dalam diri mereka.
Dalam kegiatan pembelajaran pada
siklus I, peserta didik mempraktikkan
pembelajaran dengan pendekatan inquiry pada
materi pokok tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana yang meliputi tata cara
penulisan nama senyawa biner dan nama
senyawa poliatomik. Akan tetapi keaktifan
peserta didik dalam mengungkapkan
pendapat- pendapatnya belum terlihat dalam kegiatan pembelajaran
dengan pendekatan inquiry.
Karena ini adalah pengalaman pertama peserta didik dalam menggunakan
pendekatan inquiry, sehingga guru lebih banyak memberikan bimbingan dan
pengarahan yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan,
dan sedikit demi sedikit dikurangi, sesuai dengan perkembangan pengalaman
peserta didik. Pembelajaran dalam siklus I, pelaksanaannya sebagian besar
perencanaan dibuat oleh guru. Peserta didik tidak merumuskan permasalahan.
Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat data
diberikan oleh guru.
Selain memberikan bimbingan pengarahan yang cukup luas, dalam
kegiatan pembelajaran dengan pendekatan inquiry pada siklus I ini, guru juga
memperhatikan kriteria sebagai berikut:
e. Membentuk kelompok-kelompok dengan memperhatikan keseimbangan
aspek akademik dan aspek sosial.
f. Menjelaskan tugas dan menyediakan umpan balik kepada kelompok dengan
cara yang responsif dan tepat waktu.
g. Intervensi untuk meyakinkan terjadinya interaksi antara pribadi secara sehat
dan terdapat dalam kemajuan pelaksanaan tugas.
h. Melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan berbagai
kelompok dan hasil yang dicapai.59
Walaupun guru sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi
kegiatan pembelajaran dengan penerapan pendekatan inquiry pada siklus I
dengan materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana yang
meliputi tata cara penulisan nama senyawa biner dan nama senyawa poliatomik
berjalan kurang lancar, hal ini dikarenakan dalam proses diskusi dengan pendekatan
inquiry dalam satu kelompok hanya satu peserta didik yang aktif mengemukakan
pendapatnya dan mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri
mereka.
Proses tanya jawab antara peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan
peserta didik lainnya juga masih kurang. Sebagian peserta didik masih malu-malu
untuk bertanya pada kelompok lain dan mengutarakan hasil diskusinya didepan
kelas. Pada pembelajaran siklus I peserta didik belum dapat mengkondisikan
waktu dengan baik, sehingga peserta didik merasa batas waktu yang diberikan
oleh guru dalam kegiatan pembelajaran masih kurang.
Dalam pembelajaran siklus I ada beberapa faktor dari dalam guru dan
peserta didik yang mempengaruhi proses pembelajaran ini berlangsung, yaitu:
a. Faktor Guru
Kinerja guru selama pembelajaran berlangsung sangat membantu
peserta didik memecahkan masalah dalam diskusi. Catatan kekurangan guru
dalam pembelajaran siklus I adalah kurang menguasai rencana pelaksanaan
pembelajaran dengan maksimal. Guru juga kurang bisa mengkondisikan peserta
didik sehingga peserta didik merasa waktu yang diberikan kurang.

59
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 2009), Cet.2, hlm.274
b. Faktor Pesera Didik
Hasil pengamatan pada peserta didik siklus I menunjukkan kurang
kerjasama peserta didik dalam diskusi. Masih banyak peserta didik yang tidak
mau menguraikan pendapatnya, yaitu hanya satu kelompok satu orang peserta
didik yang menguraikan pendapatnya.
Hasil belajar peserta didik siklus I diperoleh dari tes akhir siklus I. Hasil
pengamatan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I dengan
materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana yang meliputi
tata cara penulisan nama senyawa biner dan nama senyawa poliatomik menunjukkan
keberhasilan pembelajaran dengan pendekatan inquiry, hal ini ditunjukkan dengan
meningkatnya hasil belajar peserta didik. Namun peningkatan
hasil belajar ini belum memenuhi indikator keberhasilan yang peneliti inginkan
peserta didik pada siklus I
karena ketuntasan belajar
hanya mencapai 61,53%. Hasil belajar dari
siklus I dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.4. Hasil Belajar Siklus I
N Pencapaian Hasil
1 Jumlah nilai 1630
2 Rata-rata skor 62,69
3 Nilai minimum 50
4 Nilai maksimum 80
5 Jumlah peserta didik 16
6 Jumlah peserta didik 10
7 Ketuntasan belajar 61,53%
Hasil belajar peserta didik pada siklus I
diperoleh nilai rata-rata 62,69. Peserta didik
yang tuntas belajar sebanyak 16 peserta didik
dan tidak tuntas belajar sebanyak 10 peserta
didik. Sesuai dengan indikator keberhasilan
yang diharapkan nilai rata-rata yang
diperoleh belum memenuhi nilai rata-rata
yang diharapkan yaitu > 65. Sedangkan
ketuntasan belajar secara klasikal juga belum
terpenuhi. Suatu kelas dikatakan tuntas
belajar bila kelas tersebut telah terdapat >23
dari 26 peserta didik yang memperoleh nilai
> 65. Sehingga perlu perbaikan- perbaikan
dalam pembelajaran berikutnya (Siklus II)
agar indikator keberhasilan peserta didik
tercapai.
Dari proses pembelajaran yang terjadi,
hasil belajar peserta didik pada siklus I
belum berhasil, masih banyak yang harus
dibenahi. Setelah melakukan pengamatan
terhadap semua tindakan pada pembelajaran
siklus I, diperoleh hasil refleksi sebagai
berikut :
a. Kerjasama peserta didik dalam kelompok
masih kurang, sehingga diskusi belum
berjalan sebagaimana mestinya.
b. Diskusi masih berjalan satu arah, yaitu
hanya satu kelompok satu peserta didik
yang menguraikan pendapatnya.
c. Masih banyak peserta didik yang tidak
mendengarkan pendapat temannya.
d. Pengkondisian waktu belum tertata dengan
baik, sehingga peserta didik merasa batas
waktu yang diberikan kurang.
e. Penjelasan yang diberikan oleh guru
kepada peserta didik masih kurang,
sehingga peserta didik belum cukup
paham dengan materi yang diberikan.
Dari hasil evaluasi pembelajaran
tersebut, ada suatu tindakan yang dilakukan
pada tahap berikutnya yaitu siklus II. Upaya
untuk meningkatkan hasil belajar peserta
didik agar pembelajaran berhasil adalah
dengan meningkatkan motivasi peserta didik
sehingga dapat meningkatkan partisipasi
anggota kelompok presentasi.
2. Siklus II
Proses pembelajaran pada siklus II
merupakan kelanjutan dari siklus I. Dalam
pembelajaran pada siklus II, guru berusaha
semaksimal mungkin membantu peserta
didik dalam diskusi dengan memberikan
pengarahan yang maksimal. Dalam kegiatan
pembelajaran siklus II peserta didik sudah
dapat memanfaatkan waktu dengan lebih
baik, sehingga diskusi dapat berjalan dengan
lancar. Peserta didik juga sudah berani
mengungkapkan pendapat dan pertanyaan
sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik.
Dalam kegiatan pembelajaran pada
siklus II, peserta didik mempraktikkan
pembelajaran dengan pendekatan inquiry pada
materi pokok tata nama senyawa organik dan
anorganik sederhana yang meliputi tata nama
senyawa organik, tata nama Asam dan Basa.
Materi ini merupakan kelanjutan dari materi
pembelajran pada siklus I. Kegiatan
pembelajaran dengan pendekatan inquiry pada
siklus II peserta didik mulai aktif
mengungkapkan pendapat-pendapatnya dan
mau mengembangkan kemampuan-
kemampuan dasar dalam diri mereka.
Karena ini adalah kelanjutan dari
kegiatan pembelajaran pada siklus I, dalam
kegiatan pembelajaran dengan pendekatan
inquiry pada siklus II ini bimbingan dan
pengarahan yang guru berikan sedikit demi
sedikit dikurangi, sesuai dengan
perkembangan pengalaman peserta didik.
Namun dalam pelaksanaannya sebagian
besar perencanaan dibuat oleh guru. Peserta
didik tidak merumuskan permasalahan.
Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana
menyusun dan mencatat data masih
diberikan oleh guru.
Dalam kegiatan pembelajaran dengan
penerapan pendekatan inquiry pada siklus II
dengan materi pokok tata nama senyawa
organik dan anorganik sederhana yang
meliputi tata nama senyawa organik, tata
nama Asam dan Basa berjalan dengan lancar.
Hal ini dikarenakan pada proses diskusi
dengan pendekatan inquiry dalam satu
kelompok peserta didik sudah lebih aktif
mengemukakan pendapatnya. Proses tanya
jawab antara peserta didik dengan guru dan
peserta didik dengan peserta didik lainnya
sudah berjalan dengan lancar. Sebagian
peserta didik tidak lagi malu-malu untuk
bertanya pada kelompok lain dan
mengutarakan hasil diskusinya di depan
kelas. Pada pembelajaran siklus II peserta
didik sudah dapat mengkondisikan waktu
dengan baik, sehingga peserta didik dapat
memanfaatkan waktu yang diberikan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran dengan
baik.
Hasil belajar peserta didik siklus II
diperoleh dari tes akhir siklus II. Hasil
belajar dari siklus II dapat dilihat pada Tabel
4.4.
Tabel 4.5. Hasil Belajar Siklus II
N Pencapaian Hasil
1 Jumlah nilai 1865
2 Rata-rata skor 71,73
3 Nilai minimum 60
4 Nilai maksimum 90
5 Jumlah peserta didik tuntas belajar 23

6 Jumlah peserta didik tidak tuntas belajar 3


7 Ketuntasan belajar klasikal 88,46%

Hasil tes akhir peserta didik pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 71,73.
Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 23 peserta didik dan tidak tuntas
belajar sebanyak 3 peserta didik. Sesuai dengan indikator keberhasilan yang
diharapkan nilai rata - rata yang diperoleh sudah terpenuhi. Dari Tabel 4.4
menunjukan bahwa rata-rata hasil belajar siklus II mencapai 71,73 menunjukan
peningkatan dari siklus I yaitu 62,69. ketuntasan hasil belajar pada siklus II
mencapai 88,46% menunjukan peningkatan sebesar 26,93% dari siklus I yaitu
61,53%. Pada tes akhir siklus II telah tercapai ketuntasan belajar klasikal sebesar
88%.
Sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan nilai rata- rata
yang diperoleh sudah terpenuhi. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal juga
sudah terpenuhi.
Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus I dan siklus II menunjukkan
keberhasilan penerapan pembelajaran dengan pendekatan inquiry. Keberhasilan
pembelajaran ditentukan oleh peserta didik dan guru. Ada beberapa faktor dari
dalam peserta didik dan guru yang mempengaruhi proses pembelajaran ini. Yaitu:
a. Faktor Guru
Faktor guru yang dimaksud yaitu kinerja guru pada saat proses belajar
mengajar menggunakan pendekatan inquiry. Kinerja guru selama
pembelajaran berlangsung sangat membantu peserta didik dalam memecahkan
permasalahan dalam diskusi.
Catatan kekurangan guru pada saat pembelajaran siklus I didiskusikan
agar pada siklus II lebih baik dari siklus I dengan menguasai rencana
pelaksanaan pembelajaran dengan maksimal. Hasil pelaksanaan pembelajaran
pada siklus II menunjukkan
kekurangan yang dilakukan pada siklus I
sudah dapat diatasi dengan baik.
b. Faktor Peserta Didik
Faktor peserta didik dalam
pembelajaran yang dimaksud yaitu
keberhasilan peserta didik terhadap
pembelajaran kimia dengan pendekatan
inquiry sehingga membantu peserta didik
dalam meningkatkan hasil belajarnya.
Hasil pengamatan pada peserta didik
siklus I menunjukkan kurangnya
kerjasama peserta didik dalam kelompok
diskusi. Hal ini mengakibatkan tidak
semua anggota kelompok diskusi yang
aktif mengutarakan pendapat dan
pertanyaannya. Selain itu banyak peserta
didik yang kurang antusias mengikuti
pelajaran kimia. Keberhasilan proses
pembelajaran pada siklus I yang dilihat
dari hasil belajar peserta didik memperoleh
persentase 61% sehingga pembelajaran
belum berhasil.
Hasil diskusi peserta didik pada siklus
I direfleksikan pada siklus II. Kekurangan
pada siklus I dijadikan masalah untuk
perbaikan pada siklus II . Hasil
pengamatan diskusi peserta didik pada
siklus II menunjukkan peran serta peserta
didik dalam kelompoknya lebih aktif,
kerjasama peserta didik dalam
kelompoknya meningkat sehingga banyak
ide-ide yang diungkapkan untuk
menyelesaikan permasalahan, hal ini
ditunjang dengan baiknya proses tanya
jawab yang berlangsung dalam kegiatan
pembelajaran, banyak peserta didik yang
berani bertanya dan mengungkapkan
pendapat pada kelompok presentasi. Hasil
presentasi yang dilakukan peserta didik
dianalisis dengan baik oleh guru sehingga
peserta didik mampu menyimpulkan
materi dengan baik dan benar.
Keberhasilan proses pembelajaran pada
siklus II yang dilihat dari hasil belajar
peserta didik memperoleh prosentase
keberhasilan sebesar 88% sehingga hasil
belajar peserta didik meningkat dengan
nilai yang memuaskan.
Setelah melakukan pengamatan terhadap
semua tindakan pembelajaran pada siklus II
diperoleh hasil refleksi sebagai berikut.
1)Kerjasama peserta didik dalam kelompok
sudah baik, sehingga diskusi bisa berjalan
sebagaimana mestinya.
2)Tidak ada peserta didik yang ramai sendiri
dan sudah banyak peserta didik yang
berani berpendapat dan bertanya pada
guru.
3)Pengkondisian waktu sudah tertata dengan
baik.
4)Hasil belajar peserta didik sudah mencapai
indikator keberhasilan yang ditetapkan.
Proses pembelajaran pada materi pokok
tata nama senyawa organik dan anorganik
sederhana berjalan dengan lancar. Meski materi
ini sulit untuk dikaitkan dengan kehidupan
sekitar dan harus mendapatkan penjelasan yang
jelas dari guru. Guru harus pintar menarik
perhatian peserta didik, sehingga peserta didik
aktif dalam melaksanakan diskusi dan mau
mengungkapkan ketidaktahuannya mengenai
materi tersebut. Karena didukung dengan peran
aktif peserta didik yang baik sehingga proses
pembelajaran berjalan dengan lancar.
Meskipun penelitian ini sudah dikatakan
seoptimal mungkin, akan tetapi peneliti
menyadari bahwa penelitian ini tidak terlepas
dari adanya kesalahan dan kekurangan, hal itu
karena keterbatasan -keterbatasan di bawah ini:
1. Keterbatasan Waktu
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti
terpancang oleh waktu, karena waktu yang
digunakan sangat terbatas. Dalam penelitian
ini masih terdapat kekurangan waktu diskusi
kelompok karena peserta didik
membutuhkan waktu yang lebih lama,
sehingga mengakibatkan pelaksanaan
skenario pembelajaran tidak sesuai dengan
waktu yang sudah ditentukan.
2. Keterbatasan Kemampuan
Penelitian tidak lepas dari teori, oleh
karena itu peneliti menyadari sebagai
manusia biasa masih mempunyai banyak
kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini,
baik keterbatasan tenaga dan kemampuan
berfikir, khususnya pengetahuan ilmiah.
Tetapi peneliti sudah berusaha semaksimal
mungkin untuk menjalankan penelitian
sesuai dengan kemampuan keilmuan serta
bimbingan dari dosen pembimbing.
3. Keterbatasan Tempat
Penelitian yang penulis lakukan hanya
terbatas pada satu tempat, yaitu MAN 1 Pati
untuk dijadikan tempat penelitian. Apabila
ada hasil penelitian di tempat lain yang
berbeda, tetapi kemungkinannya tidak jauh
menyimpang dari hasil penelitian yang
penulis lakukan.
4. Keterbatasan dalam Objek Penelitian
Dalam penelitian ini penulis hanya
meneliti tentang pembelajaran dengan
pendekatan inquiry pada materi pokok tata
nama senyawa organik dan anorganik
sederhana.
Dari berbagai keterbatasan yang penulis
paparkan di atas maka dapat dikatakan bahwa
inilah kekurangan dari penelitian ini yang
penulis lakukan di MAN 1 Pati. Meskipun
banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi
dalam melakukan penelitian ini, penulis
bersyukur bahwa penelitian ini dapat
terselesaikan dengan baik. Hal ini dapat dilihat
pada meningkatnya hasil belajar peserta didik
yang dapat dilihat pada Tabel.4.5.
Tabel 4.6 Tabel Peningkatan Hasil
Belajar Peserta Didik
Indikator Ketunta Rata-rata
Ketunta san
Data 85% 34,61% 58,65
Siklus I 85% 61,53% 62,69
Siklus II 85% 88,46% 71,73
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah


dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut.
Penerapan pembelajaran dengan pendekatan
inquiry dapat meningkatkan hasil belajar peserta
didik pada materi pokok tata nama senyawa
organik dan anorganik sederhana di MAN 1
Pati. Keberhasilan penerapan pendekatan
pembelajaran melalui pendekatan inquiry sebagai
upaya untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik di kelas X 1 MAN 1 Pati
ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam
proses pembelajaran yaitu keaktifan pada saat
proses pembelajaran, juga ditunjukkan adanya
peningkatan nilai skor tes akhir dari masing-
masing siklus. Hal ini dapat dilihat dari
perolehan nilai hasil belajar yang didapatkan
dari tes pada tiap akhir siklus yang mengalami
peningkatan.
Data awal menunjukkan bahwa rata-rata
hasil belajar peseta didik sebelum
pembelajaran dengan pendekatan Inquiry adalah
58,65, ketuntasan belajar klasikal sebesar
34,51% dan sebanyak 9 peserta didik yang
tuntas belajar. Sedangkan rata-rata hasil
belajar pada siklus I adalah 62,69 dan peserta
didik yang tuntas belajar sebanyak 16 peserta
60
didik dengan prosentase ketuntasan belajar
klasikal sebesar 61,53%. Pembelajaran dengan
pendekatan inquiry dapat dikatakan berhasil jika
ketuntasan belajar klasikal peserta didik
memperoleh persentase > 85 %. Pada siklus I,
ketuntasan belajar klasikal peserta didik hanya
sebesar 61,53 %, sehingga pembelajaran dengan
pendekatan inquiry harus dilanjutkan pada
siklus II. Rata-rata hasil belajar pada siklus II
adalah 71,73, peserta didik yang tuntas belajar
sebanyak 23 dengan prosentase ketuntasan
belajar klasikal peserta didik sebesar 88,46
%.

60
B. Saran

Mengingat pentingnya penerapan


pembelajaran dengan pendekatan inquiry sebagai
pembelajaran yang mengembangkan
kemampuan berfikir secara sistematis, logis,
dan kritis atau mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental,
merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Dengan ini maka peneliti menyarankan
beberapa hal yang berhubungan dengan masalah
tersebut:
1.Pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan
pendekatan inquiry agar tetap dilakukan
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar
peserta didik.
2.Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang
pembelajaran dengan pendekatan inquiry ini
agar tidak hanya pada materi pokok tata
nama senyawa organik dan anorganik
sederhana untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik.

C. Penutup

Puji syukur peneliti panjatkan ke-hadirat


Allah SWT, yang telah memberikan anugerah
berupa rahmat, taufiq dan hidayah-Nya
sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi
ini. Peneliti menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan dalam proses maupun hasilnya,
sehingga diharapkan adanya kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan skripsi
ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita
semua khususnya peneliti. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan


Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1999

Ali, Mohammad, Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung:


Angkasa, 1993
, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung:
Sinar Baru
Algensindo, 2002
Arikunto, Suharsimi, dkk, Penelitian Tindakan Kelas,
Jakarta: Bumi Aksara, 2008
, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik), Edisi
Revisi, Jakarta: Rineka Cipta, 2006
Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Rajawali
Pers, 2009
Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan
Pembelajaran, Yogyakarta: Arruz Media, 2008

Brady, James E, Kimia Universitas Asas & Unsur, Terj.


Sukmariah Maun dkk, Jakarta: Binarupa
Aksara, 1999
Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kudus:
Mubarokatan Toyyibah, 2006
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:
Rineka Cipta, 1999
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bina
Aksara, 2009
Makmun, Abin Syamsuddin, Psikologi Kependidikan,
Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Morgan, Clifford T. Morgan, Introduction to Psychology,
New York: The University Of Wisconsin,
1961
Mulyasa, E., Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran
Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005
Muslih, Masnur, Melaksanakan PTK itu Mudah, Jakarta:
Bumi Aksara, 2009
Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung:
Remaja Rosda Karya, 1997
Roestijah N.K, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka
Cipta, 2001
Sadiman, Arief S., Media Pendidikan, Jakarta: Rajawali
Pers, 2007
Semiawan, Conny, dkk, Pendekatan Keterampilan Proses,
Jakarta: Gramedia, 1990
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta:
Rineka Cipta, 2003
, Proses Belajar Mengajar dalam System Kredit Semester (SKS),
Jakarta:
Rineka Cipta, 1991
Sudjana, Metoda Statistik, Bandung: Tarsito, 2005
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2009
, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung:
Remaja
Rosdakarya, 1991
Sugiyarto, Kristian H., Kimia Anorganik I, Yogyakarta:
UNY, edisi revisi, 2004
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D,
Bandung: Alfabeta, 2008
Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses
Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
2005
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,
Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007
Usman, M, Basyiruddin, Asnawir, Media Pembelajaran,
Jakarta: Ciputat Pers, 2002
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ummi Hanifah


Tempat /Tanggal Lahir : Pati, 20 Oktober
1985
NIM : 063711009
Alamat : Tayu Kulon Rt.05 Rw.02
Kec. Tayu Kab. Pati
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Jenjang Pendidikan Formal
1. Taman Kanak-kanak Masyitoh Kec.Tayu
Kab.Pati Lulus Tahun 1991
2. SDN 02 Tayu Wetan Kec.Tayu Kab.Pati
Lulus Tahun 1997
3. Madrasah Diniyah Raudlatul Ulum
Kec.Trangkil Kab.Pati Lulus Tahun 1998
4. Madrasah Tsanawiyyah Raudlatul Ulum
Kec.Trangkil Kab.Pati Lulus Tahun 2001
5. Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum
Kec.Trangkil Kab.Pati Lulus Tahun 2004
6. Masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Semarang Tahun 2006
Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat
dengan sebenarnya dan semoga dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Semarang, 20
November 2010
Peneliti,

Ummi Hanifah
063711009
Lampiran 1
Daftar nama peserta didik
No. Nama
1 Achmad Ridwan
2 Afinda Alfian Nisa
3 Aqif Muttaqin
4 Deviana Rachmawati
5 Dwi Budi Jumarno
6 Efrina Fitriyani
7 Galih Bintang Mulia
8 Harni
9 Lin Ardiana
10 Joko Sujatno
11 Kukuh Yogi
12 Mar’atus Sholihah
13 Moh. Alamsyah
14 Moh. Ulin Nuha
15 Nensiana Lestari
16 Nur Halimah
17 Nur Sekha Ulya
18 Putri Novita Sari
19 Rina Wiji Astuti
20 Rudi Setiawan
21 Siti Afifatun Ni’mah
22 Sri Ayu Lestari
23 Tana Bagus Septiawan
24 Yuyun lutfiana
25 Zainal Arif
26 Zainal Mahasin
65

SILABUS

Nama Sekolah : SMA


Mata
Pelajaran :
KIMIA
Kelas/Semes
ter : X/1
Standar Kompetensi : 2. Memahami hukum-hukum dasar kimia dan
penerapannya dalam perhitungan kimia (stoikiometri) Alokasi Waktu
: 20 jam (untuk UH 4 jam)
66

Kompeten Materi Kegiatan Aloka Sumbe


Pembelajar Indikator Penilaian si r/
si dasar Pembelajaran
2.1 ■ Tata ■Menentukan ■Menuliskan ■ Jenis 2 jam ■
Mendeskri senyawa biner nama senyawa tagihan
psika n nama (senyawa ion) yang biner Tugas Sumbe
tata nama terbentuk dari tabel ■Menuliskan individu
senyawa senyawa kation (golongan nama senyawa r
anorganik utama) dan anion poliatomik kuis Buku
dan serta memberi ■ Menuliskan
organik namanya dalam nama senyawa Ulangan kimia
sederhana diskusi kelompok. organik
serta ■Menentukan nama sederhana ■ Bentu Lemba
67

Kompetens Materi Kegiatan Aloka Sumbe


Indikator Penilaian si
i dasar Pembelajar Pembelajaran r/
kation (golongan Tes
utamadan NH4+) dan
anion poliatomik tertulis
serta memberi
namanya dalam
diskusi kelompok.
■Menyimpulkan
aturan pemberian
nama senyawa biner
dan poliatomik.

■ ■Mendiskusikan cara ■ Menyetarakan 4 jam


menyetarakan reaksi
Persamaan reaksi. sederhana
reaksi ■Latihan dengan
menyetarakan
sederhana persamaan reaksi. diberikan
nama-nama
65

Lampiran 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SIKLUS I

Mata Pelajaran : KIMIA


Kelas/Semester: X/1
Materi Pokok : Tata Nama Senyawa Organik dan
Anorganik Sederhana
Alokasi Waktu : 5 x 45 Menit

A. Standar Kompetensi
Memahami hukum-hukum dasar kimia dan
penerapannya dalam perhitungan kimia
(stoikiometri)
B. Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan tata nama senyawa
anorganik dan organik sederhana serta
persamaan reaksinya
C. Indikator
1. Menuliskan nama senyawa biner
2. Menuliskan nama senyawa poliatomik
3. Dapat membedakan antara penulisan senyawa
biner dan senyawa poliatomik
D. Tujuan Pelajaran
Peserta didik dapat mendeskripsikan tata
nama senyawa anorganik dan organik sederhana
E. Materi Pembelajaran
Tata nama senyawa
F. Metode Pembelajaran
Diskusi, Informasi, Tanya jawab
66
G. Strategi Pembelajaran
No Proses Pembelajaran Waktu

1 2 3

1 Pertemuan Ke-1

a. Kegiatan Awal: 10 menit


1) Salam, Mengabsen peserta didik
67

2)Membangun semangat peserta didik


3)Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
2

3
1
b. Kegiatan Inti:
1) Guru menjelaskan tentang sub materi yang akan
disampaikan antara lain: menuliskan nama 10 menit
senyawa biner, senyawa poliatomik, dan senyawa
organik sederhana
2) Guru membagi kelompok diskusi
3) Guru membimbing peserta didik untuk diskusi
4) Peserta didik diberi kesempatan untuk belajar
sendiri sesuai dengan potensinya
5) Peserta didik dibimbing untuk mengembangkan 45 menit
kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan
kritis atau mengembangkan kemampuan
intelektual sebagai bagian dari proses mental

6) Peserta didik menyampaikan tentang hasil dari


7) Guru mengapresiasi pendapat peserta didik dan
mengevaluasi

Kegiatan Akhir:
1)Tanya jawab
2)Penugasan untuk minggu depan
3)Penutup 15 menit

c.

10 menit
2 Pertemuan ke-2

a. Kegiatan Awal:
1)Salam, mengabsen peserta didik 5 menit
2)Menanyakan tentang materi yang sudah diajarkan
minggu yang lalu
Kegiatan Inti:

b. 1)Guru meminta peserta didik untuk menyampaikan


hasil diskusi minggu yang lalu
2)Peserta didik diberi kesempatan untuk
mengevaluasi hasil diskusi kelompok lain 35 menit
68

3) Guru memberikan pekerjaan


rumah pada peserta didik
4) Evaluasi

1 2 3
c Kegiatan Akhir:
1)Guru menyampaikan bahwa
minggu depan akan diadakan tes 5 menit
evaluasi
3 Pertemuan ke-3

a Kegiatan Awal: 10 menit


1)Salam, mengabsen
2) Guru mengkondisikan kelas
Kegiatan Inti:
b 1)Guru meminta peserta didik
mengumpulkan pekerjaan rumah
. minggu lalu 5 menit
2) Guru membagi soal evaluasi
peserta didik
3) Guru mengawasi peserta
didik mengerjakan soal evaluasi 5 menit
Kegiatan Akhir:
60 menit
1)Guru meminta pekerjaan peserta
c
15 menit
.
H. Alat/ Sumber Belajar
Buku kimia kelas X, LKS

I. Penilaian
1)Teknik = Penugasan individu
2) Bentuk Instrumen = Tes
3) Instrumen = Terlampir
Pati, 5 Oktober
2010
69
Prakt
Guru Mata ikan
Pelajaran
Kimia

Herlina Susilowati, S.Pd Ummi Hanifah


NIP: 19630927 199103 2 004 NIM: 063711009
Lampiran 4

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SIKLUS II

Mata Pelajaran : KIMIA


Kelas/Semester: X/1
Materi Pokok : Tata Nama Senyawa Organik
dan Anorganik Sederhana
Alokasi Waktu : 5 x 45 Menit

A. Standar Kompetensi
Memahami hukum-hukum dasar kimia dan
penerapannya dalam perhitungan kimia
(stoikiometri)
B. Kompetensi Dasar
Mendeskripsikan tata nama senyawa
anorganik dan organik sederhana serta
persamaan reaksinya
C. Indikator
1) Menuliskan nama senyawa organik
sederhana
2) Menuliskan tata nama senyawa asam
70
3) Menuliskan tata nama senyawa basa
D. Tujuan Pelajaran
Peserta didik dapat mendeskripsikan tata
nama senyawa anorganik dan organik sederhana
E. Materi Pembelajaran

Tata nama senyawa


71
F. Metoda Pembelajaran
Diskusi, Informasi, Tanya jawab
G. Strategi Pembelajaran
No Proses Pembelajaran Waktu

1 2 3
1 Pertemuan Ke-1

a. Kegiatan Awal:
1)Salam, Mengabsen peserta didik 10 menit
2) Membangun semangat peserta
didik
3) Guru menyampaikan tujuan
1 3
b. Kegiatan Inti:
1)Guru menjelaskan tentang sub 5 menit
materi yang akan disampaikan
antara lain: menuliskan senyawa
organik sederhana, tata nama
senyawa asam dan basa
2)Guru membagi kelompok
diskusi
3) Guru membimbing peserta didik
untuk diskusi
4) Peserta didik diberi kesempatan 45 menit
untuk belajar sendiri sesuai
dengan potensinya
5) Peserta didik dibimbing untuk
mengembangkan kemampuan
berfikir secara sistematis, logis,
1)Tanya jawab
2) Penugasan untuk minggu depan
3) Penutup

20 menit

10 menit
2 Pertemuan ke-2

a. Kegiatan Awal:
1) Salam, mengabsen siswa
72
2) Menanyakan tentang materi 5 menit
yang sudah diajarkan minggu
yang lalu
Keg1i)aGtaunruInm
tie:minta siwa untuk
menyampaikan materi diskusi
minggu yang lalu
b. 2) Guru memberikan pekerjaan
rumah pada siswa
3) Evaluasi 35 menit
1)Guru menyampaikan bahwa
minggu depan akan diadakan tes
evaluasi
2) Penutup
c.
5 menit
1 2 3
3 Pertemuan ke-3

a. Kegiatan Awal: 10 menit


1)Salam, mengabsen
2)Guru mengkondisikan kelas
Kegiatan Inti:
b. 1)Guru meminta peserta didik
mengumpulkan pekerjaan rumah
minggu lalu 5 menit
2) Guru membagi soal evaluasi
peserta didik
3) Guru mengawasi peserta
didik mengerjakan soal evaluasi 5 menit
Kegiatan Akhir:
60 menit
1)Guru meminta pekerjaan siswa
2) Menyampaikan materi minggu
c. 15 menit

H Alat/ Sumber Belajar

Buku kimia kelas X, LKS

I. Penilaian

1)Teknik = Penugasan individu


2) Bentuk Instrumen = Tes
73

3) Instrumen = Terlampir

Guru Mata Pati, 5


Pelajaran Kimia Oktober

Herlina Ummi
NIP: 19630927 NIM:06371100
65

Lampiran 5
KISI-KISI SOAL
SIKLUS I
Mata : Kimia
pelajaran : Tata nama
Materi
pokok
Kelas/seme senyawa
sterS:taXn/d1 Ko:m2pxe 45Km elenitM(1at Indik Jen So
Alokasi x pertemuan) :
atr
wak u Jenis U ten siraian as/ eri ator ja al
eskompe
2. 2.1dasar X se/me Tata 1. Cn 1 Jelaskan tentang pengertian senyawa
hukum-
tensi Mendes 1ster nama senya
menulis 2
kan g .2 biner, serta berikan 3 contohnya!
Jelaskan tata cara penamaan
dasar kan tata wa senyawa C senyawa biner yang terbentuk dari
dan nama .
dalam organik . Lengkapilah tabel berikut ini:
perhitun anorgan 2 Rumus Nama Jumlah
kimia sederha C NaCl
(stoikio serta Natrium
persam 3 SO 6 atom (1
aan Fosfor(v) atom P dan 5
C 4 Tentukan r wa dari

umus senya
1 . nama-nama berikut ini:
a. Tembaga(I) klorida
b. Kalium hidrida
c. Dinitrogen oksida
2. C 5. Jelasdk.aBnepleernagnegrttirainoktseindtang senyawa
Menuli 2 poliatomik, serta berikan 3
skan contohnya!
nama
senyaw
a
66

poliatomi
k
C1 6. Tuliskan nama dari senyawa berikut
ini:
a. K SO
2 4
b. Na PO
3 4

C4 c. KCN
d. CN -

7. Identifikasi, senyawa apa yang


terbentuk
a. Na+dari
dan ion-ion
Cl berikut ini:
-

8. Jel antara penulisan


3. Siswa C5 askan perbedaan
dapat rumus senyawa biner dan senyawa
membeda poliatomik!
kan C3
antara 9. Berikan lambang unsur atau rumus
penulisan C3 molekul materi berikut: emas, perak,
senyawa air, natrium fosfat, oksigen dan
garam dapur!
67

Lampiran 6
KISI-KISI SOAL SIKLUS II
Mata Kimia
pelajaran Tata nama senyawa
Materi
pokok 2 x 45 menit (1 x pertemuan)
Kelas/seme
Alokasi
waktu Jen
Standatr isKomp Kel Mat Indik Jen So
tes
kompete dasar
1 2 as/ eri ator ja al
2. 2.1
hukum- Mendes 1seme senyanama menulis
kan
n sederhana serta rumus senyawanya!
1 2. Tuliskan rumus senyawa dari alkana,
dan nama a C 3. Lengkapilah tabel b erikut ini:
penerapa senyawa organik 1 Jumlah Rumus Nama
perhitung anorgan na C CH
kimia sederha Butena
(stoikiom serta 3 CH
persama Heptuna
an C 4. Identifikasi apakah rumus

a alkuna:
Rumus Senyawa Nama
CH
H
C H

C H
7 12
68
69

C 5 Berikan rumus senyawa dari


2 . nama-nama senyawa berikut:
Nama Rumus
Propuna
Butuna
Pentuna
2. C 6 TetHapekasnunanama kimia dari senyawa-
Menulis senHyaew
ptauansaam poliatomik berikut:
kan tata 2 . a. HNO 3
nama b. H CO2 3
asam c. H SO
2 3
dan 7 d. H SO 2 4
basa C . Berikan rumus senyawa dan nama
senyawa berdasarkan unsur-u
5 unsu ut:
unsu Rumus Nama nsur
berik
Na OH
Ca (OH)
Al (OH)
K OH
senyawa berikut berdasarkan
4 sifat asam dan basanya:
Rumus Asam Basa
HCl
Ba(OH)
HClO
NH OH
70

9. Tuliskan rumus senyawa dari


C nama-nama berikut ini:
1 a. Asam sulfat
b. Magnesium hidroksida
C d. Asam nitrit
3 Rumus Nama Asam/Basa
H PO
Asam klorit
Mg(O
Asam
10. Lengkapilah tabel di
bawah ini:
71

Lampiran 7

INSTRUMEN TES KETUNTASAN BELAJAR SIKLUS I

Jawablah dengan benar soal di bawah ini!

11. Jelaskan tentang pengertian senyawa biner, serta


berikan 3 contohnya!
12. Jelaskan tata cara penamaan senyawa biner yang
terbentuk dari unsur logam dan nonlogam!
Lengkapi berikut ini:
Rumus Nama Jumlah atom
NaCl
Natrium
SO
Fosfor(v) 6 atom (1 atom P dan
14. Tentukan rumus senyawa dari nama-nama berikut
ini:
a. Tembaga(I) klorida
b. Kalium hidrida
c. Dinitrogen oksida
d. Belerang trioksida
15. Jelaskan pengertian tentang senyawa poliatomik,
serta berikan 3 contohnya!
16. Tuliskan nama dari senyawa berikut ini:
72

a. K SO
2 4
b. Na PO3 4
c. KCN
d. CN -

17. Identifikasi, senyawa apa yang terbentuk dari ion-


ion berikut ini:
71

a. Na+2+dan Cl"
b. Mg3+ dan Br"2
c. Al dan SO43 "
d. H+ dan PO4 "
18. Jelaskan perbedaan antara penulisan rumus senyawa biner dan
senyawa poliatomik!
19. Berikan lambang unsur atau rumus molekul materi berikut:
emas, perak, air, natrium fosfat, oksigen dan garam dapur!
20. Berikan nama untuk senyawa berikut: HClO, HClO2, HClO3,
HClO4

Lampiran 8

INSTRUMEN TES KETUNTASAN BELAJAR SIKLUS II

Jawablah dengan benar soal di bawah ini!

11. Sebutkan senyawa organik alkana sederhana serta rumus


senyawanya!
12. Tuliskan rumus senyawa dari alkana, alkena, dan alkuna!

Ru mus Seny aw a Nama Senyaw a


13. Lengkapilah tabel berikut ini:
Jumlah Rumus Nama
CH
Butena
CH
Heptuna
14. Identifikasi apakah rumus senyawa berikut termasuk senyawa
organik alkana, alkena, alkuna:
Senyawa Organik

Ru mus Seny aw a Na ma S eny aw a


72

CH
C HH
C
5 10
C HH
C
7 12
15. Berikan rumus senyawa
dari nama-nama senyawa
berikut
Nama Rumus
Propuna
Butuna
Pentuna
Heksuna
Heptuna
16. Tetapkan nama kimia dari senyawa-senyawa asam poliatomik
berikut:
a. HNO3
b. H2CO3
c. H2SO3
d. H SO
2 4
17. Berikan rumus senyawa dan
nama senyawa berdasarkan unsur-
73
unsur berikut:
unsu unsu Rumus Nama
Na OH
Ca (OH)
Al (OH)
K OH
18. Klasifikasikan senyawa- at asam dan basanya:
senyawa berikut berdasarkan si
Rumus Asam Basa
HCl
Ba(OH)
HClO
NH OH 19. Tuliskan rumus senyawa dari
nama-nama berikut ini:
e. Asam sulfat
f. Magnesium hidroksida
g. Litium hidroksida
h. Asam nitrit
20. Lengkapilah tabel di bawah
ini:

Rumus Nama Asam/Basa


H PO
Asam klorit
MgOH
Asam
74

Lampiran 9
Jawaban soal siklus I
1. Senyawa biner adalah senyawa yang terdiri dari dua jenis unsur.
Contoh: NaO, BaO,HCl
2. Tata cara penamaan senyawa biner yang terbentuk dari unsur logam dan nonlogam
(biner ionik) adalah
a. senyawa yang unsur logamnya memiliki satu bilangan oksidasi (yaitu atom
unsur golongan IA, IIA, IIIA) nama logam ditulis terlebih dahulu diikuti
dengan nama nonlogam dan diberi akhiran ida.
b. Senyawa yang unsur logamnya mamiliki bilangan oksidasi lebih dari satu,
muatan logamnya dituliskan menggunakan angka romawi dalam tanda kurung
Lengkapil berikut ini:
Rumus Nama senyawa Jumlah atom
NaCl Natrium 2 atom (1 atom Na
Na S Natrium sulfida 3 atom (2 atom Na
SO Belerang(VI) 4 atom (1 atom S dan
PCl Fosfor(v) 6 atom (1 atom P 5
4. Rumus senyawa dari :
a. Tembaga(I) klorida : CuCl
b. Kalium hidrida : KH
c. Dinitrogen oksida : N O
2

d. Belerang trioksida : SO3


5. Senyawa poliatomik adalah senyawa yang disusun oleh lebih dari dua unsur yang
berbeda. Yang pada umumnya anion senyawanya terdiri dari dua jenis unsur yang
berbeda.
Contoh : K2SO4, K2SO3, Na3PO4
75

6. Nama dari senyawa berikut ini:


a. K SO : Kalium sulfat
2 4
76

b. Na3 : Natrium
PO4 phospat :
c. KC Kalium
sianida :
N
d. CN- Sianida
7. Senyawa yang
a.Natrium :
b.Magnesium :
c.Aluminium
d.Asam Phospat :

8. Perbedaan antara penulisan rumus senyawa


biner dan senyawa poliatomik
Senyawa Biner Senyawa Poliatomik
earpdaitri terdirrii dadruiaL
Padaih dari dua ujem
eb niusmunysuar
logam dan nonlogam anionnya terdiri dari 2

Diberi akhiran Yang memiliki bilok


Yang memiliki bilok kecil
77

Perak : Ag
Air H O
Natrium fosfat
Oksig : O
Gara r :
10. Asam
HClO Asam
HClO Asam
HClO Asam
78

Lampiran 10

Jawaban soal siklus II


1. Senyawa organik alkana
Rumus Nama Rumus Nama
CH Metana CH
C HM Heksana
C2H Etana 7
C H 16 Heptana
C
C HH Propana 8
C H 18 Oktana
4
C H 10 Butana 9 20 Nonana
5 12 Pentana C10H22 Dekana
2. Rumus senyawa:
> Alkana : CnH2n+2
> Alkena : CnH2n
> Alkuna : CnH2n-2
3. Tabel:
Jumlah Rumus Nama
2 CH Etuna
4 CH Butena
6 C
C HH Heksena
7 7 12 Heptuna
79

4. Mengidentifikasi:
Rumus Senyawa Nama
CH Alkana Propana
C
C HH Alkuna Butuna
5 10 Alkena Pentena
C
C H
H Alkana Heksana
7 12 Alkuna Heptuna
80

5. Menentukan rumus
senyawa dari:
Nama Rumus
Propuna CH
Butuna CH
Pentuna CH
Heksuna CCHH
Heptuna 7 12
6. Nama
> HNO : Asam
>H2C : Asam
>H2S : Asam
>H2S : Asam

7. Rumus senyawa dan nama senyawa


dari:
unsu unsu Rumus Nama senyawa
Na OH NaOH Natrium
Ca (OH) Ca(OH) Kalsium
Al (OH) Al(OH) Aluminium
K OH KOH Kalium
81

8. Klasifikasi berdasarkan
asam dan basa:
Rumus Asam Basa
HCl v
Ba(OH) v
HClO v
NH OH v
82

9. Menentukan rumus senyawa dari:


> Asam sulfat : H2SO4
> Magnesium hidroksida :
Mg(OH)2
> Litium hidroksida : LiOH
> Asam nitrit : HNO3
10. Tabel:
Rumus Nama Senyawa Asam/Basa
H PO Asam pospat Asam
HClO Asam klorit Asam
Mg(O Magnesium Basa
HBr
Lampiran 11
Asam bromida Asam
Daftar nilai hasil ulangan
siklus I
83

N Nama Nilai
1 Achmad Ridwan 80
2 Afinda Alfian 65
3 Aqif Muttaqin 60
4 Deviana 70
5 Dwi Budi 65
6 Efrina Fitriyani 65
7 Galih Bintang 55
8 Harni 65
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 50
11 Kukuh Yogi 65
12 Mar'atus Sholihah 65
13 Moh. Alamsyah 50
14 Moh. Ulin Nuha 70
15 Nensiana Lestari 65
16 Nur Halimah 55
17 Nur Sekha Ulya 65
18 Putri Novita Sari 70
19 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 65
21 Siti Afifatun 60
22 Sri Ayu Lestari 60
23 Tana Bagus 65
24 Yuyun lutfiana 65
25 Zainal Arif 50
26 Zainal Mahasin
Lampiran 12
65
Daftar nilai hasil ulangan
84

siklus II
N Nama Nilai
1 Achmad Ridwan 90
2 Afinda Alfian 75
3 Aqif Muttaqin 65
4 Deviana 75
5 Dwi Budi 70
6 Efrina Fitriyani 65
7 Galih Bintang 75
8 Harni 85
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 80
11 Kukuh Yogi 75
12 Mar'atus Sholihah 75
13 Moh. Alamsyah 65
14 Moh. Ulin Nuha 80
15 Nensiana Lestari 75
16 Nur Halimah 80
17 Nur Sekha Ulya 85
18 Putri Novita Sari 75
19 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 65
21 Siti Afifatun 65
22 Sri Ayu Lestari 70
23 Tana Bagus 65
24 Yuyun lutfiana 60
25 Zainal Arif 65
26 Zainal Mahasin 65
85

Lampiran 13
Daftar Ketuntasan Belajar
Peserta Didik Siklus I
No. Nama Nilai Ketuntasa
1 Achmad Ridwan 80 Tuntas
2 Afinda Alfian 65 Tuntas
3 Aqif Muttaqin 60 Belum
4 Deviana 70 Tuntas
5 Dwi Budi 65 Tuntas
6 Efrina Fitriyani 65 Tuntas
7 Galih Bintang 55 Belum
8 Harni 65 Tuntas
9 Lin Ardiana 60 Belum
10 Joko Sujatno 50 Belum
11 Kukuh Yogi 65 Tuntas
12 Mar'atus 65 Tuntas
13 Moh. Alamsyah 50 Belum
14 Moh. Ulin Nuha 70 Tuntas
15 Nensiana Lestari 65 Tuntas
16 Nur Halimah 55 Belum
17 Nur Sekha Ulya 65 Tuntas
18 Putri Novita Sari 70 Tuntas
19 Rina Wiji Astuti 60 Tuntas
20 Rudi Setiawan 65 Tuntas
21 Siti Afifatun 60 Belum
22 Sri Ayu Lestari 60 Belum
23 Tana Bagus 65 Tuntas
24 Yuyun lutfiana 65 Tuntas
25 Zainal Arif 50 Belum
26 Zainal Mahasin 65 Tuntas
86

Lampiran 14
Daftar Ketuntasan Belajar
Peserta Didik Siklus II
No. Nama Nilai Ketuntas
1 Achmad Ridwan 90 Tuntas
2 Afinda Alfian 75 Tuntas
3 Aqif Muttaqin 65 Tuntas
4 Deviana 75 Tuntas
5 Dwi Budi 70 Tuntas
6 Efrina Fitriyani 65 Tuntas
7 Galih Bintang 75 Tuntas
8 Harni 85 Tuntas
9 Lin Ardiana 60 Belum
10 Joko Sujatno 80 Tuntas
11 Kukuh Yogi 75 Tuntas
12 Mar'atus 75 Tuntas
13 Moh. Alamsyah 65 Tuntas
14 Moh. Ulin Nuha 80 Tuntas
15 Nensiana Lestari 75 Tuntas
16 Nur Halimah 80 Tuntas
17 Nur Sekha Ulya 85 Tuntas
18 Putri Novita Sari 75 Tuntas
19 Rina Wiji Astuti 60 Tuntas
20 Rudi Setiawan 65 Tuntas
21 Siti Afifatun 65 Tuntas
22 Sri Ayu Lestari 70 Tuntas
23 Tana Bagus 65 Tuntas
24 Yuyun lutfiana 60 Tuntas
25 Zainal Arif 65 Tuntas
26 Zainal Mahasin 65 Tuntas
87

Lampiran 15

Daftar Kelompok Diskusi


Kelompok 1 Kelompok 2
Achmad Ridwan Afinda Alfian Nisa
Sanusi Lin Ardiana
Harni Nur Halimah
Nensiana Lestari Tana Bagus
Sri Ayu Lestari Septiawan
Kelompok 4
Kelompok 3
Aqif Muttaqin Deviana Rachmawati
Joko Sujatno Kukuh Yogi
Nur Sekha Ulya Hermawan
Yuyun lutfiana Putri Novita Sari
Zainal Arif
Kelompok 5
Dwi Budi Kelompok 6
Jumarno Efrina Fitriyani
Mar'atus Sholihah Moh. Alamsyah
Rina Wiji Astuti Rudi Setiawan
Zainal Mahasin
Kelompok 7
Galih Bintang
Mulia
Moh. Ulin Nuha
Siti Afifatun
65
Lampiran 16

Daftar nilai peserta didik pra


siklus
N Nama Nilai
1 Achmad Ridwan 70
2 Afinda Alfian 65
3 Aqif Muttaqin 50
4 Deviana 65
5 Dwi Budi 65
6 Efrina Fitriyani 60
7 Galih Bintang 65
8 Harni 65
9 Lin Ardiana 60
10 Joko Sujatno 45
11 Kukuh Yogi 40
12 Mar'atus 60
13 Moh. Alamsyah 60
14 Moh. Ulin Nuha 65
15 Nensiana Lestari 60
16 Nur Halimah 50
17 Nur Sekha Ulya 55
18 Putri Novita Sari 65
19 Rina Wiji Astuti 60
20 Rudi Setiawan 55
21 Siti Afifatun 60
22 Sri Ayu Lestari 55
23 Tana Bagus 65
24 Yuyun lutfiana 60
25 Zainal Arif 45
26 Zainal Mahasin 60
Jumlah 1525
Rata-rata 58,65
66
Lampiran 17

Lembar Kerja Siswa Pada


Pembelajaran Siklus I
Diskusikan Nama-nama Pada
Ion dan Senyawa Berikut Ini!
67

Ion Poliatom Contoh Senyawa


Rumus Nama Ion Rumus Nama
NH2+ NH4Cl
NO2- NaNO2
NO3- NaNO3
SO4- Na SO
2 4

CO32- Na2CO3
PO43- Na PO
3 4

CH3CO NaCH3CO
C O 2-
2 4 CaC O 2 4

Cr2O72- K2Cr2O7
SO32- K2SO3
68
Lampiran 17
Kunci Jawaban Pada Pembelajaran Siklus I
Ion Poliatom Contoh Senyawa
Rumus Nama Ion Rumus Nama
NH2+ Amonium NH4Cl Amonium
NO2- Nitrit NaNO2 Natrium
NO3- Nitrat NaNO3 Natrium
SO4- Sulfat Na SO
2 Natrium
4

CO32- Karbonat Na2CO3 Natrium


PO43- Fosfat Na PO
3 Natrium
4

CH3CO Asetat NaCH3CO Natrium


C2O42- Oksalat CaC O 2 Kalsium
4

Cr2O72- Dikromat K2Cr2O7 Kalium


SO32- Sulfit K2SO3 Kalium
69
Lampiran 18

Lembar Kerja Siswa Pada


Pembelajaran Siklus II
Berikan Nama-nama Pada
Senyawa Berikut Ini!
1. CH3COOH ^ H++
CH3COO- =
Sisa Asam
2. H2SO4^ 2H- + SO42- =
Sisa Asam Sulfat
3. H3PO4^ 3H++ PO43- =
Fosfat
4. NaNO3 ^ ion Na+dan
NO3- =
5. CaCl2 ^ ion Ca2+dan Cl-
=
6. (NH4)2SO4^ NH4+ dan
SO4 =
7. CuOH =
8. Ba(OH) =
9. KOH =
10. Al(OH)3
Lampiran 19
70

Kunci Jawaban Pada Kegiatan


Pembelajaran Siklus II
1. CH3COOH ^ H++ CH3COO-
= Asam Asetat
Sisa Asam
2. H2SO4^ 2H- + SO42- = Asam
Sulfat
Sisa Asam Sulfat
3. H3PO4^ 3H++ PO43-= Asam
Fosfat
Fosfat
4. NaNO3 ^ ion Na+dan NO3-
= Natrium Nitrat
5. CaCl2 ^ ion Ca2+dan Cl- =
Kalsium Klorida
6. (NH4)2SO4 ^ NH4+ dan SO4
= Amonium Sulfat
7. = Tembaga(I)
8. = Barium Hidroksida
9. = Kalium Hidroksida
10. = Aluminium
71

Kisi-kisi Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik


Nomor Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1
Menjawab Benar 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Menjawab
Sebagian 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
dan
Menjawab
Sebagian Kurang 2 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2. 2.
Lengkap . 5 5 5 5 5 5 55 5
Tidak Menjawab 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0